BAGIAN KE-EMPAT
MARI BER-TASAWUF, SEBAGAI WARISAN CUCU NABI MENUJU PENGENALAN KEPADA ALLAH S.W.T
IV.1.1. PENGERTIAN TASAWUF
Kata shufi baru dikenal sesudah abad ke tiga
hijriyah. Kata ini sering digunakan oleh para imam mazhab dan para Syeikh
tarikat, seperti Imam Ahmad bin Hambal (241 H), Abu Sulaiman Abdurrahman bin
Utbah al-Darani, dikenal dengan nama Abu Sulaiman al-Darani (215 H/830 M) dan
lain-lain. Orang yang mula-mula menggunakan kata shufi ialah Abu Abdullah bin Sa’id bin Masruq al-Sauri al-Kufi,
dikenal dengan nama Sufyan as-Sauri (97 H/715 M), dan ada pula yang mengatakan
Al-Hasan bin Abi al-Hasan Abu Sa’id, dikenal dengan nama Hasan al-Basri (110
H/728 M).
Para ahli
berbeda pendapat tentang asal kata shufi,
antara lain sebagai berikut :
a.
Tasawuf berasal dari kata Shafayang berarti
bersih, karena tujuan para sufi
adalah untuk
membersihkan hatinya di hadapan Tuhannya.
b.
Tasawuf berasal dari kata Shuffah, yaitu suatu
serambi masjid Nabawi di Madinah. Serambi tersebut ditempati oleh para sahabat
Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin, tetapi imannya kuat, berhati bersih
dan rajin beribadah, serta tidak mementingkan kehidupan duniawi. Mereka ini
disebut Ahlus Suffah, yang makan dan minum mereka dibelanjai oleh para
dermawan di kota Madinah. Di antara yang mendiami shuffah itu ialah Abu
Darda, Abu Zar, Abu Hurairah, dan lain-lain.
c.
Tasawuf berasal dari kata Shaff, artinya barisan shaff
ketika mendirikan shalat. Sebab seseorang yang kuat imannya dan rajin beribadah
serta bersih hatinya selalu memilih shaff yang pertama di kala dia
mendirikan shalat.
d.
Tasawuf berasal dari kata Shaufanah, yakni
buah-buahan kecil dan berbulu, yangbanyak tumbuh di padang pasir di negara
Arab.
e.
Tasawuf berasal dari bahasa Yunani, yaitu Thea dan
Shofos.
Thea berarti Tuhan dan shofos berarti hikmah. Jadi Thea
Shofos berarti Hikmah Ketuhanan. Hal ini disebabkan karena banyak
sekali pengaruh Filsafat Yunani, terutama Filsafat Neo-Platonisme mempengaruhi
dunia Islam. Jadi tasawuf itu bukan asli dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa
Yunani yang di-Arabkan. Namun, pendapat ini kalau dilihat dari sudut etimologi
(bahasa), nampaknya masih bisa diragukan. Karena huruf s pada kata shofos
ditransliterasikan ke dalam bahasa Arab menjadi sin dan bukan shad seperti
dalam kata falsafah dari kata philosophia. Dengan demikian, kata shufi
seharusnya ditulis sufi, dan bukan shufi.
f.
Tasawuf berasal dari kata Shuf, artinya baju yang
terbuat dari kain yang berasal dari bulu yang kasar.
Karena para
sufi senang hidup sederhana. Sebagai gambaran kesedarhanaan mereka dipakainya
baju yang terbuat dari kain yang berasal dari bulu yang kasar (shuf).
Istilah
inilah yang paling cocok dan lebih bisa diterima dengan pengambilan bahasa yang
disebut gramatika bahasa Arab.
Pendapat seperti ini dikemukakan oleh
Al-Kalabadzi. Pengertian seperti ini akan semakin jelas apabila kita kaitkan
dengan latar belakang munculnya para sufi dalam sejarah umat Islam, yang
diperintah oleh penguasa yang tenggelam dalam kehidupan yang serba mewah dan
bergelimang dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan noda dan dosa.
Dalam
suasana yang seperti itu, muncullah para zahid, yang protes dengan cara hidup
demikian, mereka malah lari sangat jauh ke dalam kehidupan yang mereka anggap
lebih baik, yaitu kehidupan sangat sederhana, mereka dekati kehidupan ukhrawi,
dan menjauhi kehidupan duniawi.
Dari berbagai istilah yang diambil dari
beberapa kata tersebut di atas, dapat kita ambil pengertian bahwa istilah sufi
mengandung dua aspek, yaitu aspek lahiriah dan aspek batiniah. Dari aspek
lahiriah tergambar bahwa para sufi itu senang menjalani kehidupan yang serba
sederhana, mereka memakai pakaian yang murahan, makan dan minum seadanya, hanya
untuk menyambung hidup, dan menghindarkan diri dari kedinginan, kehausan dan
kelaparan, mereka tidak mementingkan hasrat jasmani dan kehidupan yang bersifat
duniawi (zuhud). Aspek kedua, aspek batiniah, terlukis pada sifat mereka
lebih mementingkan ketulusan dan kesucian hati, kemuliaan, dan senang
beribadah, senang berzikir, puasa, shalat, membaca Alqur’an, dan lain-lain.
Mereka selalu berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Suci.
4.1.2. PERINTIS PERTAMA ILMU
TASAWUF
Pengantar
dan Perintis yang pertama dalam ilmu bathin, atau ilmu hakikat/ilmutasawuf
adalah RASULULLAH sendiri.
Kemudian
dijadikan suatu pelajaran, dan ilmu tersendiri oleh Syaidina ALI
KARAMMULLAHUWAJHAH, kemudian dilanjutkan oleh HASAN BASRI anaknya.
Hairah yang
menjadi pembantu peribadi Ummu Salamah yaitu ketika HASAN BASRI masih kecil
ilmu ini sudah mulai melimpah kepada beliau, karena dekatnya kepada Rasulullah S.A.W.
Kemudian Ahli
kebatinan yang pertama sekali ialah : ABU HASYIM AL KUFI, beliau berasal dari
koufah yang meninggal pada tahun 150 atau tahun 761 M. Adapun sumber ilmu
tasawuf itu adalah dari AL QUR’AN dan AL HADITS.
Dan menuntut
ilmu ini adalah hukumnya Fardhu ain. Maka barang siapa tidak peroleh ilmu ini
ditakuti mati dalam kekafiran.
4.1.3.
PENGAMALAN ILMU TASAWUF
Sekarang
kita teruskan pula kepada pelajaran yang kita tuju,yaitu Ma’rifatullah,artinya
MENGENAL ALLAH AZZA WAZALLA.
Jadi
sebelum kita mengenal Tuhan,kenalilah DIRI. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah
s.a.w : MAN ARAFA NAFSAHU FAQAD AROFA ROBBAHU,artinya :Barang siapa mengenal
akan dirinya,niscaya mengenal akan tuhannya.
Perjalanan
itu dimulai dari dalam diri kita sendiri,perjalanan itu dimulai dari dalam
terus kedalam,akhirnya serta alam dengan keindahannya dan dengan
keganjilannya,hanyalah sebagai saksi pencari diri.
Jadi sebelum
kita mengenal Tuhan,maka kenallah diri,sebelum kita mengenal diri lebih
dahulu,kenallah Adam lebih dahulu,dan sebelum kenal kepada Adam kenallah
MUHAMMAD lebih dahulu.Demikianlah orang yang hendak mengenal diri dan mengenal
akan tuhan Allah Azza Wazalla.
Baiklah kita
mulai dengan ayat yang berbunyi : INNALAHA KHOLAQO QOBLAL ASIA INNURI NABIYUKA.
Bahwasanya Allah Talala menjadikan dahulu daripada segala asia itu ilah NUR
NABIMU. Diriwayatkan oleh ZABIR beliau pernah juga bertanya kepada Nabiallah S.A.W.
; yaitu dijawab oleh Nabi AWWALUMA KHOLAQOL LAHU TAALA NURI NABIYIKA,YA ZABIR.
Mula mula dijakan AllahTa’ala daripada segala asia itu ialah : NUR NABIMU ya
ZABIR.
Maka nyatalah
RUH NABI itu dijadikan dahulu daripada segala asia itu,dan lagi dijadikan ia
daripda Zatnya jua,tetapi sebelum tuhan menjadikan NUR MUHAMMAD,Tuhan telah
mengatakan dalam kitabnya Al’quranul qarim yang berbunyi : artinya : Pertama
kujadikan ILMU sebelum kujadikan NUR MUHAMMAD. Maka nyatalahkepada kita bahwa :
NUR MUHAMMAD.
Maka nyatalah
kepada kita bahwa NUR MUHAMMAD itu jadi daripada ILMUNYA dan daripada KUDRAT
DAN IRADATNYA jua,seperti kata Syeh ABDUL WAHAB SYAHRANI : INNALAHA KHOLAQOR
RUHUN NABIYI MUHAMMADIN MINZATIHI,WAKNOLAQOR RUHUL ALIMU MINNURI MUHAMMAD
S.A.W. Bahwasanya Allah Ta’ala menjadikan Roh nabi itu daripada Zatnya jua, dan
daripda ilmunya jua, dan serta qudrat dan iradatnya. Dan menjadikan Roh
sekalian alam ini daripada NUR MUHAMMAD S.A.W., Maka nyatalah kepada kita bahwa
Roh sekalian alam ini daripada NUR MUHAMMAD jua.
Dan
segala batang tubuh kita ini nyata daripada Adam,tetapi Nabi Adam itu dijadikan
daripada tanah,seperti firman Allah Ta’ala dalam AL qur’an : KHOLAQOL INSANA
MINTIN artinya : Aku jadikan Insan Adam itu daripada tanah dan tanah itu jadi
daripada Air, dan Air itu jadi daripada NUR MUHAMMAD S.A.W., jua. Maka nyatalah
kepada kita bahwa Roh kita dan batang
tubuh kita ini jadi daripada NUR MUHAMMAD; maka wajarlah kita ini bernama
MUHAMMAD. Dan nyatalah bahwa kalau Roh kita dan batang tubuh kita ini daripada
Nur Muhammad. Maka kita ini tiada lain dan tiada bukan,pada Hakikatnya Nur
Muhammad jua. Dan kalau telah jelas dalam hati marifatakan hakikat Nur Muhammad
itu, maka hendaklah engkau mesrakan Nur Muhammad itu kepada Roh dan kepada
batang tubuhmu dan kepada seluruh kainat.
Kalau
sudah benar-benar mesra,insya allah engkau akan melihat keelokan zat yang
wajibal wujud.Sekarang baiklah kita teruskan kepada membicarakan tentang
mengenal diri,yaitu sekalian nanti bab yang akan datang kita perdalam lagi
menurut yang semestinya.
Dan Syeh ABDUL
RA’UF berkata : yang sebenar-benar diri itu ialah nyawa. Yang sebenar-benarnya
nyawa itu ialah Nur Muhammad. Dan yang sebenar-benarnya Nur Muhammad itu ialah
sifat. Yang sebenar-benarnya sifat itu ialah zat. Tetapi disini bukan zat
hayun,tapi zat hayat.
Dan
lagi kata aribillah : Bermula yang sebenar-benarnya diri itu ialah Roh,tatkala
ia nasab sekalian tubuh,nyawa namanya. Tatkala keluar masuk nafas namanya.
Tatkala ia berkehendak hati namanya. Tatkala ia ingin akan sesuatu nafsu
namanya. Tatkala ia memilih akan sesuatu ihtiar namanya. Taktkala ia dapat
memperbuat akan sesuatu akal namanya. Dan tatkala ia yakin akan sesuatu iman
namanya. Jadi pohon akal itu adalah ilmu. Inilah yang disebut yang se-benar
benar diri. Tetapi janganlah terhenti kepada roh itu saja, teruskanlah kepada
yang hak. (kepada Allah Ta’ala).Dan firman Allah Ta’ala dalam Al qur’an :
ANA MINNURILAH
WAL ALIMU MINNUR,artinya : Dari pada cahaya Allah,dan sekalian Ilmu daripada
cahayaKu. Tetapi Nur disini bukan lah menurut pahaman umum yang berlaku ia
bukan zat,bukan benda dan bukan materi,tetapi diatas segala-galanya. Insya
Allah kita akan bertemu juga dengan NUR cerlang cemerlang itu. Sekarang kita teruskan kepada firman Allah :
KHOLAQTUKA LIADJLI WA KHOLAQTUL ASNI LIADJLIKA, artinya : Aku jadikan engkau
karenaku ya Muhammad dan Aku jadikan sekalian alam itu karenamu ya Muhammad.
Jadi dengan adanya ini tadi, maka nyatalah kepada kita bahwa Nur Muhammad itu
jadi daripada Nur Allah Jua,atau yg lazim disebut NUR ZAT atau NUR ILAHI ROBBI.
Kalau demikan
adanya,wajarlah kita ini dengan Zat Allah Ta’ala,sebab Zat itulah bermula
segala ujud. Tidak ada yang ujud, hanyalah Allah dan perbuatan Allah.
Maka adalagi
sebuah hadis qudsyi berbunyi : AL INSANU SIRRI WAANA SIRRAHU. Artinya : insan
itu rahasiaKu,dan Akupun rahasianya. Dan lagi firman yang berbunyi : AL INSANU
SIRRI WA ANA SIRRI WASIFATIN WA SIFATUN LAGOIRIH, artinya : insan itu
rahasiaku,rahasiaku itu sifatku,dan sifat itu tiada lain daripada aku jua. Jadi
yang sebenar-benarnya insan itu manusia, yang sebenar-benarnya manusia itu
ialah Af’al Allah. Yang sebenar-benarnya Af’al Allah itu ialah Sifat Allah.
Yang sebenar-benarnya Sifat Allah itu ialah Zat Allah. Karena zat dan sifat itu
tiada menerima tunggal; dan Zat dan Sifat itu tiada sekutu dan tiada pula
bercerai. Dan barang siapa menyekutukan Zat dan Sifat, atau menceraikannya,
maka tersebut dihukumkan SYIRIK KHAFI.
Orang yang
mmenceraikan itu berdosa. Orang yang
syirik itu syirik zali hidupnya penuh dosa yang tiada maaf baginya. Karena
orang yang seperti itu ia merasa bahwa dirinya yang ada. Sabda Rasulullah
S.A.W., didalam Al hadist : yang berbunyi UJUDUKA ZAMBUN QIAASALAHU LIGOIRIH.
Artinya : Syirik Khafi itu adalah dosa besar.
Jadi selama ujud
Adam masih melekat dalam dirimu,niscaya tiada sampai semua ibadatmu walau
setinggi langit. Jadi untuk melepaskan syirik khafi itu keluarlah engkau dari
diri engkau. Disini kita bicarakan sedikit tentang diri kita yang
sebenar-benarnya.Adapun diri kita ini ada tiga bagian :
Pertama ialah
diri yang sebenarnya (rahasia)
Kedua ialah diri
terperi (Muhammad)
Ketiga ialah
diri terdiri (adam).
Jadi
yang pertama tadi ialah kembali kepada yang hak. Kedua ialah kembali kepada
rasa Muhammad. Ketiga ialah yang betah tinggal kepada rasa adam semula.
Jadi
dosa besar yang tiada ampunan : kecuali kembali kepada yang sebenarnya. Insya
Allah kita uraikan panjang lebar dan lebih mendalam lagi dalam pelajaran yang
akan datang.
4.1.4. UNSUR ILMU TASAWUF
Adapun diri kita ini ada dua unsur jenis :
Pertama diri jahir berupa jasad. Batang tubuh
dengan kelengkapannya seperti ; kaki,tangan,mata hidung,mulut telinga,dan
lainnya. Serta dalam tubuh ini ada Ruh, hati, akal dan nafsu.
Yang
kesemuanya itu tergolong alam yang disebut alam sagir (alam kecil).Yang
kesemuanya itu terjadi dari unsur-unsur
api, angin, air dan tanah/bumi. Inilah yang disebut laksana kuda
tunggangan yang menjadialat nbagi hakikat Roh itulah sebagai penunggangnya.
Kedua diri bathin yang berujud qalbu atau Ruh.
Bukannya ber-ujud benda dalam tubuh, dan dia tidak akan binasa untuk selamanya.
Dialah yang sanggup memerintah jasad, dialah yang mampu mengenal Allah. Dialah
Raja kuasa. Ruh itu raja kuasa dan sanggup mengenal Allah. Apakah sebabnya dikatakan raja kuasa?
Sebabnya ialah karena
ruh ituu adalah yang menjadi tempat
majhor kenyataan terang benderangnya sifat-sifat Allah. Ruh Muhammad itulah/adalah dari NUR
menyata. Itulah yang dikatakan cahaya yang cerlang cemerlang yang tiada harapan
: Tuhan bertajali kepadanya. Sebab sifat sifat
Allah itu ada pada ZATnya.
Maka
apabila kita mendakwa kepada Ruh, maka haruslah ditembuskan pandangan kita
kepada Sifat dan Zat Allah. Supaya tidak terdinding lagi kepada Allah.
Kalau
kita terhenti kepada ruh itu saja, tidak kita teruskan kepada Allah, maka kita
terdinding kepada Allah. Kalau masih betah berdiam kepada Muhammad, ber-arti
belum kembali atau belum pulang landas kepangkalannya. Kalau sudah pernah
tinggal landas inilah yang dikatakan orang yang bergembira setiap saat.
Sedangkan Rasulullah sendiri sebagai asal usul segala kejadian,toh beliau
pulang kembali kepangkalannya,apalagi kita ini.
4.1.5. RUMUS/
MUTIFATOR DALAM TASAWUF
Hidup tubuh karena nyawa, hidup nyawa
karena Allah.
Tahu hati karena tahu Ruh, tahu Ruh
karena Allah.
Kuasa anggota tubuh karena Ruh, kuasa
Ruh karena kuasa Allah.
Berkehendak pula karena
berkehendak Ruh, berkehendak Ruh karena berkehendak Allah.
Mengdengar telinga karena mendengar Ruh,
mendengar Ruh karena mendengar Allah.
Melihat mata karena melihat Ruh, melihat
Ruh karena melihat Allah.
Berkata mulut karena berkata Ruh,
berkata Ruh karena berkata Allah.
Maka kita
rumuskan pula tentang diri bathin itu sebagai berikut dibawah ini :
Wujud
bathin,hakikatnya adalah wujud Allah.kepada kita jadi Rahasia. Maksudnya
tentang Zat Tuhan itu tidak dapat dilihat dan diraba, hanya dengan nur iman dan
dirasakan oleh sinar hati. Inilah yang dimaksud oleh hadits yang berbunyi : Al
insanu sirri wa ana sirrohu. Artinya : insanu
itu rahasiaku, dan akupun rahasianya.
Ilmu bathin,
hakikatnya adalah sifat Allah, yang kepada kita menjadi nyawa/Ruh. Dan ruh
itulah tempat majhor sifat-sifat Allah. Hingga dia kuasa memerintahkan jasad
dan lain-lainnya.Nur bathin, hakikatnya Asma Allah, yang kepada kita menjadi
hati. Maksudnya hati itu adalah tempat majhor daripada Asma Allah.
Suhud
bathin, hakikatnya adalah Afal Allah, yang kepada kita menjadi batang tubuh.
Maksunya batang tubuh kita ini adalah tempat majhor dan tempat nyata perbuatan
Allah. Jalannya adalah bahwa segala amal usaha lahir yang dilakukan ole manusia.
Tapi pada hakikatnya dan pada bathinnya adalah semata-mata perbuatan Allah.
Maka hal itu
dinamakan penyaksian Bathin. Karena amal usaha jahir itulah yang membuktikan
perbuatan bathin. Itulah yang member bekas, karena terjadi dari sifat bathin,
yang tidak bias lepas dari ujudnya : yakni Zatnya yang maha kuasa.
Demikianlah
yang dinamakan tauhidul Zat, tauhidul Sifat, tuahidul Asma, tauhidul Af’al.
maka melihat sesuatu apa saja perbuatan Allah.
Maka dengan
demikian fana lah yang lain : yakni ujud lahir dan sifat lahir,dikala itu tidak
ada yang ada kecuali bathin. Maka sekaran bathinlah yang melihat bathin/melihat
gerakan Zat.
Dari
itu maka jelaslah sekarang kepada kita bahwa yang memandang ia yang memandang. Dan kalau sudah mantap
pandangan ini, dengan sendirinya naiklah ke makam baqabillah. Karena pada makam
ini seperti ucapan ahli tasawuf, BAQA itu ialah daripada Allah, dan dengan
Allah.
4.1.6. PEMURNIAN TASAWUF
Ahli
tasawuf
sejati ialah mereka yang benar-benar memegang agama yang tulen. Ahli sufi sejati ialah mereka yang jiwanya bebas tidak
terikat oleh apa-apa atau siapapun,dan bebas menjalankan kebenaran dari Ilahi
Rabbi.
Berani mengatakan itu benar dan ini salah. Ahli tasawuf
adalah putus dengan mahluk dan erat hubungannya dengan Tuhan,pandangannya Allah
semata.
Ahli
tasawuf tidak melihat kepada dirinya lagi,hanya Allah dalam
pandangannya. Jadi siapa yang masih melihat kepada dirinya, niscaya tiada
melihat akan Tuhannya. Seluruh pandangan ruhaniyah memandang satu dalam banyak.
Dan yang banyak pada yang satu.
Tersimpun
dalam satu kesatuan yang dalam istilah sufi disebut pabrik KUN dan yang diatur
oleh seorang insinyur yang pintar ialah : ALLAH TA’ALA. Kalau pandangan kita
sudah mantap separti itu,maka hilanglah rasa takut dan gentar,kecuali kepada
Allah saja.
Jadi
pandangan seorang yang dibawah memang berbeda dengan yang diatas. Ujud selain
daripada ujud Allah adalah ujud injaman karena semua itu Allah dan Allah itu semuanya,ia
hanya pertanda dari yang sebenarnya ada.
Yang ada adalah
yang ada,yang ada ialah yang awal dan tidak ada permulaannya,yang ahir tidak
ada penghabisannya.
SABDA RASULULLAH S.A.W.
Zabir
berkata,katanya : RASULULLAH S.A.W. bersabda : Siapa dapat melakukan HUSUDHZAN
artinya ; baik sangka kapada Allah Ta’ala,sehingga ia tiada mati kecuali tetap
dalam husnudhzan terhadap Allah Ta’ala.
Maka haruslah
kita berbuat husnudhzan terhdap Allah Ta’ala dan pada sesama kita umat
MUHAMMAD.
Sesungguhnya
kata NABI,sebaik-baik fi’il / kelakuan ibadah kepada Allah ialah : baik sangka
kepada Allah. Baik sangka kepada Allah itu pertanda bahwa sudah bulat
tawakkalnya kepada Allah,dan penyerahannya kepada Allah, orang itu jaminannya
hanya Allah.
LA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHI
Artinya : TAK
ADA DAYA UNTUK BERBUAT KEBAIKAN
DAN
TAK ADA UPAYA UNTUK MENOLAK KEJAHATAN.
BUHARI MUSLIM
BERKATA :
Tak ada
dayaku untuk menolak
suatu kemelaratan atau bahaya keburukan, dan tak ada upayaku untuk berbuat
kemanfaatan,melainkan dengan Allah jua.
Jadi tidak mudah bagi kaum sufi untuk mengatakan: La hawla wala
quwwata illa billahi.
Disini hamba
tekankan janganlah kamu
berani mengatakan La hawla
Wala quwwata
illa billahi, sebelum kamu memasuki alam tasawuf. Engkau katakan itu tetapi ujudmu masih
ada, selama ujudmu masih ada, selama itu juga engkau dalam
bergelimangdalam dosa durhaka kepadanya.
Selama ujud ADAM
masih melekat dalam ingatanmu,selama itu pula engkau mempermainkan Tuhanmu. Ini
namanya lain dimulut / dihati. Kalau engkau mengatakan :
LA HAWLA WALA
QUWWATA ILLA BILLAHI.
SEBELUM ENGKAU
MATI, MAKA CELAKALAH KEMATIAANMU. Hilangkanlah ke AKUAN mu, lenyapkanlah
kesombonganmu, baru sempurna amal ibadahmu kepada Allah.
BISMILLAHI
AWWALLUH, WA AKHIRU, artinya : Awalnya Allah,ahirnya Allah.
Awalnya tidak
ada permulaannya. Dan ahirnya tidak ada penghabisannya.
MALLAM YASY
KURINNAS, LAM YASY KURILLAH. Artinya : Barang siapa tidak berterima kasih
kepada sesamanya,maka samalah ia tidak berterima kasih kepada Allah.
NUR MUHAMMAD itu adalah hakikat alam. Dan Allah
adalah hakikat alam atau hakikat ujud dalam hidup ini. Allah adalah hakikat
kekuatan dalam hidup ini. Johir Tuhan
ada dimanusia, dan bathin manusia ada di Tuhan.
Kalau anda sudah
mengerti,laksanakanlah.
Untuk memperkuat
dalil ini,hamba bawakan sebuah hadist qudsyi yang berbunyi :
AL INSANU
SIRRI,WA ANA SIRRUHU ( SIRROHU ).
Kata TUHAN :
INSAN ITU RAHASIAKU, AKUPUN RAHASIANYA.
DAN LAGI : AL
INSANU SIRRI WA ANA SIRRI, SIFATIN WA SIFATUN LA GOIRIH.
ARTINYA : INSAN
ITU RAHASIAKU DAN RAHASIA ITU SIFATKU, SIFATKU ITU TIADA LAIN DARIPADAKU.
Dalil ini dalil
nyata,tak bisa lagi diragukan. Menurut riwayat : Banyak para pemuka-pemuka
agama,ahli tasyauf dan lain-lainnya : mencari siapa DIA yang sebenarnya. Maka
datang para nabi-nabi dan rasul-rasul menyampaikan langsung,melompat dari mulut
/ lidahnya perkataan : AMALLAH LA ILAHA ILLA ANA Artinya AKU ALLAH, TIDAK ADA
TUHAN, MELAINKAN AKU.
Jadi
menurut aqidah/pendirian hamba dalam soal ini ; hamba tidak taklid dengan
siapapun,dan hamba nyatakan bahwa kalimah itu tadi adalah inti dari semua
golongan tasyauf, golongan para wali-wali,para sahabat,aulia dan anbiya dan
para nabi-nabi dan para rasul-rasul.
Jadi
kalau para nabi dan rasul demikian adanya,maka tiada lain andapun juga demikian
hendaknya.
Banyak
kaum sufi mati,karena mempertahankan pendiriannya.
Hamba sebagai
penulis buku ini menyatakan : Apabila lain
dari yang di ucapkan RASULULLAH S.A.W., itu tadi,maka : BUKANLAH IA DARI
GOLONGAN MUHAMMAD. DAN KELUAR DARI GOLONGAN MUHAMMAD. MAKA IA BUKAN TERMASUK
KELURGA TUHAN.
Didalam
Al-Qur’anul karim Tuhan mengatakan :
AKU akan
memberikan SATU kata kepadamu. Tetapi engkau tidak sanggup.
Apakah yang
dimaksud SATU kata itu ?
Inilah SATU kata itu tadi : Siapa yang sanggup dialah
keluarga Tuhan. Siapa tidak sanggup dialah keluarga syaitan.
Pilihlah antara
dua : ingin jadi pahlawan Tuhan, atau jadi pahlawan syaitan.
Siapa menjadi
kelurga Tuahan didunia ini,niscaya sampai ke-ahirat. Dan siapa menjadi keluarga
syaitan didunia ini,niscaya sampai juga ke-ahirat.
SABDA RASULULLAH
S.A.W. :
SYARIAT ITU
SEPERTI TANAH
THARIKAT ITU
SEPERTI AIR
HAKIKAT ITU
SEPERTI ANGIN
MA’RIFAT ITU
SEPERTI API
TANAH ITU BADAB
MUHAMMAD
AIR ITU NUR
MUHAMMAD
ANGIN ITU NAFAS
MUHAMMAD
API ITU
PENGLIHATAN MUHAMMAD
ADAPUN MATI
ORANG SYARIAT ITU HANCUR LULUH
ADAPUN MATI
ORANG THARIKAT ITU KURUS KERING
ADAPUN MATI
ORANG HAKIKAT ITU LAMAK GEMUK
ADAPUN MATI
ORANG MA’RIFAT ITU HILANG LENYAP
SABDA NABI S.A.W. : SYARIAT ITU LIDAHKU, TARIKAT ITU HATIKU,
HAKIKATITUKEDIAMANKU, MA’RIFAT ITU
ROHKU
PERNYATAANKU :
AKU HIDUP BUKAN
KARENA NAFAS
BUKAN KARENA
DENGAN NYAWA
BUKAN KARENA
DENGAN ROH
BUKAN KARENA ITU
DAN INI
TAPI AKU HIDUP
SENDIRINYA SEBELUM ADA KEHIDUPAN DIDUNIA INI
AKU SUDAH ADA
SEBELUMNYA ADA DUNIA YANG ADA INI
AKU ADALAH AKU
DIDALAM AKU, BER-AKU AKU
BILA AKU
BERNYATA, ITULAH AKU DALAM KEAADANKU
SEBAB KEADAANKU
ITU ADALAH KEADAANKU JUA
4.2. JALAN BERTARIQAT SUCI DIRI
LAHIR DAN BATIN
4.2.1. MELAKUKAN MANDI TAUBAT
Mandi taubat sama halnya mandi wajib yaitu dengan membasahi
sekujur tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hanya saja niatnya berbeda
dan untuk mandi taubat itu hukumnya pula sunnah.
Sebelum
lebih lanjut membahas tentang mandi taubat, terlebih dahulu kita mengenal
rukun-rukun taubat. Menurut pendapat Abdullah bin Abbas, rukun taubat ada 3
(tiga), diantaranya adalah :
4.2.2. Menyesal dalam Hati
Menyesal dalam
hati kita yang paling dalam, terhadap apa yang sudah kita
lakukan (misalnya maksiat). Hati kita benar-benar menyesali
terhadap maksiat
yang sudah kita lakukan dan tidak akan mengulangi lagi.
Intinya penyesalan dalam
hati dan hati kita menyadari bahwa maksiat yang kita lakukan
adalah dosa.
4.2.3. Dinyatakan dengan Lidah (Mengucapkan Istighfar /
Sayyidul Istighfar)
Setelah hati kita menyesali perbuatan maksiat yang telah kita lakukan, kita
juga
harus menyatakan atau mengucapkan dengan lidah kita, yaitu
dengan
istighfarأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ atauأَسْتَغْفِرُ
اللهَ العَظِيْمَ اَلَّذِي لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ
إِلَيْهِ
atau dengan lafadz Sayyidul Istighfar
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَاإِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ
خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ،
أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ
مَاصَنَعْتُ أَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ
بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لَايَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
Artinya :Ya
Allah, Engkaulah Tuhan kami, tiada Tuhan melainkan Engkau
Yangtelah
menciptakan aku, dan akulah hamba-Mu. Dan aku pun dalam
Ketentuan sertajanji-Mu yg sedapat mungkin aku lakukan. Aku
berlindung kepada-Mu dari segalakejahatan yg telah aku lakukan, aku mengakui
nikmat-Mu yang Engkaulimpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosaku, karena itu
berilah ampunankepadaku, sebab tiada yg dapat memberi ampunan kecuali Engkau
sendiri. Akumemohon perlindungan Engkau dari segala kejahatan yg telah aku
lakukan.”
4.2.4. Bertekad Kuat Tidak Akan
Mengulangi
Setelah menyesali dalam hati dan membaca istighfar, kita harus bertekad kuat
Untukdiri kita, hati
kita bahwa tidak akan mengulangi perbuatan maksiat lagi.
Biasanya orang yang benar-benar bertekat kuat ini tidak akan
mempan ketika di
ajakteman-temannya
untuk mengulangi perbuatannya lagi.
Adapun untuk mandi taubat iaitu mandi seperti mandi wajib
yakni membasahi
sekujur tubuh kita dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa
terlewatkan.
Adapun untuk Niat mandi taubat adalah sebagai berikut;
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِلتَّوْبَتِ عَنْ جَمِعِ الذُّنُوْبِ
لِلَّهِ تعَلَ
Artinya: Sengaja aku niat mandi taubat dari segala dosa
dhahir dan batin, karena
AllahTa’ala.
Itulah rukun taubat dan niat mandi
taubat yang patut kita amalkan, karena sebagai manusia biasa kita pasti tidak
luput dari yang namanya dosa, dosa dan dosa. Maka dengan membaca istighfar atua
sayyidul istighfar setiap saat serta mandi taubat semoga sedikit demi sedikit
dosa-dosa kita diampuni oleh Allah S.W.T.
Kita juga dianjurkan untuk melakukan
Shoat Sunah Taubat agar supaya taubat kita benar-benar taubatan nasuha.
IV.3.1.HUKUM
BERWUDUK MENURUT MAZHAB SYAFIE DANHAMBALI
Hukum berwuduk adalah:
1. WajibKetika hendak mengerjakan
ibadat tertentu yang dimulakan dengan
niat.
2. SunatKetika hendak mandi wajib
Hendak membaca al Quran, hadis
Ketika hendak tidur
Ketika marah
Fardu WudukCara berwuduk di dalam Islam berbeza sedikit
mengikut mazhab:
Menurut Mazhab SyafieFardu/Rukun wuduk ada enam:
1.Niat,
2. Membasuh muka,
3. Membasuh kedua tangan hingga ke
siku
4. Menyapu sebahagian kepala atau
sebahagian rambut di dalam hadnya
5. Membasuh kedua kaki hingga ke
buku lali
6. Tertib
Menurut Mazhab HambaliFardu/Rukun wuduk ada tujuh:
1.Niat
2.Membasuh muka
3.Membasuh dua tangan hingga ke siku
4. Menyapu semua kepala
5. Membasuh dua kaki
6. Tertib
7. Berturut-turut
Batal Wuduk
Menurut Mazhab Syafie
Ada beberapa perkara yang dapat membatalkan wuduk, antaranya
adalah:
1. Keluar sesuatu dari dua jalan (qubul atau dubur).
2. Hilang akal, sama ada sementara atau kekal.
3. Bersentuhan kulit antara lelaki dan perempuan yang bukan
mahram.
4. Menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan telapak
tangan.
5. Tidur, kecuali apabila dalam keadaan duduk dan tidak
berubah kedudukannya.
6. Murtad
Menurut Mazhab Hambali
Ada beberapa perkara yang dapat membatalkan wuduk, antaranya
adalah:
1. Keluar sesuatu dari dua jalan (qubul atau dubur).
2. Menyentuh perempuan yang halal dinikahi (bukan mahram)
dengan syahwat
3. Menyentuh kemaluan manusia tanpa berlapik
4. Tidur, kecuali tidur ringan samada berdiri atau duduk
5. Makan daging unta
6. Murtad
7. Memandikan mayat
8. Keluar apa jua najis dari tubuh badan
Kesempurnaan Wuduk
Berikut merupakan cara-cara mendapatkan wuduk yang lebih
sempurna:
* Mendahulukan bahagian tubuh yang sebelah kanan
* Mengulangi membasuh setiap anggota wuduk sebanyak 3 kali
* Tidak berkata-kata
* Menghadap kiblat
* Berniat
* Membaca basmalah
* Membasuh telapak tangan hingga ke pergelangan
* Berkumur
* Menggosok gigi (bersiwak)
* Membersihkan hidung
* Membasuh muka
* Membasuh tangan hingga ke siku
* Mengusap sebagian kepala
* Mengusap kedua telinga; luar dan dalam
* Membasuh kaki hingga ke buku lali
* Membaca doa sesudah berwuduk
* Bersolat sunat wuduk sebanyak 2 raka’at.
* Tertib (berurutan)
Perkara-perkara Sunat Ketika Berwuduk
Menghadap ke arah Kiblat.
* Membaca “Auuzubillah himinasyaitonirrajim” “Bismillah
hirrahmannirrahim”.
* Membasuh kedua telapak tangan hingga kepergelangan tangan sebelum berwudhu’.
* Berkumur atau bersugi.
* Memasukkan sedikit air ke dalam hidung untuk
membersihkannya dan
mengeluarkannya kembali.
* Menyapu air ke kepala.
* Memusing-musingkan cincin jika ada di jari.
* Menjelai-jelai janggut atau misai dengan air sehingga
rata.
* Menjelai jari-jari tangan dan kaki.
* Mendahulukan basuhan anggota kanan daripada yang kiri.
* Mengulang 3 Kali setiap basuhan.
* Jangan meminta bantuan orang lain seperti tolong
menuangkan air sewaktu
berwudhu’.
* Jangan mengelap atau mengeringkan anggota wudhu’ dengan kain atau sebagainya.
* Elakkan percikkan air jangan sampai jatuh semula ke bekas atau ketimba.
* Berjimat ketika menggunakan air.
* Jangan berkata-kata atau bersembang ketika mengerjakan
wudhu’.
* Membaca Doa Selepas wudhu’setelah selesai berwudhu’.
Fadhilah(Faedah yang diperolehi)dari Wuduk
Secara amnya kita mendapati wuduk adalah salah satu langkah
wajib atau syarat untuk memastikan solat atau sembahyang yang dilakukan oleh
umat Islam itu dianggap sah.Serta memastikan kebersihan anggota badan dan kesucian
rohani dan jiwa itu sentiasa terpelihara.
Namun demikian terdapat fadhilah lain juga boleh diperolehi
oleh orang yang bersifat ikhlas dan menyempurnakan wuduknya dengan baik
sekali.Misalnya:
Sabda Rasullullah S.A.W:
“Siapa yang mengambil wudhuk dengan baik,dosa-dosanya keluar
dari badannya sehingga keluar dari bawah jari-jarinya.” (Hadis Riwayat Muslim)
Sabda Rasullullah S.A.W:
“Siapa yang mengambil wudhuk dengan baik kemudian dia
berkata,Asyhadu al laa ilaaha illAllah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna
Muhammadan ‘Abdahu wa rasulluh, Allah hummaj ‘alni minat tawwaabin, waj’alni
minal mutatohhiriin maksudnya:Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah
satu(Tuhan) saja tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahaa Muhammad itu
adalah hamba dan utusan-Nya.
Allah jadikanlah aku dari kalangan orang yang banyak
bertaubat dan jadikanlah aku dari kalangan orang yang menyucikan diri, akan
dibuka untuknya kesemua lapan pintu-pintu syurga agar dia memasukinya dari mana
dia suka.
(Hadis Riwayat Al-Tarmizi); (Sahih:Sahih Al-Tarmizi) dan
Al-Nasai ; Sahih : Sahih Al-Nasai.
4.3.2.MELAKSANAKAN SALAT SUNAT TAUBAT
Di antara rahmat Allah S.W.T kepada
para hamba-Nya adalah dengan memberikan peluang dan ruang untuk mereka kembali
kepada-Nya setelah melakukan maksiat dan dosa. Pintu taubat itu sentiasa
terbuka bagi sesiapa sahaja yang mencarinya.
Taubat berasal dari perkataan تاب إلى الله توبا iaitu
kembali kepada Allah dengan sebenar-benar kembali. Ia juga membawa maksud
meninggalkan maksiat. Manakala istitabah membawa erti meminta seorang untuk
bertaubat. Rujuk Basooir Zawi Al-Tamyiiz (2/304).
Manakala dari sudut istilah, taubat
adalah sebagaimana yang didefinisikan oleh Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi
Rahimahullah: Sesungguhnya taubat itu adalah suatu ibarat terhadap penyesalan
yang mewariskan keazaman dan kehendak (untuk meninggalkan dosa), serta
penyesalan tersebut mewariskan ilmu bahwa maksiat-maksiat itu merupakan
penghalang di antara seseorang itu dengan kekasihnya.
Rujuk Al-Mughni, Ibn Qudamah (14/192).
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Saidina Abu Bakr
Al-Siddiq R.anh beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah S.A.W bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ
يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ
اللَّهُ لَهُ ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا
فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ إِلَى آخِرِ الآيَةِ
Maksudnya: Tidak ada seorang hamba yang melakukan satu dosa,
lalu dia memperelokkan dalam bersuci dan dia kemudiannya bangun lalu
mengerjakan solat dua rakaat dan memohon keampunan kepada Allah melainkan Allah
akan mengampunkan dosanya. Kemudian dia membaca ayat ini:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا
أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ
Maksudnya: Dan mereka yang apabila melakukan satu dosa atau
menzalimi diri mereka kemudian mereka mengingati Allah. [Surah Aali Imran: 135]
Riwayat Abu Dawud (1521)Berdasarkan
hadis di atas, baginda Nabi S.A.W memberikan suatu cara untuk seseorang yang
telah melakukan dosa itu membersihkan diri mereka dari perbuatan tersebut.
Yaitu dengan cara mengambil wuduk dengan sempurna, kemudian
menunaikan solat dua rakaat dan dituruti dengan istighfar kepada Allah S.W.T.
Kata al-Syeikh Mulla ‘Ali Al-Qari Rahimahullah apabila
mensyarahkan hadis ini:
Yang dimaksudkan dengan beristighfar di dalam hadis ini
adalah taubat yang berterusan dan berhenti dari melakukan maksiat tersebut
seerta berazam untuk tidak kembali melakukannya buat selamanya. Rujuk
Al-Mirqaat Al-Mafatiih, Mulla, Ali Al-Qari (3/988).
4.3.3. Tatacara Salat Taubat
Berikut beberapa cara dalam melakukan solat taubat berdasarkan riwayat-riwayat
yang sahih daripada Nabi S.A.W. Seseorang yang ingin mengerjakan salat taubat
perlulah:
Mengambil wuduk dengan sempurna.
Dalam arti kata lain dengan meraikan perkara-perkara wajib
dan sunat ketika wuduk. Sebahagian ulama lain menterjemahkan perkataan bersuci
di dalam hadis tersebut sebagai mandi, dan mandi dengan air yang sejuk itu
adalah lebih sempurna.
Ini berkemungkinan diambil daripada sabda Nabi S.A.W:
اللهم اغسل خطاياي بالماء والثلج والبرد
Maksudnya: Ya Allah, basuhkanlah dosa-dosaku dengan air,
salji, dan kesejukan.
Kata Syeikh ‘Ali Al-Qari: Pada hadis tersebut isyarat kepada
menyejukkan jantung hati daripada kepanasan hawa nafsu. Rujuk Al-Mirqaat
Al-Mafatih (3/988).
Kami lebih cenderung bahwa bersuci di dalam hadis tersebut
adalah merujuk kepada berwuduk. Ini berdasarkan siyaq al-hadis (konteks hadis)
yang menunjukkan bersuci itu datang sebelum menunaikan salat.
4.3.4. Menunaikan salat dua rakaat.
Inilah yang masyarakat kita namakan
sebagai solat sunat taubat, walaupun tidak dinyatakan penamaan ini di dalam
hadis. Manakala berkenaan apakah yang perlu dibaca di dalam salat, terdapat
sebuah riwayat daripada Ibn Al-Sunni yang mengatakan supaya dibaca surah
Al-Kafirun dan juga surah Al-Ikhlas.
Demikian juga boleh untuk dibaca ayat yang terdapat di dalam
hadis tersebut yaitu ayat ke-135 dari surah Aali Imraan, ataupun ayat yang
berikut:
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ
يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Maksudnya : Dan siapa yang melakukan suatu keburukan atau
dia menzalimi dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah nescaya dia akan
mendapati bahwa Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Surah Al-Nisaa:
110]
Inilah surah-surah atau ayat yang boleh dibaca semasa salat
sunat taubat, dan kami berpandangan bahwa boleh juga untuk dibaca surah-surah
atau ayat-ayat lain yang mudah untuk dibaca oleh seseorang yang mengerjakan salat
sunat ini. Berdasarkan keumuman firman Allah S.W.T:
فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
Maksudnya: Dan bacalah kalian apa yang mudah daripada
al-Quran. [Surah Al-Muzzammil: 20]Beristighfar kepada Allah S.W.T.
Sesudah seseorang itu selesai menunaikan salat sunat taubat, hendaklah dia
melazimi
dan memperbanyakkan istighfar kepada Allah S.W.T. Kami berpandangan bahwa hal ini adalah berdalilkan firman
Allah S.W.T:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا
أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Maksudnya: Dan mereka itu apabila
melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka, maka mereka mengingati
Allah lalu beristighfar ke atas dosa-dosa mereka.
Dan siapakah yang mengampunkan dosa selain Allah. Serta
mereka tidak berterusan terhadap apa yang telah mereka lakukan dalam keadaan
mereka mengetahui. [Surah Ali Imran: 135]
Istighfar boleh sahaja dilakukan dengan mengucapkan lafaz
‘’Astaghfirullah’’, ataupun istighfar dalam ertikata lain adalah bertaubat
kepada Allah S.W.T. Iaitu seseorang itu menyesal terhadap maksiat yang
dilakukan, berhenti dari melakukannya, serta berazam untuk tidak mengulanginya
kembali buat selamanya.
Semoga dengan penjelasan ini dapat membantu kita dalam
melakukan salat sunat taubat dengan sebaik mungkin. Semoga Allah S.W.T menerima
taubat kita dan membersihkan jiwa-jiwa kita daripada kegelapan dosa dan
maksiat. Amin.
IV.4.1.
PERLUNYA SULUK
Perkataan
suluk itu datangnya dari perkataan Indonesia seperti rujukan dalam Kamus Besar
Indonesia iaitu :
1.
suluk
– jalan ke arah kesempurnaan batin; tasawuf; tarekat
2.
pengasingan
diri; khalwat;
Bersuluk
– mengasingkan diri; berkhalwat.
Bersuluk itu
adalah kombinasi perbuatan beruzlah dan berkhalwah dalam istilah Ilmu
Tasawuf.Ia dipanggil iktikaf di dalam ilmu Feqah.
Iktikaf itu
tertentu di dalam masjid.
Beruzlah itu
meninggalkan kampong halaman atau rumah menuju ke suatu tempat
kemudian duduk di tempat itu tidak keluar-keluar 10 hari 10 malam atau 40 hari
40 malam itu dinamakan khalwah.Ia juga dipanggil khalwah fil uzlah manakala
khalwah fil jalwah pula, walaupun si salik itu berjalan,hatinya nampak Allah.
Ia adalah satu
praktis secara intensif melakukan zikrullah bermula dengan berbilang-bilang
hinggalah berzikir sampai tidak terbilang seperti air yang mengalir.
Maka mudah dan
cepatlah hati sanubari itu menerima tarqiyah dari Allah,
dibukakan hijab dan tutupan hati untuk melangkah dari alam nasut ( alam sifat
kemanusiaan ) ke alam malakut ( alam lakaran ) kemudian ke alam jabarut
( alam sifat ) seterusnya ke alam lahut ( kesedaran sifat ketuhanan ).
Salik akan dapat
memerhatikan Allah dengan Allah, basrahu bi basrihi.
Ia suatu bentuk
beribadat yang terasing daripada manusia lain atau orang lain
yang bukan dari kalangan jamaah supaya tiada gangguan ketika bersuluk itu.
Ia suatu cara atau kaedah untuk tabattal ilaihi tabtiila , memutuskan hubungan
dengan yang lain selain dari ingat Allah.
Ahli-ahli Sufi
sepakat mengatkan bahwa jikalau hendak menemui Allah S.W.T.,mestilah melalui
jalan fana’’dan jalan fana’ itu boleh diperolehi melalui suluk.Salik atau orang
yang bersuluk itu dipimpin taubat dan zikirnya oleh Guru Mursyid.Salik
melakukan solat taubat dan berzikir berterusan sepanjang suluk itu berjalan.
Jika duduk
seorang diri di dalam bilik di rumah itu tidak dipanggil bersuluk karena tiada
pengawasan guru.
4.1.2. Tempat Bersuluk
Tempat-tempat
untuk bersuluk itu ada berbagai , ada yang di surau,ada yang dibuat dirumah
Syeikh atau Guru jika murid yang bersuluk itu tidak ramai.Kalau dulunya Nabi
S.A.W beriktikaf di Gua Hira’ dan sekarang ibadat itu kebanyakannya dibuat di
surau/madrasah khas atau lazimnya dipanggil rumah suluk.
Ada
sesetengah rumah suluk itu menyediakan bilik-bilik kecil yang hanya muat
seorang sahaja sebagai tempat berzikir tetapi ia terhadkan bilangan murid yang
ingin bersuluk oleh karena murid yang bersuluk saban tahun makin bertambah,para
syeikh mikirkanmenyediakan kelambu kecil yang digantung di dalam surau atau
rumah suluk sebagaitempat atau sempadan murid berzikir.
4.1.3. Bersuluk Perlu Pimpinan Guru Yang Mursyid
Bersuluk itu bukan bertapa.Bersuluk itu dipimpin oleh Guru Mursyid yang
menyampaikan murid atau salik itu kepada Allah,zikirnya dipimpin,taubatnya
dipimpin sedangkan bertapa itu seorang diri sahaja.Solat jamaah adalah wajib
bagi murid yang bersuluk yang jika dihitung selama 10 hari 10 malam,mereka akan
solat jemaah selama 50 waktu.
Suluk selalunya
bermula pada hari Isnin atau Khamis dan berlangsung selama 10 hari 10 malam dan
ada yang melakukannya selama 40 hari 40 malam.Kekangan masa dengan kesibukan
bekerja dan mencari rezeki membuatkan kebanyakan para Guru mengadakannya untuk
tempoh pendek sahaja.
Nabi S.A.W
bersabda,”Bahwa amalan hamba dibentang pada hari Senin dan
Khamis”-Hujjatullah al Balighah- Syah Waliyullah ad-Dahlavi.
Sabda Baginda
lagi,” Penghulu hari di sisi Allah adalah hari Jumaat,lagi besar dari Hari Raya
Haji dan Hari Raya Fitri.Padanya 5 macam,Pertama : menjadikan Allah Nabi
Adam.Kedua : diusirnya dari syurga ke bumi, Ketiga : dia diwafatkan.
Keempat,tak adalah hamba Allah yang meminta pada hari itu akan diberi Allah
selama ia tidak memperbuat dosa atau memutuskan saliturrahim.Kelima : padanya
berdiri hari Kiamat.
Dan tak adalah
dari malaikat yang hampir dan tidak pula langit dan angin dan bukit dan batu
melainkan semuanya sayang pada hari Jumaat HR as-Syafie.
Maka
jamaah akan mula bersuluk pada petang Khamis untuk menanamkan
bibit-bibitzikrullah dalam hati sanubari.Kaedah bersuluk itu ialah duduk
berzikir siang malam beribu ribu berjuta-juta.Firman Allah,” dan orang-orang
lelaki yang menyebut nama Allah banyak-banyak serta orang perempuan yang
menyebut nama Allah banyak-banyak, Allah menyediakan bagi mereka semuanya
keampunan dan pahala yang besar Firman ALLLAH S.W.T. dalam Q.S. Surah al-Ahzab
: ayat : 35 :
“inna almuslimiina
waalmuslimaati waalmu/miniina waalmu/minaati waalqaanitiina waalqaanitaati
waalshshaadiqiina waalshshaadiqaati waalshshaabiriina waalshshaabiraati
waalkhaasyi'iina waalkhaasyi'aati waalmutashaddiqiina waalmutashaddiqaati
waalshshaa-imiina waalshshaa-imaati waalhaafizhiina furuujahum waalhaafizhaati
waaldzdzaakiriina allaaha katsiiran waaldzdzaakiraati a'adda allaahu
lahum maghfiratan wa-ajran 'azhiimaan”
Artinya : “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim,
laki-laki dan perempuan yang mu'min [1219], laki-laki dan perempuan yang tetap
dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan
yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)
Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.
4.1.4. Perbanyaklah Bezikir Dan Bertaubat
Berzikir secara
intensif. Bertaubat dan berzikir, sehinggalah Allah kurniakan warid dan tarqiyah
kepada murid itu dalam bentuk pandangan atau rasa atau bau atau seumpamanya.
Barulah masa itu
keadaan murid itu membetuli panggilan dari Allah,”Ya aiyatuhannafsul
muttmainnah”.Rasa seperti baru dilahirkan semula.Barulah RASA
Allah itu ada bukan setakat tahu Allah itu ada sahaja. Maka cairlah hati kita
pada masa itu dalam mujahadah dengan zikrullah secara terus-menerus.
4.1.5. JALAN
BERSULUK
Menurut
keterangan guru suluk, sesiapapun boleh mengamalkan dan mendawamkan Qalbi ini
yang khofi/tersembunyi ini. Itu pun jika setelah mereka sentiasa melaksanakan
Zikir Lisan pada Martabat yang pertama.
Ini
adalah karena, zikir ini sesuai sekali untuk melatih hati supaya sentiasa
ingatkan Allah di samping dapat mengelakkan sifat Riya.serta
dapat menjinakkan hati supaya Hudur Hati sewaktu melaksanakan Zikir Lisan.
Bersuluk
tertakluk kepada adab-adab sebelum suluk,adab ketika bersuluk dan adab
selepas bersuluk.Bersuluk ini seperti suatu jihad dimana salik akan
meninggalkan
segala kelaziman dalam kehidupannya,tinggalkan keseronokan,tinggalkan
kemewahandan segala perbuatan rutin seharian semata-mata untuk berzikir kepada
Allah dalam satu jangkamasa yang tertentu.
Bagaimana nak
cepatkan caj hati , kenallah bersuluk dan beramal dengan amalan tariqat iaitu
satu amalan yang boleh diistilahkan sebagai amalan tertentu,dengan bilangan
tertentu dan di tempat-tempat tertentu.
4.1.6. Hikmah Bersuluk
Apa yang kita
dapat selepas bersuluk itu ? Setiap mereka yang bersuluk itu yang
datang dengan
niat yang ikhlas semata karena Allah ; mudah-mudahan mereka itu nanti
akan :
Bertambah
keyakinan mereka tentang wujud Allah , lebih kenal dan lebih tahu tentangNya.
Merasai atau
melalui pengalaman dzauki dan fana’fillah,faham apa yang dinamakan makrifah
tahu dimana berlakunya musyahadah , faham apa itu baqo’billah dan
istilah-istilah seumpamanya.Menyakini kepentingan bertawassul dan berabitah.
Mempraktikkan
adab-adab berzikir dan adab-adab bersama Guru atau orang yang alim.Istiqamah
dalam solat taubat.
Lebih memahami
apa yang dikatakan oleh Ibn Atho’illah dalam Kitab Hikam.
Memahami
kepenting ilmu tasawuf ( ilmu tariqat ) dan kepentingan beramal dengannya.
Rasa rendah diri
; tidak lagi mudah menilai orang lain berdasarkan kepada pakaian atau pangkat.
Faham apa yang
dikatakan ilmu Laduni dan mudah mendapat natijah-natijah zikir.
Mantap pegangan
kepada tauhid uluhiyyah dan rububiyyah.
Menyembah Allah
yang sudah dikenal seperti umpama bercakap dengan orang yang kita Kenal dengan
orang yang tidak kita kenal.Hatinya benar-benar yakin apa yang wajib
diimani.Dengan bersuluk,kita dapat sebahgian walaupun tidak sepenuhnya
sifat-sifat orang Ulul albab.
Sesuai
dengan penjelasan ayat 35 surah Al-Ahzab diatas, bahwa sesungguhnya laki-laki
dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki
dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar,
laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk,
laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang
berpuasa,laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah,Allah telah menyediakan untuk
mereka ampunan dan pahala yang besar.
Barangsiapa
membereskan hubungan antara dirinya dengan Allah, niscaya Allah akan
membereskan hubungan antara dia dan manusia semuanya.
Barangsiapa
membereskan urusan akhiratnya niscaya Allah akan membereskan baginya urusan
dunianya.
Barangsiapa
selalu menjadi penasihat yang baik bagi dirinya sendiri nescaya Allah akan
menjaganya dari segala bencana.Kamu akan disebut sebagai orang yang beruntung
bukan dengan bertambahnyaharta dan putra tetapi dengan bertambahnya ilmu dan
akhlak serta pengabdiankepada Allah.Setiap kali berbuat kebajikan,kamu
bersyukur kepadaNya.Setiapkali berbuat keburukan, segera kamu memohon
keampunanNya.Dan sesungguhnyatidakada kebaikan dalam dunia ini kecuali bagi dua
orang yakni mereka yangmerasa telah berbuat dosa lalu ia segera mengikutinya
dengan bertaubat danmereka yang bersegera dalam mengerjakan kebajikan setiap
kali hal itu terlintas di hatinya.
4.1.7. Inilah Prisnsip Sebenar Perjalanan Seorang Sufi
Seorang
Tokoh Sufi, Imam Qusyairi menerangkan bahwa prinsip sebenar perjalanan seorang
sufi kepada Allah bersandarkan pegangan teguh kepada
ajaran Al-Quran dan sunnah.Mereka dapat mencapai hakikat kebenaran
(makrifatullah) bukan hanya dengan dalil akal semata-mata bahkan melalui
penjernihan hati dan latihan jiwa seperti bersuluk ini.
Imam
Ghazali berkata : “ Ketahuilah bahwa berjalan menuju kepada Allah Taala untuk
menghampiriNya sebenarnya adalah hati bukan badannya.
Maksudku,bukan
hati yang berdaging ini bahkan ia adalah satu rahasia
daripada rahasia-rahasia Allah Azzawajalla yang tidak difahami oleh deria
zahir.”
Siapakah yang
patut bersuluk ? Ramai orang yang ingin menjadi muslim dan
mukmin tetapi jarang-jarang orang berdoa untuk menjadi mukhsein dan mukhlis.
Hanya
mereka yang bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar ditunjukijalan dan
dituntuniNya (dipimpin) ke arah itu.Hanya dengan jalan dzauqi sahaja,yakni
melalui pengembaraan rohani semasa bersuluk ; seseorang itu akan lebih mudah
sampai ke derajat ihsan.
4.1.7. APA TENTANG FANA UL FANA
Fana
zahir yaitu : merasakan tajali atau memantul keagungan Tuhan pada tindak tanduk
seseorang,sehingga segala keinginan,kehendaknya,ikhtiarnya sudah terlepas dari
dirinya. Karena itu kadang-kadang orang itu sampai-sampai beberapa lama tidak
tahu makan dan minum dan sebagainya,semuanya terserah kepada Allah.
Fana
bathin yaitu : hatinya saja yang fana dan lahirnya tidak,lahirnya seperti
biasa. Hatinya terbuka pada melihat sifat-sifat Tuhan,dan keagungan serta
gerakan-gerakan Tuhan,hilanglah segala was-was dan keragu-raguan dalam hatinya
dan penuhlah hatinya dengan keyakinan terhadap Allah S.W.T., Tidak ada dalam
hatinya timbul perasan takut dan gentar,kasih dan sayang, suka dan duka,kecuali
kepada Allah.
Inilah janji
ALLLAH S.W.T, memberikan keistimewaan kepada hamba-hambanya yang taat beribadat
mejalankan seluruh ibadah bagi Para Nabi-nabi dan wali-wali seperti Sheikh Abu
Qasim Al-Junaid, Abu Qadir Al-Jailani , Imam Al-Ghazali, Ab Yazid Al-Busthomi
sering mengalami keadaan “fana” fillah dalam menemukan Allah. Umpamanya Nabi
Musa alaihisalam ketika ia sangat ingin melihat Allah maka baginda berkata yang
kemudiannya dijawab oleh Allah Taala seperti berikut;
“Ya Tuhan, bagaimanakah caranya supaya aku sampai kepada Mu? Tuhan berfirman:
Tinggalkan dirimu/lenyapkan dirimu(fana), baru kamu kemari.”
Kata-kata Hikmah Dari Wali-wali Allah yang telah mengalami FANAketetuan
Kebanyakan kitab-kitab tua seperti Kitab Syarah Hikam Ibni Athoillah
As-Kandariah, Kitab Manhal-Shofi, Kitab Addurul-Nafs dan lain-lain menggunakan
istilah-istilah seperti ‘binasa’ dan ‘hapus’ untuk memperlihatkan tentang
maksud fana. Ulama-ulama lainnya yang banyak menggabungkan beberapa disiplin
ilmu lain seperti falsafah menggunakan istilah-istilah seperti ‘lebur’, ‘larut’,
‘tenggelam’ dan ‘lenyap’ dalama usaha mereka untuk memperkatakan sesuatu
tentang ‘hal’ atau ‘maqam’ fana ini.
Di dalam Kitab
Arrisalah al-Qusyairiah disebutkan arti fana itu ialah;
Lenyapnya
sifat-sifat basyariah (pancaindera)
Maka
siapa yang telah diliputi Hakikat Ketuhanan sehingga tiada lagi melihat
daripada Alam baru, Alam rupa dan Alam wujud ini, maka dikatakanlah ia telah
fana dari Alam Cipta. Fana berarti hilangnya sifat-sifat buruk (maksiah lahir
dan maksiat batin) dan kekalnya sifat-sifat terpuji(mahmudah). Bahwa fana itu
ialah lenyapnya segala-galanya, lenyap af’alnya/perbuatannya(fana fil af’al),
lenyap sifatnya(fana fis-sifat), lenyap dirinya(fan fiz-zat)
Oleh karena
inilah ada di kalangan ahli-ahli tasauf berkata:
“Tasawuf
itu ialah mereka fana dari dirinya dan baqa dengan Tuhannya karena kehadiran
hati mereka bersama Allah”.
Sahabat
Rasulullah yang banyak memperkatakan tentang ‘fana’ ialah Sayyidina Ali, salah
seorang sahabat Rasulullah yang terdekat yang diiktiraf oleh Rasulullah sebagai
‘Pintu Gedung Ilmu’. Sayyidina Ali sering memperkatakan tentang fana. Antaranya
:
“Di dalam
fanaku, leburlah kefanaanku, tetapi di dalam kefanaan itulah bahkan aku
mendapatkan Engkau Tuhan”.
Demikianlah
‘fana; ditanggapi oleh para kaun sufi secara baik, bahkan fana itulah merupakan
pintu kepada mereka yang ingin menemukan Allah(Liqa Allah) bagi yang
benar-benar mempunyai keinginan dan keimanan yang kuat untuk bertemu dengan
Allah(Salik). Firman Allah yang bermaksud:
“Maka barangsiapa yang ingin akan menemukan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amalan Shaleh dan janganlah ia mempersekutukan siapapun dalam
beribadat kepada Allah. (Surah Al-Kahfi:)
Untuk mencapai liqa Allah dalam ayat yang tersebut di atas, ada dua kewajiban
yang mesti dilaksanakan iaitu:
Pertamanya mengerjakan amalan sholeh dengan menghilangkan semua- sifat-sifat
yang terceladan menetapkan dengan sifat-sifat yang terpuji iaitu Takhali dan
Tahali.
Keduanya meniadakan/menafikan segala sesuatu termasuk dirinya sehingga yang benar-benar
wujud/isbat hanya Allah semata-mata dalam beribadat. Itulah artinya memfanakan
diri.
Inil adalah kisah seorang bertanya kepada Abu Yazid Al-Busthomi;
“Bagaimana tuan habiskan masa pagimu?”. Abu Yazid menjawab: “Diri saya telah
hilang (fana) dalam mengenang Allah hingga saya tidak tahu malam dan siang”.
Satu ketika Abu
Yazid telah ditanyai orang bagaimanakah kita boleh mencapai Allah. Beliau telah
menjawab dengan katanya:
“Buangkanlah
diri kamu. Di situlah terletak jalan menuju Allah. Barangsiapa yang melenyapkan
(fana) dirinya dalam Allah, maka didapati bahwa Allah itu segala-galanya”.
Beliau pernah
menceritakan sesuatu tentang fana ini dengan katanya;
Apabila Allah memfanakan saya dan membawa saya baqa dengaNya dan membuka hijab
yang mendinding saya dengan Dia, maka saya pun dapat memandangNya dan ketika
itu hancur leburlah pancainderaku dan tidak dapat berkata apa-apa. Hijab diriku
tersingkap dan saya berada di keadaan itu beberapa lama tanpa pertolongan
sebarang panca indera. Kemudian Allah kurniakan saya mata Ketuhanan dan telinga
Ketuhanan dan saya dapat dapati segala-galanya adalah di dalam Dia juga.”
Al-Junaid Al-Bagdadi yang menjadi Imam Tasauf kepada golongan Ahli Sunnah
Wal-Jamaah pernah membicarakan tentang fana ini dengan kata-kata beliau seperti
berikut:
Kamu tidak mencapai baqa (kekal dengan Allah) sebelum melalui fana (hapus diri)
Membuangkan segala-galanya kecuali Allah dan ‘mematikan diri’ ialah kesufian.
Seorang itu tidak akan mencapai Cinta kepada Allah (mahabbah) hingga dia
memfanakan dirinya. Percakapan orang-orang yang cinta kepada Allah itu
pandangan orang-orang biasa adalah dongeng sahaja.
Himpunan Kata-kata Hikmat Tentang Fana
a. Sembahyang
orang yang cinta (mahabbah) ialah memfanakan diri sementara
Sembahyangorang
awam ialah rukuk dan sujud.
b. Setengah
mereka yang fana (lupa diri sendiri) dalam satu tajali zat dan kekal dalam
Keadaanitu
selama-lamanya. Mereka adalah Majzub yang hakiki.
c. Sufi itu
mulanya satu titik air dan menjadi lautan.Fananya diri itu meluaskan
kupayaannya.Kepuyaan setitik air menjadi
keupayaan lautan.
d. Dalam keadaan
fana, wujud Salik yang terhad itu dikuasai oleh wujud Allah yang
Mutlak. Dengan itu Salik tidak mengetahui
dirinya dan benda-benda lain. Inilah
peringkat
Wilayah
(Kewalian). Perbezaan antara Wali-wali itu
ialah disebabkan oleh perbedaan tempoh
masakeadaan ini.
Ada yang merasai keadaan fana itu satu saat, satu jam, ada yang
satu harian
seterusnya. Mereka yang dalam keadaan fana seumur hidupnya digelar
majzub. Mereka masukke dalam satu suasana
dimana menjadi mutlak.
e. Kewalian
ialah melihat Allah melalui Allah. Kenabian ialah melihat Allah melalui
makhluk.Dalam kewalian tidak adabayang makhlukyang wujud. Dalam kenabian
makhlik masihnampak di samping memerhati Allah.
Kewalaian ialah peringakat fana
dan kenabian ialahperingkat baqa.
f. Tidak ada
pandangan yang pernah melihat Tajalinya Zat. Jika ada pun ia mencapai
Tajali ini,maka
ianya binasa dan fana karena Tajali Zat melarutkan semua cermin
penzohiran.
FirmanAllah yang bermaksud : “Sesungguhnya
Allah meliputi segala-
galanya. Firman
Alllah S.W.T. Q.S. Al-Fadhilah:54 :
g. Tajali
berarti menunjukkan sesuatu pada diriNya dalam beberapa dan berbagai
bentuk.Umpama satu biji benih menunjukkan
dirinya sebagai beberapa ladang dan
satu unggun apimenunjukkan dirinya sebagai
beberapa unggun api.
h. Wujud alam
ini fana (binasa) dalam wujud Allah.Dalilnya ialah Firman Allah dalam
Surah AnNur:35 yang bermaksud;“Cahaya atas
cahaya, Allah membimbing dengan
cahayanya
siapayang dikehendakinya.” dan“Allah adalah cahaya langit dan bumi.”
i. Muraqobah
ialah memfanakan hamba akan af’aalnya dan sifatnya dan zatnya dalam
afaal Allah, sifat
Allah dan zat Allah.
j. Al-Thomsu
atau hilang yaitu hapus segala
tanda-tanda sekelian pada sifat Allah.
Maka iaitu satu bagai daripada fana.
Tajuk-tajuk yang
berkaitan dengan FanaMikraj Muhammad Alamat Sampai Kepada MaqamYangTinggi
Pesanan Dari
SulukHakikat tidak akan muncul sewajarnya jika syariat dan tarikat belum betul
lagi kedudukannya. Huruf-huruf tidak akan tertulis dengan betul jika pena tidak
betul keadaannya.
Dari itu saudara-saudaraku anda seharusnya banyak menuntut dan mendalami
Ilmu-ilmu agama yang berkaitan dengan
syariat, usuluddin dan asas tasawuf untuk
mendekatkan diri
dengan Allah .
ALLAH MAHA ESA, SEDIA DAN KEKAL
TELAH ADA
ALLAH DAN TIADA SESUATU BESERTA-NYA. DAN, DIA KINI ADALAH TETAP
SEBAGAIMANA ADANYA.
Pada martabat zat, segala sifat, nama dan semua kewujudan lenyap di dalamnya,
tidak boleh disaksi dan ditakbir lagi. Selagi boleh disaksi dan ditakbir ia
masih lagi sifat bukan zat. Apabila sampai kepada perbatasan: “Lemah mengadakan
pendapat tentang zat Ilahiat”, seseorang tidak ada pilihan melainkan mengakui
wujudnya zat Wajibul Wujud (Wajib Wujud) karena jika tidak wujud zat nescaya
tidak ada sifat dan tidak ada kejadian atau perbuatan.
Seorang bukan
ahli kasyaf bermakrifat dengan akalnya dan beriman kepada zat Wajibul Wujud
setelah terjadi kebuntuan akalnya mengenai hal ketuhanan pada suasana
yang diistilahkan sebagai Wahadiyyah atau suasana pentadbiran Ilahi yang juga
dipanggil Rububiah. Akal menyaksikan Rububiah atau hal ketuhanan yang
menggerakkan sekalian makhluk. Peringkat kesudahan pencapaian akal dan ilmu
makhluk dinamakan Hijab al-‘Izzati atau benteng keteguhan. Ilmu sekalian orang
alim dan arif terhenti di sini. Zat Allah s.w.t tidak diketahui oleh makhluk karena
Dia tidak termasuk di dalam sempadan maklumat, pendapat dan kenyataan. Allah
berfirman:Q.S. Al-Imran ayat 30 :
“yawma tajidu kullu nafsin
maa 'amilat min khayrin muhdaran wamaa 'amilat min suu-in tawaddu law
anna baynahaa wabaynahu amadan ba'iidan wayuhadzdzirukumu allaahu
nafsahu waallaahu rauufun bial'ibaadi”
Artinya : “Pada hari ketika tiap-tiap diri
mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang
telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa
yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat
Penyayang kepada hamba-hamba-Nya”.
Rasulullah S.A.W.,
bersabda:
Semua kamu (yang
berfikir) tentang Zat Allah adalah orang dungu.
Percubaan akal
untuk menembusi Hijab Keteguhan adalah sia-sia. Jika dipaksa juga tidak ada
yang ditemui melainkan kemungkinan menjadi gila.
Begitulah
makrifat Allah s.w.t melalui akal. Makrifat dengan akal menjadi asas kepada
makrifat melalui zauk atau pandangaan mata hati. Ahli Allah s.w.t meningkatkan
imannya dengan membenamkan dirinya ke dalam ibadat dengan bersungguh-sungguh.
Mereka berpuasa
pada siang hari dan bersembahyang pada malam hari. Ada antara mereka yang
bersembahyang lebih 500 rakaat sehari, khatam membaca al-Quran tiap-tiap hari
dan berpuasa sepanjang tahun. Sekiranya Allah S.W.T.
izinkan, mereka akan mengalami hakikat wujud Zat Allah s.w.t yang sukar untuk
dihuraikan.
Pengalaman
makrifat menurut akal berhenti pada kenyataan: “Semata-mata zat, yang maujud
hanya Wajibul Wujud”. Pengalaman makrifat secara zauk pula berakhir pada: “Zat
yang kosong dari makhluk, yang maujud hanya Allah S.W.T..
Telah ada Allah S.W.T. dan tiada sesuatu beserta-Nya. Dia kini adalah tetap
sebagaimana dahulunya”.Ungkapan ini bukan untuk dibahaskan atau dihuraikan
dengan terperinci karena ia telah melepasi sempadan ilmu. Ia adalah pengalaman
rohani, dinamakan penyaksian hakiki mata hati, tatkala hilang rasa wujud
diri dan sekalian yang maujud, hanya Wujud Allah S.W.T.
yang nyata, semata-mata Allah S.W.T. dan
segala-galanya Allah S.W.T. Keadaan ini
dicapai setelah melepasi makam-makam ilmu, amal, berserah diri, reda, ikhlas,
lalu masuk ke dalam makam tauhid yang hakiki dan pengalaman tauhid yang hakiki
itulah yang dinyatakan oleh Hikmat 46 di atas.
Telah ada Allah S.W.T. dan tiada sesuatu beserta-Nya.
Allah S.W.T. kini adalah Allah S.W.T.
yang dahulu juga.
Pengalaman
rohani adalah aneh menurut kacamata akal. Ia adalah satu keadaan terlepasnya
ikatan kesedaran terhadap diri sendiri dan dikuasai oleh kesedaran yang
lain. Jika mahu memahami akan kesedaran-kesedaran yang mempengaruhi kesedaran
manusiawi itu terlebih dahulu perlulah difahami tentang kejadian manusia itu.
Manusia yang bertubuh badan boleh diistilahkan sebagai alam jasad. Alam jasad
mendiami alam dunia. Hubungan yang rapat antara alam jasad dengan alam dunia
menyebabkan pengaruh alam dunia kepada alam jasad sangat kuat. Alam jasad
menerima pengaruh alam dunia dan menganggapnya sebagai kesedaran dirinya
sendiri.
Ia tidak dapat
lagi membezakan antara kesedaran jasad yang asli dengan kesedaran duniawi yang
menguasainya.Alam dunia pula berada di dalam Alam Malakut (alam malaikat). Alam
Malakut menguasai alam dunia dan alam jasad. Tenaga malaikat-malaikat menjadi
tenaga kepada dunia dan jasad yang menyebabkan dunia dan jasad boleh bergerak.
Sistem yang berjalan rapi di dunia dan jasad adalah disebabkan oleh tenaga
malaikat yang bekerja dengan tepat mengawalnya. Sedutan udara, kerlipan mata,
peredaran darah, pertumbuhan rambut dan kuku, pergerakan otot dan semuanya
adalah hasil daripada tindakan malaikat walaupun manusia tidak menyedarinya.
Perjalanan matahari, penurunan hujan, tiupan angin dan semua aktiviti
benda-benda dunia terhasil daripada tindakan malaikat-malaikat. Perkaitan
antara jasad, dunia dan malakut adalah umpama sebatang pokok kelapa di atas
sebuah pulau di dalam laut. Pokok kelapa tidak terpisah dari pulau dan tidak
terpisah dari laut. Air laut meresap ke dalam tanah pulau dan air yang sama
juga meresap ke dalam akar, batang, daun dan seluruh pokok kelapa.
Pokok kelapa
memperolehi tenaga pertumbuhan dari air laut yang meresap ke dalamnya. Begitulah
ibaratnya tenaga malaikat yang menjadi sistem aktiviti manusia.
Alam Malakut dengan segala isinya termasuklah dunia dan jasad berada di dalam
Alam Jabarut. Jabarut bukanlah alam seperti yang difahamkan. Jabarut bermakna
sifat Allah S.W.T., Ini bermakna malakut, dunia dan jasad adalah kesan daripada
keupayaan sifat atau dikatakan juga perbuatan yang dihasilkan oleh sifat.
Jabarut pula dikuasai oleh Lahut iaitu Zat Ilahiat. Malakut, dunia dan jasad
diistilahkan sebagai sekalian alam, merupakan perbuatan yang dikuasai oleh
sifat dan sifat pula dikuasai oleh zat. Ini bermakna tidak putus perkaitan di
antara Lahut kepada Jabarut kepada malakut kepada dunia dan kepada jasad.
Jika dilihat kepada lapisan yang paling luar akan kelihatanlah pergerakan
benda-benda.
Jika direnungkan
kepada lapisan yang lebih mendalam sedikit kelihatanlah pula pergerakan
benda-benda dihasilkan oleh tenaga malaikat. Jika dilihat kepada lapisan yang
lebih mendalam akan kelihatan pula pergerakan benda-benda dan tenaga malaikat
merupakan perbuatan Tuhan. Jika dilihat kepada lapisan yang lebih dalam akan
kelihatan pula sekalian perbuatan Tuhan itu adalah kesan daripada keupayaan
sifat Allah
S.W.T. Jika dilihat kepada lapisan yang paling dalam akan
kelihatanlah bahwa sekalian alam yang muncul karana perbuatan Tuhan, perbuatan
pula lahir daripada keupayaan sifat Tuhan dan sifat pula bersumberkan zat
Ilahiat. Jika dilihat semuanya tanpa terdinding antara satu dengan yang lain
maka kelihatanlah bahwa zat Ilahiat menguasai segala sesuatu.
Apabila
semuanya sudah sempurna kedudukannya maka Allah S.W.T., mengwujudkan sesuatu
yang sangat istimewa. Ia adalah roh manusia. Roh manusia adalah sesuatu yang
dari Allah S.W.T., tiupan Roh Allah S.W.T., berkait dengan Zat Allah S.W.T.,
tidak boleh dinisbahkan kepada apa sahaja melainkan kepada Allah S.W.T., tetapi
ia bukanlah Allah S.W.T., karena “Tiada sesuatu yang menyamai-Nya”.
Roh manusia yang
dinisbahkan kepada Allah s.w.t inilah yang paling mulia, sebagaimana Firman
ALLLAH S.W.T. dalam Q.S. Saad ayat ; 72 :
”fa-idzaa sawwaytuhu
wanafakhtu fiihi min ruuhii faqa'uu lahu saajidiina”
Artinya : “Kemudian
apabila Aku sempurnakan kejadiannya (Adam), serta Aku tiupkan padanyaroh dari
(ciptaan)-Ku maka hendaklah kamu sujud kepadanya.
Kemuliaan roh manusia yang Allah tiupkan dari Roh-Nya menyebabkan
malaikat-malaikat kena sujud kepada Adam. Roh pada martabat ini adalah urusan
Allah S.W.T.,:
Katakanlah: “Roh itu dari perkara urusan Tuhanku”. ( Ayat 85 : al-Israa’ )
Bagaimana atau apakah perkaitan roh dengan Allah s.w.t? Perkaitannya adalah
Rahsia Allah S.W.T. yang manusia tidak diberi pengetahuan mengenainya
kecuali sedikit sahaja. Roh pada martabat Rahsia Allah S.W.T.
inilah yang sudah mengenal Allah S.W.T., danmenyaksikan bahwa:
Sesungguhnya
Allah Maha Esa. Tiada sesuatu beserta-Nya.
Roh yang berkait
dengan Allah S.W.T. menghadap kepada Allah S.W.T., dan dikuasai oleh
kesedaran yang hakiki atau penglihatan rohani yang hakiki atau kesedaran tauhid
yang hakiki.Roh urusan Allah S.W.T. itu kemudiannya
berkait pula dengan perbuatan Allah S.W.T., yaitu alam.
Unsur alam yang
menerima perkaitan dengan roh urusan Allah S.W.T., itu dinamakan roh juga. Roh
jenis kedua ini menghuni alam seperti makhluk Tuhan yang lain juga. Tempat roh
tersebut ialah Alam Arwah {alam roh}. Roh yang mendiami Alam Arwah ini
kemudiannya berkait pula dengan jasad. Jasad yang berkait dengan roh menjadi hidup
dan dipanggil manusia. Perjalanan dari atas ke bawah ini dinamakan:
Kami datang dari Allah S.W.T.,
Oleh sebab
manusia datang dari Allah s.w.t mereka berkewajipan pula kembali kepada
Allah S.W.T., Kepada
Allah S.W.T., kami kembali.
Perjalanan kembali kepada Allah S.W.T. hendaklah
dilakukan ketika jasad masih lagi diterangi oleh roh iaitu ketika kita masih
hidup di dalam dunia. Apabila roh sudah putus hubungannya dengan jasad, tidak
ada lagi peluang untuk kembali kepada Allah S.W.T. Siapa yang buta (hati) di dunia akan buta
juga di akhirat, malah lebih buruk lagi. Hamba AllahS.W.T.
yang menyedari kewajipannya akan berusaha bersungguh-sungguh untuk kembali
kepada Allah S.W.T. ketika kesempatan masih ada. Syariat diturunkan
supaya manusia tahu jalan kembalinya. Orang yang berjuang untuk kembali kepada
asalnya melepaskan kesedaran alam bawah yang menguasainya. Dia masuk kepada
kesedaran malaikat. Kemudian dia keluar dari kesedaran malaikat dan masuk
kepada kesedaran roh yang murni dan seterusnya masuk kepada kesedaran roh yang
menjadi Rahsia Allah s.w.t dan kembali menyaksikan Yang Hakiki sebagaimana
telah disaksikannya sebelum berkait dengan jasad dahulu. Keluarlah ucapannya:
Telah ada Allah S.W.T.,
(sebagaimana ia menyaksikan sebelum berkait dengan jasad) dan tiada sesuatu
yang menyertai-Nya (sebagaimana disaksikannya dahulu). Dan Dia kini (sedang
disaksikannya semula) sama seperti ada-Nya (seperti yang disaksikannya
dahulu).Keadaannya adalah seperti orang yang melihat kepada sesuatu, kemudian
dia memejamkan matanya seketika. Bila dia membuka matanya semula dia
melihat sesuatu yang sama berada dihadapannya. Tahulah dia bahwa pengalaman
semasa memejam mata itu sebenarnya gelap, majazi atau khayalan. Dia kembali
melihat yang benar setelah matanya terbuka. Jadi, seseorang hanya boleh melihat
Yang Hakiki setelah kembali kepada keasliannya iaitu dia kembali melihat dengan
penyaksian hakiki mata hati.Hikmat 46 di atas walaupun pendek tetapi
menggambarkan perjalanan datang dan pergi yang sangat jauh, bermula dari Allah
s.w.t, sampai kepada dunia dan jasad, kemudian kembali semula kepada Allah S.W.T.,
Perjalanan yang
telah diceritakan di atas adalah pengalaman rohani bukan perpindahan jasad dari
satu tempat kepada tempat yang lain. Orang yang sedang mengalami hal yang
demikian masih berada di bumi, masih bersifat sebagai manusia, bukan ghaib
daripada pandangan orang lain. Hanya perhatian dan kesedarannya terhadap yang
selain Allah S.W.T., ghaib dari alam perasaan hatinya. Pengalaman rohani
tersebut memberinya kefahaman dan pengenalan tentang Tuhan.
Makrifatullah
melalui pengalaman rohani jauh lebih kuat kesannya kepada hati daripada
makrifatullah melalui pandangan akal. Akal yang mengenali Allah S.W.T. bersifat Maha Melihat dan Mendengar melahirkan
kewaspadaan pada tindakan dan tingkah-laku. Makrifat tentang Allah Maha Melihat
dan Mendengar yang dialami secara kerohanian menyebabkan gementar dan kecut
hati sehingga ketara pada tubuh badan seperti pucat mukanya dan menggigil
tubuhnya.
Pengalaman kerohanian tentang Allah Maha Esa menanamkan pengertian pada hati
mengenai keesaan Allah S.W.T. Pengertian yang
lahir secara demikian menjadi keyakinan yang teguh, tidak boleh dibahas atau
ditakwilkan lagi.BERKENAAN AIR
Kebersihan itu dapat dilakukan dengan Air Mutlak, Air Yang Ghaib,
yang mana Jernihnya itu membanjiri seluruh alam nyata ini. Jernih itu
menimbulkan pelbagai warna dalam penzhohirannya. Dirinya tetap satu
tetapi banyak pada penzhohirannya.
Karena penzhohiran itu, Ia terlindung. Mutlak dalam
nisbahNya. Inilah Air yang tidak sedikit pun ada kotor dan boleh dibuat
untuk membersihkan diri. Berkenaan Air ini, seorang ahli makrifat
ada berkata;
“Bersucilah
engkau dengan Air Ghaib itu, jika engkau ada Sir(Rahsia). Jika
tidak, bersucilah engkau dengan tanah atau batu.”
Carilah Air Hakiki ini. Siapa yang dapat Air ini, tidaklah lagi
akan kekurangan. Oleh itu, orang yang berakal hendaklah mencari Air
ini. Ambillah ia di mana sahaja engkau mendapatinya. Carilah Air ini
walaupun dengan memakan korban yang besar, walaupun dengan mengorbankan
nyawa sendiri.
Air tidak akan kotor jika tidak ditukar keadaannya kecuali air yang lama
bertakung. Jika air itu bertukar keadaan karena bercampur dengan
sesuatu yang bersih, misalnya dikeruhkan oleh tanah liat merah,
anggaplah ia bersih. Begitu jua air yang cair. Ini adalah air biasa
dalam dunia ini. (Sheikh Ahmad Al-‘Alawi).
Ilmu menurut pandangan ulama ialah perkataan-perkataan dan maknanya.
Menurut ArifbiLlah, Ilmu itu ialah mengetahui Asma dan objek-objek(bentuk)
yang ditunjukkan oleh Asma itu.
Mana mungkin
seseorang yang sibuk menghuraikan maksud dan makna dari istilah yang didirikan
dapat mengetahui(menyedari) Tajalli yang sentiasa berselindung di sebalik
bentuk-bentuk objek itu.
Sebenarnya amal
ialah ilmu yang berupa atau berbentuk. Lampaui kedua-duanya dan capai
“hal” iaitu sempadan yang paling hujung bagi kedua-dua itu.
4.1.8. BERBAIK SANGKA TERHADAP ALLAH
Petikan Dari Untaian Kisah Para Wali Allah :
Diceritakan dari Syeikh Ibrahim Al-Khowwas rahimahullah, bahwasanya dia
berkata;
Aku meninggalkan
negeriku menuju ke Makkah untuk berhaji, kali ini tanpa kenderaan dan
bekal apa pun. Di tengah perjalanan, aku tersesat sehingga tidak
mengetahui arah mana yang harus dituju. Tiba-tiba terlihat olehku seorang
pendita Nasrani mendatangiku seraya bertanya:
“Wahai Pendita
muslim! bolehkah aku menemanimu dalam perjalanan ini?”
“Boleh,
jawabku kepadanya. Memang kebetulan pula, saya pun tak mempunyai teman yang
lain.”
Aku tidak tahu dari mana pendeta Nasrani, dan aku pun tidak mahu
bertanya. Hatiku berkata syukur aku telah dikurniai Tuhan seorang teman,
kalau tidak tentu aku akan terus sesat tidak tahu menuju ke mana.
Kami pun berjalan selama tiga hari tiga malam tanpa merasakan makan dan
minum. Kami merasa terlalu lapar sekali, namun begitu masing-masing kami
terus berdiam diri antara satu dengan yang lain.
Kemudian dengan
tiba-tiba pendita Nasrani itu berkata:
“Wahai pendita
muslim! apakah engkau tidak membawa makanan dan minuman untuk kita menikmati
bersama?”
Mendengar pertanyaan itu, aku agak terkejut sedikit. Selama ini aku
berkata di dalam hatiku, apakah si pendita Nasrani ini tidak membawa bekal
makan atauminum. Rupanya dia tidak punya apa-apa, maka dia bertanya pula
kepadaku. Apa yang hendak aku ketakan kepadanya?
“Ya, ada!” tiba-tiba terkeluar dari mulutk kata-kata yang berani itu.
“Marilah kita
nikmati bersama!” usul pendeta Nasrani itu wajah yang tersenyum.
Celaka aku! Aku
telah berdusta kepada diriku sendiri. Di mana ada makanan dan minuman
yang akan aku keluarkan? Wajahku pucat lesi. Tiada jalan lagi bagiku
melainkan dengan memohon kernia dari Allah Subhanahuwa Taala. Aku
menengadah ke arah langit, lalu berdoa:
“Ya Tuhan hamba!
Wahai pengguasa yang tiada terbatas! Berilah hamba sesuatu untuk menutup lapar
dan dahaga kami berdua ini, dan janganlah sampai hamba dihinakan di hadapan
pendita Nasrani ini! Ya Allah, Ya Tuhanku! Dengarlah permohonan hamba
ini!” Tanpa diduga, dengan tiba-tiba
turunlah dari angkasa sebuah talam yang berisi roti, daging dan sekendi air.
Kamipun memakannya berdua sehingga kenyang, serta bersyukurlah kami
kepada Tuhan Maha Pemurah yang telah menurunkan kurniaNya secara luarbiasa itu.
Kemudian kamipun
melanjutkan perjalanan kami tanpa membicarakan apa-apapun tentang bagaimana
turunnya makanan dan minuman dari angkasa itu. Orang Nasrani itu
nampaknya kelihatan tidak hairan, seolah-olah perkara serupa itu adalah
biasa saja. Namun begitu aku tetap takjub tentang hal itu, karena
itu adalah yang pertama kali berlaku atas diriku.
Kini, sudah tiga hari tiga malam, kami berjalan lagi tanpa makan
dan minum apapun. Maka pada hari keempat, aku berkata pula kepada
pendita Nasrani itu:
“Wahai pendita Nasrani! Kini giliranmu pulalah untuk mengeluarkan apa yang yang
ada padamu untuk kita makan dan minum bersama!”
“Baiklah,”
jawabnya tenang saja. Aku hairan, dan aku ingin lihat apa pula yang
dibuatnya.Pendeta Nasrani itu lalu menengadah ke arah langit lalu berdoa.
Tiba-tiba meluncur turun dua buah talam yang penuh dengan makanan dan minuman.
“Sila makan!” pelawa pendita Nasrani itu. “Ini ada dua hidangan satu
untukmu satu untukku.”
Aku tercengang, tidak tahu apa yang hendak aku katakan. Bila dulu aku
meminta kepada Allah untuk menurunkan makanan, aku hanya mendapat satu talam
saja. Kini si pendita Nasrani ini mendapat dua talam.
“Sila
makan!” pelawanya sekali lagi.
“Tidak! Demi
Allah, aku tak akan memakanya sebelum kau menjelaskan terlebih dulu tentang
makanan dan minuman ini!” kataku Kepada pendita Nasrani itu.
Pendeta itu lalu
menjawab dengan riang gembira, katanya:
“Selama saya
menemani tuan, benar-benar saya tertarik kepada amalanmu itu, dan saya yakin
bahwa selama ini diriku dalam kesesatan yang nyata, dan jelas sekali saya tak
mampu berbuat seperti dengan perantaraan Kesalihan tuan dan kekeramatan tuan di
sisi Allah, Semoga Allah berkenan memberi kami makanan dan minuman.
Dan rupanya doa itu dikabulkan Tuhan, dan inilah dia makanan dan minuman yang
diberikanNya, dan DiberikanNya kita dua talam pula sebagai kurnia hidangan
daripadaNya.
Maka sekarang,
saksikanlah bahwa saya telah memeluk islam: “Asyhadu Illaaha
Illallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah!”
Alangkah
gembiranya hatiku bila mendengar penjelasan tuan pendita itu. Aku terus
merangkulnya dengan perasaan yang terharu, dan hatiku gembira tidak pernah
gembira seperti hari ini. Kemudian kami pun makan dan minum bersama.
Selesai makan
dan minum, dia lalu bertanya kepadaku:
“Ke mana
tujuanmu dari sini?”
“Aku akan ke
Mekah untuk naik haji,” jawabku.
“Aku akan
mengikutmu ke sana juga,” jawab pendita itu pula.
Kami pun
meneruskan perjalan menuju ke Makkah untuk berhaji bersama-sama pula.
Sewaktu kami berada di Mekah, pada suatu ketika , aku kehilangan dirinya,
lalu aku mencarinya ke sana ke mari, sehingga aku menemukannya sedang giat
bershalat di suatu tempat yang terlindung dari pandangan orang ramai. Aku
pun menunggunya di situ sehinggalah ia selesai dari shalatnya. Aku lalu
memberi salam kepadanya. Ia menjawab salamku itu dengan baik dan penuh
gembira. Kemudian ia berkata pula:
“Tuan! Rupa-rupanya aku terasa diriku ini akan segera pergi untuk mengadap
Tuhan Rabbul-alamin!”
“Bagaimana kau tahu?!” tanyaku ingin mengatahui.
“Aku tahu,”
jawabnya pendek sahaja.
Dia lalu
menghulurkan tangannya sambil berkata:
“Aku berdoa
moga-moga persahabatan kita ini diteruskan Allah nanti ketika kita berada
di akhirat
nanti!” dia lalu menggoyang-goyangkan tanganya ke tangan tanda mesra.
“Amin!” jawabku.
Dia bangun untuk
meneruskan shalatnya, tiba-tiba ia menggeletar hebat, lalu jatuh di tempat
shalatnya, dan sambil membaca dua kalimah syahadat, dia menghembus nafasnya
yang terakhir. Wajahnya kelihatan tenang dan bercahaya.
Aku merasa
sangat sedih karena kehilangan seorang teman yang baik sepertinya.
Aku kemudian
memandikanya, mengkafankannya, menshalatinya, kemudian
menguburkannya.
Dan pada malam itu, aku memimpikannya sedang berpakaian yang sangat indah, di
tempat kediaman yang amat indah pula. Aku pun bertanya kepadanya:
“Bukankah kau ini temanku?”
“Benar!”
jawabnya.
“Alhamdulillah,”
ucapku untuknya.
Dia ketawa suka
dan riang sekali.
“Bagaimana
sambutan Allah kepadamu?” aku bertanya kepadanya.
“Aku datang
kepadaNya dengan membawa dosa yang bertumpuk-tumpuk, namun Allah
berkenan mengampuniku, karena aku telah
berbaik sangka kepadaNya, dan semoga Allah menjadikanku sebagai temanmu nanti
di akhirat,” dia memberitahuku.
Aku pun terjaga
dari mimpiku itu, dan merasa sangat gembira sekali.
Manusia
diharuskan menguasai bab keempat tadi, seperti mana sabda Nabi Muhammad S.A.W.,
yang bermaksud:
“Syariat
bagaikan pohon, Tariqat bagaikan cabang; Ma’rifat bagaikan daun dan Hakikat
bagaikan buah”.
Al-Quran
mencakup 4 bab di atas dengan petunjuk dan isyarat secara tafsir dan takwil.
Penyusun Kitab ‘Al – Majma’ berfatwa bahwa tafsir bagi awam dan takwil bagi
orang khusus, karena orang – orang khusus ini adalah ulama’ yang ‘rusukh’.
Rusukh maknanya tetap kuat, kukuh dan teguh di bidang ilmu. Sifat ini dimiliki
oleh ulama Rasikhin iaitu suatu hasil dari kalimat yang ditanamkan di lubuk
hati setelah berupaya membersihkan hati. Bukti ketinggian martabat ulama
Rasikhin adalah ayat Al-Quran yang mencantumkan lafaz Rasikhin yang di’athafkan
kepada lafaz Jalalah (Illallah) dalam ayat ‘Syahidallahu….’ dan seterusnya di
dalam Surah Ali Imran: 18;
Mufassir Tafsir Al – Kabir berkata :
“Bila pintu yang
ini (Rasikhin) telah terbuka, maka akan terbukalah segala yang batin. Seorang
hamba diwajibkan melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan melawan nafsu di
seluruh daerah yang empat, ; mulki
(jasad), malakut (hati), jabarut (fuad)
lahut (sir), Nafsu
menggoda didaerah syariat dengan membuat perlawanan – perlawanan.
Sedangkan di daerah Tariqat, nafsu menggoda dengan mendorong dan menyetujuinya
tetapi di dalamnya terkandung tipuan seperti pengakuan menjadi nabi, wali dan
sebagainya.
Sedangkan
di daerah ma’rifat nafsu menggoda dengan syirik khafi (penyekutuan yang samar)
yang bangsa cahaya seperti pengakuan menjadi tuhan. Allah berfirman
(Al-Furqan:43): “Engkau mengetahui orang – orang yang menjadi Tuhan sebagai
hawa nafsunya”
Di
daerah Hakikat pula syaitan, nafsu dan malaikat tidak dapat memasukinya sebab
bila berada di situ akan hangus, kecuali AlLah. Jibril a.s. berkata : “Kalau
aku memasukkan hujung jariku ke alam ini maka hanguskah aku.
Manusia yang telah mencapai alam ini berarti dia selamat dari dua seteru; dan
jadilah dia manusia yang ikhlas”. Sesuatu yang tidak mencapai hakikat, maka dia
tidak akan mencapai ikhlas karena sifat – sifat ‘Basyariyyah Ghairiyyah’ (sifat
manusia selain Tuhan) tidak akan hancur, kecuali dengan ‘Tajalli Zat’.
Sifat bodoh hanya akan hilang dengan Ma’rifat Zat. Allah akan memberi ilmu
orang yang sampai ke darjat ini tanpa perantaraan. Manusia akan mengenal AlLah
karena diperkenalkan oleh AlLah dan beribadat kepada AlLah dengan pendidikan
AlLah, seperti Nabi Khidir A.S. Di alam ini dia akan menyaksikan Ruh – ruh
Qudsiyah dan mengetahui Nabinya (Muhammad S.A.W) secara hakiki. Maka akan
berbicaralah dari akhirnya hingga permulaannya.
Seluruh nabi
menyampaikan khabar gembira atas keberhasilan si hamba karena sampai kepada
AlLah yang kekal. Firman AlLah (Surah An-Nisa’:69):
“Dan mereka
itulah teman sebaik – baiknya”.
Amaliyah bagi
Ruh Jasmani adalah menggunakan Ilmu Zahir. Pahalanya hanya syurga. Maka di sana
akan jelaslah kebaikan dari sifat (orang yang beribadah akan masuk syurga;
sebaliknya orang yang tidak beribadah akan masuk neraka).
Sedangkan untuk
masuk ke ‘Haramil Qudsiyah’ dan dekat dengan AlLah tidak cukup bila hanya
menggunakan Ilmu Zahir saja. Untuk ke sana harus dengan Ilmu Terbang; dan
terbang itu harus menggunakan dua sayap. Bila satu, maka perjalanan akan
pincang. Maka dengan kesepaduan Ilmu Zahir dan Batin barulah sampai seorang
hamba ke Alam Qudsi. AlLah berfirman di dalam Hadis Qudsi:
“Hai hambaKu,
bila engkau ingin masuk ke HaramilKu (Haramil Qudsiyah), maka
engkau jangan tergoda oleh Mulki, Malakut,
Jabarut; karenaalam Mulki adalah syaitan
bagiorang
Alim;alam Malakut, syaitan bagi orang Arif;alam Jabarut, syaitan bagi
orang yang akan
masuk ke alam Qudsiyah”.
Wajib bagi semua manusia mengetahui ukuran dirinya dan jangan mengaku sesuatu
yang bukan haknya. Imam Ali berkata: “AlLah menyayangi orang – orang yang
mengetahui kadar dirinya dan tidak melewati batas perjalanannya; menjaga
lisannya dan tidak mensia – siakan umurnya”.
Seorang Alim harus mampu mencapai makna hakikat manusia yang disebut Tiflul
Ma’ani (Bayi Ma’nawi). Setelah itu harus mendidiknya dengan tetap melakukan
Asma Tauhid dan keluar dari alam Jasmani ke alam Ruhani, iaitu alam As-Sirri
yang di sana tidak sesuatupun selain AlLah. Sir itu seperti lapangan dari
cahaya, tidak ada hujungnya.
Inilah Maqam
Al-Muwahidin.
Mudah – mudahan
tulisan di atas bermanfaat dan menjelaskan sedikit sebanyak hal rahsia diri –
insan. Berusahalah untuk mencapai ke tahap itu melalui tunjukan guru atau orang
yang ahlinya. Ada di antaranya sengaja tidak dihuraikan dengan lebih lanjut karena
sebagiannya adalah rahsia yang perlu dibicarakan secara khusus.
Fana
yang demikian itu yang membawa ke maqam baqabillah,serta melewati fana yang
pertama. Biasanya lebih dahulu dimulai dengan pengakuan seluruh wujud. Sedang
hatinya atau rohnya selalu melihat gerakan Allah,baik dalam ibadah seperti :
dalam sembahyang.
Dan dalam segala
apa yang dilihat dan didengar dan lain-lain sebagainya.
Maqam
baqabillah inilah yang senantiasa ada pada para nabi dan rasul-rasul,dan aulia
dan anbiya Allah Ta’ala yang bereda dibawah qidamnya nabi Muhammad S.A.W.,
Maqam baqabillah
ini kebanyakan adalah maqam mereka yang mahzub,dimana setelah mereka berada
dipuncak tauhid,lalu mereka turun kepada sifat,dan sama,terus kepada
af’al,sehingga kelihatan pada lahirnya mereka seperti orang biasa
saja,memandang akuan ini,dan berbuat seperti ahli syariat umumnya. Tetapi hati
mereka tidak pernah lupa kepada Allah dan selalu berpegang kepadanya. Ada
perbedaan sedikit bagi orang yang berada dimaqam fana,mereka adalah orang yang
salik. Dimana pandangan mereka dimulai dari bawah dan terus naik atau tarakki.
Yakni dimulai memandang akuan,naik kepada af’al,sama,terus kepada sifat,dan
ahirnya kepda zat. Dan karena tajamnya dan asyiknya musahadah,mungkin terjadi
perasaan fana,yang kita maksudkan dengan fana zahir yang tersebut diatas.
Demikianlah
perjalanan fana dan baqa bagi seorang aribillah atau wali Allah Ta’ala. Jadi
disini hamba katakan bahwa,kalau dimaqam fana belum faham betul atau belum
mengerti,maka tidak ada harapan untuk mencapai maqam baqa.
Maka
daripada itu pandanglah sedalam-dalamnya tentang maqam fana, kalau sudah hasil
makam fana,maka tercapailah maqam baqa.
4.1.9.Terbuka Hijab
PEMBUKAAN
HIJAB atau singkapan hijab mudah terjadi ketika bersuluk
dan memang itu pun antara tujuan diadakan suluk itu. Singkapan hijab
terbuka apabila hati sanubari murid itu telah bersih karena adanya
taubat yang berterus-terusan dan zikrullah yang sangat banyak.
Masa terjadinya
singkapan hijab itu tidak tertentu pada waktunyakarena ia bergantung seikhlas
mana murid itu mencari keredhaanAllah,kesungguhannya bertaubat dari dosa besar
dosa kecil,dosa yang diketahui dosa yang tidak diketahui,dosa yang
disengajakandan dosa yang tidak disengajakan dan bergantung juga banyak mana
murid itu telah berzikir.
Jikalau murid
itu banyak melanggar adab dalam suluk,banyak bercakap,banyak
berfikir-fikir,malas berzikir dan melanggar adab-adab bersuluk dan tiada
beradab pada Syeikh maka lambatlah hijab itu terbuka malah jika berterusan dia
melanggar adab, berkemungkinan suluknya itu menjadi sia-sia karena untuk masuk
ke syurga itu dengan amal ibadat tetapi untuk sampai kepada Allah itu mesti
dengan adab.
Adab kepada guru
digarap dari adab para sahabat kepada Rasulullah S.A.W.
Hadis ada
menyebutkan tentang 7 golongan manusia yang dapat perlindungan dan naugan Allah
di akhirat nanti, antaranya ” dan seorang lelaki yang berzikrullah dalam
keadaan bersunyi sehingga kedua-dua matanya berlinangan air mata”.HR
as-Syaihani.
4.1.10. Adab Bersuluk
Adab di dalam perjalanan tariqah diambil atau
digarap dari adab
para sahabat
denganRasulullah
S.A.W.Maka disambungkan ia menjadi adab antara murid dengan
Guru karena Gurulah yang menyambungkan salik
atau muridnya sampai ke
makrifatullah, adab di majlis- majlis
ilmu adalah ketentuan juga pada adab sebelum
suluk,adab
semasa suluk dan adab selepas dari suluk karena majlis-majlis ini
memungkinkan
kedatangan roh para Nabi dan roh para ambiya’, sebab itu adab-adab
sangat-sangat
perlu dijaga.
Menurut
Syeikh Imam Ishak an-Naqsyabandi al-Khalidi ,” sampai kepada makrifat dengan
adab ; jatuh juga karena adab “.Firman Allah,”Allah tidak menghendaki untuk
memberikan kamu sesuatu beban yang berat, tetapi ia berkehendak untuk
membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya kepadamu supaya kamu berterima
kasih.”
Firman
Allah S.W.T., untuk menyempurnakan bersih diri dalam surah Q.S. Al-Maidah ayat
: 6 :
“yaa ayyuhaa alladziina aamanuu
idzaa qumtum ilaa alshshalaati faighsiluu
wujuuhakum wa-aydiyakum ilaa almaraafiqi waimsahuu
biruuusikum wa-arjulakum ilaa alka'bayni wa-in kuntum junuban faiththhahharuu
wa-in kuntum mardaa aw 'alaa safarin aw jaa-a ahadun
minkum minaalghaa-ithi aw laamastumu alnnisaa-a
falam tajiduu maa-an fatayammamuu sha'iidan thayyiban
faimsahuu biwujuuhikum wa-aydiikum minhu maa yuriidu allaahu
liyaj'ala 'alaykum min harajin walaakin yuriidu liyuthahhirakum
waliyutimma ni'matahu 'alaykum la'allakum tasykuruuna”
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak
mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan
sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika
kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit [403] atau dalam perjalanan atau
kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh [404] perempuan, lalu kamu
tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);
sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan
kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya bagimu,
supaya kamu bersyukur.
Kenapa tak boleh cerita natijah dalam suluk pada orang
lain ?
Kurniaan
itu hanya diberikan atau diilhamkan Allah S.W.T kepada kita dan ia menjadi rahasia
yang mesti disimpan.Hanya perlu meceritakan kepada Guru mengenai sesuatu natijah itu
sebagai adab.
Maka jelaslah
bagi kita bahwa segala yang rahasia bagi ALLAH S.W.T, telah membuktikan Maha
Besar Allah atas segalah yang diciptakan tiadalah yang sia –sia akan tetapi
menjadi pertanyaan bagi kita untuk semakin taat dan patuh kepadaNya.
Dan
ini merupakan pencerahan diri kita agar lebih dekat kepadaNya, sebagaimana
Sabda Rasulullah S.A.W., : MAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA RABBAHU.
Artinya: Barang
siapa mengenal dirinya, niscaya mengenal akan Tuhannya.
Jadi sebelum
mengenal Tuhan, kenallah diri. Perjalanan itu kita mulai dari dalam diri kita
sendiri, dari dalam terus kedalam, akhirnya serba alam dan keindahannya dan
dengan keganjilannya : hanyalah sebagai pencari diri.
Alam ini penuh
dengan rahasia-rahasia yang tersembunyi. Rahasia itu tertutup oleh
dinding-dinding, dinding- dinding itu ialah hawa nafsu kita sendiri, atau yang
disebut nafsu kita sendiri, atau disebut pula nafsu syaitan,
atau dengan kata lain ialah : nafsu lawammah atau nafsu sawiyah atau nafsu yang
batal/agiar.
Dinding-dinding
itu mungkin tersimbah dan terbuka, asal kita sudi menempuh jalannya, jalannya
ialah : jalan yang ditempuh oleh orang arif, dan mau mengurangi sedikit dari
hawa nafsu kebendaan. Dan sanggup menyisihkan segala halangan dan rintangan
yang hendak menggagalkan niat kita yang baik itu. Jadi yang hendak kita kenal
ini bukanlah diri yang kasar ini. Tetapi diri yang bersifat ketuhanan.
Diri
kita ini ada dua unsur : pertama unsur jasad atau badan kasar. Kedua unsur Ruh
atau badan latif. Ruh itu erat sekali pertaliannya dengan Tuhan. Memang sudah
hamba katakan dahulu bahwa RUH itu adalah suatu Rahasia yang amat pelit sekali.
Jadi yang
sebenar –benar Ruh itu Nur Muhammad.
Jadi yang
sebenar-benar Nur Muhammad itu Sifat. Sebenar-benar sifat itu ialah Zat. Jadi
Zat itu Zat Hayat,bukan Zat Hayun. Jadi Allah adalah nama Zat, dan Muhammad
nama Sifat. Zat dan Sifat itu tiada bersatu dan tiada bercerai.
Sekarang marilah
kita teruskan untuk mengenal diri dan mengenal Tuhan Allah Azzawazalla.
WANAN KAANAFI HAJIHI AMA FAHUWA FIL AKHIRATIA’MA WA
‘ADHOLLU SABBILA,
artinya : Barang siapa buta dalam dunia ini, niscaya buta juga di akhirat sesat
di jalan.
Seratus dua
puluh empat ribu nabi-nabi diutus Tuhan kedalam dunia ini, adalah untuk
mengajar dan memimpin umat manusia, untuk cara-cara membersihkan bathin atau
qalbu, supaya dapat ma’rifat dan mengenal Allah. Tujuan utama ialah : agar
memperoleh kebahagiaan jiwa, dan ketenangan bathin. Karena yang sebenar-benar
Kaya itu ialah kebahagiaan jiwa dan kebersihan hati.
Inilah
tujuan utama bagi alat jiwa manusia ini. Inti daripada selaga kebahagiaan itu
ialah : Ma’rifatullah. Jadi siapa yang sudah Ma’rifat itulah sorga dunia dan
sorga akhirat nanti. Dan siapa belum/masih terdinding itulah neraka dunia dan
neraka akhirat nanti.
Jadi barang siap
tidak ada hasrat memiliki ilmu ini maka samalah ia makan nasi bercampur pasir.
Ma’rifat itu
adalah suatu amanah dari tuhan yang wajib kita tuntut dan kita tuju.
MA’RIFATULLAH.
SEBELUM MENGENAL TUHAN,KENALLAH DIRI.
MENGENAL DIRI :
Diri itu ada dua
unsur.
Diri jahir
berupa jasad.
Diri bathin berupa
Ruh.
Dan diri itu
dapat pula dibagi atas 3 unsur.
Diri yang Hak.
(diri yang sebenarnya)
Diri terperi.
(Muhammad)
Diri terdiri.
(Adam).
Dan Ruh itu ada
tiga Martabat.
Ruh idhofi
(nafas yang keluar masuk)
Ruh mukayyat
(yang mengedari/yang ergerak keseluruh tubh)
Ruh mutlak (yang
tetap pada tempatnya)
Dan Zat itu ada
tiga Asma.
ZAT illahiyah
ZAT masbiyah
ZAT addahiyah.
Dan diri jahir
ada dua unsure bahagi pula.
Jasad yang
mengandung Ruh.
Ruh yang
mengandung Jasad.
Dan diri kita
ini mengandung dua aspek.
Diri yang
bersifat ketuhanan (lahud)
Diri yang
mengandung kehambaan (nasud)
Dan dalam diri
kita ini mengandung tiga Rahasia.
Rasa yang Hak
(rasa tuhan)
Rasa Muhammad
(Nur Muhammad)
Rasa Adam (rasa
yang tercela).
Dan
didalam diri kita ini ada suatu perbendaharaan yang tersembunyi : disitu ada
mahligai. Didalam mahligai itu ada alat yang halus , ada yang kasar. Kesemuanya
itu adalah berupa amanah tuhan dan suatu titipan Tuhan kepada hambanya. Amanah
itu ialah suatu titipan Ruh dan itulah yang wajib kita pelihara dan kita jaga
kemurniaannya.
Ruh
inilah yang sanggup mengenal Tuhannya. Dan yang sanggup melaksanakan sebagai
khalifah didalam bumi ini. Apakah alat yang halus dan kasar itu tadi?
4.1.11. Cara pandangan itu ada dua macam,pertama :
SYUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH, artinya :
memandang yang satu kepada yang banyak. Dimana pokok pandangan dimulai dari
syuhud bathin, naik kepada Nur bathin, dan kepada ilmu bathin. Dan akhirnya
sampai kepada ujud bathin.
SYUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH, Artinya :
memandang banyak kepada yang satu. Pandangan ini dimulai pada pangkal pertama
yakni ujud bathin yang hakikatnya Zat semata-mata dan Zat yang satu itulah yang
menerbitkan ilmu bathin ; yakni Sifat.
Dan juga Nur
bathin yakni Asma. Bahkan syuhud bathin yakni Af’al. maka apabila yang banyak
itu berasal dari yang satu :akhirnya akan kembali juga kepada yang satu. Dan
apabila sekarang kita sudah kembalikan,maka tidak ada lagi ujud kecuali Allah
semata. Tamsil, cahaya terang itu adalah permulaan dari sinar matahari,yang
disebut siang. Sebelum itu didapat, lebih dahulu yang dipandang itu adalah
cahayanya yang terang tersebut. Kemudian baru sinar yang menerangi itu, sinar
itu menyatakan cahaya matahari. Meskipun tidak tampak, karena sinar itu tidak
lepas dari matahari. Bahkan cahaya terang itu juga menyatakan adanya matahari,
karena datang dari sinar yang ada pada matahari tersebut.
Maka
apabila sudah lenyap dan fana segala yang lain daripada Allah Ta’ala dan sudah
lenyap segala sifat-sifat kejadian,yakni majhor kenyataan,maka akan tercapailah
makam baqa ; yang disebut juga makam tajali atau Nampak, makam Zuhur atau
nyata; yang menghasilkan pandangan :
MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH MA’AH Artinya : tidak
aku lihat sesuatu, yang Nampak bagiku Allah besertanya.
MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH QABLAH Artinya : tidak
aku lihat sesuatu, kecuali yang Nampak bagiku Allah sebelumnya.
MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH BA’DAH Artinya : tidak
aku lihat sesuatu, yang Nampak bagiku Allah sesudahnya.
MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH FI’IH Artinya : tidak
aku lihat sesuatu, kecuali yang Nampak bagiku Allah dalamnya.
Demikianlah
makam yang dicari setelah melewati fana dan fana ul fana, bagi orang-
orang yang
beriman untuk mendapat keteguhan iman dalam bersuluk.
IV.5.1.1 FANA
DALAM TINGKATAN
Fana pada Af’al (perbuatan), sampai merasakan
bahwa tidak ada satu perbuatan pun didalam ala mini.selain dari perbuatan Allah
Ta’ala.
Fana pada Sifat, hingga sampai menyakinkan bahwa
tidak ada yang hidup kecuali Allah.
Apabila dikatakan
tidak ada yang hidup pada hakikatnya kecuali Allah ; berarti juga tidak ada
yang kuasa, yang berkehendak, yang ber-ilmu, yang mendengar, yang melihat, dan
yang berkata-kata, kecuali Allah semata-mata.
Fana pada Zat ialah ; hilang ujud yang lahir ini dan
alam seluruhnya dan pandangan ; kecuali Allah.
Jadi
barang siapa yang melihat mahluk tidak punya perbuatan pada mereka, maka
sesungguhnya ia menang.
Dan
barang siapa yang melihat mahluk yang tidak ada hidup pada mereka, maka
derajatnya telah naik. Barang siapa melihat mahluk tidak ada pada hakikatnya,
maka ia telah sampai kepada titik yang dituju, yaitu titik puncak ilmu dan
ma’rifat.
Apabila
kita sudah menjalani yang tiga perkara ini, maka itulah makam fana namanya, dan
selanjutnya naik kemakam baqa, makam baqa itu ialah : HU ITU ALLAH TA’ALA. Sedang makam fana kesimpulannya kepada : LAMAUJUDA BIHAQQIN ILLALLAH. Tidak ada
yang maujud, kecuali Allah Ta’ala.
Bila rasa faham dan mengerti, kita temukan maka kuburlah
ia. Jangan dibeberkan ditengah masyarakat umum/awam, nanti bisa membawa fitnah
besar.
5.1.2.MEN-ESAKAN ALLAH TA‘ALA
TAUHIDUL AF’AL.
MEN-ESAKAN ALLAH
TA’ALA PADA PERBUATAN
Dalam
pelajaran atau pengajian-pengajian kita yang terdahul sudah kita jelaskan/kita
sampaikan, titik tujuan pelajaran dan ilmu tasawuf adalah menuju jalan kembali
kepada Allah dan supaya liqo/ bertemu Allah, maka jalan bagi salik/ penuntut
haruslah dimulai dengan mempelajari dan mengamalkan tauhidul af’al,
artinya : men-esakan
Allah Ta’ala pada segala perbuatan, yakni meninggalkan seluruh perbuatan yang
ada pada makhluk ini kepada Allah. Maksudnya pandanganlah olehmu dengan syuhud
hati dan dengan mata mata kepala dengan itikad yang putus dan dengan haqqul
yakin, bahwa segala perbuatan dan gerakan yang ada terlihat dalam ala mini,
baik yang datang dari diri kita sendiri maupun yang datang dari semua mahluk
yang ada dalam ala mini : baik perbuatan yang diridhoi oleh syara maupun yang
dilarang oleh syara ; adalah kesemuanya itu perbuatan Allah Ta’ala.
Memang
itu perbuatan Allah; maka kalau kita lihat pada lahirnya segala perbuatan itu
dilakukan oleh manusia/hamba dan segala hayawan dan lain-lain sebagainya.
Tetapi namun kita teliti dengan cermat dan dengan penuh keyakainan dan dengan
tinjauan akal, dengan seksama bahwasanya memang mahluk ini lemah, daif, hina
tak punya daya upaya sama sekali. Dan tidak punya sifat ta’sir dan sebagainya.
Sedangkan segala pebuatan itu tidak akan ada kalau sifat yang memperbuat itu
tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat ta’sir itu ialah Qudrat,
Iradat, ilmu, hayat sedang semua sifat-sifat itu ialah kepunyaan dan milik
Allah. Jadi segala perbuatan yang ada terlihat pada ala mini dan diri kita,
itulah perbuatan mazazi belaka,dan bukan hakiki. Itu adalah majhor dan
kenyataan perbuatan Allah kepada kita.
Allah
menyandarkan perbuatannya kepada kita, adalah tanda kasih sayangnya, supaya
kita punya titik dan penempatan mengenal perbuatan Allah dan ZATNya. Disamping
itu juga merupakan coba dan ujian kepada kita ; apakah kita sanggup memandang
perbuataan Allah, atau menjadi orang buta dan sirik, mengakui/kekuatan dan
perbuatan dia sendiri lahir dan bathin/luar dan dalam.
Kenyataan
dan kejahiran perbuatan Allah kepada hambanya ; inilah oleh kaum sufi disebut
usaha ihtiar hamba. Dan disinilah takluknya hukum
syara’.
SYEH WAHAB
SYAHRANI berkata ; beliau ada mendengar dari syaidina ALI AL HAWAS ia berkata :
Wajib bagi hamba meng’itiqadkan bahwa segala perbuatan dan usaha ikhtiar hamba,
sama sekali tidak membekas dengan sekira-kira
takwin dan atsar.
Lebih
jauh beliau berkata, Allah menghendaki mengadakan suatu harakat atau yang
disebut gerak perbuata, maka tidak akan ada ujunya kecuali pada maddah atau tempat yang menerima
hokum yang dimaksud ; mustahil ada ujud gerak atau perbuatan tanpa ada maddah
itu.
Maka yang
dijadikan maddah atau tempat menjahirkan perbuatan Allah itu, adalah hamba dan
lain-lainnya. Itulah sebabnya dipandang ada segi lain, ada perbuatan hamba.
Sangat
banyak sekali penjelasan dalam Al qur’an dan hadits-hadits nabi yang memberikan
keterangan2 bahwa hamba atau mahluk ini
sama sekali tidak punya perbuatan. Antara lain menegaskan, Allah S.W.T.
berfirman dalam surah AS. Shaa : 96 “WALLAHU KHOLAQOKUM WAMAA TA’MALUN artinya
: Allah yang menjadikan kamu dan segala perbuatan kamu.
Dan lagi ayat yang berbunyi : “WAMAA
ROMAITA IZROMAITA
WALAKINNALAHA HAROMA”
Artinya ; Hai
Muhammad bukanlah engkau yang melempar
dikala engkau melempar, tapi Allah Lah yang melempar dikala engkau melempar (
surah anfaal 17 ).Jadi untuk kemantapan pandangan kita,kita harus selalu
melatih diri dengan tidak bosan-bosannya mensyuhud perbuatan Allah Ta’ala
Azzawazalla. kita hendak lah dalam hidup ini tidak hanya melihat yang tersurat
saja,tetapi juga yang tersirat.
Dengan
basyirah hati kita ini, biar saja mata melihat perbuatan alam,namun dalam hati
melihat perbuatan Allah.
Biar saja
telinga mendengar alam, namun hati kepada Allah. Biar saja mulut mengatakan
perbuatan si A si B dan si C, namun hati tetap tercurah kepada Allah.
Boleh
saja buat misal sekedar untuk mendekatkan kepada Allah (kepada faham).
Bahwa alam AKUAN
yang kita lihat ini dengan bermacam-macam corak dan ragam, hendaknya tak
ubahnya laksana kita melihat bayangan yang hati kita akan tertuju kepada yang
punya bayang-bayang itu. Tidak mungkin bergerak bayang bayang, tanpa bergerak
yang punya bayang-bayang. Jadi kesimpulannya adalah : tiada yang hidup, tiada
yang tahu, tiada yang kuasa, tiada yang berkehendak dan tiada yang berkata-kata
pada hakikatnya melainkan Allah Ta’ala.
Adapun zahir
sifat ini kepada mahluk adalah tempat memandang sifat-sifat Tuhan yang zahir
pada mahluk, yakni bayang-bayang sifat tuhan kepada hamba.
Seperti
ujud kita adalah baying-bayang ujud Allah Ta’ala. Mustahil ujud bayang-bayang
dengan tiada ujud yang mempunyai/empunya
baying-bayang.
Dan
mustahil pula bergerak baying-bayang dengan tiada bergerak yang empunya
baying-bayang. Bermula misal ini karena untuk menghampirkan faham jua adanya.
Jadi untuk
kemantapan pandangan ini bahwa mahluk ini tiada mempunyai perbuatan barang
perbuatan, hanya saja perbuatan yang ada dalam ala mini perbuatan,hanya saja
perbuatan Tuhan Allah semata-mata.
Dan jika engkau
sangka ada perbuatan lainnya daripadanya, walaupun sebesar zarroh, maka sirik
lah engkau,artinya : mensekutukan Tuhan dengan lainnya,(syirik khafi).
Demikianlah
orang yang hendak men-esakan Allah Ta’ala pada Af’al atau perbuatan,
tanamkanlah keyakinan kita itu kedalam lubuk jiwa yang sangat mendalam.
Dan tidak bergeser walau sebesar zarrohpun, kalau sudah
mantap pandangan akan Af’al Allah Ta’ala maka manunggallah perbuatanmu
(manunggal dalam rahasia) dengan Af’al-Nya.
5.1.3.
TAUHIDUL ASMA
MEN-ESAKAN ALLAH
TA’ALA PADA ASMA
Maksud
dan tujuan meesakan Allah Ta’ala pada nama : yaitu yang sebenarnya ialah untuk
mengenal Zat Allah,sehingga manakala kita memandang,mendengar,atau melihat nama
apapun jua pada mahluk ini,maka tercurahlah pandangan basyirah kita dan
perhatian kita kepada Allah s.w.t. Adapun pengertiaan meesakan sama itu ialah
menyatukan, meninggalkan, dan mengembalikan seluruh nama-nama atau nama-nama
yang ada pada mahluk ini, kepada nama dan Zat Allah Ta’ala.
Baik
nama-nama yang menurut hikmah dan manfa’at daripada benda ala mini ataupun
nama-nama menurut perbuatan mahluk ini,yang disebut dengan nama perbuatan atau
asmaul af’al. sekiranya dalam pandangan basyirah hati kita tidak ada yang bernama kecuali
Allah.
Jadi
nama-nama ini tidak terbatas kepada asmaul husna saja,tetapi lebih luas dan
lebih mendalam sekali atau tak dapat dihinggakan. Bermula kalfiat meesakan
Allah Ta’ala pada asma itu,yaitu kita pandang dengan mata kepala dan dengan
mata hati kita pada asma Tuhan semata. Atau harus dikembalikan kepada Allah Ta’ala
dengan dalil-dalil dan alasan sebagai berikut :
Karena af’al
mahluk adalah majhor dan kenyataan perbuatan Allah. Maka begitu juga asma
mahluk adalah majhor asma Allah yang tujuannya adalah untuk mengenal Allah.
Tiap-tiap nama menuntut ujud musama,yakni tiap-tiap nama tidak pisah dengan zat
yang empunya nama. Sedangkan kalau diperiksa dengan teliti dan dipandang dengan
pandangan ma’rifat,maka tidak ada yang maujud pada hakikatnya kecuali Zat Allah
Ta’ala. Allah berfirman : WALILLAHIL ASMA UL HUSNA FAD’UHU BINAA. Artinya :
Bagi Allah ada nama yang baik-baik ,maka beroleh kamu dengan DIA. Sabda
Rasulullah S.A.W : INNAMA TAD’UUMA MAN HUWA SAMI’UN BASYIRUN,MUTAKALLIMUN, WA HUWA MA’AKUM AINAMA
KUNTUM. Artinya : hanya saja kamu berdoa kepada Tuhan yang maha mendengar lagi
maha melihat, dan yang berkata-kata dan DIA selalu beserta kamu dimana saja
kamu berada.
Adapun cara kita
mamusahadakan pandangan ini ialah dengan dua cara yaitu : SYUHUDUL KASRAH FIL
WAHDAH dan SYUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH.
Artinya : Pandang yang banyak pada yang satu. Dan pandang yang satu pada yang
banyak. Disni hamba simpulkan saja bahwa : Seluruh ASMA ini dari Allah dan
kembali kepada Allah. Jadi pada hakikatnya nama-nama yang ada pada mahluk ini
nyata adalah : nama-nama Tuhan Allah.
Maka dari itu
wahai sekalian penuntut,mantapkan lah pandanganmu dalam segala perkara,supaya ia tetap bagimu.
Kalau sudah mantap pandanganmu, maka engkau yang bernama halifah Tuhan dalam
dunia fana ini.
Sekarang
baiklah kita teruskan tentang meesakan sifat Allah Ta’ala. Tetapi sebelum kita
membicarakan tentang meesakan sifat Allah Ta’ala : maka baiklah anda sekalian
hamba bawa kepada membicarakan tentang ayat Alqur’an yang berbunyi :
FA’ILUN
ILALLAH, Artinya SEMUA KERJA DARI ALLAH. Maka yakinlah kita sekarang ini tak da
yang perlu kita ragukan lagi. Karena sysk dan ragu itu adalah musuh kemerdekaan
akal. Demikianlah penjelasan hamba mengenai tauhidul asma.
Sekarang baiklah
kita teruskan kepada membicarakan tentang me-esakan Allah Ta’ala pada
sifat,artinya : seluruh sifat-sifat yang ada dalam alam ini, dimiliki kepada
sifat Hayat.
5.1.4.
TAUHIDUS SIFAT
MEN-ESAKAN ALLAH
TA’ALA PADA SEGALA SIFAT
Maksudnya meesakan Allah Ta’ala
pada segala sifat ialah : megembalikan, meninggalkan seluruh sifat-sifat yang
ada pada mahluk ini kedalam sifat-sifat Allah S.W.T., dengan pengertian yaitu memfanakan sifat-sifat mahluk
ini,kedalam sifat-sifat Allah Ta’ala sehingga tercapailah pandangan,bahwa tidak
ada yang bersifat kecuali Allah Ta’ala
saja.
Adapun
tujuannya adalah untuk ma’rifat kepada Allah,sedangkan sifat-sifat yang ada
pada mahluk ini adalah nyata sifat-sifat Allah Ta’ala. Dan sengaja Allah
sahirkan sifat-sifatnya itu kepada hambanya atau mahluknya, karena rahmatnya
supaya mahluk itu sendiri mempunyai tangga dan jembatan untuk mengenal
sifat-sifat Allah. Dan bukan jadi dinding dan hijab untuk melihat sifat-sifat
Allah, Tuhan yang kita cari, kita cintai.
Adapun
kaifiat dan cara memandang sifat Tuhan itu ialah :
Engkau
pandang dengan hatimu dan dengan mata kepalamu dengan hakkul yakin dan dengan
itiqad yang putus, bahwasanya tidak ada yang bersifat dialam alam ini kecuali
Allah. Seperti : kudrat, iradat, ilmu, hayat, sama, basyar dan kalam. Semuanya
adalah sifat-sifat Allah.
Jadi
sifat-sifat yang ada pada mahluk ini adalah sifat-sifat majaji belaka,bukan
hakiki. Maka daripada itu nyatalah kepada kita bahwa sifat-sifat yang ada pada
kita sekarang ini adalah nyata sifat-sifat Tuhan Allah semata. Kalau kita sudah
mengembalikan sifat-sifat yang ada pada kita itu kepada Allah, niscaya fanalah
sifat-sifat kita itu kepada sifat-sifat Allah.
Sehingga
tidak ada lagi yang bersifat,kecuali Allah. Jadi jelaslah sudah kepada kita
bahwa : kita ini tidak punya perbuatan,tidak punya nama dan tidak punya sifat
kecuali Tuhan. Sekarang tinggal lagi mengeesakan Allah Ta’ala pada Zatnya.
BEBERAPA
PENJELASAN
Sebelum
kita membicarakan tentang tauhidul Zat. Maka marilah kita jelaskan dahulu
tentang tauhidis sifat itu tadi. Didalam istilah ilmu tasauf ada beberapa
perkataan yang menyangkut masalah sifat
itu tadi. Kata-kata itu seperti dibawah ini :
ZAIDUN MAAQAAMA, MANQALA, MANFAKA,
MAAKUMA, LA’UDMA, QADIMUN, LA HANA.
Maksudnya
ialah : tentang dari sifat-sifat itu
sebagai berikut :
Sifat-sifat
Allah itu tidaklah berdiri kepada ZAT. ( tidak berdirinya seprti sifat hitam
kepada sesuatu benda ). Maksudnya tidak berpindah dari Zatnya, tidak terlepas
daripada Zatnya. Dan tidak tersembunyi dari Zatnya, bukan berarti tidak ada.
Dia qadim karena qadimnya zat,dan tidak akan binasa selamanya, jadi begitulah
hakikat sifat-sifat Tuhan tidak pernah berpindah kepada mahluknya. Ia seperti
nafi isbat jua,tidak bercerai dan tidak bersatu,tetapi memang satu dalam
rahasia. Maka dari itu supaya hambanya
dapat mengenal sifat-sifat Tuhan. Ia zahirkan NUR dan benderangnya
sifat-sifatnya itu kepada Roh kita, seperti sudah kita jelaskan dahulu tadi.
Jadi
kalau tahkik pandangan kita dengan cara demikian, niscaya fanalah sifat-sifat
kita dan mahluk sekaliannya kedalam sifat Allah. Maka dapatlah kita rasakan
bahwa : tidak mendengar kita, tidak melihat kita, tidak berkata-kata kita,
tidak tahu kita, melainkan dengan pendengaran Allah, dengan penglihatan Allah,
dengan kalam Allah, dengan tahunya Allah. Dan tidak hidup kita ini,melainkan
hayatullah zat, hingga yang lainya daripada sifat-sifat Allah S.W.T.
semata-mata. Demikianlah penjelasan hamba. Baiklah kita teruskan kepada
mengeesakan Allah Ta’ala pada ZAT,agar supaya para penuntut menjadi maklum
adanya.
5.1.5. TAUHIDUL ZAT
ME-ESAKAN ALLAH TA’ALA PADA ZAT
Meesakan Allah Ta’ala pada zat
adalah jalan yang terakhir dari perjalan seorang salik. Disnilah titik terakhir bagi arifibillah untuk menuju Allah
dan disini perhentian perjalanan kaum sufi dan para wali-wali.
Dan
disinilah batasnya mi’rojnya orang-orang mukmin sejati. Apabila sudah mencapai
kepada makam tauhidul zat itu,maka diperolehnya kelezatan dan kenikmatan yang
tiada taranya.
Hanya
dengan itulah yang dapat memuaskan dahaga jiwanya : menenangkan
qalbunya,nikmat-nikmat yang tak dapat diperoleh orang lainnya. Inilah puncak
rasa menikmati ridhonya : puncak kebahagiaan yang kekal dan abadi sepanjang
masa. Bermula kaifiat atau cara meesakan Allah Ta’ala pada zatnya, yaitu :
engkau pandang dengan mata hatimu dan curahkan seluruh perhatianmu itu
semata-mata kepada Tuhan seru sekalian alam. Karena sudah nyata kepada kita
bahwa :
TIADA YANG MAUJUD DALAM ALAM
INI,KECUALI ALLAH. DAN TIADA MAUJUD YANG DALAM UJUD INI,HANYA ALLAH. TIADA/TIDAK DALAM JUBAH MELAINKAN ALLAH. DAN
TIDAK ADA DIDALAM YANG ADA INI,KECUALI DIA. Karena sudah
jelas bagi arifibillah,bahwa : AL HAK
ADA PADA NABI KITA MUHAMMAD S.A.W.
Kalau
akhlak ada pada Rasulullah S.A.W,demikianlah ada pada kita. Demikianlah hamba
tambahkan supaya anda menjadi faham,dan supaya dapat melaksanakan tugas
masing-masing.
Firman
Allah Ta’ala : AL INSANU SIRRI WA ANA
SIRROHU. Artinya insan itu rahasiaku dan akupun rahasianya. Dan lagi
firmannya : AL INSANU SIRRI WA ANA SIRRI
WASIFATIN WA SIFATUN LAGOIRIH. Artinya insan itu rahasiaku, rahasiaku itu
sifatku, dan sifatku itu tiada lain daripada aku jua.
Jadi jelas kepada kita bahwa memang
: LA MAUJUDA BIHAQQIN ILALLAH.
Artinya tiada yang maujud didalam alam ini, melainkan Allah.
Pandangan
yang demikian adalah dengan alasan-alasan :
Semua
zat mahluk itu nampak dilihat dengan mata ini, bukan hakiki ( rusak ). Dan itu
hanya ujud hayali dan wahmi jua,yaitu sangka-sangka saja,dengan tidak
beralasan,karena ujudnya berada antara dua ADAM. Sedang ujud yang berada antara
dua itu,hukumnya ADAM,yaitu : ujud hayal.
Sedang ujud Adam
itu tiada maujud pada hakikatnya,hanyalah ia maujud kepada Allah Ta’ala yang
hakiki dan fana dibawah ujudnya. Ujud yang lain daripada ujud Allah semuanya
qaim,artinya berhajat kepada Allah Ta’ala. Jadi jelasnya begini dia tidak akan
ujud,kalau tidak diwujudkan oleh Allah Ta’ala. Yaitu : yang biasanya disebut
dengan majhor atau kenyataan ujud Allah Ta’ala.
Adanya nyata :
dan semua ujud ala mini adalah yang dimaksudkan hanya sekedar dalil titian
untuk memandang kepada zat Allah Ta’ala.
Jadi pada
pelajaran yang lalu itu sudah kita jelaskan bahwa sifat-sifat yang ada pada
mahluk ini nyata sifst-sifat Allah S.W.T, Jadi kalau demikian jelas dan nyata
bahwa : zat mahluk ini berarti juga sesungguhnya nyata sifat dan afi ’al,tidak
lepas dari zat.
Ujud semesta ala
mini tak ubahnya laksana debu yang terbang atau diterbangkan oleh angin
diangkasa : pada penglihatan mata ada,tapi kalu dicari tak ada. Kalau sekiranya
ada ujud ala mini pada hakikatnya,maka pasti pula ada sifat-sifat atau af’al
yang member bekas itu. Sedangkan semua itu sifat dan af’al yang memberi bekas
itu tidaklah ada,selain daripada sifat dan af’al Allah Ta’ala semata-mata.
SYEH SIDIK IBNU
UMAR KHAN berkata : Semua ujud lain daripada Allah Ta’ala,laksana ujud sesuatu
yang kita lihat dalam mimpi. Tidak ada baginya hakikat apabila kita terbangun
dari tidur,maka hilanglah semua itu. Begitulah hendaknya pandangan kita
terhadap ujud ala mini sesuai dengan hadist yang berbunyi : FALANNASU NIYA’AFAIJA MA’ATU INTABAHUA.
Artinya ; manusia adalah tidur apabila mereka mati,barulah mereka bangun atau
jaga.
Baiklah kita uraikan sedikit
tentang hadist yang baru kit abaca tadi,supaya kita faham. Manusia semuanya itu
tidur,apabila bangun barulah mereka jaga,maksud hadist ini tadi ialah : orang
yang hidup dengan hawa nafsunya sendiri,bagaikan orang yang tidur,walaupun ia
dalam keadaan bangun. Mereka berbangga dengan nafsunya sendiri dan dengan akuanya,tetapi
orang yang telah sampai kepada rahasia yang satu itu,itulah orang yang bangun
dari tidurnya. Jadi siapapun yang masih tidur,maka mereka itu tetap betah pada
nafsunya sendiri,yaitu yang belum mengembalikan hak Allah Ta’ala,mereka itu
tetap dalam hak Adam Demikianlah sepintas kilas hamba uraikan dan yang dimaksud
mati disini ialah : mati ma’nawi atau mati ma’na saja. Itu sesuai dengan hadist
nabi Muhammad S.A.W., yang berbunyi :
“ANTAL
MAUTUQOBLAL MAUTU”
Artinya matikan dirimu sebelum engkau mati.
Jadi disini adalah mati nafsu saja.
Maka daripada itu untuk mematikan nafsu itu jalannya ialah melepaskan diri dari
belenggu penjajahan hawa nafsu angkara murka. Jalannya ialah mengikuti jalan
sufiah,yang mereka itu telah berada dipuncak. Demikian seperti apa-apa yang
hamba uraikan menurut yang terdahulu itu. Untuk lebih mantapnya lagi, baiklah
hamba bawa anda kedalam laut ma’rifat yang penuh dengan ombak dan
badai,sehingga anda bisa mabuk karenanya. Mabuk disini artinya : Karam lenyap,
hancur dan lebur kedalam hakikat hidup yang sebenarnya. Yaitu lebur kedalam
hidup yang sejati telah Esa dengan seisi alam dan bersatu dengan seluruh
per-kemanusiaan. Demikianlah contoh bagi orang yang hendak mengenal diri.
Sekarang baiklah kita berkisar pula kepada membicarakan tentang makam fana atau
maka binasa.
5.1.6. MAKAM FANA/MAKAM BINASA
Makam fana ialah : Hilangnya ujud
kita ini lahir dan bathin. Bukan hilang pada nafsu ammaroh, tetapi hilang dalam
pandangan makhluk, kalau kita sudah benar-benar memesrakan diri kita lahir
bathin kepada Nur Muhammad dan bersatu dengan seluruh perikemanusiaan dan
bersatu dengan seluruh perikemanusaiaan dan bersatu dengan seluruh alam, maka
kalau sudah beroleh wasiat, hingga lenyaplah sifat-sifat Allah Ta’ala.
Inilah
yang disebut dengan fana dan baqa ;
a. kudrat kita lenyapkan kepada kudrat
Allah Ta’ala,
b. iradat kita lenyapkan kepada iradat
Allah Ta’ala,
c. ilmu kita lenyapkan kepada ilmu Allah
Ta’ala,
d. hayat kta lenyapkan kepada hayatullah
Zat,
e. pendengaran kita lenyapkan kepada
pendengaran Allah Ta’ala,
f. penglihatan kita lenyapkan kepada
penglihatan Allah Ta’ala,
g.perkataan kta lenyapkan kepada
perkataan Allah Ta’ala.
Maksud diatas
tadi ialah :
a. wala qadirun : tiada kuasa hanya Allah Ta’ala,
b. wala muridun : tiada berkehendak hanya Allah Ta’ala,
c. wala alimun : tiada tahu hanya Allah Ta’ala,
d. wala hayyun : tiada hayat/hidup hanya Allah Ta’ala,
e. wala basyirun : tiada melihat hanya Allah Ta’ala,
f. wala sami’un : tiada mendengar hanya Allah Ta’ala,
g. wala muttakalimun : tiada yang berkata-kata hanya Allah Ta’ala.
Jadi
kalau sudah begini fana lah zat kita dan sifat kita zahir dan bathin,inilah
dalilnya.
1. MAUJUDUN WAHIDUN : Ujud yang empunya
ujud Esa.
2. WAJATUN WAMAUSUFUN : Zat dengan
empunya zat adalah Esa jua.
3. SIFATUN WAMAUSUFUN,Wahidun sifatun
wahidun ; sifat dengan empunya
sifat adalah Esa.
ASMAUN
WAMAUSFUN,Wa asmaun wahidun ; nama dengan yang empunya nama adalah Esa jua.
AF’ALUN
WAMAUSUFUN,af’alun wahidun ; af’al dengan yang empunya af’al Esa jua.
Jadi
inilah yang disebt arti dan makna yang sebenarnya daripada fana dan baqa itu
tadi.Inilah arti fana dan baqa yang dituntut oleh seorang
salik/penuntut/tholib/murid. Adapun alam insan itu terhimpun kepada diatas
daripada segala alam,jika bukan karena insane, se-suatu pun tiada
dijadikan/dijahirkan oleh Tuhan selamanya. Dalil menyatakan : Al insane sirri
wa ana sirrohu, artinya insan itu rahasiaku dan akupun rahasianya. Dan lagi :
Al insanu sirri wa ana sirri,sifatun wasifatin lagoirih : artinya ; insan itu
rahasiaku,rahasiaku itu sifatku,tiada lain daripadaku jua.
Maka
dari itulah insan dilebihkan oleh Allah Ta’ala daripada malaikat ; pun demikian
lah hendaknya itikad kita adanya. Yaitu : itiqad yang putus adanya,dan
tiadanya,dan adanya.
Kalau anda sudah faham benar
berarti putus itiqadnya, dan tiadanya dan adanya; maka barulah mendapat makan
ARIFIN yang sebenarnya. Baiklah hamba uraikan secara ringakas tentang; ADANYA DAN TIADANYA.
MANUNGGAL DUA UNSUR KETIDAK ADAANYA
: ADALAH
KEADAANYA,DAN KEADAANYA ADALAH
KETIADAANYA.
Sekarang
baiklah kita buat contoh/missal :
Kalimah
: LA ILAHA ILLALAH itu meliputi sangkalan dan pengakuan. Adalah keadaan/ adanya
dan tiadanya keadaannya/tiadanya, artinya : hakikat dari Tuhan adalah tiadanya?
Dalam ketidak adaannya/tiadanya : DIA mulai ADA. Yang terakhir lagi disebut :
keadaan yang abadi.
Itulah
makna atau arti dari : ADANYA DAN TIADANYA.
Sekarang
kita teruskan sedikit lagi tentang ada dan tiada. Keadaan yang abadi dan
ketidak adaanya keduanya sekalian bersamaan (sekaligus bersamaan). Adalah
merupakan : Ujud dati Tuhan. Sangkalan mengandung pengakuan yang positif.
Jadi
disini sangkalan dan pengakuan tidaklah terpisah dan tidaklah tersentuh,
maksudnya ialah : bercerai tidak ,bersatu tidak : akan tetapi keduanya Nafi dan
dibatasi oleh kalimah ILA dan tidak boleh masuk kedalam kalimah ILLALLAH.
Selanjutnya
kita harus tahu keadaan harus memberi petunjuk yang terang tentang apa yang
dianggap ada, seperti suatu petunjuk terhadap yang ditunjuk.
Jadi
rumus ILLALLAH adalah yang dianggap sebagai ADA. Maka mutlak lah nama keadaan
yang maha mulia dari Tuhan Allah Azzawalla, hanya untuk dialah rumus ILALLAH
itu tepat. Jadi kesimpulannya adalah : SERBA ESA,SERBA SATU,DAN HITUNGAN SEGALA
JIWA-PUN ADALAH SATU (DALAM RAHASIA TUHAN).
Disini
tidak ada lagi dua faham dalam ujud,tidak ada lagi dua kata dalam
perbuatan,tidak ada lagi dua unsur dalam asma dan tidak ada lagi dua jenis
kehidupan. Dan tidak ada lagi dua rumus dalam Zat dan Sifat segalanya : QADIRUN
BI ZATIHI, MURIDUN BI ZATIHI, ALIMUN BIZATIHI, HAYUN BIZATIHI,SAMIUN BIZATIHI,
BASYIRUN BIZATIHI, DAN MUTTAKALIMUN BIZATIHI.
Jadi
siapa sudah Faham,merekalah yang beroleh ilham.
Sekarang
kita teruskan pembicaraan kita kepada tentang hakikat Muhammad secara
ringkasnya.
Hakikat
Muhammad itu ialah NUR MUHAMMAD.
NUR
MUHAMMAD itu ialah HAKIKAT ALAM.
NUR
MUHAMMAD atau HAKIKAT MUHAMMAD disebut juga NUR AWAL, artinya asal segala
kejadian dan akhir segala kenabian : ALHAK dan dia pada Nabi. Itulah sebabnya
hakikat MUHAMMADitu disebut utusan, maka kalau hakikat Muhammad itu disebut
utusan tuhan maka carilah dan galilah sedalam-dalamnya hakikat hidup kita
ini,supaya bisa pulang kembali keasalnya,yaitu kembali kepada hidup yang
sejati, yaitu hidupnya tuhan yang kekal dan abadi,dan asali dan tidak terkena
rusak. Itulah yang disebut Zat yang maha besar HAK Tuhan Allah yang dikenal
dengan sebutan : HAQQULLAH TA’ALA.
Itulah tempat kembali, tempat
manusia Ma’rifat, sebagai kesempurnaan kita yang sejati dan abadi. HAQQULLAH
itu adalah sebagai kenyataan kita yaitu, untuk alam akhirat nanti dan alam
dunia ini.
5.1.7. LIQO-PERTEMUAN
Bertemunya
makhluk manusia kepada Tuhan dan sampainya, itulah puncak harapan, dan dengan
itulah ia mencapai akan kebahagiaan dan kerajaan besar, bahkan dengan itulah ia
akan lupa dan terhibur dari segala sesuatu selain Allah. Apabila tuhan
membukakan bagimu jalan untuk ma’rifat atau mengenal kepadanya, maka janganlah
engkau menghiraukan asal amalmu yang masih sedikit umpamanya.
Sebab
Tuhan tidak membukakan bagimu, melainkan Ia memperkenalkan DiriNya kepadamu.
Tidaklah engkau ketahui bahwa ma’rifat itu adalah puncak keuntungan seorang
hamba, maka tak usah kau hiraukan berapa banyak banyak amal kebaikanmu atau
amal perbuatanmu, meskipun masih sedikit amalmu dengan anggota yang lahir,
Ma’rifat itu suatu karunia pemberian Allah kepadamu, maka Ia sekali-kali tidak
tergantung kepada banyak atau sedikitnya amal kebaikanmu.
Andaikata engkau
tidak dapat sampai kepada Allah :
kecuali sesudah habis lenyap semua dosa dan kekotoran sirik, niscaya engkau tak dapat sampai kepadanya.
Untuk selamanya. Tetapi bila Allah menarik engkau kepadanya, maka Allah
menutupi sifat2mu dengan sifatNya, dan kekuranganmu dangan kurniaNya. Hilangkan
pandangan mahkluk kepadamu,karena puas dengan Penglihatan Allah kepadamu. Dan
lupakan perhatian makhluk kepadamu,karena melihat bahwa Allah menghadap
kepadamu.
Sebaik-baik saat
dalam hidupmu : ialah saat ingat kepada tuhan,dan ptus hubungan dengan segala
sesuatu yang lainnya.
Dan
apabila pada saat itu tidak ada lagi pandangan yang lainnya dari Allah, maka
pada saat itu murnilah pengertian tauhidmu kepada Allah.
Nikmat itu
meskipun beraneka macam bentuknya : hanya disebabkan karena melihat dan
dekatnya Allah. Demikianlah pula siksa itu walaupun ber macam-macam bentuknya
itu hanya karena terhijab dari Allah. Demikanlah pandangan orang yang faham.
Kesimpulannya adalah : siksa itu karena adanya hijab. Dan nikmat itu karena
melihat kepada Zat yang wajibal ujud. Dan siapa fana dengan Allah: pastilah ia
lupa segala sesuatu, dan siapa yang benar2 mengenal kepada Allah, Niscaya tiada
risau dan sedih lagin menghadap hidup
ini. Lagi pula barang siapa telah sampai titik puncak, Wali Allah namanya, atau
yang sering disebut : AL ALIMURROBANIYAH,( Alim yang sebenarnya).
Ma’rifat yang
paling tinggi dan yang paling dianugrahi Allah Ta’ala dengan ilmu Terbayang.
Apakah ilmu
terbayang itu?
Yang dimaksud
ilmu ternyang itu ialah ; ILMU LADUNIYAH, yang tiada mudah hilang.
Sedang ilmu yang
tampak ini mudah hilang dibawa angin lalu, jadi yang dinamakan ilmu yang tampak
ialah ilmu hafalan dan darusan. Apabila lupa ia dengan ilmunya,niscaya terhenti
bicaranya(lafalnya). Karena kalau diteruskan bisa membawa kehancuran dan
kerusakan menyeluruh. Itulah dia ilmu yang tampak. Sedang ilmu terbayang tak
pernah pudar untuk selama-lamanya. Ilmu yang tampak hanya dimilki orang alim
fiqih, sedang ilmu terbayang dimilki oleh Ahlullah.
Jadi ilmu yang
tampak kitu hanya bercahaya dalam alam dunia ini saja. Sedang ilmu yang
terbayang,bercahaya-cahaya meliputi hati orang yang memiliki qalbun salim.
Artinya ; hati yang latif yang bersifat ketuhanan(Lahud).
Itulah DIA yang
disebut cahaya yang cerlang cemerlang yang tiada harapan tuhan bartajali
kepadanya. Dia bukan Zat, bukan benda dan bukan materi : tetapi dia adalah
……………………………… yang paling sulit pada segalanya. Itulah DIA kaymiyakbathin, DIA
diatas daripada ilmu yang ada dalam dunia ini.
Kalau
masih terhenti kepada ilmu, belumlah ilmu. Ilmu yang sejati ialah : ALIMULGOIBI
WASYSYA’ADAH. Ilmu yang seperti ini hanya dianugrahi kepada hambanya yang
dikehendakinya.
Ilmu yang nyata
boleh untuk semua orang, ilmu yang goib hanya untuk hambanya yang beroleh
petunjuk dan anugrah istimewa daripada Allah Ta’ala, bukti nyata lihatlah
kepada nabi-nabi. khususnya kepada Nabi Muhammad S.A.W.
Kalam yang
tertulis dalam Al qur’an datangnya dariman dan kembalinya atau simpunnya
kemana?
Apakah setelah
membekas pada kulit2 kayu, daun korma, dibatu dan dikayu2 : sudah hilangkah
yang sejatinya?
Apakah Al qur’an
itu hanya tertulis di lukh mahfut saja? Adakah lagi lainnya?
Bagaimana
riwayatnya dan apakah nama tempatnya?
Kitab yang
diturunkan Allah kebumi ini ada 104 buah kitab, Adakah kitab yang tersmbunyi
dibalik yg 104 itu? Tidak; Kitabullah yang sebenarnya itu apakah ia berhuruf,
bersuara, dan merupakn kata-kata?
Manusia
ini ini hanya diberikan sedikit saja percikan kalam Tuhan yang hakiki dan
Azali. Jadi siapa yang berhajat kepada ilmu, ilmulah namanya, siapa yang
berhajat kepada Allah,Allah namanya.
Dan barang siapa
tiada berhajat kepada ilmu dan kepada Allah, ITULAH YANG SEBENARNYA ,yang
sampai.
Inilah makam
tuhan yang hakiki dan Azali. Dan inilah makam Ahlul akhirat namanya. Inilah
makam nabi-nabi dan rasul-rasul Allah, inilah makam MAHMUDAN namanya: Makam
yang terpuji dilangit dan dibumi, jadi siapa yang dikehendaki Allah,semuanya
Jadi.
Tidak ada
tertengah bagi Allah,hanya engkau sendiri kurang faham dengan Allah. Bila
engkau faham dengan Allah, maka berarti engkau sefaham dengan Allah. Artinya :
fahaman satu rahasia dengan faham Allah. Kemauanmu satu rahasia dengan kemauan
Allah. Kebesaranmu satu rahasia dengan kebesaran Allah. Akhirnya Ujudmu dan
hidupmu satu rahasia dengan Ujud Allah dan Hayatullah Zat. Dan satu rahasia
dengan perikemanusiaan, dan dengan seluruh jagat raya ini. Dan se-gala2nya
dalam hal apapun jua, tetapi tetap satu rahasia dengan kebesaran dan kemuliaan
dan kekerasan, keelokan dan kesmpurnaan zat. TUHAN YANG MAHA AGUNG DAN YANG
MAHA SEMPURNA.
5.1.8. PANDANGAN HIDUP MUSLIM
Marilah
kita menjadi seorang sufi, karena kita adalah pengikut nabi yang telah
disucikan dan dibersihkan atau mutafa. Marilah kita menjadi sufi,dalam
menghadapi kehidupan sehari-hari,suci dalam perniagaan,sufi dalam
pergaulan,sufi dalam hidup kasih saying,dan sufi dalam hubungan dengan Tuhan.
Sufi sejati luas perasaannya,tinggi hikmahnya dan putus segala tali pengikat
yang mengikat kebebasan jiwa,terikat oleh siapapun,dan oleh apa-apa saja,selain
terikat oleh Allah.
Sufi yang sejati
meleburkan dirinya kedalam masdar tempat asalnya,fana diri kedalam baqa. Dalam
manusia biasa,maksudnya dalam pandangan manusia biasa, Tuhan adalah yang maha
kuasa atas alam ini.
Alam ini dibolak
balikkan,ditelentangkan dan ditelungkupkan oleh satu zat yang maha kuasa :
ALLAHU AKBAR. Dalam pandangan sufi memandang bahwa Tuhan itu adalah hakikat
ujud dalam hidup ini atau hakikat kekuatan dalam hidup. Kekuatan dan tenaga
itulah menjadi gerak gerik hati manusia bahwa gerak gerik alam alam maya pada
ini. Sufi yang sejati ialah : yang selalu
ingat kepada Allah dalam setiap saat dan lidah tidak kering-kering
menyebut Allah,dengan maksud nyawanya tidak putus mengingat Allah. Meskipun
lidah jasmaninya berdiam diri saja. Sufi sejati telah putus segala-gala rantai
yang beri batas dengan alam. Rohaninya terbang tinggi laksana burung yang
terbang keangkasa luas menyusup awan hijau,ditinggalkannya sangkar,naik keatas
puncak gunung,ditinggalkannya gunung naik keatas awan hijau,dia bertahta diatas
awan hijau,dipandangnya sangat lemah sekali alam semesta ini,termasuk
dirinya,kian lama kian terasa semakin lemah, AKUNYA : yang akhirnya leburlah
AKU kedalam hakikat AKU yang sebenarnya. Itulah ufuk tinggi luar
biasa,kadang-kadang ia berjumpa dengan orang-orang suci,atau aulia Allah,dan
waliAllah,serta orang-orang ahli tasauf.inilah mi’rojnya yang pertama bagi
seorang sufi. Jadi kalau aku masih merasa aku,maka belumlah aku sampai kepada
inti cinta. Kalau AKUKU : Aku leburkan kedalam engkau,maka AKU adalah ENGKAU
dalam segala hal.
Kini AKU tiada
disana. Hanya engkau tinggal semata. Sekarang AKU tak dapat berkata-kata lagi.
Bagaimana AKU menerangkan tentang DIA. Sedangkan AKU dengan AKU,
dan AKU dengan
dimana. Kalau AKU kembal, maka dengan AKU kembali itu terpisah.
Kalau AKU
lalai,dengan lalai itu, AKU diringankan. Apabila AKU berpadu kembali barulah
jiwaku menjadi tentram dan damai/bahagia. Inilah pendirianku atau akidahku yang
terakhir. Akhirnya : AKUKU LEBUR KEDALAM JIBU.
LAHURUFIN WALA
SAUTIN,artinya : Tiada huruf, tiada suara, tiada kata-kata,zat dirinya.
Jadi kalau
seorang penuntut telah sampai kepada JIBU / LA HURUFIN WALA SAUTIN : Maka
pastilah ia faham akan apa-apa yang dibicarakan. Jadi siapa-siapa belum
faham,berarti dia belum bisa menangkap segala pembicaraan yang amat halus ini
dan sulit baginya untuk memahami. Demikianlah apa-apa yang dapat hamba
sampaikan.
5.1.9. ALAM DAN TUHAN
Kehidupan dan
alam penuhlah rahasia-rahasia. Rahasia-rahasia itu tertutup oleh dinding.
Diantara dinding-dinding itu ialah hawa nafsu kita sendiri. Tetapi
rahasia-rahasia itu mungkin terbuka atau tersimpan. Dan dinding-dinding / hijab
itu mungkin tersimbah kita dapat melihat atau merasai berhubungan langsung
dengan yang ter-rahasia,asal kita sudi menempuh jalannya. Jalannya ialah jalan
yang dinamai tarikat. Dan jalan inilah yang menyampaikan kepada ilmu hakikat.
Jadi kumpulan ilmu pengetahuan sariat,kesediannya menempuh jalan tarikat dan
mencapainya akan hakikat,dan semuanya
Jadi ma’rifat
itulah kumpulan ilmu pengetahuan,amal dan ibadah. Kumpulan daripada ilmu,dan
filsfat agama. Kumpulan daripada pengamalan dan perasaan atau zauq. Dan
kumpulan daripada mantik,keindahan dan cinta.
Jadi sariat itu
artinya kenyataan,dan tarikat itu jalan. Sedang hakikat itu artinya : yang
sebenarnya,yaitu : Itiqad yang sebenarnya,yang wajib dipercayakan dan takluk ia
kepada perbuatan hati.
Hakikat
itu ialah kebenaran sejati dan mutlak. Yang padanyalah ujung segala perjalanan
bagaimanapun jauhnya. Akhirnya daripada segala langkah tujuan segala jalan. Dan
untuknyalah sariat dan undang-undang,dan didalam perjalanan menuju hakikat
itu,orang memulai dari dalam dirinya sendirinya. Untuk mengenal Tuhan kenallah
diri ( diri sendiri ). Perjalanan itu dimulai dari dalam kita sendiri dari
dalam terus kedalam,ahirnya serba alam dengan keindahannya dan dengan
keganjulannya,hanyalah sebagai aksi pencari diri. Disini sering terjadilah cara
yang didapat oleh ahli suluk atau ahli perjalanan / tharikat.
Setengahnya
karena sakig asyiknya,maka dirasainya bahwa diri tiada lagi. Yang ada hanya
yang ada atau: LAMUJUDA BIHAQQIN ILALLAH (hanya Tuhan yang ada sedang mahluk
tiada ). Yang ada ialah yang AWAL,yang tidak ada permulaan dan yang akhir tidak
ada penghabisan.
Adapun
diri sendiri dalam alam seluruhnya tidaklah ada ; sebab awalnya ADAM,artinya
tiada. Dan ahirnya fana dan lenyap : maka apabila jalan itu telah dijalani
dengan segenap kesungguhan, ketaatan, dan setia memegang segala syarat dan
rukunnya,akhirnya bertemulah kita dengan hakikat yang sebenarnya.
Mula-mula
tercapailah kasyap,yaitu terbukalah rahasia yang senantiasa yang menyelubungi
antara kita dengan DIA.
Maka dengan itu
terbukalah hijab atau dinding yaitu : dinding-dinding tebal yang memisahkan
kita dengan DIA, dan dinding-dinding itu ialah :Hawa nafsu kita sendiri atau
yang disebut angkara murka,atau nafsu hewani atau nafsu syaiton. Maka dari itu
gunanya kita TAJAHUT,artinya : melepaskan diri dari belenggu segala ikatan atas
diri kita sendiri.
Dan
apabila rohani kita telah mencapai kesempurnaan,maka otomatis takluklah jasmani
kepada kehendak rohani. Pada waktu itu tidak ada miskin lagi,bahkan mautpun
sebagai sangkar kecil kepada kebebasan
luas mencari kekasih. Dan mereka katakana,mati itu adalah alamat CINTA sejati
dan mutlak. Disini timbullah dalam kata yaitu yang dikatakan hulul. Hulul yaitu
: timbul kesatuan diantaraasyik dan ma’syuknya. Atau meninggalnya antara asyik
ma’syuk atau yang mencintai dengan yang dicintai,sehingga AKU adalah DIA,dan
DIA adalah AKU dan Analhak. Disini mulailah ada pertingkahan diantara ulama
ahli lahir dengan ulama ahli bathin. Tentu saja ada yang menolak dan adapula
yang membela. Kata yang membela,orang yang telah mabuk cinta dan rindu,yang
diliputi oleh perasaan-perasaan lebih mendalam daripada orang yang hanya
menggunakan akal semata dan mantik semata.
5.1.10. AHLI TASAWUF YANG SEJATI
Ahli
tasawuf yang sejati ialah mereka yang benar-benar memegang agama yang tulen.
Ahli sufi yang sejati ialah mereka yang jiwanya bebas tidak terikat oleh
apa-apa atau siapapun,dan bebas menjalankan kebenaran dari ilahi robbi. Berani
mengatakan itu benar dan ini salah. Ahli tasawuf adalah putus dengan mahluk dan
erat hubungannya dengan Tuhan,pandangannya Allah semata. Ahli tasawuf tidak
melihat kepada dirinya lagi,hanya Allah dalam pandangannya. Jadi siapa yang
masih melihat kepada dirinya, niscaya tiada melihat akan Tuhannya. Seluruh
pandangan ruhaniyah memandang satu dalam banyak. Dan yang banyak pada yang
satu.
Tersimpun dalam
satu kesatuan yang dalam istilah sufi disebut pabrik KUN dan yang diatur oleh
seorang insinyur yang pintar ialah : ALLAH TA’ALA. Kalau pandangan kita sudah
mantap separti itu,maka hilanglah rasa takut dan gentar,kecuali kepada Allah
saja. Jadi pandangan seorang yang dibawah memang berbeda dengan yang diatas.
Ujud selain daripada ujud Allah adalah ujud injaman karena semua itu Allah dan
Allah itu semuanya,ia hanya pertanda dari yang sebenarnya ada. Yang ada adalah
yang ada,yang ada ialah yang awal dan tidak ada permulaannya,yang ahir tidak
ada penghabisannya.
Maksudnya
me-esakan
Allah Ta’ala pada segala sifat ialah : megembalikan, meninggalkan seluruh
sifat-sifat yang ada pada mahluk ini kedalam sifat-sifat Allah S.W.T. dengan
pengertian yaitu memfanakan sifat-sifat
mahluk ini, kedalam sifat-sifat Allah Ta’ala sehingga tercapailah
pandangan,bahwa tidak ada yang bersifat
kecuali Allah Ta’ala saja.
Adapun
tujuannya adalah untuk ma’rifat kepada Allah,sedangkan sifat-sifat yang ada
pada mahluk ini adalah nyata sifat-sifat Allah Ta’ala. Dan sengaja Allah
sahirkan sifat-sifatnya itu kepada hambanya atau mahluknya, karena rahmatnya
supaya mahluk itu sendiri mempunyai tangga dan jembatan untuk mengenal
sifat-sifat Allah. Dan bukan jadi dinding dan hijab untuk melihat sifat-sifat
Allah, Tuhan yang kita cari, kita cintai.
Adapun kaifiat
dan cara memandang sifat Tuhan itu ialah :
Engkau pandang
dengan hatimu dan dengan mata kepalamu dengan hakkul yakin dan dengan itiqad
yang putus, bahwasanya tidak ada yang bersifat dialam alam ini kecuali Allah.
Seperti : kudrat, iradat, ilmu, hayat, sama, basyar dan kalam. Semuanya adalah
sifat-sifat Allah.
Jadi sifat-sifat
yang ada pada mahluk ini adalah sifat-sifat majaji belaka,bukan hakiki. Maka
daripada itu nyatalah kepada kita bahwa sifat-sifat yang ada pada kita sekarang
ini adalah nyata sifat-sifat Tuhan Allah semata. Kalau kita sudah mengembalikan
sifat-sifat yang ada pada kita itu kepada Allah, niscaya fanalah sifat-sifat
kita itu kepada sifat-sifat Allah.
Sehingga tidak
ada lagi yang bersifat,kecuali Allah. Jadi jelaslah sudah kepada kita bahwa :
kita ini tidak punya perbuatan,tidak punya nama dan tidak punya sifat kecuali
Tuhan. Sekarang tinggal lagi mengeesakan Allah Ta’ala pada Zatnya.
Ma’rifat itu adalah suatu amanah dari
tuhan yang wajib kita tuntut dan kita tuju.
IV.6.1.HIKMAH
DAN ILMU LADUNI
Pernahkan kita mendengar
istilah “ilmu laduni”? keberadaanya tak lekang diperbincangkan hingga saat ini.
Perbedaan pendapat pun ikut
mewarnai pembahasan tentang ilmu laduni.
Asal muasal Istilah Ilmu Laduni Ada pendapat yang menjelaskan, Ilmu ladunni
diambil dari kalimat ‘minladunna ilman’,
… ilmu yang berasal dari sisi Kami (Allah) tercantum dalam firman ALLAH S.W.T.
(Q.S.AlKahfi:65)
“fawajadaa 'abdan min
'ibaadinaa aataynaahu rahmatan min 'indinaa wa'allamnaahu min
ladunnaa'ilmaan"
Artinya : “Lalu mereka bertemu
dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan
kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu
dari sisi Kami”
Asbabun Nuzul Dalam ayat ini Allah menceritakan bahwa setelah Nabi Musa dan
Yusa’ menyusuri kembali jalan yang mereka lalui tadi sampailah keduanya pada
batu itu Yang pernah mereka jadikan
tempat beristirahat.
Di sanamereka mendapatkan seorang hamba di antara hamba-hamba Allah ialah
Al Khidir yang berselimut dengan kain putih bersih. Menurut Said bin Jubair,
kain putih itu menutupi leher sampai dengan kakinya.Dalam ayat ini Allah S.W.T., juga menyebutkan bahwa Al Khidir itu ialah orang yang mendapat ilmu
langsung dari Allah, yang ilmu itu tidak diberikan kepada Nabi Musa.
Sebagaimana juga Allah telah menganugerahkan suatu ilmu kepada Nabi Musa yang
tidak diberikan kepada Al Khidir.Menurut Hujjatul Islam Al Ghazali bahwa pada
garis besarnya, seseorang mendapat ilmu itu ada dengan dua cara:Proses
pengajaran dari manusia, disebut:
At Ta’lim Al Insani, yang dibagi menjadi dua,yaitu:
a. Belajar
kepada orang lain (di luar dirinya). Self study dengan menggunakan
kemampuan akal pikirannya
sendiri.
b. Pengajaran
yang langsung diberikan Allah kepada seseorang yang disebut At
a’lim Ar Rabbani. Ini dibagi menjadi dua, yaitu:Diberi dengan cara wahyu,
yang
ilmunya disebut: ilmu Al Anbiya (Ilmu Para Nabi) dan ini khusus untuk para
nabi.
Diberikan dengan cara ilham yang ilmunya disebut Ilmu ladunny (ilmu dari
sisi Tuhan). Ilmu ladunny ini diperoleh dengan cara langsung dari Tuhan tanpa
perantara. Kejadiannya dapat diumpamakan seperti sinar dari suatu lampu gaib
yang sinar itu langsung mengenai hati yang suci bersih, kosong lagi lembut.
Ilham ini merupakan perhiasan yang diberikan Allah kepada para kekasih-Nya
(para wali).
Adakah Metode Untuk Mendapatkan Ilmu Laduni?
Perdebatan dalam tahapan ini semakin seru, ada yang berpendpat ilmu laduni
tidak bisa diupayakan,karena ilmu laduni semata-mata murni anugerah dari Alloh S.W.T., tanpa perantara ikhtiyar hamba-Nya. Sehingga mereka beranggapan omong
kosong jika ada yang mengaku dapat membantu mendapatkan ilmu laduni dengan metode-metode
tertentu, seperti yang banyak digembar-gemborkan paranormal tertentu.
Pendapat lainnya adalah, memang benar ilmu ladunni
adalah ilmu mukasyafah (mampu melihat dengan pandangan bathinnya) yang berasal
dari ilha. Ilmu mukasyafah ini bukan hasil mempelajari suatu ilmu tetapi
merupakan ilham yang diletakkan kedalam jiwa orang mukmin yang hatinya bersih.
Namun demikian ada tanda-tanda untuk mendapatkan ilmu laduni, diantaranya ;
Mengamalkan ilmu yang diketahuinya, sebagaimana disabdakan Nabi S.A.W :
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَم
“Siapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, Allah akan mewariskan
kepadanya ilmu yang belum diketahuinya”....
Orang yang
bersuluk itu akan dikurniakan pelbagai hikmah dan ilmu laduni sekiranya mereka
itu benar-benar ikhlas dan segala kejadian itu lalui dengan mata kepala samada
dengan penglihatan, dengan bau atau rasa.Ketika itu murid tidak boleh
mengendalikan dirinya sendiri kecuali ada bimbingan guru yang faham akan setiap
situasi yang berlaku kepada murid ketika itu karena untuk mengenal Allah itu
mestilah dengan wasitah.Syeikh (Guru Mursyid) itulah yang menjadi wasitah bagi
menyampaikan murid kepada Allah S.W.T.
Imam Ghazali
menerangkan mengenai Ilmu Suluk ini iaitu sangat jauh perbezaan
antara mengetahui makna sihat atau kenyang dengan mengalami sendiri rasa sihat
dan kenyang itu malah beliau ada mengarang sebuah kitab mengenainya diberi
nama Suluk as-Sultanah.
Kita pergi
menunaikan haji dengan tubuh yang zahir menziarahi Kaabah manakala
bersuluk pula pergi menemui Tuan Kaabah secara rohaniah.Salik akan berzikir
dengan zikir Ismu Dzat,yakni zikir yang membolehkan salik itu mendapat tarikan
(jazbah ) kepada Allah.Apabila salik telah mendapat tarikan yang kuat kepada
Allah ,si salik ini akan dapat memulakan semula kata-kata yang pernah manusia
ucapkan suatu ketika dahulu di alam roh iaitu ” alastu birobbikum ; qooluu
balaa syahidna ” – Al A’raf ayat 172.
Kita lihat
bagaimana bayi yang baru lahir ke dunia akan menanggis karena sedihuntuk
meninggalkan Allah dan bila seseorang itu bersuluk dan sempurna suluknyaitu
hingga sampai ke peringkat makrifatullah,Tuhan ibaratnya berkata ; ‘dah lama
hati engkau tidak memandang Aku.
Jadi,
silakan…silakan..masuklah engkau dengan musyahadah’..
Ya
aiyatuhannafsul muttmainnah irjie..irjie..ila rabbikiriroodhiatammardhiah’.
Hati itu tempat
simpannya iman, wadah berbagai rahsia ghaib dan juga punca
terpancarnya berbagai nur.Hati itu perlu digilap,perlu dihidupkan agar tidak ia
menjadi seperti ais ; gelap dan tidak telus.Cara mengasuhnya adalah dengan
berzikrullah secara khusus,istiqamah dan terpimpin.
6.1.1.PENGENALAN
DIRI MENUJU PENGENALAN TUHAN
6.1.2. BERMULA DARI BEBERAPA PERISTIWA :
Asal kata mahluk
diambil dari kata-kata halq.
Dan kata-kata
halq itu diambil dari kata khalik.
Dan kata-kata
khalik itu adalah khalik.
Jadi asal dari
khalik kembali lagi kepada khalik.
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN, DATANG DARI
ALLAH KEMBALI KEPADA ALLAH.
Awalnya
Allah,dan ahirnya Allah.
Awalnya
Tuhan,dan ahirnya Tuhan.
Awalnya tidak
ada permulaannya,dan ahirnyapun tidak ada penghabisannya.
Kalau ma’rifat
kita sudah ta’zmullah,yaitu : tilik seorang arif itu akan kebesaran dan
kemuliaan,keagungan sesuatu itu melainkan itu semata-mata
kebesaran,kemuliaan,dan keagungan Tuhan Allah aza wazallah jua adanya.
Maka intisari
daripada itu adalah : Segala mahluk itu
adalah khalik,dan khalik itu sebaliknya.
Dalilnya :
SYUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH dan SYUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH,ahirnya SYUHUDUL
WAHDAH FIL WAHDAH. Demikianlah pandangan seorang arifibillah.
Jadi
kesimpulannya adalah : SEMUA ITU ALLAH,dan ALLAH ITU SEMUANYA. Inilah yang
disebut WAHDAH AL UJUD : atau kesatuan UJUD. Demikianlah yang dapat hamba
menyimpulkan bahwa :
6.1.3. ALLAH ADALAH HAKIKAT ALAM.
RUKUN – AGAMA – ADA – EMPAT – PASAL
Agama islam
adalah agama yang murni.Kemurniaan agama itu dibarengi oleh 4 rukun.
Pertama :
SARIAT, Kedua : THARIKAT, Ketiga : HAKIKAT, Keempat : ialah MA’RIFAT. Tanpa
yang empat macam ini bukan dinamakan agama.Pokok yang empat ini ialah :
MA’RIFAT.
Dan MA’RIFAT
ialah : kumpulan daripada syariat,tharikat,hakikat.Itulah yang disebut
MA’RIFAT.
Syariat artinya
: kenyataan
Tarikat artinya
: jalan yang menuju/menyempurnakan syariat
Hakikat artinya
: kebenaran yang sejati dan mutlak
Jadi kumpulan
ilmu pengetahuan tentang syariat dan kesediaannya dengan tharikat,ahirnya akan
bertemu dengan hakikat. Itulah yang disebut ma’rifat.
Maka
nyatalah kepada kita bahwa ma’rifat itu adalah gabungan dari ilmu
fiqih,usulludin dan ilmu tasawuf. Kumpulan
dari mantik,keindahan dan cinta.
Dengan
demikian hanya empat pasal inilah yang menyempurnakan agama Allah didalam dunia
ini. Jadi tanpa yang empat ini,semua amal ibadah,baik lahir maupun bathin akan
membaa masuk neraka. Sebab dalam amal ibadah pasti ada syariatnya,
tharikatnya,hakikatnya dan ma’rifatnya.
Pertama Syahadat.
Syariat syahadat
itu ialah : mengucap dengan lidah.
Tarikat syahadat
itu ialah : pada sholat sejatinya,sedang melakukan tajli kepada Tuhan.
Hakikat syahadat
itu ialah : hidup/hayat yang sesungguhnya.
Ma’rifat
syahadat itu ialah : agar supaya merasa dan melingkupi yang mencorong itu
dengan zat dan sifat Allah.
Kedua Salat.
Syariat sholat
ialah : saat-saat berdiri,ruku,sujud,dan lain-lain.
Tarikat sholat
ialah : tetap saja dalam kita sedang sholat sejatinya ialah tajli mutlak.
Hakikat sholat
ialah : telah jelas adanya,alif,lam awal,lam ahir,ha.Katakanlah Allah tak salah
lagi.
Ma’rifat sholat
ialah : harus sampai bertemu dengan Nur Muhammad itu.
Inilah sholat
sejatinya,sebelum kita ini tahu dia sudah ada.
Ketiga Puasa.
Syariat puasa
ialah : kita sudah maklum adanya.
Tarikat puasa
ialah : menyatu dengan tajli.
Hakikat puasa
ialah : puasa yang bergelimang dengan nafsu angkara murka,dan supaya kita
berdiri dengan nafsu zat hak ta’ala. ( nafsu yang diridhoi ).
Ma’rifat puasa
ialah : harus bertemu dngan bulan purnama sidi. Yaitu terang benderangnya,Tuhan
telah Bertazalli kepadanya.
Keempat Zakat.
Syariat zakat
ialah : kita sudah maklum adanya.
Tarikat zakat
ialah : harus berdirinya/fananya mahluk dari ingatannya,dan harus tajli mutlak.
Hakikat zakat
ialah : jangan sampai kita lupa atau salah dalam akidah.
Ma’rifat zakat
ialah : harus bisa atau harus sanggup merasakan hilangnya ujud seluruhnya lahir
dan Bathin dan menunggal dengan Tuhan ( dalam rahasia ).
Kelima Haji.
Syariat haji
ialah : kita sudah maklum adanya.
Tarikat haji
ialah : sedang kita salat atau waktu kita ada dibaitullah ( rumah Tuhan ).
Hakikat haji
ialah : meleburkan dosa dengan jalan ma’rifat,mengenal Tuhan Allah.
Ma’rifat haji
ialah : rohani dan jasmani telah menyatu dalam kesatuan yang utuh/mutlak.
Demikianlah yang
dapat hamba sampaikan. Jadi rukun islam itu tadi tiap-tiap satu rukun mempunyai
empat pasal. Maka kalau demikian,lima rukun itu menjadi lima kali empat adalah
duapuluh pasal. Inilah siempunya sifat dua puluh itu. Sebab dua puluh itu pasal
ini menghimpunkan segala sifat-sifat Allah didalam alam ini. Dan manakah sifat
istimewah bagi Tuhan ?
Segala-galanya
harus bagi Tuhan,tidak ada yang tertegah bagi Tuhan/tidak ada
dinding-dindingnya lagi. Hanya nafsumu sendiri yang tertegah,karena masih
terdinding. Bagi Tuhan tidak ada lagi wajib,yang ajib hanya bagimu dan bagi
orang yang belum faham dan belum mengerti.
Jadi siapa yang
faham,itulah yang beroleh petunjuk dari Tuhan Allah. Kesimpulan rukun agama itu
tadi ialah ESA SEGALANYA dan tidak ada lagi DUANYA.
6.1.4. BERTEMUNYA MANUSIA KEPADA TUHAN
Bertemunya
manusia kepada Tuhan dan sampainya kepadanya, itulah puncak harapan, dan dengan
itulah dia mencapai kebahagiaan dan kerajaan besar ; bahwa dengan itulah dia
akan lupa dan terhibur dari sesuatu selain Allah Ta’ala. Hilangkan pandangan
makhluk kepadamu, karena pua dengan penglihatan Allah kepadamu.
Dan
lupakan perhatian/menghadapnya mahluk kepadamu.
Nikmat itu
meskipun beraneka ragam bentuknya ; hanya disebabkan karena melihat Allah dan
dekatnya kepada Allah. Demikian pula siksa itu walau bagaimana pun aneka
ragamnya,karena terhijab, dan sempurna nikmat itu, karena melihat kepada ZAT
Tuhan yang maha mulia.
BISMILLAHIRRACHMANIRRACHIM
ADAPUN YANG DINAMAKAN ‘DINDING ASAL DIRI’ ITU ADALAH
SEPERTI DISEBUT DIBAWAH INI :
AKU ALIF ALLAH.MASUKKU KEPADA LAM DJALALLAH.
LENYAPKU DI GHOIRULLAH. HILANGKU KEPADA LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADARRASULULLAH.
PERPINDAHAN
KEDUDUKAN NYAWA DITIAP-TIAP WAKTU
SUBUH berada di
SULBI Nabinya ADAM Warnanya PUTIH.
ZOHOR berada di
PUSAT Nabinya IBRAHIM warnanya KUNING.
ASHAR berada di
JANTUNG Nabinya YUSUF warna MERAH.
MAGRIB berada di
DADA Nabinya ISA warnanya BIRU.
ISYA berada di
OTAK Nabinya MUSA Warnanya HITAM.
UNTUK DIBACA
SEBELUM TAKBIRATUL IHRAM SEBELUM MEMBACA DOA PERTAMA
6.1.5. BAITULLAH,HU ALLAH, HU BAINA ALLAH, RAHASIA
ALLAH.
Caranya kita
hendak mengangkat TAKBIRATULIHRAM, Yaitu kita tarik napas dengan HU, hakikat
kita AKU masuk kedalam.
--- Tatkala kita
mengangkat TAKBIR ingat ZAT – ALIF
--- Tatkala kita
RUKU ingat SIFAT – SIFAT
--- Tatkala kita
I’TIDAL ingat akan ASMA – LAM
--- Tatkala kita
SUJUD ingat akan AF’AL – HA
Yaitu sampai
salam jangan lupa ;
ZAT – ALIF SIFAT – LAM ASMA
– LAM AF’AL - HA
LA ILAHA ILLA ALLAH
Adapun
ALIF itu ibarat SIFAT ALLAH, menjadi Rahasia kepada MUHAMMAD, menjadi CAHAYA
kepada kita.
Adapun LAM AWAL
itu ibarat SIFAT ALLAH, menjadi RUPA kepada MUHAMMAD, menjadi CAHAYANYA kepada
kita.
Adapun LAM ACHIR
itu ibarat ASMA ALLAH, menjadi ILMU kepada MUHAMMAD, menjadi IMAN kepada kita.
Adapun HA itu
ibarat AF’AL ALLAH, menjadi KELAKUAN kepada MUHAMMAD, menjadi HATI kepada kita.
Maka HU itu AKULAH ALLAH.
Leburnya
MUHAMMAD kepada ALLAH. LA itu AKULAH Raja Dunia dan Akhirat.
6.1.6. ZAT – MA’RIFATSIFAT – HAKIKATASMA –
THARIKATAF’AL –
SYARIAT :
Adapun ZATnya Adapun SIFATnyaAdapun ASMAnyaAdapun AF’ALnya
nyata kepada nyata kepada nyata kepada nyata kepada
MA’RIFAT. HAKIKAT. THARIKAT. SYARIAT.
--- Adapun
SYARIAT nyata kepada kelakuan TUBUH INSAN.
--- Adapun THARIKAT
nyata kepada kelakuan HATI INSAN.
--- Adapun
HAKIKAT nyata kepada kelakuan NYAWA INSAN.
--- Adapun
MA’RIFAAT nyata kepada kelakuan FUAD INSAN.
Inilah rupa yang
4 perkara ini, jangan tidak diketahui risalah tersebut dibawah ini.
ZAT SIFAT ASMA AF’AL
MA’RIFAT HAKIKAT THARIKAT SYARIAT
RAHASIA NYAWA HATI TUBUH
MIM HA MIM DAL
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Adapun asal
tubuh ( lembaga ) terdiri dari 4 ( empat ) nasar ialah :
1). TANAH 2). AIR 3). ANGIN 4). API
Kesemuanya ini
daripada NUR MUHAMMAD ( Muhammad Al – qur’an ).
Adapun asal
kejadian diri terdiri dari 3 perkara
ialah :
BAPAK 2. IBU 3.
TUHAN
Urat besar - Rambut - Penglihatan
Urat kecil - Kulit - Pendengar
Tulang -
Daging - Pengerasa
Otak - Darah - Pencium
-Nyawa
Ketiga perkara
ini jumlahnya 13 ( tigabelas ) dan ini terhimpun dalam rukun 13 ( tigabelas –
Rukun Sembahyang ( Hadist).
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Bismillah 1. Kepala kita.
Arrachman 2. Mata kita.
Arrachim 3. Antara kedua mata kita.
Alhamdulillah 4. Muka kita.
Rabbil’alamin 5. Telinga kanan kita.
Arrachman 6. Telinga kiri kita.
Arrachim 7. Tangan kanan dan kiri.
Malikiyyaumiddin 8. Belakang kita.
Iyyakana’budu 9. Kulipak ( kulit ) kita.
Waiyyakanasta’in 10. Dada kita.
Ihdinasyirotol
mustaqim 11. Urat lidah kita.
Syirotollazina
an’amtaalaihim 12. Pusat kita.
Ghoirilmagdhubi
alaihim 13. Empedu kita, Hati kita.
Waladdollin 14. Hati kura ( paru – paru ) kita.
Amin 15. Jantung kita.
BISMILLAHIRRACHMANIRRACHIM
A. SYARIAT B.
THARIKAT C.
HAKIKAT D.
MA’RIFAT
Syariat tubuh Af’al
Allah (diri terperiksa -
Syariat Ilmu yaqin).
Tharikat hati Asma
Allah (diri terperi -
Tharikat Ainul yaqin).
Hakikat roh Sifat
Allah (diri tadjali -
Hakikat Hakkul yaqin).
Ma’rifat Rahasia
Zat Allah (diri tadjali - Ma’rifat
malul yaqin).
LA – ILAHA – ILLA – ALLAH – LAILAHAILLALLAH
LA :
Jasmani yakni syariat tubuh ( Syariat itu perbuatan – Djalla ).
ILAHA :
Rochani yakni tharikat hati ( Tharikat itu kataku – Jamal ).
ILLA :
Hakikat nyawa ( Hakikat itu kediamanku – Qahar ).
ALLAH :
Ma’rifat atau rahasia ( Ma’rifat itu rahasiaku – Kamal ).
LA :
Menjadi ALCHAMDU atau ZAT Hayat.
Apabila
kita hendak mancari/mengenal diri,maka hendaknya terlebih dahulu kita
ketahui/kita kenal akan RAHASIA NUR MUHAMMAD karena rahasia Nur Muhammad itulah
sebenar-benar diri.
“ RAHASIA NUR
MUHAMMAD “ : Adapun yang bernama diri itu terbagi 2(dua) bagian, pertama diri
yang lahir, kedua diri yang bathin. Adapun yang lahir berasal daripada ANAMIR
ADAM dapat dibagi menjadi 4(empat) perkara yaitu :
1.
API 2. ANGIN 3.AIR 4.BUMI
Adapun API itu
terbit daripada yang bathin berhuruf ALIF, bernama ZAT, menjadi RAHASIA,
hurufnya DARAH pada kita.
Adapun ANGIN itu
terbit daripada yang bathin berhuruf LAM AWAL, bernama SIFAT menjadi NYAWA,
hurufnya NAFAS pada kita.
Adapun AIR itu
terbit daripada yang bathin berhuruf LAM ACHIR, bernama ASMA menjadi HATI,
hurufnya MANI pada kita.
Adapun BUMI itu
terbit daripada yang bathin berhuruf HA, bernama AF’AL menjadi KELAKUAN,
hurufnya TUBUH pada kita.
Jadi
jika demikian Diri kita yang lahir itu terbit daripada bayang-bayang diri kita
yang bathin jua,yang berhuruf atau berkalimah ALLAH,dan jangan kiranya kita
syak dan waham lagi.Kemudian daripada itu hendaklah kita fikirkan pula diri
kita yang sudah berhuruf atau berkalimat ALLAH itu,bagaimana hendaknya supaya
jangan sampai tersalah sangka.
Kemudian
sesudah kita ketahui diri yang lahir itu,hendaknya kita ketahui pula diri yang
bathin,siapa dan yang mana. Karena diri yang bathin itulah yang mengenal
Tuhannya,seperti sabda Nabi Muhammad MAN ARAFA NAFSAHU FAQOD ARAFA RABBAHU :
Artinya, barang siapa yang mengenal akan dirinya, maka dikenalnya akan
Tuhannya.
Tetapi
sebelum kita mengenal diri yang bathin,maka hendaknya lebih dahulu diri kita
yang lahir itu,yang berwujud nama ALLAH itu. Kita matikan sebelum daripada
mati,seperti firman Allah didalam Qur’an ; ANTAL MAUTU QOBBAL MAUTU, Artinya
engkau matikan dirimu sebelum kamu mati.
Maka jikalau
sudah kita matikan diri kita yang lahir,barulah nyata diri kita yang
bathin,yang bernama sebenar-benarnya diri.
Adapun mematikan
diri yang berhuruf atau berkalimah nama Allah itu demikian caranya : pertama manafikan
hurufnya ALIF-LAM-LAM-HA.
ALIF - ALLAHUSSAMAWATUWAL ARD.
LAM - LILLAHISSAMAWATIWAL ARD.
LAM - LAHULMULQUSSAMAWATIWAL ARD.
HA - HUWAL AWALU WAL ACHIRU WAL ZAHIRU WAL
BATHINU.
Jadi
kalau diri kita yang lahir itu nyata sudah FANA,artinya berkali-kali tiada
mempunyai apa lagi,seperti kata lafat :
“ MIN ADAMIN
ILLA UJUDIN WAMIN UJUDINILLA ADAMIN “
Artinya : Daripada
tiada menjadi ada dan daripada ada kembali kepada tiada.
Jadi
maksudnya kita ini ( diri kita yang lahir ini ) sudah fana kepada diri yang
bathin,artinya yang lahir ini sehelai rambutpun tiada mempunyai apa lagi,dan
tiada boleh dikatakan ada lagi. Pada ILMUnya hanya diri yang bathin jua,ialah
yang bernama MUHAMMAD. Seperti firman Allah didalam hadist qudsyi : CHALAQAL
ASYIA LIAZLIKA WAHA OTUHALILAZLI, Artinya ; kujadikan engkau karenaku ya
Muhammad.
Jadi
jelaslah bahwa yang bernama MUHAMMAD itulah sebenar-benarnya diri yang
bathin,dan hendaknya janganlah kita syak dan waham lagi,karena MUHAMMAD itulah
yang ada mempunyai :
TUBUH, HATI,
NYAWA, dan RAHASIA.
Adapun TUBUH
MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM IHSAN yakni SYARIAT.
Adapun HATI
MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM DJITSIH yakni THARIKAT.
Adapun NYAWA
MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM MISAL yakni HAKIKAT.
Adapun RAHASIA
MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM ROH yakni MA’RIFAT.
Maka sesudah
demikian itu hendaklah MUHAMMAD itu pula yang mengenal TUHANNYA,tetapi belum
lagi MUHAMMAD bisa mengenal Tuhannya,jika belum lagi fana TUBUHNYA, HATINYA,
NYAWANYA, RAHASIANYA, ZATNYA, SIFATNYA, ASMANYA dan AF’ALNYA. Seperti firman
Allah didalam Qur’an : QUL HUALLAHU AHAD,Artinya ; Katakan olehmu Ya
Muhammad,bahwasanya Allah Ta’ala ESA. ESA pada ZATNYA, ESA pada SIFATNYA, ESA
pada ASMANYA, dan ESA pada AF’ALNYA.
Dan lagi firman
Allah didalam Al – Qur’an :
“ WATAWAKKAL
ALAL HAYYIL LAZILA YAMUTU “ Artinya,serahkan dirimu Ya Muhammad kepada Tuhanmu
yang hidup dan tiada mati.
Maka
keterangan MUHAMMAD meng – Esakan dan menyerahkan diri kepada Allah seperti
tersebut dibawah ini,dan jangan syak dan waham lagi pada perkataan ini.
Adapun BATHIN
MUHAMMAD,ZAT kepada Allah, RAHASIA kepada hamba.
Adapun AWAL
MUHAMMAD, SIFAT kepada Allah, NYAWA kepada hamba.
Adapun ACHIR
MUHAMMAD, ASMA kepada Allah, HATI kepada hamba.
Adapun ZAHIR
MUHAMMAD, AF’AL kepada Allah, TUBUH kepada hamba.
Adapun yang
disebut / dinamakan HAMBA itu tiada lain ialah MUHAMMAD jua dan jangan disangka
bahwa yang disebut HAMBA itu KITA, itu salah karena kita ini pada ilmunya sudah
tidak ada lagi.
Jadi
RAHASIA, NYAWA, HATI dan TUBUH MUHAMMAD itupun tiada jua karena tubuh fana
kepada Zatnya, Sifatnya, Asmanya, Af’alnya, yakni Allah jua,seperti firman
Allah :
“HUWALAWWALUWALAHIRU,WALZAHIRUWALBATHINU”
Artinya ia jua Tuhan yang awal,tiada baginya
berpermulaan dan ia jua akhir yang tiada baginya berkesudahan dan ia jua yang
Zahir serta ia jua yang Bathin.
Jadi Muhammad
itu hanya sekedar nama jua. Adapun keterangan yang lebih jelas lagi yang lebih
menentukan bahwasanya itu tiada mempunyai sesuatu melainkan hanya sekedar nama
jua,adalah seperti tersebut dibawah ini :
Seperti yang
dikatakan RAHASIA MUHAMMAD itu,yang sebenar-benarnya tiada lain daripada
kezahiran Lima SIFAT ALLAH jua yang dinamakan kalimah “ Qala ” yaitu ; WUJUD,
QIDAM, BAQA, MUCHALAFATUHULILHAWADDIS, QIYAMUHU TA’ALA BINAFSIH.
Adapun yang
dikatakan NYAWA MUHAMMAD itu,yang sebenar-benarnya tiada lain daripada
kezahiran Enam SIFAT ALLAH jua yang dinamakan kalimah “ ILAHA “ yaitu ; SAMA,
BASAR, QALAM, SA’MIUN, BASHIRUN, MUTAKALLIMUN.
Adapun yang
dikatakan HATI MUHAMMAD itu,yang sebenar-benarnya tiada lain daripada kezahiran
Empat SIFAT ALLAH jua dinamakan kalimah “ILLA“ yaitu ; QODRAT, IRADAT, ILMU,
HAYAT.
Adapun yang
dikatakan TUBUH MUHAMMAD itu,ang sebenar-benarnya tiada lain daripada kezahiran
Lima SIFAT ALLAH jua yang dinamakan kalimah “ ALLAH “ yaitu ; QADIRUN, MURIDUN,
ALIMUN, RAJAUN, WAHDANIAT.
Jadi yang
bernama MUHAMMAD itu sebenar-benarnya adalah SIFAT TUHAN jua,yaitu SIFAT
KEBESARAN, KEELOKAN dan KESEMPURNAAN, ialah yang dinamakan KALIMAH TAUHID yang
mulia yaitu LAILAHAILLALLAH artinya tiada yang terdahulu hai MUHAMMAD dan tiada
yang terkemudian Ya MUHAMMAD.
Kemudian
daripada itu hendaklah diketahui pula maksudnya Kalimah yang mulia itu supaya
jangan syak dan waham lagi pada pengetahuan TAUHID dan MA’RIFAT.
Adapun kalimah
LA ILAHA ILLA ALLAH itu terbagi dua bagian :
Pertama, LA
ILAHA. Dan yang Kedua, ILLA ALLAH. Adapun LA ILAHA ialah SIFAT KEKAYAAN yang
tiada ada kekurangannya,yaitu Allah Ta’ala. Dan ILLA ALLAH itu ialah SIFAT
KEKURANGAN yang masih berkahendak,yaitu
Muhammad.
Kemudian
hendaklah diketahui pula yang bernama MUHAMMAD itu apa oleh ALLAH TA’ALA dan
yang bernama ALLAH TA’ALA itu apa oleh MUHAMMAD supaya benar-benar bisa menjai
TAUHID pada Kalimah yang mulia ini. Adapun MUHAMMAD ITU HAMBA. Artinya,
Rahasianya oleh Allah Ta’ala,karena Allah itu adalah nama bagi ZAT yang wajibul
wujud dan mutlak,yakni BATHIN MUHAMMAD.
TA’ALA itu
adalah nama bagi SIFAT,yakni ZAHIR MUHAMMAD. Jadi ZAHIR dan BATHIN MUHAMMAD
itulah yang bernama ALLAH TA’ALA. Dengan demikian maka patutlah kalimah yang
mulia itu dinamakan Kalimah Tauhid artinya Kalimah ESA. Yaitu :
LAILAHAILLALLAH.
Maka
pada kalimah yang mulia inilah pertemuan HAMBA dengan TUHANNYA.
Lagi
pula kalimah yang mulia ini diumpamakan sebesar-besar gedung perhimpunan segala
RAHASIA,segala ROH,segala NYAWA, segala ILMU dan segala ISINYA,segala ISLAM,
segala IMAN,segala TAUHID dan MA’RIFAT,yang kesemuanya terhimpun didalam
kalimah yang mulia ini.
Dan hendaklah
diamalkan supaya mahir,seperti :
6.1.7. JAUMUN RASA, JAUMUL MESRA.
Artinya,
Mesrakan pada siang dan malam yang terutama sekali didalam atau diwaktu
sembahyang Lima Waktu. Karena diwaktu itulah Tuhan menurunkan petunjuk yang
dinamakan WAHYU ( bagi para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasulnya atau yang dinamakan
ILHAM untuk manusia biasa seperti kita ).
Dan jikalau kita
sudah faham betul maksud bicaranya tentulah kita gemar dan rajin mengamalkannya
Kalimah yang mulia ini.Karena sudah tahu betul dan terang betul bahwasanya kita
ini tiada ada mempunyai sesuatu.
Jadi
tiada boleh lagi dikatakan yang berkata-kata ini kita,karena apabila dikatakan
yang berkata-kata ini adalah kita,berarti Tuhan fana kepada kita bukan kita
fana kepada Tuhan. Maka yang demikian ini mustahil dan yang sebenar-benarnya
kita jua yang fana kepada Tuhan ALLAH Rupa niat Kanitah itu ialah niat dalam
hati serta selamanya daripada takbirnya menyusun lafadz serta maknanya dan niat
Tawasijah itu membagikan niat itu daripada suku-suku takbir daripada asal
hingga Allahu akbar. Itulah niat yang batal keduanya.
Adapun
niat Arifiyah itu ialah bahwa menghadirkan. Ialah yang pertama-tama sembahyang
dengan Qasat, tha’arat, tha’ain. Terdahulu sedikit daripada Takbir,maka dimulai
niat itu daripada Allahu dan disudahi dengan Akbar. Jangan terdahulu dan
terkemudian.
Adapun niat Kamaliyah
itu ialah masuk ia pada niat Arifiyah jua,karena niat Arifiyah itu 3(tiga)
derajat didalamnya ialah :
DUNI,artinya segala yang wajib pada syara’
dikerjakan memadai akan dia.
WASTA’I,artinya yang sempurna.
QAAWI,artinya terlebih sempurna daripada yang
amat sempurna,yaitu niat Nabi-Nabi dan Wali-Wali yang memakainya.
Bermula
mematikan diri itu seperti ; WALA QADIRUN, WALA MUDIRUN WALA ALIMUN, WALA
HAYUN, WALA SAMI’UN WALA BASHIRUN, WALA MUTAKALIMUN, artinya ; tiada hambanya
kuasa, tiada berkehendak, tiada tahu, tiada hidup, tiada mendengar, tiada
melihat, tiada berkata-kata. Yang kuasa hanya Allah, yang tahu hanya Allah,
yang hidup Allah, yang mendengar Allah, yang melihat Allah, berkata-kata Allah
serta Maujud dan Esa Allah jua. Maka falah sekalian DIRI itu di dalam DIRI
Ahdiat Allah yakni ; fanalah di dalam ILMUNYA ALLAH yang Qadim adanya.
Kemudian
daripada itu maka hendaklah diketahui akan SYIR ALLAH didalam UJUD IHSAN ini,
niscaya senantiasa di dalam dosa, seperti Sabda Nabi MUHAMMAD S.A.W, yang
artinya ; Bermula ADAM itu di dosa yang amat besar dan dosa itu sebagiannya
yakni tiada sempurna mengenal Allah Ta’ala
jikalau diri di dalam kebaktian, karena kebaktian itu adalah umpama
JASAD dan ROH, demikian pula kebaktian tiada sempurna jika tiada dengan ILMU,
demikianlah adanya.
Adapun
SYIR ALLAH DIDALAM UJUD INSAN itu seperti Firman Allah di dalam Hadist Qudsyi
yang artinya ; bermula INSAN itu RAHASIAKU dan AKUPUN RAHASIANYA. Dan lagi
Firman Allah di dalam Hadist Qudsyi yang artinya ; INSAN itu RAHASIAKU dan AKU
RAHASIANYA, atau RAHASIAKU itu SIFATKU dan sifatku itu tiada lain daripada AKU.
Maka kata GHAUSYALU AZIM yang artinya ;
TUBUH MANUSIA, NAFSUNYA, HATINYA, NYAWANYA, PENDENGARANNYA,
PENGLIHATANNYA, TANGANNYA, KAKINYA, dan sekalaiannya itu AKU nyatakan dengan
azzaku dirinya bagi diriku itu tiada lain daripada AKU, dan aku tiada lain DARIPADANYA.
Dan ketahui olehmu bahwasannya HAK ALLAH SUBHANAHU TA’ALA itu tiada ia berdengan segala AF’ALNYA
seperti Firman Allah “WAHUWA MA’AKUM AINAM KUNTUM” artinya Tiada ada kamu,
Allah Ta’ala beserta kamu, dan lagi Firman Allah. Artinya di dalam DIRI KAMU
jua AKU, maka tiadalah KAMU melihat akan DAKU, karena aku terlehampir daripada
HATI MATAMU YANG HITAM DENGAN YANG PUTIH.
Maka
hendaklah engkau tilik tiap-tiap sesuatu daripada ala mini ALLAH TA’ALA serta
di dalamnya, seperti sabda Nabi MUHAMMAD S.A.W yang artinya, barang siapa
menilik kepada sesuatu, jika tiada dilihatnya Allah Ta’ala didalamnya, maka
tiliknya itu bathal yakni sia-sia. Maka kata Syaiyidina ABU BAKAR artinya ;
tiada aku lihat akan sesuatu melainkan padahal aku lihat Allah Ta’ala
dahulunya. Jadi yang mengata kalimah LAILAHA ILLA ALLAH itu tiada lain IA jua
memuji DIRI-NYA, seperti Firman Allah di dalam Qur’an :
ABABARALLAH
ILLALIAH artinya ; Tiada yang menyebut Allah hanya Allah
LAYA’JAHARALIAH
ILLALLAH artinya ; Tiada yang menyembah Allah
hanya Allah
LAYU’RIFULLAH
ILLALLAH artinya ; Tiada yang melihat Allah hanya Allah
LAYA’BUDULLAH
ILLALIAH artinya ; Tiada yang mngenal Allah hanya Allah
ZAT bagi ALLAH,
NAFSIAH pada MUHAMMAD, NAFAS pada ADAM
SIFAT bagi
ALLAH, SALBIAH pada Muhammad, TUBUH pada ADAM
ASMA bagi ALLAH,
MA’ANI pada MUHAMMAD, HATI pada ADAM
AF’AL bagi
ALLAH, MA’NAWIYAH pada MUHAMMAD, RAHASIA pada ADAM
Kemudian yang
empat sifat itu dibagi dua :
Pertama ; SIFAT mengadakan SURGA dan NERAKA
Kedua ; SIFAT mengadakan DOSA
dan PAHALA, jahat dan baik
ISTIGNA bagi
Allah, SIFAT KETUHANAN pada MUHAMMAD,
ILMU pada
ADAMISTIGFAR bagi Allah, SIFAT BERCAHAYA
(NUR) pada
MUHAMMAD ADA pada ADAM
Adapun yang
terkandung didalam yang empat sifat ini ;
SIFAT NAFSIAH = ialah NYAWA, pada kita
SIFAT SALBIAH = ialah KULIT, URAT, TULANG,
DAGING, DAN
DARAH
SIFAT MA’ANI = ialah HATI, JANTUNG,
SIMIT, RABU, EMPEDU,
DAN RAMBUT
SIFAT MA’NAWIYAH = ialah OTAK, SUMSUM, MENDENGAR,
MELIHAT, MENCIUM, BERKATA.
Inilah yang
dinamakan asal tubuh kita daripada sifat (empat sifat adanya).
ASYHADU ALLA
ILAHA ILLA ALLAH = Zat Wajibul wujud, qadim yang kusembahWAASYHADU ANNA
MUHAMMADAR RASULULLAH = harap kurnia ampun, Rahmat dari pada Allah.
Adapun
SEMBAHYANG LIMA WAKTU terhimpun didalam ALHAMDU, keluar daripada CAHAYA MANIKAM
yang PUTIH yaitu HATI pada kita.
ALIF : SUBUH dua raka’at ROH / JASAD.Keluar
daripada CAHAYA MANIKAM
yang HIJAU yaitu
EMPEDU pada kita.
LAM : ZUHUR empat raka’at DUA KAKI (empat
potong/ruas) keluar daripada
CAHAYA MANIKAM yang MERAH yaitu PARU-PARU pada kita.
HA : ASHAR empat raka’at DUA TANGAN (empat
potong/ruas) keluar daripada
CAHAYA MANIKAM yang KUNING yaitu
JANTUNG pada kita.
MIM : MAGHRIB tiga raka’at DUA LOBANG HIDUNG +
SATU LOBANG
KULIT. Keluar
daripada CAHAYA MANIKAM yang HITAM, LIMPA
pada kita.
DAL : ISYA empat raka’at DUA BIJI MATA + DUA
LOBANG KUPING, Amal
ROH Ialah NYAWA, Amal HATIialah PENGETAHUAN, Amal
TUBUH
Ialah BADAN.
HUKUM SYAHADAT: Pertama= Mengesakan Zat Allah Ta’ala :
ADA. DIA KEKAL
BERSALAHAN dan
BERDIRI SATU.
Kedua = Mengesakan Sifat Allah
Ta’ala HIDUP,
TAHU,KUASA,BERKEHENDAK,
MENDENGAR,MELIHAT
dan
BERKATA-KATA.
Ketiga =
Mengesakan Af’al Allah Ta’ala ; yang
HIDUP, YANG TAHU, YANG KUASA,
YANG BERKEHENDAK, YANG
MENDENGAR,
dan YANG
BERKATA-
Meng-esakan
kebenaran Rasulullah S.A.W.
PERCAKAPAN YG BENAR,
PERJALANAN
YANG BENAR, DAN
PENGETAHUAN
YANG BENAR.
LA ILAHA ILLA
ALLAH, ialah nama bagi ROHUL HAYAT
MUHAMMADAR
RASULULLAH, ialah nama bagi TUBUH INSAN KAMIL.
LA ILAHA ILLA
ALLAH = LA ; Sifat Mafsiah. ILAHA ;
Sifat salbiah, ILLA :
Sifat Ma’ani,
dan ALLAH Sifat Ma’nawiyah.
LA = Kalimah IMAN, artinya IMAN itu
percaya didalam
Hati kepada
Allah.
ILAHA =
Kalimah ISLAM, artinya ISLAM itu mengerjakan
segala Perintah ALLAH, dan menjunjungnya
serta menjauhi segalayang dlarang oleh
ALLAH.
ILLA =Kalimah
TAUHID, artinya itu mengesakan
ALLAH daripada
segala SIFAT yang bersekutu
dengan ALLAH.
ALLAH =
Kalimah MA’RIFAT, artinya MA’RIFAT itu
pengenalan
kepada Allah dengan jalan MA”RIFAT
yang putus.
Kemudian
diketahui olehmu hai Thalib, adapun yang dinamakan ISLAM itu daripada Kalimah
LAILAHAILLALLAHI. Maka wajib diketahui dahulu Kalimah itu barulah dinamakan
ISLAM, yang asalnya demikian Firman Allah ; WA’TASHINU BIHABILLAHI SAMI’AN WALA
WALA TAPARRAQU, artinya ; berpeganglah kamu kepada tali Allah dan janganlah
engkau bercerai. Adapun berpegang kepada tali Allah itu adalah seperti yang
tersebut dibawah ini.
HU = Puji NYAWA, zikir waktu naik, nyawa keluar.
ALLAH =
Puji ROH, zikir waktu turun, nyawa masuk.
ZIKIR ALLAH = Sama dengan Zikir LA ILLAHA ILLA
ALLAH.
Maka
kata Syaiyidina UMAR ; WAMA RAAITU SYAI’AN ILLA WARRAITUL LAHI BA’DAH, artinya
Tiada aku lihat akan sesuatu melainkan aku lihat Allah Ta’ala sertanya. Dan
berkata SYAIYIDINA ALI ; WAMA RAAITU SYAI’AN ILLA WARRAITULLAHI FIHI ; artinya
Tiada aku lihatakan sesuatu melainkan aku lihat Allah Ta’ala di dalamnya.
Maka
sekalian dalil dan hadist serta sekalian kata sahabat-sahabat ini adalah
perhimpunan WAHDAH Seperti Firman Allah ; ALLAHU BIKULLI SYA’IN MUHITH, artinya
Allah Ta’ala itu meliputi ia bagi tiap-tiap sesuatu, seperti BESI diliputi oleh
API. Begitulah pandang kita kepada Allah Ta’ala tempat perhimpunan daripada
LAILAHA ILALLAH didalam TAKBIRATUL IHRAM, dan segala niat dan I’tikad inilah
jalannya, maka berhimpunlah 4 (empat) huruf itu pada kalimah ALLAH. Huruf Allah
itu apabila dihilangkan huruf ALIF maka terbacalah LILLAH, apabila dihilangkan
huruf LAM AWAL maka terbacalah oleh kita LAHU, apabila dihilangkan huruf LAM
ACHIRNYA, maka terbacalah oleh kita HU, dan apabila fana huruf LAM itu, maka
tiadalah dapat terbaca lagi ALLAH tersebut. Untuk mengetahui dengan
sesungguhnya atas kefanaan atau setelah fananya huruf HA ini, maka bicarakanlah
olehmu baik-baik. Hai salah seorang yang meuntut ilmu jalan kepada Allah
Ta’ala. Bicarakanlah olehmu baik-baik huruf atau perkataan itu (perkataan Allah
itu) dengan seorang Guru yang boleh atau berhak mengeluarkannya perkataan yang
sedikit ini,karena perkataan ini terlebih keras daripada DUNIA ini,
terlebih keras daripada BATU, terlebih
keras daripada BESI dan terlebih keras daripada Segala yang keras dan jikalau
tiada ilmunya, sekalian amalnya dan Itikadnya, maka jauhilah daripada makam
Nabi MUHAMMAD S.A.W., Inilah jalannya SYUFI, ARIBILLAH dan ALIMBILLAH namanya.
Inilah
jalan bagi segala AULIA dan AMBIA, segala jalan ARIBILLAH itu tiada ia menilik
DIRINYA itu ada baginya UJUD lain selain UJUD ALLAH Ta’ala semata-mata. Bagi
Allah Ta’ala jua yang ada baginya UJUD dan baginya ZAT dan baginya SIFAT BAQA
seperti firman Allah ; MAN ARAFA NAFSAHU BIL FANA’I, FAQAD ARAFA RABBAHU BIL
BAQA’I, artinya ; Barang siapa mengenal DIRINYA dengan FANA, bahwasannya
dikenalnya TUHANNYA DENGAN BAQA. Bermula inilah jalan NABI MUHAMMAD mengenal
kepada Allah Ta’ala yaitu HADAP YG TIADA BERPUTUS, tiada BERKETIKA, tiada
LALAI, tiada LUPA, tiada berkeputusan, atau BERKESUDAHAN siang dan malam,
senantiasa CINTA dan KASIH kepada ALLAH TA’ALA, baik pada waktu Tidur maupun
jaganya. Inilah yang sebenar-benarnya jalan MA’RIFAT kepada ALLAH TA’ALA, yaitu
menghilangkan segala pekerjaan dunia, mengerjakan akan ilmunya dan
menghancurkan akan segala pandangannya, maka berhimpunlah kesemuanya ini
daripada huruf HA seperti disebutkan terdahulu.
Maka
disanalah kita MEMATIKAN UJUD DIRI KITA, SIFAT KITA, ASMA KITA, DAN AF’AL
KITA. Demikianlah kita mencari yang
dinamakan RAHASIA ALLAH dengan MUHAMMAD.
Adapun
orang AHLI SHUFI mengucapkan ZIKIR ALLAH itu ada empat perkara kesempurnaannya
:
LA ILAHA ILLA
ALLAH pada Syari’at : Tiada ada Tuhan
yang lain hanya Allah.
LA ILAHA ILLA
ALLAH pada Tharikat : Tiada aku kasih
yang lain hanya Allah.
LA ILAHA ILLA
ALLAH pada Hakikat : Tiada aku kasih
yang lain hanya Allah.
LA ILAHA ILLA
ALLAH pada Ma’rifat : Tiada ujud
sesuatu hanya ujud Allah.
Barang siapa
menyebut LAILAHAILLALLAH dengan katanya tiada lidahnya, maka kafirlah orang itu
pada zahirnya dan selamanya pada bathinnya.
Barang siapa
menyebut LAILAHAILLALLAH dengan lidahnya dan tiada tasdik hatinya, maka
kafirlah ia.
Barang siapa
menyebut LAILAHAILALLAH dengan lidahnya dan tasdik hatinya, maka orang
mu’miniah ia dengan se-benarnya mu’min.
Barang
siapa mengekalkan ia akan ujud itu, maka fanalah ia di dalam menyebut LA
ILAHAILALLAH, maka orang itu WALI ALLAH, karena kita ini ke ESAAN ujud ALLAh
jua, sebab ujud Allah itu ujud HAKIKI dan ujud kita ini hanya ujud MUJAJI.
Adapun tandil
tergangi tiada mempunyai Ujud hanya Allah Ta’ala. Adapun kita ini hamba-nya
artinya MUNAJAT itu berkata-kata, adapun yang berkata ALLAHU AKBAR itu Allah
jua, bukannya kita, karena kita ini hamba-nya. Adapun MI’RADJ itu LAIP, adapun
LAIP itu tiada mempunyai DIRI, melainkan hanya Allah Ta’ala bukannya kita,
karena kita ini hambanya,adapun IHRAM itu artinya ter-cegang adapun ter-cengeng
itu tiada tahu akan dirinya dan dia tahu maka apabila hapuslah/fanalah dan
tiada kelihatan ujud lagi ujud diri kita, maka disanalah tempat kita menanamkan
diri dengan Tuhan kita AZZA WAZALLA, dan barulah kita bertemu GAIB dalam GAIB,
Ujud didalam Ujud, Zat didalam Zat, Sifat didalam Sifat, asma didalam Asma,
Af’al didalam Af’al, Syir didalam Syir, Rahasia didalam Rahasia dan Rasa
didalam Rasa, maka disanalah kita menerima ZAUK WADJDAN dan ASYIK menghasiki,
inilah dalil yang menunjukkan diri kepada ALLAH TA’ALA.
Kedua
martabat WAHDAH : artinya ESA karena Tunasah dan Tasbih ialah perhimpunan
SHALIK dan seperti laut dengan ombak maka tiadalah bercerai keduanya, maka
dinamai TA’IM AWAL artinya CINTA PERTAMA, yang bernama ALLAH dan MUHAMMAD,
bernama ZAT dengan ZAT, maka yaitu Sifat Allah Ta’ala : WAHUWA MA AKUM AINAMA
KUNTUK, artinya ; dimana saja kamu berada Allah Ta’ala beserta kamu. Dan mula
serta itu tiada bercerai ZAT dengan SIFAT, tiada bercerai TUHAN dengan MAKHLUK,
adapun menurut kelakuan disini ZAT UJUD ILMU NUR SYUHUD itu dinamai yaitu
HAKIKAT ASYIA, artinya ada yang se-benarnya, perkara yang maklum bukan perkara
ilmu (segala ilmu) Allah Ta’ala kemudiannya dan lagi seperti kata para
sahabat-sahabat Nabi terdahulu.
Inilah
pandangan orang aribillah yang sebenar-benarnya jalan MA’RIFAT kepada ALLAH
TA’ALA. Begitu pula pandang kita.
Adapun yang
terhimpun didalam tubuh kita ada DUA ROH, yang hendak diketahui ; Pertama. ROH
yang dinamakan ROH QUDUSKedua, ROH yang dinamakan ROHANI, zikir sebutan ROHANI
itu ucapannya - ALLAH-ALLAH
6.1.7.ROH QUDUS itu ucapannya – HU – HU
Tiada tahu akan
Tuhannya, hanya bertemu GAIB didalam GAIB, SYEKH MUHAMMAD USMAN pernah
berwasiat kepada anaknya, yang artinya ; Hai anakku tiada dapat tidak atau
jangan tidak, wajib engkau ketahui serta engkau I’tikadkan didalam hatimu ilmu
yang 5 (lima) perkara ini, inilah yang dinamakan ILMU HAKIKAT.
Artinya ilmu
Hakikat itu mengetahui dengan yakin hati, bukannya dengan bacaan atau dengan
perkataan lidah tetapi dengan diberi ESANYA ditetapkan didalam hati jua.Maka
tiada berfaedah bacaan dengan lidah dan kalimat perkara tersebut adalah sebagai
berikut :
PERTAMA :
TAUHIDUL AF’AL
KEDUA :
TAUHIDUL SIFAT
KETIGA :
TAUHIDUL ASMA
KEEMPAT :
TAUHIDUL ZAT
Dan suatu
riwayat mengatakan sebagai berikut : FANA’IL AF’AL FANA’IL SIFAT dan FANA’IL
ZAT. Adapun Tauhidul Af’al itu seperti engkau kata ; LAFA’LUN ILLA FI’LULLAH,
artinya tiada mempunyai perbuatan melainkan se-mata perbuatan Allah Ta’ala jua
didalamnya (Hakikatnya). Dan Tauhidul Sifat itu yakni seperti engkau kata, dan
engkau i’tikatkan didalam hatimu : IA QUDRAT, IRADAT, ILMU, HAYAT, SAMA,
BASHAR, KALAM, artinya ; Tiadamempunyai KUASA, BERKEHENDAK, TAHU, HIDUP,
MENDENGAR, MELIHAT DAN BER-KATA-KATA. Melainkan kesemuanya itu daripada Allah
Ta’ala jua pada hakikatnya.
Adapun Tauhidul
ZAT itu seperti engkau kata engkau I’tikatkan didalam hatimu ; LA MAUJUDA
ILLALLAH, artinya tiada yang ujud didalam alam ini melainkan Allah Ta’ala
semata-mata pada Hakikatnya,karena sekalian alam (Ujud alam) ini tiada maujud
sendirinya, tetapi berdiri ujud kepada ujud Allah aza wazalla.
Keempat
dalil Shuhudul Kasyrah, seperti telah diuraikan terdahulu, yaitu pandang yang
banyak didalam satu dan pandang yang satu didalam yang banyak. Maka pandang itu
olehmu dengan bahwasannya ujud sekalian alam ini berdiri kepada Ujud Allah
Ta’ala, tiada maujud sendirinya dan pandang olehmu bahwasannya Allah
Ta’ala itu maujud didalam sesuatu yang
maujud maka disertakan pandangmu itu dengan pandang PANDANG RAHASIA DIDALAM HATI. Gukan pandang yang dibangsakan dengan
perkataan dan lafad itu tiada memberi faedah.
Artinya pandang
olehmu bahwasannya Allah Ta’ala itu maujud ia didalam tiap-tiap sesuatu ujud,
yaitu pandang HAWIYAHNYA QIYAUMAHNYA
dan Qudratnya serta kebesarannya dan tiada diambil tempat dan Allah Ta’ala itu
tiada menjadi rupa sesuatu, karena Allah Ta’ala LAISAKAMISLIHI SYAI’UN
WAHUWASSAMI’UL BASHIR artinya ; Tiada menyamai Allah Ta’ala itu sesuatu juapun
dan ia amat mendengar lagi amat melihat akan segala pekerjaan baik yang zahir
maupun yang bathin.
Dan
lagi ketahui olehmu bahwasannya sesungguhnya keadaan kita itu tetap
selama-lamanya didalam ILMU ALLAH TA’ALA jua, demikianlah se-benar-benarnya
I’tikad kita, maka itulah I’tikad sekalian para Nabi-Nabi Allah, sekalian wali
Allah dan I’tikada sekalian yang Sholih-Sholih maka janganlah kita ubah
daripada i’tikad ini, supaya sampai kepada jalan FANAFILLAH dan
BAQABILLAH,Artinya ; LAIP KITA DIDALAM ALLAH TA’ALA dan KEKAL ADANYA DENGAN
ALLAH TA’ALA. Adapun artinya LAIP itu ialah HAPUS, hapus itu tiada lagi
kelihatan ZAT kita, kecuali ZAT Allah Ta’ala se-mata. Begitulah hendaknya
I’tikad dan pandang kita, umpamanya seperti ombak ia bernama ombak atau laut
sebab ia bernama laut, tetapi pada hakikatnya adalah daripada AIR jua. Maka itu
namanya tiga hakikat tetapi berasal daripada satu jua. Umpamanya seperti besi
didalam Api, maka hilanglah besi itu oleh api, tiada kelihatan lagi ujud
besinya, hanya keadaan api itulah yang kelihatan se-mata, zatnya, sifatnya dan
Af’alnya.
Maka
apabila ditetapkan keadaan itu dan dikeraskan didalam keadaan kita, niscaya
hilanglah keadaan kita itu, maka tiada lagi dan sampailah kita kepada jalan
fanafillah dan baqabillah, maka apabila kita tidur terlihatlah oleh kita
dalalahnya pada bertemu.
TUDIBBUL
BADANI HAJJA ALA QALBI, hancurlah badan jadilah HATI. TUDIBUL QALBI SHARARROHI,
artinya, hancurkan hati jadikan ROH. TUDIBURROHI SHARANNURU, artinya, hancurkan
roh jadikan CAHAYA, ialah AKU ALLAH (dalam Diam). Aku yang se-benarnya RAHASIA
MARKUM MANUSIA didalam hatimu itu. Adapun hati manusia itu umpama cermin, maka apabila
ditilik didalamnya, maka kelihatanlah itu TUHANNYA, daripada RAHASIANYA, karena
rupa kita yang bathin itulah yang diakui Allah RUPA DARIPADA RAHASIANYA, karena
dalil menyatakan yang artinya ; INSAN ITU RAHASIAKU, RAHASIAKU ITU SIFATNYA,
SIFATNYA ITU TIADA LAIN DARIPADA UJUDKU yang WAJIB UJUD adanya. ALQALBUHAYATI
SYIRRI ANA ILLA ANA, artinya ; Didalam Akal itu Hati, didalam Hati itu Roh,
didalam Roh itu Syir, didalam Syir itu AKU. AKU RAHASIA SEGALA MANUSIA
AKU RAHASIA
SEGALA MANUSIA DIDALAM HATI. Ketahui olehmu hai Shaleh. Inilah orang yang
sebenar-benarnya mengenal ALLAH TA’ALA seperti ; MAN ARAFALLAHU FAHUWA ALLAH,
yakni barang siapa mengenal ALLAH yaitu bernama Allah dan Muhammad.
6.1.8.ALAM MINKUM
Adapun
HAYAT artinya dihidupkan, adapun MINKUM itu keTuhanan namanya. Maka inilah
sifat Allah Ta’ala yang dizahirkan kepada manusia, maka manusia itu disertai
sifat-sifat Tuhan, ialah ; HAYAT, QUDRAT, IRADAT, ASMA, BASHAR DAN KALAM.
Inilah kejadian segala manusia, maka inilah yang dikatakan TAJLI ZAT namanya.
Adapun yang jadi NYAWA itu terdiri dari (empat) perkara ; Pertama MANI, KEDUA
WALI, KETIGA WADI, KEEMPAT MADI. Maka itulah yang disertai ia dengan sifat 7
(tujuh) tersebut diatas, tempat TAJLI ZAT MUHAMMAD dan ZAT INSAN. Bahwa
daripada menyatakan sesuatu Qaidah perhimpunan marabat ABDIATUL JALAL, AHDIATUL
QAHAR, ABDIATUL KAMAL, namanya. Kemudian daripada itu martabat AHDIAT itu ESA
ia, itulah yang dinamai martabat, artinya tiada nyata-nyatanya. Adapun ZAT
ALLAH TA’ALA itu sangat nyata ia pada insane maka jadi terlindung oleh UJUD
….sebenarnya-benarnya yang tiada dengan sifat sesuatu, yakni belum ada UJUD
ALAM SYUHUD dan dinamai akan dia UJUD MUHDAR, artinya Ujud se-mata-mata.
Maka
dinamai akan dia KUN AZALA artinya dahulu dan pertama sekali, dan dinamai akan
dia KUNHI ZAT yang tiada dapat diketahui dan tiada boleh dipikirkan oleh akal
dan tiada sampai kepadanya ILMU. Melainkan sedikit jua dan dinamai TUNAZZAH
MAHAHI. Artinyasuci semata-mata. Mula suci belum Sifat dengan segala kelakuan
dan belum dapat NUR itu, dan kedua.
Alam MINKUM itu
adalah alam ketuhanan atau LAHUD. Ini sangat sekali , dan jarang hmbanya sampai
kepada alam MINKUM ini tidak seorangpun
sampai kepadanya, kecuali apa-apa yang dikehendaki ALLAH buat hambanya. Orang yang
telah sampai kepadanya itu ialah ; Hamba Allah yang sudah bulat tawakalnya
kepada TUHANNYA. Dan tidak ada lagi yang patut diragukan lagi dan tidak ada
lagi baginya rasayang ada. Kecuali ADA sendirinya dan berdiri dengan sendirinya
. Dan orang yang demikian itu telah berasda dalam kedudukan KHIB didalam KHIB.
Dialah bernama
KHIB itu dalam keseluruhanNYA.
Orang yang
seperti itu, apa saja yang dikehendakinya, pasti jadi. MINKUM ; siapakah dan
apakah yang disebut KUM itu didalam alam KUM itu ZAT TUHAN berdiri dengan sendirinya,
dialah rahja kuasa, langit dan bumi dan alam seluruhnya.
Dan disini
berdiri JALALULLAH, JANALLULLAH, KAHARULLAH, DAN KAMALULLAH. DAN DISINI DIA
SENDIRI SEBAGAI HAKIM, DAN MEHAKIMI.
Memang dahsyat
daripada DUSTA, lebih keras daripada baja, ebih hebat daripada segala yang
hebat.
Alam KUM ini
tiada beda dengan KUN
Singkatannya
ialah KAFMIM dan KAFNUN
Samalah ia
dengan ; MAHJUN dan MAKNUN
TANYAKANLAH
KEPADA YANG LEBIH TAHU
6.1.9.MAKAM AHLUL AHIRAT
Makam
ini disebut juga dengan makam ahlul ahirat, atau makam HAKIKAT SEMATA. Makam
ini sangat dahsyat sekali. Ia diluar dari akal orang banyak. Dan ia tidak
berpegang kepada kulit lahir daripada Nas dan dalil lagi. Ia telah menyeberang
daripadaNas dan dalil yang ada ini, ia tidak berpegang dengan kata- kata yang
ada ini lagi, dan tidak bersandar kepada hukum-hukum lahir lagi. Ia
berdirisendiri menurut kata SIR-nyaInilah yang menjadi hokum baginya Jadi yang
beginilah yang hamba katakan sangat dahsyat sekali, dan sangat hebat sekali
TIDAK AdA TUHAN,
MELAINKAN TUHAN
TIDAK ADA
ENGKAU, MELAINKAN AKU
TIDAK ADA AKU,
MELAINKAN ENGKAU
ENGKAU DAN AKU
ADALAH ESA
ENGKAU LENYAP,
AKU BERNYATA
AKU LENYAP
ENGKAUPUN NYATA
ENGAKU DAN AKU
telah lenyap didalam kefanaannya,
kefanaan lenyap
didalam ke-esaannya Tuhan.
Keesaan lenyap
didalam kekidaman.
Kekidaman lenyap
didalam kebaqaan.
Akhirnya fana
dan baqa dalam keagungan.
Kini tiada
kelihatan lagi makhluknya.
HAMBA dan TUHAN
hanyalah asma.
HAMBA itu
berarti ; AKU
TUHAN itu
berarti ALLAH
HAMBA dan TUHAN
adalah Satu
AKU dan ALLAH
juga Satu
Kalau
dihimpunkan menjadi : AKU ALLAH
Lenyap AKU,
tinggallah ALLAH
FANA HURUF
ALLAH, timbullah kosong
Kosong huruf,
kosong asma, kosong suara, kosong segala-galanya, dan tidak apa-apa, tiada
hingga. Ahirnya didalam kekosongan, Nampak jelas ujud membayang. Bayangan Allah
adalah alam.
Terpandang
kepada Allah Nampak jelas ujud yang sebenarnya. Karena ia tiada boleh pisah
walau ……….Jadi bagi orang yang berada pada makam penelanjangan TUHAN, berkata
dengan sembarang kata, tapi jadi. Apa yang dikehendaki pasti jadi.
Hanya orang
banyak tidak mengerti dan tidak paham dengan apa yang dimaksudkan. Contoh
banyak sekali kepada wali-wali Allah yang terdahulu. Hamba pribadi telah banyak
membuktikan apa-apa. Yang terjadi, diluar kemampuan orang umum/awam.
Siapa percaya
boleh percaya, dan siapa yang tidak percaya boleh tinggalkan ajaran ini.
AKULAH YANG
ERNAMA CINTA, AKULAH YANG BERNAMA si HAK, AKULAH YANG BERNAMA SORGA DAN NERAKA
ITU. AKULAH YANG BERNAMA ZATULHAQQ, SIFATULHAQQ, ASMAULHAQQ, DAN AF’ALLUNHAQQ,
HAQUQULHAQ adalah ; HAQQ, HAQQ TA’ALA itulah AKU.TA’ALA itu namaku yang rahasia
didalam ala mini.
RUHULHAQ RAHASIA
HAMBA, NAMAKU DISEBUT SETIAP SAAT.
Apabila orang
menyebut TA’ALA didalam bacaannya, atau dalam hatinya atau dalam DIAMnya. Maka
tersebut samaku didalamnya.
AKULAH TA’ALA
ITU, DAN AKULAH RAHASIA ITU.
BERARTI HAMBA
ALLAH. Yang member nama yang empunya nama.
HAMBA ALLAH
berarti : AKU ALLAH
NAMA YANG
DIHANTARKAN KEPADAKU NYATA DARI ALLAH
Tiap-tiap nama
seseorang itu mengandung hikmah. Hikmah itu bertepatan dengan pemberian nama
itu. AKULAH YANG HAMBA DAN AKULAH YANG TUHAN.
AKULAH YANG
BERNAMA siHAQ ITU
DAN AKULAH YANG
NYATA DAN YANG GOIB ITU
AKU JUA YANG
LAHIR DAN AKU JUA YANG BATHIN
AKU HIDUP YANG
TIADA MATI-MATI, dan apabila AKU tiada lagi dalam dunia fana ini, janganlah
mencari Aku lagi.
Aku tetap ada
setiap orang yag beriaman kepada ALLAH. Bila engkau hendak bertemu AKU,
pandanglah dirimu itu AKU. Tidak ada AKU, melainkan AKU. Dalam keseluruhannya.
AKULAH yang
bernama ala mini, dan AKULAH YANG bernama akhirat itu
Tidak aku lihat
didalam sesuatu itu, melainkan AKU melihat AKU
AKU itu telah
lenyap dalam KE AKUANKu, sehingga tidaklah AKU melihat kehambaanku lagi. Dan
Aku telah bernyata didalam AKU, beraku ku. Sehingga hapuslah mulutku dan hatiku
mengata AKU.
Kini Aku tidak
berkata dengan lidah lagi, tidak dengan hati lagi, dan tidak dengan puad dan
jantung lagi.
TA’ALA RIDHA
KASIH SAYANGKU
TA’ALA RACHMAD
ITU SELIMUTKU
TA’ALA NIKMAT
ITU RASAKU
TA’ALA HIKMAH
ITU RACHMAN RACHIMKU
TA’ALA SUNNAH
ITU ATURANKU
TA’ALA SHOLEH
ITU ILMUKU
TA’ALA ADIL ITU
KEKUASAANKU
TA’ALA ISFIAH
ITU KEMAUANKU
TA’ALA DHOIM ITU
RAHASIA PRIBADIKU
TA’ALA ALAIH ITU
KALAMKU PASTI
T ‘ALA JALAL ITU
KEMESRAANKU
TA’ALA JAMAL ITU
KEELOKKANKU
TA’ALA KOHAR ITU
KEKERASANKU
TA’ALA KAMAL ITU
KESEMPURNAAN DAN KEMULIAANKU
TA’ALA KHIB ITU
KESATUANKU BAGI SELURUH ALAM
Demikialah
sebagai penutup dari pembukaan
Rahasia yang
terkandung pada kejadian DUNIA danAchirat, dan amalan akhir kalamku sebagai
harta atau, Pembendaharaan GOIB yang kuwariskan kepada saudaraku
MUSLIMIN DAN
MUSLIMAH dimanapun ia berada.
INILAH ASAL SEBENARNYA TUHAN
MENJADIKAN
MANUSIA
KUN PAYAKUN : MENJADI OTAK
PADA KITA YAITU ; ROH IDOFIKUN HAQ : MATA TERANG HATI
TERANG
KUN SABITAH : NAPSIAH NAFSU
PADA KITA
KUN SAPUTIH : NYAWA PADA
KTA (GERAK PADA KITA)
KUN
SADJATURRACHMAN : KEHENDAK PADA
KITA
KUN SUDJATULLAH : KELAKUAN PADA KITA
KUN RAHMAN : RUPA KITA
KUN ZAT HAYUN : TIADA MATI
KUN ILLA NUR : RASA SEGALA
TUBUH KITA
NAMA DIRI HAMBA
NUR HAYA QADIMTURNA ILALLAHI WAYARAKNA ILLALLAHI WAMA DAMA, ALA MA’PA’AL NAHU
WALA ADJAM NAHU, MINGKULI DJAMIL AZIM WALA NAU WUDU BIHI ABADAN ABADA.
Kata Allah nyawa
itu kekuasaanku dihati putih tempat bernyawadalam UKUP, dijadikan umat MUHAMMAD
sekaliannya daripada ;
AIR KUM
DUMULLAH. (yang bernama NUR MAYA QADIM).
LAILLAHAILLALLAH : Hampir hamba kepada Tuhannya
LAILLAHAILLALLAH : MAUJUD BIHAKQI
ILLALLAH : Aku maujud pa’hu
(diri)
RAHASIA SYARIAT
PD ANGGOTA TUBUH.
RAHASIATHARIKAT
PD HATI.
RAHASIA HAKIKAT
PD NYAWA.
RAHASIA MA’RIFAT
PD DIRI. Kalau sudah mengenal diri nampaklah hakikat diri pencipta sekalian
alam.
Itulah yang
bernama ; ALLAH : tiada
berpermulaan tiada berkesudahan
LAILLAHAILLALLAH ; zikir
ILLALLAH ; zikir
ALLAH ; zikir, sunyi
MINALLAH ; HAMBA
BILLAH ; MUHAMMAD
LILLAH ; ALLAH
Dari pada ALLAH
Kepada ALLAH
Karena ALLAH
ROHANI : TUBUH SYARIAT
RAHMAN : HATI THARIKAT
IDOFI : NYAWA
HAKIKAT
BABBANI : RAHASIA MA’RIFAT
6.1.10. MAKAM SALIK
Ini
jalan ringkas dimakam salik yaitu ambil jumlah, supaya lekas paham, asal mula
ambil dari bawah naik keatas : Pertama ROHANI jasmani, arad basariyah segala
tubuh yang kasar. Kedua ayan darajiah, roh idhofi atau roh maruhul qudus
artinya roh yang halus tetapi masih kasar jua halusnya itu jirim-jisim artinya
tubuh yang halus betul, halus masih kasar jua, halusnya ini seperti debu
dijendela iruhul cahaya matahari, karena alam roh, alammitsal, alam ajasam dan
alam insan, sifat ma’ani nur iman belum dapat mengenal allah, mesti berhancur
atau jalan fana, hapus atau jalan baqa ulbaqa atau jalan kadim bagi kadim, baru
bisa dapat makam ubudiyah dan mendapat makam uluhiyah serta didapatnya pula
makam rububiyah.
Serta didapatnya
akan salik karena nur mubassarah dengan nur mutalazimah, berlazim-laziman
didapatnya ZAUK WADJIDAN IDRAK artinya dirasa dengan pengrasanya dan didapat
dengan pendapatnya daripada yang lemah, karena kita tiada merasa, dan mendapat
serta lemah, hanya ilmu saja yang tahu sampai kepada JUDBAH, dan makam
laduniyah atau makam istiqomah artinya tetap.
6.1.11. ALAM NUR / NUR AKLI NUR
BISMILLAHIRRACHMANNIRRACHIM
Ambil
ringkas saja jalan asal UJUD ADAM mesti mengambil amanah HALAKAL INSANA MINTIN.
Artinya asal manusia itu dari pada ujud Adam. Adapun ujud Adam dari pada NUR
MUHAMMAD. Jadi jasad dan roh oun jadi dari pada NUR MUHAMMAD jua.
Sebenar-benarnya diri adalah Roh. Sebenar-benarnya Roh adalah manusia,
sebenar-benarnya manusia adalah Muhammad, sebenar-benarnya Muhammada adalah
NURULLAH, sebenarnya NURULLAH ialah NUR ZAT, sebenarnya NUR ZAT ialah ILMU ;
mengetahui pandang SUHUD yaitu pandang SALIK.NAIK dan TURUN, tatkala naik
pujinya “HU” dan tatkala turun pujinya “ALLAH” Naik senaiknya, turun seturunnya
tiada di naik-naikan, tiadaa diturunkan. Ini hanya sendirinya, janagan
berpegang kepada nafas keluar masuknya, kalau naik, nafas masuk, kalau turun
nafas keluar.
Yang dikata
dengan lidah dan hati. Yang dipakai puji naik HU dan turun ALLAH. Supaya jangan
berpegang kenafas, tetapi naik-turun, tatkala naik pujinya HU melengkapi tujuh
lapis langit ujudnya HUTASARPAH la hurufin wala sautin, tiada huruf dan suara,
zat dirinya. Tatkala turun pujinya ALLAH melengkapi tujuh lapis bumi ujudnya
huyasariyah ZAT dirinya.
Inilah dinamakan
makam SALIK, (taraki dan tanazul) turun dan naiknya tetap berdiri sendirinya
sampai pulang ke rahmattullah. Jika ada yang menyerupai tolak, semua was-was
dari syaiton, tidak ada yang menyerupai lagi.
Itulah JIBU /
UJUD MUHDAR.
BISMILLAHIRRACHMANIRRACHIM
Yang
menjadikan dan yang memberi baik dan jahat dan yang lengkap tujuh lapis langit
dan tujuh lapis bumi yaitu hanya ZAT ALLAH dan SIFAT ALLAH yang
sebenar-benarnya.
Adapun akan JIBU
itu yaitu yang tiada ber ujud dan tiada ia ZAT. Adapun ZAT dan SIFAT itu
namanya jua, maka jikalau ada ujud, ZATlah namanya. Sungguhpun ada ujudnya,
yaitu belum nama tetapi pada hakikatnya tiada lain daripada JIBU, tiada ujudnya
dan tiada zatnya dan tiada sifatnya melainkan dirinya jua, yang sekalian ni
JIBU jua. Adapun yang ber-ujud itu zatnya dan yang berzat itu ujudnya, dan yang
ber pa-el itu sifat ilmunyadan yang berilmu itu Zatnya karena Tuhan itu yang tiada
bersifat. Adapun Allah itu bukan karena ia karena nama, Allah itu namanya.
Engkau pikirkan/ cari dengan pikiran yang sempurna. Maka barang siapa yang
menyembah ZAT ALLAH maka orang itu sirik, barang siapa meninggalkan ZAT ALLAH
dan UJUD ALLAH maka orang itu mukmin sebenar-benarnya MUKMIN.
Maka itu barang
siapa menyembah ZAT atau SIFAT, maka orang itu BID’AH sesat menjadi kafir
kepada Allah, Islam makhluknya. Adapun lenyap sekalian semesta alam ini maklum,
lenyap maklum kepada hayun, lenyap hayun kepada ZAT, kepada hidup yang tiada
berzat, karena zat dan sifat dan ujud kembali kepada JIBU, pada hari yang
kemudian, kedua-keduanya itu karena tiada kembali kepada tiada.
6.2.1. UJUD MUHDAR
Alhamdulillahirabbil
alamin wassalatu wassalam ‘ ala saidul mursalin, wa’ala alihi wasahbihi
ajma’in. Asal-usul sebelum ada bumi dan langit, tiada ada apa-apa hanya kosong
saja, melainkan ALLAH TA’ALA saja yang ada sendirinya tiada apa-apa. Allah pun
belum ada namanya LA – TA – YIN, tiada senyata-nyatanya. Hanya UJUD MUHDAR yang
ESA, hidup didalam ilmunya takluk kabdah namanya ESA sendirinya didalam
genggamannya yang hidup tiada mati.
AHDIYAT, WAHDAH,
WAHDIYAT
Tanzizi kadim
suluhiyah kadim takluk kodrat iradat ; jalal, jamal, kabar dan kamal. artinya ;
kebesaran, keelokkan, kekerasan dan kesempurnaan. Maka lengkaplah bumi dan
langit dengan isinya semesta sekalian alam ini adanya. KUN katanya ALLAH
PAYAKUN kata MUHAMMAD, ALLAH bernama ZAT MUHAMMAD bernama SUHUN ZAT, karena
kita bernama tanzizi hadist, arad basariyah tubuh yang kasar sifat baharu alam,
keterangan ringkas ini didabit oleh DATUK ABDURRAHMAN dan diperbanyak oleh
DATUK SYAHRUDIN.
6.2.2. HADIST QUDSYI
Dan
ini bermula hadist qudsyi, menerangkan sehingganya pada batang tubuh kita dan
lenyap melainkan yang ada, Ujudnya Allah Ta’ala semata-mata, dan inilah
keterangannya tersebut di bawah ini.
Hancurlah badan
timbul hati, Hancurlah
hati timbul akal, Hancurlah
akal timbul fikir,Hancurlah
fikir timbul faham, Hancurlah faham
timbul ilmu, Hancurlah
ilmu timbul rahasia, Hancurlah
rahasia timbul cahaya, Hancurlah cahaya
timbul nyawa, Hancurlah
nyawa timbul AKU (rahasia) melainkan ujudku yang ada.
6.2.3. BERZIKIR HANYA KEPADA ALLAH S.W.T.
7.1.1. JALAN MENUJU TINGKATAN
ZIKIR
Otak hanyalah aktiviti-aktiviti
bio-elektrik yang melibatkan sekumpulan saraf yang dipertanggungjawabk an untuk
melakukan tugas-tugas tertentu bagi membolehkan ia berfungsi dengan sempurna.
Setiap
hari 14 juta saraf yang membentuk otak ini berinteraksi dengan 16 juta saraf
tubuh yang lain. Sem ua aktiviti yang kita lakukan dan kefahaman atau ilmu yang
kita peroleh adalah natijah daripada aliran interaksi bio-elektrik yang tidak
terbatas.
Oleh
itu, apabila seorang itu berzikir dengan mengulangi kalimat-kalimat Allah,
seperti Subhanallah, beberapa kawasan otak yang terlibat menjadi aktif. Ini
menyebabkan berlakunya satu aliran bio-elektrik di kawasan-kawasan saraf otak
tersebut.
Apabila zikir
disebut berulang-ulang kali, aktiviti saraf ini menjadi bertambah aktif dan
turut menambah tenaga bio-elektrik. Lama-kelamaan kumpulan saraf yang sangat
aktif ini mempengaruhi kumpulan saraf yang lain untuk turut sama aktif. Dengan
itu, otak menjadi aktif secara keseluruhan.
Otak mula memahami
perkara baru, melihat dari sudut perspektif berbeza dan semakin kreatif dan
kritis, sedang sebelum berzikir otak tidak begini. Otak yang segar dan cergas
secara tidak langsung mempengaruhi hati untuk melakukan kebaikan dan menerima
kebenaran.
Hasil kajian
makmal yang dilakukan terhadap subjek ini dimuatkan dalam majalah Scientific
American, keluaran Disember 1993. satu kajian yang dilakukan di University
Washington dan ujian ini dilakukan melalui ujian imbasan PET yang mengukur
kadar aktivitas otak manusia secara tidak sadar.
Dalam kajian
ini, sukarelawan diberikan satu senarai perkataan benda. Mereka dikehendaki
membaca setiap perkataan tersebut satu persatu dan mengaitkan
perkataan-perkataan dengan kata kerja yang berkaitan.
Apabila
sukarelawan melakukan tugas mereka, beberapa bahagian berbeza otak mempamerkan
peningkatan aktiviti saraf, termasuk di bahagian depan otak dan korteks.
Menariknya,
apabila sukarelawan ini mengulangi senarai perkata an yang sama berulang-ulang
kali, aktiviti saraf otak merebak pada kawasan lain dan mengaktifkan kawasan
saraf lain.
Beberapa Bentuk Zikir
Dalam ajaran
tasauf ada beberapa bentuk zikir walaupun umpamanya berlainan antara saufi ini
dan saufi itu, atau guru ini, dan guru itu, semuanya disebut zikir jua. Bagi
penelitian hamba yang daif lagi hina in, semua bentuk zikir itu baik hanya ada
beda dalam sebutannya dan hurufnya. Tapi semua itu adalh zikir.
Tetapi yang
penting disini bukan huruf dan suara akan tetapi isinya apakah zikirnya kosong,
atau isi, itulah yang menjadi nasa allah. Dalilnya adalah : laya’ zikrullah
ilallah, artinya : tiada menyebut Allah hanya Allah,
inilah ainnya. Sekarang zikir yang hendak menangkap burung nuri seekor.
Umpamanya kita berzikir mangata : hu allah, hu allah. Itu ibaratnya menangkap burung tertangkap ekornya.
Mengata :
allahu, allahu, baru tertangkap bulunya saja
Mengata : allah,
allah, tertangkap kakinya saja
Mengata : la
ilalaha ilallah zatullah tertangkap kepala
Mengata : la
ilaha ilallah hak, tertangkap paruhnya
Mengata : la
ilaha ilallah nurul hak, tertangkap dadanya.
Mengata : lahu,
lahu, tertangkap lehernya
Mengata : la,
la, la tertangkap sayapnya saja
Mengata : hu,
hu, hu tertangkap suaranya saja
Mengata : ah,
ah, ah tertangkap keindahannya saja.
Ahirnya : la
hurupin wala sautin : baru tertangkap saikungan
Artinya : diam
Apabila
senarai perkataan baru diberikan kepada mereka, aktiviti saraf kembali
meningkat di kawasan pertama. Ini sekali gus membuktikan secara saintifik bahwa
perkataan yang diulang-ulang seperti perbuatan berzikir, terbukti meningkatkan
kecergasan otak dan menambah kemampuannya.
Oleh itu, saudara-saudara
ku seIslam, ketika saintis Barat baru menemui mukjizat ini, kita umat terpilih
ini telah lama mengamalkannya dan menerima manfaatnya. Malang bagi mereka yang
masih memandang enteng kepentingan berzikir dan mengabaikannya.
Perlu di-ketahui
berapa banyak ulama fuqaha’ yang kuat-kuat beribadat tetapi malang-nya di-hati
mereka kosong dengan kesan-kesan warid atau nur iaitu warid seperti datang-nya
sifat takwa,khauf, zahid dan tawakkal dengan sebenar-benar- nya.Mengapa?
Jawab-nya karena ibadat mereka tidak ada persambungan wayar langsung dengan
tarikat sufiah yang mendatangkan warid atau nur..Hendaklah kita faham bahwa
ibadat fuqaha’ itu hanya untuk menuntut pahala akhirat jua bukan ibadat sebagai
alat pembersihan hati.
Tetapi ibadat
tarikat sufiah adalah sebagai alat pembersihan hati, bukan karena menuntut
pahala akhirat..Jadi zikir sama sama berzikir terdapat satu macam sebutan,
tetapi zikir tarikat lain tujuan-nya dan zikir fuqaha’ lain pula matlamatnya
bahkan ia tidak ada langsung persambungan wayar dengan tarikat sufiah.
Bukan saja
zikir, perkataan atau ayat yang sama jika diulang-ulang seperti dalam kaedah
‘self hypnosis’ akan menyebabkan pertambahan aktiviti sel2 neuron otak lalu
diikuti tindakbalas2 spt yg dinyatakan. Kaedah ‘self hypnosis’ banyak dipakai
oleh orang2 Barat untuk mengurangkan masalah psikologi, menahan diri dari
terlebih makan ( berdiet ) dan berbagai-bagai lagi.. Kesan zikr yang tidak
kelihatan yang lebih utama kemungkinan besar adalah kepada ROHANIAH manusia.
“Ketahuilah hanya dengan
mengingati Allah, hati menjadi tenang” (Ar Raad : 28)“Orang Mukmin itu bila
disebut nama Allah,gementar hati mereka”(Al-Anfaal: 2)
Maka segala amal dan segala Hal itu hanya sanya yang
menetapkan(meneguhkan) dia di dalam hati oleh wujud Zikir pada Hati dan Lisan.
Dan kesempurnaannya(zikir) itu ialah dengan Hudur(hadir hati) dalamnya (zikir).
Dan jangan ditinggalkan karena ketiadaan Hudur tetapi
sebut oleh mu akan Tuhan mu atas tiap-tiap hal seperti yang dikata oleh Muallif
(Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) dalam kalam hikmahnya;
Jangan
engkau tinggalkan Zikir karena ketiadaan Hudur mu serta Allah di
dalamnya(zikir) karena bahwasanya lalaimu daripada tidak berzikir akan Allah
itu telebih sangat jahatmu daripada kelalaianmu dalam berzikir.
Jangan
engkau tinggalkan Zikir karena ketiadaan Hudur mu serta Allah di
dalamnya(zikir) karena bahaasanya lalaimu daripada ketiadaan wujud zikir akan
Allah itu telebih sangat jahatmu daripada lalaimu dalam wujud zikir akan Dia.
(Ini adalah karena)
karena bahwasanya lalai daripada zikir itu menjauhkan daripada Allah Taala dan
berpaling pada KulliahNya(semua halmu kepada Allah) dan lalai
dalam zikir itu
Hudur pada Juziyyahnya(sesetengah masa atau waktu) dan karena bahwasanya dalam
zikirnya itu menghiasi anggotanya dengan ibadat dan lalai itu menghilangkan
akan dia (anggota daripada berbuat ibadat)
Keterangan Suluk
(Zikir secara umum)
Menurut guru
suluk, Zikir secara umumnya ialah apa sahaja amalan dan perbuatan zhohir dan
batin yang membawa seseorang itu kepada mengingati Allah. Amal ibadat dan
perbuatan sama ada yang zhohir atau batin yang berlandaskan hukum syarak yang
dikerjakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri dan mendapat keredhoan Allah
dikatakan ianya sebagai zikir. Ini adalah karena zikir itu terbahagi kepada
kepada beberapa bahagian dan martabat seperti Zikir Anggota, Zikir Lisan, Zikir
Qalbi dan Zikir Sir serta Zikir yang tenggelam dalam Mazkurnya yang akan
dinyatakan oleh melalui keterangan
selanjutnya nanti.
Melalui kalam
hikmah dan keterangan di atas, seseorang hamba itu dianjurkan supaya sentiasa
berzikir dan terus berzikir walaupun hatinya lalai daripada mengingati Allah
atau tidak hadir pada hati akan makna-makna dan rahsia zikir(Hudur) semasa
melaksanakannya. Inilah adalah karena perbuatan/amalan berzikir ini walaupun
dikerjakan dalam keadaan lalai, ianya sudah dianggap sebagai satu ibadat atau
amal kebaikan jika dibandingkan dengan hal-ahwal seorang yang langsung tidak
berzikir di mana secara terang dan nyata menunjukkan penderhakaan dan
kejahatannya terhadap Allah.
Orang
yang langsung tidak berzikir adalah mereka yang jauh dari Allah dan kejahatan
mereka itu menjauhkan lagi dari Allah karena dengan kesombongan mereka itu
menyebabkan mereka berpaling dari hal-ahwal atau tindak-tanduk kewajipan yang
perlu dilaksanakan sebagai seorang hamba kepada TuhanNya.
Berbeda
dengan orang yang sentiasa mengerjakan ibadat seperti sholat, puasa, di samping
berzikir serta lain-lainnya; walaupun mereka lalai sewaktu mengerjakannya,
sekurang-kurangnya ada juga pada waktu atau ketika/saat-saat yang tertentu akan
hudur hati mereka dengan Allah atau setidak-tidaknya terhias zhohir anggota dan
perbuatannya dengan amal-ibadat yang dituntut oleh syarak. Bukankah boleh
dikatakan satu kebaikan pada orang bersholat atau berpuasa berbanding dengan
mereka yang langsung tidak sembahyang dan berpuasa?.
Demikain juga
lidah yang sentiasa basah dengan zikir walaupun hatinya lalai itu terlebih baik
dan mulia daripada lidah yang kosong hampa dengan kalimah-kalimah yang suci
itu.Dari karena inilah, meneruskan lagi keterangannya yang seterusnya seperti
berikut;
Keterangan oleh
;
Dan kata Wasthi
r.a.;
Bermula lalai
daripada menyebutnya(zikir) itu terlebih sangat (jahat) daripada lalai dalam
zikirnya.
Dan dikata orang
bagi Abi Osman An-Nahdi r.a.;
Kami zikir akan
Allah dan tiada kami dapat akan manis dan Hudur.
Maka katanya
(Abi Osman);
Puji jua oleh
kamu akan Allah atas(karena) menghiasi anggota daripada segala anggota kamu
dengan taatnya.
Dan kata setengah
mereka itu (kaum sufiah);
Syukurlah engkau
akan Allah atas barang yang dikurniakanNya daripada Zikir Lisan dan jikalau
melakukan (lidah) kepada tempat mengumpat-ngumpat nescaya tiada ada engkau
berbuat dia (zikir). Dan Allah Taala terlebih memuliakan daripada bahwa
diHudurkannya hambanya dengan lisannya (walaupun) tiada mengurniai atasnya
dengan Hudur hatinya. Dan sebut olehmu dengan lisanmu dan bersungguh-sungguh
dirimu dalam Hudur hatimu.
Keterangan Suluk
(Tingkatan Pertama; Zikir Lisan)
Ketiga-tiga
petikan yang didatangkan oleh di atas seakan ingin menunjukkan kepada kita
bahwa betapa perlunya seorang hamba itu membasahi lisannya dengan berzikir.
Terlebih-lebih lagi bagi orang-orang Salik yang ingin berjalan kepada TuhanNya,
tuntutan untuk melakukan Zikir ini adalah sangat-sangat ditekankan sebagai
senjata dan alat pencuci jiwa semasa dan sepanjang perjalanannya menuju
kehampiran. Walaupun lalai atau merasa pahit dan berat untuk berzikir, mereka
digalakkan juga untuk mengistiqamahkan Zikir Lisan ini mengikut awarid dan
bilangan-bilangan tertentu.
Pandangan di
atas juga menegaskan agar para Salik sentiasa bersyukur dengan anugerah dan
Kurnia Allah yang sedikit dimana Allah menghiasi anggota zhohir mereka dengan
amal taat dan patuh kepada Allah. Lidah yang digunakan untuk berzikir
sekurang-kurangnya dapat mengelakkannya daripada mengumpat-umpat dan mengeji
orang lain atau ucapan yang sia-sia atau lagho. Inilah wajah-wajah kemuliaan
yang dikurniakan Allah kepada mereka yang berzikir walaupun hatinya lalai.
Kemampuan untuk berzikir secara lisan tanpa hudur hati ini hendaklah disyukuri
agar nanti mendapat kurnia dan anugerah Allah yang lebih lagi sebagaimana
firman Allah yang bermaksud; “Dan sekiranya kamu bersyukur, nescaya kami(Allah)
akan tambah lagi”.
Dengan kemuliaan
kurnia Allah yang sedikit dan kelebihan yang ada pada orang yang bersyukur
inilah, maka Muallif (Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) mendatangkan kalam
hikmahnya yang seterusnya sebagaimana berikut;
Maka
mudah-mudahan bahwa diangkatkan oleh Allah akan dikau daripada Zikir(lisan)
serta diperoleh lalai kepada Zikir serta diperoleh jaga
Keterangan oleh
;
Maka
mudah-mudahan bahwa diangkatkan oleh Allah akan dikau daripada Zikir serta
diperoleh lalai kepada Zikir serta diperoleh jaga(Yaqozhoh) dengan LathifNya
dan InayahNya karena bahwasanya jaga itu ingat hati daripada mengantuk ghoflah
dan tidur juhalah kepada Hadirat Al-Wafah(sempurna sebagai seorang hamba) dan
Adab Al-Khidmat. Dia sanalah berpindah ia daripada zikir lisan daripada zikir
qalbi yang Hudur daripada melazimkan dia (zikir lisan).
Keterangan Suluk
(Tingkatan Kedua; Zikir Qalbi)
Apabila seorang
hamba/Salik mengistiqamahkan dan sentiasa bersyukur dengan Zikir Lisan mereka,
Insya Allah…. Allah Yang Maha Lemah Lembut dengan pertolongan dan limpah
kurniaNya akan mengangkatkan martabat Zikir Lisan mereka kepada Zikir
Yaqzhoh.Dengan Zikir Yaqzhoh ini, hati hamba yang sebelum ini lalai atau
ghoflah dengan gangguan-gangguan keduniaan akan terjaga dan tersedar untuk mula
melihat kepada hakikat Zikir Lisan serta segala suatu yang lain. Mata hati yang
sebelum ini tertutup sewaktu berzikir akan terbuka untuk memandang Keesaan dan
Keagungan Allah.
Zikir-zikir
lisan yang diucapkan akan terlancar dan bergerak selari dengan gerakan hati di
samping dapat merasai makna-makna dan rahsia zikir mengikut kadar yang
dikurniakan Allah.
Hati yang
sebelum ini, buta dan jahil dengan hakikat dan makrifat mula mengenali dan
memahami makna-makna di Alam Malakut yang terpancar pada zhohir sesuatu. Mereka
dapat melihat akan hikmah dan pengajaran di sebalik sesuatu yang zhohir yang
mendatangi mereka. Hiduplah hati atau jiwa mereka menuju ke Hadirat Al-Wafah
yang akan menyempurnakan kebersihan hati untuk layak dipanggil sebagai seorang
hamba dengan tahu melaksanakan adab-adab kehambaan dan adab-adab Ketuhanan
dengan pelbagai hal-ahwal hati yang merujuk kepada kepatuhan dan ketundukkan
yang penuh dengan kesedaran batin.
Dengan sebab
inilah Zikir serta jaga ini dinamakan juga sebagai Zikir Qalbi karena hidup
hati itu dengan mengingati dan memandang Allah pada setiap kali memandang
“ghair” atau sesuatu yang zhohir; sedar dan terjaga hati itu untuk mengenal dan
memahami akan hakikat bagi segala sesuatu. Dengan Zikir Qalbi inilah,
bermulalah satu perjalanan hati untuk meneroka dan memasuki alam-alam batin
atau alam-alam rahsia atau Alam Ketuhanan Yang Maha Tinggi.
Dan
dengan karena inilah diisyaratkan pula Muallif (Sheikh Ibni Athoillah
As-Kanddari) sebagai menyambung dalam kalam hikmahnya yang seterusnya
sebagaimana beriknya;
Dan daripada
zikir serta diperolehi jaga (Zikir Yaqozhoh) kepada zikir serta wujud Hudur
serta Allah (Zikir Sir).
Keterangan oleh
;
Dan
daripada zikir serta diperolehi jaga pada zikir serta oleh Hudur serta Allah.
Dan adalah Hudur kepada mereka itu iaitu Hudur dengan Haq Taala tatkala
ghaibnya daripada sekelian pancaindera dan daripada memandang agyar. Dan dalam
Maqam ini berpindah ia daripada Zikir Qalbi kepada Zikir Sir. Zikir Sir itu
ghaib ia daripada barang yang lain daripada Mazkor.
Keterangan Suluk
(Tingkatan Ketiga; Zikir Sir)
Allah itu Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan kasih-sayangNya Yang Maha Tinggi, Allah
mengangkatkan Maqam Zikir Qalbi seorang hamba pilihanNya kepada tingkat yang
seterusnya iaitu Zikir Sir. Zikir Sir ini sebagaimana keterangan di atas
merupakan Zikir yang telah datang kehadiran hati serta Allah.
Dan
Zikir ini juga merujuk kepada kehadiran Rahsia diri yang terpendam sebelum ini.
Hidup Sirnya dengan TuhanNya di mana seluruh ingatan, seluruh pandangan(syuhud)
dan seluruh “rasa” tertumpu kepada Yang Haq. Ingat dengan Yang Haq; Syuhud
kepada Yang Haq dan “merasa” dengan Yang Haq. Dengan kata lain, seluruh anggota
badan yang zhohir dan batin sentiasa dalam keadaan Zikir, inilah
adalah karena, jiwa atau hati hamba telah hapus atau hilang atau qhaib daripada
pengaruh pancaindera dan memandang kepada Agyar pada pihak tidak diiktibarkan
apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasa, apa yang diucapkan; malah
setiap hal-ahwal zhohir mereka adalah merupakan Zikir karana mereka tidak
melihat sesuatu itu melainkan dilihatNya Allah dan tidaklah mereka dilakukan
sesuatu perbuatan atau amalan melainkan dengan “perintah” yang datang dari
Allah.
Sungguhpun
demikiannya hal keadaan hati yang sentiasa ingat akan kehadiran Allah dalam
tiap-tiap sesuatu itu berzikir dan berzikir dengan Sirnya, namun ianya belum
sampai kepada puncak kesempurnaannya yang Hakiki. Hati ini masih melihat dan
memandang kepada dirinya sendiri, hati ini masih terpesona dengan keajaiban
rahsia dirinya di mana hal ini menunjukkan bahwa masih ada lagi wujud yang lain
iaitu dirinya. Ini merupakan satu kecacatan pada Tauhid yang menjadi intipati
dan rahsia Zikir itu.
Dan
dengan karena inilah diisyaratkan pula Muallif (Sheikh Ibni Athoillah
As-Kanddari) sebagai menyambung dalam kalam hikmahnya yang seterusnya
sebagaimana beriknya;
Dan daripada
zikir serta diperoleh Hudur (Zikir Sir) kepada Zikir serta diperoleh ghaib
daripada barang yang lain daripada Mazkor
Dan daripada zikir serta
diperoleh Hudur kepada zikir serta diperoleh ghaib daripada barang yang lain
daripada Mazkor ia hingga masuklah orang yang zikir itu ke dalam MazkorNya dan
ghaib Sirnya takala ZuhurNya (nyata Allah). Maka adalah ghaib zikirnya dengan
zikirnya.
Dan daripada Zikir serta Hudur
kepada Zikir serta diperoleh ghaib daripada barang yang lain daripada
Mazkur(TuhanNya yakni Allah) hingga masuklah orang yang Zikir Allah ke dalam
MazkurNya dan ghaib Sirnya tatkala ZhuhurNya (Nyata Allah). Maka adalah ghaib
Zikirnya dengan Zikirnya.
Keterangan Suluk
(Tingkatan Zikir Keempat/Maqam Kesempurnaan)
Setelah melalui
hal-ahwal atau Maqam Zikir serta Hudur atau disebut juga sebagai “Zikir Sir”,
seorang hamba dengan limpah kurnia Allah akan diipndahkan pula kepada Zikir
Yang Ghaib dalam MazkurNya atau disebutkan juga sebagai “Ghaib Zikirnya dalam
Zikir” atau “Zikir dengan Mazkur” pada pihak hilang atau ghaib diri/hati yang
berzikir dalam Hakikat Zikir iaitu Allah. Maqam ini adalah merupakan puncak atau
tingkat tertinggi bagi mereka yang seakan mabuk dengan TuhanNya Yang Ampunya
Zikir. Keadaan ini digelar juga Fana dalam Fana di mana hilang segala rusum dan
isyarat. Apa yang wujud ialah Wujud Yang Hakiki yakni Allah semata-mata.
Dari keterangan
dan perbincangan seperti yang telah disentuh sebelum ini, sekiranya kita dapat
menangkapi kefahamannya, jelaslah bahwa bagi setiap tingkat Zikir itu
menunjukkan hal-ahwal hati/diri atau yang menyatakan Maqam kedudukan hamba
dengan TuhanNya. Sebagai merumuskannya, mendatangkan keterangannya yang
seterusnya sebagaimana berikut;
Keterangan oleh
Pengarang Kitab Hikam
Dan pada ketika
itu
* dalam Zikir
Lisan itu Maqam orang orang yang ahli Ghoflah daripada segala orang
awam.
* Dan Maqam
Zikir Lisan dengan jaga Qalbi itu Maqam orang yang Ahli Suluk.
* Dan Maqam
Zikir Dalam Hadirat Mazkur itu Maqam Al-Khowas
* Dan Maqam
Al-Ghaib Dalam Mazkur dari pada Zikir itu Maqam Khowasul-Khowas, orang yang
alhi Fana ‘An Fana.
Maka adalah
sentiasa Zikir itu atas kata “Laa ilahaillaLlah” serta ikhlas itu sebab bagi
menjagakan anggota daripada wujud ghoflah serta Zikir.
Dan Zikir
“Allah.. Allah” itu sebab bagi mengeluarkan engkau daripada jaga dalam Zikir
kepada wujud Hudur serta Mazkur.
Dan Zikir “Hu
Hu” itu sebab bagi mengeluarkan engkau daripada tiap-tiap barang yang lain
daripada Mazkur.
Dan kata
setengah mereka itu (Kaum Sufiah);
* bermula yang
membukakan Qalbu itu (ialah) kata “Laa ilahaillaLlah”;
* dan yang
membukakan Ruh itu (ialah) “Allah..Allah”
* dan yang
membukakan Sir itu ialah “Hu Hu”.
* Dan “Laa
ilahaillaLlah” itu makanan Qalbu dan
* “Allah..Allah”
itu makanan Ruh dan
* “Hu Hu” itu
makanan Sir.
Keterangan Suluk
Keterangan di atas menunjukkan kepada akan Maqam
orang-orang yang berzikir serta lafaz-lafaz Zikir mengikut tingkatan kedudukan
mereka di samping menyatakan tujuan-tujuan lafaz zikir tersebut mengikut
peringkat-peringkatnya.
Apa hal pun guru
suluk memberi peringatan bahwa, tidaklah patut bagi mereka yang berada pada
maqam-maqam yang terkebawah mengamalkan zikir-zikir Maqam yang di atasnya.
Umpama seorang awam yang ahli ghoflah…karena terlalu ingin cepat sampai kepada
Maqam tertinggi meninggalkan Zikir Lisan dan terus berzikir dengan Zikir Sir
iaitu “Hu Hu”. Bandingannya seperti seorang yang memakai pakaian orang lain yang
tidak sepadan/sepatutnya dengan saiz tubuhnya. Baju atau jubah yang saiznya
besar jika dipakaikan pada tubuh yang kecil, maka akan tampaklah
kejanggalannya. Bukankah ini satu amalan atau usaha perbuatan yang menunjukkan
“kurang berakalnya” si pemakai. Menunjukkan amalan atas dorongan nafsu
semata-mata dan biasanya ia tak akan bertahan lama(tidak istiqamah).
Apa yang perlu
dan patut dilakukan ialah tetap pada halnya atau maqamnya dan melaksanakan hak
dan adab-adab hal atau maqam tersebut di mana mereka menetap/duduk sehinggalah
mereka diperintahkan untuk berpindah kepada maqam-maqam yang lain. Inilah
sebahagian kecil daripada adab-adab bagi mereka yang berzikir.
Keterangan oleh
Pengarang Kitab Hikam
Dan kata
setengah mereka itu (Kaum Sufiah); bermula segala orang yang Zikir itu atas
lima martabat.
* Pertama – Yang
dizikir dengan lisan tiada dengan Qalbi.
* Kedua – Yang
dizikir dengan Qalbi tiada dengan Lisan.
* Ketiga – Yang
zikir dengan Aqal.
* Keempat – Yang
zikir dengan Sir
* Kelima – Yang
Zikir dengan Mazkur.
7.1.2.ZIKIR HARIAN NABI MUHAMMAD S.A.W
Zikir harian Nabi Muhammad SA.W., wajib dijadikan contoh dan suri tauladan bagi kehidupan sehari – hari. Dengan harapan akan menentramkan hati dan jiwa sehingga bisa tetap berfikir positif serta senantiasa berhuznudzon.
Isilah waktu luang anda untuk memperbanyak dzikir, bukan untuk melamun atau membicarakan keburukan orang lain.
Keutamaan Zikir Harian Nabi Muhammad S.A.W.
Berikut ini terdapat keutamaan melakukan dzikir yang dijelaskan melalui firman Allah di dalam Al Quran dan sabda Rasulullah S.A.W., di dalam hadits :
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al Ahzab : 41-42)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.” (QS. Al Baqarah : 152)
“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah : 10)
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamumenyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. 201- Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.202- Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah : 200-202)
“Aku tergantung pada persangkaan hambaKu. Dan Aku bersamanya jika ia mengingat Aku. Jika dia mengingatKu dalam hatinya, Akupun mengingatnya dalam HatiKu. Jika ia mengingatKu dalam suatu majelis, Akupun mengingatnya dalam suatu majelis yang lebih baik dari mereka. Dan jika ia mendekatiKu sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta. Dan Jika ia mendekatiKu sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia mendekatiKu dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari.” (HR Bukhari, Muslim , Ahmad)
” Maukah kuberitahukan kepadamu suatu amalan yang paling baik dan paling suci disi Tuhanmu, dan paling menaikan derajatmu, dan lebih baik bagimu daripada menginfakan emas dan perak, serta lebih baik bagimu daripada berjuang melawan musuh, kamu membunuh musuh atau musuh membunuhmu,” para sahabat menjawab “ya” Sabda beliau S.A.W., “ Dzikrullah” (HR Ahmad, Tarmidzi, Ibnu Majah)
Dzikir Setelah Melaksanakan ShalatBerikut ini dzikir yang biasa dilafadzkan Rasulullah S.A.W., sesaat setelah melaksanakan shalat baik shalat sunnah maupun shalat fardhu, antara lain:
Istighfar (Astagfirullah) 3 Kali
Tasbih (Subhanallah) 33 Kali
Tahmid (Alhamdulillah) 33 Kali
Takbir (Allahu Akbar) 33 Kali
Laa Ilaaha
Illallaahu Wahdahuu Laa Syariika Lah, Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Wa Huwa’Alaa
Kulli Syai’in Qadhr. “Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang
Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang mempunyai kekuasaan dan
kerajaan yang memerintahkan, bagi-Nya segala puji-pujian yang menghidupkan dan
mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”
Allaahumma antas salaamu wa minkas salaamu wa ilaika ya’uduus salaamu fa hayyinaa rabbanaa bis salaami wa adkhinal- jannata daaras salaami tabaarakta rabbanaa wa ta’aalaita yaa dzal jalaali wal ikram. “Ya Allah Engkau adalah Dzat yang mempunyai kesejahteraan dan daripada- Mulah kesejahteraan itu dan kepada- Mulah akan kembali lagi segala kesejahteraan itu. Ya Tuhan kami, hidupkanlah kami dengan sejahtera. Dan masukkanlah kami ke dalam surga kampung kesejahteraan. Engkaulah yang kuasa memberiberkah yang banyak dan Engkaulah Yang Maha Tinggi, wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”
Wa ilaahukum ilaahuw waahidun laa ilaaha ilaa huwar rahmaanur rahiim. “Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Allaahumma laa maani’a limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa radda limaa qadhaita wa laa yanfa’u dzal-jaddi minkal-jaddu. “Ya Allah, tidak ada yang menghalangi segala apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang dapat memberikan segala yang Engkau larang. Dan tidak ada yang menolak segala apa yang Engkau putuskan. Dan tidak bermanfaat kepada orang yang kaya di sisi Engkau segala kekayaannya.”
Allaahu akbar kabiiraw wal-hamdu lillaahi katsiiraw wa subhaanallahi bukrataw wa ashiila. Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa’alaa kulli syai’in qadiir. “Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah dengan puji yang banyak. Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang mempunyai kekuasaan dan kerajaan yang memerintahkan, bagi-Nya segala puji- pujian yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”
Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil-‘aliyyil ‘azhiim.
Astagfirullaahal-‘azhiim. “Dan tidak ada daya upaya dan kekuataan melainkan dengan pertolongan Allah Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”
Dzikir tambahan setelah selesai shalat :
Yaa rabbanaa
lakal-hamdu kamaa yambagii li jalaali wajhika wa’azhiimi sulthaanik.
Allaahumma
shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammadin.
Allaahumma
rabbanaa taqabbal- minnaa shalaatanaa wa shiyaamana wa rukuu’anaa wa sujuudanaa
wa qu’uudanaa wa tadharru’anaa wa takhasysyu’anaa wa ta’abbudanaa wa tammim
taqshiiranaa yaa Allaah yaa rabbal-‘aalamiin.
Allaahumma
a’innaa ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatik.
Rabbanaa
zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna
minal-khaasiriin.
Rabbanaa laa
tu’aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa.
Rabbanaa wa laa
tahmil-‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘alal- ladziina min qablinaa.
Rabbanaa wa laa
tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihii wa’fu ‘annaa wagfir lanaa warhamnaa
anta maulana fanshurnaa ‘alal qaumil-kaafiriin.
Allaahumma innaa
nas’aluka salaamatan fid-diin, wa ‘aafiyatan fil jasadi, wa ziyaadatan
fil-‘ilmi, wa barakatan fir-rizqi, wa taubatan qablal-mauut, wa rahmatan
‘indal- mauut, wa magfiratam ba’dal- mauut, Allaahumma hawwin ‘alainaa fii
sakaraatil-mauut, wan- najaata minan-naar, wal ‘afwa ‘indal-hisaab.
Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahab lanaa min ladunka
rahmatan innaka antal- wahhab.
Rabbanaghfir
lanaa wa li waalidiinaa wa li jamii’il- muslimiina wal-muslimaati wal-
mu’miniina wal mu’minaati al- ahyaa’i minhum wal-amwaat, innakaa’alaa kulli
syai’in qadiir.
Rabbana hab
lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa wa qurrata a’yuniw waj’alnaa
lil-muttaqiina imaamaa.
Rabbanaa aatinaa
fid-dun-yaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban- naar.
Allaahummagfir lanaa dzunuubanaa wa kaffir ‘annaa sayyi’aatinaa wa tawaffana
ma’al-abraar.
Rabbij’alnii
muqiimash –shalaati wa min dzurriyatii rabbanaa wa taqabbal du’aa’.
Wa adkhilnal-jannata ma’al- abraar, yaa ‘aziizu yaa gaffaru yaa
rabbbal-‘aalamin.
Subhaana rabbika
rabbil-‘izzati ‘amma yashifuun, wa salaamun ‘alal-mursaliina wal-hamdu lillaahi
rabbil-‘aalamiin.
Zikir
pada Waktu Pagi dan Sore
Selain
melakukan dzikir setelah selesai Shalat, Rasulullah juga sering melafadzkan
dzikir di waktu siang dan sore. Berikut ini beberapa dzikir yang bisa
dipanjatkan, antara lain:
Baca A’uudzu
billahi mina syaitooni rrojim. ” Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan
yang terkutuk.”
Baca surat Al
Fatihah. “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya
kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan
(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS.
Al-Fatehah : 1-7)
Baca surat
An-Naas. “Katakanlah, Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan
menguasai) manusia. Sembahan manusia, Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang
biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia.
Dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Naas : 1-6)
Baca surat
Al-Falaq. “Katakanlah Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) shubuh
dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap
gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada
buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS.
Al-Falaq : 1-5)
Baca surat Al
Ikhlas. “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Rabb) yang
segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” (QS.Al-Ikhlas)
Dapat diambil
kesimpulan bahwa artikel mengenai zikir harian Nabi Muhammad S.A.W.., di atas
yang diulas secara detail dan dikemas dengan menarik, diharapkan bisa membantu
memudahkan dalam mempelajari serta memahaminya lebih dalam lagi.
Sehingga
nantinya mungkin bisa dijadikan sebagai bahan referensi yang bisa diterapkan
dalam kehidupan sehari –hari dan menambah wawasan bagi anda. Sampai disini dulu
ya artikel kali yang membahas mengenai zikir harian Nabi Muhammad S.A.W.,
Semoga bisa bermanfaat bagi anda dan terima kasih sudah meluangkan sedikit
waktu untuk membaca artikel saya ini.
Ilahi anta maqshudi wa ridhoka mathlubi
اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ
Ilahi anta maqshudi wa ridhoka mathlubi
“Wahai Tuhanku,Engkaulah tujuanku dan Ridhamu yang kucari”
Islam yang telah
Allah ta’ala redha kan untuk menjadi agama kita, dan disampaikan melalui
utusan-Nya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam merupakan satu syariat
yang mencakup persoalan hidup lahir dan batin.
Syariat lahir
disebut syariat. Syariat batin disebut tasawuf yang meliputi tharikat, hakikat
dan makrifat. Hal itu sangat sesuai dengan struktur kejadian manusia itu
sendiri yang merupakan kombinasi antara jasad lahir dan jasad batin.
Jasad lahir
adalah semua anggota tubuh kita yang nampak dengan mata. Sedangkan jasad batin
adalah jasad gaib (tidak tampak dengan mata) yang menggerakkan seluruh anggota
lahir.
Jasad batin
dapat merasa, mengingat, memikirkan, mengetahui, memahami segala sesuatu yang
terjadi di dalam diri kita masing-masing.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala menetapkan bahwa syariat lahir untuk diamalkan oleh jasad lahir
sedangkan syariat batin untuk diamalkan oleh jasad batin yaitu roh.
Sesuai dengan keadaan lahir batin kita yang saling berkaitan erat tanpa terpisah-pisah maka begitu pula amalan lahir dan batin wajib dilaksanakan secara serentak di setiap waktu dan keadaan. Kalau kita membeza-bezakan atau menolak salah satu dari amalan itu, maka kita tidak mungkin menjadi hamba Allah yang sebenarnya.
Kalau amalan lahir atau syariat diibaratkan sebagai kulit buah maka amalan batin atau tasawuf (tharikat, hakikat, makrifat) sebagai isi buah. Kedua-duanya sama-sama penting dan saling memerlukan, ibarat kulit dan isi pada buah-buahan. Keduanya mesti ada untuk kesempurnaan wujud buah itu sendiri. Tanpa kulit, isi tidak selamat malah isi tidak mungkin ada kalau kulit tidak ada. Sebaliknya tanpa isi, kulit jadi tidak berarti apa-apa. Sebab buah yang dimakan adalah isinya bukan kulitnya.
Begitu juga hubungan syariat
dan tasawuf. Keduanya mesti diterima dan diamalkan serentak. Keduanya saling
mengisi dan memerlukan. Kalau kita bersyariat sahaja (artinya berkulit saja
tanpa isi), itu tidak membawa apa-apa erti di sisi Allah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.” (HR Muslim 4651)
Sebaliknya kalau kita bertasawuf saja (isi tanpa kulit), maka tidak ada jaminan keselamatan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Amalan tasawuf itu akan mudah rosak, dan kita sama sekali tidak akan memperoleh apa-apa.
Imam Malik Rahimahullah berkata yang artinya “Barangsiapa berfiqih (syariat) dan tidak bertasawuf maka ia jadi fasik. Barangsiapa yang bertasawuf tanpa fiqih (syariat) maka ia adalah kafir zindik.”
Imam Syafi’i Rahimahullah telah menasihatkan yang artinya, “Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalanan syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasihat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalankan syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kenikmatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih (menjalankan syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)“. [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]
Imam Abu Yazid al Busthami berkata yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at (menjalankan syariat)”
Artinya kita mesti mengamalkan kedua² nya dengan serentak, iaitu syariat dan tasawuf. Kalau kita pilih salah satu, kita tidak akan selamat. Kalau kita bersyariat saja tanpa dilindungi oleh tasawuf, kita akan menjadi fasik. Dan kalau kita bertasawuf saja tanpa dikawal oleh syariat, maka amalan batin (amalan tasawuf) akan mudah rosak sehingga kita jatuh kafir zindik (kafir tanpa sadar).
Begitulah pentingnya syariat dan tasawuf. Tetapi bila kedua-duanya ada, maka amalan batin (amalan tasawuf) lah yang lebih utama. Seperti dalam sabda Rasulullah yang artinya “Allah tidak memandang rupa dan harta
kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu”. (HR Muslim 4651)
Hadis itu tidak bermaksud bahwa syariat tidak penting. Bahkan syariat juga adalah hukum-hukum fardhu yang wajib diamalkan oleh seluruh umat Islam. Hanya saja dalam keadaan keduanya (syariat dan tasawuf) itu sama-sama diamalkan, Allah memberi keutamaan pada amalan batin (amalan tasawuf). Perbandingannya seperti antara kulit dan isi buah. Kedua-duanya sama penting, tetapi manusia memberi keutamaan pada isi sebab bisa dimakan. Begitulah peranan tasawuf. Peranannya menentukan berakhlak atau tidaknya seorang manusia kepada Allah dan kepada sesama manusia.
Orang yang kuat amalan batinnya atau tinggi pencapaian tasawufnya adalah orang yang hatinya selalu dekat dengan Allah. Ia senantiasa merasakan kebesaran Allah, dibandingkan dirinya yang maha lemah dan senantiasa memerlukan pertolongan Allah. Ia sangat beradab dengan Allah dan dapat mengorbankan dunia untuk Tuhannya. Ia juga mampu mengasihi semua manusia, bersedia susah untuk manusia dan akan menyelamatkan manusia dari tipuan dunia, nafsu dan syaitan.
Sebaliknya orang yang lemah dalam amalan batin adalah orang yang hatinya jauh dan terpisah dari Allah. Ia tidak takut dengan Allah, tidak malu, tidak harap, dan tidak cinta kepada Allah. Ia tidak redha dan tidak sabar, kurang beradab dengan Allah, penuh hasad dengki, sombong, bakhil, dendam dan pemarah. Ia akan menjadi seorang pencinta dunia yang bekerja keras hanya untuk dunianya. Orang seperti itu selalu dibelenggu oleh kecintaan kepada dunia hingga takut berjuang dan berjihad untuk agama Allah serta untuk kehidupan akhirat yang kekal abadi.
Orang yang tidak bertasawuf atau orang yang tidak memperhatikan amalan batin sekalipun melakukan ibadah solat, puasa, dan banyak membaca Al Quran serta gigih berjuang adalah orang yang kurang berakhlak dengan Allah dan kurang berakhlak dengan manusia.
Orang yang tidak memperhatikan amalan batinnya dikabarkan oleh Rasulullah S.A.W., dalam sabdanya yang artinya “akan muncul suatu firqah/kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula solat kalian daripada solat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Solat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya” (HR Muslim 1773)
“Soat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan” maknanya solat mereka sebatas zahirnya saja atau amalan lahirnya saja, tidak sampai kepada batin (qalbu) mereka atau tidak bermanfaat atau mempengaruhi kepada hati atau batin mereka yang mengatur jasad lahir sehingga solat mereka tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar, solat mereka tidak menjadikan mereka muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang soleh, muslim yang ihsan atau muslim yang bermakrifat, muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh)
Tidak memperhatikan atau kurangnya amalan batin dapat menyebabkan orang-orang yang tidak bertasawuf itu biasanya mati dalam dosa yang tidak sedar. Mungkin dosa karena buruk sangka dengan Allah, putus asa dengan ketentuan Allah, tidak redha dengan takdir Allah atau dosa karena merasa bahwa amalannyalah yang akan menyelamatkan dirinya dari neraka.
Rasa riya’, ujub atau merasa diri bersih itu pun adalah dosa batin. Dosa batin, tak seorang pun yang dapat melihatnya, bahkan diri sendiri pun tidak dapat merasakannya. Hanya orang yang mempunyai bashiroh (pandangan hati yang tembus) saja yang dapat mengetahuinya.
Nanti, bila Allah ta’ala bukakan segala kesalahan (dosa-dosa batin itu) di akhirat, barulah manusia akan terkejut dan tersentak.
Ulama tasawuf berkata: “Biarlah sedikit amalan beserta rasa takut pada Allah, karena itu lebih baik daripada banyak amalan tetapi tidak ada rasa takut dengan Allah. Lebih baik orang yang merasa berdosa dan bersalah dengan Allah daripada orang yang banyak amalan tetapi tidak rasa berdosa pada Allah bahkan dia merasa telah cukup dengan amalan itu.”
Firman Allah ta’ala dalam Q.S. Asy Syuara 26 ayat 88-89 :
“yawma laa yanfa'u maalun walaa banuuna”
“illaa man ataa allaaha biqalbin saliimin”
artinya, “hari kiamat ialah hari dimana harta dan anak-anak tidak dapat memberi manfaat, kecuali mereka yang menghadap Allah membawa hati yang selamat sejahtera”. (QS Asy Syuara [26] : 88-89)
Hati yang selamat sejahtera ialah hati orang bertaqwa yang berisi iman, yakin, ikhlas, redha, sabar, syukur, tawakal, takut, harap dan lain-lain rasa hati dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati yang senantiasa merasa sihat dalam kesakitan, kaya dalam kemiskinan, ramai dalam kesendirian, lapang dalam kesempitan dan terhibur dalam kesusahan. Ia bersikap redha dengan apa saja pemberian Tuhan-Nya.
Untuk memperoleh hati yang seperti itu, kita mesti bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu untuk melakukan amalan lahir dan batin (syariat dan tasawuf). Kedua-duanya akan saling mengawal untuk mengangkat kita ke taraf taqwa.
Syariat dan tasawuf akan mendidik dan memimpin kita menjadi seorang insan kamil yang mampu memenuhi keinginan dan keperluan fitrah murni manusia secara suci lagi mulia. Orang seperti itulah yang Allah maksudkan sebagai golongan As Siddiqin atau golongan Al ‘Arifin. Sifat mereka Allah uraikan dalam Surah Al Furqaan [25] ayat 63-76: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” [25:63]
“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka” [25:64]
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal” [25:65]
“Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman” [25:66]
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” [25:67]
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (diharamkan untuk membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)” [25:68]
“akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina” [25:69]
“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal soleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [25:70]
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal soleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” [25:71]
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” [25:72]
“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta” [25:73]
“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [25:74]
“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya” [25:75]
“mereka kekal di dalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman” [25:76]
Merekalah orang-orang bertaqwa yang akan memperoleh ketenangan hidup di dunia dan di akhirat.Mereka adalah tempat untuk kita mempelajari dan mencontoh kehidupan yang aman dan bahagia.Mereka adalah yang telah berjalan (berthariqat) melalui terminal-terminal (maqom) hakikat hingga mencapai makrifat, menyaksikan Allah ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati , ain bashiroh (bermakrifat)”
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman (bermakrifat)”
Rasulullah bersabda “Iman paling afdal ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)
Jika belum dapat melihat Allah ta’ala dengan hati (belum ma’rifat), Rasulullah bersabda “jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)
Muslim yang meyakini diawasi/dilihat oleh Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb dengan hati (ain bahiroh) atau muslim yang Ihsan atau muslim yang bermakrifat maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, mencegah dirinya dari perbuatan maksiat, mencegah dirinya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Subhanahu wa ta’ala
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : wa maa arshallnaka Illah Rahmathan lil Alami “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).
Dari tulisan di atas dapat kita ketahui betapa pentingnya memperhatikan amalan batin yang tercakup dalam tasawuf.
Imam Nawawi Rahimahullah berkata : “ pekara utama dalam ajaran tasawuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawuf halaman : 20, Imam Nawawi)
Mereka yang terhasut atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi ada mempertanyakan seperti “Seandainya benar sedemikian penting tasawuf, nescaya Imam Mazhab yang empat akan banyak sekali menulis tentang tasawuf”.
Pada hakikatnya tasawuf tidak untuk dituliskan namun dicontohkan, disampaikan dan dibimbing langsung oleh guru kepada muridnya karena tasawuf adalah tentang akhlak atau tentang Ihsan.
Contoh ulama tasawuf yang tidak menuliskannya kedalam bentuk tulisan/kitab adalah Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili, bermazhab Hanafi, yang mempunyai nasab keturunan dari Hasan putra dari Ali bin Abi Tholib k.w. Sedangkan ulama Tasawuf yang menuliskan pengajaran-pengajaran Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili adalah Syaikh Ibnu Athoillah yang bermazhab Maliki. Para ulama tasawuf dalam menjalankan amalan lahir atau syariat, mereka bermazhab. Imam Mazhab yang empat memang menuliskan kitab fiqih agar umat Islam dikemudian hari yang tidak dapat melihat (mencontoh) langsung cara beribadah Salaf yang Soleh dapat melihatnya melalui kitab fiqih mereka. Imam Mazhab yang empat melihat langsung penerapan, perbuatan serta contoh nyata, jalan atau cara (manhaj) beribadah dari Salaf yang soleh dan membukukannya dalam kitab fiqih mereka.
Demikian juga
dengan Zikir Aqal pada martabat ketiga.
Ianya amat
dituntut sekali pada seorang hamba supaya melaksanakannya. Zikir Aqal bermaksud
ialah menggunakan aqal kita untuk berfikir kepada perkara-perkara yang boleh
menambahkan amal perbuatan, mendekatkan diri dengan Allah, membesarkan kejadian
Allah yang dilihat, memikirkan keaiban dan kejahatan diri/amalan kita serta apa
sahaja yang boleh membawa kesedaran kita untuk mengingati Allah. Di lain-lain
tempat Zikir serta Aqal ini dikatakan sebagai Tafakur. Kiranya anda seorang
yang mengetahui, sesungguhnya di sebalik Tafakur ini, tersimpan salah satu
khazanah rahsia orang-orang Sufi yang menghimpunkan kedudukan Ilmu dan
hal-ahwal mereka.
Berkaitan dengan
“Zikir Sir” dan “Zikir dengan Mazkur” ianya adalah suatu hal yang merujuk
kepada sifat hati yang hidup dengan limpahan Cahaya Ketuhanan; yang bebas tanpa
kawalan pancaindera; tanpa usaha dan ikhtiarnya; yang hidup zikir itu dengan
sendirinya sebagai satu anugerah kurnia dari Allah bagi hamba-hamba pilihannya.
Semuanya ini adalah tidak sukar bagi Allah seperti mana keterangan yang
berikutnya.
Keterangan oleh
Pengarang Kitab Hikam.
Firman Allah
yang bermaksud; “Dan tiada yang demikian itu atas Allah Taala sukar” dengan
KuatNya dan KuasaNya yang tiada terhenti pekerjaanNya atas sesuatu karena Ia
jua
* Yang
Ghoni(Memiliki Kekayaan) lagi Karim(Pemurah);
* Yang
Menganugerahi barang yang diKehendakiNya;
* dan tiada yang
menegahkan dalam QudratNya
* dan tiada yang
jauh daripada KaramNya.
Hanyasahnya atas
hamba itu Asbab dan atas Allah Yang Membukakan “bab” (pintu kurniaNya).Dan yang
demikian itu(Lima Martabat Zikir di atas) bagi mengisbatkan(menyabitkan) Hikmah
dan Zhuhur(kenyataan) Ubudiyah(Kehambaan) dengan Ibadat.
* Dan tiada
ibadat melainkan dengan Fadhol(limpah kurnia)Nya;
* dan tiada
Zikir melainkan dengan RahmatNya;
* dan tiada
Tawajjuh(berhadap hati) kepadaNya melainkan dengan KurniaNya.
Maka yaitu(Allah)
Yang Mengurniai (orang) yang zikir dengan TaufiqNya; maka diTunjukiNya bagi
JalanNya; maka diBukakan bagi(hamba)nya dengan anugerahNya.
Dengan itu,
sebagai adab kehambaan(Ubdudiyah) seorang hamba itu perlu bersungguh-sungguh
membiasakan lisan mereka dan hati mereka dengan beribadat, berzikir dan
bertawajjuh kepadaNya. “Allah tiada memberati manusia melainkan sekadar
tenaganya. Baginya (pahala) kebajikan yang diusahakannya dan di atasnya (dosa)
kejahatan yang diperbuatnya”(Al-Baqarah: 286);
Dan
apabila mereka dapat melaksanakannya dengan baik dan sempurna, maka wajib
dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh pula Adab Ketuhanan iaitu dengan
disyuhudkan(dipandang) bahwa amal ibadat dan semua perbuatan mereka adalah
dengan taufiq, dan limpah kurnia Allah Taala. “Dan bermula Allah itulah yang
menjadikan kamu dan apa-apa yang kamu perbuatkan” (Surah As-Shofat: 96). “Dan
tiada engkau melempar ya Muhammad tatkala engkau melempar tetapi Allah Taala
jua yg melempar” (Surah Al-Anfal: 17)
Dengan melaksanakan Hak
Kehambaan dan Hak Ketuhanan ini, mudah-mudahan Allah akan
membukakan/menghidupkan “Sir” mereka untuk memperoleh lautan makrifatullah.
7.1.3.ZIKIR MELIPUTI
PERKATAAN, PERBUATAN DAN PERASAAN
Firman ALLAH S.W.T. dalam Q.S. Taha ayat : 14 :
“innanii anaa allaahu
laa ilaaha illaa anaa fau'budnii wa-aqimi alshshalaata
lidzikrii”
Artinya : Sesungguhnya Aku adalah Allah! Tidak ada
Tuhan melainkan Aku! Dan dirikanlah sembahyang bagi mengingati Aku! ( Ayat 14 :
Surah Taha )
Sembahyang
mengandungi perbuatan anggota zahir, perkataan yang dilafazkan dan penyertaan
hati yang benar menghadap kepada Allah s.w.t dengan sepenuh jiwa raga.
Mengingati Allah s.w.t melalui sembahyang merupakan zikir yang paling sempurna.
Perbuatan menjadi zikir, perkataan menjadi zikir dan perasaan menjadi zikir.
Sekalian
maujud berada dalam suasana zikir. Zikir dalam sembahyang menggabungkan
pengakuan bahwa yang diingatkan itu adalah Allah S.W.T.,bahwa Allah S.W.T.,
yang diingati itu adalah Tuhan; bahwa tiada Tuhan melainkan Dia; bahwa Allah
adalah Tuhan yang disembah; bahwa menyembah Allah S.W.T., adalah dengan
perkataan, perbuatan dan perasaan; bahwa apa sahaja yang dilakukan adalah karena
mentaati-Nya dan karena ingat kepada-Nya.
Zikir yang di
dalam sembahyang menjadi induk kepada zikir-zikir di luar sembahyang. Menyebut
nama-nama Allah S.W.T., adalah zikir. Perkataan yang baik-baik diucapkan karena
Allah s.w.t adalah zikir. Nasihat menasihati karena Allah S.W.T., adalah zikir.
Menyeru manusia ke jalan Allah s.w.t adalah zikir. Semua itu merupakan zikir
perkataan. Zikir perbuatan pula meliputi segala bentuk amalan dan kelakukan
yang sesuai dengan syarak demi mencari keredaan Allah S.W.T., Berdiri, rukuk
dan sujud dalam sembahyang adalah zikir. Melakukan pekerjaan yang halal karena
Allah S.W.T., karena mematuhi peraturan yang Allah S.W.T., turunkan, adalah
zikir. Mengalihkan duri dari jalan karena Allah S.W.T., adalah zikir. Apa juga
perbuatan yang tidak menyalahi peraturan syariat jika dibuat karena Allah S.W.T.,
maka ia menjadi zikir. Tidak melakukan apa-apa pun boleh menjadi zikir. Orang
yang menahan anggotanya, lidahnya dan hatinya daripada menyertai perbuatan
maksiat sebenarnya melakukan zikir jika dia berbuat demikian karena Allah S.W.T.,
Semua itu menjadi zikir jika dibuat karena Allah S.W.T., karena mematuhi
perintah-Nya, karena mencari keredaan-Nya dan karena ingat kepada-Nya. Jadi,
perbuatan dan perkataan terikat dengan amalan hati untuk menjadikannya zikir. Ia
hanya dikira sebagai zikir jika ada zikir hati iaitu hati ingat kepada Allah S.W.T.,
ikhlas dalam melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya Tanpa zikir
hati tidak ada zikir-zikir yang lain, karena setiap amalan digantungkan kepada
niat yang lahir dalam hati.
Zikir adalah
mengingati Allah S.W.T., sebaik dan seikhlas mungkin. Mengingati nama-nama dan
sifat-sifat-Nya adalah zikir. Melihat matahari, bulan dan bintang di langit
sambil mengenang kebijaksanaan Allah s.w.t merupakan zikir. Melihat kilat
memancar dan mendengar guruh berdentum sambil mengenangkan keperkasaan Allah S.W.T.,
adalah zikir. Melihat fajar subuh, melihat dan mencium bunga yang indah lagi
harum sambil mengenang keelokan Allah S.W.T., adalah zikir juga namanya. Jadi,
zikir adalah pekerjaan sepanjang masa, setiap ketika, semua suasana, pada
setiap sedutan dan hembusan nafas dan pada setiap denyutan nadi.
Kehidupan ini
merupakan zikir daim (zikir berkekalan) jika mata hati sentiasa memerhatikan
sesuatu tentang Allah S.W.T.,.
Misalkan seorang
sedang melakukan zikir hati dan perkataan; menyebut dan mengingati nama-nama
dan sifat-sifat Allah S.W.T., Tiba-tiba datang seorang kanak-kanak di
hadapannya. Anak kecil itu memegang sebotol racun. Anak kecil mahu meminum
racun tersebut. Pada ketika itu ahli zikir tadi berkewajipan meninggalkan pekerjaan
zikir yang sedang dilakukannya dan berpindah kepada zikir menyelamatkan anak
kecil yang mahu meminum racun itu.
Perpindahan
perbuatan tidak memutuskan zikir atau ingatannya kepada Allah S.W.T., Dia
menyebut nama Tuhan karena ingat kepada Tuhan. Dia menyelamatkan anak kecil itu
karena mentaati perintah Tuhan. Tuhan yang mentakdirkan anak kecil itu mahu
meminum racun di hadapannya. Tuhan juga mengadakan syariat yang mewajibkan
membuang kemudaratan. Taat kepada perintah Tuhan dan reda dengan takdir Tuhan
yang datang serta bertindak menurut peraturan syariat Tuhan merupakan zikir
yang sangat mulia pada sisi Tuhan. Zikir yang begini termasuk di dalam golongan
zikir yang berkekalan atau zikir daim.Zikir daim sukar diperolehi.
Kebanyakan
manusia melakukan pekerjaan yang baik-baik yang seharusnya menjadi zikir tetapi
dilakukan tanpa ingatan kepada Allah S.W.T., dan bukan dengan penghayatan
mematuhi syariat-Nya. Kekuatan dalaman perlu ditambah bagi memperolehi zikir
daim. Bagi tujuan tersebut perlulah dilakukan zikir sebutan iaitu zikir
nafi-isbat (ucapan kalimah “La ilaha illa Llah ”) dan zikir nama-nama serta
sifat-sifat-Nya. Zikir yang seperti ini memberi kesan kepada menguatkan rasa
kecintaan dan ingatan kepada Allah S.W.T., Ia membuka kesedaran-kesedaran
dalaman seperti yang telah dinyatakan pada tajuk yang membicarakan perjalanan
Latifah Rabbaniah. Kekuatan kesedaran dalaman mendorong seseorang melakukan
sesuatu dengan ikhlas karena Allah s.w.t yang dicintainya, yang hampir
dengannya. Zikir nafi-isbat dan sebutan nama-nama serta sifat-sifat-Nya menjadi
jalan kepada zikir dalam bentuk mentaati peraturan-Nya tanpa lupa kepada-Nya.
Jadi, perlu dilakukan zikir secara sebutan untuk memudahkan zikir secara amalan
atau perbuatan dan kelakuan. Mudah-mudahan terhasillah zikir yang berkekalan.
Zikir atau
mengingati Allah s.w.t haruslah dilakukan menurut kadar kemampuan
masing-masing. Zikir yang paling baik diucapkan adalah seperti yang diajarkan
oleh Rasulullah S.A.W., dengan sabda baginda s.a.w yang bermaksud: “Ucapan
zikir yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa. Itulah
ucapan kalimah ‘La ilaha illa Llah ’ .”
Orang yang tidak
pernah berzikir adalah orang yang sangat keras hatinya dan kuat dikuasai oleh
syaitan, hawa nafsu dan dunia. Cahaya api syaitan, fatamorgana dunia dan karat
hawa nafsu membaluti hatinya sehingga tidak ada ingatannya kepada Allah S.W.T.,
Seruan, peringatan dan ayat-ayat Tuhan tidak diterima oleh hatinya. Beginilah
keadaan orang Islam yang dijajah oleh sifat munafik. Orang yang masih mempunyai
kesedaran perlu memaksakan dirinya untuk berzikir, sekalipun hanya berzikir
dengan lidah sedangkan hatinya masih lalai dengan berbagai-bagai ingatan yang
selain Allah S.W.T., Pada tahap pemaksaan diri ini, lidah menyebut Nama Allah S.W.T.,
tetapi hati dan ingatan mungkin tertuju kepada pekerjaan, harta, perempuan,
hiburan dan lain-lain. Beginilah tahap orang Islam biasa. Orang yang berada
pada tahap ini perlu meneruskan zikirnya karena jika dia tidak berzikir dia kan
lebih mudah dihanyutkan di dalam kelalaian.
Tanpa
ucapan zikir syaitan akan lebih mudah memancarkan gambar-gambar tipuan kepada
cermin hatinya dan dunia akan lebih kuat menutupinya. Zikir pada peringkat ini
berperanan sebagai juru ingat. Sebutan lidah menjadi sahabat yang
memperingatkan hati yang lalai. Berlakulah pertembungan di antara tenaga zikir
dengan tenaga syaitan yang menutupi hati. Tenaga syaitan akan mencuba untuk
menghalang tenaga zikir daripada memasuki hati. Tindakan syaitan itu membuatkan
orang yang ingin berzikir itu menjadi malas dan mengantuk.
Oleh
yang demikian perlulah dilakukan mujahadah, memerangi syaitan yang menghalang
lidah daripada berzikir itu. Zikir yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh
akan berjaya melepasi benteng yang didirikan oleh syaitan. Tenaga zikir yang
berjaya memasuki hati akan bertindak sebagai pencuci, menyucikan karat-karat
yang ada pada dinding hati. Pada peringkat permulaannya zikir masuk ke dalam
hati sebagai Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan yang diucapkan. Apabila karat pada
dinding hati sudah berkurangan ucapan zikir akan disertai oleh rasa kelazatan.
Hati yang sudah merasai nikmat zikir itu tidak perlu kepada paksaan lagi. Lidah
tidak perlu lagi berzikir. Zikir sudah hidup dalam hati secara diam, jelira dan
melazatkan. Perhatian bukan sekadar kepada nama-nama dan sifat-sifat yang
diingatkan malah ia lebih tertuju kepada Yang Empunya nama dan sifat. Inilah
kedudukan orang yang beriman.
Zikir yang lebih
mendalam membawa hati berhadap kepada Hadrat Tuhan, menyaksikan Tuhan pada setiap
masa dan suasana. Apa sahaja yang dilihat dan dibuat memperingatkannya kepada
Tuhan. Inilah peringkat zikir daim yang dikurniakan kepada mereka yang beriman
dan bersungguh-sungguh mengabdikan diri kepada Allah S.W.T., Kehidupan mereka
dipenuhi oleh zikir sepanjang masa. Tidur mereka juga menjadi zikir.
Zikir yang
diucapkan dengan perkataan membantu hati mengingati Tuhan. Bagi sebahagian
manusia berzikir secara kuat lebih memberi kesan daripada berzikir secara
perlahan, terutamanya bagi mereka yang baharu memulakan amalan zikir. Zikir
secara senyap di dalam hati adalah pergerakan perasaan. Hati menghayati apa
yang dizikirkan dan terbentuklah alunan perasaan sesuai dengan apa yang
dihayati. Pada tahap yang lebih mendalam zikir bukan lagi sebutan atau ingatan
kepada Nama, tetapi hati menyaksikan Keperkasaan dan Keelokan Tuhan. Bila hati
sudah boleh menyaksikan Keelokan dan Keperkasaan Tuhan, itu tandanya seseorang
itu sudah ada hubungan semula dengan roh suci yang mengenal Tuhan. Pancaran
cahaya makrifat daripada roh suci membuat hati dapat melihat kenyataan
sifat-sifat Tuhan.
Pada tahap
kesedaran yang lebih mendalam, ucapan serta ingatan dan perhatian yang
berhubung dengan Tuhan menimbulkan keghairahan atau zauk. Zauk itu terjadi karena
kuatnya tarikan Hadrat Tuhan kepada hati. Ingatan dan penyaksian terhadap
Hadrat Tuhan akan memberi kesan yang sangat kuat kepada hati. Hati yang
menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Perkasa boleh menyebabkan seseorang itu
menjadi pengsan karena takutnya hati kepada keperkasaan Allah S.W.T., Hati yang
menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Lemah-lembut akan mengalami rasa kenikmatan
dan kebahagiaan yang amat sangat.
Pada tahap
kesedaran yang lebih mendalam, hati diperkuatkan lagi supaya mampu menerima
‘sentuhan’ Hadrat Tuhan itu. Penyaksian terhadap Hadrat Tuhan tidak lagi
melahirkan keghairahan atau zauk atau kegoncangan kepada hati. Hati mengalami
suasana Hadrat Tuhan dalam keadaan damai dan sejahtera. Pada tahap ini hati
akan mengenali Tuhan sebagai Raja Yang Maha Berkuasa. Berada pada sisi Raja
tersebut membuat hati merasakan kesejahteraan dan keselamatan yang tidak
terhingga, hilang rasa takut dan dukacita.Pada tahap kesedaran yang paling
dalam hati berhadap kepada Hadrat Tuhan yang bernama Allah S.W.T., yang
menguasai semua Hadrat, yang melampaui segala nama dan sifat, segala kenyataan
dan ibarat. Hati sampai kepada tahap jahil setelah berpengetahuan. Ilmu gagal
menghuraikan tentang Allah S.W.T.,
makrifat gagal
memperkenalkan Allah S.W.T., Apa sahaja yang terbentuk, tergambar, terfikir,
yang disaksikan dengan mata luar dan juga mata dalam dan segala-galanya
tersungkur di hadapan Hadrat Allah S.W.T., yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha
Perkasa. Sesungguhnya
tidak ada sesuatu yang menyamai Allah S.W.T., Dia Maha Esa.
Hati yang
berhadapan dengan Hadrat Allah S.W.T., benar-benar mengalami dan mengenali
maksud keesaan Allah S.W.T.
Hati pun tunduk,
menyerah sepenuhnya kepada Allah S.W.T., Tuhan Maha Mencipta. Baharulah
sempurna penyerahannya, baharulah lengkap perjalanan Islamnya.
Setelah itu
rohnya menjadi seakan-akan roh yang baharu, seumpama baharu lahir. Roh yang
baharu itu adalah Roh Islam yang telah mengenal Allah S.W.T., yang melampaui
segala sesuatu tetapi memiliki Hadrat-Nya, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya,
menyata kepada Roh Islam, iaitu Roh yang lebih tulen dan seni daripada semua
roh-roh yang lain. Itulah roh yang telah menemui Kebenaran Hakiki.
Pada roh
tersebut bercantum tahu dengan tidak tahu, kenal dengan tidak kenal, nafi
dengan isbat. Roh Islam itulah yang benar-benar mengerti maksud nafi dan isbat
pada Kalimah Tauhid: “La ilaha illa Llah”.
Dia turunkan Roh dari urusan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki daripada
hamba-hamba-Nya untuk memberi peringatan tentang hari pertemuan. ( Ayat 15 :
Surah al-Mu’minRoh Islam yang mengenderai hati Islam dan memiliki nafsu Islam,
akal Islam dan pancaindera Islam kembali kepada kehidupan dunia untuk mengajak
dan membimbing orang lain kepada Yang Haq, Kebenaran Hakiki.
Roh Islam
mengeluarkan yang Islam saja.
Jiwanya Islam,
perkataannya Islam, perbuatannya Islam, diamnya Islam, tidurnya Islam dan
segala-gala yang mengenainya adalah Islam. Roh Islam yang paling sempurna
adalah roh Nabi Muhammad S.A.W. Baginda S.A.W.,
merupakan contoh tauladan Islam yang paling sempurna, paling baik.
Zikir memainkan
peranan yang penting dalam melahirkan Roh Islam. Bagi orang yang inginkan
kebenaran dan melihat kebenaran, menjadi kewajipan baginya mengingati Allah S.W.T.,
sebanyak mungkin.
Lantas apabila
kamu telah selesaikan sembahyang (sembahyang di waktu perang ) itu, maka
hendaklah kamu ingat kepada Allah S.W.T., sambil berdiri, dan sambil duduk, dan
sambil (berbaring) atas rusuk-rusuk kamu.
Tetapi apabila
kamu telah tenteram, maka hendaklah kamu dirikan sembahyang (seperti biasa), karena
sesungguhnya itu adalah bagi Mukminin satu kewajipan yang ditentukan mwaktunya.
( Ayat 103 : Surah an-Nisaa’ )Yang mengingati Allah sambil berdiri dan sambil
duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit-langit dan
bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! Engkau tidak jadikan (semua) ini
dengan sia-sia! Maha Suci Engkau.
Lantaran itu
peliharakanlah kami daripada siksa neraka”.
Firman ALLLAH
S.W.T Q.S. Al-Imran Ayat 191 :
“alladziina yadzkuruuna allaaha
qiyaaman waqu'uudan wa'alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii
khalqi alssamaawaati waal-ardhi rabbanaa maa khalaqta
haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa'adzaaba alnnaari”
Artinya : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka”.
Maka segala amal dan segala Hal
itu hanya sanya yang menetapkan (meneguhkan) dia di dalam hati oleh wujud Zikir
pada Hati dan Lisan. Dan kesempurnaannya (zikir) itu ialah dengan Hudur (hadir
hati) dalamnya (zikir). Dan jangan ditinggalkan karena ketiadaan Hudur tetapi
sebut oleh mu akan Tuhan mu atas tiap-tiap hal seperti yang dikata oleh Muallif
(Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) dalam kalam hikmahnya;
Jangan
engkau tinggalkan Zikir karena ketiadaan Hudur mu serta Allah di
dalamnya(zikir) karena bahwasanya lalaimu daripada tidak berzikir akan Allah
itu telebih sangat jahatmu daripada kelalaianmu dalam berzikir.
Keterangan ;
Jangan engkau
tinggalkan Zikir karena ketiadaan Hudur mu serta Allah di dalamnya (zikir) karena
bahwasanya lalaimu daripada ketiadaan wujud zikir akan Allah itu telebih sangat
jahatmu daripada lalaimu dalam wujud zikir akan Dia. (Ini adalah karena) karena
bahwasanya lalai daripada zikir itu menjauhkan daripada Allah Taala dan
berpaling pada KulliahNya (semua halmu kepada Allah) dan lalai dalam zikir itu
Hudur pada Juziyyahnya (sesetengah masa atau waktu) dan karena bahwasanya dalam
zikirnya itu menghiasi anggotanya dengan ibadat dan lalai itu menghilangkan
akan dia (anggota daripada berbuat ibadat)
Keterangan Suluk
(Zikir secara umum)
Menurut guru
suluk, Zikir secara umumnya ialah apa sahaja amalan dan perbuatan zhohir dan
batin yang membawa seseorang itu kepada mengingati Allah. Amal ibadat dan
perbuatan sama ada yang zhohir atau batin yang berlandaskan hukum syarak yang
dikerjakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri dan mendapat keredhoan Allah
dikatakan ianya sebagai zikir. Ini adalah karena zikir itu terbahagi kepada
kepada beberapa bahagian dan martabat seperti Zikir Anggota, Zikir Lisan, Zikir
Qalbi dan Zikir Sir serta Zikir yang tenggelam dalam Mazkurnya yang akan
dinyatakan melalui keterangan selanjutnya nanti.
Melalui kalam
hikmah dan keterangan di atas, seseorang hamba itu dianjurkan supaya sentiasa
berzikir dan terus berzikir walaupun hatinya lalai daripada mengingati Allah
atau tidak hadir pada hati akan makna-makna dan rahsia zikir(Hudur) semasa
melaksanakannya. Inilah adalah karena perbuatan/amalan berzikir ini walaupun
dikerjakan dalam keadaan lalai, ianya sudah dianggap sebagai satu ibadat atau
amal kebaikan jika dibandingkan dengan hal-ahwal seorang yang langsung tidak
berzikir di mana secara terang dan nyata menunjukkan penderhakaan dan
kejahatannya terhadap Allah.
Orang
yang langsung tidak berzikir adalah mereka yang jauh dari Allah dan kejahatan
mereka itu menjauhkan lagi dari Allah karena dengan kesombongan mereka itu
menyebabkan mereka berpaling dari hal-ahwal atau tindak-tanduk kewajipan yang
perlu dilaksanakan sebagai seorang hamba kepada TuhanNya.
Berbeza dengan
orang yang sentiasa mengerjakan ibadat seperti sholat, puasa, di samping
berzikir serta lain-lainnya; walaupun mereka lalai sewaktu mengerjakannya,
sekurang-kurangnya ada juga pada waktu atau ketika/saat-saat yang tertentu akan
hudur hati mereka dengan Allah atau setidak-tidaknya terhias zhohir anggota dan
perbuatannya dengan amal-ibadat yang dituntut oleh syarak. Bukankah boleh
dikatakan satu kebaikan pada orang bersholat atau berpuasa berbanding dengan
mereka yang langsung tidak sembahyang dan berpuasa?. Demikain juga lidah yang
sentiasa basah dengan zikir walaupun hatinya lalai itu terlebih baik dan mulia
daripada lidah yang kosong hampa dengan kalimah-kalimah yang suci itu.
Dari karena
inilah, meneruskan lagi keterangannya
yang seterusnya seperti berikut;
Keterangan ;
Dan kata Wasthi
r.a.;
Bermula lalai
daripada menyebutnya(zikir) itu terlebih sangat (jahat) daripada lalai dalam
zikirnya.
Dan dikata orang
bagi Abi Osman An-Nahdi r.a.;
Kami zikir akan
Allah dan tiada kami dapat akan manis dan Hudur.
Maka katanya
(Abi Osman);
Puji jua oleh
kamu akan Allah atas(karena) menghiasi anggota daripada segala anggota kamu
dengan taatnya.
Dan kata
setengah mereka itu (kaum sufiah);
Syukurlah engkau
akan Allah atas barang yang dikurniakanNya daripada Zikir Lisan dan jikalau
melakukan (lidah) kepada tempat mengumpat-ngumpat nescaya tiada ada engkau
berbuat dia (zikir). Dan Allah Taala terlebih memuliakan daripada bahwa
diHudurkannya hambanya dengan lisannya (walaupun) tiada mengurniai atasnya
dengan Hudur hatinya. Dan sebut olehmu dengan lisanmu dan bersungguh-sungguh
dirimu dalam Hudur hatimu.
Keterangan Suluk
(Tingkatan Pertama; Zikir Lisan)
Ketiga-tiga
petikan yang didatangkan oleh di atas seakan ingin menunjukkan kepada kita bahwa
betapa perlunya seorang hamba itu membasahi lisannya dengan berzikir.
Terlebih-lebih lagi bagi orang-orang Salik yang ingin berjalan kepada TuhanNya,
tuntutan untuk melakukan Zikir ini adalah sangat-sangat ditekankan sebagai
senjata dan alat pencuci jiwa semasa dan sepanjang perjalanannya menuju
kehampiran. Walaupun lalai atau merasa pahit dan berat untuk berzikir, mereka
digalakkan juga untuk mengistiqamahkan Zikir Lisan ini mengikut awarid dan
bilangan-bilangan tertentu.
Pandangan di
atas juga menegaskan agar para Salik sentiasa bersyukur dengan anugerah dan
Kurnia Allah yang sedikit dimana Allah menghiasi anggota zhahir mereka dengan
amal taat dan patuh kepada Allah. Lidah yang digunakan untuk berzikir
sekurang-kurangnya dapat mengelakkannya daripada mengumpat-umpat dan mengeji
orang lain atau ucapan yang sia-sia atau lagho. Inilah wajah-wajah kemuliaan
yang dikurniakan Allah kepada mereka yang berzikir walaupun hatinya lalai.
Kemampuan untuk
berzikir secara lisan tanpa hudur hati ini hendaklah disyukuri agar nanti
mendapat kurnia dan anugerah Allah yang lebih lagi sebagaimana firman Allah
yang bermaksud; “Dan sekiranya kamu bersyukur, niscaya kami(Allah) akan tambah
lagi”.
Dengan kemuliaan
kurnia Allah yang sedikit dan kelebihan yang ada pada orang yang bersyukur
inilah, maka Muallif (Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) mendatangkan kalam
hikmahnya yang seterusnya sebagaimana berikut;
Maka
mudah-mudahan bahwa diangkatkan oleh Allah akan dikau daripada Zikir(lisan)
serta diperoleh lalai kepada Zikir serta diperoleh jaga
Keterangan;
Maka
mudah-mudahan bahwa diangkatkan oleh Allah akan dikau daripada Zikir serta
diperoleh lalai kepada Zikir serta diperoleh jaga(Yaqozhoh) dengan LathifNya
dan InayahNya karena bahwasanya jaga itu ingat hati daripada mengantuk ghoflah
dan tidur juhalah kepada Hadirat Al-Wafah(sempurna sebagai seorang hamba) dan
Adab Al-Khidmat. Dia sanalah berpindah ia daripada zikir lisan daripada zikir
qalbi yang Hudur daripada melazimkan dia (zikir lisan).
Keterangan Suluk
(Tingkatan Kedua; Zikir Qalbi)
Apabila
seorang hamba/Salik mengistiqamahkan dan sentiasa bersyukur dengan Zikir Lisan
mereka, Insya Allah…. Allah Yang Maha Lemah Lembut dengan pertolongan dan
limpah kurniaNya akan mengangkatkan martabat Zikir Lisan mereka kepada Zikir
Yaqzhoh.
Dengan Zikir
Yaqzhoh ini, hati hamba yang sebelum ini lalai atau ghoflah dengan
gangguan-gangguan keduniaan akan terjaga dan tersedar untuk mula melihat kepada
hakikat Zikir Lisan serta segala suatu yang lain.
Mata
hati yang sebelum ini tertutup sewaktu berzikir akan terbuka untuk memandang
Keesaan dan Keagungan Allah. Zikir-zikir lisan yang diucapkan akan terlancar
dan bergerak selari dengan gerakan hati di samping dapat merasai makna-makna
dan rahsia zikir mengikut kadar yang dikurniakan Allah.
Hati yang
sebelum ini, buta dan jahil dengan hakikat dan makrifat mula mengenali dan
memahami makna-makna di Alam Malakut yang terpancar pada zhohir sesuatu. Mereka
dapat melihat akan hikmah dan pengajaran di sebalik sesuatu yang zhohir yang
mendatangi mereka. Hiduplah hati atau jiwa mereka menuju ke Hadirat Al-Wafah
yang akan menyempurnakan kebersihan hati untuk layak dipanggil sebagai seorang
hamba dengan tahu melaksanakan adab-adab kehambaan dan adab-adab Ketuhanan
dengan pelbagai hal-ahwal hati yang merujuk kepada kepatuhan dan ketundukkan
yang penuh dengan kesedaran batin.
Dengan sebab
inilah Zikir serta jaga ini dinamakan juga sebagai Zikir Qalbi karena hidup
hati itu dengan mengingati dan memandang Allah pada setiap kali memandang
“ghair” atau sesuatu yang zhohir; sedar dan terjaga hati itu untuk mengenal dan
memahami akan hakikat bagi segala sesuatu. Dengan Zikir Qalbi inilah,
bermulalah satu perjalanan hati untuk meneroka dan memasuki alam-alam batin
atau alam-alam rahsia atau Alam Ketuhanan Yang Maha Tinggi.
Dan dengan karena
inilah diisyaratkan pula Muallif (Sheikh Ibni Athoillah AS-Kanddari) sebagai
menyambung dalam kalam hikmahnya yang seterusnya sebagaimana beriknya;
Dan daripada
zikir serta diperolehi jaga (Zikir Yaqozhoh) kepada zikir serta wujud Hudur
serta Allah (Zikir Sir).
Keterangan oleh
;
Dan daripada
zikir serta diperolehi jaga pada zikir serta oleh Hudur serta Allah. Dan adalah
Hudur kepada mereka itu iaitu Hudur dengan Haq Taala tatkala ghaibnya daripada
sekelian pancaindera dan daripada memandang agyar. Dan dalam Maqam ini
berpindah ia daripada Zikir Qalbi kepada Zikir Sir. Zikir Sir itu ghaib ia
daripada barang yang lain daripada Mazkor.
Keterangan Suluk
(Tingkatan Ketiga; Zikir Sir)
Allah itu Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan kasih-sayangNya Yang Maha Tinggi, Allah
mengangkatkan Maqam Zikir Qalbi seorang hamba pilihanNya kepada tingkat yang
seterusnya iaitu Zikir Sir. Zikir Sir ini sebagaimana keterangan di atas
merupakan Zikir yang telah datang kehadiran hati serta Allah. Dan Zikir ini
juga merujuk kepada kehadiran Rahasia diri yang terpendam sebelum ini. Hidup
Sirnya dengan TuhanNya di mana seluruh ingatan, seluruh pandangan(syuhud) dan
seluruh “rasa” tertumpu kepada Yang Haq.
Ingat dengan
Yang Haq; Syuhud kepada Yang Haq dan “merasa” dengan Yang Haq. Dengan kata
lain, seluruh anggota badan yang zhohir dan batin sentiasa dalam keadaan Zikir
inilah adalah karena, jiwa atau hati hamba telah hapus atau hilang atau qhaib
daripada pengaruh pancaindera dan memandang kepada Agyar pada pihak tidak
diiktibarkan apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasa, apa yang
diucapkan; malah setiap hal-ahwal zhohir mereka adalah merupakan Zikir karena
mereka tidak melihat sesuatu itu melainkan dilihatNya Allah dan tidaklah mereka
dilakukan sesuatu perbuatan atau amalan melainkan dengan “perintah” yang datang
dari Allah.
Sungguhpun
demikiannya hal keadaan hati yang sentiasa ingat akan kehadiran Allah dalam
tiap-tiap sesuatu itu berzikir dan berzikir dengan Sirnya, namun ianya belum
sampai kepada puncak kesempurnaannya yang Hakiki. Hati ini masih melihat dan
memandang kepada dirinya sendiri, hati ini masih terpesona dengan keajaiban rahasia
dirinya di mana hal ini menunjukkan bahwa masih ada lagi wujud yang lain iaitu
dirinya. Ini merupakan satu kecacatan pada Tauhid yang menjadi intipati dan rahasia
Zikir itu.
Dan dengan karena
inilah diisyaratkan pula Muallif (Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) sebagai
menyambung dalam kalam hikmahnya yang seterusnya sebagaimana beriknya;
Dan daripada
zikir serta diperoleh Hudur (Zikir Sir) kepada Zikir serta diperoleh ghaib
daripada barang yang lain daripada Mazkor
Keterangan oleh
;
Dan daripada
zikir serta diperoleh Hudur kepada zikir serta diperoleh ghaib daripada barang
yang lain daripada Mazkor ia hingga masuklah orang yang zikir itu ke dalam
MazkorNya dan ghaib Sirnya takala ZuhurNya (nyata Allah). Maka adalah ghaib
zikirnya dengan zikirnya.
Dan karena
inilah diisyaratkan Muallif dengan katanya;
Dan daripada Zikir serta Hudur
kepada Zikir serta diperoleh ghaib daripada barang yang lain daripada
Mazkur(TuhanNya yakni Allah) hingga masuklah orang yang Zikir Allah ke dalam
MazkurNya dan ghaib Sirnya tatkala ZhuhurNya(Nyata Allah). Maka adalah ghaib
Zikirnya dengan Zikirnya.
Keterangan Suluk (Tingkatan Zikir
Keempat/Maqam Kesempurnaan)
Setelah melalui hal-ahwal atau Maqam
Zikir serta Hudur atau disebut juga sebagai “Zikir Sir”, seorang hamba dengan
limpah kurnia Allah akan diipndahkan pula kepada Zikir Yang Ghaib dalam MazkurNya
atau disebutkan juga sebagai “Ghaib Zikirnya dalam Zikir” atau “Zikir dengan
Mazkur” pada pihak hilang atau ghaib diri/hati yang berzikir dalam Hakikat
Zikir iaitu Allah. Maqam ini adalah merupakan puncak atau tingkat tertinggi
bagi mereka yang seakan mabuk dengan TuhanNya Yang Ampunya Zikir. Keadaan ini
digelar juga Fana dalam Fana di mana hilang segala rusum dan isyarat. Apa yang
wujud ialah Wujud Yang Hakiki yakni Allah semata-mata.
Dari keterangan dan perbincangan
seperti yang telah disentuh sebelum ini, sekiranya kita dapat menangkapi
kefahamannya, jelaslah bahwa bagi setiap tingkat Zikir itu menunjukkan
hal-ahwal hati/diri atau yang menyatakan Maqam kedudukan hamba dengan TuhanNya.
Sebagai merumuskannya, mendatangkan keterangannya yang seterusnya sebagaimana
berikut;
Keterangan oleh Pengarang Kitab
Hikam
Dan pada ketika itu
* dalam Zikir Lisan itu Maqam orang
orang yang ahli Ghoflah daripada segala orang awam.
* Dan Maqam Zikir Lisan dengan jaga
Qalbi itu Maqam orang yang Ahli Suluk.
* Dan Maqam Zikir Dalam Hadirat
Mazkur itu Maqam Al-Khowas
* Dan Maqam Al-Ghaib Dalam Mazkur
dari pada Zikir itu Maqam Khowasul-Khowas, orang yang alhi Fana ‘An Fana.
Maka adalah sentiasa Zikir itu atas
kata “Laa ilahaillaLlah” serta ikhlas itu sebab bagi menjagakan anggota
daripada wujud ghoflah serta Zikir.
Dan Zikir “Allah.. Allah” itu sebab
bagi mengeluarkan engkau daripada jaga dalam Zikir kepada wujud Hudur serta
Mazkur.
Dan Zikir “Hu Hu” itu sebab bagi
mengeluarkan engkau daripada tiap-tiap barang yang lain daripada Mazkur.
Dan kata setengah mereka itu (Kaum
Sufiah);
* bermula yang membukakan Qalbu itu
(ialah) kata “Laa ilahaillaLlah”;
* dan yang membukakan Ruh itu
(ialah) “Allah..Allah”
* dan yang membukakan Sir itu ialah
“Hu Hu”.
* Dan “Laa ilahaillaLlah” itu
makanan Qalbu dan
* “Allah..Allah” itu makanan Ruh dan
* “Hu Hu” itu makanan Sir.
Keterangan oleh Pengarang Kitab
Hikam dan kata setengah mereka itu (Kaum
Sufiah); bermula segala orang yang Zikir itu atas lima martabat.
* Pertama – Yang dizikir dengan lisan
tiada dengan Qalbi.
* Kedua – Yang dizikir dengan Qalbi
tiada dengan Lisan.
* Ketiga – Yang zikirdengan Aqal.
* Keempat – Yang zikir dengan Sir
* Kelima – Yang Zikir dengan Mazkur.
Demikian juga dengan Zikir dengan
Aqal pada martabat ketiga. Ianya amat dituntut sekali pada seorang hamba supaya
melaksanakannya. Zikir Aqal bermaksud ialah menggunakan aqal kita untuk
berfikir kepada perkara-perkara yang boleh menambahkan amal perbuatan,
mendekatkan diri dengan Allah, membesarkan kejadian Allah yang dilihat,
memikirkan keaiban dan kejahatan diri/amalan kita serta apa sahaja yang boleh
membawa kesedaran kita untuk mengingati Allah. Di lain-lain tempat Zikir serta
Aqal ini dikatakan sebagai Tafakur. Kiranya anda seorang yang mengetahui,
sesungguhnya di sebalik Tafakur ini, tersimpan salah satu khazanah rahasia
orang-orang Sufi yang menghimpunkan kedudukan Ilmu dan hal-ahwal mereka.
Berkaitan dengan “Zikir Sir” dan
“Zikir dengan Mazkur” ianya adalah suatu hal yang merujuk kepada sifat hati
yang hidup dengan limpahan Cahaya Ketuhanan; yang bebas tanpa kawalan
pancaindera; tanpa usaha dan ikhtiarnya; yang hidup zikir itu dengan sendirinya
sebagai satu anugerah kurnia dari Allah bagi hamba-hamba pilihannya. Semuanya
ini adalah tidak sukar bagi Allah seperti mana keterangan yang berikutnya.
Keterangan oleh Pengarang Kitab
Hikam
Firman Allah yang bermaksud; “Dan
tiada yang demikian itu atas Allah Taala sukar” dengan KuatNya dan KuasaNya
yang tiada terhenti pekerjaanNya atas sesuatu karena Ia jua
* Yang Ghoni(Memiliki Kekayaan) lagi
Karim(Pemurah);
* Yang Menganugerahi barang yang
diKehendakiNya;
* dan tiada yang menegahkan dalam
QudratNya
* dan tiada yang jauh daripada
KaramNya.
Hanyasanya atas hamba itu Asbab dan
atas Allah Yang Membukakan “bab” (pintu kurniaNya).
Dan yang demikian itu(Lima Martabat
Zikir di atas) bagi mengisbatkan(menyabitkan) Hikmah dan Zhuhur(kenyataan)
Ubudiyah(Kehambaan) dengan Ibadat.
* Dan tiada ibadat melainkan dengan
Fadhol(limpah kurnia)Nya;
* dan tiada Zikir melainkan dengan RahmatNya;
* dan tiada Tawajjuh(berhadap hati)
kepadaNya melainkan dengan KurniaNya.
Maka iaitu(Allah) Yang Mengurniai
(orang) yang zikir dengan TaufiqNya; maka diTunjukiNya bagi JalanNya; maka
diBukakan bagi(hamba)nya dengan anugerahNya.
Keterangan Suluk
Dari segi pandangan hakikat, seorang
hamba yang dapat berzikir itu adalah karena adanya limpah kurnia dari Allah
Taala dan tidak sepatutnya seorang itu mendakwa bahwa kemampuan ia boleh
memanjat ke tingkat-tingkat Zikir yang tinggi adalah karena hasil usaha ikhtiar
dari penat lelahnya bermujahadah. Namun begitu tingkat-tingkat yang tersusun
itu dibeza-bezakan sebagai mensabitkan Hikmah Allah dan penyataan pembuktian
seorang hamba dengan melaksanakan pelabagai ibadat terhadap TuhanNya.
Dengan itu, sebagai adab
kehambaan(Ubdudiyah) seorang hamba itu perlu bersungguh-sungguh membiasakan
lisan mereka dan hati mereka dengan beribadat, berzikir dan bertawajjuh
kepadaNya. “Allah tiada memberati manusia melainkan sekadar tenaganya. Baginya
(pahala) kebajikan yang diusahakannya dan di atasnya (dosa) kejahatan yang
diperbuatnya”(Al-Baqarah: 286);
Dan apabila
mereka dapat melaksanakannya dengan baik dan sempurna, maka wajib dilaksanakan
dengan bersungguh-sungguh pula Adab Ketuhanan iaitu dengan
disyuhudkan(dipandang) bahwa amal ibadat dan semua perbuatan mereka adalah
dengan taufiq, dan limpah kurnia Allah Taala. “Dan bermula Allah itulah yang
menjadikan kamu dan apa-apa yang kamu perbuatkan” (Surah As-Shofat: 96). “Dan
tiada engkau melempar ya Muhammad tatkala engkau melempar tetapi Allah Taala
jua yg melempar” (Surah Al-Anfal: 17)
Dengan melaksanakan Hak Kehambaan
dan Hak Ketuhanan ini, mudah-mudahan Allah akan membukakan/menghidupkan “Sir”
mereka untuk meneroka lautan makrifatullah yang tiada terhad.
Bersambung pada pengajian yang
seterusnya….Tuntutan Berzikir
Dengan melaksanakan Hak Kehambaan
dan Hak Ketuhanan ini, mudah-mudahan Allah akan membukakan/menghidupkan “Sir”
mereka untuk meneroka lautan makrifatullah yang tiada terhad.
Keterangan selanjutnya oleh Pengarang
Kitab Hikam
Dan kata mereka itu(Kaum Sufiah);
dan setengah daripada Khoshoih Zikir itu tiada berwaktu dengan suatu waktu.
Maka tiada jua daripada suatu waktu(setiap nafas) melainkan hamba itu dituntut
padanya(berzikir). Ada kalanya Wajib dan ada kalanya Sunat; bersalahan dengan
lainnya daripada segala Taat.
Keterangan Suluk
Pandangan Ahli-ahli Sufi di atas
adalah sebagai ingin menegaskan bahwa sebahagian daripada ketentuan atau
ketetapan (Khoshoih) Zikir itu ialah ianya dilakukan dengan tidak mengira waktu,
masa dan tempat. Dengan kata lain amalan zikir di sisi mereka ialah satu amalan
yang tetap dilakukan dalam apa jua situasi atau keadaan, di mana jua tempat
malah pada setiap nafas yang dihembus dan disedut menjadi tuntutan pada mereka
untuk tidak melupai zikir.
Berbanding dengan lain-lain ibadat
seperti Salat, Puasa, Zakat, Haji dan lain-lain. Amalan-amalan ini hanya
dituntut dan boleh dilaksanakan pada waktu-waktu dan tempat-tempat yang
tertentu sahaja. Dan terdapat pada sesuatu waktu, sesuatu keadaan atau sesuatu
tempat seseorang itu tidak dituntut malah ditegahkan untuk melaksanakannya
walaupun ianya kebaikan. Ada tegah yang makruh dan ada tegah yang diharamkan.
Contohnya, Salat-salat sunat ditegah
melaksanakannya pada waktu-waktu tahrim. Ada salat-salat Sunat itu pula hanya
tertentu dan berkait dengan masa seperti Sunat Israk apabila sempurna matahari
naik, Salat Dhuha apabila matahari tinggi segalah, Sholat Witir hanya boleh
dikerjakan di waktu akhir malam dan tidak dituntut pada waktu-waktu yang lain.
Qiyaslah sendiri dengan amal ibadat yang lain-lain seperti Haji, Puasa dan
sebagainya; di mana kesimpulannya amal ibadat tersebut hanya dituntut pada masa
atau tempat yang tertentu sahaja dan ditegah pada masa atau tempat yang
lain.Berbeza dengan zikir, ianya boleh dilakukan bila-bila masa sahaja dan di
mana-mana tempat sahaja.
Di waktu tahrim boleh, di dalam
pasar
boleh, di tempat mencari rezeki
boleh, di khalayak ramai boleh, bersunyi seorang diri boleh, di tengah-tengah
laut atau bandar boleh malah di dalam bilik air dan tandas pun boleh yakni
dengan Zikir Sir atau Zikir Aqal.
Firman Allah Q.S. Al-Ahzab : 41,42 :
“yaa ayyuhaa alladziina aamanuu
udzkuruu allaaha dzikran katsiiraan”
Artinya : “Hai orang-orang yang
berIman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang
sebanyak-banyaknya.
“wasabbihuuhu bukratan wa-ashiilaan”
Artinya
: “Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”
Orang-orang yang mengingati Allah
sambil duduk atau berdiri atau dalam keadaan berbaring (semua keadaan) dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan
kami, tiada Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa api neraka. (Surah Al-Imran:191)
Begitulah Rasulullah (S.A.W.) pun
sentiasa ingat Allah seperti didalam sabdanya
“Kedua mataku menidurkan aku tetapi
hati ku tidak tidur”
“Sebutlah nama Tuhanmu Allah dan
beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan”.(Surah Muzzammil: 8)
Dengan karena
tuntutan inilah, maka ramai di kalangan Penghulu Masyayeikh Tariqat-tariqat
tertentu telah menyusun pelbagai zikir yang perlu(WAJIB) dilaksanakan oleh
murid-murid bimbingan dengan kadar bilangan dan masa yang tertentu. Pun demikian
ada juga di kalangan mereka yang tidak mewajibkan amalan-amalan zikir tertentu
dengan hanya menjadikan zikir-zikir tersebut sebagai sesuatu amalan-amalan
sunat yang sentiasa dikerjakan seperti membaca doa-doa pada setiap perbuatannya
seperti doa pada waktu makan, pada waktu tidur dan sebagainya di samping
mendawamkan zikir-zikir lidah atau Zikir Sir yang menjadi satu kebiasaan diri
dan tabiat peribadinya sehingga tidak sunyi setiap nafas mereka melainkan
dengan berzikir secara lisan atau berzikir Aqal atau berzikir Sir atau berzikir
anggota lahir mereka dengan amal kebajikan yang sejalan dengan kemuliaan syarak
Rasulullah S.A.W.
Keterangan selanjutnya oleh
Pengarang Kitab Hikam
Dan ceritara daripada Rasulullah S.A.W;
bahwasanya Sabdanya;
“Perbanyak oleh kamu akan Zikir
hingga dikata kamu Majnun(Gila)”.
Maka sayugianya bagi hamba itu bahwa
membanyakkan daripada Zikir dalam tiap-tiap Halnya dan jangan meninggalkan dia
selagi ada Aqal dan jikalau serta lalai sekalipun. Maka meninggalkan itu
terlebih sangat jahatnya daripada lalainya.
Keterangan Suluk
Istilah sayugia ini memberi dua
pengertian yaitu;
* makna pertamanya, Sunat bagi
orang-orang awam dan
* makna keduanya, Wajib bagi
orang-orang Sufi.
Dengan ini jelaslah dari tuntutan
wajib menghadirkan zikir dalam setiap hal bagi orang-orang sufi menunjukkan
atau memberitahu satu isyarat yang penting, menyatakan satu makna yang besar
yang menjadi dasar atau nadi perjalanan mereka. ZIKIR dan BERZIKIR, mendawamkan
ZIKIR dan HIDUP DENGAN ZIKIR. Zikirnya terpancar pada setiap anggota zhohirnya,
Zikirnya menjelma dalam tindak-tanduknya, Zikirnya menghiasi dalam Syuhudnya
dan Zikirnya bersemadi pada rahasia ruhnya. Isyarat ini boleh kita perolehan
dari keterangan yang seterusnya;
Keterangan selanjutnya oleh Pengarang
Kitab Hikam
Dan terkadang ada Zikir Lisan itu
sebab bagi Hudur iaitu sifat segala Ulama dan terkadang ada Hudur itu akan
sebab bagi Zikir Ghaib daripada barang yang lain daripada Mazkur iaitu Martabat
segala orang yang Arif dan Muhaqiqin daripada Aulia Allah.
Keterangan Suluk
Keterangan di atas menunjukkan
kepada satu isyarat dengan menggunakan perkataan “terkadang”. Terkadang membawa
kepada pengertian bahwa “tidak semestinya” atau “ianya bukan selalu begitu”
atau lebih sesuai lagi sebagai “salah satu bahagian daripada suatu keseluruhan”
dengan maksud ianya bukan meliputi keseluruhan atau yang terbaiknya sebagai
“salah satu jalan/thoriq” daripada jalan-jalan/thoriq-thoriq lain yang membawa
seseorang untuk sampai kepada Allah(Washil ilaLlah).
Kadang-kadang seseorang itu boleh
memanjat kepada Maqam yang menyamai hal-ahwal atau Sifat para Ulama. Mereka ini
ialah yang sentiasa mendawamkan Zikir Lisan sehingga akhirnya dengan tetap dan
dawamnya tersebut menyebabkan datangnya Zikir serta Hudur(Zikir Qalbi atau Zikir
Yaqzhoh).
Kadang-kadang pula dengan tetapnya
hal Zikir Qalbi itu, akan menjadikan seseorang itu ghaib dalam zikirnya atau
“tidak dingat atau tidak dilihat/musyahadah dalam zikirnya melainkan Allah
Taala” jua yang Wujud. Inilah Zikir Dengan Mazkur(TuhanNya) yang menjadi
Martabat segala orang yang Arif dan Muhaqiqin daripada Aulia Allah.
Ya Allah!!! Tuhan Yang Menzhohirkan
Rahmat Kasih SayangNya pada hamba-hambanya terpilih. Masukkan kami ke dalam
golongan mereka yang Engkau himpunkan keredhoaanMu pada jiwa mereka. Hamba ini
terlalu Dhoif, Lemah, Jahil dan Papa. LAA HAULAWALA QUWWATAILLA BILLAH
Tanbih..Selesai sudah kalam hikmah
yang berkaitan dengan hal-ahwal zikir yang terkandung dalam tiga bicara sebelum
ini.Seterusnya sebagai mendatangkan Kalam Hikmahnya, maka kata Sheikh r.a
(Muallif Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari dalam kalam hikmahnya yang
berikutnya;
Sebahagian daripada tanda mati hati
itu ialah jika tidak merasa dukacita karena tertinggal sesuatu amal perbuatan
kebajikan juga tidak menyesal jika terjadi berbuat sesuatu pelanggaran dosa.
Rahasiah Zikir dan Kalimat ALLAH
“Diterangkan didalam Kitab Fathurrahman, berbahasa
Arab, yaitu pada halaman 523. disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis didalam
Al-Qur’an sebanyak 2.696 tempat.
Apa
kiranya hikmah yang dapat kita ambil mengapa begitu banyak nama Allah, Zat yang
maha Esa itu bagi kita…?
Allah, Zat yang
maha esa, berpesan :
“ Wahai Hambaku
janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku “
Maksudnya :
Allah itu namaku dan Zatku, dan tidak akan pernah bercerai, Namaku dan Zatku
itu satu.
Allah S.W.T.,
juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya, kemudian ditambah 4
kitab lagi sehingga jumlah keseluruhan kitab yang telah diturunkan-Nya
berjumlah 104 buah kitab, dan yang 103 buah kitab itu rahasianya terhimpun
didalam Al-Qur’annul karim, dan rahasia Al-Qur’annul karim itu pun rahasianya
terletak pada kalimah “ALLAH”.
Begitu pula
dengan kalimah La Ilaha Ilallah, jika ditulis dalam bahasa arab ada 12 huruf,
dan jika digugurkan 8 huruf pada awal kalimah La Ilaha Ilallah, maka akan
tertinggal 4 huruf saja, yaitu Allah.
Ma’na kalimah
ALLAH itu adalah sebuah nama saja, sekalipun digugurkan satu persatu nilainya
tidak akan pernah berkurang, bahkan akan mengandung ma’na dan arti yang
mendalam, dan mengandung rahasia penting bagi kehidupan kita selaku umat
manusia yang telah diciptakan oleh Allah S.W.T., dalam bentuk yang paling
sempurna.
ALLAH jika
diarabkan maka Ia akan berhuruf dasar Alif, Lam diawal, Lam diakhir dan Ha.
Seandai kata ingin kita melihat kesempurnaannya maka gugurkanlah satu persatu
atau huruf demi hurufnya.
• Gugurkan huruf
pertamanya, yaitu huruf Alif (ا ), maka akan tersisa 3 huruf saja dan bunyinya
tidak Allah lagi tetapi akan berbunyi Lillah, artinya bagi Allah, dari Allah,
kepada Allahlah kembalinya segala makhluk.
• Gugurkan huruf
keduanya, yaitu huruf Lam awal (ل ), maka akan tersisa 2 huruf saja dan
bunyinya tidak lillah lagi tetapi akan berbunyi Lahu.
Lahu
Mafissamawati wal Ardi, artinya Bagi Allah segala apa saja yang ada pada tujuh
lapis langit dan tujuh lapis bumi.
• Gugurkan huruf
ketiganya, yaitu huruf Lam akhir ( ل), maka akan tersisa 1 huruf saja dan
bunyinya tidak lahu lagi tetapi Hu, Huwal haiyul qayum, artinya Zat Allah yang
hidup dan berdiri sendirinya.
Kalimah HU
ringkasnya dari kalimah Huwa, sebenarnya setiap kalimah Huwa, artinya Zat,
misalnya :
Qul Huwallahu
Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Yang dimaksud
kalimah HU itu menjadi berbunyi AH, artinya Zat.
Bagi sufi, napas
kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi amal bathin, yaitu
HU, kembali napas turun di isi dengan kalimah ALLAH, kebawah tiada berbatas dan
keatas tiada terhingga.
Perhatikan
beberapa pengguguran – pengguguran dibawah ini :
Ketahui pula
olehmu, jika pada kalimah ALLAH itu kita gugurkan Lam (ل ) pertama dan Lam (ل )
keduanya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan huruf yang akhir (dipangkal
dan diakhir), yaitu huruf Alif dan huruf Ha (dibaca AH).
Kalimah ini (AH)
tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak dibaca lagi dengan
nafas keatas atau kebawah tetapi hanya dibaca dengan titik.
Kalimah AH, jika
dituliskan dengan huruf Arab, terdiri 2 huruf, artinya dalam bahasa disebutkan
INTAHA (Kesudahan dan keakhiran), seandai saja kita berjalan mencari Allah
tentu akan ada permulaannya dan tentunya juga akan ada kesudahannya, akan
tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH, maka sampailah perjalanan itu
ketujuan yang dimaksudkan. (Silahkan bertanya kepada akhlinya)
Selanjutnya
gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf akhirnya, yaitu
huruf HA, maka akan tersisa 2 buah huruf ditengahnya yaitu huruf LAM pertama
(Lam Alif) dan huruf LAM kedua ( La Nafiah). Qaidah para sufi menyatakan
tujuannya adalah Jika berkata LA (Tidak ada Tuhan), ILLA (Ada Tuhan), Nafi
mengandung Isbat, Isbat mengandung Nafi tiada bercerai atau terpisah Nafi dan
Isbat itu.
Selanjutnya
gugurkan huruf LAM kedua dan huruf HU, maka yang tertinggal juga dua huruf,
yaitu huruf Alif dan huruf Lam yang pertama, kedua huruf yang tertinggal itu
dinamai Alif Lam La’tif dan kedua huruf itu menunjukkan Zat Allah, maksudnya
Ma’rifat yang sema’rifatnya dalam artian yang mendalam, bahwa kalimah Allah
bukan NAKIRAH, kalimah Allah adalah Ma’rifat, yakni Isyarat dari huruf Alif dan
Lam yang pertama pada awal kalimah ALLAH.
Gugurkan tiga
huruf sekaligus, yaitu huruf LAM pertama, LAM kedua, dan HU maka tinggallah
huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf Alif (Alif
tunggal yang berdiri sendirinya).
Berilah tanda
pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah dan depan, maka akan
berbunyi : A.I.U dan setiap berbunyi A maka dipahamhan Ada Zat Allah, begitu
pula dengan bunyi I dan U, dipahamkan Ada Zat Allah dan jika semua bunyi itu
(A.I.U) dipahamkan Ada Zat Allah, berarti segala bunyi/suara didalam alam, baik
itu yang terbit atau datangnya dari alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin
dan Api) maupun yang datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah.
Penegasannya
bunyi atau suara yang datang dan terbit dari apa saja kesemuanya itu berbunyi
ALLAH, nama dari Zat yang maha Esa sedangkan huruf Alif itulah dasar (asal)
dari huruf Arab yang banyaknya ada 28 huruf.
Dengan demikian
maka jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita telah melihat 28 huruf
yang ada. Lihat dan perhatikan sebuah biji pada tumbuh-tumbuhan, dari biji
itulah asal usul segala urat, batang, daun, ranting, dahan dan buahnya.
Syuhudul Wahdah
Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah.
Pandang yang
satu kepada yang banyak dan pandang yang banyak kepada yang satu maka yang ada
hanya satu saja yaitu satu Zat dan dari Zat itulah datangnya Alam beserta
isinya.
Al-Qur’an yang
jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun kedalam Suratul Fatekha, dan Suratul
Fatekha itu akan terhimpun pada Basmallah, dan Basmallah itupun akan terhimpun
pada huruf BA, dan huruf BA akan terhimpun pada titiknya (Nuktah).
Jika kita tilik
dengan jeli maka titik itulah yang akan menjadi segala huruf, terlihat banyak
padahal ia satu dan terlihat satu padahal ia banyak.
Selanjutnya
Huruf-huruf lafald Allah yang telah digugurkan maka tinggallah empat huruf yang
ada diatas lafald Allah tadi, yaitu huruf TASYDID (bergigi tiga, terdiri dari
tiga huruf Alif) diatas Tasydid adalagi satu huruf Alif.
Keempat huruf Tasydid
itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib bagi kita untuk mentauhidkan
Asma Allah, Af’al Allah, Sifat Allah dan Zat Allah.
Langkah terakhir
gugurkan keseluruhannya, maka yang akan tinggal adalah kosong.
LA SAUTUN WALA HARFUN, artinya tidak ada huruf dan tiada suara, inilah kalam
Allah yang Qadim, tidak bercerai dan terpisah sifat dengan Zat.
Tarku Mayiwallah
(meninggalkan selain Allah) Zat Allah saja yang ada.
“La Maujuda Illallah (tidak ada yang ada hanya Allah)”
7.1.4. HAKIKAT ZIKKRULLAH
Apakah
yang disebut dengan ZIKKRULLAH itu ?
Menurut
pengertian umum memuji dan menuju dengan hati yang tulus ikhlas. Tetapi tulus
dan ikhlasnya itu berbeda dengan orang yang mengerti/ yang faham.Orang yang
faham ialah,seperti dalil berbunyi :
LA YA’ZIKKRULLAH ILLALLAH,artinya : tidak
menyebut Allah hanya Allah.
Adapun yang
mengatakan LA ILAHA ILLALLAH itu ialah : RAHASIA ALLAH ZAHIR DAN BATHIN,ATAU
BATHIN DAN ZAHIR. Kesimpulannya ialah : tidak lagi kita ini yang mengatakan
kalimat itu,melainkan SIRULLAH jua adanya.
Dengan
demikian leburlah tubuh itu dan hati itu kepada Roh,dan Roh itu hancur pula
menjadi NUR,dan NUR itu lenyap pula kepada RAHASIA ALLAH TA’ALA. Jadi yang
berzikir itu adalah RAHASIA ALLAH jua.
Disini letaknya
nialai,dan nilai itu terletak dalam diri pribadi masing-masing. Inilah yang
disebut ISI daripada ZIKKRULLAH itu. Berzikirlah dengan Zikkrullah,dan ingatlah
dengan ingatnya Allah dan pandanglah dengan pandangannya Allah.
Dan berbuatlah
dengan perbuatan Allah,dan tinggalkanlah apa-apa yang ditinggalkan oleh Allah.
Kerjakanlah apa
yang dikerjakan Allah,dan tinggalkanlah apa yang ditolak Allah.
INILAH
KATA-KATA PAHIT TAPI MANIS.
BEBERAPA
KESIMPULAN
TIADA MENGENAL
ALLAH,HANYA ALLAH
TIADA MELIHAT
ALLAH,HANYA ALLAH
TIADA MENYEMBAH
ALLAH,HANYA ALLAH
TIADA MENYEBUT
ALLAH,HANYA ALLAH
TIADA YANG
MAUJUD,HANYA ALLAH
TIADA UJUD
BAGIKU,HANYA UJUD ALLAH
TIDAK ADA DALAM
DIRI,MELAINKAN ALLAH
TIADA UJUD BAGI
KITA,HANYA UJUD ALLAH
TIADA HIDUP
KITA,HANYA HAYATULLAH ZAT
TIADA PERBUATAN
KITA,HANYA FI’IL ALLAH
TIADA NAMA BAGI
KITA,HANYA ASMA ALLAH
TIADA PANDANGAN
KITA,HANYA PANDANGAN ALLAH
TIADA
PENGLIHATAN BAGI KITA,HANYA PENGLIHATAN ALLAH
TIADA PENGUCAP
BAGI KITA,HANYA UCAPAN ALLAH
TIADA PENCIUMAN
BAGI KITA,HANYA PENCIUMAN ALLAH
TIADA RASA BAGI
KITA,HANYA RAHASIA ALLAH
TIADA KUASA BAGI
KITA,HANYA KUDRAT ALLAH
TIADA HIDUP BAGI
KITA,HANYA KEHIDUPAN ALLAH
TIADA
BERKEHENDAK KITA,HANYA IRADAT ALLAH
TIADA TAHU
KITA,HANYA ILMU ALLAH
TIADA MENDENGAR
KITA,HANYA ALLAH
TIADA MELIHAT
KITA,HANYA ALLAH
TIADA
BERKATA-KATA KITA,HANYA RAHASIA ALLAH
TIADA UJUD BAGI
KITA,HANYA UJUD ALLAH
TIADA LAGI KITA
KITA INI,HANYA DALAM RAHASIA ALLAH
Zikirullah dan Khalwat Sunnah Nabi
Zikrullah dan
khalwat ini adalah sunah Nabi yang paling awal,sejak di Gua Hira’ lagi.Nabi
Muhammad S.A.W juga telah pergi berkhalwah di Jabal Thur bahkan Nabi
Musa a.s juga berkhalwah di Bukit Tursina seperti Firman Allah :
“ dan telah Kami
janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh
malam,dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), Maka
sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.. “. Surah
al-A’raaf ayat 142. Sabda Nabi S.A.W :
“ Wajiblah atas
engkau sentiasa berzikrullah di tempat-tempat yang sunyi “
Syeikh Abdul
Kadir Isa, Haqaiq anittasawuf.
“ Orang yang
ikhlas kepada Allah selama 40 hari akan timbul sumber hikmah dari
hatinya pada lisannya ”.“ Barangsiapa menambatkan akan dirinya satu malam pada
jalan Allah adalah satu malam itu baginya seperti seribu malam sembahyang dan
puasa “ HR Ibn Majah dan Usman.
“ Haqiqun
bilmar’i inyyakuunalahu majaalisu yakhluu fiihaa wayazkuruu zunuubahu
fayastaqfirullaha minha – sebenar-benar bagi seseorang itu mempunyai tempat
duduk untuk ia berkhalwat di dalamnya dan mengingati dosa-dosanya dan ia
meminta
ampun kepada Allah terhadap dosa-dosanya“
Derajat
atau peringkat ehsan itu menurut Imam Ghazali tidak dapat dicapai dengan
cara ta’alim atau mendengar kecuali dengan cara merasa atau dzauq.Bagi mencapai
dzauq yang cepat perlulah mengikuti jalan bersuluk. ( Ihya’ Ulumuddin )
Dari ‘Aisyah
r.h., dia berkata, “ Adalah Nabi S.A.W melaksanakan iktikaf dalam sepuluh hari
akhir Ramadhan, lalu saya buatkan kelambu untuk beliau, lalu Rasulullah solat
Subuh,kemudian memasukinya. (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
DEMIKIANLAH
PEMAHAMAN MENGENAL DIRI MENUJU PENGENALAAN ALLAH S.W.T., SEMOGA KITA SENANTIASA DIRAHMATI
ALLAH S.W.T., DANDIBERIKAN PETUNJUK KEBENARAN MENUJU KEMASLAHATAN HIDUP DIDUNIA
DAN KELAK AKHIR HIDUP KITA BERAKHIR DALAM CHUSNUL CHATIMAH,
AMIN YA RABBUL ALAMIN.
WABILLAHI TAUFIK
WAL HIDAYAH, WASSALAMU’ALAIKUM
WARHMATULLAHI WA
BARKATUH
MANGKASSARAQ
Dzulhijah 1440 H,
Tumbuh melata sipokok tebu, Ditepi
pasar jualan daging,
Banyak harta tidak berilmu, Bagai rumah tidak berdinding.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar