SEJARAH INDONESIA
Selasa, 01 November 2016
MENGENAL INDONESIA
Republik Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara.
Indonesia juga merupakan negara yang dijajah oleh banyak negara Eropa dan juga Asia, itu disebabkan Indonesia sejak zaman dahulu merupakan negara yang kaya akan hasil alamnya yang melimpah, hingga membuat negara-negara Eropa tergiur untuk menjajah dan bermaksud menguasai sumber daya alamnya untuk pemasukan bagi negaranya, Negara-negara yang pernah menjajah diantaranya adalah;
Soekarno-Hatta, presiden dan wakil presiden pertama Indonesia.
Senin, 31 Oktober 2016
KISAH SUKSES SEORANG MILLIONER
Ada seorang berkulit hitam, lahir di daerah kumuh Brooklyn,
New York, ia melewati kehidupannya dlm lingkungan miskin
dan penuh diskriminasi,
Suatu hari ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kpdnya:
“Menurutmu, brp nilai pakaian ini?”
Ia menjawab: “Mungkin 1 USD.”
“Bisakah dijual seharga USD2? Jika berhasil, berarti engkau
telah membantu ayah & ibumu"
"Saya akan mencobanya,”
Ia membawa pakaian itu ke stasiun kereta bawah tanah dan
menjual selama lebih dari enam jam, akhirnya ia berhasil
menjual 2 USD dan berlari pulang.
Kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian
bekas kepadanya:
“Coba engkau menjual seharga 20 USD?”
"Bgmn mungkin? Pakaian ini paling hanya USD2."
Ayahnya berkata “Mengapa engkau tdk mencobanya dulu?”
Akhirnya, ia mendapatkan ide, ia meminta bantuan sepupunya
utk menggambarkan seekor Donal Bebek yg lucu & seekor
Mickey Mouse yg nakal pd pakaian itu, ia lalu menjualnya di
sekolah anak org kaya dan laku 25 USD.
Ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas
kepadanya:
“Apakah engkau mampu menjualnya dgn harga 200 USD?"
Kali ini ia menerima tanpa keraguan sedikit pun, kebetulan
aktris film populer “Charlie Angels”, Farrah Fawcett berada di
New York. Dan sehabis konferensi pers, ia pun menerobos
penjagaan pihak keamanan & meminta Farrah Fawcett
membubuhkan tanda tangan di pakaian bekasnya.
Dan kemudian terjual 1500 USD.
Malamnya Ayahnya bertanya: “Anakku, dari pengalaman
menjual tiga helai pakaian ini apa yg engkau pahami?”
Ia menjawab “Selama kita mau berpikir pasti ada caranya. ”
Ayahnya menggelengkan kepala: “engkau tdk salah! Tapi
bukan itu maksud ayah, ayah hanya ingin memberitahukanmu
bahwa sehelai pakaian bekas yg bernilai satu dolar juga bisa
ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia? Mungkin
kita berkulit gelap dan miskin, tapi apa bedanya?”
Sejak itu, ia belajar dgn lebih giat dan menjalani latihan lebih
keras. Dan dua puluh tahun kemudian, namanya terkenal ke
seluruh dunia.
Ia adalah MICHAEL JORDAN!
MENGENAL MARHAEN
MARHAEN
ITU KOMUNIS INDONESIA?
http://id.wikipedia.org/wiki/Marhaenismeadalah ideologi yang menentang penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Untuk masa sekarang, ideologi ini telah berkembang dan dikenal dengan nama Marhaenisme Kekinian. Ideologi ini dikembangkan dari pemikiran presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ajaran ini awalnya bermaksud mengangkat kehidupan
rakyat/orang kecil. Orang kecil yang dimaksud adalah petani
dan buruh yang hidupnya selalu dalam
cengkeraman orang-orang kaya dan penguasa.
Etimologi
Marhaenisme diambil dari seorang
petani bernama Marhaen yang hidup di Indonesia dan dijumpai Bung Karno pada
tahun 1926-1927.[1] Dalam versi yang berbeda, nama petani yang dijumpai Bung Karno di daerah Bandung, Jawa Barat itu adalah Aen. Dalam dialog
antara Bung Karno dengan petani tersebut, selanjutnya disebut dengan panggilan
Mang Aen. Petani tersebut mempunyai berbagai faktor produksi sendiri termasuk
lahan pertanian, cangkul dan lain-lain yang ia olah sendiri, namun hasilnya hanya
cukup untuk kebutuhan hidup keluarganya yang sederhana. Kondisi ini kemudian
memicu berbagai pertanyaan dalam benak Bung Karno, yang akhirnya melahirkan
berbagai dialektika pemikiran sebagai landasan gerak selanjutnya. Kehidupan,
kepribadian yang lugu, bersahaja namun tetap memiliki semangat berjuang
memenuhi kebutuhan hidupnya inilah, maka nama petani tersebut oleh Bung Karno
diabadikan dalam setiap rakyat Indonesia yang hidupnya tertindas oleh sistem
kehidupan yang berlaku. Sebagai penyesuaian bahasa saja, nama Mang Aen menjadi
Marhaen.
Istilah ini untuk pertama kalinya digunakan oleh Soekarno di dalam pleidoinya tahun 1930, Indonesia Menggugat untuk mengganti istilah proletar.[2].
Dalam bukunya "Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai", Kol. (Inf.) Soegiarso Soerojo, seorang perwira intelijen pada masa Orde Baru, menyangsikan bahwa ada petani yang memiliki nama Marhaen, dan memberikan alternatif sumber lain dari nama tersebut, yaitu singkatan dari Marx-Hegel-Engels.[3][4]. Di kemudian hari, Soekarno juga menyebutkan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang diterapkan sesuai dengan kultur dan natur Indonesia.
Istilah ini untuk pertama kalinya digunakan oleh Soekarno di dalam pleidoinya tahun 1930, Indonesia Menggugat untuk mengganti istilah proletar.[2].
Dalam bukunya "Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai", Kol. (Inf.) Soegiarso Soerojo, seorang perwira intelijen pada masa Orde Baru, menyangsikan bahwa ada petani yang memiliki nama Marhaen, dan memberikan alternatif sumber lain dari nama tersebut, yaitu singkatan dari Marx-Hegel-Engels.[3][4]. Di kemudian hari, Soekarno juga menyebutkan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang diterapkan sesuai dengan kultur dan natur Indonesia.
Ideologi
Marhaenisme pada esensinya adalah
sebuah ideologi perjuangan yang terbentuk dari Sosio-Nasionalisme,
Sosio-Demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa versi Bung Karno.
Menurut, agar mandiri secara ekonomi dan terbebas dari eksploitasi pihak lain, tiap orang atau rumah tangga memerlukan faktor produksi atau modal. Wujudnya dapat berupa tanah atau mesin/alat. Dalam konteks modern, kendaraan, perangkat teknologi informasi, alat dapur dan barang elektronik bisa saja diberdayakan dengan tepat guna sebagai modal atau faktor produksi. Meskipun tidak besar, kepemilikan modal sendiri ini perlu untuk menjamin kemandirian orang atau rumahtangga itu dalam perekonomian.
Berbeda dengan kapitalisme, modal dalam bukanlah untuk ditimbun atau dilipatgandakan, melainkan diolah untuk mencukupi kebutuhan hidup dan menghasilkan surplus. Petani menanam untuk mencukupi makan keluarganya sendiri, barulah menjual surplus atau kelebihannya ke pasar. Penjahit, pengrajin atau buruh memproduksi barang yang kelak sebagian akan dipakainya sendiri, walau selebihnya tentu dijual. Idealnya, syarat kecukupan-sendiri ini harus dipenuhi lebih dulu sebelum melayani pasar. Ini artinya ketika buruh, pengrajin atau petani memproduksi barang yang tak akan dikonsumsinya sendiri, ia cuma bertindak sebagai faktor produksi bagi pihak lain, yang menjadikannya rawan untuk didikte oleh pasar atau dieksploitasi. Secara agregat (keseluruhan) dalam sistem ekonomi, barang yang tidak/belum diperlukan tidak akan diproduksi, sebab setiap orang/rumahtangga tentu memastikan dulu profil dan taraf kebutuhannya sendiri sebelum membuat apapun. Inovasi kelahiran produk baru akan terjadi manakala kebutuhannya sudah kongkret betul.
Cara ini mendorong tercapainya efisiensi, sekaligus mencegah pemborosan sumber daya serta sikap konsumtif. Dan karena hanya difungsikan sekadar menghasilkan surplus, modal yang tersedia juga mustahil ditimbun atau diselewengkan untuk menindas tumbuh-kembangnya perekonomian pihak lain.
Marhaenisme yang dimaksud Soekarno bisa dibandingkan dengan formulasi pendekatan teori kewirausahaan yang baru diperkenalkan pada tahun 70-an oleh David McCleland yaitu hampir 50 tahun kemudian. Bedanya, jika McCleland lebih menekankan opsi pada upaya penanaman virus N.ach (Need for Achievement) atau kehendak untuk maju dari kalangan rakyat atau pengusaha kecil, sehingga notabene didominasi oleh pendekatan fungsional, maka pendekatan Soekarno atas marhaen (petani dan pedagang kecil), justru bersifat struktural, yaitu melalui penanaman sikap progresif revolusioner.[2]
Dalam pidato di depan Sidang PBB, 30 September 1960, Sukarno tegas menyatakan, bahwa Pancasila (baca: Marhaenisme) pada hakekatnya adalah sublimasi dari Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat) dan Manifesto of Communism dari Uni Soviet. Artinya Pancasila justru merupakan alternatif ketiga dari kedua kubu yang bertentangan dalam Perang Dingin di antara Blok Barat dengan Blok Timur saat itu. Secara ideologis, pemikiran Soekarno mirip sekali dengan apa yang dirumuskan oleh Anthony Giddens 20 tahun kemudian, sebagai '"The Third Way.[2]
Menurut, agar mandiri secara ekonomi dan terbebas dari eksploitasi pihak lain, tiap orang atau rumah tangga memerlukan faktor produksi atau modal. Wujudnya dapat berupa tanah atau mesin/alat. Dalam konteks modern, kendaraan, perangkat teknologi informasi, alat dapur dan barang elektronik bisa saja diberdayakan dengan tepat guna sebagai modal atau faktor produksi. Meskipun tidak besar, kepemilikan modal sendiri ini perlu untuk menjamin kemandirian orang atau rumahtangga itu dalam perekonomian.
Berbeda dengan kapitalisme, modal dalam bukanlah untuk ditimbun atau dilipatgandakan, melainkan diolah untuk mencukupi kebutuhan hidup dan menghasilkan surplus. Petani menanam untuk mencukupi makan keluarganya sendiri, barulah menjual surplus atau kelebihannya ke pasar. Penjahit, pengrajin atau buruh memproduksi barang yang kelak sebagian akan dipakainya sendiri, walau selebihnya tentu dijual. Idealnya, syarat kecukupan-sendiri ini harus dipenuhi lebih dulu sebelum melayani pasar. Ini artinya ketika buruh, pengrajin atau petani memproduksi barang yang tak akan dikonsumsinya sendiri, ia cuma bertindak sebagai faktor produksi bagi pihak lain, yang menjadikannya rawan untuk didikte oleh pasar atau dieksploitasi. Secara agregat (keseluruhan) dalam sistem ekonomi, barang yang tidak/belum diperlukan tidak akan diproduksi, sebab setiap orang/rumahtangga tentu memastikan dulu profil dan taraf kebutuhannya sendiri sebelum membuat apapun. Inovasi kelahiran produk baru akan terjadi manakala kebutuhannya sudah kongkret betul.
Cara ini mendorong tercapainya efisiensi, sekaligus mencegah pemborosan sumber daya serta sikap konsumtif. Dan karena hanya difungsikan sekadar menghasilkan surplus, modal yang tersedia juga mustahil ditimbun atau diselewengkan untuk menindas tumbuh-kembangnya perekonomian pihak lain.
Marhaenisme yang dimaksud Soekarno bisa dibandingkan dengan formulasi pendekatan teori kewirausahaan yang baru diperkenalkan pada tahun 70-an oleh David McCleland yaitu hampir 50 tahun kemudian. Bedanya, jika McCleland lebih menekankan opsi pada upaya penanaman virus N.ach (Need for Achievement) atau kehendak untuk maju dari kalangan rakyat atau pengusaha kecil, sehingga notabene didominasi oleh pendekatan fungsional, maka pendekatan Soekarno atas marhaen (petani dan pedagang kecil), justru bersifat struktural, yaitu melalui penanaman sikap progresif revolusioner.[2]
Dalam pidato di depan Sidang PBB, 30 September 1960, Sukarno tegas menyatakan, bahwa Pancasila (baca: Marhaenisme) pada hakekatnya adalah sublimasi dari Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat) dan Manifesto of Communism dari Uni Soviet. Artinya Pancasila justru merupakan alternatif ketiga dari kedua kubu yang bertentangan dalam Perang Dingin di antara Blok Barat dengan Blok Timur saat itu. Secara ideologis, pemikiran Soekarno mirip sekali dengan apa yang dirumuskan oleh Anthony Giddens 20 tahun kemudian, sebagai '"The Third Way.[2]
Langganan:
Postingan (Atom)
MENUJU INSAN KAMIL
BA GIAN KE-LIMA MENUJU INSAN KAMIL Insan Kamil adalah pada waktu tanazul berada paling akhir, sedang pada waktu taraki nantiny...
-
Manajemen waktu adalah bagian penting yang harus diketahui oleh seorang entrepreneur. Ada begitu banyak jam dalam sehari, sehingga Anda ha...
-
Hanya orang-orang besar yang memiliki mimpi besar, bermimpi besar adalah sebuah keberanian. Kamu yang tidak berani memiliki impian besar su...