posted by zhaponk, 20 Mei 2019.
Kendati telah wafat sejak sekitar 77 tahun
silam, keberadaannya terasa di Kampung Babussalam, Tanjung Pura, Langkat,
Sumatra Utara. Peziarah mengalir ke makamnya di kampung yang didirikannya.
Syekh Abdul Wahab Rokan memang dikenal sebagai ulama ternama di Sumaera.
Lahir pada 19 Rabiul Akhir 1230 H (28
September 1811) di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Negeri Tinggi,
Rokan Tengah, Kab. Rokan hulu, Riau, Wahab tumbuh di lingkungan keluarga yang
menjunjung agamanya. Nenek buyutnya, H Abdullah Tembusai, dikenal sebagai alim
ulama besar yang disegani.
Salah seorang putra Abdullah Tembusai,
bernama M Yasin menikah dengan Intan. Buah perkawinan itu melahirkan di
antaranya Abdul Manap. Putra tertuanya ini, kemudian menikah dan melahirkan
Syekh Wahab Rokan.
Dengan titisan darah demikian, Wahab sejak
kecil terdidik, terutama untuk pelajaran agama. Demi menghapal AlQuran, Wahab
kecil tak jarang bermalam, di rumah gurunya. Ia pun patuh pada guru, bahkan
kerap mencucikan pakaian orang yang mendidiknya itu.
Keistimewaan telah tampak sejak Wahab masih
bocah. Suatu ketika, saat orang terlelap pada dinihari, Wahab masih menekuni
AlQuran. Mendadak muncul seorang tua mengajarinya membaca aLQuran. Setelah
rampung satu khatam, orang tua itu menghilang.
Kesalihannya ini tak jarang mengalami
godaan. Saat ia melanjutkan pendidikan di Tembusai, seorang wanita menggodanya,
bahkan mengunci pintu tempat Wahab berada. Wahab terus melantunkan doa sehingga
terlepas dari jebakan wanita yang tergila-gila padanya. Begitu pun, suatu
ketika saat mandi di sungai, seorang gadis melarikan sarungnya.
Godaan itu tak membuat imannya meleleh.
Bahkan, ia kian kukuh mendalami ilmu agama. Setelah dari Tambusai, ia pun ke
Malaysia, untuk mendalami ilmu agama kepada Syekh H M Yusuf asal Minangkabau.
Wahab yang tumbuh menjadi pemuda berdagang untuk menopang kehidupannya.
Menariknya, berkat kesalihannya, ia menyuruh pembeli menimbang sendiri barang
yang dibeli. Ini demi menghindarkan kecurangan.
Melanjutkan pendidikan ke MAkkah, ia belajar
kepada beberapa guru, di antaranya Zaini Dahlan (mufti mazhab Syafii), Syekh
Zainuddin Rawa. Terakhir, ia mendalami ilmu tarEkat kepada Syekh Sulaiman Zuhdi
di puncak Jabal Abi Kubis. Sulaiman Zuhdi dikenal sebagai penganut tarEkat
Naqsyabandiah.
Menyimak ketekunan muridnya, suatu ketika
Sulaiman Zuhdi, resmi mengangkat Wahab sebagai khalifah besar. Penabalan itu
diiringi dengan bai’ah dan pemberian silsilah tarekat Naqsyabandiyah yang
berasal dari Nabi Muhammad SAW hingga kepada Sulaiman Zuhdi yang kemudian
diteruskan kepada Wahab. Ijazahnya ditandai dengan dua cap. Ia pun mendapat gelar
Al Khalidi Naqsyabandi.
Setelah kurang lebih enam tahun di Makkah,
ia kembali ke Riau. Di sana, ia yang saat itu berusia 58, mendirikan Kampung
Mesjid. Dari sana, ia mengembangkan syiar agama dan tarEkat yang dianutnya,
hingga Sumatra Utara dan Malaysia. Namanya pun semerbak. Raja di berbagai
kerajaan di Riau dan Sumatra Utara mengundangnya.
Suatu ketika, Sultan Musa Al-Muazzamsyah
dari Kerajaan Langkat, gundah. Putranya sakit parah dan akhirnya wafat. Rasa
kehilangan ini tak terperikan. Syekh HM Nur yang — sahabat karib Wahab saat di
MAkkah — menjadi pemuka agama di kerajaan, menyarankan agar Sultan bersuluk di
bawah bimbingan Wahab. Sultan menyetujui dan mengundang Wahab.
Wahab pun datang ke Langkat. Ia mengajarkan
tarEkat Naqsyahbandi dan bersuluk kepada Sultan. Setelah berulang bersuluk,
Sultan Musa — yang belakangan melepaskan tahtanya dan memilih menekuni agama —
memenuhi saran Wahab, menunaikan ibadah haji, sekaligus bersuluk kepada
Sulaiman Zuhdi di Jabal Kubis.
Berkat kekariban hubungan guru-murid, Sultan
Musa menyerahkan sebidang tanah di tepi Sungai Batang Serangan, sekitar 1 km
dari Tanjung Pura. Sultan berharap gurunya dapat mengembangkan syiar agama dari
tanah pemberiannya. Wahab menyetujui dan menamakan kampung itu Babussalam
(pintu keselamatan). Maka pada 15 Syawal 1300 H, ia bersama ratusan
pengikutnya, menetap di sana.
Babussalam berkembang menjadi kampung dengan
otonomi khusus. Menjadi basis pengembangan tarEkat Naqsyahbandiyah di Sumatra
Utara, Wahab membentuk ‘pemerintahan’ sendiri di kampung itu. Perangkatnya
antara lain dengan membuat Lembaga Permusyawaratan Rakyat (Babul Funun).
Hingga kini, kampung itu terjaga sebagai
pusat pengembangan tarekat Naqsyahbandiyah. Tetap mendapatkan perlakuan khusus
dari Pemda setempat, aktivitas sehari-hari — ditandai dengan kegiatan suluk
setiap hari — dipimpin khalifah. Saat ini khalifah kesepuluh Syekh H Hasyim
yang memimpin.
Kendati terjalin erat, hubungan Wahab dan
Sultan, tak berarti selalu harmonis. Bahkan antara keduanya sempat renggang,
saat Wahab difitnah membuat uang palsu. Akibatnya, Sultan memerintahkan
penggeledahan ke rumah Wahab. Kendati tak terbukti, bahkan saling memaafkan,
Wahab seusai peristiwa itu pindah ke Malaysia. Kepindahannya ini kabarnya
menyebabkan sumur minyak di Pangkalan Brandan surut penghasilannya.
Begitu pun, suatu kali penjajah Belanda
‘menekan’ Sultan. Dalihnya, berbekal potret Wahab, ditengarai Tuan Guru
Babussalam — demikian panggilan kehormatannya — turut bertempur membantu
pejuang Aceh melawan Belanda. Padahal, pada saat bersamaan, pengikutnya
menegaskan Tuan Guru berdzikir di kamarnya.
Kembali ke Babussalam, setelah terharu
menyaksikan kampung yang dibangunnya menyepi, Tuan Guru menetap di Babussalam.
Bersama pengikutnya, ia kembali membangun Babussalam. Tak sekadar berkembang
pesat, Tuan Guru bersama Babussalam tumbuh disegani. Tak ayal, Belanda berusaha
menjinakkannya.
Maka pada 1 Jumadil Akhir 1241 H, Asisten
Residen Van Aken, menyematkan bintang kehormatan kepadanya. Kendati demikian,
tak berarti Tuan Guru, terpedaya. Bahkan, di saat prosesi penyematan, Tuan Guru
dalam sambutan meminta Van Aken menyampaikan kepada Raja Belanda untuk masuk
Islam. Menilai pemberian bintang itu sindiran, ia meminta pengikutnya lebih
giat. Bintang kehormatan itu pun kemudian diserahkan kepada Sultan Langkat.
Kendati dikenal sebagai pemuka agama, tak
berarti Tuan Guru tak memiliki kepedulian pada politik. Ia mengutus anaknya
untuk menemui HOS Cokroaminoto pada 1913. Tujuannya untuk membicarakan
pembukaan cabang Sarekat Islam di Babussalam. Tak lama kemudian, SI pun berdiri
di kampung yang dipimpinnya.
Tuan Guru wafat di usia 115, pada 21 Jumadil
Awal 1345 H (27 Desember 1926), meninggalkan 4 istri, 26 anak, dan puluhan
cucu. Hingga kini, setiap peringatan hari wafat (haul), dirayakan besar-besaran.
Ratusan pengikutnya yang memegang tarekat Naqsyahbandiah dari berbagai kota di
Sumatra hingga Malaysia, dan Thailand hadir.
Silaturahmi di Negeri Seribuk Suluk
Para zurriyat, khalifah dan jamaah
Babussalam terserak di dalam maupun luar negeri. Akibatnya silaturahmi menjadi
longgar. Demi mengikat silahturahmi Ikatan Keluarga Babussalam Langkat
menyelenggarakan silaturrahmi nasional (silatnas).
Berlangsung mulai 18 hingga 20 Oktober
mendatang, silatnas diadakan di kampung kelahiran Syekh Abd Wahab Rokan, di
Rantau Binuang Sakti yang dijuluki ‘Negeri Seribu Suluk’. Acaranya selain
tabliqh akbar, haflah Alquran, juga istighasah Tareqat Naqsyabandiyah. Di hari
terakhir (20/10), silatnas ditutup dengan ziarah ke makam ibu dan Syekh Abd
Wahad dan ke makan Syekh Zainuddin. Kemudian diikuti ramah
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Muhammad
ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari. Ia lahir di Qasrel Arifan, sebuah
desa di kawasan Bukhara, Asia Tengah, pada bulan Muharram tahun 717 H/1317 M.
Nasabnya bersambung kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina Al-Husain RA. Semua
keturunan Al-Husain di Asia Tengah dan anak benua India lazim diberi gelar
shah, sedangkan keturunan Al-Hasan biasa dikenal dengan gelar zadah dari kata
bahasa Arab saadah (bentuk plural dari kata sayyid) sesuai dengan sabda
Rasulullah SAW tentang Al-Hasan RA, ”Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid.”
Shah Naqshaband diberi gelar Bahauddin karena berhasil menonjolkan sikap
beragama yang lurus, tetapi tidak kering. Kemudian, sikap beragama yang benar,
tetapi penuh penghayatan yang indah.
Pada masanya, tradisi keagamaan Islam di
Asia Tengah berada di bawah bimbingan para guru besar sufi yang dikenal sebagai
khwajakan (bentuk plural dari ‘khwaja’ atau ‘khoja’ dalam bahasa Persia berarti
para kiai agung). Dan, pembesar mereka adalah Khoja Baba Sammasi yang ketika
Muhammad Bahauddin lahir, ia melihat cahaya menyemburat dari arah Qasrel
Arifan, yaitu saat Sammasi mengunjungi desa sebelah.
Sammasi lalu memberitahukan bahwa dari desa
itu akan muncul seorang wali agung. Sekitar 18 tahun kemudian, Khoja Baba
Sammasi memanggil kakek Bahauddin agar membawanya ke hadapan dirinya dan
langsung dibaiat. Ia lalu mengangkat Bahauddin sebagai putranya.
Sebelum meninggal dunia, Baba Sammasi
memberi wasiat kepada penggantinya, Sayyid Amir Kulali, agar mendidik Bahauddin
meniti suluk sufi sampai ke puncaknya seraya menegaskan, “Semua ilmu dan
pencerahan spiritual yang telah kuberikan menjadi tidak halal bagimu kalau kamu
lalai melaksanakan wasiat ini!”
Meniti jalan spiritual
Bahauddin pun berangkat ke kediaman Sayyid
Amir Kulali di Nasaf dengan membawa bekal dasar yang telah diberikan oleh Baba
Sammasi. Sammasi menyatakan jalan tasawuf dimulai dengan menjaga kesopanan
tindak-tanduk dan perasaan hati agar tidak lancang kepada Allah, Rasulullah,
dan guru.
Bahauddin juga percaya bahwa sebuah jalan
spiritual hanya bisa mengantarkan tujuan kalau dilalui dengan sikap rendah hati
dan penuh konsistensi. Karena itu, melakukan makna eksplisit dari sebuah
perintah barangkali harus diundurkan demi menjaga kesantunan.
Inilah yang dilakukan oleh Bahauddin ketika
dihentikan oleh seorang lelaki berkuda yang memerintahkan dirinya agar berguru
pada orang tersebut. Dengan tegas, tetapi sopan; ia menolak seraya menyatakan
bahwa dia tahu siapa lelaki itu. Masalah berguru kepada seorang tokoh adalah
persoalan jodoh; meskipun lelaki berkuda tadi sangat mumpuni, ia tidak berjodoh
dengan Bahauddin.
Setelah tiba di hadapan Sayyid Amir Kulali,
Bahauddin langsung ditanya mengapa menolak perintah lelaki berkuda yang
sebenarnya adalah Nabi Khidir AS? Beliau menjawab, “Karena, hamba diperintahkan
untuk berguru kepada Anda semata!”
Di bawah asuhan Amir Kulali, Bahauddin
mengalami berbagai peristiwa yang mencengangkan. Di antaranya, beliau pernah
ditangkap oleh dua orang tak dikenal dan dikirimkan ke makam seorang wali. Di
sana, dia mendapatkan lentera yang minyaknya masih banyak dan sumbunya juga
masih panjang, tetapi apinya hampir padam.
Bahauddin mendapat ilham untuk menggerakkan
sedikit sumbu itu agar aliran bahan bakar menjadi lancar. Dengan khusyuk, ia
melakukannya, tahu-tahu sekat pembatas antara dunia nyata dan alam barzakh
terbuka di hadapan beliau. Di balik tabir ruang dan waktu itu, Bahauddin
mendapatkan semua mahaguru khawajakan yang sudah meninggal dunia, termasuk guru
pertamanya, Khoja Baba Sammasi.
Oleh salah seorang guru mereka, Bahauddin
dihadapkan kepada kepala aliran khawajakan, yaitu Khoja Abdul Khaliq Gujdawani.
Dari mahaguru yang agung ini, Bahauddin mendapatkan bimbingan langsung dalam
meniti suluk sufi. Sejak saat itu, Bahauddin dikenal dengan gelar Al-Uwaysi
karena mendapatkan pelajaran spiritual langsung dari seorang guru yang sudah
meninggal dan tidak pernah ditemuinya di dunia. Hal ini sama dengan Uways
Al-Qarny, seorang tabiin yang mendapatkan pelajaran spiritual langsung dari roh
Sayyidina Rasulillah SAW.
Di bawah bimbingan Amir Kulali pula,
Bahauddin terus mempraktikkan semua ajaran Abdul Khaliq Gujdawani, sebagaimana
beliau juga mempelajari dengan tekun ilmu-ilmu Islam lainnya, khususnya akidah,
fikih, hadis, dan sirah Nabi SAW.
Dan, karena wasiat dari Baba Sammasi, tidak
heran kalau Amir Kulali memberikan perhatian khusus kepada Bahauddin. Setelah
semua ilmu dan pencerahan spiritual yang ada pada gurunya diserap habis, Sayyid
Amir Kulali memerintahkan Bahauddin untuk mengembara seraya menunjuk ke puting
dadanya dan berkata, “Semua yang ada di sumber ini sudah habis kamu sedot, maka
mengembaralah!”
Bahauddin kemudian belajar kepada beberapa
mahaguru lain, seperti Khoja Arif Dikkarani dan Hakim Ata, hingga beliau
menjadi mahaguru sufi terbesar yang pernah muncul dari kawasan Asia Tengah
(sekarang adalah negara-negara persemakmuran bekas USSR), Persia, Turki, dan
Eropa Timur. Beliau meninggal pada malam Senin, 3 Rabiul Awwal 791 H/1391 M.
Karena di dadanya terukir Lafdzul Jalalah
(Allah) yang bercahaya, ia dikenal juga sebagai “Naqshaband” (bahasa Persia
yang berarti: gambar yang berbuhul). Dan, kepada beliau, dinisbahkan Tarekat
Naqshabandiyah yang merupakan salah satu tarekat terbesar di dunia. Tarekat ini
tersebar luas di Turki, Hejaz, kawasan Persia, Asia Tengah, serta anak benua
India dan Indonesia.
Adanya Tarekat Naqshabandiyah ternyata mampu
mempertahankan identitas keislaman di Asia Tengah dan Eropa Timur, di tengah
prahara komunisme yang menerpa selama lebih dari setengah abad. Para pemimpin
kebangkitan Islam di Turki, seperti Erbakan dan Erdogan, juga berafiliasi
kepada tarekat ini. Bahkan, akhir-akhir ini, Tarekat Naqshabandiyah memainkan
peranan sangat penting dalam penyebaran Islam di Eropah dan Amerika.
Sementara itu, di Indonesia, ada beberapa
cabang Tarekat Naqshabandiyah, seperti Khalidiyah, Mujaddidiyah, dan
Muzhariyah. Yang terbesar adalah Tarekat Qadiriyah-Naqshabandiyah yang–sesuai
namanya–merupakan hasil simbiosis dua tarekat terbesar di dunia.
Mengembalikan Esensi Tasawuf
Shah Naqshaband muncul untuk merevitalisasi perilaku beragama dengan mengajak
kembali kepada tradisi yang hidup pada zaman Nabi SAW. Bagi Shah Naqshaband,
hakikat sebuah tarekat adalah penerapan ajaran syariat dalam wujud yang paling
sempurna dan konsisten. Sementara itu, hakikat adalah terealisasikannya “maqam
kehambaan” seorang anak manusia di hadapan Allah semata.
Shah Naqshaband menyatakan bahwa tasawuf
adalah inti agama dan inti terdalam dari tasawuf itu sendiri adalah muraqabah,
musyahadah, dan muhasabah. Muraqabah adalah melupakan segala sesuatu yang
selain Allah dengan hanya memfokuskan hati dan perbuatan hanya kepada-Nya.
Musyahadah adalah menyaksikan keagungan dan
keindahan Allah dalam seluruh eksistensi. Sementara itu, muhasabah adalah
instropeksi diri yang terus-menerus agar tidak lalai dari jalan yang mulia ini.
Dengan ketiga inti tasawuf itu, hati seorang saleh terus hidup dan dihidupkan
oleh zikir dan kebersamaan bersama Allah dalam setiap detak jantung dan embusan
napasnya sampai dia tertidur sekalipun!
Agar mencapai maqam tersebut, seorang saleh
harus menjalani pelatihan di bawah bimbingan seorang mahaguru spiritual. Dialah
yang akan mengajarkannya prosesi berzikir dalam hati sesuai dengan firman
Allah, “Dan, sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan penuh kesungguhan dan
rasa takut (akan tidak diterima amal perbuatanmu), tanpa mengangkat suara pada
siang dan sore hari dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah” (QS
Al-A`raaf: 205).
Zikir dalam hati dipilih karena silsilah
utama tarekat ini bersambung melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq. Metode zikir ini
diajari oleh Rasulullah dan berbeda dengan tarekat lain yang semuanya
bersambung melalui Ali bin Abi Thalib yang diajari berzikir dengan menggunakan
suara jelas. Zikir dalam hati adalah ibadah yang terbesar (sesuai dengan bunyi
tekstual QS Al-`Ankabuut: 45) dan bisa dilaksanakan dalam keadaan apa pun.
Zikir dalam hati yang dilakukan oleh seorang
Naqsyabandi menggunakan Lafdzul Jalalah (Allah) dan Laa Ilaaha illalLaah yang
dilafalkan dengan cara tertentu sebagaimana diajarkan langsung oleh seorang
mahaguru sufi (syekh). Dengan prosesi zikir ini, seorang Naqshabandi meniti
tangga-tangga makrifat.
Shah Naqshaband pernah menyatakan bahwa
shalat adalah titian spiritual yang paling efektif bagi seorang saleh asalkan
shalatnya khusyuk. Untuk mewujudkannya, seorang saleh diharuskan mengonsumsi
makanan yang halal baginya dan tidak pernah lalai mengingat atau “bersama”
dengan Allah dalam kesehariannya, lebih khusus lagi saat berwudhu serta
bertakbiratul ihram.
Di sisi lain, bertasawuf bagi Shah
Naqshaband adalah sebuah perilaku sosial yang positif. Bukan sekadar berbudi
pekerti yang luhur, melainkan juga berbuat kebajikan kepada sesama makhluk
Allah. Seorang saleh tidak boleh merasa dirinya lebih mulia dari seekor anjing
sekalipun. Dia juga selalu siap mengulurkan tangan kepada siapa pun yang
membutuhkan bantuan. Bahkan, bantuan tersebut bukan sekadar diberikan dalam
bentuk material semata, tetapi juga rohaniah dan spiritual.
Selain itu, bertasawuf juga berarti
menghormati waktu. Shah Naqshaband pernah menegaskannya dalam bahasa Persia,
“Orang yang berakal pasti tidak suka berkawan dengan seorang yang suka
menunda-nunda pekerjaan jika mampu dilakukannya hari ini.” Waktu harus
digunakan untuk ibadah dalam pengertiannya yang paling komprehensif: berbuat
kebajikan, baik yang ritual maupun yang sosial. Dan, tidak boleh ada waktu yang
berlalu sedetik pun tanpa yakin bahwa kita selalu “mengingat” dan “bersama”
Allah.
Dengan demikian, bertasawuf bagi Shah
Naqshaband adalah mewujudkan ketundukan penuh kepada Nabi Muhammad SAW secara
paripurna: menjalankan perintahnya, menghindari larangannya, meneladani
perbuatannya, dan menghayati spiritualitasnya, sesuai dengan ajaran Islam
menurut mazhab ahlussunnah wal jamaah.
Tidak heran kalau banyak ulama yang mengakui
bahwa Tarekat Naqshabandiyah adalah saripati semua tarekat sufi. Dan, barang
siapa yang suluknya tidak sesuai dengan ajaran Shah Naqshaband di atas berarti
sudah keluar dari jalur yang benar meskipun mengaku sebagai pengikut beliau.
Shah Naqshaband pernah menegaskan, “Tasawuf adalah syariat. Dan, barang siapa
yang mengaku sebagai pengikut tasawuf, tetapi tidak menerapkan syariat, berarti
dia telah tersesat!” aunul abied shah/taq
KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal
dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau
adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya,
dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk
Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia
masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930
Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus.
Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang
Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai
terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di
Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat
itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.
Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom
melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini
terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli
hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman
dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren.
Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika
beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh.
Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh
pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain
silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah,
Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago
silat, dan ahli hikmah.
Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun,
Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia
berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih
tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak
pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam. Pengetahuan beliau meliputi
tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh
Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato,
baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya
di lubuk hati yang paling dalam. Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan
sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan
filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah.
Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik.
Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956,
Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas
dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren
Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan
perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian,
membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam
perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat
Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara.
Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan
selalu berada di belakangnya.
Di samping melestarikan dan menyebarkan
ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom
juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka
sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya
termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah,
Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah
Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya
Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat
yang sedang tertimpa musibah. Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah,
di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar
ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama
mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf
dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal
yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah
Qadiriyah Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom
menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal
Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad
atau yang biasa di panggil Abah Sepuh, lahir tahun 1836 di kampung Cicalung
Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang (sekarang, Kp Cicalung Desa Tanjungsari
Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya) dari pasangan Rd Nura Pradja
(Eyang Upas, yang kemudian bernama Nur Muhammad) dengan Ibu Emah. Beliau
dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kyai Jangkung. Sejak kecil, beliau
sudah gemar mengaji/mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka
memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Setelah menyelesaikan pendidikan agama
dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya. Di Pesantren
Sukamiskin Bandung beliau mendalami fiqih, nahwu, dan sorof. Beliau kemudian
mendarmabaktikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dengan mendirikan
pengajian di daerahnya dan mendirikan pengajian di daerah Tundagan Tasikmalaya.
Beliau kemudian menunaikan ibadah Haji yang pertama.
Walaupun Syaikh Abdullah Mubarok telah
menjadi pimpinan dan mengasuh sebuah pengajian pada tahun 1890 di Tundagan
Tasikmalaya, beliau masih terus belajar dan mendalami ilmu Thariqah Qadiriyah
Naqsabandiyah kepada Mama Guru Agung Syaikh Tolhah bin Talabudin di daerah
Trusmi dan Kalisapu Cirebon. Setelah sekian lamanya pulang-pergi antara
Tasikmalaya-Cirebon untuk memperdalam ilmu tarekat, akhirnya beliau memperoleh
kepercayaan dan diangkat menjadi Wakil Talqin. Sekitar tahun 1908 dalam usia 72
tahun, beliau diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin
pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah. Beliau juga
memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syaikh Kholil
Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim.
Karena situasi dan kondisi di daerah
Tundagan kurang menguntungkan dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah
Naqsabandiyah, beliau beserta keluarga pindah ke Rancameong Gedebage dan
tinggal di rumah H. Tirta untuk sementara. Selanjutnya beliau pindah ke Kampung
Cisero (sekarang Cisirna) jarak 2,5 km dari Dusun Godebag dan tinggal di rumah
ayahnya. Pada tahun 1904 dari Cisero Abah Sepuh beserta keluarganya pindah ke
Dusun Godebag.
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad
kemudian dan bermukim dan memimpin Pondok Pesantren Suryalaya sampai akhir
hayatnya. Beliau memperoleh gelar Syaikh Mursyid. Dalam perjalanan sejarahnya,
pada tahun 1950, Abah Sepuh hijrah dan bermukim di Gg Jaksa No 13 Bandung.
Sekembalinya dari Bandung, beliau bermukim di rumah H Sobari Jl Cihideung No 39
Tasikmlaya dari tahun 1950-1956 sampai beliau wafat.
Setelah menjalani masa yang cukup panjang,
Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad-sebagai Guru Mursyid Thariqah Qadiriyah
Naqsabandiyah dengan segala keberhasilan yang dicapainya melalui perjuangan
yang tidak ringan, dipanggil Al Khaliq kembali ke Rahmatullah pada tangal 25
Januari 1956, dalam usia 120 tahun. Beliau meniggalkan sebuah lembaga Pondok
Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat manusia, agar
senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya serta mewariskan sebuah wasiat berupa “TANBIH” yang sampai saat
sekarang dijadikan pedoman bagi seluruh Ikhwan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah
Pondok Pesantren Suryalaya dalam hidup dan kehidupannya.
Posted by zhaponk 20 Mei 2019
Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah adalah thoreqat yang
mutabar antara ratusan thoreqat yang dianuti oleh umat islam di seluruh dunia.
Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah adalah gabungan 2 thoreqat terbesar iaitu
Thoreqat Qodiriah yang dibawa oleh Syeikh Abdul Qodir Jailani dan Thoreqat
Naqsyabandiah yang dibawa oleh Syeikh Mohd Nuruddin Bahauddin An-Naqsyabandi.
Thoreqat-thoreqat tersebut telah digabungkan oleh
Syeikh Ahmad Khatib As-Syambasi Ibn Abdul Gaffar, seorang Ulama Nusantara yang
terkenal pada zamannya yang bermukim di Mekah dan menjadi Mursyid kepada
Thoreqat Qodiriah di Mekah pada awal abad ke 13 hijrah jadilah Namanya Thoreqat
Qidiriah wa Naqsyabandiah dan berkembang di negeri-negeri nusantara. Syeikh
Thalhah kalisapu cerebon adalah salah seorang murid kepada Syeikh Ahmad Khatib
As-Syambas dan dikenali sebagai tokoh thoreqat yang prominen dengan karamah
beliau selain Syeikh Abdul Karim Banten dan Syeikh Khalil madura, semasa
belajar di Mekah dan Syeikh Thalhah telah diangkat sebagai Mursyid dan
mengembangkan ajaran daripada thoreqat anutannya di Cerebon, Jawa Barat
Indonesia. Syeikh Abdullah Mubarak Bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) telah
mengambil talqin Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah daripada Syeikh Thalhah dan
menjadi murid beliau dan kemudian diangkat sebagai Mursyid Thoreqat Qodiriah
Naqsyabandiah yang kemudiannya mengembangkan ajaran ini di Pondok Pesantren
Suryalaya, Jawa Barat, Indonesia yang ada sekarang.
Syeikh Abdullah Mubarak
Pondok Pesantren Suryalaya telah didirikan oleh
pengasasnya Syeikh Abdullah Mubarak Bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) pada tanggal
5 September 1905 masehi dengan restu Gurunya Syeikh Thalhah menjadikannya
sebagai Pusat Pegembangan Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah di nusantara
sehinggalah beliau wafat pada tahun 1956 dan disemayamkan di Kejambaran
Rahmaniah Puncak Suryalaya. KH Ahmad Sohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom)
adalah anak kepada Abah Sepuh dan penerus kepada pimpinan Pondok Pesantren
Suryalaya juga berkapasiti sebagai Mursyid Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah
satelah wafatnya Ayah beliau Abah Sepuh. Dan di bawah pimpinan Abah Anom,
Pondok Pesantren Suryalaya telah berkembang maju merentasi seluruh pelusuk Jawa
dan Indonesia saterusnya Malaysia (termasuk Sabah dan Sarawak), Singapura,
Brunei bah ke seluruh dunia.
Dalam rangka pengembangan dan penyebarluasan ajaran
Thoreqat Qodiriah Maqsyabandiah, Abah Anom sebagai Syeikh Mursyidnya melantik
Wakil-Wakil Talqin yang berperanan sebagai wakil mursyid memberikan tunjuk ajar
dan bimbingan amaliah kepada ikhwan-ikhwan yang mengambil dan mengamalkan
ajaran thoreqat ini. Di Malaysia wakil-wakil talqin yang telah ditauliahkan
oleh Syeikh Mursyid Abah Anom antaranya ialah Yabhg. Tun Haji Sakaran Dandai
yang juga dalam kesepakatan para ikhwan telah melantik beliau sebagai Penasihat
Agung TQN Pondok Pesantren Suryalaya di Malaysia, selain beliau Ym. Ustaz Haji
Mohd Zuki As-Sujak bin Shafie di Kedah, Ym. Prof. Dr. Haji Abdul Manan
Al-Marbawi Bin Haji Muhammad di Terengganu, Ym. Ustaz Haji Saifuddin Al-Hafiz
Bin Haji Maulup di Negeri Sembilan, Ym. Ustaz Haji Mansor Salleh di Semporna,
Sabah dan Ym. Ustaz Haji Abdul Manaf Bin Abidallah di Tawau, Sabah.
KHA Sohibulwafa Tajul Arifin
Inabah adalah dampak daripada karamahnya Syeikh
Mursyid KHA Sohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom). Inabah ialah institusi rohani
pusat rehibilitasi para korban penagihan zat-zat adiktif seperti dadah dan
sejenisnya, melalui Institusi Inabah ini puluhun ribu remaja yang menjadi
korban narkoba telah dipulihkan dalam ertikata lain Institusi Inabah telah
berhasil dalam misinya ” memanusiakan manusia “ melalui kaedah sufi dengan
pengamalan dzikirullah, dzikir jahar dan dzikir khofi sebagai ubat kepada
kawalahan manusia menurut methode atau kaedah dari ajaran Thoreqat Qodiriah
Naqsyabandiah. Di Malaysia terdapat 3 buah Inabah yang lebih dikenali sebagai
Pondok Remaja inabah. Pondok Remaja Inabah Malaysia 1 di Jabal Suf, Kuala
Nerang, Kedah dipimpin dan dikendalikan oleh Ym. Ustaz Haji Mohd Zuki As-Sujak
Bin Shafie, Wakil Talqin TQN di Malaysia, Pondok Remaja Inabah Malaysia 2 di
Kuala terengganu yang dikendalikan Ustaz Haji Osman Abdul Jalil (allahyarham)
dan Pondok Remaja 3 Inabah Kamal Semporna yang dikendalikan oleh Yayasan Sabdi
(Yayasan Tun Haji Sakaran Dandai) dan diawasi sepenuh masa oleh Ym. Ustaz Haji
Ady Borhansyah Bin Mokhtar disamping bantuan Wakil-Wakil Talqin TQN di Malaysia
dari semasa ke semasa.
Ustaz Hj Mohd Said al-attas
Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah mula dikenali dan
diikuti di Daerah Semporna sejak awal tahun 1978, satelah kunjungan Yabhg. Tun
Sakaran Dandai bersama Ustaz Haji Mohd Said Al-Attas (allahyarham) ke Suryalaya
bersilaturahmi dan berguru dengan KHA Sohibulwafa Tajul Arifin dan setahun
kemudiannya Ustaz Haji Mohd Said Al-Attas telah ditauliahkan sebagai Wakil
Talqin bersama-sama Ustaz Haji Mohd Trang Isa dari Sarawak dan Ustaz Haji Osman
Abdul Jalil (allahyarham) dari Terengganu. Ustaz Haji Mohd Said adalah seorang
Guru Agama yang berasal dari Nilai Negeri Sembilan dan Guru Agama yang membuka
Madrasah Islamiah pertama di Semporna pada tahun 1963 dengan ihsan Yabhg. Tun
Sakaran Dandai ketika itu menjawat Ketua Daerah dan semenjak itu karib kepada
Tun Sakaran. Dakwah Ustaz Tua sebagaimana masyarakat di Daerah Semporna
mengenali beliau, tidak terhad di daerah Semporna bahkan sampai ke
daerah-daerah lain di Negeri Sabah seperti Labuan, Kunak, Tawau. Sandakan dan
Tambunan. Pada masa beliau menjadi Wakil Talqin sering berkunjung ke Inabah
Kedah dan membantu Ustaz Haji Mohd Zuki sebelum beliau diangkat menjadi Wakil
Talqin dan kesempatan ini telah memboleh Ustaz Haji Mohd Said berdakwah ke
seluruh semenanjung Malaysia bahkan sampai ke daerah-daerah Wilayah Pattani di
Negera Thailand.
Ikhwan TQN Semporna bergambar di Makam Abah Sepuh
(Syeikh Abdullah Mubarak) di Puncak Suryalaya. Ketua Rombongan Haji Abdul
Rahman Tun Sakaran (paling kiri). Datuk Hj Abdul Fattah (paling kanan)
sumber: ahmad b. haji anjau
NOTA MURSYID
Asas dan tujuan Thoriqah Qodiriah wa Naqsyabandiah
إِلَـهِيْ اَنْتَ مَقْصًودِيْ وَرِضَاكَ مَطْلًـوبِيْ اَعْـطِنِي
مَحَبَّتـَكَ وَمَعْرِفَتَـكَ
maksud dari doa itu tadi:
” Ya Tuhanku hanya engkaulah yang ku maksud, dan
keredhaanMu yang ku cari, berikan kepada ku kemampuan untuk mencintaiMu dan
Maakrifat kepadaMu “.
Doa tersebut mengandungi 3 elemen:
1. Taqarrub terhadap Allah SWT:
ialah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan
ubudiyah, yang mana dalam hal ini dapat dikatakan tidak ada sesuatunya pun yang
menjadi tirai penghalang antara abid dan ma bud , antara khaliq dan mahluk.
2. Menuju Jalan Mardhaatillah:
ialah menuju jalan yang diredhai Allah SWT baik dalam
ubudiyah mahupu luar ubudiyah alhasil dalam segala gerak geri manusia,
diwajibkan mengikuti dan mentaati perintah-perintah Tuhan dan menjauhi serta
meninggalkan larangan-laranganNya.
3. Kemahabbahan dan Kemakrifatan terhadap Allah SWT:
artinya: Rasa cinta dengan terang makrifat terhadap
Allah ” Dzat Laisaka mithlihi syai`un ” , yang mana dalam mahabbah itu
terkandung keteguhan jiwa dan kejujuran hati. Kalau telah tumbuh mahabbah
timbullah rupa-rupa hikmah, di antaranya membiasakan diri dengan selurus-lurusnya
dalam hak dzohir bathin, dan dapat pula mewujudkan ” keadilan “, yakni dapat
menetapkan sesuatu dalam haknya dengan sebenar-benarnya. Pancaran daripada
mahabbah datang pula belas kasihan kepada sesama makhluk, diantaranya cinta
pada nusa kesegala bangsa berserta agamanya.
Thoreqah Qodiriyah Naqsyabandiyah ini adalah salah
satu jalan yang ditempuh buat membukakan diri agar tercapai arah tujuan yang
tersebut di atas tadi.
– KHA Sohibulwafa Tajul Arifin.
TANBIH
Bismillaahir rahmaanir rahiim.
Tanbih ini dari Syeikhuna Almarhum Syeikh Abdullah
Mubarak bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kejembaran
Rahmaniah.
Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria
mahupun wanita, tua mahupun muda,
“ Semoga ada dalam kebahagiaan, dikurniai Allah
Subhanahu Wa Ta`ala kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul
keretakan dalam lingkungan kita sekalian.
Pun pula semoga Pimpinan Negara bertembah kemuliaan
dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam
keadaan aman, adil dan makmur dzohir mahupun bathin.
Pun kami tempat orang bertanya tentang THORIQAT
QODIRIAH NAQSYABANDIAH, mengatur dengan tulus ikhlas Wasiat kepada segenap
murid-murid :
Berhati-hatilah dalam segala hal, jangan sampai
berbuat yang bertentangan dengan Peraturan AGAMA mahupun NEGARA.
Taatilah kedua-duanya tadi sepantasnya demikianlah
sikap manusia yang beriman, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap hadirat
Ilahi Rabbi yang membuktikan perintah dalam AGAMA mahupun NEGARA.
Insafilah hai murid-murid sekalian, janganlah terpaut
oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan Syaitan, waspadalah akan jalan
penyelewengan terhadap perintah Agama mahupun Negara, agar dapat meneliti diri,
kalau-kalau tertarik oleh bisikan Iblis yang selalu menyelinap dalam hati
sanubari kita semua.
Lebih baik buktikanlah kebajikan yang timbul dari
kesucian:
i. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada
kita, baik dzohir mahupun bathin, harus kita hormati, begitulah seharusnya
hidup rukun, saling harga menghargai.
ii. Terhadap sesama sederajat dengan kita dalam
segala-galanya, jangan dampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap
rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah Agama mahupun Negara,
jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena
firmanNya ” adzabun Alim “, yang bererti duka nestapa untuk selama-lamanya dari
Dunia sampai Akhirat (Badan payah hati susah).
iii. Terhadap orang-orang yang keadaannya di bawah
kita, janganlah hendak menghinanya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh.
Sebaliknya harus belas kasihan dengan kesedaran, agar mereka merasa senang dan
gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat
hatinya. Sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasihat yang lemah lembut
yang akan memberikan keinsafan dalam menginjak jalan kebajikan.
iv. Terhadap fakir miskin, harus kasih sayang, ramah
tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan menceminkan bahawa hati kita
sedar. Cuba rasakan diri kita peribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan
kekurangan, oleh kerana itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendiri yang
senang, kerana mereka jadi fakir miskin itu bukanlah kehendak sendiri, namun
itulah kudrat Tuhan.
Demikianlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesedaran,
meskipun terhadap orang-orang asing kerana mereka itu masih keturunan Nabi Adam
a.s. , mengingat ayat 70 surah al-isra yang artinya :
” Sangat kami muliakan keturunan Adam dan Kami
sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga kami mengutamakan
mereka lebih utama dari makhluk lainnya “
Kesimpulan dari ayat ini, bahawa kita sekalian
seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat surah
al-maidah yang ertinya :
” Hendaklah tolong menolong dengan sesama dalam melaksanakan
kebajikan dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap Agama mahupun Negara,
sebaliknya janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap
perintah Agama mahupun Negara “.
Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing,
mengingat Surah al-Kafirun ayat 6 : “ Agamamu untuk kamu, Agamaku untuk Aku “.
maksudnya janganlah terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai,
saling harga menghargai, tetapi janganlah sekali-kali ikut campur.
Cubalah renungkan pepatah leluhur kita : Hendaklah
kita bersikap budiman, tertib dan damai, andaikan tidak demikian, pasti : ”
Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna “ kerana yang menyebabkan
penderitaan diri peribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri.
Dalam Surah an-Nahli ayat 112 diterangkan bahawa : ”
Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan beberapa contoh, yakni tempat mahupun
kampung, desa mahupun negara yang dahulunya aman tenteram (gemah rimpah loh
jinawi), namun penduduknya/penghuninya mengengkari nikmat-nikmat Allah, maka
lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan yang disebabkan
sikap dan perbuatan mereka sendiri “.
Oleh kerana demikian, hendaklah segenap murid-murud
bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna kebaikan dzohir-bathin,
dunia mahupun akhirat, supaya hati tenteram, jasad nyaman, jangan sekali-kali
timbul persengketaan, tidak lain tujuannya ” Budi Utama_Jasmani Sempurna “
(Cageur-baguer).
Tiada lain amalan kita, Thoriqat Qodiriah
Naqsyabandiah, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebajikan, menjauhi
segala kejahatan dzohir-bathin yang bertalian dengan jasmani mahupun rohani
yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya Syaitan.
Wasiat ini harus dilaksanakan dengan saksama oleh
segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan Dunia dan Akhirat.
Amin.
Patapan Suryalaya, 13 Februari 1956,
Wasiat ini disampaikan kepada sekalian Ikhwan.
( KHA Sohibul wafa Tajul Arifin )
UNTAIAN MUTIARA :
Jangan benci kepada Ulama yang sezaman.
Jangan menyalahkan kepada pengajaran orang lain.
Jangan memeriksa murid orang lain.
Jangan berubah sikap meskipun disakiti orang.
Harus menyayangi orang yang membenci kepadamu.
Wasalam
ABAH ANOM
Tokoh pertama adalah Abah Anom. Kedudukannya
sebagai seorang mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sekaligus ulama
sepuh membuatnya menjadi tempat berteduh bagi jiwa-jiwa yang dahaga. Sebagai
orang tua yang telah kenyang dengan asam garam kehidupan Abah Anom dengan arif
menerima kunjungan tamu-tamunya, siapapun adanya dan apapun kepentingannya.
Hidupnya dengan ikhlas dipersembahkan untuk melayani umat manusia.
Belum lagi kemasyhuran pesantren Suryalaya
sebagai tempat penyembuhan penagih dadah dan penyakit psikis dengan metode
Islamic Hidrotherapy, dimana kaedahnya disusun oleh Abah Anom. Metode ini
menggabungkan konsep cold turkey system yang diislamkan melalui mandi taubat,
serangkaian shalat dengan dzikir ala Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Program ini bertujuan untuk membantu program pemerintah Indonesia pada tahun
1971, ianya masih diteruskan dan dilembagakan dalam pesantren remaja Inabah.
Abah Anom yang sejak muda tidak makan daging
dan selalu minum air putih itu adalah putra kelima KH. Abdullah Mubarak bin Nur
Muhammad (Abah Sepuh) dari istri keduanya Hj. Juhriyah. Ia memang disiapkan
ayahnya untuk meneruskan kepemimpinan thariqah di Suryalaya. Selepas pendidikan
dasar(rendah) di sekolah dan pesantren orangtuanya, pada tahun 1930 Abah Anom
memulai pengembaraan menuntut ilmu agama Islam secara lebih mendalam.
Diawali dengan mengaji ilmu fiqih di
pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu alat dan balaghah di
pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah dua tahun di Jambudipa ia melanjutkan
mengaji pada ajengan Syatibi di Gentur Cianjur dan ajengan Aceng Mumu di
pesantren Cireungas Sukabumi yang terkenal dengan penguasaan ilmu hikmahnya
pada 2 tahun berikutnya. Kegemaran akan ilmu silat dan hikmah kemudian
diperdalam di pesantren Citengah Panjalu yang diasuh oleh Ajengan Junaidi,
seorang ulama ahli ilmu alat dan hikmah.
Kematangan ilmu Abah Anom di usia 19 tahun
diuji dengan kepercayaan yang diberikan oleh Abah Sepuh untuk membantu mengasuh
pesantren Suryalaya sampai beliau wafat pada tahun 1956 dalam usia 120 tahun.
Dua tahun sebelum wafat Abah Sepuh mengangkat Abah Anom menjadi wakil
talqinnya, kemudian menjadi mursyid penuh Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
sekaligus pengasuh pesantren menggantikan Abahnya yang sering tidak sihat.
Manajer Handal
Beban tanggung jawab yang begitu berat
tertumpu dibahunya di usianya yang baru mengjangkau 41 tahun, menenggelamkan
Abah Anom ke dalam samudera riyadhah. Kecintaannya kepada pesantren, thariqah
dan umat melarutkan hari-harinya dalam ibadah, tarbiyah dan doa.
Sepanjang sisa hidupnya Abah Anom hampir
tidak pernah tidur, demikian cerita salah satu keponakan Abah Anom yang pernah
mengabdi di rumahnya. Di luar kegiatan ibadah mahdlah, mengajar dan kunjungan,
Abah Anom menghabiskan seluruh waktunya dengan melakukan dzikir khafi. Setiap
kali datang rasa mengantuk, Abah Anom segera berwudhu dan shalat sunah lalu
melanjutkan dzikirnya.
Selain berdzikir, Abah Anom juga seorang
manajer yang handal. Di tangannya Suryalaya, yang dulunya pesantren kecil di
tengah hutan, berkembang pesat menjadi salah satu pesantren yang sangat
disegani di negeri ini. Santri (murid) dan pengikutnya yang mencapai angka
jutaan tersebar di seluruh Indonesia bahkan negeri-negeri tetangga seperti
Malaysia, Singapura, Thailand dan lain sebagainya. Jumlah ini mencakup sekitar
3000 santri yang bermukim untuk belajar dan kuliah di lingkungan pesantren
Suryalaya, alumni, puluhan santri remaja Inabah serta jutaan ikhwan-akhwat
Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN).
Kini di usianya yang semakin senja, Abah
Anom tidak lagi secara intens mendampingi santrinya. Tubuhnya yang semakin
lemah tak lagi mampu mensejajari semangat dan kecintaannya kepada sesama.
Karena itu beberapa tahun belakangan semua urusan pesantren dan thariqah
diserahkan kepada 3 orang yang ditunjuk sebagai pemegang amanat, yang terdiri
dari KH. Zainal Abidin Anwar, KH. Dudun Nur Syaidudin dan KH. Nur Anom Mubarok.
Namun demikian dengan sisa-sisa tenaga yang
semakin lemah Abah Anom tetap menggagahi menerima semua tamu yang
mengunjunginya dari berbagai pelosok tanah air, walau hanya sekedar dengan
berjabat tangan. Juga diyakini, secara ruhaniah Abah Anom masih akan terus
mengasuh jiwa-jiwa yang membutuhkan tetes demi tetes embun hikmah yang mengalir
dari kejernihan telaga hatinya.
Tarikat di India