MENYINGKAP TABIR MANUSIA
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Marilah kita mengenal diri sendiri sebelum mengenal Sang
Pencipta, Dia lah Tuhan yang menciptakan segala apa yang ada di Bumi dan di
Langit atas kehendaknNYA sebagaimana firmannya dalam Al-Qur’an surah Al Ikhlas قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ qul huwallāhu aḥad Katakanlah (Muhammad),
“Dialah Allah, Yang Maha Esa. Cukup mengucapkan “إِذا قَضى أَمْراً فَإِنَّما يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ " dimuat: 117 Surah
Al-Baqarah artinya : "Dan bila
Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya
mengatakan kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia". Dengan memahami hal tersebut,
berarti apa yang ada dilangit dan di bumi dialah yang menciptakan dari yang
tiada menjadi ada. Inilah sekilas pengantar hikma yang dapat kita renungkan
sebagai jalan menghadapi kehidupan menuju kebahagian.
Bumi terbentuk sekitar 4,54 miliar (4.54×109) tahun yang lalu melalui akresi dari nebula
matahari. Pelepasan
gas vulkanik
diduga menciptakan atmosfer
tua yang nyaris tidak beroksigen
dan beracun bagi manusia dan sebagian besar makhluk hidup masa kini. Sebagian
besar permukaan Bumi meleleh karena vulkanisme ekstrem dan sering bertabrakan
dengan benda angkasa lain. Sebuah tabrakan besar diduga
menyebabkan kemiringan
sumbu Bumi dan menghasilkan Bulan.
Seiring waktu, Bumi mendingin dan membentuk kerak
padat dan memungkinkan cairan
tercipta di permukaannya. Bentuk kehidupan pertama muncul antara 2,8 dan 2,5 miliar tahun yang lalu. Kehidupan fotosintesis
muncul sekitar 2 miliar tahun yang lalu, nan
memperkaya oksigen di atmosfer. Sebagian besar makhluk hidup masih berukuran
kecil dan mikroskopis, sampai akhirnya makhluk hidup multiseluler kompleks
mulai lahir sekitar 580 juta tahun yang lalu. Pada periode Kambrium,
Bumi mengalami diversifikasi
filum
besar-besaran yang sangat cepat.
Perubahan biologis dan geologis terus terjadi di
planet ini sejak terbentuk. Organisme terus berevolusi,
berubah menjadi bentuk baru atau punah seiring perubahan Bumi.
Proses tektonik
lempeng memainkan peran penting dalam pembentukan lautan dan
benua di Bumi, termasuk kehidupan di dalamnya. Biosfer
memiliki dampak besar terhadap atmosfer dan kondisi abiotik lainnya di planet
ini, seperti pembentukan lapisan
ozon, proliferasi oksigen, dan penciptaan tanah.
Kala geologi, dipadatkan dalam diagram
berbentuk lingkaran jam yang menampilkan panjang relatif kala sejarah
Bumi. (keterangan: Mtl = Miliar tahun lalu, Jtl = Juta tahun lalu, s. =
sekitar)
Skala waktu geologi
Artikel utama: Skala waktu geologi
Sejarah Bumi diurutkan secara kronologis dalam
tabel skala waktu geologi, yang dibagi menjadi beberapa interval sesuai dengan
analisis stratigrafi.[2][3]
Skala waktu yang lengkap dapat dilihat di artikel utama. Keempat garis waktu di
bawah ini menunjukkan skala waktu geologi. Garis waktu
yang pertama menunjukkan keseluruhan waktu dari masa terbentuknya Bumi sampai
waktu sekarang. Skala waktu ini memampatkan eon
terbaru. Skala waktu kedua menunjukkan eon terbaru dengan skala yang diperluas.
Namun skala waktu kedua ini juga masih memampatkan era terbaru, yang dapat
dilihat di skala ketiga. Karena Kuarter
merupakan periode yang sangat singkat dengan jangka waktu yang pendek, sehingga
diperluas lagi di skala waktu keempat.
Skala waktu kedua, ketiga, dan keempat merupakan
subbagian dari skala waktu sebelumnya yang ditunjukkan oleh tanda bintang.
Alasan lain untuk memperluas skala keempat adalah, Holosen
(jangka waktu) terakhir terlalu kecil untuk dapat ditampilkan dengan jelas pada
skala waktu ketiga di sebelah kanan.
Pembentukan Tata Surya
Artikel utama: Pembentukan dan evolusi Tata Surya
Lihat pula: Diferensiasi planet
Ilustrasi konsepsi tentang sebuah cakram protoplanet.
Model standar tentang pembentukan Tata Surya
adalah hipotesis
nebula surya.[4]
Dalam model ini, Tata Surya terbentuk dari awan
antarbintang—himpunan debu dan gas yang
berputar—yang disebut nebula
surya, terdiri dari hidrogen
dan helium
yang tercipta sesaat setelah peristiwa
dentuman besar, 13,8 miliar tahun yang lalu serta elemen
yang lebih berat yang terlontar dari supernova.
Sekitar 4,5 miliar tahun, nebula tersebut mulai
berkontraksi yang mungkin telah dipicu oleh gelombang
kejut dari supernova
yang berdekatan.[5]
Gelombang kejut juga telah membuat nebula tersebut berputar. Seiring makin
cepatnya perputaran awan, maka momentum
sudut, gravitasi,
dan kelembaman
meratakan awan tersebut menjadi bentuk cakram protoplanet yang tegak
lurus terhadap sumbu rotasi. Adanya kekacauan yang disebabkan tumbukan serta
pengaruh dari momentum sudut dari puing-puing besar menciptakan sarana yang
memungkinkan protoplanet
berukuran beberapa kilometer mulai terbentuk, yang mengorbit pusat nebula.[6]
Pusat nebula, yang tidak banyak memiliki momentum
sudut akhirnya cepat runtuh; tekanan dari runtuhan tersebut memanaskannya
hingga memungkinkan terjadinya proses fusi
nuklir antara hidrogen
dan helium.
Ketika kontraksi menjadi lebih besar, terbentuklah bintang
T Tauri dan berkembang menjadi Matahari.
Sementara itu, bagian luar dari gravitasi nebula menyebabkan materi
mendingin di sekitar daerah yang padat gangguan serta partikel debu, dan sisa
dari cakram protoplanet mulai memisah menjadi cincin. Melalui proses yang
dikenal dengan akresi cepat, kepingan-kepingan
debu dan puing-puing terus menerus mengumpul sehingga terbentuklah planet.[6]
Bumi terbentuk dengan cara ini sekitar 4,54 miliar tahun yang lalu (dengan
ketidakpastian 1%)[7][8][9][10]
dan proses ini selesai dalam 10–20 juta tahun.[11]
Angin
matahari dari bintang T Tauri yang baru terbentuk
membersihkan sebagian besar materi di dalam cakram yang tidak tergabung dalam objek
yang besar. Proses yang sama terjadi pada hampir semua bintang yang baru
terbentuk di alam semesta yang menghasilkan cakram
akresi, beberapa di antaranya menghasilkan planet
ekstrasolar.[12]
Bumi baru terus bertumbuh sampai suhu interiornya
cukup panas untuk melelehkan logam siderofil. Dengan massa
jenis yang lebih tinggi dari silikat,
akhirnya logam ini tenggelam. Peristiwa yang disebut katastrofe besi
tersebut mengakibatkan pemisahan mantel primitif dengan inti metalik. Proses
ini terjadi 10 juta tahun setelah Bumi mulai terbentuk, dan menghasilkan
struktur Bumi yang berlapis-lapis dan mengakibatkan terbentuknya medan
magnet.[13]
J. A. Jacobs[14]
merupakan orang pertama yang menunjukkan bahwa inti dalam—bagian
dalam yang padat berbeda dari inti luar yang padat—membeku dan mengembang
keluar inti luar yang cair dikarenakan bagian dalam bumi yang makin mendingin
(sekitar 100° C per miliar tahun[15]).
Ekstrapolasi dari pengamatan ini memperkirakan bahwa inti terbentuk pada masa 2–4 miliar tahun yang lalu. Jika ini benar maka berarti
bahwa inti bumi bukanlah fitur primordial yang berasal selama pembentukan
planet.
Eon Hadean dan Arkean (Artikel utama: Hadean dan Arkean Eon)
Pertama dalam sejarah Bumi, Hadean, dimulai saat proses pembentukan Bumi dan diikuti oleh eon Arkean pada 3,8 miliar tahun yang lalu.[2]:145 Batu tertua yang ditemukan di Bumi berumur sekitar 4 miliar tahun, dan serpihan kristal zirkon di dalam batu tertua yang ditemukan berumur sekitar 4,4 miliar tahun,[16][17][18] tak lama setelah pembentukan kerak Bumi dan Bumi itu sendiri. Menurut hipotesis tubrukan besar, pembentukan Bulan terjadi tidak lama setelah terbentuknya kerak Bumi, saat Bumi muda tertabrak oleh protoplanet yang berukuran lebih kecil, sehingga melontarkan mantel dan kerak Bumi ke luar angkasa dan membentuk Bulan.[19][20][21]
Dari jumlah kawah yang terdapat di benda langit
lain, disimpulkan bahwa periode tumbukan meteorit yang intens, yang disebut
dengan Pengeboman Berat Akhir dimulai
sekitar 4,1–3,8 miliar tahun yang lalu pada akhir Hadean.[22]
Selain itu, banyak terdapat letusan
gunung berapi disebabkan oleh perpindahan
panas serta gradien panas bumi.[23]
Meski demikian, kristal zirkon detrital berumur 4,4 miliar tahun
menunjukkan bukti bahwa kristal tersebut telah mengalami kontak dengan air yang
berada dalam kondisi cair. Hal ini menunjukkan bahwa Bumi telah memiliki
samudra atau laut pada saat itu.[16]
Pada awal Arkean, suhu Bumi sudah cukup dingin.
Bentuk kehidupan masa kini tidak dapat hidup di atmosfer Arkean yang miskin oksigen
serta memiliki lapisan
ozon yang tipis. Namun, diyakini bahwa kehidupan purba mulai
berkembang pada awal Arkean, dengan ditemukannya fosil
berumur sekitar 5,3 miliar tahun.[24]
Beberapa ilmuwan bahkan berspekulasi bahwa kehidupan bisa dimulai sejak masa
Hadean awal, sekitar 4,4 miliar tahun yang lalu.[25]
Pembentukan Bulan
Artikel utama: Bulan, Asal mula Bulan, dan Hipotesis tubrukan besar
Ilustrasi terbentuknya bulan yang
disebabkan tumbukan antara protoplanet
dengan Bumi.
Bulan yang merupakan satu-satunya satelit
alami Bumi, berukuran relatif lebih besar terhadap ukuran
planet yang diorbitnya jika dibandingkan dengan satelit lain di Tata Surya.[nb 1]
Selama program
Apollo, bebatuan dari permukaan Bulan dibawa ke Bumi. Penanggalan radiometrik dari
bebatuan ini telah menunjukkan bahwa Bulan berusia
4,53 ± .01 miliar tahun,[28]
setidaknya 30 juta tahun setelah terbentuknya Tata Surya.[29]
Bukti terbaru menunjukkan Bulan terbentuk pada masa yang lebih baru, sekitar
4,48 ± 0.02 miliar tahun yang lalu atau 70–110 juta tahun
setelah terbentuknya Tata Surya.[30]
Teori pembentukan Bulan harus dapat menjelaskan
beberapa fakta berikut.
- Pertama, Bulan memiliki densitas yang rendah (3,3 kali dibanding air, sementara bumi 5,5 kali dibanding air[31]) dan inti logam yang kecil.
- Kedua, Bulan hampir tidak mengandung air atau bahan yang mudah menguap lainnya.
- Ketiga, Bumi dan Bulan memiliki jejak isotopik oksigen (kelimpahan relatif dari isotop oksigen) yang sama.
Dari teori-teori yang telah diajukan untuk
menjelaskan fenomena ini, hanya satu yang diterima secara luas yakni hipotesis tubrukan besar
yang mengatakan bahwa bulan terbentuk dari sebuah benda langit seukuran Mars
menghantam bumi yang baru terbentuk.[1]:256[32][33]
Tabrakan ini memiliki tenaga 100 juta kali lebih
besar dari tabrakan yang menyebabkan kepunahan dinosaurus.
Tenaga ini cukup untuk menguapkan sebagian lapisan luar bumi dan menyatukan
kedua bagian yang bertabrakan.[32][1]:256
Sebagian dari bahan mantel terlempar ke orbit di sekitar Bumi. Hipotesis tubrukan besar
menduga bahwa Bulan kehabisan materi logam;[34]
hal ini menjelaskan komposisinya yang abnormal.[35]
Materi yang terlempar ke dalam orbit Bumi dapat berkumpul menjadi satu bagian
dalam beberapa minggu, di bawah pengaruh gravitasinya sendiri; materi tersebut
semakin lama akan memiliki bentuk yang bulat.[36]
Benua pertama
Peta geologi Amerika Utara, kode warna
berdasarkan usia. Warna merah dan pink menunjukkan batuan dari eon Arkean.
Mantel
konveksi,
proses yang mendorong lempeng tektonik saat ini, adalah hasil dari aliran
panas dari dalam bumi ke permukaan bumi.[37]:2
Termasuk juga penciptaan lempeng tektonik di pegunungan di tengah laut.
Lempeng ini dihancurkan oleh subduksi
ke dalam mantel di zona subduksi.
Pada awal eon Arkean
(sekitar 3,0 miliar tahun yang lalu) mantel itu jauh
lebih panas daripada sekarang, mungkin sekitar 1600° C,[38]:82
sehingga proses konveksi dalam mantel terjadi lebih cepat.
Kerak bumi mulai terbentuk ketika permukaan bumi
mulai memadat, menghilangkan bekas-bekas pergeseran lempeng tektonik Hadean
serta dampak dari tumbukan yang terjadi. Namun, diperkirakan kerak tersebut
memiliki komposisi Basalt
seperti Kerak
samudera yang ada sekarang.[1]:258
Potongan kerak
benua besar yang pertama, muncul pada akhir masa Hadean,
sekitar 4 miliar tahun yang lalu. Bagian yang tersisa dari benua pertama
yang kecil ini disebut kraton.
Potongan-potongan yang terjadi pada akhir Hadean
sampai awal Arkean
membentuk inti lempengan yang sampai sekarang tumbuh menjadi benua.[39]
Batuan tertua di Bumi ditemukan di Laurentia,
Kanada,
yang berupa tonalit
yang berumur sekitar 4 miliar tahun. Bebatuan ini menunjukkan jejak
metamorfosis oleh suhu tinggi, juga biji-bijian sedimen yang telah terkikis
oleh erosi selama terbawa oleh air, yang menunjukkan adanya sungai dan laut
pada masa itu.[40]
Lautan dan atmosfer
Lihat pula: Asal usul air di Bumi
Grafik menunjukkan perkiraan tekanan parsial oksigen
atmosfer sepanjang waktu geologi.[41]
Bumi biasanya diuraikan memiliki tiga atmosfer. Atmosfer pertama diperoleh
dari nebula surya, terdiri dari unsur-unsur ringan (atmofil) dari nebula surya,
sebagian besar merupakan hidrogen
dan helium.
Kombinasi dari angin
matahari dan panas bumi
akhirnya menghempaskan atmosfer ini, yang mengakibatkan habisnya atmosfer ini.[42]
Setelah terjadinya tumbukan, Bumi yang berbentuk cair melepaskan gas volatil,
dan gas-gas lainnya dikeluarkan oleh gunung
berapi, membentuk atmosfer kedua yang kaya gas
rumah kaca namun miskin oksigen.[1]:256
Akhirnya, atmosfer ketiga yang kaya oksigen
muncul ketika bakteri mulai menghasilkan oksigen sekitar 2,8 miliar tahun
yang lalu.[43]:83–84,116–117
Dalam model awal pembentukan atmosfer dan laut,
atmosfer kedua terbentuk karena pengeluaran gas volatil dari interior Bumi.
Anggapan ini sekarang berubah, sebab volatil diperkirakan banyak dikeluarkan
selama akresi dalam sebuah proses yang dikenal sebagai pengawagasan tubrukan.
Anggapan ini memperkirakan lautan dan atmosfer sudah mulai terbentuk pada tahap
pembetukan bumi.[44]
Atmosfer yang terbentuk kemungkinan berisi uap air,
karbon
dioksida, nitrogen,
dan sejumlah kecil gas-gas lainnya.[45]
Planetisimal
dalam jarak 1 satuan
astronomi (AU), jarak Bumi dari Matahari, kemungkinan tidak
berpengaruh terhadap pengadaan air di Bumi, karena nebula surya terlalu panas
untuk mendukung pembentukan es dan hidrasi bebatuan oleh uap air memerlukan
waktu yang terlalu lama.[44][46]
Air kemungkinan besar berasal dari meteorit
yang ada di sabuk luar asteroid serta beberapa embrio planet besar yang
jaraknya lebih dari 2,5 AU.[44][47]
Komet
mungkin juga berkontribusi terhadap pengadaan air di Bumi. Meskipun sebagian
besar komet saat ini mengorbit Matahari pada jarak yang jauh, namun simulasi
komputer menunjukkan bahwa pada awalnya komet-komet tersebut mengorbit Matahari
pada jarak yang lebih dekat.[40]:130-132
Seiring Bumi mulai mendingin, awan-awan
mulai terbentuk. Akhirnya hujan menciptakan lautan. Bukti terbaru menunjukkan
lautan mungkin telah terbentuk 4,4 miliar tahun yang lalu.[16]
Pada awal eon Arkean,
lautan sudah menutupi Bumi. Formasi awal ini sulit dijelaskan karena ada
masalah yang dikenal sebagai paradoks Matahari muda yang redup.
Bintang diketahui akan bertambah terang dengan bertambahnya usia, dan pada saat
pembentukannya, Matahari hanya memancarkan 70% dari daya saat ini. Banyak model
memprediksi bahwa Bumi pernah tertutup oleh es.[48][44]
Solusi yang memungkinkan adalah, bahwa ada banyak karbon
dioksida dan metana
yang menghasilkan efek
rumah kaca. Karbon dioksida mungkin dihasilkan oleh gunung
berapi, dan metana dihasilkan oleh mikroba. Gas rumah kaca lainnya, yaitu amonia
mungkin juga dikeluarkan oleh gunung berapi, namun dihancurkan secara cepat
oleh radiasi ultraviolet.[43]:83
Asal mula kehidupan
Artikel utama: Evolusi
Salah satu manfaat terbentuknya atmosfer
dan lautan
adalah tersedianya kondisi yang dapat menunjang adanya kehidupan. Ada banyak
model yang menggambarkan asal mula kehidupan, namun masih sedikit konsensus
tentang bagaimana kehidupan muncul dari bahan kimia.
Percobaan yang dibuat di laboratorium masih belum dapat mengungkap tentang hal
ini.[49][50]
Tahap awal munculnya kehidupan kemungkinan dipicu
dengan adanya reaksi
kimia yang menghasilkan senyawa
organik sederhana, termasuk nukleobasa
serta asam amino
yang merupakan materi penyusun kehidupan. Sebuah percobaan yang dilakukan oleh Stanley
Miller dan Harold
Urey pada tahun 1953 menunjukkan bahwa molekul tersebut bisa
terbentuk dalam lingkungan air, metana,
amonia
dan hidrogen
dengan bantuan percikan bunga api, untuk meniru efek petir.[51]
Meskipun komposisi atmosfer mungkin berbeda dari komposisi yang digunakan oleh
Miller dan Urey, percobaan lebih lanjut dilakukan dengan komposisi yang lebih
mendekati kondisi sesungguhnya, juga berhasil mensintesis molekul organik.[52]
Simulasi
komputer terbaru menunjukkan bahwa molekul organik di luar
bumi dapat terbentuk dalam piringan protoplanet sebelum pembentukan bumi.[53]
Tahap berikutnya yang lebih kompleks bisa saja dicapai dari setidaknya tiga
titik awal:[54]
- Replikasi diri, kemampuan organisme untuk menghasilkan keturunan yang sangat mirip dengan dirinya sendiri.
- Metabolisme, kemampuan untuk memberi makan dan memperbaiki diri sendiri.
- Membran sel eksternal, yang memungkinkan makanan masuk dan limbah hasil pencernaan terbuang.
Replikasi pertama: Dunia RNA
Artikel utama: Hipotesis dunia RNA
Replikator pada hampir semua bentuk
kehidupan yang diketahui di Bumi adalah asam deoksiribonukleat. DNA jauh
lebih kompleks daripada replikator asli dan sistem replikasi yang sangat rumit.
Anggota paling sederhana dari tiga domain modern pun menggunakan
DNA untuk merekam informasi
genetika dan susunan RNA
yang kompleks serta molekul protein
untuk "membaca" petunjuk tersebut dan menggunakannya untuk pertumbuhan,
pemeliharaan dan replikasi diri.
Penemuan yang menjelaskan bahwa jenis molekul RNA
yang disebut ribozim
dapat mengkatalisis
baik replikasi sendiri maupun pembuatan protein membuka hipotesis baru yang
mengatakan bahwa bentuk kehidupan awal sepenuhnya didasarkan pada RNA.[55]
Mereka bisa membentuk dunia dunia RNA di mana ada individu
tetapi tidak ada spesies,
seperti mutasi
dan transfer gen horizontal yang
diartikan bahwa keturunan dalam setiap generasi cenderung memiliki genom
yang berbeda dari induknya.[56]
RNA kemudian diganti oleh DNA, yang lebih stabil sehingga dapat mempertahankan
genom untuk waktu yang lebih lama.[57]
Ribozim
tetap menjadi komponen utama ribosom,
yang merupakan "pabrik protein" sel modern.[58]
Meskipun, molekul RNA yang dapat mereplikasi diri
telah dapat diproduksi di laboratorium,[59]
namun tetap ada keraguan tentang apakah kemungkinan mensintesis RNA
non-biologis.[60][61][62]
Ribozim awal kemungkinan terbentuk dari asam
nukleat sederhana seperti PNA, TNA atau GNA, yang akan
digantikan kemudian oleh.[63][64]
Replikator pra-RNA lainnya telah dikemukakan, termasuk kristal[65]:150
dan bahkan sistem kuantum.[66]
Pada tahun 2003 diusulkan bahwa presipitasi
sulfida logam berpori akan membantu sintesis RNA pada suhu sekitar 100° C. Dalam hipotesis ini, membran lipid akan menjadi
komponen sel besar terakhir yang muncul dan terbatas pada pori-pori sampai
mereka melakukan protosel.[67]
Metabolisme pertama: Dunia besi-belerang
Hipotesis lain yang bertahan cukup lama
mengatakan bahwa kehidupan awal terdiri dari molekul
protein.
Asam amino,
blok yang membangun protein
mudah disintesis dalam kondisi prebiotik, seperti peptida
kecil (polimer
asam amino) yang membuat katalis yang baik.[68]:295–297
Serangkaian percobaan dimulai pada tahun 1997 menunjukkan bahwa asam amino dan
peptida bisa terbentuk dengan adanya karbon
monoksida dan hidrogen
sulfida, dengan besi
sulfida dan nikel
sulfida sebagai katalis.
Sebagian besar langkah tersebut membutuhkan suhu 100° C
dan tekanan yang sedang, meskipun ada satu tahap yang memerlukan suhu 250° C dan tekanan yang setara dengan tekanan bebatuan pada
kedalaman 7 kilometer. Oleh karena tempat yang memungkinkan terjadinya sintesis
protein mandiri berada di dekat lubang hidrotermal.[69]
Kesulitan yang dihadapi dalam membuat skenario metabolisme
pertama adalah menemukan cara bagi organisme tersebut untuk berkembang. Tanpa
kemampuan untuk mereplikasi sebagai individu, agregat molekul akan memiliki
"genom komposisi" (jumlah spesies molekular dalam agregat) sebagai
sasaran seleksi
alam. Namun, model percobaan terbaru menunjukkan bahwa sistem
tersebut tidak dapat berkembang sebagai respon terhadap seleksi alam.[70]
Membran pertama: Dunia lipid
= bungkul penarik air
molekul lipid
= serabut penolak air
Penampang liposom.
Gelembung lipid
berdinding ganda seperti yang membentuk membran sel luar dianggap sebagai
langkah awal yang penting.[71]
Percobaan yang mensimulasikan kondisi awal Bumi diketahui telah mampu membentuk
lipid, dan secara spontan membentuk liposom—gelembung
berdinding ganda—yang mampu memperbanyak diri. Meskipun tidak secara intrinsik
membawa informasi seperti asam
nukleat, namun liposom ini akan mengalami seleksi
alam yang menentukan umur dan kemampuan reproduksi. Asam
nukleat seperti RNA
lebih mudah terbentuk di dalam liposom daripada di luar liposom.[72]
Teori Tanah Liat
Beberapa tanah liat,
terutama montmorilonit,
memiliki sifat yang menjadikannya akselerator yang memungkinkan munculnya dunia RNA: mereka tumbuh dengan
mereplikasi diri pola garis kristal
mereka, menjadi bagian dari seleksi alam,
dan dapat mengkatalisis
pembentukan molekul RNA.[73]
Meskipun ide ini belum menjadi konsensus ilmiah, namun banyak ilmuwan yang
mendukung ide ini.[74]:150–158[65]
Penelitian pada tahun 2003 melaporkan bahwa
montmorilonit juga bisa mempercepat konversi asam lemak
ke dalam "gelembung", dan bahwa gelembung bisa membungkus RNA melekat
pada tanah liat. Gelembung tersebut kemudian dapat tumbuh dengan menyerap lipid
tambahan dan membelah. Pembentukan awal sel
kemungkinan terjadi melalui proses yang serupa.[75]
Hipotesis serupa mengatakan replikasi diri tanah
liat yang kaya zat besi sebagai nenek moyang nukleotida,
lipid
dan asam amino.[76]
Nenek moyang terakhir
Morfologi tiga jenis mikrofosil yang
berasal dari eon Arkean.
Artikel utama: Leluhur universal terakhir
Ilmuwan meyakini bahwa dari keanekaragaman
protosel ini, hanya satu garis
keturunan yang berhasil selamat. Bukti filogeni
saat ini menunjukkan bahwa nenek moyang terakhir
(LUCA) hidup pada awal eon arkean,
yang diperkirakan 3,5 miliar tahun yang lalu atau
sebelumnya.[77][78]
LUCA merupakan nenek moyang dari semua kehidupan di bumi saat ini. Diperkirakan
LUCA merupakan sebuah Prokariota
yang memiliki membran sel dan kemungkinan sebuah ribosom,
tapi kurang memiliki inti sel
atau ikatan membran organel
seperti mitokondria
atau kloroplas.
Seperti semua sel modern, LUCA menggunakan DNA sebagai kode genetik, RNA untuk
transfer informasi dan sintesis protein,
dan enzim untuk mengkatalisis reaksi. Beberapa ilmuwan percaya bahwa bukan
organisme tunggal yang menjadi nenek moyang terakhir kehidupan, melainkan ada
populasi organisme yang bertukar gen melalui transfer gen horizontal.[77]
Eon Proterozoikum
Artikel utama: Proterozoikum
Eon Proterozoikum berlangsung dari
2,5 miliar hingga 542 juta tahun yang lalu.[2]:130
Dalam rentang waktu tersebut, kraton
berkembang menjadi benua-benua dengan ukuran mutakhir. Perubahan atmosfer yang
kaya oksigen
juga merupakan perkembangan krusial. Kehidupan berkembang dari prokariota
menjadi eukariota
dan bentuk multiseluler. Pada Proterozoikum terjadi dua zaman es parah yang
disebut bumi
bola salju. Setelah Bumi Bola Salju terakhir usai sekitar
600 juta tahun lalu, evolusi kehidupan di Bumi terjadi secara cepat.
Sekitar 580 tahun lalu, biota
Ediakara menjadi pendahuluan bagi Ledakan
Kambrium.
Revolusi oksigen
Stromatolit yang membatu di pesisir Danau Thetis, Australia Barat. Stromatolit arkean
merupakan fosil jejak kehidupan pertama di Bumi.
Sel-sel purba menyerap energi dan makanan dari
lingkungan di sekitarnya. Mereka menggunakan fermentasi
(pemecahan senyawa
lebih kompleks menjadi senyawa kurang kompleks dengan sedikit energi) dan
menggunakan energi yang dibebaskan untuk tumbuh dan berkembang biak. Fermentasi
hanya dapat terjadi dalam lingkungan anaerobik
(tanpa oksigen). Evolusi fotosintesis
memungkinkan sel-sel untuk membuat makanannya sendiri.[79]:377
Sebagian besar kehidupan yang berada di permukaan
Bumi bergantung secara langsung atau tak langsung pada fotosintesis.
Bentuk yang paling umum, yaitu fotosintesis oksigen, mengubah karbon dioksida,
air, dan cahaya matahari menjadi makanan. Dalam proses tersebut terjadi
penangkapan energi cahaya Matahari ke dalam molekul kaya energi seperti ATP,
yang kemudian menyediakan energi untuk menciptakan gula. Untuk menyuplai
elektron dalam prosesnya, maka hidrogen
dipisahkan dari air, sehingga oksigen
dibuang.[80]
Sejumlah organisme, seperti bakteri
ungu dan bakteri belerang hijau, mengadakan
fotosintesis tanpa oksigen
yang menggunakan pengganti hidrogen dari air sebagai pendonor elektron;
contohnya hidrogen sulfida, belerang, dan besi. Organisme macam itu hidup di
lingkungan ekstrem seperti mata air panas dan lubang hidrotermal.[79]:379–382[81]
Bentuk anoksigenik yang lebih sederhana muncul
sekitar 3,8 miliar tahun lalu, tak lama setelah munculnya kehidupan. Masa
permulaan fotosintesis oksigenik lebih kontroversial; bukti memastikan
kemunculannya sekitar 2,4 miliar tahun lalu, namun sejumlah peneliti
menyatakan masa yang lebih jauh lagi sekitar 3,2 miliar tahun lalu.[80]
Masa yang labih jauh "mungkin meningkatkan produktivitas global setidaknya
dua atau tiga kali lipat."[82][83]
Fosil stromatolit
merupakan salah satu sisa-sisa makhluk hidup penghasil oksigen tertua di dunia.[82][83][41]
Pada awalnya, oksigen yang dilepas ke udara
terikat dengan kapur,
besi,
dan mineral lainnya. Besi teroksidasi tampak sebagai lapisan merah dalam
lapisan geologis yang disebut formasi besi terangkai
yang terbentuk dalam kelimpahan selama periode Siderium
(antara 2500 juta tahun lalu dan 2300 juta tahun lalu).[2]:133
Saat sebagian besar mineral teroksidasi, akhirnya oksigen mulai terakumulasi di
atmosfer. Meskipun tiap sel hanya menghasilkan oksigen dalam jumlah kecil,
kombinasi metabolisme dari banyak sel dalam waktu lama mengubah atmosfer Bumi
menjadi seperti saat ini. Atmosfer tersebut merupakan atmosfer bumi ketiga.[84]:50–51[43]:83–84,116–117
Beberapa oksigen terstimulasi oleh radiasi
ultraviolet sehingga membentuk ozon,
yang berkumpul di lapisan dekat bagian atas atmosfer. Lapisan
ozon menyerap jumlah radiasi ultraviolet signifikan yang
memasuki atmosfer Bumi. Hal tersebut memungkinkan sel-sel untuk hidup di
permukaan samudra dan kemudian di daratan: tanpa lapisan ozon, radiasi
ultraviolet yang menghujani daratan dan lautan akan mengakibatkan mutasi
tak terkendali pada sel-sel yang terekspos.[85][40]:219–220
Fotosintesis juga memiliki peran besar. Oksigen
bersifat racun; sebagian besar kehidupan awal di Bumi mati karena level oksigen
meningkat dalam peristiwa yang dikenal sebagai bencana
oksigen. Makhluk yang resistan bertahan hidup dan
berkembang, dan beberapa darinya mengembangkan kemampuan pemanfaatan oksigen
untuk peningkatan metabolisme dan memperoleh lebih banyak energi dari makanan
yang sama.[85]
Bumi Bola Salju
Ilustrasi Bumi Bola Salju; bumi yang
tertutup salju dari kutub hingga khatulistiwa.
Artikel utama: Bumi
Bola Salju
Evolusi
alami menyebabkan Matahari
semakin terang selama eon Arkean
dan Proterozoikum;
kecerahan Matahari bertambah sebanyak 6% setiap miliaran tahun.[40]:165
Akibatnya, Bumi mulai menerima kehangatan dari Matahari pada eon Proterozoikum.
Meski demikian, Bumi tidak serta-merta menghangat. Sebaliknya, rekaman geologis
mengindikasikan bahwa Bumi mendingin drastis selama awal Proterozoikum. Sisa-sisa zaman es
yang ditemukan di Afrika
Selatan terhitung berusia 2,2 miliar tahun, yang pada
masa itu—berdasarkan bukti paleomagnetis—wilayah
tersebut seharusnya terletak di dekat khatulistiwa. Maka dari itu, glasiasi
tersebut—dikenal sebagai glasiasi Makganyene—pasti
terjadi secara global. Sejumlah ilmuwan mendukung teori itu dan zaman es
Proterozoikum berlangsung secara parah sehingga Bumi beku total dari kutub
hingga khatulistiwa: hipotesis yang disebut Bumi
Bola Salju.[86]
Zaman es sekitar 2,3 miliar tahun lalu dapat
menyebabkan peningkatan konsentrasi oksigen
di atmosfer
secara langsung, mengakibatkan penurunan metana
(CH4) di atmosfer. Metana merupakan gas
rumah kaca yang kuat, namun dengan kehadiran oksigen maka ia
akan bereaksi untuk membentuk CO2, gas rumah kaca yang kurang
efektif.[40]:172
Saat oksigen bebas tersedia di atmosfer, konsentrasi metana juga menurun
drastis, cukup memungkinkan untuk menolak peningkatan hawa panas yang diberikan
Matahari.[87]
Munculnya eukariota
Kloroplas dalam sel-sel lumut.
Kloroplas merupakan sel yang dapat berfungsi sebagaimana organ (organel). Kehidupan eukariota
di Bumi diawali oleh kemunculan organel semacam ini.
Taksonomi
modern mengklasifikasikan kehidupan ke tiga domain. Waktu asal domain ini
tidak pasti. Domain bakteri
mungkin awalnya memisahkan diri dari bentuk-bentuk kehidupan lainnya
(kadang-kadang disebut neomura),
tapi anggapan ini masih kontroversial. Segera setelah bakteri memisahkan diri,
dalam kurun waktu 2 miliar tahun,[88]
neomura terpecah menjadi arkea
dan eukariota.
Sel eukariota berukuran lebih besar dan lebih kompleks dibandingkan sel
prokariotik (bakteri dan arkea), dan menjadi awal kehidupan kompleks yang ada
sekarang.
Pada kisaran waktu tersebut, protomitokondria
pertama terbentuk. Sel bakteri yang berkerabat dengan rickettsia
yang ada saat ini,[89]
telah berevolusi untuk memetabolisme
oksigen, memasuki sel prokariotik
lebih besar yang tidak memiliki kemampuan itu. Kemungkinan sel yang lebih besar
berusaha untuk mencerna sel yang lebih kecil tetapi gagal. Sel yang lebih kecil
mungkin telah mencoba untuk menjadi parasit
bagi sel yang lebih besar. Dalam banyak kasus, sel yang lebih kecil dapat
menyelamatkan diri di dalam sel yang lebih besar. Dengan menggunakan oksigen,
ia memetabolisme kotoran dari sel yang lebih besar dan mendapat lebih banyak
energi. Sisa energi ini dikembalikan ke sel inangnya. Sel yang lebih kecil
berbiak di dalam sel yang lebih besar. Hal ini menciptakan simbiosis
antara sel yang lebih besar dan sel yang lebih kecil, dan kedua jenis sel
tersebut menjadi saling tergantung satu sama lainnya. Sel yang lebih besar
tidak dapat bertahan hidup tanpa energi yang dihasilkan sel yang lebih kecil,
demikian juga sel yang lebih kecil tidak dapat bertahan hidup tanpa bahan baku
yang disediakan oleh sel yang lebih besar. Keseluruhan sel ini kemudian
diklasifikasikan sebagai organisme
tunggal, sedangkan sel yang lebih kecil diklasifikasikan sebagai organel
yang disebut mitokondria.[90]
Sebuah fosil Spriggina floundensi
berusia 580 juta tahun, binatang dari periode Ediakarium. Bentuk kehidupan semacam itu bisa saja
menjadi nenek moyang berbagai bentuk kehidupan baru yang berasal dari Letusan Kambrium.
Peristiwa serupa terjadi pada fotosintesis
cyanobacteria[91]
memasuki sel heterotrof
besar dan menjadi kloroplas.[84]:60–61[92]:536–539
Kemungkinan sebagai hasil dari perubahan ini, sebaris sel yang mampu melakukan
fotosintesis terpisah dari eukariota
yang lain pada waktu lebih dari 1 miliar tahun yang lalu. Selain teori endosimbiotik yang sudah
dikenal luas mengenai pembentukan sel mitokondria
dan kloroplas,
ada teori lain yang mengatakan bahwa sel-sel tersebut menimbulkan peroksisom,
spiroket
menimbulkan silia
dan flagelum
dan kemungkinan virus DNA
menimbulkan inti sel,[93][94]
meskipun tidak ada dari teori-teori tersebut yang dikenal luas.[95]
Arkea,
bakteri,
dan eukariota
terus melakukan diversifikasi dan menjadi
lebih kompleks serta beradaptasi lebih baik terhadap lingkungan. Setiap domain
terpecah menjadi garis keturunan berulang kali, meskipun hanya sedikit yang diketahui
tentang sejarah arkea dan bakteri. Sekitar 1,1 miliar tahun yang lalu, benua
raksasa Rodinia
mulai terbentuk.[96][97]
Tumbuhan,
hewan,
dan fungi
telah terpisah, meskipun mereka masih berstatus sebagai sel soliter. Beberapa
tinggal dalam koloni, dan secara bertahap mulai terjadi pembagian kerja,
misalnya sel-sel yang terletak di sisi sebelah luar mengambil peran yang
berbeda dari sel-sel yang terletak di sebelah dalam. Meskipun pembagian antara
koloni dengan sel khusus dan organisme multiseluler tidak selalu jelas, sekitar
1 miliar tahun yang lalu[98]
tanaman multiseluler muncul untuk pertama kalinya, kemungkinan seperti ganggang
hijau. Diperkirakan sekitar 900 juta tahun yang lalu[92]:488
organisme multiseluler sejati
juga telah berevolusi sebagai hewan.
Pada awalnya mungkin mirip spons
yang ada saat ini, yang memiliki sel totipotensi
yang memungkinkan organisme yang terganggu untuk berkumpul kembali.[92]:483-487
Setelah pembagian kerja selesai pada semua lini organisme multiseluler, sel-sel
menjadi lebih khusus dan lebih tergantung pada satu sama lain, sel-sel yang
terisolasi akan mati.
Benua raksasa pada Proterozoikum
Lihat pula: Daftar benua raksasa
Rekonstruksi benua raksasa Pannotia (warna kuning) pada masa 550 juta tahun
yang lalu.
Rekonstruksi pergerakan lempeng tektonik pada 250
juta tahun terakhir (era Kenozoikum
dan mesozoikum)
dapat dilakukan dengan mencocokkan benua, anomali magnetik dasar laut, dan
kutub paleomagnetik. Tidak ditemukan kerak samudera yang terbentuk sebelum
waktu tersebut, sehingga rekonstruksi sebelum waktu tersebut sulit untuk
dilakukan. Kutub paleomagnetik dilengkapi dengan bukti-bukti geologi seperti
sabuk orogenik, yang menandai tepi lempeng kuno, dan distribusi flora dan fauna
pada masa lalu.[99]:370
Sepanjang sejarah bumi, ada saat-saat ketika
benua bertabrakan dan membentuk benua raksasa, yang kemudian
pecah menjadi benua baru. Sekitar 1000–830 juta tahun, benua yang paling luas
bersatu membentuk benua raksasa Rodinia.[99]:370[100]
Sebelum Rodinia terbentuk, kemungkinan telah terbentuk terlebih dahulu Columbia
atau Nuna pada awal sampai pertengahan Proterozoikum.[99]:374[101][102]
Setelah Rodinia pecah sekitar 800
juta tahun, benua-benua tersebut kemungkinan telah membentuk benua
raksasa lain yang berumur pendek, Pannotia
pada 550 juta tahun. Hipotetis benua raksasa sering
kali mengacu pada Pannotia atau
Vendia.[103]:321–322
Bukti yang memperkuat adalah fase tabrakan
benua yang dikenal sebagai orogeni Pan-Afrika, yang bergabung
dengan massa benua
Afrika saat ini, Amerika
Selatan, Antartika
dan Australia.
Keberadaan Pannotia ditentukan oleh waktu terjadinya retakan antara Gondwana
(yang termasuk sebagian besar daratan di belahan bumi selatan, serta Semenanjung
Arab dan anak
benua India) dan Laurentia
(kira-kira setara dengan Amerika
Utara sekarang).[99]:374
Hal ini meyakinkan bahwa pada akhir eon Proterozoikum,
sebagian besar massa benua bergabung dalam posisi di sekitar kutub
selatan.[104]
Iklim dan kehidupan Proterozoikum Akhir
Pennatulacea merupakan salah satu ordo
animalia tertua di Bumi, yang sudah ada sejak Ediakarium (k. 635 juta
tahun lalu) hingga Holosen
(masa kini).
Pada akhir eon Proterozoikum,
Bumi setidaknya mengalami dua kali peristiwa Bumi
Bola Salju yang sedemikian parah sehingga permukaan laut
benar-benar membeku. Kejadian ini terjadi sekitar 716,5 dan 635 juta tahun
yang lalu, pada periode Kriogenium.[105]
Intensitas dan mekanisme kedua proses glasial tersebut masih dalam penyelidikan
dan lebih sulit dijelaskan dibandingkan peristiwa Bumi bola salju yang terjadi
pada eon Proterozoikum.[106]
Kebanyakan Paleoklimatologi
berpikir peristiwa Bumi Bola Salju berhubungan dengan pembentukan benua raksasa
Rodinia.[107]
Karena Rodinia berada di tengah khatulistiwa, tingkat pelapukan kimia
meningkat dan karbon
dioksida (CO2) diambil dari atmosfer. Karena CO2
merupakan gas rumah kaca yang penting, maka terjadilah pendinginan cuaca secara
global. Dengan cara yang sama selama periode Bumi bola salju sebagian besar
permukaan benua tertutup dengan permafrost
yang kembali menurunkan pelapukan kimia, sehingga meningkatkan pembentukan es.
Ada hipotesis alternatif yang mengatakan bahwa ada cukup banyak karbon dioksida
yang keluar melalui lubang vulkanik menghasilkan efek rumah kaca yang
meningkatkan suhu global.[107]
Peningkatan aktivitas vulkanik ini dihasilkan oleh pecahnya Rodinia pada
kisaran waktu yang sama.
Periode Kriogenium
diikuti oleh periode Ediakarium
yang ditandai dengan pesatnya perkembangan bentuk kehidupan multiseluler.[108]
Hubungan antara akhir jamas es dan peningkatan keanekaragaman kehidupan belum
bisa ditentukan dengan jelas, meskipun tampaknya hal itu bukan sesuatu yang
kebetulan. Bentuk baru kehidupan, yang disebut biota
Ediakarium, menjadi lebih besar dan lebih beragam dari
sebelumnya. Meskipun taksonomi sebagian besar biota Ediakara tidak jelas,
sebagian darinya merupakan nenek moyak kehidupan modern.[109]
Perkembangan yang penting adalah asal mula sel otot dan sel saraf. Tidak
satupun fosil dari periode Ediakarium yang memiliki bagian tubuh yang keras
seperti kerangka. Biota ediakarium muncul pertama kali pada perbatasan eon Proterozoikum
dan Fanerozoikum
atau periode Ediakarium
dan Kambrium.
Eon Fanerozoikum
Artikel utama: Fanerozoikum
Rekonstruksi salah satu tumbuhan berpembuluh pertama di Bumi,
dari genus Cookconia, hidup pada
pertengahan Silur hingga Devon Awal, sekitar 433–393
juta tahun lalu. Sejak periode Devon,
daratan dikolonisasi oleh tumbuhan darat.
Fanerozoikum adalah eon yang
sedang berjalan saat ini di Bumi. Eon ini dimulai sekitar 542
juta tahun yang lalu. Eon ini dibagi menjadi tiga era—Paleozoikum,
Mesozoikum
dan Kenozoikum,[3]—dan
merupakan masa ketika kehidupan multiseluler terdiversifikasi sangat luas ke
hampir semua organisme yang dikenal saat ini.[110]
Era Paleozoikum
Artikel utama: Paleozoikum
Era Paleozoikum
(yang berarti era bentuk kehidupan lampau) merupakan era pertama dan era
terpanjang eon Fanerozoikum,
dimulai dari 542–251 juta tahun yang lalu.[3]
Sepanjang era ini, banyak kelompok kehidupan modern muncul. Kehidupan
mengkolonisasi daratan, diawali dengan tumbuhan, dan diikuti dengan binatang.
Kehidupan perlahan-lahan berevolusi. Pada masa itu, terjadi radiasi
adaptif yang membentuk banyak spesies
baru, namun juga terjadi kepunahan massal. Ledakan evolusi
ini sering kali disebabkan oleh perubahan mendadak pada lingkungan yang terjadi
akibat bencana
alam seperti aktivitas
gunung berapi, tumbukan meteor
ataupun perubahan
iklim.
Benua-benua yang terbentuk akibat pecahnya Rodinia
dan Pannotia
pada akhir eon Proterozoikum
perlahan lahan bergerak bersama-sama lagi selama era Paleozoikum.
Pergerakan ini pada akhirnya membetuk benua raksasa Pangea
pada akhir era Paleozoikum.
Letusan Kambrium
Artikel utama: Letusan Kambrium
Trilobit muncul pertama kali pada periode Kambrium
dan merupakan organisme di era Paleozoikum yang paling luas menyebar.
Dari catatan fosil
yang ditemukan, tingkat evolusi kehidupan dipercepat pada periode Kambrium (540–488 juta tahun yang lalu).[3]
Munculnya banyak spesies,
filum,
serta bentuk kehidupan baru secara tiba-tiba pada periode ini disebut letusan
Kambrium. Kecepatan tingkat evolusi ini sangat berbeda
dibandingkan masa sebelum dan sesudahnya.[40]:229
Pada periode Ediakarium
bentuk kehidupan masih primitif dan tidak mudah untuk dimasukkan ke dalam
kelompok modern, namun pada akhir periode Kambrium filum yang paling modern
sudah hadir. Perkembangan anggota tubuh yang keras seperti kerang, kerangka,
atau binatang bercangkang luar seperti moluska,
echinodermata,
lili laut
dan artropoda
membuat proses terjadinya fosil lebih mudah dibandingkan nenek moyangnya dari
eon Proterozoikum. Hal ini yang menyebabkan kehidupan pada periode Kambrium
lebih banyak diketahui dibandingkan kehidupan pada periode sebelumnya.
Selama periode Kambrium, muncul vertebrata
pertama, di antaranya ikan.[92]:357
Makhluk yang bisa jadi merupakan nenek moyang dari ikan, atau mungkin berkaitan
erat dengan ikan adalah pikaia. Pikaia
memiliki notokorda
primitif, sebuah struktur yang bisa berkembang menjadi tulang
punggung. Ikan pertama yang memiliki rahang
(Gnathostomata) muncul pada periode geologi berikutnya, Ordovisium.
Kolonisasi relung
baru menyebabkan berkembangnya ukuran tubuh. Dengan cara ini ikan seperti Dunkleosteus
dapat tumbuh sampai sepanjang 7 meter.
Keragaman bentuk kehidupan tidak meningkat terus
disebabkan oleh serangkaian kepunahan massal.[111]
Setelah masing-masing tahap kepunahan tersebut, paparan benua kembali dipenuhi oleh
bentuk kehidupan yang mirip yang kemungkinan berkembang perlahan-lahan di
tempat lain.[112]
Pada akhir Kambrium, trilobit
telah mencapai keragaman terbesar dan mendominasi hampir seluruh bentuk fosil.[113]:34
Tektonik, paleogeografi, dan iklim Paleozoikum
Pangea adalah benua raksasa terakhir yang ada pada
masa 300–180 juta tahun yang lalu. Garis-garis besar benua modern dan daratan
lainnya ditunjukkan pada peta ini.
Pada akhir eon Proterozoikum,
benua raksasa Pannotia
telah terpisah-pisah menjadi benua kecil Laurentia,
Baltica, Siberia dan Gondwana.[114]
Selama periode saat benua-benua tersebut bergerak memisah, lebih kerak
samudera terbentuk oleh aktivitas gunung berapi. Karena kerak
vulkanik muda relatif lebih panas dan kurang padat dibandingkan kerak samudera
tua, dasar laut akan naik selama periode tersebut. Hal ini menyebabkan
permukaan laut naik. Oleh karena itu, pada paruh pertama era Paleozoikum,
sebagian besar kawasan benua berada di bawah permukaan laut.
Suhu pada awal era Paleozoikum lebih hangat dari
iklim saat ini, namun pada akhir periode Ordovisium
mengalami zaman es yang singkat saat gletser menutupi kutub selatan, tempat
benua besar Gondwana.
Pada akhir zaman es Ordovisium, terjadi beberapa kepunahan massal, ketika banyak brachiopoda,
trilobit,
bryozoa,
dan karang
lenyap dari jejak fosil.
Spesies laut ini mungkin tidak bisa bertahan menghadapi penurunan suhu air
laut.[115]
Setelah kepunahan tersebut, spesies baru berevolusi, lebih beragam dan lebih
mampu beradaptasi.
Benua Laurentia dan Baltica bertabrakan antara
450–400 juta tahun yang lalu, membentuk Laurussia (juga
dikenal sebagai Euramerika).[116]
Jejak dari tabrakan ini dapat ditemukan di Skandinavia,
Skotlandia
dan Appalachia
Utara. Pada periode Devon
(416–359 juta tahun yang lalu),[3]
Gondwana dan Siberia mulai bergerak menuju Laurussia. Tabrakan Siberia dengan
Laurussia menyebabkan orogeni Uralia, tabrakan Gondwana dengan Laurussia
disebut orogeni Varisca atau Hercynia di Eropa, atau orogeni Alleghenia di
Amerika Utara. Tahap kedua berlangsung selama periode Karbon
(359–299 juta tahun yang lalu) [3]
dan mengakibatkan pembentukan benua raksasa terakhir, Pangea.[117]
Kolonisasi daratan
Oksigen
yang terakumulasi dari proses fotosintesis
membentuk lapisan ozon
yang menyerap banyak radiasi sinar ultraviolet
matahari.
Hal ini membuat organisme uniseluler dapat bertahan hidup lebih baik, dan prokariota
mulai bertambah banyak dan makin mampu beradaptasi untuk hidup di luar air.
Keturunan prokariota[118]
kemungkinan sudah mengkoloni daratan sejak 2,6 miliar tahun yang lalu[119]
bahkan sebelum eukariota
muncul. Untuk waktu yang lama, daratan tidak di tempati oleh organisme
multiseluler. Benua raksasa Pannotia terbentuk sekitar 600 juta
tahun yang lalu dan kemudian pecah 50 juta tahun
kemudian.[120]
Ikan—vertebrata paling awal—berkembang di lautan sekitar 530
juta tahun yang lalu.[92]:354
Sebuah peristiwa kepunahan besar terjadi mendekati akhir periode Kambrium,[121]
yang berakhir 488 juta tahun yang lalu.[122]
Beberapa ratus juta tahun yang lalu, tanaman
(mungkin menyerupai ganggang)
dan jamur
mulai tumbuh di tepi air, dan kemudian mulai keluar dari air.[123]:138–140
Fosil jamur tanah dan tanaman tertua yang pernah ditemukan berasal dari masa
480–460 juta tahun yang lalu, meskipun bukti molekuler menunjukkan jamur
mungkin telah hidup di daratan 1000 juta tahun yang lalu, sedangkan tanaman 700
juta tahun yang lalu.[124]
Pada awalnya mereka tetap dekat dengan tepi air. Akibat mutasi dan variasi,
perlahan-lahan mereka mulai mengkoloni lingkungan baru yang makin jauh dari
air. Kapan hewan pertama meninggalkan lautan belum diketahui secara tepat;
bukti tertua yang paling jelas adalah artropoda
dari 450 juta tahun yang lalu.[125]
Ada juga bukti lain, namun belum dikonfirmasi bahwa artropoda mungkin telah
muncul di daratan 530 juta tahun yang lalu.[126]
Evolusi tetrapoda
Ilustrasi Tiktaalik, seekor ikan purba dengan sirip
menyerupai anggota badan, leluhur dari tetrapoda.
Rekonstruksi dari fosil berusia sekitar 375 juta tahun.
Pada akhir periode Ordovisium,
443 juta tahun yang lalu,[3]
terjadi lagi kepunahan massal, mungkin disebabkan oleh zaman es.[115]
Sekitar 380–375 juta tahun yang lalu, tetrapoda
pertama berevolusi dari ikan.[127]
Diperkirakan bahwa sirip berevolusi menjadi anggota badan yang memungkinkan
tetrapoda pertama yang mengangkat kepala mereka keluar dari air untuk menghirup
udara. Hal ini memungkinkan mereka untuk hidup di air yang miskin oksigen atau
mengejar mangsa kecil di perairan dangkal.[127]
Kemudian mereka berkelana di darat untuk waktu yang singkat. Beberapa dari
mereka dapat beradaptasi dengan keadaan di darat dan menghabiskan hidup mereka
di darat saat dewasa, meskipun mereka menetas di dalam air dan kembali untuk
bertelur. Inilah asal mula amfibi.
Sekitar 365 juta tahun yang lalu, periode kepunahan massal lainnya terjadi,
yang kemungkinan disebabkan oleh pendinginan global.[128]
Tanaman berevolusi dengan menghasilkan biji,
yang secara dramatis mempercepat penyebaran mereka di darat, pada sekitar waktu
ini (kira-kira 360 juta tahun yang lalu).[129][130]
Sekitar 20 juta tahun
kemudian (340 juta tahun yang lalu[92]:293–296),
telur dengan cangkang keras mulai berkembang, yang dapat diletakkan di tanah,
memberikan manfaat kelangsungan hidup bagi embrio tetrapoda. Hal ini
mengakibatkan perbedaan antara amniota
dengan amfibi.
30 juta tahun kemudian (310 juta tahun yang lalu[92]:254–256)
terlihat perbedaan antara synapsida
(termasuk mamalia) dengan sauropsida
(termasuk burung dan reptil). Kelompok-kelompok lain organisme terus
berkembang, dan garis penyimpangan pada ikan, serangga, bakteri, dan
sebagainya, meskipun secara detail tidak dikenali.
Era Mesozoikum
Artikel utama: Mesozoikum
Dinosaurus merupakan vertebrata terestrial dominan pada sebagian besar rentang
waktu Mesozoikum.
Era Mesozoikum ("kehidupan
pertengahan") berlangsung dari 251 juta tahun lalu hingga
66 juta tahun lalu.[3]
Era ini terbagi menjadi periode Trias,
Jura,
dan Kapur.
Era tersebut diawali oleh peristiwa kepunahan Perm-Trias,
peristiwa kepunahan paling parah yang terekam dalam jejak fosil; 95% spesies di
Bumi binasa.[131]
Era tersebut diakhiri oleh peristiwa kepunahan Kapur-Tersier
yang membinasakan dinosaurus dari muka Bumi. Peristiwa kepunahan Perm-Trias
dapat disebabkan oleh kombinasi letusan gunung berapi di Trap Siberia,
tumbukan asteroid, gasifikasi metana hidrat, fluktuasi permukaan air laut, dan
peristiwa anoksik besar. Kawah Wilkes[132]
di Antartika atau struktur Bedout di
barat daya pesisir Australia dapat mengindikasikan hubungan antara tumbukan benda
langit dengan kepunahan Perm-Trias. Namun masih belum dapat dipastikan apakah
fitur geologis tersebut dan kawah-kawah lainnya merupakan kawah tumbukan yang
sebenarnya atau sezaman dengan peristiwa kepunahan Perm-Trias. Kehidupan masih
bertahan, dan sekitar 230 juta tahun lalu, dinosaurus
diturunkan dari nenek moyang reptil.[133]
Peristiwa kepunahan Trias-Jura
saat 200 juta tahun lalu menyisakan banyak dinosaurus,[3][134]
dan akhirnya mereka menjadi yang dominan di antara vertebrata. Meskipun
beberapa garis keturunan mamalia mulai bercabang pada periode ini, mamalia yang
ada boleh jadi berukuran kecil menyerupai tupai.[92]:169
Pada masa 180 juta tahun lalu, Pangea
pecah menjadi Laurasia
dan Gondwana.
Batas antara dinosaurus avian dan non-avian tidak jelas, namun Archaeopteryx
dianggap sebagai salah satu burung pertama di dunia, hidup sekitar
150 juta tahun lalu.[135]
Bukti keberadaan angiosperma
berbunga tertua di dunia berasal dari periode Kapur,
sekitar 20 juta tahun kemudian (132 juta tahun lalu).[136]
66 juta tahun lalu, sebuah asteroid
berukuran 10-kilometer (6,2 mi) menumbuk Bumi, tepatnya di pesisir semenanjung Yucatán, lokasi kawah
Chicxulub yang dikenal saat ini. Tumbukan tersebut
menyebabkan materi dan uap air terhempas ke udara sehingga menutupi cahaya
matahari, menghambat fotosintesis. Sebagian besar hewan raksasa, termasuk
dinosaurus non-avian, akhirnya binasa,[137]
menandai akhir periode Kapur dan era Mesozoikum.
Era Kenozoikum
Artikel utama: Kenozoikum
Silsilah evolusi
mamalia berdasarkan kajian genetika,
kesimpulan dari studi morfologi,
dan catatan fosil.
Era Kenozoikum
dimulai pada 66 juta tahun yang lalu,[3]
dan terbagi ke dalam periode Paleogen,
Neogen,
dan Kuarterner.
Mamalia dan burung
mampu bertahan dari peristiwa kepunahan Kaput-Tersier
yang membunuh dinosaurus dan banyak bentuk kehidupan lainnya, dan era ini
merupakan era ketika mahluk hidup melakukan diversifikasi ke dalam bentuk
kehidupan modern.
Diversifikasi mamalia
Mamalia
telah ada sejak akhir periode Trias,
tapi sebelum peristiwa kepunahan Kaput-Tersier
mereka berukuran kecil. Selama era Kenozoikum,
mamalia cepat terdiversifikasi karena dinosaurus dan hewan besar lainnya telah
punah, sedangkan yang sintas berkembang menjadi banyak ordo
modern. Dengan banyaknya reptil
laut yang telah punah, beberapa mamalia mulai hidup di lautan dan menjadi cetacea.
Mamalia lainnya menjadi felidae
dan canidae,
predator yang cepat dan tangkas. Iklim global lebih kering pada era Kenozoikum
menyebabkan perluasan padang rumput dan evolusi mamalia yang memakan rumput
serta berkuku seperti equidae
dan bovidae.
Beberapa mamalia arboreal
menjadi primata; salah satu keturunannya lalu berkembang menjadi manusia modern.
Evolusi manusia
Artikel utama: Evolusi manusia
Kera Afrika kecil yang hidup sekitar 6 juta
tahun lalu merupakan animalia
yang keturunannya meliputi manusia
modern dan kerabat terdekat mereka, para simpanse.[92]:100–101
Hanya dua garis keturunan dalam silsilahnya yang memiliki keturunan sintas. Tak
lama setelah percabangan keturunan—oleh alasan yang masih belum pasti—para kera
pada salah satu cabang mengembangkan kemampuan untuk berjalan dengan dua
kaki.[92]:95–99
Ukuran otak
bertambah secara cepat, dan pada 2 juta tahun lalu, hewan pertama yang
terklasifikasikan dalam genus Homo
muncul.[123]:300
Pada sekitar masa yang sama, garis keturunan lainnya bercabang menuju leluhur simpanse
dan leluhur bonobo
sebagaimana evolusi juga berlanjut serentak pada segala bentuk kehidupan.[92]:100–101
Rekonstruksi
keadaan Bumi saat glasial
maksimum pada Periode Glasial Akhir, ketika umat
manusia sudah ada di Bumi, sekitar 25.000–13.000 tahun yang lalu.[138]
Kemampuan mengontrol
api boleh
jadi dimulai oleh Homo
erectus (atau Homo
ergaster), sekurang-kurangnya sekitar 790.000 tahun
lalu[139]
namun ada kemungkinan lebih jauh lagi sekitar 1,5 juta tahun lalu.[92]:67
Penemuan dan penggunaan api bisa jadi mendahului Homo erectus.
Kemungkinan besar api digunakan oleh hominid
Paleolitik Hulu
(Oldowan) purba seperti Homo
habilis atau australopithecine
seperti Paranthropus.[140]
Melacak asal
mula bahasa merupakan hal sulit; tidak jelas apakah Homo
erectus dapat berbicara ataukah kemampuannya belum muncul sebelum
keberadaan Homo sapiens.[92]:67
Seiring dengan pertambahan ukuran otak, persalinan terjadi lebih dini, sebelum
kepala bayi terlalu besar untuk melewati pelvis.
Akibatnya, mereka mengalami neuroplastisitas
berlebih, sehingga memiliki banyak kapasitas untuk belajar dan membutuhkan
periode ketergantungan yang lebih lama. Kecakapan sosial menjadi lebih
kompleks, bahasa menjadi lebih berkembang, dan peralatan kian diperbagus. Hal
ini berperan dalam perkembangan hubungan sosial dan intelektual lebih lanjut.[141]:7
Manusia modern (Homo sapiens)
dipercaya mulai ada sejak 200.000 tahun lalu—atau lebih jauh lagi—di benua
Afrika;
fosil tertua yang ditemukan telah terukur berasal dari masa 160.000 tahun
lalu.[142]
Manusia pertama yang menunjukkan tanda-tanda spiritualitas
adalah manusia Neanderthal
(biasanya diklasifikasikan sebagai spesies berbeda tanpa keturunan sintas);
mereka mengubur rekannya yang meninggal, seringkali dengan jejak makanan atau
peralatan.[143]:17
Lain dari itu, bukti sistem kepercayaan yang lebih maju, seperti lukisan
gua oleh manusia Cro-Magnon
(mungkin mengungkapkan signifikansi religius atau bahkan sihir)[143]:17–19
belum ada sebelum 32.000 tahun lalu.[144]
Manusia Cro-Magnon juga menciptakan artefak patung batu seperti Venus dari Willendorf,
kemungkinan besar mengungkapkan kepercayaan religius.[143]:17–19
Pada masa 11.000 tahun lalu, Homo sapiens mencapai ujung selatan Amerika
Selatan, benua tak berpenghuni yang terakhir (kecuali Antartika,
yang belum pernah dijamah sebelum tahun 1820 Masehi).[145]
Penggunaan perkakas dan komunikasi terus berkembang, dan hubungan interpersonal
semakin berseluk-beluk.
Peradaban manusia
Artikel utama: Sejarah dunia
Informasi lebih
lanjut: Sejarah
Afrika, Sejarah
Amerika, Sejarah
Antartika dan Sejarah Eurasia
Ilustrasi
perburuan glyptodon
pada masa Paleolitikum.
Paleolitikum adalah zaman awal saat hominidae
(termasuk manusia)
mulai memanfaatkan batu sebagai peralatan, sejak keberadaan australopithecine 2,6
juta tahun lalu, hingga akhir Pleistosen
sekitar 10.000 tahun lalu.[146]
Mural yang menggambarkan usaha pertanian, peninggalan zaman Mesir Kuno, dibuat sekitar 1400 SM. Pertanian
merupakan aspek penting dalam Revolusi
Neolitik. Di tempat yang menyediakan lahan pertanian, manusia telah
meninggalkan gaya hidup nomadis.
Selama lebih dari 90% dari masa
keberadaannya di Bumi, Homo
sapiens hidup dalam kelompok kecil sebagai pemburu-pengumpul makanan
nomadis.[141]:8
Ketika bahasa
menjadi lebih kompleks, kemampuan mengingat dan menyebarkan informasi
menghasilkan replikator baru: meme.[147]
Gagasan-gagasan dapat saling ditukar secara cepat dan diturunkan dari generasi
ke generasi. Evolusi kebudayaan
berhasil mendahului evolusi biologis,
dan catatan sejarah
pun dimulai. Antara masa 8500 dan 7000 Sebelum
Masehi (SM), manusia di kawasan Hilal
Subur di Timur
Tengah memulai budi daya tanaman dan hewan yang sistematis;
suatu budaya yang kini dikenal di seluruh dunia sebagai pertanian.[148]
Hal ini menyebar ke daerah-daerah sekitarnya, serta berkembang secara mandiri
di sejumlah kawasan dunia, hingga akhirnya sebagian besar Homo sapiens
hidup menetap di permukiman permanen sebagai petani. Tidak semua masyarakat
dunia meninggalkan tradisi nomadis, terutama manusia yang tinggal di kawasan
terisolasi yang miskin tanaman pertanian, seperti Australia.[149]
Bagaimanapun, pada peradaban-peradaban yang mengembangkan pertanian, stabilitas
relatif dan pertambahan produktivitas karena bercocok tanam mengakibatkan
populasi bertambah.
Pertanian memberi pengaruh yang kuat bagi
manusia. Mereka mulai memberi dampak pada lingkungannya lebih besar daripada
sebelumnya. Surplus makanan mengakibatkan kemunculan golongan rohaniwan
dan bangsawan,
diikuti oleh bertambahnya pembagian tenaga kerja. Hal ini mengawali kelahiran peradaban
pertama di Bumi, tepatnya di Sumeria
(kawasan Timur
Tengah), antara 4000 dan 3000 SM.[141]:15
Peradaban-peradaban lainnya muncul tak lama kemudian di Mesir,
lembah Sungai Indus,
dan Tiongkok.
Penemuan aksara
mengakibatkan kemunculan masyarakat yang lebih kompleks. Catatan dan perpustakaan
berfungsi sebagai gudang pengetahuan dan menambah transmisi informasi kultural.
Umat manusia tidak lagi menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja, dan pendidikan
mengantarkannya pada upaya pencarian pengetahuan dan kebijaksanaan.
Periode dari 900–200 SM dinyatakan sebagai Zaman Poros bagi
peradaban manusia, yaitu zaman ketika fondasi spiritualitas umat manusia
terjadi serentak dan mandiri di beberapa belahan dunia. Tradisi filosofis yang
berkembang pada zaman tersebut meliputi: monoteisme
di Persia
dan Kanaan;
Platonisme
di Yunani;
Buddhisme,
Jainisme,
dan Hinduisme
di India; Konfusianisme
dan Taoisme
di Tiongkok. Berbagai adat dan sains
(dalam bentuk primitif) bermunculan, seperti sistem teokrasi
dan produksi kereta
perang. Di Mediterania
dan Timur
Tengah, peradaban-peradaban kuno berkembang dan melakukan
perdagangan, serta bertempur demi wilayah dan sumber daya. Tak lama kemudian
sistem imperium
mulai berkembang. Sekitar 500 SM, ada sejumlah peradaban maju di Timur
Tengah, Iran, India,
Tiongkok,
dan Yunani,
yang sedang menuju masa kejayaannya atau menuju masa keruntuhannya.[141]:3
Beberapa peradaban bertahan hingga abad modern meskipun tidak sejaya dulu, dan
beberapa di antaranya memberi pengaruh atau fondasi bagi Dunia
Barat, seperti Yunani
dan Romawi
Kuno. Seiring perkembangan peradaban, beberapa agama
didirikan, seperti Kristen
(abad ke-1) dan Islam
(abad ke-7).
Panorama Tokyo,
kota dengan penduduk terpadat di dunia, dan salah satu kota yang berpengaruh
dalam perekonomian dunia.[150]
Pada abad ke-14, zaman Renaisans
dimulai di Italia
dengan kemajuan dalam bidang agama, seni, dan sains.[141]:317–319
Pada masa itu, Gereja Kristen sebagai entitas politik kehilangan sebagian besar
kekuasaannya. Tahun 1492, Kristoforus Kolumbus mencapai
benua Amerika,
mengawali perubahan besar pada Dunia Baru.
Peradaban Eropa mulai berubah sejak 1500-an, mengantarkannya pada Revolusi
Ilmiah dan Industri.
Benua tersebut mulai menebarkan dominansi politis dan budaya pada masyarakat
lain di seluruh dunia pada suatu masa yang dikenal sebagai Era Kolonial.[141]:295–299
Pada abad ke-18, gerakan kultural yang dikenal sebagai Abad
Pencerahan kemudian membentuk mentalitas bangsa Eropa dan
berperan penting dalam sikap sekuler mereka. Dari tahun 1914 sampai 1918, dan
dari 1939 sampai 1945, bangsa-bangsa di seluruh dunia berada dalam perang
dunia. Liga Bangsa-Bangsa yang didirikan
setelah Perang
Dunia I merupakan usaha pertama dalam membangunan lembaga
internasional untuk menyelesaikan permasalahan secara damai. Setelah gagal
mencegah Perang
Dunia II—konflik paling berdarah dalam sejarah umat
manusia—lembaga tersebut digantikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Setelah perang usai, banyak negara menyatakan kemerdekannya, baik dengan usaha
sendiri maupun pemberian bangsa lain dalam suatu periode dekolonisasi.
Amerika
Serikat dan Uni Soviet
menjadi negara adikuasa untuk sementara, dan terlibat dalam persaingan yang
dikenal sebagai Perang
Dingin sampai disolusi di kemudian hari. Seiring transportasi
dan komunikasi yang semakin mutakhir, perkara politis dan ekonomi antarbangsa
menjadi kian berseluk-beluk. Hal ini dikenal sebagai globalisasi
yang dapat mendatangkan konflik atau kerja sama.
Peristiwa terkini
Artikel utama: Zaman modern
Lihat pula: Modernitas dan Masa depan
Pada abad ke-20, organisme
yang ber-evolusi
di Bumi berhasil menembus atmosfer
dan menatap Bumi dari luar
angkasa. Dalam foto tampak astronot
Bruce McCandless II
sedang melayang di luar angkasa, dalam misi STS-41-B dengan pesawat ulang-alik Challenger, tahun 1984.
Perubahan terjadi secara cepat sejak pertengahan
1940-an hingga saat ini. Perkembangan teknologi meliputi senjata
nuklir, komputer,
rekayasa
genetika, dan nanoteknologi.
Globalisasi ekonomi yang tumbuh subur dalam perkembangan teknologi transportasi
dan komunikasi telah memengaruhi kehidupan sehari-hari di berbagai belahan
dunia. Berbagai bentuk sistem dan budaya seperti demokrasi,
kapitalisme,
dan environmentalisme
melebarkan pengaruh mereka. Masalah besar seperti penyakit,
perang,
kemiskinan,
radikalisme
dengan kekerasan, dan perubahan
iklim akibat manusia semakin parah seiring pertambahan jumlah
penduduk.
Tahun 1957, Uni Soviet
meluncurkan satelit buatan
pertama ke orbit Bumi,
dan tak lama kemudian, Yuri
Gagarin menjadi manusia pertama yang berada di luar
angkasa. Neil
Armstrong, seorang warga negara Amerika
Serikat, merupakan manusia pertama yang menjejakkan kaki di
benda langit selain Bumi, yaitu Bulan.
Sejumlah wahana tak berawak telah dikirim ke seluruh planet di Tata Surya,
sementara beberapa di antaranya (seperti Voyager)
diluncurkan untuk meninggalkan Tata Surya. Uni Soviet dan Amerika Serikat
merupakan perintis dalam eksplorasi luar angkasa pada abad ke-20. Lima agensi
luar angkasa, mewakili lebih dari lima belas negara,[151]
telah bekerja sama untuk membangun Stasiun Luar Angkasa Internasional.
Maka dari itu aktivitas manusia di luar angkasa telah berlangsung sejak tahun
2000.[152]
World
Wide Web dikembangkan pada tahun 1990-an dan sejak itu telah
terbukti menjadi sumber informasi yang sangat diperlukan di negara maju.
lihat Sejarah dunia.dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
Sketsa tersebut diatas memberi pemahaman dan
kesadaran kita Manusia adalah makhluk-Nya yang paling sempurna dan sebaik-baik
ciptaan dibandingkan makhluk-makhluk-Nya yang lain.
Begitu banyak para ahli ilmu pengetahuan mendukung teori evolusi yang
mengatakan bahwa manusia berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun
kemampuan yang sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi
manusia seperti sekarang ini.
Di lain pihak banyak ahli agama yang menentang adanya proses evolusi
manusia tersebut.
Khususnya agama Islam yang meyakini bahwa manusia pertama adalah Nabi Adam
a.s. disusul Siti Hawa dan kemudian keturunan-keturunannya hingga menjadi
banyak seperti sekarang ini. Hal ini didasarkan pada berita-berita dan
informasi-informasi yang terdapat pada kitab suci masing-masing agama yang
mengatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Untuk itu dalam secara jelas bagaimana proses kejadian manusia menurut Aqur’an, hadist, maupun
iptek.
Manusia dalam pandangan kebendaan (materialis) hanyalah merupakan sekepal
tanah di bumi. Manusia dalam pandangan kaum materialism, tidak lebih dari
kumpulan daging, darah, urat, tulang, urat-urat darah dan alat pencernaan. Akal
dan pikiran dianggapnya barang benda, yang dihasilkan oleh otak. Pandangan ini
menimbulkan kesan seolah-olah manusia ini makhluk yang rendah dan hina, sama
dengan hewan yang hidupnya hanya untuk memenuhi keperluan dan kepuasan semata.
Dapat disimpulkan bahwa manusia dalam pandangan Antropologi terbentuk dari
satu sel sederhana yang mengalami perubahan secara bertahap dengan waktu yang
sangat lama (evolusi). Berdasarkan teori ini, manusia dan semua mahluk hidup di
dunia ini berasal dari satu moyang yang sama. Nenek moyang manusia adalah kera.
Teori Evolusi yang dikenalkan oleh Charles Darwin ini akhirnya meluas dan terus
dipakai dalam antropologi.
Teori ini mempunyai kelemahan karena ada beberapa jenis tumbuhan dan hewan
yang tidak mengalami evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula. Misalnya
sejenis biawak/komodo yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu dan
hingga kini tetap ada. Jadi dapat kita katakan bahwa teori yang dianggap ilmiah
itu ternyata tidak mutlak karena antara teori dengan kenyataan tidak dapat
dibuktikan.
"Kita hidup di dunia hanya sementara, maka dari itu jadilah manusia
yang berguna. Jadilah manusia yang beriman,ikhlas,mukhlis dan mutaqin," sampai
kita akan tinggalkan segalanya untuk kembali menjadi khusnul Khatimah.