Senin, 31 Oktober 2016

KISAH SUKSES SEORANG MILLIONER




Ada seorang berkulit hitam, lahir di daerah kumuh Brooklyn,
New York, ia melewati kehidupannya dlm lingkungan miskin
dan penuh diskriminasi,
Suatu hari ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kpdnya:

“Menurutmu, brp nilai pakaian ini?”
Ia menjawab: “Mungkin 1 USD.”

“Bisakah dijual seharga USD2? Jika berhasil, berarti engkau
telah membantu ayah & ibumu"
"Saya akan mencobanya,”

Ia membawa pakaian itu ke stasiun kereta bawah tanah dan
menjual selama lebih dari enam jam, akhirnya ia berhasil
menjual 2 USD dan berlari pulang.
Kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian
bekas kepadanya:

“Coba engkau menjual seharga 20 USD?”
"Bgmn mungkin? Pakaian ini paling hanya USD2."

Ayahnya berkata “Mengapa engkau tdk mencobanya dulu?”

Akhirnya, ia mendapatkan ide, ia meminta bantuan sepupunya
utk menggambarkan seekor Donal Bebek yg lucu & seekor
Mickey Mouse yg nakal pd pakaian itu, ia lalu menjualnya di
sekolah anak org kaya dan laku 25 USD.
Ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas
kepadanya:

“Apakah engkau mampu menjualnya dgn harga 200 USD?"

Kali ini ia menerima tanpa keraguan sedikit pun, kebetulan
aktris film populer “Charlie Angels”, Farrah Fawcett berada di
New York. Dan sehabis konferensi pers, ia pun menerobos
penjagaan pihak keamanan & meminta Farrah Fawcett
membubuhkan tanda tangan di pakaian bekasnya.
Dan kemudian terjual 1500 USD.
Malamnya Ayahnya bertanya: “Anakku, dari pengalaman
menjual tiga helai pakaian ini apa yg engkau pahami?”

Ia menjawab “Selama kita mau berpikir pasti ada caranya. ”

Ayahnya menggelengkan kepala: “engkau tdk salah! Tapi
bukan itu maksud ayah, ayah hanya ingin memberitahukanmu
bahwa sehelai pakaian bekas yg bernilai satu dolar juga bisa
ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia? Mungkin
kita berkulit gelap dan miskin, tapi apa bedanya?”

Sejak itu, ia belajar dgn lebih giat dan menjalani latihan lebih
keras. Dan dua puluh tahun kemudian, namanya terkenal ke
seluruh dunia.

Ia adalah MICHAEL JORDAN!


MENGENAL MARHAEN



MARHAEN ITU KOMUNIS INDONESIA?
http://id.wikipedia.org/wiki/Marhaenismeadalah ideologi yang menentang penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Untuk masa sekarang, ideologi ini telah berkembang dan dikenal dengan nama Marhaenisme Kekinian. Ideologi ini dikembangkan dari pemikiran presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ajaran ini awalnya bermaksud mengangkat kehidupan rakyat/orang kecil. Orang kecil yang dimaksud adalah petani dan buruh yang hidupnya selalu dalam cengkeraman orang-orang kaya dan penguasa.
Etimologi
Marhaenisme diambil dari seorang petani bernama Marhaen yang hidup di Indonesia dan dijumpai Bung Karno pada tahun 1926-1927.[1] Dalam versi yang berbeda, nama petani yang dijumpai Bung Karno di daerah Bandung, Jawa Barat itu adalah Aen. Dalam dialog antara Bung Karno dengan petani tersebut, selanjutnya disebut dengan panggilan Mang Aen. Petani tersebut mempunyai berbagai faktor produksi sendiri termasuk lahan pertanian, cangkul dan lain-lain yang ia olah sendiri, namun hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan hidup keluarganya yang sederhana. Kondisi ini kemudian memicu berbagai pertanyaan dalam benak Bung Karno, yang akhirnya melahirkan berbagai dialektika pemikiran sebagai landasan gerak selanjutnya. Kehidupan, kepribadian yang lugu, bersahaja namun tetap memiliki semangat berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya inilah, maka nama petani tersebut oleh Bung Karno diabadikan dalam setiap rakyat Indonesia yang hidupnya tertindas oleh sistem kehidupan yang berlaku. Sebagai penyesuaian bahasa saja, nama Mang Aen menjadi Marhaen.
Istilah ini untuk pertama kalinya digunakan oleh Soekarno di dalam pleidoinya tahun 1930,
Indonesia Menggugat untuk mengganti istilah proletar.[2].
Dalam bukunya "Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai", Kol. (Inf.) Soegiarso Soerojo, seorang perwira intelijen pada masa Orde Baru, menyangsikan bahwa ada petani yang memiliki nama Marhaen, dan memberikan alternatif sumber lain dari nama tersebut, yaitu singkatan dari
Marx-Hegel-Engels.[3][4]. Di kemudian hari, Soekarno juga menyebutkan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang diterapkan sesuai dengan kultur dan natur Indonesia.
Ideologi
Marhaenisme pada esensinya adalah sebuah ideologi perjuangan yang terbentuk dari Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa versi Bung Karno.
Menurut, agar mandiri secara ekonomi dan terbebas dari eksploitasi pihak lain, tiap orang atau rumah tangga memerlukan faktor produksi atau modal. Wujudnya dapat berupa tanah atau mesin/alat. Dalam konteks modern, kendaraan, perangkat teknologi informasi, alat dapur dan barang elektronik bisa saja diberdayakan dengan tepat guna sebagai modal atau faktor produksi. Meskipun tidak besar, kepemilikan modal sendiri ini perlu untuk menjamin kemandirian orang atau rumahtangga itu dalam perekonomian.
Berbeda dengan
kapitalisme, modal dalam bukanlah untuk ditimbun atau dilipatgandakan, melainkan diolah untuk mencukupi kebutuhan hidup dan menghasilkan surplus. Petani menanam untuk mencukupi makan keluarganya sendiri, barulah menjual surplus atau kelebihannya ke pasar. Penjahit, pengrajin atau buruh memproduksi barang yang kelak sebagian akan dipakainya sendiri, walau selebihnya tentu dijual. Idealnya, syarat kecukupan-sendiri ini harus dipenuhi lebih dulu sebelum melayani pasar. Ini artinya ketika buruh, pengrajin atau petani memproduksi barang yang tak akan dikonsumsinya sendiri, ia cuma bertindak sebagai faktor produksi bagi pihak lain, yang menjadikannya rawan untuk didikte oleh pasar atau dieksploitasi. Secara agregat (keseluruhan) dalam sistem ekonomi, barang yang tidak/belum diperlukan tidak akan diproduksi, sebab setiap orang/rumahtangga tentu memastikan dulu profil dan taraf kebutuhannya sendiri sebelum membuat apapun. Inovasi kelahiran produk baru akan terjadi manakala kebutuhannya sudah kongkret betul.
Cara ini mendorong tercapainya efisiensi, sekaligus mencegah pemborosan sumber daya serta sikap konsumtif. Dan karena hanya difungsikan sekadar menghasilkan surplus, modal yang tersedia juga mustahil ditimbun atau diselewengkan untuk menindas tumbuh-kembangnya perekonomian pihak lain.
Marhaenisme yang dimaksud Soekarno bisa dibandingkan dengan formulasi pendekatan teori
kewirausahaan yang baru diperkenalkan pada tahun 70-an oleh David McCleland yaitu hampir 50 tahun kemudian. Bedanya, jika McCleland lebih menekankan opsi pada upaya penanaman virus N.ach (Need for Achievement) atau kehendak untuk maju dari kalangan rakyat atau pengusaha kecil, sehingga notabene didominasi oleh pendekatan fungsional, maka pendekatan Soekarno atas marhaen (petani dan pedagang kecil), justru bersifat struktural, yaitu melalui penanaman sikap progresif revolusioner.[2]
Dalam pidato di depan Sidang PBB, 30 September 1960, Sukarno tegas menyatakan, bahwa Pancasila (baca: Marhaenisme) pada hakekatnya adalah sublimasi dari Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan
Amerika Serikat) dan Manifesto of Communism dari Uni Soviet. Artinya Pancasila justru merupakan alternatif ketiga dari kedua kubu yang bertentangan dalam Perang Dingin di antara Blok Barat dengan Blok Timur saat itu. Secara ideologis, pemikiran Soekarno mirip sekali dengan apa yang dirumuskan oleh Anthony Giddens 20 tahun kemudian, sebagai '"The Third Way.[2]

Minggu, 30 Oktober 2016

SENI DAN KEHIDUPAN SOSIAL

Perihal hubungan seni dengan kehidupan sosial merupakan masalah yang selalu muncul dalam setiap kesusastraan yang telah mencapai suatu taraf tertentu di dalam perkembangannya. Yang paling sering, masalah itu dijawab dengan salah-satu dari dua pengertian yang secara langsung saling bertolak-belakang. Ada yang menyatakan: manusia tidak diciptakan untuk hari sabbath , melainkan hari sabbath itu untuk manusia; masyarakat tidak diciptakan untuk seniman, tetapi seniman untuk masyarakat. Fungsi seni ialah membantu perkembangan kesadaran manusia, membantu memajukan sistem sosial. Yang lain lagi dengan tegas menolak pandangan ini. Menurut pendapat mereka, seni merupakan tujuan pada dirinya sendiri; untuk mengubahnya menjadi sebuah alat guna mencapai sesuatu tujuan lain, sekalipun yang paling mulia, berarti memerosotkan martabat penciptaan kreatif. Yang pertama dari kedua pandangan ini telah dengan jelas sekali diungkapkan dalam kesusastraan progresif kita dari tahun 1860-an. Tanpa menyebut Pisarev, yang dengan sikap berat-sebelah yang ekstrim nyaris menjadikannya sebuah karikatur, 2 kita dapat menyebut Chernyshevsky dan Dobrolyubov sebagai pembela-pembela paling kuat dari pandangan ini di dalam kesusastraan kritis zaman itu. Dalam salah-satu artikel kritisnya yang paling awal Chernyshevsky menulis: “Ide seni untuk seni sama asingnya di zaman kita seperti kekayaan untuk kekayaan, ilmu untuk ilmu, dan sebangsanya. Semua kegiatan manusia mesti mengabdi kemanusiaan jika kegiatan itu tidak mau menjadi pekerjaan yang sia-sia dan keisengan belaka. Kekayaan ada agar manusia dapat menarik keuntungan darinya; ilmu ada agar menjadi pedoman manusia; juga seni harus mengabdi sesuatu tujuan yang berguna dan bukannya kesenangan yang tidak berfaedah.” Menurut pendapat Chernyshevsky, nilai semua seni, dan terutama dari ‘yang paling serius di antaranya,’ yaitu persanjakan, ditentukan oleh jumlah pengetahuan yang disebar-luaskannya pada masyarakat. Kata Chernyshevsky: “Seni, atau lebih baik dikatakan persanjakan (hanya persanjakan, karena kesenian lainnya sangat sedikit sumbangsihnya dalam hal ini), menyebar- luaskan sejumlah besar pengetahuan di kalangan massa pembaca, dan yang lebih penting lagi, membiasakan mereka dengan konsep-konsep yang digarap oleh ilmu-pengetahuan—itulah tujuan mulia persanjakan dalam kehidupan.” 3 Gagasan yang sama telah dinyatakan Chernyshevsky dalam disertasinya yang terkenal “Hubungan Estetik Seni dengan Realitas.” Menurut tesisnya yang ke-17, seni tidak hanya mereproduksi kehidupan, melainkan menjelaskannya: hasil-hasil seni acapkali “mempunyai tujuan untuk melakukan penilaian atas gejala-gejala kehidupan.” Menurut Chernyshevsky dan muridnya, Dobrolyubov, fungsi seni ialah, memang, untuk mereproduksi kehidupan dan untuk melakukan penilaian atas gejala-gejalanya. 4 Dan ini bukan hanya pendapat para ahli kritik sastra dan para ahli teori seni. Bukan sesuatu kebetulan, bahwa Nekrasov menamakan seni sajaknya ilham politik dari “balas-dendam dan duka.” Dalam salah-satu sajaknya, berkatalah Rakyat Biasa Nekrasov kepada Penyair: Kau penyair yang diberkahi surga, duta pilihan! Adalah salah bila yang terampas dan tak-punya apa-apa tuli akan lagumu yang berilham. Percayalah, manusia belum jatuh semuanya, Tuhan masih hidup di setiap hati Dan masih, meski dengan pedih dan lirih, suara kepercayaan menggapai jiwa. Jadilah kau warga, mengabdi seni, dan untuk sesamamu yang hidup, kepada mereka, kepada mereka hati penuh cinta dan segala ilham diberikan. 5 Dengan kata-kata ini Rakyat Biasa Nekrasov menguraikan pengertiannya sendiri mengenai fungsi seni. Secara sepenuhnya sama, fungsi seni itu

Minggu, 16 Oktober 2016

MY A BOOK


Manajemen waktu adalah bagian penting yang harus diketahui oleh seorang entrepreneur. Ada begitu banyak jam dalam sehari, sehingga Anda harus menggunakannya secara efisien. Maka, Anda perlu tahu apa tujuan Anda dan tugas-tugas apa yang harus Anda lakukan sebelum memulai hari Anda

Sabtu, 15 Oktober 2016

INSVIRASI HIDUP

Hanya orang-orang besar yang memiliki mimpi besar, bermimpi besar adalah sebuah keberanian.
Kamu yang tidak berani memiliki impian besar sudah kalah; kalah di hadapan ketakutan.
Kamu takut tidak dapat menaklukan mimpimu. Maka jika ingin menjadi orang besar, beranikan dirimu,
jangan kamu takut, tetapi beranikanlah. Kobarkan semangat hidup dalam jiwamu, kebahagiaan menantimu selalu

MENUJU INSAN KAMIL

  BA GIAN KE-LIMA MENUJU INSAN KAMIL     Insan Kamil adalah pada waktu tanazul berada paling akhir, sedang pada waktu taraki nantiny...