Minggu, 09 Juli 2023

MARI BER-TASAWUF, SEBAGAI WARISAN CUCU NABI MENUJU PENGENALAN KEPADA ALLAH S.W.T

 

 

BAGIAN KE-EMPAT

MARI BER-TASAWUF, SEBAGAI WARISAN CUCU NABI MENUJU PENGENALAN KEPADA ALLAH S.W.T

 

IV.1.1.  PENGERTIAN TASAWUF

 

Kata shufi baru dikenal sesudah abad ke tiga hijriyah. Kata ini sering digunakan oleh para imam mazhab dan para Syeikh tarikat, seperti Imam Ahmad bin Hambal (241 H), Abu Sulaiman Abdurrahman bin Utbah al-Darani, dikenal dengan nama Abu Sulaiman al-Darani (215 H/830 M) dan lain-lain. Orang yang mula-mula menggunakan kata shufi ialah Abu Abdullah bin Sa’id bin Masruq al-Sauri al-Kufi, dikenal dengan nama Sufyan as-Sauri (97 H/715 M), dan ada pula yang mengatakan Al-Hasan bin Abi al-Hasan Abu Sa’id, dikenal dengan nama Hasan al-Basri (110 H/728 M).

 

Para ahli berbeda pendapat tentang asal kata shufi, antara lain sebagai berikut :

 

a.       Tasawuf berasal dari kata Shafayang berarti bersih, karena tujuan para  sufi

adalah untuk membersihkan hatinya di hadapan Tuhannya.

b.      Tasawuf berasal dari kata Shuffah, yaitu suatu serambi masjid Nabawi di Madinah. Serambi tersebut ditempati oleh para sahabat Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin, tetapi imannya kuat, berhati bersih dan rajin beribadah, serta tidak mementingkan kehidupan duniawi. Mereka ini disebut Ahlus Suffah, yang makan dan minum mereka dibelanjai oleh para dermawan di kota Madinah. Di antara yang mendiami shuffah itu ialah Abu Darda, Abu Zar, Abu Hurairah, dan lain-lain.

c.       Tasawuf berasal dari kata Shaff, artinya barisan shaff ketika mendirikan shalat. Sebab seseorang yang kuat imannya dan rajin beribadah serta bersih hatinya selalu memilih shaff yang pertama di kala dia mendirikan shalat.

d.      Tasawuf berasal dari kata Shaufanah, yakni buah-buahan kecil dan berbulu, yangbanyak tumbuh di padang pasir di negara Arab.

e.       Tasawuf berasal dari bahasa Yunani, yaitu Thea dan Shofos. Thea berarti Tuhan dan shofos berarti hikmah. Jadi Thea Shofos berarti Hikmah Ketuhanan. Hal ini disebabkan karena banyak sekali pengaruh Filsafat Yunani, terutama Filsafat Neo-Platonisme mempengaruhi dunia Islam. Jadi tasawuf itu bukan asli dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Yunani yang di-Arabkan. Namun, pendapat ini kalau dilihat dari sudut etimologi (bahasa), nampaknya masih bisa diragukan. Karena huruf s pada kata shofos ditransliterasikan ke dalam bahasa Arab menjadi sin dan bukan shad seperti dalam kata falsafah dari kata philosophia. Dengan demikian, kata shufi seharusnya ditulis sufi, dan bukan shufi.

f.       Tasawuf berasal dari kata Shuf, artinya baju yang terbuat dari kain yang berasal dari bulu yang kasar.

 

Karena para sufi senang hidup sederhana. Sebagai gambaran kesedarhanaan mereka dipakainya baju yang terbuat dari kain yang berasal dari bulu yang kasar (shuf).

 

Istilah inilah yang paling cocok dan lebih bisa diterima dengan pengambilan bahasa yang disebut gramatika bahasa Arab.

 

 Pendapat seperti ini dikemukakan oleh Al-Kalabadzi. Pengertian seperti ini akan semakin jelas apabila kita kaitkan dengan latar belakang munculnya para sufi dalam sejarah  umat Islam, yang diperintah oleh penguasa yang tenggelam dalam kehidupan yang serba mewah dan bergelimang dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan noda dan dosa.

 

Dalam suasana yang seperti itu, muncullah para zahid, yang protes dengan cara hidup demikian, mereka malah lari sangat jauh ke dalam kehidupan yang mereka anggap lebih baik, yaitu kehidupan sangat sederhana, mereka dekati kehidupan ukhrawi, dan menjauhi kehidupan duniawi.

 

            Dari berbagai istilah yang diambil dari beberapa kata tersebut di atas, dapat kita ambil pengertian bahwa istilah sufi mengandung dua aspek, yaitu aspek lahiriah dan aspek batiniah. Dari aspek lahiriah tergambar bahwa para sufi itu senang menjalani kehidupan yang serba sederhana, mereka memakai pakaian yang murahan, makan dan minum seadanya, hanya untuk menyambung hidup, dan menghindarkan diri dari kedinginan, kehausan dan kelaparan, mereka tidak mementingkan hasrat jasmani dan kehidupan yang bersifat duniawi (zuhud). Aspek kedua, aspek batiniah, terlukis pada sifat mereka lebih mementingkan ketulusan dan kesucian hati, kemuliaan, dan senang beribadah, senang berzikir, puasa, shalat, membaca Alqur’an, dan lain-lain. Mereka selalu berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Suci.

 

 

4.1.2. PERINTIS PERTAMA ILMU TASAWUF

 

Pengantar dan Perintis yang pertama dalam ilmu bathin, atau ilmu hakikat/ilmutasawuf adalah RASULULLAH sendiri.

 

Kemudian dijadikan suatu pelajaran, dan ilmu tersendiri oleh Syaidina ALI KARAMMULLAHUWAJHAH, kemudian dilanjutkan oleh HASAN BASRI anaknya.

 

Hairah yang menjadi pembantu peribadi Ummu Salamah yaitu ketika HASAN BASRI masih kecil ilmu ini sudah mulai melimpah kepada beliau, karena dekatnya kepada Rasulullah S.A.W.

 

Kemudian Ahli kebatinan yang pertama sekali ialah : ABU HASYIM AL KUFI, beliau berasal dari koufah yang meninggal pada tahun 150 atau tahun 761 M. Adapun sumber ilmu tasawuf itu adalah dari AL QUR’AN dan AL HADITS.

 

Dan menuntut ilmu ini adalah hukumnya Fardhu ain. Maka barang siapa tidak peroleh ilmu ini ditakuti mati dalam kekafiran.

 

4.1.3.  PENGAMALAN ILMU TASAWUF

 

Sekarang kita teruskan pula kepada pelajaran yang kita tuju,yaitu Ma’rifatullah,artinya MENGENAL ALLAH AZZA WAZALLA.

Jadi sebelum kita mengenal Tuhan,kenalilah DIRI. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w : MAN ARAFA NAFSAHU FAQAD AROFA ROBBAHU,artinya :Barang siapa mengenal akan dirinya,niscaya mengenal akan tuhannya.

Perjalanan itu dimulai dari dalam diri kita sendiri,perjalanan itu dimulai dari dalam terus kedalam,akhirnya serta alam dengan keindahannya dan dengan keganjilannya,hanyalah sebagai saksi pencari diri.

 

Jadi sebelum kita mengenal Tuhan,maka kenallah diri,sebelum kita mengenal diri lebih dahulu,kenallah Adam lebih dahulu,dan sebelum kenal kepada Adam kenallah MUHAMMAD lebih dahulu.Demikianlah orang yang hendak mengenal diri dan mengenal akan tuhan Allah Azza Wazalla.

 

Baiklah kita mulai dengan ayat yang berbunyi : INNALAHA KHOLAQO QOBLAL ASIA INNURI NABIYUKA. Bahwasanya Allah Talala menjadikan dahulu daripada segala asia itu ilah NUR NABIMU. Diriwayatkan oleh ZABIR beliau pernah juga bertanya kepada Nabiallah S.A.W. ; yaitu dijawab oleh Nabi AWWALUMA KHOLAQOL LAHU TAALA NURI NABIYIKA,YA ZABIR. Mula mula dijakan AllahTa’ala daripada segala asia itu ialah : NUR NABIMU ya ZABIR.

 

Maka nyatalah RUH NABI itu dijadikan dahulu daripada segala asia itu,dan lagi dijadikan ia daripda Zatnya jua,tetapi sebelum tuhan menjadikan NUR MUHAMMAD,Tuhan telah mengatakan dalam kitabnya Al’quranul qarim yang berbunyi : artinya : Pertama kujadikan ILMU sebelum kujadikan NUR MUHAMMAD. Maka nyatalahkepada kita bahwa : NUR MUHAMMAD.

 

Maka nyatalah kepada kita bahwa NUR MUHAMMAD itu jadi daripada ILMUNYA dan daripada KUDRAT DAN IRADATNYA jua,seperti kata Syeh ABDUL WAHAB SYAHRANI : INNALAHA KHOLAQOR RUHUN NABIYI MUHAMMADIN MINZATIHI,WAKNOLAQOR RUHUL ALIMU MINNURI MUHAMMAD S.A.W. Bahwasanya Allah Ta’ala menjadikan Roh nabi itu daripada Zatnya jua, dan daripda ilmunya jua, dan serta qudrat dan iradatnya. Dan menjadikan Roh sekalian alam ini daripada NUR MUHAMMAD S.A.W., Maka nyatalah kepada kita bahwa Roh sekalian alam ini daripada NUR MUHAMMAD jua.

 

Dan segala batang tubuh kita ini nyata daripada Adam,tetapi Nabi Adam itu dijadikan daripada tanah,seperti firman Allah Ta’ala dalam AL qur’an : KHOLAQOL INSANA MINTIN artinya : Aku jadikan Insan Adam itu daripada tanah dan tanah itu jadi daripada Air, dan Air itu jadi daripada NUR MUHAMMAD S.A.W., jua. Maka nyatalah kepada kita  bahwa Roh kita dan batang tubuh kita ini jadi daripada NUR MUHAMMAD; maka wajarlah kita ini bernama MUHAMMAD. Dan nyatalah bahwa kalau Roh kita dan batang tubuh kita ini daripada Nur Muhammad. Maka kita ini tiada lain dan tiada bukan,pada Hakikatnya Nur Muhammad jua. Dan kalau telah jelas dalam hati marifatakan hakikat Nur Muhammad itu, maka hendaklah engkau mesrakan Nur Muhammad itu kepada Roh dan kepada batang tubuhmu dan kepada seluruh kainat.

 

Kalau sudah benar-benar mesra,insya allah engkau akan melihat keelokan zat yang wajibal wujud.Sekarang baiklah kita teruskan kepada membicarakan tentang mengenal diri,yaitu sekalian nanti bab yang akan datang kita perdalam lagi menurut yang semestinya.

 

Dan Syeh ABDUL RA’UF berkata : yang sebenar-benar diri itu ialah nyawa. Yang sebenar-benarnya nyawa itu ialah Nur Muhammad. Dan yang sebenar-benarnya Nur Muhammad itu ialah sifat. Yang sebenar-benarnya sifat itu ialah zat. Tetapi disini bukan zat hayun,tapi zat hayat.

 

Dan lagi kata aribillah : Bermula yang sebenar-benarnya diri itu ialah Roh,tatkala ia nasab sekalian tubuh,nyawa namanya. Tatkala keluar masuk nafas namanya. Tatkala ia berkehendak hati namanya. Tatkala ia ingin akan sesuatu nafsu namanya. Tatkala ia memilih akan sesuatu ihtiar namanya. Taktkala ia dapat memperbuat akan sesuatu akal namanya. Dan tatkala ia yakin akan sesuatu iman namanya. Jadi pohon akal itu adalah ilmu. Inilah yang disebut yang se-benar benar diri. Tetapi janganlah terhenti kepada roh itu saja, teruskanlah kepada yang hak. (kepada Allah Ta’ala).Dan firman Allah Ta’ala dalam Al qur’an :

ANA MINNURILAH WAL ALIMU MINNUR,artinya : Dari pada cahaya Allah,dan sekalian Ilmu daripada cahayaKu. Tetapi Nur disini bukan lah menurut pahaman umum yang berlaku ia bukan zat,bukan benda dan bukan materi,tetapi diatas segala-galanya. Insya Allah kita akan bertemu juga dengan NUR cerlang cemerlang itu.  Sekarang kita teruskan kepada firman Allah : KHOLAQTUKA LIADJLI WA KHOLAQTUL ASNI LIADJLIKA, artinya : Aku jadikan engkau karenaku ya Muhammad dan Aku jadikan sekalian alam itu karenamu ya Muhammad. Jadi dengan adanya ini tadi, maka nyatalah kepada kita bahwa Nur Muhammad itu jadi daripada Nur Allah Jua,atau yg lazim disebut NUR ZAT atau NUR ILAHI ROBBI.

 

Kalau demikan adanya,wajarlah kita ini dengan Zat Allah Ta’ala,sebab Zat itulah bermula segala ujud. Tidak ada yang ujud, hanyalah Allah dan perbuatan Allah.

 

Maka adalagi sebuah hadis qudsyi berbunyi : AL INSANU SIRRI WAANA SIRRAHU. Artinya : insan itu rahasiaKu,dan Akupun rahasianya. Dan lagi firman yang berbunyi : AL INSANU SIRRI WA ANA SIRRI WASIFATIN WA SIFATUN LAGOIRIH, artinya : insan itu rahasiaku,rahasiaku itu sifatku,dan sifat itu tiada lain daripada aku jua. Jadi yang sebenar-benarnya insan itu manusia, yang sebenar-benarnya manusia itu ialah Af’al Allah. Yang sebenar-benarnya Af’al Allah itu ialah Sifat Allah. Yang sebenar-benarnya Sifat Allah itu ialah Zat Allah. Karena zat dan sifat itu tiada menerima tunggal; dan Zat dan Sifat itu tiada sekutu dan tiada pula bercerai. Dan barang siapa menyekutukan Zat dan Sifat, atau menceraikannya, maka tersebut dihukumkan SYIRIK KHAFI.

Orang yang mmenceraikan itu berdosa. Orang  yang syirik itu syirik zali hidupnya penuh dosa yang tiada maaf baginya. Karena orang yang seperti itu ia merasa bahwa dirinya yang ada. Sabda Rasulullah S.A.W., didalam Al hadist : yang berbunyi UJUDUKA ZAMBUN QIAASALAHU LIGOIRIH. Artinya : Syirik Khafi itu adalah dosa besar.

Jadi selama ujud Adam masih melekat dalam dirimu,niscaya tiada sampai semua ibadatmu walau setinggi langit. Jadi untuk melepaskan syirik khafi itu keluarlah engkau dari diri engkau. Disini kita bicarakan sedikit tentang diri kita yang sebenar-benarnya.Adapun diri kita ini ada tiga bagian :

 

Pertama ialah diri yang sebenarnya (rahasia)

Kedua ialah diri terperi (Muhammad)

Ketiga ialah diri terdiri (adam).

 

Jadi yang pertama tadi ialah kembali kepada yang hak. Kedua ialah kembali kepada rasa Muhammad. Ketiga ialah yang betah tinggal kepada rasa adam semula.

 

Jadi dosa besar yang tiada ampunan : kecuali kembali kepada yang sebenarnya. Insya Allah kita uraikan panjang lebar dan lebih mendalam lagi dalam pelajaran yang akan datang.

 

4.1.4.  UNSUR ILMU TASAWUF

 

Adapun diri kita ini ada dua unsur jenis :

 

Pertama diri jahir berupa jasad. Batang tubuh dengan kelengkapannya seperti ; kaki,tangan,mata hidung,mulut telinga,dan lainnya. Serta dalam tubuh ini ada Ruh, hati, akal dan nafsu.

 

Yang kesemuanya itu tergolong alam yang disebut alam sagir (alam kecil).Yang kesemuanya itu terjadi dari unsur-unsur  api, angin, air dan tanah/bumi. Inilah yang disebut laksana kuda tunggangan yang menjadialat nbagi hakikat Roh itulah sebagai penunggangnya.

 

Kedua diri bathin yang berujud qalbu atau Ruh. Bukannya ber-ujud benda dalam tubuh, dan dia tidak akan binasa untuk selamanya. Dialah yang sanggup memerintah jasad, dialah yang mampu mengenal Allah. Dialah Raja kuasa. Ruh itu raja kuasa dan sanggup mengenal Allah.  Apakah sebabnya dikatakan raja kuasa? Sebabnya ialah karena ruh ituu adalah yang menjadi tempat  majhor kenyataan terang benderangnya sifat-sifat  Allah. Ruh Muhammad itulah/adalah dari NUR menyata. Itulah yang dikatakan cahaya yang cerlang cemerlang yang tiada harapan : Tuhan bertajali kepadanya. Sebab sifat sifat Allah itu ada pada ZATnya.

 

Maka apabila kita mendakwa kepada Ruh, maka haruslah ditembuskan pandangan kita kepada Sifat dan Zat Allah. Supaya tidak terdinding lagi kepada Allah.

Kalau kita terhenti kepada ruh itu saja, tidak kita teruskan kepada Allah, maka kita terdinding kepada Allah. Kalau masih betah berdiam kepada Muhammad, ber-arti belum kembali atau belum pulang landas kepangkalannya. Kalau sudah pernah tinggal landas inilah yang dikatakan orang yang bergembira setiap saat. Sedangkan Rasulullah sendiri sebagai asal usul segala kejadian,toh beliau pulang kembali kepangkalannya,apalagi kita ini.

 

4.1.5.  RUMUS/ MUTIFATOR DALAM TASAWUF

 

Hidup tubuh karena nyawa, hidup nyawa karena Allah.

Tahu hati karena tahu Ruh, tahu Ruh karena Allah.

Kuasa anggota tubuh karena Ruh, kuasa Ruh karena kuasa Allah.

Berkehendak pula karena berkehendak Ruh, berkehendak Ruh karena berkehendak Allah.

Mengdengar telinga karena mendengar Ruh, mendengar Ruh karena mendengar Allah.

Melihat mata karena melihat Ruh, melihat Ruh karena melihat Allah.

Berkata mulut karena berkata Ruh, berkata Ruh karena berkata Allah.

 

Maka kita rumuskan pula tentang diri bathin itu sebagai berikut dibawah ini :

 

Wujud bathin,hakikatnya adalah wujud Allah.kepada kita jadi Rahasia. Maksudnya tentang Zat Tuhan itu tidak dapat dilihat dan diraba, hanya dengan nur iman dan dirasakan oleh sinar hati. Inilah yang dimaksud oleh hadits yang berbunyi : Al insanu sirri wa ana sirrohu. Artinya : insanu itu rahasiaku, dan akupun rahasianya.

 

Ilmu bathin, hakikatnya adalah sifat Allah, yang kepada kita menjadi nyawa/Ruh. Dan ruh itulah tempat majhor sifat-sifat Allah. Hingga dia kuasa memerintahkan jasad dan lain-lainnya.Nur bathin, hakikatnya Asma Allah, yang kepada kita menjadi hati. Maksudnya hati itu adalah tempat majhor daripada Asma Allah.

 

Suhud bathin, hakikatnya adalah Afal Allah, yang kepada kita menjadi batang tubuh. Maksunya batang tubuh kita ini adalah tempat majhor dan tempat nyata perbuatan Allah. Jalannya adalah bahwa segala amal usaha lahir yang dilakukan ole manusia. Tapi pada hakikatnya dan pada bathinnya adalah semata-mata perbuatan Allah.

Maka hal itu dinamakan penyaksian Bathin. Karena amal usaha jahir itulah yang membuktikan perbuatan bathin. Itulah yang member bekas, karena terjadi dari sifat bathin, yang tidak bias lepas dari ujudnya : yakni Zatnya yang maha kuasa.

 

Demikianlah yang dinamakan tauhidul Zat, tauhidul Sifat, tuahidul Asma, tauhidul Af’al. maka melihat sesuatu apa saja perbuatan Allah.

 

Maka dengan demikian fana lah yang lain : yakni ujud lahir dan sifat lahir,dikala itu tidak ada yang ada kecuali bathin. Maka sekaran bathinlah yang melihat bathin/melihat gerakan Zat.

 

Dari itu maka jelaslah sekarang kepada kita bahwa yang memandang ia  yang memandang. Dan kalau sudah mantap pandangan ini, dengan sendirinya naiklah ke makam baqabillah. Karena pada makam ini seperti ucapan ahli tasawuf, BAQA itu ialah daripada Allah, dan dengan Allah.

 

4.1.6.  PEMURNIAN TASAWUF

 

Ahli tasawuf sejati ialah mereka yang benar-benar memegang agama yang tulen. Ahli sufi  sejati ialah mereka yang jiwanya bebas tidak terikat oleh apa-apa atau siapapun,dan bebas menjalankan kebenaran dari Ilahi Rabbi. Berani mengatakan itu benar dan ini salah. Ahli tasawuf adalah putus dengan mahluk dan erat hubungannya dengan Tuhan,pandangannya Allah semata.

 

Ahli tasawuf tidak melihat kepada dirinya lagi,hanya Allah dalam pandangannya. Jadi siapa yang masih melihat kepada dirinya, niscaya tiada melihat akan Tuhannya. Seluruh pandangan ruhaniyah memandang satu dalam banyak. Dan yang banyak pada yang satu.

 

Tersimpun dalam satu kesatuan yang dalam istilah sufi disebut pabrik KUN dan yang diatur oleh seorang insinyur yang pintar ialah : ALLAH TA’ALA. Kalau pandangan kita sudah mantap separti itu,maka hilanglah rasa takut dan gentar,kecuali kepada Allah saja.

 

Jadi pandangan seorang yang dibawah memang berbeda dengan yang diatas. Ujud selain daripada ujud Allah adalah ujud injaman karena semua itu Allah dan Allah itu semuanya,ia hanya pertanda dari yang sebenarnya ada.

 

Yang ada adalah yang ada,yang ada ialah yang awal dan tidak ada permulaannya,yang ahir tidak ada penghabisannya.

 

 

 

SABDA RASULULLAH S.A.W.

 

Zabir berkata,katanya : RASULULLAH S.A.W. bersabda : Siapa dapat melakukan HUSUDHZAN artinya ; baik sangka kapada Allah Ta’ala,sehingga ia tiada mati kecuali tetap dalam husnudhzan terhadap Allah Ta’ala.

 

Maka haruslah kita berbuat husnudhzan terhdap Allah Ta’ala dan pada sesama kita umat MUHAMMAD.

 

Sesungguhnya kata NABI,sebaik-baik fi’il / kelakuan ibadah kepada Allah ialah : baik sangka kepada Allah. Baik sangka kepada Allah itu pertanda bahwa sudah bulat tawakkalnya kepada Allah,dan penyerahannya kepada Allah, orang itu jaminannya hanya Allah.

 

                                    LA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHI

           

Artinya : TAK ADA DAYA UNTUK BERBUAT KEBAIKAN

                        DAN TAK ADA UPAYA UNTUK MENOLAK KEJAHATAN.

 

                BUHARI MUSLIM BERKATA :

 

Tak  ada  dayaku  untuk  menolak  suatu  kemelaratan  atau bahaya keburukan,   dan tak ada upayaku untuk berbuat kemanfaatan,melainkan  dengan Allah  jua.  Jadi  tidak mudah bagi  kaum sufi untuk mengatakan: La hawla wala quwwata illa billahi.

 

                        Disini  hamba   tekankan   janganlah   kamu  berani   mengatakan  La   hawla

Wala quwwata illa billahi, sebelum  kamu  memasuki alam tasawuf.  Engkau katakan itu tetapi  ujudmu masih  ada, selama ujudmu masih ada, selama itu juga engkau dalam bergelimangdalam dosa durhaka kepadanya.

 

Selama ujud ADAM masih melekat dalam ingatanmu,selama itu pula engkau mempermainkan Tuhanmu. Ini namanya lain dimulut / dihati. Kalau engkau mengatakan :

 

LA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHI.

SEBELUM ENGKAU MATI, MAKA CELAKALAH KEMATIAANMU. Hilangkanlah ke AKUAN mu, lenyapkanlah kesombonganmu, baru sempurna amal ibadahmu kepada Allah.

 

BISMILLAHI AWWALLUH, WA AKHIRU, artinya : Awalnya Allah,ahirnya Allah.

 

Awalnya tidak ada permulaannya. Dan ahirnya tidak ada penghabisannya.

MALLAM YASY KURINNAS, LAM YASY KURILLAH. Artinya : Barang siapa tidak berterima kasih kepada sesamanya,maka samalah ia tidak berterima kasih kepada Allah.

 

NUR MUHAMMAD itu adalah hakikat alam. Dan Allah adalah hakikat alam atau hakikat ujud dalam hidup ini. Allah adalah hakikat kekuatan dalam hidup ini. Johir  Tuhan ada dimanusia, dan bathin manusia ada di Tuhan.

Kalau anda sudah mengerti,laksanakanlah.

Untuk memperkuat dalil ini,hamba bawakan sebuah hadist qudsyi yang berbunyi :

 

AL INSANU SIRRI,WA ANA SIRRUHU ( SIRROHU ).

Kata TUHAN : INSAN ITU RAHASIAKU, AKUPUN RAHASIANYA.

DAN LAGI : AL INSANU SIRRI WA ANA SIRRI, SIFATIN WA SIFATUN LA GOIRIH.

ARTINYA : INSAN ITU RAHASIAKU DAN RAHASIA ITU SIFATKU, SIFATKU ITU TIADA LAIN DARIPADAKU.

Dalil ini dalil nyata,tak bisa lagi diragukan. Menurut riwayat : Banyak para pemuka-pemuka agama,ahli tasyauf dan lain-lainnya : mencari siapa DIA yang sebenarnya. Maka datang para nabi-nabi dan rasul-rasul menyampaikan langsung,melompat dari mulut / lidahnya perkataan : AMALLAH LA ILAHA ILLA ANA Artinya AKU ALLAH, TIDAK ADA TUHAN, MELAINKAN AKU.

 

Jadi menurut aqidah/pendirian hamba dalam soal ini ; hamba tidak taklid dengan siapapun,dan hamba nyatakan bahwa kalimah itu tadi adalah inti dari semua golongan tasyauf, golongan para wali-wali,para sahabat,aulia dan anbiya dan para nabi-nabi dan para rasul-rasul.

 

Jadi kalau para nabi dan rasul demikian adanya,maka tiada lain andapun juga demikian hendaknya.

 

Banyak kaum sufi mati,karena mempertahankan pendiriannya.

 

Hamba sebagai penulis buku ini menyatakan : Apabila lain  dari yang di ucapkan RASULULLAH S.A.W., itu tadi,maka : BUKANLAH IA DARI GOLONGAN MUHAMMAD. DAN KELUAR DARI GOLONGAN MUHAMMAD. MAKA IA BUKAN TERMASUK KELURGA TUHAN.

 

 

Didalam Al-Qur’anul karim Tuhan mengatakan :

AKU akan memberikan SATU kata kepadamu. Tetapi engkau tidak sanggup.

Apakah yang dimaksud SATU kata itu ?

 

Inilah SATU  kata itu tadi : Siapa yang sanggup dialah keluarga Tuhan. Siapa tidak sanggup dialah keluarga syaitan.

 

Pilihlah antara dua : ingin jadi pahlawan Tuhan, atau jadi pahlawan syaitan.

Siapa menjadi kelurga Tuahan didunia ini,niscaya sampai ke-ahirat. Dan siapa menjadi keluarga syaitan didunia ini,niscaya sampai juga ke-ahirat.

 

SABDA RASULULLAH S.A.W. :

 

SYARIAT ITU SEPERTI TANAH

THARIKAT ITU SEPERTI AIR

HAKIKAT ITU SEPERTI ANGIN

MA’RIFAT ITU SEPERTI API

TANAH ITU BADAB MUHAMMAD

AIR ITU NUR MUHAMMAD

ANGIN ITU NAFAS MUHAMMAD

API ITU PENGLIHATAN MUHAMMAD

ADAPUN MATI ORANG SYARIAT ITU HANCUR LULUH

ADAPUN MATI ORANG THARIKAT ITU KURUS KERING

ADAPUN MATI ORANG HAKIKAT ITU LAMAK GEMUK

ADAPUN MATI ORANG MA’RIFAT ITU HILANG LENYAP

 

SABDA NABI S.A.W. : SYARIAT ITU LIDAHKU, TARIKAT  ITU HATIKU,

            HAKIKATITUKEDIAMANKU, MA’RIFAT ITU

ROHKU

 

PERNYATAANKU :

AKU HIDUP BUKAN KARENA NAFAS

BUKAN KARENA DENGAN NYAWA

BUKAN KARENA DENGAN ROH

BUKAN KARENA ITU DAN INI

TAPI AKU HIDUP SENDIRINYA SEBELUM ADA KEHIDUPAN DIDUNIA INI

AKU SUDAH ADA SEBELUMNYA ADA DUNIA YANG ADA INI

AKU ADALAH AKU DIDALAM AKU, BER-AKU AKU

BILA AKU BERNYATA, ITULAH AKU DALAM KEAADANKU

SEBAB KEADAANKU ITU ADALAH KEADAANKU JUA

 

4.2.   JALAN BERTARIQAT SUCI DIRI LAHIR DAN BATIN

 

4.2.1.  MELAKUKAN MANDI TAUBAT

Mandi taubat sama halnya mandi wajib yaitu dengan membasahi sekujur tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hanya saja niatnya berbeda dan untuk mandi taubat itu hukumnya pula sunnah.

Sebelum lebih lanjut membahas tentang mandi taubat, terlebih dahulu kita mengenal rukun-rukun taubat. Menurut pendapat Abdullah bin Abbas, rukun taubat ada 3 (tiga), diantaranya adalah :

 

4.2.2. Menyesal dalam Hati

 

    Menyesal dalam hati kita yang paling dalam, terhadap apa yang sudah kita  

lakukan (misalnya maksiat). Hati kita benar-benar menyesali terhadap maksiat

yang sudah kita lakukan dan tidak akan mengulangi lagi. Intinya penyesalan dalam

hati dan hati kita menyadari bahwa maksiat yang kita lakukan adalah dosa.

 

4.2.3. Dinyatakan dengan Lidah (Mengucapkan Istighfar / Sayyidul Istighfar)


Setelah hati kita menyesali perbuatan maksiat yang telah kita lakukan, kita juga

harus menyatakan atau mengucapkan dengan lidah kita, yaitu dengan

istighfarأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ atauأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ اَلَّذِي لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

atau dengan lafadz Sayyidul Istighfar

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَاإِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ

مَاصَنَعْتُ أَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لَايَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

 

            Artinya :Ya Allah, Engkaulah Tuhan kami, tiada Tuhan melainkan Engkau

            Yangtelah menciptakan aku, dan akulah hamba-Mu. Dan aku pun dalam

Ketentuan sertajanji-Mu yg sedapat mungkin aku lakukan. Aku berlindung kepada-Mu dari segalakejahatan yg telah aku lakukan, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkaulimpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosaku, karena itu berilah ampunankepadaku, sebab tiada yg dapat memberi ampunan kecuali Engkau sendiri. Akumemohon perlindungan Engkau dari segala kejahatan yg telah aku lakukan.”

 

            4.2.4. Bertekad Kuat Tidak Akan Mengulangi


Setelah menyesali dalam hati dan membaca istighfar, kita harus bertekad kuat

 Untukdiri kita, hati kita bahwa tidak akan mengulangi perbuatan maksiat lagi.

Biasanya orang yang benar-benar bertekat kuat ini tidak akan mempan ketika di

   ajakteman-temannya untuk mengulangi perbuatannya lagi.

Adapun untuk mandi taubat iaitu mandi seperti mandi wajib yakni membasahi

sekujur tubuh kita dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa terlewatkan.

 

Adapun untuk Niat mandi taubat adalah sebagai berikut;

 

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِلتَّوْبَتِ عَنْ جَمِعِ الذُّنُوْبِ لِلَّهِ تعَلَ

 

Artinya: Sengaja aku niat mandi taubat dari segala dosa dhahir dan batin, karena

AllahTa’ala.

 

Itulah rukun taubat dan niat mandi taubat yang patut kita amalkan, karena sebagai manusia biasa kita pasti tidak luput dari yang namanya dosa, dosa dan dosa. Maka dengan membaca istighfar atua sayyidul istighfar setiap saat serta mandi taubat semoga sedikit demi sedikit dosa-dosa kita diampuni oleh Allah S.W.T.

 

Kita juga dianjurkan untuk melakukan Shoat Sunah Taubat agar supaya taubat kita benar-benar taubatan nasuha.

 

IV.3.1.HUKUM BERWUDUK MENURUT MAZHAB SYAFIE DANHAMBALI

 

Hukum berwuduk adalah:

 

1. WajibKetika hendak mengerjakan ibadat tertentu yang dimulakan dengan

 niat.

2. SunatKetika hendak mandi wajib

Hendak membaca al Quran, hadis

 Ketika hendak tidur

 Ketika marah

 

Fardu WudukCara berwuduk di dalam Islam berbeza sedikit mengikut mazhab:

Menurut Mazhab SyafieFardu/Rukun wuduk ada enam:

 

1.Niat,

2. Membasuh muka,

3. Membasuh kedua tangan hingga ke siku

4. Menyapu sebahagian kepala atau sebahagian rambut di dalam hadnya

5. Membasuh kedua kaki hingga ke buku lali

6. Tertib

 

Menurut Mazhab HambaliFardu/Rukun wuduk ada tujuh:

 

1.Niat
2.Membasuh muka

3.Membasuh dua tangan hingga ke siku

4. Menyapu semua kepala

5. Membasuh dua kaki

6. Tertib

7. Berturut-turut

 

Batal Wuduk

Menurut Mazhab Syafie

Ada beberapa perkara yang dapat membatalkan wuduk, antaranya adalah:

 

1. Keluar sesuatu dari dua jalan (qubul atau dubur).

2. Hilang akal, sama ada sementara atau kekal.

3. Bersentuhan kulit antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram.

4. Menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan telapak tangan.

5. Tidur, kecuali apabila dalam keadaan duduk dan tidak berubah kedudukannya.

6. Murtad

Menurut Mazhab Hambali

Ada beberapa perkara yang dapat membatalkan wuduk, antaranya adalah:

1. Keluar sesuatu dari dua jalan (qubul atau dubur).

2. Menyentuh perempuan yang halal dinikahi (bukan mahram) dengan syahwat

3. Menyentuh kemaluan manusia tanpa berlapik

4. Tidur, kecuali tidur ringan samada berdiri atau duduk

5. Makan daging unta

6. Murtad

7. Memandikan mayat

8. Keluar apa jua najis dari tubuh badan

Kesempurnaan Wuduk

Berikut merupakan cara-cara mendapatkan wuduk yang lebih sempurna:

* Mendahulukan bahagian tubuh yang sebelah kanan

* Mengulangi membasuh setiap anggota wuduk sebanyak 3 kali

* Tidak berkata-kata

* Menghadap kiblat

* Berniat

* Membaca basmalah

* Membasuh telapak tangan hingga ke pergelangan

* Berkumur

* Menggosok gigi (bersiwak)

* Membersihkan hidung

* Membasuh muka

* Membasuh tangan hingga ke siku

* Mengusap sebagian kepala

* Mengusap kedua telinga; luar dan dalam

* Membasuh kaki hingga ke buku lali

* Membaca doa sesudah berwuduk

* Bersolat sunat wuduk sebanyak 2 raka’at.

* Tertib (berurutan)

 

Perkara-perkara Sunat Ketika Berwuduk

Menghadap ke arah Kiblat.

 

* Membaca “Auuzubillah himinasyaitonirrajim” “Bismillah hirrahmannirrahim”.
* Membasuh kedua telapak tangan hingga kepergelangan tangan sebelum berwudhu’.
* Berkumur atau bersugi.

* Memasukkan sedikit air ke dalam hidung untuk membersihkannya dan

mengeluarkannya kembali.

* Menyapu air ke kepala.

* Memusing-musingkan cincin jika ada di jari.

* Menjelai-jelai janggut atau misai dengan air sehingga rata.

* Menjelai jari-jari tangan dan kaki.

* Mendahulukan basuhan anggota kanan daripada yang kiri.

* Mengulang 3 Kali setiap basuhan.

* Jangan meminta bantuan orang lain seperti tolong menuangkan air sewaktu

berwudhu’.
* Jangan mengelap atau mengeringkan anggota wudhu’ dengan kain atau sebagainya.
* Elakkan percikkan air jangan sampai jatuh semula ke bekas atau ketimba.

* Berjimat ketika menggunakan air.

* Jangan berkata-kata atau bersembang ketika mengerjakan wudhu’.

* Membaca Doa Selepas wudhu’setelah selesai berwudhu’.

Fadhilah(Faedah yang diperolehi)dari Wuduk

Secara amnya kita mendapati wuduk adalah salah satu langkah wajib atau syarat untuk memastikan solat atau sembahyang yang dilakukan oleh umat Islam itu dianggap sah.Serta memastikan kebersihan anggota badan dan kesucian rohani dan jiwa itu sentiasa terpelihara.

 

Namun demikian terdapat fadhilah lain juga boleh diperolehi oleh orang yang bersifat ikhlas dan menyempurnakan wuduknya dengan baik sekali.Misalnya:

 

Sabda Rasullullah S.A.W:

 

“Siapa yang mengambil wudhuk dengan baik,dosa-dosanya keluar dari badannya sehingga keluar dari bawah jari-jarinya.” (Hadis Riwayat Muslim)

 

Sabda Rasullullah S.A.W:

 

“Siapa yang mengambil wudhuk dengan baik kemudian dia berkata,Asyhadu al laa ilaaha illAllah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘Abdahu wa rasulluh, Allah hummaj ‘alni minat tawwaabin, waj’alni minal mutatohhiriin maksudnya:Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah satu(Tuhan) saja tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahaa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya.

Allah jadikanlah aku dari kalangan orang yang banyak bertaubat dan jadikanlah aku dari kalangan orang yang menyucikan diri, akan dibuka untuknya kesemua lapan pintu-pintu syurga agar dia memasukinya dari mana dia suka.

(Hadis Riwayat Al-Tarmizi); (Sahih:Sahih Al-Tarmizi) dan Al-Nasai ; Sahih : Sahih Al-Nasai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.3.2.MELAKSANAKAN SALAT SUNAT TAUBAT

 

 

Di antara rahmat Allah S.W.T kepada para hamba-Nya adalah dengan memberikan peluang dan ruang untuk mereka kembali kepada-Nya setelah melakukan maksiat dan dosa. Pintu taubat itu sentiasa terbuka bagi sesiapa sahaja yang mencarinya.

 

Taubat berasal dari perkataan تاب إلى الله توبا iaitu kembali kepada Allah dengan sebenar-benar kembali. Ia juga membawa maksud meninggalkan maksiat. Manakala istitabah membawa erti meminta seorang untuk bertaubat. Rujuk Basooir Zawi Al-Tamyiiz (2/304).

 

Manakala dari sudut istilah, taubat adalah sebagaimana yang didefinisikan oleh Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi Rahimahullah: Sesungguhnya taubat itu adalah suatu ibarat terhadap penyesalan yang mewariskan keazaman dan kehendak (untuk meninggalkan dosa), serta penyesalan tersebut mewariskan ilmu bahwa maksiat-maksiat itu merupakan penghalang di antara seseorang itu dengan kekasihnya.

Rujuk Al-Mughni, Ibn Qudamah (14/192).

 

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Saidina Abu Bakr Al-Siddiq R.anh beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah S.A.W bersabda:

 

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ‏ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ ‏‏ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ ‏ إِلَى آخِرِ الآيَةِ

 

Maksudnya: Tidak ada seorang hamba yang melakukan satu dosa, lalu dia memperelokkan dalam bersuci dan dia kemudiannya bangun lalu mengerjakan solat dua rakaat dan memohon keampunan kepada Allah melainkan Allah akan mengampunkan dosanya. Kemudian dia membaca ayat ini:

 

‏ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ

 

Maksudnya: Dan mereka yang apabila melakukan satu dosa atau menzalimi diri mereka kemudian mereka mengingati Allah. [Surah Aali Imran: 135]

Riwayat Abu Dawud (1521)Berdasarkan hadis di atas, baginda Nabi S.A.W memberikan suatu cara untuk seseorang yang telah melakukan dosa itu membersihkan diri mereka dari perbuatan tersebut.

 

Yaitu dengan cara mengambil wuduk dengan sempurna, kemudian menunaikan solat dua rakaat dan dituruti dengan istighfar kepada Allah S.W.T.

 

Kata al-Syeikh Mulla ‘Ali Al-Qari Rahimahullah apabila mensyarahkan hadis ini:

 

Yang dimaksudkan dengan beristighfar di dalam hadis ini adalah taubat yang berterusan dan berhenti dari melakukan maksiat tersebut seerta berazam untuk tidak kembali melakukannya buat selamanya. Rujuk Al-Mirqaat Al-Mafatiih, Mulla, Ali Al-Qari (3/988).

 

4.3.3. Tatacara Salat Taubat


Berikut beberapa cara dalam melakukan solat taubat berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih daripada Nabi S.A.W. Seseorang yang ingin mengerjakan salat taubat perlulah:

 

Mengambil wuduk dengan sempurna.

Dalam arti kata lain dengan meraikan perkara-perkara wajib dan sunat ketika wuduk. Sebahagian ulama lain menterjemahkan perkataan bersuci di dalam hadis tersebut sebagai mandi, dan mandi dengan air yang sejuk itu adalah lebih sempurna.

Ini berkemungkinan diambil daripada sabda Nabi S.A.W:

 

اللهم اغسل خطاياي بالماء والثلج والبرد

 

Maksudnya: Ya Allah, basuhkanlah dosa-dosaku dengan air, salji, dan kesejukan.

Kata Syeikh ‘Ali Al-Qari: Pada hadis tersebut isyarat kepada menyejukkan jantung hati daripada kepanasan hawa nafsu. Rujuk Al-Mirqaat Al-Mafatih (3/988).

 

Kami lebih cenderung bahwa bersuci di dalam hadis tersebut adalah merujuk kepada berwuduk. Ini berdasarkan siyaq al-hadis (konteks hadis) yang menunjukkan bersuci itu datang sebelum menunaikan salat.

 

4.3.4. Menunaikan salat dua rakaat.

 

Inilah yang masyarakat kita namakan sebagai solat sunat taubat, walaupun tidak dinyatakan penamaan ini di dalam hadis. Manakala berkenaan apakah yang perlu dibaca di dalam salat, terdapat sebuah riwayat daripada Ibn Al-Sunni yang mengatakan supaya dibaca surah Al-Kafirun dan juga surah Al-Ikhlas.

 

Demikian juga boleh untuk dibaca ayat yang terdapat di dalam hadis tersebut yaitu ayat ke-135 dari surah Aali Imraan, ataupun ayat yang berikut:

 

وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا

 

Maksudnya : Dan siapa yang melakukan suatu keburukan atau dia menzalimi dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah nescaya dia akan mendapati bahwa Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Surah Al-Nisaa: 110]

Inilah surah-surah atau ayat yang boleh dibaca semasa salat sunat taubat, dan kami berpandangan bahwa boleh juga untuk dibaca surah-surah atau ayat-ayat lain yang mudah untuk dibaca oleh seseorang yang mengerjakan salat sunat ini. Berdasarkan keumuman firman Allah S.W.T:

 

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

 

Maksudnya: Dan bacalah kalian apa yang mudah daripada al-Quran. [Surah Al-Muzzammil: 20]Beristighfar kepada Allah S.W.T.


Sesudah seseorang itu selesai menunaikan salat sunat taubat, hendaklah dia

melazimi dan memperbanyakkan istighfar kepada Allah S.W.T. Kami berpandangan          bahwa hal ini adalah berdalilkan firman Allah S.W.T:

 

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

 

Maksudnya: Dan mereka itu apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka, maka mereka mengingati Allah lalu beristighfar ke atas dosa-dosa mereka.

 

Dan siapakah yang mengampunkan dosa selain Allah. Serta mereka tidak berterusan terhadap apa yang telah mereka lakukan dalam keadaan mereka mengetahui. [Surah Ali Imran: 135]

 

Istighfar boleh sahaja dilakukan dengan mengucapkan lafaz ‘’Astaghfirullah’’, ataupun istighfar dalam ertikata lain adalah bertaubat kepada Allah S.W.T. Iaitu seseorang itu menyesal terhadap maksiat yang dilakukan, berhenti dari melakukannya, serta berazam untuk tidak mengulanginya kembali buat selamanya.

 

Semoga dengan penjelasan ini dapat membantu kita dalam melakukan salat sunat taubat dengan sebaik mungkin. Semoga Allah S.W.T menerima taubat kita dan membersihkan jiwa-jiwa kita daripada kegelapan dosa dan maksiat. Amin.

 

      IV.4.1. PERLUNYA SULUK

 

Perkataan suluk itu datangnya dari perkataan Indonesia seperti rujukan dalam Kamus Besar Indonesia iaitu :

 

1.      suluk – jalan ke arah kesempurnaan batin; tasawuf; tarekat

2.      pengasingan diri; khalwat;

 

Bersuluk – mengasingkan diri; berkhalwat.

Bersuluk itu adalah kombinasi perbuatan beruzlah dan berkhalwah dalam istilah Ilmu Tasawuf.Ia dipanggil iktikaf di dalam ilmu Feqah.

Iktikaf itu tertentu di dalam masjid.

Beruzlah itu meninggalkan kampong halaman atau rumah menuju ke suatu tempat
kemudian duduk di tempat itu tidak keluar-keluar 10 hari 10 malam atau 40 hari 40 malam itu dinamakan khalwah.Ia juga dipanggil khalwah fil uzlah manakala khalwah fil jalwah pula, walaupun si salik itu berjalan,hatinya nampak Allah.

 

Ia adalah satu praktis secara intensif melakukan zikrullah bermula dengan berbilang-bilang hinggalah berzikir sampai tidak terbilang seperti air yang mengalir.

 

Maka mudah dan cepatlah hati sanubari itu menerima tarqiyah dari Allah,
dibukakan hijab dan tutupan hati untuk melangkah dari alam nasut ( alam sifat
kemanusiaan ) ke alam malakut ( alam lakaran ) kemudian ke alam jabarut
( alam sifat ) seterusnya ke alam lahut ( kesedaran sifat ketuhanan ).

 

Salik akan dapat memerhatikan Allah dengan Allah, basrahu bi basrihi.

Ia suatu bentuk beribadat yang terasing daripada manusia lain atau orang lain
yang bukan dari kalangan jamaah supaya tiada gangguan ketika bersuluk itu.
Ia suatu cara atau kaedah untuk tabattal ilaihi tabtiila , memutuskan hubungan dengan yang lain selain dari ingat Allah.

Ahli-ahli Sufi sepakat mengatkan bahwa jikalau hendak menemui Allah S.W.T.,mestilah melalui jalan fana’’dan jalan fana’ itu boleh diperolehi melalui suluk.Salik atau orang yang bersuluk itu dipimpin taubat dan zikirnya oleh Guru Mursyid.Salik melakukan solat taubat dan berzikir berterusan sepanjang suluk itu berjalan.

 

Jika duduk seorang diri di dalam bilik di rumah itu tidak dipanggil bersuluk karena tiada pengawasan guru.

 

4.1.2. Tempat Bersuluk

 

Tempat-tempat untuk bersuluk itu ada berbagai , ada yang di surau,ada yang dibuat dirumah Syeikh atau Guru jika murid yang bersuluk itu tidak ramai.Kalau dulunya Nabi S.A.W beriktikaf di Gua Hira’ dan sekarang ibadat itu kebanyakannya dibuat di surau/madrasah khas atau lazimnya dipanggil rumah suluk.

Ada sesetengah rumah suluk itu menyediakan bilik-bilik kecil yang hanya muat seorang sahaja sebagai tempat berzikir tetapi ia terhadkan bilangan murid yang ingin bersuluk oleh karena murid yang bersuluk saban tahun makin bertambah,para syeikh mikirkanmenyediakan kelambu kecil yang digantung di dalam surau atau rumah suluk sebagaitempat atau sempadan murid berzikir.

 

4.1.3. Bersuluk Perlu Pimpinan Guru Yang Mursyid


Bersuluk itu bukan bertapa.Bersuluk itu dipimpin oleh Guru Mursyid yang
menyampaikan murid atau salik itu kepada Allah,zikirnya dipimpin,taubatnya dipimpin sedangkan bertapa itu seorang diri sahaja.Solat jamaah adalah wajib bagi murid yang bersuluk yang jika dihitung selama 10 hari 10 malam,mereka akan solat jemaah selama 50 waktu.

 

Suluk selalunya bermula pada hari Isnin atau Khamis dan berlangsung selama 10 hari 10 malam dan ada yang melakukannya selama 40 hari 40 malam.Kekangan masa dengan kesibukan bekerja dan mencari rezeki membuatkan kebanyakan para Guru mengadakannya untuk tempoh pendek sahaja.

 

Nabi S.A.W bersabda,”Bahwa amalan hamba dibentang pada hari Senin dan
Khamis”-Hujjatullah al Balighah- Syah Waliyullah ad-Dahlavi.

 

Sabda Baginda lagi,” Penghulu hari di sisi Allah adalah hari Jumaat,lagi besar dari Hari Raya Haji dan Hari Raya Fitri.Padanya 5 macam,Pertama : menjadikan Allah Nabi Adam.Kedua : diusirnya dari syurga ke bumi, Ketiga : dia diwafatkan. Keempat,tak adalah hamba Allah yang meminta pada hari itu akan diberi Allah selama ia tidak memperbuat dosa atau memutuskan saliturrahim.Kelima : padanya berdiri hari Kiamat.

 

Dan tak adalah dari malaikat yang hampir dan tidak pula langit dan angin dan bukit dan batu melainkan semuanya sayang pada hari Jumaat HR as-Syafie.

 

Maka jamaah akan mula bersuluk pada petang Khamis untuk menanamkan bibit-bibitzikrullah dalam hati sanubari.Kaedah bersuluk itu ialah duduk berzikir siang malam beribu ribu berjuta-juta.Firman Allah,” dan orang-orang lelaki yang menyebut nama Allah banyak-banyak serta orang perempuan yang menyebut nama Allah banyak-banyak, Allah menyediakan bagi mereka semuanya keampunan dan pahala yang besar Firman ALLLAH S.W.T. dalam Q.S. Surah al-Ahzab : ayat : 35 :

 

 

“inna almuslimiina waalmuslimaati waalmu/miniina waalmu/minaati waalqaanitiina waalqaanitaati waalshshaadiqiina waalshshaadiqaati waalshshaabiriina waalshshaabiraati waalkhaasyi'iina waalkhaasyi'aati waalmutashaddiqiina waalmutashaddiqaati waalshshaa-imiina waalshshaa-imaati waalhaafizhiina furuujahum waalhaafizhaati waaldzdzaakiriina allaaha katsiiran waaldzdzaakiraati a'adda allaahu lahum maghfiratan wa-ajran 'azhiimaan”

 

Artinya : “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min [1219], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

 

4.1.4. Perbanyaklah Bezikir Dan Bertaubat

 

Berzikir secara intensif. Bertaubat dan berzikir,  sehinggalah Allah kurniakan warid dan tarqiyah kepada murid itu dalam bentuk pandangan atau rasa atau bau atau seumpamanya.

 

Barulah masa itu keadaan murid itu membetuli panggilan dari Allah,”Ya aiyatuhannafsul muttmainnah”.Rasa seperti baru dilahirkan semula.Barulah RASA
Allah itu ada bukan setakat tahu Allah itu ada sahaja. Maka cairlah hati kita pada masa itu dalam mujahadah dengan zikrullah secara terus-menerus.

 

 

 

4.1.5.  JALAN BERSULUK

 

Menurut keterangan guru suluk, sesiapapun boleh mengamalkan dan mendawamkan Qalbi ini yang khofi/tersembunyi ini. Itu pun jika setelah mereka sentiasa melaksanakan Zikir Lisan pada Martabat yang pertama.

 

Ini adalah karena, zikir ini sesuai sekali untuk melatih hati supaya sentiasa ingatkan Allah di samping dapat mengelakkan sifat Riya.serta dapat menjinakkan hati supaya Hudur Hati sewaktu melaksanakan Zikir Lisan.

 

Bersuluk tertakluk kepada adab-adab sebelum suluk,adab ketika bersuluk dan adab
selepas bersuluk.Bersuluk ini seperti suatu jihad dimana salik akan meninggalkan
segala kelaziman dalam kehidupannya,tinggalkan keseronokan,tinggalkan kemewahandan segala perbuatan rutin seharian semata-mata untuk berzikir kepada Allah dalam satu jangkamasa yang tertentu.

 

Bagaimana nak cepatkan caj hati , kenallah bersuluk dan beramal dengan amalan tariqat iaitu satu amalan yang boleh diistilahkan sebagai amalan tertentu,dengan bilangan tertentu dan di tempat-tempat tertentu.

 

4.1.6. Hikmah Bersuluk

 

            Apa yang kita dapat selepas bersuluk itu ? Setiap mereka yang bersuluk itu yang

datang dengan niat yang ikhlas semata karena Allah ; mudah-mudahan mereka itu nanti

akan :

 

Bertambah keyakinan mereka tentang wujud Allah , lebih kenal dan lebih tahu tentangNya.

 

Merasai atau melalui pengalaman dzauki dan fana’fillah,faham apa yang dinamakan makrifah tahu dimana berlakunya musyahadah , faham apa itu baqo’billah dan istilah-istilah seumpamanya.Menyakini kepentingan bertawassul dan berabitah.

Mempraktikkan adab-adab berzikir dan adab-adab bersama Guru atau orang yang alim.Istiqamah dalam solat taubat.

Lebih memahami apa yang dikatakan oleh Ibn Atho’illah dalam Kitab Hikam.

Memahami kepenting ilmu tasawuf ( ilmu tariqat ) dan kepentingan beramal dengannya.

 

Rasa rendah diri ; tidak lagi mudah menilai orang lain berdasarkan kepada pakaian atau pangkat.

Faham apa yang dikatakan ilmu Laduni dan mudah mendapat natijah-natijah zikir.

Mantap pegangan kepada tauhid uluhiyyah dan rububiyyah.

Menyembah Allah yang sudah dikenal seperti umpama bercakap dengan orang yang kita Kenal dengan orang yang tidak kita kenal.Hatinya benar-benar yakin apa yang wajib diimani.Dengan bersuluk,kita dapat sebahgian walaupun tidak sepenuhnya sifat-sifat orang Ulul albab.

Sesuai dengan penjelasan ayat 35 surah Al-Ahzab diatas, bahwa sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah,Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

 

Barangsiapa membereskan hubungan antara dirinya dengan Allah, niscaya Allah akan membereskan hubungan antara dia dan manusia semuanya.

 

Barangsiapa membereskan urusan akhiratnya niscaya Allah akan membereskan baginya urusan dunianya.

 

Barangsiapa selalu menjadi penasihat yang baik bagi dirinya sendiri nescaya Allah akan menjaganya dari segala bencana.Kamu akan disebut sebagai orang yang beruntung bukan dengan bertambahnyaharta dan putra tetapi dengan bertambahnya ilmu dan akhlak serta pengabdiankepada Allah.Setiap kali berbuat kebajikan,kamu bersyukur kepadaNya.Setiapkali berbuat keburukan, segera kamu memohon keampunanNya.Dan sesungguhnyatidakada kebaikan dalam dunia ini kecuali bagi dua orang yakni mereka yangmerasa telah berbuat dosa lalu ia segera mengikutinya dengan bertaubat danmereka yang bersegera dalam mengerjakan kebajikan setiap kali hal itu terlintas di hatinya.

 

4.1.7. Inilah Prisnsip Sebenar Perjalanan Seorang Sufi

 

Seorang Tokoh Sufi, Imam Qusyairi menerangkan bahwa prinsip sebenar perjalanan seorang sufi kepada Allah bersandarkan pegangan teguh kepada
ajaran Al-Quran dan sunnah.Mereka dapat mencapai hakikat kebenaran (makrifatullah) bukan hanya dengan dalil akal semata-mata bahkan melalui penjernihan hati dan latihan jiwa seperti bersuluk ini.

 

Imam Ghazali berkata : “ Ketahuilah bahwa berjalan menuju kepada Allah Taala untuk menghampiriNya sebenarnya adalah hati bukan badannya.

Maksudku,bukan hati yang berdaging ini bahkan ia adalah satu rahasia
daripada rahasia-rahasia Allah Azzawajalla yang tidak difahami oleh deria zahir.”

Siapakah yang patut bersuluk ? Ramai orang yang ingin menjadi muslim dan
mukmin tetapi jarang-jarang orang berdoa untuk menjadi mukhsein dan mukhlis.

 

Hanya mereka yang bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar ditunjukijalan dan dituntuniNya (dipimpin) ke arah itu.Hanya dengan jalan dzauqi sahaja,yakni melalui pengembaraan rohani semasa bersuluk ; seseorang itu akan lebih mudah sampai ke derajat ihsan.

 

4.1.7. APA TENTANG FANA UL FANA

 

Fana zahir yaitu : merasakan tajali atau memantul keagungan Tuhan pada tindak tanduk seseorang,sehingga segala keinginan,kehendaknya,ikhtiarnya sudah terlepas dari dirinya. Karena itu kadang-kadang orang itu sampai-sampai beberapa lama tidak tahu makan dan minum dan sebagainya,semuanya terserah kepada Allah.

 

Fana bathin yaitu : hatinya saja yang fana dan lahirnya tidak,lahirnya seperti biasa. Hatinya terbuka pada melihat sifat-sifat Tuhan,dan keagungan serta gerakan-gerakan Tuhan,hilanglah segala was-was dan keragu-raguan dalam hatinya dan penuhlah hatinya dengan keyakinan terhadap Allah S.W.T., Tidak ada dalam hatinya timbul perasan takut dan gentar,kasih dan sayang, suka dan duka,kecuali kepada Allah.

 

Inilah janji ALLLAH S.W.T, memberikan keistimewaan kepada hamba-hambanya yang taat beribadat mejalankan seluruh ibadah bagi Para Nabi-nabi dan wali-wali seperti Sheikh Abu Qasim Al-Junaid, Abu Qadir Al-Jailani , Imam Al-Ghazali, Ab Yazid Al-Busthomi sering mengalami keadaan “fana” fillah dalam menemukan Allah. Umpamanya Nabi Musa alaihisalam ketika ia sangat ingin melihat Allah maka baginda berkata yang kemudiannya dijawab oleh Allah Taala seperti berikut;


“Ya Tuhan, bagaimanakah caranya supaya aku sampai kepada Mu? Tuhan berfirman: Tinggalkan dirimu/lenyapkan dirimu(fana), baru kamu kemari.”


Kata-kata Hikmah Dari Wali-wali Allah yang telah mengalami FANAketetuan Kebanyakan kitab-kitab tua seperti Kitab Syarah Hikam Ibni Athoillah As-Kandariah, Kitab Manhal-Shofi, Kitab Addurul-Nafs dan lain-lain menggunakan istilah-istilah seperti ‘binasa’ dan ‘hapus’ untuk memperlihatkan tentang maksud fana. Ulama-ulama lainnya yang banyak menggabungkan beberapa disiplin ilmu lain seperti falsafah menggunakan istilah-istilah seperti ‘lebur’, ‘larut’, ‘tenggelam’ dan ‘lenyap’ dalama usaha mereka untuk memperkatakan sesuatu tentang ‘hal’ atau ‘maqam’ fana ini.

 

Di dalam Kitab Arrisalah al-Qusyairiah disebutkan arti fana itu ialah;

Lenyapnya sifat-sifat basyariah (pancaindera)

 

Maka siapa yang telah diliputi Hakikat Ketuhanan sehingga tiada lagi melihat daripada Alam baru, Alam rupa dan Alam wujud ini, maka dikatakanlah ia telah fana dari Alam Cipta. Fana berarti hilangnya sifat-sifat buruk (maksiah lahir dan maksiat batin) dan kekalnya sifat-sifat terpuji(mahmudah). Bahwa fana itu ialah lenyapnya segala-galanya, lenyap af’alnya/perbuatannya(fana fil af’al), lenyap sifatnya(fana fis-sifat), lenyap dirinya(fan fiz-zat)

 

Oleh karena inilah ada di kalangan ahli-ahli tasauf berkata:

 

“Tasawuf itu ialah mereka fana dari dirinya dan baqa dengan Tuhannya karena kehadiran hati mereka bersama Allah”.

 

Sahabat Rasulullah yang banyak memperkatakan tentang ‘fana’ ialah Sayyidina Ali, salah seorang sahabat Rasulullah yang terdekat yang diiktiraf oleh Rasulullah sebagai ‘Pintu Gedung Ilmu’. Sayyidina Ali sering memperkatakan tentang fana. Antaranya :

“Di dalam fanaku, leburlah kefanaanku, tetapi di dalam kefanaan itulah bahkan aku mendapatkan Engkau Tuhan”.

 

Demikianlah ‘fana; ditanggapi oleh para kaun sufi secara baik, bahkan fana itulah merupakan pintu kepada mereka yang ingin menemukan Allah(Liqa Allah) bagi yang benar-benar mempunyai keinginan dan keimanan yang kuat untuk bertemu dengan Allah(Salik). Firman Allah yang bermaksud:


“Maka barangsiapa yang ingin akan menemukan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amalan Shaleh dan janganlah ia mempersekutukan siapapun dalam beribadat kepada Allah. (Surah Al-Kahfi:)


Untuk mencapai liqa Allah dalam ayat yang tersebut di atas, ada dua kewajiban yang mesti dilaksanakan iaitu:


Pertamanya mengerjakan amalan sholeh dengan menghilangkan semua- sifat-sifat yang terceladan menetapkan dengan sifat-sifat yang terpuji iaitu Takhali dan Tahali.

 

    Keduanya meniadakan/menafikan segala sesuatu termasuk dirinya sehingga yang benar-benar wujud/isbat hanya Allah semata-mata dalam beribadat. Itulah artinya memfanakan diri.


Inil adalah kisah seorang bertanya kepada Abu Yazid Al-Busthomi;


“Bagaimana tuan habiskan masa pagimu?”. Abu Yazid menjawab: “Diri saya telah hilang (fana) dalam mengenang Allah hingga saya tidak tahu malam dan siang”.

 

Satu ketika Abu Yazid telah ditanyai orang bagaimanakah kita boleh mencapai Allah. Beliau telah menjawab dengan katanya:

“Buangkanlah diri kamu. Di situlah terletak jalan menuju Allah. Barangsiapa yang melenyapkan (fana) dirinya dalam Allah, maka didapati bahwa Allah itu segala-galanya”.

Beliau pernah menceritakan sesuatu tentang fana ini dengan katanya;
Apabila Allah memfanakan saya dan membawa saya baqa dengaNya dan membuka hijab yang mendinding saya dengan Dia, maka saya pun dapat memandangNya dan ketika itu hancur leburlah pancainderaku dan tidak dapat berkata apa-apa. Hijab diriku tersingkap dan saya berada di keadaan itu beberapa lama tanpa pertolongan sebarang panca indera. Kemudian Allah kurniakan saya mata Ketuhanan dan telinga Ketuhanan dan saya dapat dapati segala-galanya adalah di dalam Dia juga.”


Al-Junaid Al-Bagdadi yang menjadi Imam Tasauf kepada golongan Ahli Sunnah Wal-Jamaah pernah membicarakan tentang fana ini dengan kata-kata beliau seperti berikut:
Kamu tidak mencapai baqa (kekal dengan Allah) sebelum melalui fana (hapus diri)
Membuangkan segala-galanya kecuali Allah dan ‘mematikan diri’ ialah kesufian.
Seorang itu tidak akan mencapai Cinta kepada Allah (mahabbah) hingga dia memfanakan dirinya. Percakapan orang-orang yang cinta kepada Allah itu pandangan orang-orang biasa adalah dongeng sahaja.


Himpunan Kata-kata Hikmat Tentang Fana

 

a. Sembahyang orang yang cinta (mahabbah) ialah memfanakan diri sementara

Sembahyangorang awam ialah rukuk dan sujud.

b. Setengah mereka yang fana (lupa diri sendiri) dalam satu tajali zat dan kekal dalam

Keadaanitu selama-lamanya. Mereka adalah Majzub yang hakiki.

c. Sufi itu mulanya satu titik air dan menjadi lautan.Fananya diri itu meluaskan

 kupayaannya.Kepuyaan setitik air menjadi keupayaan lautan.

d. Dalam keadaan fana, wujud Salik yang terhad itu dikuasai oleh wujud Allah yang

 Mutlak. Dengan itu Salik tidak mengetahui dirinya dan benda-benda lain. Inilah

peringkat Wilayah

 (Kewalian). Perbezaan antara Wali-wali itu ialah disebabkan oleh perbedaan tempoh

masakeadaan ini. Ada yang merasai keadaan fana itu satu saat, satu jam, ada yang

 satu harian  seterusnya. Mereka yang dalam keadaan fana seumur hidupnya digelar

 majzub. Mereka masukke dalam satu suasana dimana menjadi mutlak.

e. Kewalian ialah melihat Allah melalui Allah. Kenabian ialah melihat Allah melalui

 makhluk.Dalam kewalian tidak adabayang  makhlukyang wujud. Dalam kenabian

 makhlik masihnampak di samping memerhati Allah. Kewalaian ialah peringakat fana

 dan kenabian ialahperingkat baqa.

f. Tidak ada pandangan yang pernah melihat Tajalinya Zat. Jika ada pun ia mencapai

Tajali ini,maka ianya binasa dan fana karena Tajali Zat melarutkan semua cermin

penzohiran. FirmanAllah yang bermaksud :  “Sesungguhnya Allah meliputi segala-

galanya. Firman Alllah S.W.T. Q.S. Al-Fadhilah:54 :

g. Tajali berarti menunjukkan sesuatu pada diriNya dalam beberapa dan berbagai

 bentuk.Umpama satu biji benih menunjukkan dirinya sebagai beberapa ladang dan

 satu unggun apimenunjukkan dirinya sebagai beberapa unggun api.

h. Wujud alam ini fana (binasa) dalam wujud Allah.Dalilnya ialah Firman Allah dalam

 Surah AnNur:35 yang bermaksud;“Cahaya atas cahaya, Allah membimbing dengan

cahayanya siapayang dikehendakinya.” dan“Allah adalah cahaya langit dan bumi.”

 

i. Muraqobah ialah memfanakan hamba akan af’aalnya dan sifatnya dan zatnya dalam

afaal Allah, sifat Allah dan zat Allah.

j. Al-Thomsu atau hilang  yaitu hapus segala tanda-tanda sekelian pada sifat Allah.

 Maka iaitu satu bagai daripada fana.

 

Tajuk-tajuk yang berkaitan dengan FanaMikraj Muhammad Alamat Sampai Kepada MaqamYangTinggi

 

Pesanan Dari SulukHakikat tidak akan muncul sewajarnya jika syariat dan tarikat belum betul lagi kedudukannya. Huruf-huruf tidak akan tertulis dengan betul jika pena tidak betul keadaannya.


Dari itu saudara-saudaraku anda seharusnya banyak menuntut dan mendalami

Ilmu-ilmu agama yang berkaitan dengan syariat, usuluddin dan asas tasawuf untuk

mendekatkan diri dengan Allah .


ALLAH MAHA ESA, SEDIA DAN KEKAL

TELAH ADA ALLAH  DAN TIADA SESUATU BESERTA-NYA. DAN, DIA KINI ADALAH TETAP SEBAGAIMANA ADANYA.


Pada martabat zat, segala sifat, nama dan semua kewujudan lenyap di dalamnya, tidak boleh disaksi dan ditakbir lagi. Selagi boleh disaksi dan ditakbir ia masih lagi sifat bukan zat. Apabila sampai kepada perbatasan: “Lemah mengadakan pendapat tentang zat Ilahiat”, seseorang tidak ada pilihan melainkan mengakui wujudnya zat Wajibul Wujud (Wajib Wujud) karena jika tidak wujud zat nescaya tidak ada sifat dan tidak ada kejadian atau perbuatan.

 

Seorang bukan ahli kasyaf bermakrifat dengan akalnya dan beriman kepada zat Wajibul Wujud setelah terjadi kebuntuan  akalnya mengenai hal ketuhanan pada suasana yang diistilahkan sebagai Wahadiyyah atau suasana pentadbiran Ilahi yang juga dipanggil Rububiah. Akal menyaksikan Rububiah atau hal ketuhanan yang menggerakkan sekalian makhluk. Peringkat kesudahan pencapaian akal dan ilmu makhluk dinamakan Hijab al-‘Izzati atau benteng keteguhan. Ilmu sekalian orang alim dan arif terhenti di sini. Zat Allah s.w.t tidak diketahui oleh makhluk karena Dia tidak termasuk di dalam sempadan maklumat, pendapat dan kenyataan. Allah berfirman:Q.S. Al-Imran ayat 30 :


 

“yawma tajidu kullu nafsin maa 'amilat min khayrin muhdaran wamaa 'amilat min suu-in tawaddu law anna baynahaa wabaynahu amadan ba'iidan wayuhadzdzirukumu allaahu nafsahu waallaahu rauufun bial'ibaadi”

 

Artinya : “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya”.

 

 

Rasulullah S.A.W., bersabda:

 

Semua kamu (yang berfikir) tentang Zat Allah adalah orang dungu.

Percubaan akal untuk menembusi Hijab Keteguhan adalah sia-sia. Jika dipaksa juga tidak ada yang ditemui melainkan kemungkinan menjadi gila.

Begitulah makrifat Allah s.w.t melalui akal. Makrifat dengan akal menjadi asas kepada makrifat melalui zauk atau pandangaan mata hati. Ahli Allah s.w.t meningkatkan imannya dengan membenamkan dirinya ke dalam ibadat dengan bersungguh-sungguh.

 

Mereka berpuasa pada siang hari dan bersembahyang pada malam hari. Ada antara mereka yang bersembahyang lebih 500 rakaat sehari, khatam membaca al-Quran tiap-tiap hari dan berpuasa sepanjang tahun. Sekiranya Allah S.W.T. izinkan, mereka akan mengalami hakikat wujud Zat Allah s.w.t yang sukar untuk dihuraikan.

Pengalaman makrifat menurut akal berhenti pada kenyataan: “Semata-mata zat, yang maujud hanya Wajibul Wujud”. Pengalaman makrifat secara zauk pula berakhir pada: “Zat yang kosong dari makhluk, yang maujud hanya Allah S.W.T.. Telah ada Allah S.W.T. dan tiada sesuatu beserta-Nya. Dia kini adalah tetap sebagaimana dahulunya”.Ungkapan ini bukan untuk dibahaskan atau dihuraikan dengan terperinci karena ia telah melepasi sempadan ilmu. Ia adalah pengalaman rohani, dinamakan penyaksian hakiki mata hati, tatkala  hilang rasa wujud diri dan sekalian yang maujud, hanya Wujud Allah S.W.T. yang nyata, semata-mata Allah S.W.T. dan segala-galanya Allah S.W.T. Keadaan ini dicapai setelah melepasi makam-makam ilmu, amal, berserah diri, reda, ikhlas, lalu masuk ke dalam makam tauhid yang hakiki dan pengalaman tauhid yang hakiki itulah yang dinyatakan oleh Hikmat 46 di atas.

Telah ada Allah S.W.T. dan tiada sesuatu beserta-Nya.

Allah S.W.T. kini adalah Allah S.W.T. yang dahulu juga.

 

Pengalaman rohani adalah aneh menurut kacamata akal. Ia adalah satu keadaan terlepasnya ikatan  kesedaran terhadap diri sendiri dan dikuasai oleh kesedaran yang lain. Jika mahu memahami akan kesedaran-kesedaran yang mempengaruhi kesedaran manusiawi itu terlebih dahulu perlulah difahami tentang kejadian manusia itu. Manusia yang bertubuh badan boleh diistilahkan sebagai alam jasad. Alam jasad mendiami alam dunia. Hubungan yang rapat antara alam jasad dengan alam dunia menyebabkan pengaruh alam dunia kepada alam jasad sangat kuat. Alam jasad menerima pengaruh alam dunia dan menganggapnya sebagai kesedaran dirinya sendiri.

Ia tidak dapat lagi membezakan antara kesedaran jasad yang asli dengan kesedaran duniawi yang menguasainya.Alam dunia pula berada di dalam Alam Malakut (alam malaikat). Alam Malakut menguasai alam dunia dan alam jasad. Tenaga malaikat-malaikat menjadi tenaga kepada dunia dan jasad yang menyebabkan dunia dan jasad boleh bergerak. Sistem yang berjalan rapi di dunia dan jasad adalah disebabkan oleh tenaga malaikat yang bekerja dengan tepat mengawalnya. Sedutan udara, kerlipan mata, peredaran darah, pertumbuhan rambut dan kuku, pergerakan otot dan semuanya adalah hasil daripada tindakan malaikat walaupun manusia tidak menyedarinya. Perjalanan matahari, penurunan hujan, tiupan angin dan semua aktiviti benda-benda dunia terhasil daripada tindakan malaikat-malaikat. Perkaitan antara jasad, dunia dan malakut adalah umpama sebatang pokok kelapa di atas sebuah pulau di dalam laut. Pokok kelapa tidak terpisah dari pulau dan tidak terpisah dari laut. Air laut meresap ke dalam tanah pulau dan air yang sama juga meresap ke dalam akar, batang, daun dan seluruh pokok kelapa.

 

Pokok kelapa memperolehi tenaga pertumbuhan dari air laut yang meresap ke dalamnya. Begitulah ibaratnya tenaga malaikat yang menjadi sistem aktiviti manusia.
Alam Malakut dengan segala isinya termasuklah dunia dan jasad berada di dalam Alam Jabarut. Jabarut bukanlah alam seperti yang difahamkan. Jabarut bermakna sifat Allah S.W.T., Ini bermakna malakut, dunia dan jasad adalah kesan daripada keupayaan sifat atau dikatakan juga perbuatan yang dihasilkan oleh sifat. Jabarut pula dikuasai oleh Lahut iaitu Zat Ilahiat. Malakut, dunia dan jasad diistilahkan sebagai sekalian alam, merupakan perbuatan yang dikuasai oleh sifat dan sifat pula dikuasai oleh zat. Ini bermakna tidak putus perkaitan di antara Lahut kepada Jabarut kepada malakut kepada dunia dan kepada jasad.


Jika dilihat kepada lapisan yang paling luar akan kelihatanlah pergerakan benda-benda.

 

Jika direnungkan kepada lapisan yang lebih mendalam sedikit kelihatanlah pula pergerakan benda-benda dihasilkan oleh tenaga malaikat. Jika dilihat kepada lapisan yang lebih mendalam akan kelihatan pula pergerakan benda-benda dan tenaga malaikat merupakan perbuatan Tuhan. Jika dilihat kepada lapisan yang lebih dalam akan kelihatan pula sekalian perbuatan Tuhan itu adalah kesan daripada keupayaan sifat Allah S.W.T. Jika dilihat kepada lapisan yang paling dalam akan kelihatanlah bahwa sekalian alam yang muncul karana perbuatan Tuhan, perbuatan pula lahir daripada keupayaan sifat Tuhan dan sifat pula bersumberkan zat Ilahiat. Jika dilihat semuanya tanpa terdinding antara satu dengan yang lain maka kelihatanlah bahwa zat Ilahiat menguasai segala sesuatu.

 

Apabila semuanya sudah sempurna kedudukannya maka Allah S.W.T., mengwujudkan sesuatu yang sangat istimewa. Ia adalah roh manusia. Roh manusia adalah sesuatu yang dari Allah S.W.T., tiupan Roh Allah S.W.T., berkait dengan Zat Allah S.W.T., tidak boleh dinisbahkan kepada apa sahaja melainkan kepada Allah S.W.T., tetapi ia bukanlah Allah S.W.T., karena “Tiada sesuatu yang menyamai-Nya”.

 

Roh manusia yang dinisbahkan kepada Allah s.w.t inilah yang paling mulia, sebagaimana Firman ALLLAH S.W.T. dalam Q.S. Saad ayat ; 72 :

 


”fa-idzaa sawwaytuhu wanafakhtu fiihi min ruuhii faqa'uu lahu saajidiina”

Artinya : “Kemudian apabila Aku sempurnakan kejadiannya (Adam), serta Aku tiupkan padanyaroh dari (ciptaan)-Ku maka hendaklah kamu sujud kepadanya.


Kemuliaan roh manusia yang Allah tiupkan dari Roh-Nya menyebabkan malaikat-malaikat kena sujud kepada Adam. Roh pada martabat ini adalah urusan Allah S.W.T.,:
Katakanlah: “Roh itu dari perkara urusan Tuhanku”. ( Ayat 85 : al-Israa’ )


Bagaimana atau apakah perkaitan roh dengan Allah s.w.t? Perkaitannya adalah Rahsia Allah
S.W.T. yang manusia tidak diberi pengetahuan mengenainya kecuali sedikit sahaja. Roh pada martabat Rahsia Allah S.W.T. inilah yang sudah mengenal Allah S.W.T., danmenyaksikan bahwa:

Sesungguhnya Allah Maha Esa. Tiada sesuatu beserta-Nya.

Roh yang berkait dengan Allah S.W.T. menghadap kepada Allah S.W.T., dan dikuasai oleh kesedaran yang hakiki atau penglihatan rohani yang hakiki atau kesedaran tauhid yang hakiki.Roh urusan Allah S.W.T. itu kemudiannya berkait pula dengan perbuatan Allah S.W.T., yaitu alam.

 

Unsur alam yang menerima perkaitan dengan roh urusan Allah S.W.T., itu dinamakan roh juga. Roh jenis kedua ini menghuni alam seperti makhluk Tuhan yang lain juga. Tempat roh tersebut ialah Alam Arwah {alam roh}. Roh yang mendiami Alam Arwah ini kemudiannya berkait pula dengan jasad. Jasad yang berkait dengan roh menjadi hidup dan dipanggil manusia. Perjalanan dari atas ke bawah ini dinamakan:
Kami datang dari Allah S.W.T.,

Oleh sebab manusia datang dari Allah s.w.t mereka berkewajipan pula kembali kepada

Allah S.W.T., Kepada Allah S.W.T., kami kembali.


Perjalanan kembali kepada Allah
S.W.T. hendaklah dilakukan ketika jasad masih lagi diterangi oleh roh iaitu ketika kita masih hidup di dalam dunia. Apabila roh sudah putus hubungannya dengan jasad, tidak ada lagi peluang untuk kembali kepada Allah S.W.T.  Siapa yang buta (hati) di dunia akan buta juga di akhirat, malah lebih buruk lagi. Hamba AllahS.W.T. yang menyedari kewajipannya akan berusaha bersungguh-sungguh untuk kembali kepada Allah S.W.T. ketika kesempatan masih ada. Syariat diturunkan supaya manusia tahu jalan kembalinya. Orang yang berjuang untuk kembali kepada asalnya melepaskan kesedaran alam bawah yang menguasainya. Dia masuk kepada kesedaran malaikat. Kemudian dia keluar dari kesedaran malaikat dan masuk kepada kesedaran roh yang murni dan seterusnya masuk kepada kesedaran roh yang menjadi Rahsia Allah s.w.t dan kembali menyaksikan Yang Hakiki sebagaimana telah disaksikannya sebelum berkait dengan jasad dahulu. Keluarlah ucapannya:

Telah ada Allah S.W.T., (sebagaimana ia menyaksikan sebelum berkait dengan jasad) dan tiada sesuatu yang menyertai-Nya (sebagaimana disaksikannya dahulu). Dan Dia kini (sedang disaksikannya semula) sama seperti ada-Nya (seperti yang disaksikannya dahulu).Keadaannya adalah seperti orang yang melihat kepada sesuatu, kemudian dia memejamkan matanya seketika. Bila dia membuka matanya  semula dia melihat sesuatu yang sama berada dihadapannya. Tahulah dia bahwa pengalaman semasa memejam mata itu sebenarnya gelap, majazi atau khayalan. Dia kembali melihat yang benar setelah matanya terbuka. Jadi, seseorang hanya boleh melihat Yang Hakiki setelah kembali kepada keasliannya iaitu dia kembali melihat dengan penyaksian hakiki mata hati.Hikmat 46 di atas walaupun pendek tetapi  menggambarkan perjalanan datang dan pergi yang sangat jauh, bermula dari Allah s.w.t, sampai kepada dunia dan jasad, kemudian kembali semula kepada Allah S.W.T.,

 

Perjalanan yang telah diceritakan di atas adalah pengalaman rohani bukan perpindahan jasad dari satu tempat kepada tempat yang lain. Orang yang sedang mengalami hal yang demikian masih berada di bumi, masih bersifat sebagai manusia, bukan ghaib daripada pandangan orang lain. Hanya perhatian dan kesedarannya terhadap yang selain Allah S.W.T., ghaib dari alam perasaan hatinya. Pengalaman rohani tersebut memberinya kefahaman dan pengenalan tentang Tuhan.

 

Makrifatullah melalui pengalaman rohani jauh lebih kuat kesannya kepada hati daripada makrifatullah melalui pandangan akal. Akal yang mengenali Allah S.W.T. bersifat Maha Melihat dan Mendengar melahirkan kewaspadaan pada tindakan dan tingkah-laku. Makrifat tentang Allah Maha Melihat dan Mendengar yang dialami secara kerohanian menyebabkan gementar dan kecut hati sehingga ketara pada tubuh badan seperti pucat mukanya dan menggigil tubuhnya.


Pengalaman kerohanian tentang Allah Maha Esa menanamkan pengertian pada hati mengenai keesaan Allah
S.W.T. Pengertian yang lahir secara demikian menjadi keyakinan yang teguh, tidak boleh dibahas atau ditakwilkan lagi.BERKENAAN AIR


Kebersihan itu dapat dilakukan dengan Air Mutlak,  Air Yang Ghaib,  yang mana Jernihnya itu membanjiri seluruh alam nyata ini.  Jernih itu menimbulkan pelbagai warna dalam penzhohirannya.  Dirinya tetap satu tetapi banyak pada penzhohirannya.
Karena penzhohiran itu,  Ia terlindung.  Mutlak dalam nisbahNya.  Inilah Air yang tidak sedikit pun ada kotor dan boleh dibuat untuk membersihkan diri.  Berkenaan Air ini,  seorang ahli makrifat ada berkata;

 

“Bersucilah engkau dengan Air Ghaib itu,  jika engkau ada Sir(Rahsia).  Jika tidak,  bersucilah engkau dengan tanah atau batu.”


Carilah Air Hakiki ini.  Siapa yang dapat Air ini,  tidaklah lagi akan kekurangan.  Oleh itu,  orang yang berakal hendaklah mencari Air ini.  Ambillah ia di mana sahaja engkau mendapatinya. Carilah Air ini walaupun dengan memakan korban yang besar, walaupun dengan mengorbankan nyawa sendiri.


Air tidak akan kotor jika tidak ditukar keadaannya kecuali air yang lama bertakung.   Jika air itu bertukar keadaan karena bercampur dengan sesuatu yang bersih,  misalnya dikeruhkan oleh tanah liat merah,  anggaplah ia bersih.  Begitu jua air yang cair.  Ini adalah air biasa dalam dunia ini. (Sheikh Ahmad Al-‘Alawi).
Ilmu menurut pandangan ulama ialah perkataan-perkataan dan maknanya.  Menurut ArifbiLlah,  Ilmu itu ialah mengetahui Asma dan objek-objek(bentuk) yang ditunjukkan oleh Asma itu.

 

Mana mungkin seseorang yang sibuk menghuraikan maksud dan makna dari istilah yang didirikan dapat mengetahui(menyedari) Tajalli yang sentiasa berselindung di sebalik bentuk-bentuk objek itu.

Sebenarnya amal ialah ilmu yang berupa atau berbentuk.  Lampaui kedua-duanya dan capai “hal” iaitu sempadan yang paling hujung bagi kedua-dua itu.


4.1.8. BERBAIK SANGKA TERHADAP ALLAH

 

Petikan Dari Untaian Kisah Para Wali Allah :

 

Diceritakan dari Syeikh Ibrahim Al-Khowwas rahimahullah, bahwasanya dia berkata;

Aku meninggalkan negeriku menuju ke Makkah untuk berhaji,  kali ini tanpa kenderaan dan bekal apa pun.  Di tengah perjalanan,  aku tersesat sehingga tidak mengetahui arah mana yang harus dituju.  Tiba-tiba terlihat olehku seorang pendita Nasrani mendatangiku seraya bertanya:

 

“Wahai Pendita muslim! bolehkah aku menemanimu dalam perjalanan ini?”

“Boleh,  jawabku kepadanya. Memang kebetulan pula, saya pun tak mempunyai teman yang lain.”


Aku tidak tahu dari mana pendeta Nasrani, dan aku pun tidak mahu bertanya.  Hatiku berkata syukur aku telah dikurniai Tuhan seorang teman, kalau tidak tentu aku akan terus sesat tidak tahu menuju ke mana.


Kami pun berjalan selama tiga hari tiga malam tanpa merasakan makan dan minum.  Kami merasa terlalu lapar sekali, namun begitu masing-masing kami terus berdiam diri antara satu dengan yang lain.

Kemudian dengan tiba-tiba pendita Nasrani itu berkata:

 

“Wahai pendita muslim! apakah engkau tidak membawa makanan dan minuman untuk kita menikmati bersama?”


Mendengar pertanyaan itu, aku agak terkejut sedikit.  Selama ini aku berkata di dalam hatiku, apakah si pendita Nasrani ini tidak membawa bekal makan atauminum.  Rupanya dia tidak punya apa-apa, maka dia bertanya pula kepadaku.  Apa yang hendak aku ketakan kepadanya?


“Ya, ada!”  tiba-tiba terkeluar dari mulutk kata-kata yang berani itu.

“Marilah kita nikmati bersama!”  usul pendeta Nasrani itu wajah yang tersenyum.

Celaka aku! Aku telah berdusta kepada diriku sendiri.  Di mana ada makanan dan minuman yang akan aku keluarkan? Wajahku pucat lesi.  Tiada jalan lagi bagiku melainkan dengan memohon kernia dari Allah Subhanahuwa Taala.   Aku menengadah ke arah langit, lalu berdoa:

“Ya Tuhan hamba! Wahai pengguasa yang tiada terbatas! Berilah hamba sesuatu untuk menutup lapar dan dahaga kami berdua ini, dan janganlah sampai hamba dihinakan di hadapan pendita Nasrani ini!  Ya Allah, Ya Tuhanku! Dengarlah permohonan hamba ini!”  Tanpa diduga, dengan tiba-tiba turunlah dari angkasa sebuah talam yang berisi roti, daging dan sekendi air. Kamipun memakannya berdua sehingga kenyang,  serta bersyukurlah kami kepada Tuhan Maha Pemurah yang telah menurunkan kurniaNya secara luarbiasa itu.

 

Kemudian kamipun melanjutkan perjalanan kami tanpa membicarakan apa-apapun tentang bagaimana turunnya makanan dan minuman dari angkasa itu.  Orang Nasrani itu nampaknya kelihatan tidak hairan,  seolah-olah perkara serupa itu adalah biasa saja.  Namun begitu aku tetap takjub tentang hal itu,  karena itu adalah yang pertama kali berlaku atas diriku.


Kini,  sudah tiga hari tiga malam,  kami berjalan lagi tanpa makan dan minum apapun.  Maka pada hari keempat,  aku berkata pula kepada pendita Nasrani itu:
“Wahai pendita Nasrani! Kini giliranmu pulalah untuk mengeluarkan apa yang yang ada padamu untuk kita makan dan minum bersama!”

“Baiklah,”  jawabnya tenang saja.  Aku hairan, dan aku ingin lihat apa pula yang dibuatnya.Pendeta Nasrani itu lalu menengadah ke arah langit lalu berdoa.  Tiba-tiba meluncur turun dua buah talam yang penuh dengan makanan dan minuman.
“Sila makan!” pelawa pendita Nasrani itu.  “Ini ada dua hidangan satu untukmu satu untukku.”
Aku tercengang, tidak tahu apa yang hendak aku katakan.  Bila dulu aku meminta kepada Allah untuk menurunkan makanan, aku hanya mendapat satu talam saja.  Kini si pendita Nasrani ini mendapat dua talam.

“Sila makan!”  pelawanya sekali lagi.

“Tidak! Demi Allah, aku tak akan memakanya sebelum kau menjelaskan terlebih dulu tentang makanan dan minuman ini!” kataku Kepada pendita Nasrani itu.

Pendeta itu lalu menjawab dengan riang gembira, katanya:

“Selama saya menemani tuan, benar-benar saya tertarik kepada amalanmu itu, dan saya yakin bahwa selama ini diriku dalam kesesatan yang nyata, dan jelas sekali saya tak mampu berbuat seperti dengan perantaraan Kesalihan tuan dan kekeramatan tuan di sisi Allah,  Semoga Allah berkenan memberi kami makanan dan minuman.  Dan rupanya doa itu dikabulkan Tuhan, dan inilah dia makanan dan minuman yang diberikanNya, dan DiberikanNya kita dua talam pula sebagai kurnia hidangan daripadaNya. 

Maka sekarang, saksikanlah bahwa saya telah memeluk  islam: “Asyhadu Illaaha Illallaah,  Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah!”

Alangkah gembiranya hatiku bila mendengar penjelasan tuan pendita itu.  Aku terus merangkulnya dengan perasaan yang terharu, dan hatiku gembira tidak pernah gembira seperti hari ini.  Kemudian kami pun makan dan minum bersama.

Selesai makan dan minum, dia lalu bertanya kepadaku:

“Ke mana tujuanmu dari sini?”

“Aku akan ke Mekah untuk naik haji,” jawabku.

“Aku akan mengikutmu ke sana juga,” jawab pendita itu pula.

Kami pun meneruskan perjalan menuju ke Makkah untuk berhaji bersama-sama pula.  Sewaktu kami  berada di Mekah, pada suatu ketika , aku kehilangan dirinya, lalu aku mencarinya ke sana ke mari, sehingga aku menemukannya sedang giat bershalat di suatu tempat yang terlindung dari pandangan orang ramai.  Aku pun menunggunya di situ sehinggalah ia selesai dari shalatnya.  Aku lalu memberi salam kepadanya.  Ia menjawab salamku itu dengan baik dan penuh gembira.  Kemudian ia berkata pula:
“Tuan! Rupa-rupanya aku terasa diriku ini akan segera pergi untuk mengadap Tuhan Rabbul-alamin!”
“Bagaimana kau tahu?!” tanyaku ingin mengatahui.

“Aku tahu,” jawabnya pendek sahaja.

Dia lalu menghulurkan tangannya sambil berkata:

“Aku berdoa moga-moga persahabatan kita ini diteruskan Allah nanti ketika kita berada

di akhirat nanti!” dia lalu menggoyang-goyangkan tanganya ke tangan tanda mesra.
“Amin!” jawabku.

Dia bangun untuk meneruskan shalatnya, tiba-tiba ia menggeletar hebat, lalu jatuh di tempat shalatnya, dan sambil membaca dua kalimah syahadat, dia menghembus nafasnya yang terakhir.  Wajahnya kelihatan tenang dan bercahaya.

Aku merasa sangat sedih karena kehilangan seorang teman yang baik sepertinya. 

Aku kemudian memandikanya, mengkafankannya, menshalatinya, kemudian

menguburkannya.
Dan pada malam itu, aku memimpikannya sedang berpakaian yang sangat indah, di tempat kediaman yang amat indah pula.  Aku pun bertanya kepadanya:
“Bukankah kau ini temanku?”

“Benar!” jawabnya.

“Alhamdulillah,” ucapku untuknya.

Dia ketawa suka dan riang sekali.

“Bagaimana sambutan Allah kepadamu?” aku bertanya kepadanya.

“Aku datang kepadaNya dengan membawa dosa yang bertumpuk-tumpuk, namun Allah

 berkenan mengampuniku, karena aku telah berbaik sangka kepadaNya, dan semoga Allah menjadikanku sebagai temanmu nanti di akhirat,” dia memberitahuku.

Aku pun terjaga dari mimpiku itu, dan merasa sangat gembira sekali.

Manusia diharuskan menguasai bab keempat tadi, seperti mana sabda Nabi Muhammad S.A.W., yang bermaksud:

“Syariat bagaikan pohon, Tariqat bagaikan cabang; Ma’rifat bagaikan daun dan Hakikat bagaikan buah”.

Al-Quran mencakup 4 bab di atas dengan petunjuk dan isyarat secara tafsir dan takwil. Penyusun Kitab ‘Al – Majma’ berfatwa bahwa tafsir bagi awam dan takwil bagi orang khusus, karena orang – orang khusus ini adalah ulama’ yang ‘rusukh’.
Rusukh maknanya tetap kuat, kukuh dan teguh di bidang ilmu. Sifat ini dimiliki oleh ulama Rasikhin iaitu suatu hasil dari kalimat yang ditanamkan di lubuk hati setelah berupaya membersihkan hati. Bukti ketinggian martabat ulama Rasikhin adalah ayat Al-Quran yang mencantumkan lafaz Rasikhin yang di’athafkan kepada lafaz Jalalah (Illallah) dalam ayat ‘Syahidallahu….’ dan seterusnya di dalam Surah Ali Imran: 18;
Mufassir Tafsir Al – Kabir berkata :

“Bila pintu yang ini (Rasikhin) telah terbuka, maka akan terbukalah segala yang batin. Seorang hamba diwajibkan melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan melawan nafsu di seluruh daerah yang empat, ;  mulki (jasad),  malakut (hati),  jabarut (fuad)

lahut (sir), Nafsu menggoda didaerah syariat dengan membuat perlawanan – perlawanan.


Sedangkan di daerah Tariqat, nafsu menggoda dengan mendorong dan menyetujuinya tetapi di dalamnya terkandung tipuan seperti pengakuan menjadi nabi, wali dan sebagainya.

 

Sedangkan di daerah ma’rifat nafsu menggoda dengan syirik khafi (penyekutuan yang samar) yang bangsa cahaya seperti pengakuan menjadi tuhan. Allah berfirman (Al-Furqan:43): “Engkau mengetahui orang – orang yang menjadi Tuhan sebagai hawa nafsunya”

Di daerah Hakikat pula syaitan, nafsu dan malaikat tidak dapat memasukinya sebab bila berada di situ akan hangus, kecuali AlLah. Jibril a.s. berkata : “Kalau aku memasukkan hujung jariku ke alam ini maka hanguskah aku.


Manusia yang telah mencapai alam ini berarti dia selamat dari dua seteru; dan jadilah dia manusia yang ikhlas”. Sesuatu yang tidak mencapai hakikat, maka dia tidak akan mencapai ikhlas karena sifat – sifat ‘Basyariyyah Ghairiyyah’ (sifat manusia selain Tuhan) tidak akan hancur, kecuali dengan ‘Tajalli Zat’.


Sifat bodoh hanya akan hilang dengan Ma’rifat Zat. Allah akan memberi ilmu orang yang sampai ke darjat ini tanpa perantaraan. Manusia akan mengenal AlLah karena diperkenalkan oleh AlLah dan beribadat kepada AlLah dengan pendidikan AlLah, seperti Nabi Khidir A.S. Di alam ini dia akan menyaksikan Ruh – ruh Qudsiyah dan mengetahui Nabinya (Muhammad S.A.W) secara hakiki. Maka akan berbicaralah dari akhirnya hingga permulaannya.

Seluruh nabi menyampaikan khabar gembira atas keberhasilan si hamba karena sampai kepada AlLah yang kekal. Firman AlLah (Surah An-Nisa’:69):

“Dan mereka itulah teman sebaik – baiknya”.

Amaliyah bagi Ruh Jasmani adalah menggunakan Ilmu Zahir. Pahalanya hanya syurga. Maka di sana akan jelaslah kebaikan dari sifat (orang yang beribadah akan masuk syurga; sebaliknya orang yang tidak beribadah akan masuk neraka).

Sedangkan untuk masuk ke ‘Haramil Qudsiyah’ dan dekat dengan AlLah tidak cukup bila hanya menggunakan Ilmu Zahir saja. Untuk ke sana harus dengan Ilmu Terbang; dan terbang itu harus menggunakan dua sayap. Bila satu, maka perjalanan akan pincang. Maka dengan kesepaduan Ilmu Zahir dan Batin barulah sampai seorang hamba ke Alam Qudsi. AlLah berfirman di dalam Hadis Qudsi:

“Hai hambaKu, bila engkau ingin masuk ke HaramilKu (Haramil Qudsiyah), maka

 engkau jangan tergoda oleh Mulki, Malakut, Jabarut; karenaalam Mulki adalah syaitan

bagiorang Alim;alam Malakut, syaitan bagi orang Arif;alam Jabarut, syaitan bagi

orang yang akan masuk ke alam Qudsiyah”.


Wajib bagi semua manusia mengetahui ukuran dirinya dan jangan mengaku sesuatu yang bukan haknya. Imam Ali berkata: “AlLah menyayangi orang – orang yang mengetahui kadar dirinya dan tidak melewati batas perjalanannya; menjaga lisannya dan tidak mensia – siakan umurnya”.


Seorang Alim harus mampu mencapai makna hakikat manusia yang disebut Tiflul Ma’ani (Bayi Ma’nawi). Setelah itu harus mendidiknya dengan tetap melakukan Asma Tauhid dan keluar dari alam Jasmani ke alam Ruhani, iaitu alam As-Sirri yang di sana tidak sesuatupun selain AlLah. Sir itu seperti lapangan dari cahaya, tidak ada hujungnya.

 

Inilah Maqam Al-Muwahidin.

Mudah – mudahan tulisan di atas bermanfaat dan menjelaskan sedikit sebanyak hal rahsia diri – insan. Berusahalah untuk mencapai ke tahap itu melalui tunjukan guru atau orang yang ahlinya. Ada di antaranya sengaja tidak dihuraikan dengan lebih lanjut karena sebagiannya adalah rahsia yang perlu dibicarakan secara khusus.

 

Fana yang demikian itu yang membawa ke maqam baqabillah,serta melewati fana yang pertama. Biasanya lebih dahulu dimulai dengan pengakuan seluruh wujud. Sedang hatinya atau rohnya selalu melihat gerakan Allah,baik dalam ibadah seperti : dalam sembahyang.

 

Dan dalam segala apa yang dilihat dan didengar dan lain-lain sebagainya.

 

Maqam baqabillah inilah yang senantiasa ada pada para nabi dan rasul-rasul,dan aulia dan anbiya Allah Ta’ala yang bereda dibawah qidamnya nabi Muhammad S.A.W.,

Maqam baqabillah ini kebanyakan adalah maqam mereka yang mahzub,dimana setelah mereka berada dipuncak tauhid,lalu mereka turun kepada sifat,dan sama,terus kepada af’al,sehingga kelihatan pada lahirnya mereka seperti orang biasa saja,memandang akuan ini,dan berbuat seperti ahli syariat umumnya. Tetapi hati mereka tidak pernah lupa kepada Allah dan selalu berpegang kepadanya. Ada perbedaan sedikit bagi orang yang berada dimaqam fana,mereka adalah orang yang salik. Dimana pandangan mereka dimulai dari bawah dan terus naik atau tarakki. Yakni dimulai memandang akuan,naik kepada af’al,sama,terus kepada sifat,dan ahirnya kepda zat. Dan karena tajamnya dan asyiknya musahadah,mungkin terjadi perasaan fana,yang kita maksudkan dengan fana zahir yang tersebut diatas.

 

Demikianlah perjalanan fana dan baqa bagi seorang aribillah atau wali Allah Ta’ala. Jadi disini hamba katakan bahwa,kalau dimaqam fana belum faham betul atau belum mengerti,maka tidak ada harapan untuk mencapai maqam baqa.

 

Maka daripada itu pandanglah sedalam-dalamnya tentang maqam fana, kalau sudah hasil makam fana,maka tercapailah maqam baqa.

 

 

4.1.9.Terbuka Hijab

 

PEMBUKAAN HIJAB atau singkapan hijab mudah terjadi ketika bersuluk
dan memang itu pun antara tujuan diadakan suluk itu. Singkapan hijab
terbuka apabila hati sanubari murid itu telah bersih karena adanya
taubat yang berterus-terusan dan zikrullah yang sangat banyak.

 

Masa terjadinya singkapan hijab itu tidak tertentu pada waktunyakarena ia bergantung seikhlas mana murid itu mencari keredhaanAllah,kesungguhannya bertaubat dari dosa besar dosa kecil,dosa yang diketahui dosa yang tidak diketahui,dosa yang disengajakandan dosa yang tidak disengajakan dan bergantung juga banyak mana murid itu telah berzikir.

 

Jikalau murid itu banyak melanggar adab dalam suluk,banyak bercakap,banyak berfikir-fikir,malas berzikir dan melanggar adab-adab bersuluk dan tiada beradab pada Syeikh maka lambatlah hijab itu terbuka malah jika berterusan dia melanggar adab, berkemungkinan suluknya itu menjadi sia-sia karena untuk masuk ke syurga itu dengan amal ibadat tetapi untuk sampai kepada Allah itu mesti dengan adab.

 

Adab kepada guru digarap dari adab para sahabat kepada Rasulullah S.A.W.

 

Hadis ada menyebutkan tentang 7 golongan manusia yang dapat perlindungan dan naugan Allah di akhirat nanti, antaranya ” dan seorang lelaki yang berzikrullah dalam keadaan bersunyi sehingga kedua-dua matanya berlinangan air mata”.HR as-Syaihani.

 

4.1.10. Adab Bersuluk


Adab di dalam perjalanan tariqah diambil atau  digarap  dari  adab  para  sahabat

            denganRasulullah S.A.W.Maka disambungkan ia menjadi adab antara murid dengan

 Guru karena Gurulah yang menyambungkan salik atau muridnya sampai ke

makrifatullah, adab di majlis- majlis ilmu adalah ketentuan juga pada adab sebelum

            suluk,adab semasa suluk dan adab selepas dari suluk karena majlis-majlis ini

memungkinkan kedatangan roh para Nabi dan roh para ambiya’, sebab itu adab-adab

sangat-sangat perlu dijaga.

 

Menurut Syeikh Imam Ishak an-Naqsyabandi al-Khalidi ,” sampai kepada makrifat dengan adab ; jatuh juga karena adab “.Firman Allah,”Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu sesuatu beban yang berat, tetapi ia berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya kepadamu supaya kamu berterima kasih.”

 

Firman Allah S.W.T., untuk menyempurnakan bersih diri dalam surah Q.S. Al-Maidah ayat : 6 :

 

 

“yaa ayyuhaa alladziina aamanuu idzaa qumtum ilaa alshshalaati faighsiluu wujuuhakum wa-aydiyakum ilaa almaraafiqi waimsahuu biruuusikum wa-arjulakum ilaa alka'bayni wa-in kuntum junuban faiththhahharuu wa-in kuntum mardaa aw 'alaa safarin aw jaa-a ahadun minkum minaalghaa-ithi aw laamastumu alnnisaa-a falam tajiduu maa-an fatayammamuu sha'iidan thayyiban faimsahuu biwujuuhikum wa-aydiikum minhu maa yuriidu allaahu liyaj'ala 'alaykum min harajin walaakin yuriidu liyuthahhirakum waliyutimma ni'matahu 'alaykum la'allakum tasykuruuna”

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit [403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh [404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

 

Kenapa tak boleh cerita natijah dalam suluk pada orang lain ?

 

Kurniaan itu hanya diberikan atau diilhamkan Allah S.W.T kepada kita dan ia menjadi rahasia yang mesti disimpan.Hanya perlu meceritakan  kepada Guru mengenai sesuatu natijah itu sebagai adab.

 

Maka jelaslah bagi kita bahwa segala yang rahasia bagi ALLAH S.W.T, telah membuktikan Maha Besar Allah atas segalah yang diciptakan tiadalah yang sia –sia akan tetapi menjadi pertanyaan bagi kita untuk semakin taat dan patuh kepadaNya.

 

Dan ini merupakan pencerahan diri kita agar lebih dekat kepadaNya, sebagaimana Sabda Rasulullah S.A.W., : MAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA RABBAHU.

 

Artinya: Barang siapa mengenal dirinya, niscaya mengenal akan Tuhannya.

 

Jadi sebelum mengenal Tuhan, kenallah diri. Perjalanan itu kita mulai dari dalam diri kita sendiri, dari dalam terus kedalam, akhirnya serba alam dan keindahannya dan dengan keganjilannya : hanyalah sebagai pencari diri.

 

Alam ini penuh dengan rahasia-rahasia yang tersembunyi. Rahasia itu tertutup oleh dinding-dinding, dinding- dinding itu ialah hawa nafsu kita sendiri, atau yang disebut nafsu kita sendiri, atau disebut pula nafsu syaitan, atau dengan kata lain ialah : nafsu lawammah atau nafsu sawiyah atau nafsu yang batal/agiar.

 

Dinding-dinding itu mungkin tersimbah dan terbuka, asal kita sudi menempuh jalannya, jalannya ialah : jalan yang ditempuh oleh orang arif, dan mau mengurangi sedikit dari hawa nafsu kebendaan. Dan sanggup menyisihkan segala halangan dan rintangan yang hendak menggagalkan niat kita yang baik itu. Jadi yang hendak kita kenal ini bukanlah diri yang kasar ini. Tetapi diri yang bersifat ketuhanan.

 

Diri kita ini ada dua unsur : pertama unsur jasad atau badan kasar. Kedua unsur Ruh atau badan latif. Ruh itu erat sekali pertaliannya dengan Tuhan. Memang sudah hamba katakan dahulu bahwa RUH itu adalah suatu Rahasia yang amat pelit sekali.

Jadi yang sebenar –benar Ruh itu Nur Muhammad.

Jadi yang sebenar-benar Nur Muhammad itu Sifat. Sebenar-benar sifat itu ialah Zat. Jadi Zat itu Zat Hayat,bukan Zat Hayun. Jadi Allah adalah nama Zat, dan Muhammad nama Sifat. Zat dan Sifat itu tiada bersatu dan tiada bercerai.

 

Sekarang marilah kita teruskan untuk mengenal diri dan mengenal Tuhan Allah Azzawazalla.

 

WANAN KAANAFI HAJIHI AMA FAHUWA FIL AKHIRATIA’MA WA ‘ADHOLLU SABBILA, artinya : Barang siapa buta dalam dunia ini, niscaya buta juga di akhirat sesat di jalan.

 

Seratus dua puluh empat ribu nabi-nabi diutus Tuhan kedalam dunia ini, adalah untuk mengajar dan memimpin umat manusia, untuk cara-cara membersihkan bathin atau qalbu, supaya dapat ma’rifat dan mengenal Allah. Tujuan utama ialah : agar memperoleh kebahagiaan jiwa, dan ketenangan bathin. Karena yang sebenar-benar Kaya itu ialah kebahagiaan jiwa dan kebersihan hati.

 

Inilah tujuan utama bagi alat jiwa manusia ini. Inti daripada selaga kebahagiaan itu ialah : Ma’rifatullah. Jadi siapa yang sudah Ma’rifat itulah sorga dunia dan sorga akhirat nanti. Dan siapa belum/masih terdinding itulah neraka dunia dan neraka akhirat nanti.

Jadi barang siap tidak ada hasrat memiliki ilmu ini maka samalah ia makan nasi bercampur pasir.

 

Ma’rifat itu adalah suatu amanah dari tuhan yang wajib kita tuntut dan kita tuju.

MA’RIFATULLAH.

SEBELUM MENGENAL TUHAN,KENALLAH DIRI.

MENGENAL DIRI :

 

Diri itu ada dua unsur.

Diri jahir berupa jasad.

Diri bathin berupa Ruh.

Dan diri itu dapat pula dibagi atas 3 unsur.

Diri yang Hak. (diri yang sebenarnya)

Diri terperi. (Muhammad)

Diri terdiri. (Adam).

Dan Ruh itu ada tiga Martabat.

Ruh idhofi (nafas yang keluar masuk)

Ruh mukayyat (yang mengedari/yang ergerak keseluruh tubh)

Ruh mutlak (yang tetap pada tempatnya)

Dan Zat itu ada tiga Asma.

ZAT illahiyah

ZAT masbiyah

ZAT addahiyah.

Dan diri jahir ada dua unsure bahagi pula.

Jasad yang mengandung Ruh.

Ruh yang mengandung Jasad.

Dan diri kita ini mengandung dua aspek.

Diri yang bersifat ketuhanan (lahud)

Diri yang mengandung kehambaan (nasud)

Dan dalam diri kita ini mengandung tiga Rahasia.

Rasa yang Hak (rasa tuhan)

Rasa Muhammad (Nur Muhammad)

Rasa Adam (rasa yang tercela).

 

Dan didalam diri kita ini ada suatu perbendaharaan yang tersembunyi : disitu ada mahligai. Didalam mahligai itu ada alat yang halus , ada yang kasar. Kesemuanya itu adalah berupa amanah tuhan dan suatu titipan Tuhan kepada hambanya. Amanah itu ialah suatu titipan Ruh dan itulah yang wajib kita pelihara dan kita jaga kemurniaannya.

 

Ruh inilah yang sanggup mengenal Tuhannya. Dan yang sanggup melaksanakan sebagai khalifah didalam bumi ini. Apakah alat yang halus dan kasar itu tadi?

 

4.1.11. Cara pandangan itu ada dua macam,pertama :

 

SYUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH, artinya : memandang yang satu kepada yang banyak. Dimana pokok pandangan dimulai dari syuhud bathin, naik kepada Nur bathin, dan kepada ilmu bathin. Dan akhirnya sampai kepada ujud bathin.

 

SYUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH, Artinya : memandang banyak kepada yang satu. Pandangan ini dimulai pada pangkal pertama yakni ujud bathin yang hakikatnya Zat semata-mata dan Zat yang satu itulah yang menerbitkan ilmu bathin ; yakni Sifat.

 

Dan juga Nur bathin yakni Asma. Bahkan syuhud bathin yakni Af’al. maka apabila yang banyak itu berasal dari yang satu :akhirnya akan kembali juga kepada yang satu. Dan apabila sekarang kita sudah kembalikan,maka tidak ada lagi ujud kecuali Allah semata. Tamsil, cahaya terang itu adalah permulaan dari sinar matahari,yang disebut siang. Sebelum itu didapat, lebih dahulu yang dipandang itu adalah cahayanya yang terang tersebut. Kemudian baru sinar yang menerangi itu, sinar itu menyatakan cahaya matahari. Meskipun tidak tampak, karena sinar itu tidak lepas dari matahari. Bahkan cahaya terang itu juga menyatakan adanya matahari, karena datang dari sinar yang ada pada matahari tersebut.

 

Maka apabila sudah lenyap dan fana segala yang lain daripada Allah Ta’ala dan sudah lenyap segala sifat-sifat kejadian,yakni majhor kenyataan,maka akan tercapailah makam baqa ; yang disebut juga makam tajali atau Nampak, makam Zuhur atau nyata; yang menghasilkan pandangan :

MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH MA’AH Artinya : tidak aku lihat sesuatu, yang Nampak bagiku Allah besertanya.

MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH QABLAH Artinya : tidak aku lihat sesuatu, kecuali yang Nampak bagiku Allah sebelumnya.

MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH BA’DAH Artinya : tidak aku lihat sesuatu, yang Nampak bagiku Allah sesudahnya.

MA RAYTU SYAI’A ILLA WAROITULLAH FI’IH Artinya : tidak aku lihat sesuatu, kecuali yang Nampak bagiku Allah dalamnya.

 

Demikianlah makam yang dicari setelah melewati fana dan fana ul fana, bagi orang-

orang yang beriman untuk mendapat keteguhan iman dalam bersuluk.

 

 

IV.5.1.1  FANA DALAM TINGKATAN

 

Fana pada Af’al (perbuatan), sampai merasakan bahwa tidak ada satu perbuatan pun didalam ala mini.selain dari perbuatan Allah Ta’ala.

 

Fana pada Sifat, hingga sampai menyakinkan bahwa tidak ada yang hidup kecuali Allah.

 

Apabila dikatakan tidak ada yang hidup pada hakikatnya kecuali Allah ; berarti juga tidak ada yang kuasa, yang berkehendak, yang ber-ilmu, yang mendengar, yang melihat, dan yang berkata-kata, kecuali Allah semata-mata.

 

Fana pada Zat ialah ; hilang ujud yang lahir ini dan alam seluruhnya dan pandangan ; kecuali Allah.

 

Jadi barang siapa yang melihat mahluk tidak punya perbuatan pada mereka, maka sesungguhnya ia menang.

 

Dan barang siapa yang melihat mahluk yang tidak ada hidup pada mereka, maka derajatnya telah naik. Barang siapa melihat mahluk tidak ada pada hakikatnya, maka ia telah sampai kepada titik yang dituju, yaitu titik puncak ilmu dan ma’rifat.

 

Apabila kita sudah menjalani yang tiga perkara ini, maka itulah makam fana namanya, dan selanjutnya naik kemakam baqa, makam baqa itu ialah : HU ITU ALLAH TA’ALA. Sedang makam fana kesimpulannya kepada : LAMAUJUDA BIHAQQIN ILLALLAH. Tidak ada yang maujud, kecuali Allah Ta’ala.

 

Bila rasa faham dan mengerti, kita temukan maka kuburlah ia. Jangan dibeberkan ditengah masyarakat umum/awam, nanti bisa membawa fitnah besar.

 

5.1.2.MEN-ESAKAN ALLAH TA‘ALA

TAUHIDUL AF’AL.

MEN-ESAKAN ALLAH TA’ALA PADA PERBUATAN

 

Dalam pelajaran atau pengajian-pengajian kita yang terdahul sudah kita jelaskan/kita sampaikan, titik tujuan pelajaran dan ilmu tasawuf adalah menuju jalan kembali kepada Allah dan supaya liqo/ bertemu Allah, maka jalan bagi salik/ penuntut haruslah dimulai dengan mempelajari dan mengamalkan tauhidul af’al,

artinya : men-esakan Allah Ta’ala pada segala perbuatan, yakni meninggalkan seluruh perbuatan yang ada pada makhluk ini kepada Allah. Maksudnya pandanganlah olehmu dengan syuhud hati dan dengan mata mata kepala dengan itikad yang putus dan dengan haqqul yakin, bahwa segala perbuatan dan gerakan yang ada terlihat dalam ala mini, baik yang datang dari diri kita sendiri maupun yang datang dari semua mahluk yang ada dalam ala mini : baik perbuatan yang diridhoi oleh syara maupun yang dilarang oleh syara ; adalah kesemuanya itu perbuatan Allah Ta’ala.

Memang itu perbuatan Allah; maka kalau kita lihat pada lahirnya segala perbuatan itu dilakukan oleh manusia/hamba dan segala hayawan dan lain-lain sebagainya. Tetapi namun kita teliti dengan cermat dan dengan penuh keyakainan dan dengan tinjauan akal, dengan seksama bahwasanya memang mahluk ini lemah, daif, hina tak punya daya upaya sama sekali. Dan tidak punya sifat ta’sir dan sebagainya. Sedangkan segala pebuatan itu tidak akan ada kalau sifat yang memperbuat itu tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat ta’sir itu ialah Qudrat, Iradat, ilmu, hayat sedang semua sifat-sifat itu ialah kepunyaan dan milik Allah. Jadi segala perbuatan yang ada terlihat pada ala mini dan diri kita, itulah perbuatan mazazi belaka,dan bukan hakiki. Itu adalah majhor dan kenyataan perbuatan Allah kepada kita.

 

Allah menyandarkan perbuatannya kepada kita, adalah tanda kasih sayangnya, supaya kita punya titik dan penempatan mengenal perbuatan Allah dan ZATNya. Disamping itu juga merupakan coba dan ujian kepada kita ; apakah kita sanggup memandang perbuataan Allah, atau menjadi orang buta dan sirik, mengakui/kekuatan dan perbuatan dia sendiri lahir dan bathin/luar dan dalam.

 

Kenyataan dan kejahiran perbuatan Allah kepada hambanya ; inilah oleh kaum sufi disebut usaha ihtiar hamba. Dan disinilah takluknya hukum syara’.

SYEH WAHAB SYAHRANI berkata ; beliau ada mendengar dari syaidina ALI AL HAWAS ia berkata : Wajib bagi hamba meng’itiqadkan bahwa segala perbuatan dan usaha ikhtiar hamba, sama sekali tidak membekas dengan sekira-kira takwin dan atsar.

 

Lebih jauh beliau berkata, Allah menghendaki mengadakan suatu harakat atau yang disebut gerak perbuata, maka tidak akan ada ujunya  kecuali pada maddah atau tempat yang menerima hokum yang dimaksud ; mustahil ada ujud gerak atau perbuatan tanpa ada maddah itu.

 

Maka yang dijadikan maddah atau tempat menjahirkan perbuatan Allah itu, adalah hamba dan lain-lainnya. Itulah sebabnya dipandang ada segi lain, ada perbuatan hamba.

 

Sangat banyak sekali penjelasan dalam Al qur’an dan hadits-hadits nabi yang memberikan keterangan2  bahwa hamba atau mahluk ini sama sekali tidak punya perbuatan. Antara lain menegaskan, Allah S.W.T. berfirman dalam surah AS. Shaa : 96 “WALLAHU KHOLAQOKUM WAMAA TA’MALUN artinya : Allah yang menjadikan kamu dan segala perbuatan kamu.

Dan lagi ayat yang berbunyi : “WAMAA ROMAITA IZROMAITA 

WALAKINNALAHA HAROMA”

 

Artinya ; Hai Muhammad bukanlah engkau yang  melempar dikala engkau melempar, tapi Allah Lah yang melempar dikala engkau melempar ( surah anfaal 17 ).Jadi untuk kemantapan pandangan kita,kita harus selalu melatih diri dengan tidak bosan-bosannya mensyuhud perbuatan Allah Ta’ala Azzawazalla. kita hendak lah dalam hidup ini tidak hanya melihat yang tersurat saja,tetapi juga yang tersirat.

 

Dengan basyirah hati kita ini, biar saja mata melihat perbuatan alam,namun dalam hati melihat perbuatan Allah.

Biar saja telinga mendengar alam, namun hati kepada Allah. Biar saja mulut mengatakan perbuatan si A si B dan si C, namun hati tetap tercurah kepada Allah.

 

Boleh saja buat misal sekedar untuk mendekatkan kepada Allah (kepada faham).

Bahwa alam AKUAN yang kita lihat ini dengan bermacam-macam corak dan ragam, hendaknya tak ubahnya laksana kita melihat bayangan yang hati kita akan tertuju kepada yang punya bayang-bayang itu. Tidak mungkin bergerak bayang bayang, tanpa bergerak yang punya bayang-bayang. Jadi kesimpulannya adalah : tiada yang hidup, tiada yang tahu, tiada yang kuasa, tiada yang berkehendak dan tiada yang berkata-kata pada hakikatnya melainkan Allah Ta’ala.

 

Adapun zahir sifat ini kepada mahluk adalah tempat memandang sifat-sifat Tuhan yang zahir pada mahluk, yakni bayang-bayang sifat tuhan kepada hamba.

 

Seperti ujud kita adalah baying-bayang ujud Allah Ta’ala. Mustahil ujud bayang-bayang dengan tiada ujud  yang mempunyai/empunya baying-bayang.

 

Dan mustahil pula bergerak baying-bayang dengan tiada bergerak yang empunya baying-bayang. Bermula misal ini karena untuk menghampirkan faham jua adanya.

 

Jadi untuk kemantapan pandangan ini bahwa mahluk ini tiada mempunyai perbuatan barang perbuatan, hanya saja perbuatan yang ada dalam ala mini perbuatan,hanya saja perbuatan Tuhan Allah semata-mata.

 

Dan jika engkau sangka ada perbuatan lainnya daripadanya, walaupun sebesar zarroh, maka sirik lah engkau,artinya : mensekutukan Tuhan dengan lainnya,(syirik khafi).

 

Demikianlah orang yang hendak men-esakan Allah Ta’ala pada Af’al atau perbuatan, tanamkanlah keyakinan kita itu kedalam lubuk jiwa yang sangat mendalam.

 

Dan tidak bergeser walau sebesar zarrohpun, kalau sudah mantap pandangan akan Af’al Allah Ta’ala maka manunggallah perbuatanmu (manunggal dalam rahasia) dengan Af’al-Nya.

 

5.1.3.  TAUHIDUL ASMA

MEN-ESAKAN ALLAH TA’ALA PADA ASMA

 

Maksud dan tujuan meesakan Allah Ta’ala pada nama : yaitu yang sebenarnya ialah untuk mengenal Zat Allah,sehingga manakala kita memandang,mendengar,atau melihat nama apapun jua pada mahluk ini,maka tercurahlah pandangan basyirah kita dan perhatian kita kepada Allah s.w.t. Adapun pengertiaan meesakan sama itu ialah menyatukan, meninggalkan, dan mengembalikan seluruh nama-nama atau nama-nama yang ada pada mahluk ini, kepada nama dan Zat Allah Ta’ala.

 

Baik nama-nama yang menurut hikmah dan manfa’at daripada benda ala mini ataupun nama-nama menurut perbuatan mahluk ini,yang disebut dengan nama perbuatan atau asmaul af’al. sekiranya dalam pandangan basyirah  hati kita tidak ada yang bernama kecuali Allah.

 

Jadi nama-nama ini tidak terbatas kepada asmaul husna saja,tetapi lebih luas dan lebih mendalam sekali atau tak dapat dihinggakan. Bermula kalfiat meesakan Allah Ta’ala pada asma itu,yaitu kita pandang dengan mata kepala dan dengan mata hati kita pada asma Tuhan semata. Atau harus dikembalikan kepada Allah Ta’ala dengan dalil-dalil dan alasan sebagai berikut :

Karena af’al mahluk adalah majhor dan kenyataan perbuatan Allah. Maka begitu juga asma mahluk adalah majhor asma Allah yang tujuannya adalah untuk mengenal Allah. Tiap-tiap nama menuntut ujud musama,yakni tiap-tiap nama tidak pisah dengan zat yang empunya nama. Sedangkan kalau diperiksa dengan teliti dan dipandang dengan pandangan ma’rifat,maka tidak ada yang maujud pada hakikatnya kecuali Zat Allah Ta’ala. Allah berfirman : WALILLAHIL ASMA UL HUSNA FAD’UHU BINAA. Artinya : Bagi Allah ada nama yang baik-baik ,maka beroleh kamu dengan DIA. Sabda Rasulullah S.A.W : INNAMA TAD’UUMA MAN HUWA SAMI’UN  BASYIRUN,MUTAKALLIMUN, WA HUWA MA’AKUM AINAMA KUNTUM. Artinya : hanya saja kamu berdoa kepada Tuhan yang maha mendengar lagi maha melihat, dan yang berkata-kata dan DIA selalu beserta kamu dimana saja kamu berada.

 

Adapun cara kita mamusahadakan pandangan ini ialah dengan dua cara yaitu : SYUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH dan SYUHUDUL  WAHDAH FIL KASRAH. Artinya : Pandang yang banyak pada yang satu. Dan pandang yang satu pada yang banyak. Disni hamba simpulkan saja bahwa : Seluruh ASMA ini dari Allah dan kembali kepada Allah. Jadi pada hakikatnya nama-nama yang ada pada mahluk ini nyata adalah : nama-nama Tuhan Allah.

 

Maka dari itu wahai sekalian penuntut,mantapkan lah pandanganmu  dalam segala perkara,supaya ia tetap bagimu. Kalau sudah mantap pandanganmu, maka engkau yang bernama halifah Tuhan dalam dunia fana ini.

 

Sekarang baiklah kita teruskan tentang meesakan sifat Allah Ta’ala. Tetapi sebelum kita membicarakan tentang meesakan sifat Allah Ta’ala : maka baiklah anda sekalian hamba bawa kepada membicarakan tentang ayat Alqur’an yang berbunyi :

 

FA’ILUN ILALLAH, Artinya SEMUA KERJA DARI ALLAH. Maka yakinlah kita sekarang ini tak da yang perlu kita ragukan lagi. Karena sysk dan ragu itu adalah musuh kemerdekaan akal. Demikianlah penjelasan hamba mengenai tauhidul asma.

 

Sekarang baiklah kita teruskan kepada membicarakan tentang me-esakan Allah Ta’ala pada sifat,artinya : seluruh sifat-sifat yang ada dalam alam ini, dimiliki kepada sifat Hayat.

 

 

 

5.1.4.  TAUHIDUS SIFAT

MEN-ESAKAN ALLAH TA’ALA PADA SEGALA SIFAT

 

             Maksudnya meesakan Allah Ta’ala pada segala sifat ialah : megembalikan, meninggalkan seluruh sifat-sifat yang ada pada mahluk ini kedalam sifat-sifat Allah S.W.T., dengan pengertian  yaitu memfanakan sifat-sifat mahluk ini,kedalam sifat-sifat Allah Ta’ala sehingga tercapailah pandangan,bahwa tidak ada yang bersifat  kecuali Allah Ta’ala saja.

 

Adapun tujuannya adalah untuk ma’rifat kepada Allah,sedangkan sifat-sifat yang ada pada mahluk ini adalah nyata sifat-sifat Allah Ta’ala. Dan sengaja Allah sahirkan sifat-sifatnya itu kepada hambanya atau mahluknya, karena rahmatnya supaya mahluk itu sendiri mempunyai tangga dan jembatan untuk mengenal sifat-sifat Allah. Dan bukan jadi dinding dan hijab untuk melihat sifat-sifat Allah, Tuhan yang kita cari, kita cintai.

Adapun kaifiat dan cara memandang sifat Tuhan itu ialah :

Engkau pandang dengan hatimu dan dengan mata kepalamu dengan hakkul yakin dan dengan itiqad yang putus, bahwasanya tidak ada yang bersifat dialam alam ini kecuali Allah. Seperti : kudrat, iradat, ilmu, hayat, sama, basyar dan kalam. Semuanya adalah sifat-sifat Allah.

 

Jadi sifat-sifat yang ada pada mahluk ini adalah sifat-sifat majaji belaka,bukan hakiki. Maka daripada itu nyatalah kepada kita bahwa sifat-sifat yang ada pada kita sekarang ini adalah nyata sifat-sifat Tuhan Allah semata. Kalau kita sudah mengembalikan sifat-sifat yang ada pada kita itu kepada Allah, niscaya fanalah sifat-sifat kita itu kepada sifat-sifat Allah.

 

Sehingga tidak ada lagi yang bersifat,kecuali Allah. Jadi jelaslah sudah kepada kita bahwa : kita ini tidak punya perbuatan,tidak punya nama dan tidak punya sifat kecuali Tuhan. Sekarang tinggal lagi mengeesakan Allah Ta’ala pada Zatnya.

 

 

BEBERAPA PENJELASAN

 

Sebelum kita membicarakan tentang tauhidul Zat. Maka marilah kita jelaskan dahulu tentang tauhidis sifat itu tadi. Didalam istilah ilmu tasauf ada beberapa perkataan  yang menyangkut masalah sifat itu tadi. Kata-kata itu seperti dibawah ini :

 

ZAIDUN MAAQAAMA, MANQALA, MANFAKA, MAAKUMA, LA’UDMA, QADIMUN, LA HANA.

 

Maksudnya ialah : tentang dari sifat-sifat  itu sebagai berikut :

Sifat-sifat Allah itu tidaklah berdiri kepada ZAT. ( tidak berdirinya seprti sifat hitam kepada sesuatu benda ). Maksudnya tidak berpindah dari Zatnya, tidak terlepas daripada Zatnya. Dan tidak tersembunyi dari Zatnya, bukan berarti tidak ada. Dia qadim karena qadimnya zat,dan tidak akan binasa selamanya, jadi begitulah hakikat sifat-sifat Tuhan tidak pernah berpindah kepada mahluknya. Ia seperti nafi isbat jua,tidak bercerai dan tidak bersatu,tetapi memang satu dalam rahasia. Maka dari itu supaya  hambanya dapat mengenal sifat-sifat Tuhan. Ia zahirkan NUR dan benderangnya sifat-sifatnya itu kepada Roh kita, seperti sudah kita jelaskan dahulu tadi.

Jadi kalau tahkik pandangan kita dengan cara demikian, niscaya fanalah sifat-sifat kita dan mahluk sekaliannya kedalam sifat Allah. Maka dapatlah kita rasakan bahwa : tidak mendengar kita, tidak melihat kita, tidak berkata-kata kita, tidak tahu kita, melainkan dengan pendengaran Allah, dengan penglihatan Allah, dengan kalam Allah, dengan tahunya Allah. Dan tidak hidup kita ini,melainkan hayatullah zat, hingga yang lainya daripada sifat-sifat Allah S.W.T. semata-mata. Demikianlah penjelasan hamba. Baiklah kita teruskan kepada mengeesakan Allah Ta’ala pada ZAT,agar supaya para penuntut menjadi maklum adanya.

 

5.1.5. TAUHIDUL ZAT

ME-ESAKAN ALLAH TA’ALA PADA ZAT

 

             Meesakan Allah Ta’ala pada zat adalah jalan yang terakhir dari perjalan seorang salik. Disnilah titik  terakhir bagi arifibillah untuk menuju Allah dan disini perhentian perjalanan kaum sufi dan para wali-wali.

 

Dan disinilah batasnya mi’rojnya orang-orang mukmin sejati. Apabila sudah mencapai kepada makam tauhidul zat itu,maka diperolehnya kelezatan dan kenikmatan yang tiada taranya.

Hanya dengan itulah yang dapat memuaskan dahaga jiwanya : menenangkan qalbunya,nikmat-nikmat yang tak dapat diperoleh orang lainnya. Inilah puncak rasa menikmati ridhonya : puncak kebahagiaan yang kekal dan abadi sepanjang masa. Bermula kaifiat atau cara meesakan Allah Ta’ala pada zatnya, yaitu : engkau pandang dengan mata hatimu dan curahkan seluruh perhatianmu itu semata-mata kepada Tuhan seru sekalian alam. Karena sudah nyata kepada kita bahwa :

 

TIADA YANG MAUJUD DALAM ALAM INI,KECUALI ALLAH. DAN TIADA MAUJUD YANG DALAM UJUD INI,HANYA ALLAH.  TIADA/TIDAK DALAM JUBAH MELAINKAN ALLAH. DAN TIDAK ADA DIDALAM YANG ADA INI,KECUALI DIA. Karena sudah jelas bagi arifibillah,bahwa : AL HAK ADA PADA NABI KITA MUHAMMAD S.A.W.

 

Kalau akhlak ada pada Rasulullah S.A.W,demikianlah ada pada kita. Demikianlah hamba tambahkan supaya anda menjadi faham,dan supaya dapat melaksanakan tugas masing-masing.

Firman Allah Ta’ala : AL INSANU SIRRI WA ANA SIRROHU. Artinya insan itu rahasiaku dan akupun rahasianya. Dan lagi firmannya : AL INSANU SIRRI WA ANA SIRRI WASIFATIN WA SIFATUN LAGOIRIH. Artinya insan itu rahasiaku, rahasiaku itu sifatku, dan sifatku itu tiada lain daripada aku jua.

            

             Jadi jelas kepada kita bahwa memang : LA MAUJUDA BIHAQQIN ILALLAH. Artinya tiada yang maujud didalam alam ini, melainkan Allah.

Pandangan yang demikian adalah dengan alasan-alasan :

 

Semua zat mahluk itu nampak dilihat dengan mata ini, bukan hakiki ( rusak ). Dan itu hanya ujud hayali dan wahmi jua,yaitu sangka-sangka saja,dengan tidak beralasan,karena ujudnya berada antara dua ADAM. Sedang ujud yang berada antara dua itu,hukumnya ADAM,yaitu : ujud hayal.

Sedang ujud Adam itu tiada maujud pada hakikatnya,hanyalah ia maujud kepada Allah Ta’ala yang hakiki dan fana dibawah ujudnya. Ujud yang lain daripada ujud Allah semuanya qaim,artinya berhajat kepada Allah Ta’ala. Jadi jelasnya begini dia tidak akan ujud,kalau tidak diwujudkan oleh Allah Ta’ala. Yaitu : yang biasanya disebut dengan majhor atau kenyataan ujud Allah Ta’ala.

Adanya nyata : dan semua ujud ala mini adalah yang dimaksudkan hanya sekedar dalil titian untuk memandang kepada zat Allah Ta’ala.

Jadi pada pelajaran yang lalu itu sudah kita jelaskan bahwa sifat-sifat yang ada pada mahluk ini nyata sifst-sifat Allah S.W.T, Jadi kalau demikian jelas dan nyata bahwa : zat mahluk ini berarti juga sesungguhnya nyata sifat dan afi ’al,tidak lepas dari zat.

Ujud semesta ala mini tak ubahnya laksana debu yang terbang atau diterbangkan oleh angin diangkasa : pada penglihatan mata ada,tapi kalu dicari tak ada. Kalau sekiranya ada ujud ala mini pada hakikatnya,maka pasti pula ada sifat-sifat atau af’al yang member bekas itu. Sedangkan semua itu sifat dan af’al yang memberi bekas itu tidaklah ada,selain daripada sifat dan af’al Allah Ta’ala semata-mata.

SYEH SIDIK IBNU UMAR KHAN berkata : Semua ujud lain daripada Allah Ta’ala,laksana ujud sesuatu yang kita lihat dalam mimpi. Tidak ada baginya hakikat apabila kita terbangun dari tidur,maka hilanglah semua itu. Begitulah hendaknya pandangan kita terhadap ujud ala mini sesuai dengan hadist yang berbunyi : FALANNASU NIYA’AFAIJA MA’ATU INTABAHUA. Artinya ; manusia adalah tidur apabila mereka mati,barulah mereka bangun atau jaga.

 

             Baiklah kita uraikan sedikit tentang hadist yang baru kit abaca tadi,supaya kita faham. Manusia semuanya itu tidur,apabila bangun barulah mereka jaga,maksud hadist ini tadi ialah : orang yang hidup dengan hawa nafsunya sendiri,bagaikan orang yang tidur,walaupun ia dalam keadaan bangun. Mereka berbangga dengan nafsunya sendiri dan dengan akuanya,tetapi orang yang telah sampai kepada rahasia yang satu itu,itulah orang yang bangun dari tidurnya. Jadi siapapun yang masih tidur,maka mereka itu tetap betah pada nafsunya sendiri,yaitu yang belum mengembalikan hak Allah Ta’ala,mereka itu tetap dalam hak Adam Demikianlah sepintas kilas hamba uraikan dan yang dimaksud mati disini ialah : mati ma’nawi atau mati ma’na saja. Itu sesuai dengan hadist nabi Muhammad S.A.W., yang berbunyi :

 

“ANTAL MAUTUQOBLAL MAUTU”

Artinya matikan dirimu sebelum engkau mati.

 

             Jadi disini adalah mati nafsu saja. Maka daripada itu untuk mematikan nafsu itu jalannya ialah melepaskan diri dari belenggu penjajahan hawa nafsu angkara murka. Jalannya ialah mengikuti jalan sufiah,yang mereka itu telah berada dipuncak. Demikian seperti apa-apa yang hamba uraikan menurut yang terdahulu itu. Untuk lebih mantapnya lagi, baiklah hamba bawa anda kedalam laut ma’rifat yang penuh dengan ombak dan badai,sehingga anda bisa mabuk karenanya. Mabuk disini artinya : Karam lenyap, hancur dan lebur kedalam hakikat hidup yang sebenarnya. Yaitu lebur kedalam hidup yang sejati telah Esa dengan seisi alam dan bersatu dengan seluruh per-kemanusiaan. Demikianlah contoh bagi orang yang hendak mengenal diri. Sekarang baiklah kita berkisar pula kepada membicarakan tentang makam fana atau maka binasa.

 

5.1.6. MAKAM FANA/MAKAM BINASA

 

             Makam fana ialah : Hilangnya ujud kita ini lahir dan bathin. Bukan hilang pada nafsu ammaroh, tetapi hilang dalam pandangan makhluk, kalau kita sudah benar-benar memesrakan diri kita lahir bathin kepada Nur Muhammad dan bersatu dengan seluruh perikemanusiaan dan bersatu dengan seluruh perikemanusaiaan dan bersatu dengan seluruh alam, maka kalau sudah beroleh wasiat, hingga lenyaplah sifat-sifat Allah Ta’ala.

Inilah yang disebut dengan fana dan baqa ;

 

a. kudrat kita lenyapkan kepada kudrat Allah Ta’ala,

b. iradat kita lenyapkan kepada iradat Allah Ta’ala,

c. ilmu kita lenyapkan kepada ilmu Allah Ta’ala,

d. hayat kta lenyapkan kepada hayatullah Zat,

e. pendengaran kita lenyapkan kepada pendengaran Allah Ta’ala,

f. penglihatan kita lenyapkan kepada penglihatan Allah Ta’ala,

g.perkataan kta lenyapkan kepada perkataan Allah Ta’ala.

 

                Maksud diatas tadi ialah :

a. wala qadirun            : tiada kuasa hanya Allah Ta’ala,

b. wala muridun          : tiada berkehendak hanya Allah Ta’ala,

c. wala alimun             : tiada tahu hanya Allah Ta’ala,

d. wala hayyun            : tiada hayat/hidup hanya Allah Ta’ala,

e. wala basyirun          : tiada melihat hanya Allah Ta’ala,

f. wala sami’un            : tiada mendengar hanya Allah Ta’ala,

g. wala muttakalimun  : tiada yang berkata-kata hanya Allah Ta’ala.

 

Jadi kalau sudah begini fana lah zat kita dan sifat kita zahir dan bathin,inilah dalilnya.

 

1. MAUJUDUN WAHIDUN : Ujud yang empunya ujud Esa.

2. WAJATUN WAMAUSUFUN : Zat dengan empunya zat adalah Esa jua.

3. SIFATUN WAMAUSUFUN,Wahidun sifatun wahidun ; sifat dengan empunya

sifat adalah Esa.

 

ASMAUN WAMAUSFUN,Wa asmaun wahidun ; nama dengan yang empunya nama adalah Esa jua.

AF’ALUN WAMAUSUFUN,af’alun wahidun ; af’al dengan yang empunya af’al Esa jua.

 

Jadi inilah yang disebt arti dan makna yang sebenarnya daripada fana dan baqa itu tadi.Inilah arti fana dan baqa yang dituntut oleh seorang salik/penuntut/tholib/murid. Adapun alam insan itu terhimpun kepada diatas daripada segala alam,jika bukan karena insane, se-suatu pun tiada dijadikan/dijahirkan oleh Tuhan selamanya. Dalil menyatakan : Al insane sirri wa ana sirrohu, artinya insan itu rahasiaku dan akupun rahasianya. Dan lagi : Al insanu sirri wa ana sirri,sifatun wasifatin lagoirih : artinya ; insan itu rahasiaku,rahasiaku itu sifatku,tiada lain daripadaku jua.

 

Maka dari itulah insan dilebihkan oleh Allah Ta’ala daripada malaikat ; pun demikian lah hendaknya itikad kita adanya. Yaitu : itiqad yang putus adanya,dan tiadanya,dan adanya.

 

             Kalau anda sudah faham benar berarti putus itiqadnya, dan tiadanya dan adanya; maka barulah mendapat makan ARIFIN yang sebenarnya. Baiklah hamba uraikan secara ringakas tentang; ADANYA DAN TIADANYA.

MANUNGGAL DUA UNSUR KETIDAK ADAANYA : ADALAH

KEADAANYA,DAN KEADAANYA ADALAH KETIADAANYA.

Sekarang baiklah kita buat contoh/missal :

Kalimah : LA ILAHA ILLALAH itu meliputi sangkalan dan pengakuan. Adalah keadaan/ adanya dan tiadanya keadaannya/tiadanya, artinya : hakikat dari Tuhan adalah tiadanya? Dalam ketidak adaannya/tiadanya : DIA mulai ADA. Yang terakhir lagi disebut : keadaan yang abadi.

 

Itulah makna atau arti dari : ADANYA DAN TIADANYA.

Sekarang kita teruskan sedikit lagi tentang ada dan tiada. Keadaan yang abadi dan ketidak adaanya keduanya sekalian bersamaan (sekaligus bersamaan). Adalah merupakan : Ujud dati Tuhan. Sangkalan mengandung pengakuan yang positif.

Jadi disini sangkalan dan pengakuan tidaklah terpisah dan tidaklah tersentuh, maksudnya ialah : bercerai tidak ,bersatu tidak : akan tetapi keduanya Nafi dan dibatasi oleh kalimah ILA dan tidak boleh masuk kedalam kalimah ILLALLAH.

 

Selanjutnya kita harus tahu keadaan harus memberi petunjuk yang terang tentang apa yang dianggap ada, seperti suatu petunjuk terhadap yang ditunjuk.

Jadi rumus ILLALLAH adalah yang dianggap sebagai ADA. Maka mutlak lah nama keadaan yang maha mulia dari Tuhan Allah Azzawalla, hanya untuk dialah rumus ILALLAH itu tepat. Jadi kesimpulannya adalah : SERBA ESA,SERBA SATU,DAN HITUNGAN SEGALA JIWA-PUN ADALAH SATU (DALAM RAHASIA TUHAN).

Disini tidak ada lagi dua faham dalam ujud,tidak ada lagi dua kata dalam perbuatan,tidak ada lagi dua unsur dalam asma dan tidak ada lagi dua jenis kehidupan. Dan tidak ada lagi dua rumus dalam Zat dan Sifat segalanya : QADIRUN BI ZATIHI, MURIDUN BI ZATIHI, ALIMUN BIZATIHI, HAYUN BIZATIHI,SAMIUN BIZATIHI, BASYIRUN BIZATIHI, DAN MUTTAKALIMUN BIZATIHI.

 

Jadi siapa sudah Faham,merekalah yang beroleh ilham.

 

Sekarang kita teruskan pembicaraan kita kepada tentang hakikat Muhammad secara ringkasnya.

Hakikat Muhammad itu ialah NUR MUHAMMAD.

NUR MUHAMMAD itu ialah HAKIKAT ALAM.

NUR MUHAMMAD atau HAKIKAT MUHAMMAD disebut juga NUR AWAL, artinya asal segala kejadian dan akhir segala kenabian : ALHAK dan dia pada Nabi. Itulah sebabnya hakikat MUHAMMADitu disebut utusan, maka kalau hakikat Muhammad itu disebut utusan tuhan maka carilah dan galilah sedalam-dalamnya hakikat hidup kita ini,supaya bisa pulang kembali keasalnya,yaitu kembali kepada hidup yang sejati, yaitu hidupnya tuhan yang kekal dan abadi,dan asali dan tidak terkena rusak. Itulah yang disebut Zat yang maha besar HAK Tuhan Allah yang dikenal dengan sebutan : HAQQULLAH TA’ALA.

 

             Itulah tempat kembali, tempat manusia Ma’rifat, sebagai kesempurnaan kita yang sejati dan abadi. HAQQULLAH itu adalah sebagai kenyataan kita yaitu, untuk alam akhirat nanti dan alam dunia ini.

 

5.1.7. LIQO-PERTEMUAN

 

Bertemunya makhluk manusia kepada Tuhan dan sampainya, itulah puncak harapan, dan dengan itulah ia mencapai akan kebahagiaan dan kerajaan besar, bahkan dengan itulah ia akan lupa dan terhibur dari segala sesuatu selain Allah. Apabila tuhan membukakan bagimu jalan untuk ma’rifat atau mengenal kepadanya, maka janganlah engkau menghiraukan asal amalmu yang masih sedikit umpamanya.

Sebab Tuhan tidak membukakan bagimu, melainkan Ia memperkenalkan DiriNya kepadamu. Tidaklah engkau ketahui bahwa ma’rifat itu adalah puncak keuntungan seorang hamba, maka tak usah kau hiraukan berapa banyak banyak amal kebaikanmu atau amal perbuatanmu, meskipun masih sedikit amalmu dengan anggota yang lahir, Ma’rifat itu suatu karunia pemberian Allah kepadamu, maka Ia sekali-kali tidak tergantung kepada banyak atau sedikitnya amal kebaikanmu.

Andaikata engkau tidak dapat sampai kepada Allah :  kecuali sesudah habis lenyap semua dosa dan kekotoran sirik,  niscaya engkau tak dapat sampai kepadanya. Untuk selamanya. Tetapi bila Allah menarik engkau kepadanya, maka Allah menutupi sifat2mu dengan sifatNya, dan kekuranganmu dangan kurniaNya. Hilangkan pandangan mahkluk kepadamu,karena puas dengan Penglihatan Allah kepadamu. Dan lupakan perhatian makhluk kepadamu,karena melihat bahwa Allah menghadap kepadamu.

Sebaik-baik saat dalam hidupmu : ialah saat ingat kepada tuhan,dan ptus hubungan dengan segala sesuatu yang lainnya.

 

Dan apabila pada saat itu tidak ada lagi pandangan yang lainnya dari Allah, maka pada saat itu murnilah pengertian tauhidmu kepada Allah.

Nikmat itu meskipun beraneka macam bentuknya : hanya disebabkan karena melihat dan dekatnya Allah. Demikianlah pula siksa itu walaupun ber macam-macam bentuknya itu hanya karena terhijab dari Allah. Demikanlah pandangan orang yang faham. Kesimpulannya adalah : siksa itu karena adanya hijab. Dan nikmat itu karena melihat kepada Zat yang wajibal ujud. Dan siapa fana dengan Allah: pastilah ia lupa segala sesuatu, dan siapa yang benar2 mengenal kepada Allah, Niscaya tiada risau dan sedih  lagin menghadap hidup ini. Lagi pula barang siapa telah sampai titik puncak, Wali Allah namanya, atau yang sering disebut : AL ALIMURROBANIYAH,( Alim yang sebenarnya).

 

Ma’rifat yang paling tinggi dan yang paling dianugrahi Allah Ta’ala dengan ilmu Terbayang.

Apakah ilmu terbayang itu?

Yang dimaksud ilmu ternyang itu ialah ; ILMU LADUNIYAH, yang tiada mudah hilang.

Sedang ilmu yang tampak ini mudah hilang dibawa angin lalu, jadi yang dinamakan ilmu yang tampak ialah ilmu hafalan dan darusan. Apabila lupa ia dengan ilmunya,niscaya terhenti bicaranya(lafalnya). Karena kalau diteruskan bisa membawa kehancuran dan kerusakan menyeluruh. Itulah dia ilmu yang tampak. Sedang ilmu terbayang tak pernah pudar untuk selama-lamanya. Ilmu yang tampak hanya dimilki orang alim fiqih, sedang ilmu terbayang dimilki oleh Ahlullah.

Jadi ilmu yang tampak kitu hanya bercahaya dalam alam dunia ini saja. Sedang ilmu yang terbayang,bercahaya-cahaya meliputi hati orang yang memiliki qalbun salim. Artinya ; hati yang latif yang bersifat ketuhanan(Lahud).

 

Itulah DIA yang disebut cahaya yang cerlang cemerlang yang tiada harapan tuhan bartajali kepadanya. Dia bukan Zat, bukan benda dan bukan materi : tetapi dia adalah ……………………………… yang paling sulit pada segalanya. Itulah DIA kaymiyakbathin, DIA diatas daripada ilmu yang ada dalam dunia ini.

Kalau masih terhenti kepada ilmu, belumlah ilmu. Ilmu yang sejati ialah : ALIMULGOIBI WASYSYA’ADAH. Ilmu yang seperti ini hanya dianugrahi kepada hambanya yang dikehendakinya.

Ilmu yang nyata boleh untuk semua orang, ilmu yang goib hanya untuk hambanya yang beroleh petunjuk dan anugrah istimewa daripada Allah Ta’ala, bukti nyata lihatlah kepada nabi-nabi. khususnya kepada Nabi Muhammad S.A.W.

Kalam yang tertulis dalam Al qur’an datangnya dariman dan kembalinya atau simpunnya kemana?

Apakah setelah membekas pada kulit2 kayu, daun korma, dibatu dan dikayu2 : sudah hilangkah yang sejatinya?

Apakah Al qur’an itu hanya tertulis di lukh mahfut saja? Adakah lagi lainnya?

 

Bagaimana riwayatnya dan apakah nama tempatnya?

Kitab yang diturunkan Allah kebumi ini ada 104 buah kitab, Adakah kitab yang tersmbunyi dibalik yg 104 itu? Tidak; Kitabullah yang sebenarnya itu apakah ia berhuruf, bersuara, dan merupakn kata-kata?

Manusia ini ini hanya diberikan sedikit saja percikan kalam Tuhan yang hakiki dan Azali. Jadi siapa yang berhajat kepada ilmu, ilmulah namanya, siapa yang berhajat kepada Allah,Allah namanya.

Dan barang siapa tiada berhajat kepada ilmu dan kepada Allah, ITULAH YANG SEBENARNYA ,yang sampai.

 

Inilah makam tuhan yang hakiki dan Azali. Dan inilah makam Ahlul akhirat namanya. Inilah makam nabi-nabi dan rasul-rasul Allah, inilah makam MAHMUDAN namanya: Makam yang terpuji dilangit dan dibumi, jadi siapa yang dikehendaki Allah,semuanya Jadi.

 

Tidak ada tertengah bagi Allah,hanya engkau sendiri kurang faham dengan Allah. Bila engkau faham dengan Allah, maka berarti engkau sefaham dengan Allah. Artinya : fahaman satu rahasia dengan faham Allah. Kemauanmu satu rahasia dengan kemauan Allah. Kebesaranmu satu rahasia dengan kebesaran Allah. Akhirnya Ujudmu dan hidupmu satu rahasia dengan Ujud Allah dan Hayatullah Zat. Dan satu rahasia dengan perikemanusiaan, dan dengan seluruh jagat raya ini. Dan se-gala2nya dalam hal apapun jua, tetapi tetap satu rahasia dengan kebesaran dan kemuliaan dan kekerasan, keelokan dan kesmpurnaan zat. TUHAN YANG MAHA AGUNG DAN YANG MAHA SEMPURNA.

 

5.1.8. PANDANGAN HIDUP MUSLIM

 

Marilah kita menjadi seorang sufi, karena kita adalah pengikut nabi yang telah disucikan dan dibersihkan atau mutafa. Marilah kita menjadi sufi,dalam menghadapi kehidupan sehari-hari,suci dalam perniagaan,sufi dalam pergaulan,sufi dalam hidup kasih saying,dan sufi dalam hubungan dengan Tuhan. Sufi sejati luas perasaannya,tinggi hikmahnya dan putus segala tali pengikat yang mengikat kebebasan jiwa,terikat oleh siapapun,dan oleh apa-apa saja,selain terikat oleh Allah.

Sufi yang sejati meleburkan dirinya kedalam masdar tempat asalnya,fana diri kedalam baqa. Dalam manusia biasa,maksudnya dalam pandangan manusia biasa, Tuhan adalah yang maha kuasa atas alam ini.

 

Alam ini dibolak balikkan,ditelentangkan dan ditelungkupkan oleh satu zat yang maha kuasa : ALLAHU AKBAR. Dalam pandangan sufi memandang bahwa Tuhan itu adalah hakikat ujud dalam hidup ini atau hakikat kekuatan dalam hidup. Kekuatan dan tenaga itulah menjadi gerak gerik hati manusia bahwa gerak gerik alam alam maya pada ini. Sufi yang sejati ialah : yang selalu  ingat kepada Allah dalam setiap saat dan lidah tidak kering-kering menyebut Allah,dengan maksud nyawanya tidak putus mengingat Allah. Meskipun lidah jasmaninya berdiam diri saja. Sufi sejati telah putus segala-gala rantai yang beri batas dengan alam. Rohaninya terbang tinggi laksana burung yang terbang keangkasa luas menyusup awan hijau,ditinggalkannya sangkar,naik keatas puncak gunung,ditinggalkannya gunung naik keatas awan hijau,dia bertahta diatas awan hijau,dipandangnya sangat lemah sekali alam semesta ini,termasuk dirinya,kian lama kian terasa semakin lemah, AKUNYA : yang akhirnya leburlah AKU kedalam hakikat AKU yang sebenarnya. Itulah ufuk tinggi luar biasa,kadang-kadang ia berjumpa dengan orang-orang suci,atau aulia Allah,dan waliAllah,serta orang-orang ahli tasauf.inilah mi’rojnya yang pertama bagi seorang sufi. Jadi kalau aku masih merasa aku,maka belumlah aku sampai kepada inti cinta. Kalau AKUKU : Aku leburkan kedalam engkau,maka AKU adalah ENGKAU dalam segala hal.

 

Kini AKU tiada disana. Hanya engkau tinggal semata. Sekarang AKU tak dapat berkata-kata lagi. Bagaimana AKU menerangkan tentang DIA. Sedangkan AKU dengan AKU,

dan AKU dengan dimana. Kalau AKU kembal, maka dengan AKU kembali itu terpisah.

 

Kalau AKU lalai,dengan lalai itu, AKU diringankan. Apabila AKU berpadu kembali barulah jiwaku menjadi tentram dan damai/bahagia. Inilah pendirianku atau akidahku yang terakhir. Akhirnya : AKUKU LEBUR KEDALAM JIBU.

LAHURUFIN WALA SAUTIN,artinya : Tiada huruf, tiada suara, tiada kata-kata,zat dirinya.

 

Jadi kalau seorang penuntut telah sampai kepada JIBU / LA HURUFIN WALA SAUTIN : Maka pastilah ia faham akan apa-apa yang dibicarakan. Jadi siapa-siapa belum faham,berarti dia belum bisa menangkap segala pembicaraan yang amat halus ini dan sulit baginya untuk memahami. Demikianlah apa-apa yang dapat hamba sampaikan.

 

5.1.9. ALAM DAN TUHAN

 

Kehidupan dan alam penuhlah rahasia-rahasia. Rahasia-rahasia itu tertutup oleh dinding. Diantara dinding-dinding itu ialah hawa nafsu kita sendiri. Tetapi rahasia-rahasia itu mungkin terbuka atau tersimpan. Dan dinding-dinding / hijab itu mungkin tersimbah kita dapat melihat atau merasai berhubungan langsung dengan yang ter-rahasia,asal kita sudi menempuh jalannya. Jalannya ialah jalan yang dinamai tarikat. Dan jalan inilah yang menyampaikan kepada ilmu hakikat. Jadi kumpulan ilmu pengetahuan sariat,kesediannya menempuh jalan tarikat dan mencapainya akan hakikat,dan semuanya 

Jadi ma’rifat itulah kumpulan ilmu pengetahuan,amal dan ibadah. Kumpulan daripada ilmu,dan filsfat agama. Kumpulan daripada pengamalan dan perasaan atau zauq. Dan kumpulan daripada mantik,keindahan dan cinta.

Jadi sariat itu artinya kenyataan,dan tarikat itu jalan. Sedang hakikat itu artinya : yang sebenarnya,yaitu : Itiqad yang sebenarnya,yang wajib dipercayakan dan takluk ia kepada perbuatan hati.

 

Hakikat itu ialah kebenaran sejati dan mutlak. Yang padanyalah ujung segala perjalanan bagaimanapun jauhnya. Akhirnya daripada segala langkah tujuan segala jalan. Dan untuknyalah sariat dan undang-undang,dan didalam perjalanan menuju hakikat itu,orang memulai dari dalam dirinya sendirinya. Untuk mengenal Tuhan kenallah diri ( diri sendiri ). Perjalanan itu dimulai dari dalam kita sendiri dari dalam terus kedalam,ahirnya serba alam dengan keindahannya dan dengan keganjulannya,hanyalah sebagai aksi pencari diri. Disini sering terjadilah cara yang didapat oleh ahli suluk atau ahli perjalanan / tharikat.

Setengahnya karena sakig asyiknya,maka dirasainya bahwa diri tiada lagi. Yang ada hanya yang ada atau: LAMUJUDA BIHAQQIN ILALLAH (hanya Tuhan yang ada sedang mahluk tiada ). Yang ada ialah yang AWAL,yang tidak ada permulaan dan yang akhir tidak ada penghabisan.

 

Adapun diri sendiri dalam alam seluruhnya tidaklah ada ; sebab awalnya ADAM,artinya tiada. Dan ahirnya fana dan lenyap : maka apabila jalan itu telah dijalani dengan segenap kesungguhan, ketaatan, dan setia memegang segala syarat dan rukunnya,akhirnya bertemulah kita dengan hakikat yang sebenarnya.

Mula-mula tercapailah kasyap,yaitu terbukalah rahasia yang senantiasa yang menyelubungi antara kita dengan DIA.

Maka dengan itu terbukalah hijab atau dinding yaitu : dinding-dinding tebal yang memisahkan kita dengan DIA, dan dinding-dinding itu ialah :Hawa nafsu kita sendiri atau yang disebut angkara murka,atau nafsu hewani atau nafsu syaiton. Maka dari itu gunanya kita TAJAHUT,artinya : melepaskan diri dari belenggu segala ikatan atas diri kita sendiri.

 

Dan apabila rohani kita telah mencapai kesempurnaan,maka otomatis takluklah jasmani kepada kehendak rohani. Pada waktu itu tidak ada miskin lagi,bahkan mautpun sebagai  sangkar kecil kepada kebebasan luas mencari kekasih. Dan mereka katakana,mati itu adalah alamat CINTA sejati dan mutlak. Disini timbullah dalam kata yaitu yang dikatakan hulul. Hulul yaitu : timbul kesatuan diantaraasyik dan ma’syuknya. Atau meninggalnya antara asyik ma’syuk atau yang mencintai dengan yang dicintai,sehingga AKU adalah DIA,dan DIA adalah AKU dan Analhak. Disini mulailah ada pertingkahan diantara ulama ahli lahir dengan ulama ahli bathin. Tentu saja ada yang menolak dan adapula yang membela. Kata yang membela,orang yang telah mabuk cinta dan rindu,yang diliputi oleh perasaan-perasaan lebih mendalam daripada orang yang hanya menggunakan akal semata dan mantik semata.

 

5.1.10. AHLI TASAWUF YANG SEJATI

 

Ahli tasawuf yang sejati ialah mereka yang benar-benar memegang agama yang tulen. Ahli sufi yang sejati ialah mereka yang jiwanya bebas tidak terikat oleh apa-apa atau siapapun,dan bebas menjalankan kebenaran dari ilahi robbi. Berani mengatakan itu benar dan ini salah. Ahli tasawuf adalah putus dengan mahluk dan erat hubungannya dengan Tuhan,pandangannya Allah semata. Ahli tasawuf tidak melihat kepada dirinya lagi,hanya Allah dalam pandangannya. Jadi siapa yang masih melihat kepada dirinya, niscaya tiada melihat akan Tuhannya. Seluruh pandangan ruhaniyah memandang satu dalam banyak. Dan yang banyak pada yang satu.

 

Tersimpun dalam satu kesatuan yang dalam istilah sufi disebut pabrik KUN dan yang diatur oleh seorang insinyur yang pintar ialah : ALLAH TA’ALA. Kalau pandangan kita sudah mantap separti itu,maka hilanglah rasa takut dan gentar,kecuali kepada Allah saja. Jadi pandangan seorang yang dibawah memang berbeda dengan yang diatas. Ujud selain daripada ujud Allah adalah ujud injaman karena semua itu Allah dan Allah itu semuanya,ia hanya pertanda dari yang sebenarnya ada. Yang ada adalah yang ada,yang ada ialah yang awal dan tidak ada permulaannya,yang ahir tidak ada penghabisannya.

 

Maksudnya me-esakan Allah Ta’ala pada segala sifat ialah : megembalikan, meninggalkan seluruh sifat-sifat yang ada pada mahluk ini kedalam sifat-sifat Allah S.W.T. dengan pengertian  yaitu memfanakan sifat-sifat mahluk ini, kedalam sifat-sifat Allah Ta’ala sehingga tercapailah pandangan,bahwa tidak ada yang bersifat  kecuali Allah Ta’ala saja.

 

Adapun tujuannya adalah untuk ma’rifat kepada Allah,sedangkan sifat-sifat yang ada pada mahluk ini adalah nyata sifat-sifat Allah Ta’ala. Dan sengaja Allah sahirkan sifat-sifatnya itu kepada hambanya atau mahluknya, karena rahmatnya supaya mahluk itu sendiri mempunyai tangga dan jembatan untuk mengenal sifat-sifat Allah. Dan bukan jadi dinding dan hijab untuk melihat sifat-sifat Allah, Tuhan yang kita cari, kita cintai.

 

Adapun kaifiat dan cara memandang sifat Tuhan itu ialah :

 

Engkau pandang dengan hatimu dan dengan mata kepalamu dengan hakkul yakin dan dengan itiqad yang putus, bahwasanya tidak ada yang bersifat dialam alam ini kecuali Allah. Seperti : kudrat, iradat, ilmu, hayat, sama, basyar dan kalam. Semuanya adalah sifat-sifat Allah.

 

Jadi sifat-sifat yang ada pada mahluk ini adalah sifat-sifat majaji belaka,bukan hakiki. Maka daripada itu nyatalah kepada kita bahwa sifat-sifat yang ada pada kita sekarang ini adalah nyata sifat-sifat Tuhan Allah semata. Kalau kita sudah mengembalikan sifat-sifat yang ada pada kita itu kepada Allah, niscaya fanalah sifat-sifat kita itu kepada sifat-sifat Allah.

 

Sehingga tidak ada lagi yang bersifat,kecuali Allah. Jadi jelaslah sudah kepada kita bahwa : kita ini tidak punya perbuatan,tidak punya nama dan tidak punya sifat kecuali Tuhan. Sekarang tinggal lagi mengeesakan Allah Ta’ala pada Zatnya.

 

Ma’rifat itu adalah suatu amanah dari tuhan yang wajib kita tuntut dan kita tuju.

 

IV.6.1.HIKMAH  DAN  ILMU LADUNI

 

Pernahkan kita mendengar istilah “ilmu laduni”? keberadaanya tak lekang diperbincangkan hingga saat ini.

 

Perbedaan pendapat pun ikut mewarnai pembahasan tentang ilmu laduni.

 

Asal muasal Istilah Ilmu Laduni Ada pendapat yang menjelaskan, Ilmu ladunni diambil dari  kalimat ‘minladunna ilman’, … ilmu yang berasal dari sisi Kami (Allah) tercantum dalam firman ALLAH S.W.T.

(Q.S.AlKahfi:65)

 

 

“fawajadaa 'abdan min 'ibaadinaa aataynaahu rahmatan min 'indinaa wa'allamnaahu min ladunnaa'ilmaan"

 

Artinya : “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”

 

Asbabun Nuzul Dalam ayat ini Allah menceritakan bahwa setelah Nabi Musa dan Yusa’ menyusuri kembali jalan yang mereka lalui tadi sampailah keduanya pada batu itu  Yang pernah mereka jadikan tempat beristirahat.

 

Di sanamereka mendapatkan seorang hamba di antara hamba-hamba Allah ialah Al Khidir yang berselimut dengan kain putih bersih. Menurut Said bin Jubair, kain putih itu menutupi leher sampai dengan kakinya.Dalam ayat ini Allah S.W.T., juga menyebutkan bahwa Al Khidir itu ialah orang yang mendapat ilmu langsung dari Allah, yang ilmu itu tidak diberikan kepada Nabi Musa. Sebagaimana juga Allah telah menganugerahkan suatu ilmu kepada Nabi Musa yang tidak diberikan kepada Al Khidir.Menurut Hujjatul Islam Al Ghazali bahwa pada garis besarnya, seseorang mendapat ilmu itu ada dengan dua cara:Proses pengajaran dari manusia, disebut:

At Ta’lim Al Insani, yang dibagi menjadi dua,yaitu:

a. Belajar kepada orang lain (di luar dirinya). Self study dengan menggunakan

    kemampuan akal pikirannya sendiri.

 

b. Pengajaran yang langsung diberikan Allah kepada seseorang yang disebut At

a’lim Ar Rabbani. Ini dibagi menjadi dua, yaitu:Diberi dengan cara wahyu, yang

ilmunya disebut: ilmu Al Anbiya (Ilmu Para Nabi) dan ini khusus untuk para nabi.

 

 

Diberikan dengan cara ilham yang ilmunya disebut Ilmu ladunny (ilmu dari sisi Tuhan). Ilmu ladunny ini diperoleh dengan cara langsung dari Tuhan tanpa perantara. Kejadiannya dapat diumpamakan seperti sinar dari suatu lampu gaib yang sinar itu langsung mengenai hati yang suci bersih, kosong lagi lembut. Ilham ini merupakan perhiasan yang diberikan Allah kepada para kekasih-Nya (para wali).

Adakah Metode Untuk Mendapatkan Ilmu Laduni?

 

Perdebatan dalam tahapan ini semakin seru, ada yang berpendpat ilmu laduni tidak bisa diupayakan,karena ilmu laduni semata-mata murni anugerah dari Alloh S.W.T., tanpa perantara ikhtiyar hamba-Nya. Sehingga mereka beranggapan omong kosong jika ada yang mengaku dapat membantu mendapatkan ilmu laduni dengan metode-metode tertentu, seperti yang banyak digembar-gemborkan paranormal tertentu.

 

Pendapat lainnya adalah, memang benar ilmu ladunni adalah ilmu mukasyafah (mampu melihat dengan pandangan bathinnya) yang berasal dari ilha. Ilmu mukasyafah ini bukan hasil mempelajari suatu ilmu tetapi merupakan ilham yang diletakkan kedalam jiwa orang mukmin yang hatinya bersih.

 

Namun demikian ada tanda-tanda untuk mendapatkan ilmu laduni, diantaranya ; Mengamalkan ilmu yang diketahuinya, sebagaimana disabdakan Nabi S.A.W :


مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَم


“Siapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya”....

 

Orang yang bersuluk itu akan dikurniakan pelbagai hikmah dan ilmu laduni sekiranya mereka itu benar-benar ikhlas dan segala kejadian itu lalui dengan mata kepala samada dengan penglihatan, dengan bau atau rasa.Ketika itu murid tidak boleh mengendalikan dirinya sendiri kecuali ada bimbingan guru yang faham akan setiap situasi yang berlaku kepada murid ketika itu karena untuk mengenal Allah itu mestilah dengan wasitah.Syeikh (Guru Mursyid) itulah yang menjadi wasitah bagi menyampaikan murid kepada Allah S.W.T.

 

Imam Ghazali menerangkan mengenai Ilmu Suluk ini iaitu sangat jauh perbezaan
antara mengetahui makna sihat atau kenyang dengan mengalami sendiri rasa sihat
dan kenyang itu malah beliau ada mengarang sebuah kitab mengenainya diberi
nama Suluk as-Sultanah.

Kita pergi menunaikan haji dengan tubuh yang zahir menziarahi Kaabah manakala
bersuluk pula pergi menemui Tuan Kaabah secara rohaniah.Salik akan berzikir
dengan zikir Ismu Dzat,yakni zikir yang membolehkan salik itu mendapat tarikan
(jazbah ) kepada Allah.Apabila salik telah mendapat tarikan yang kuat kepada Allah ,si salik ini akan dapat memulakan semula kata-kata yang pernah manusia ucapkan suatu ketika dahulu di alam roh iaitu ” alastu birobbikum ; qooluu balaa syahidna ” – Al A’raf ayat 172.

 

Kita lihat bagaimana bayi yang baru lahir ke dunia akan menanggis karena sedihuntuk meninggalkan Allah dan bila seseorang itu bersuluk dan sempurna suluknyaitu hingga sampai ke peringkat makrifatullah,Tuhan ibaratnya berkata ; ‘dah lama hati engkau tidak memandang Aku.

 

Jadi, silakan…silakan..masuklah engkau dengan musyahadah’..

Ya aiyatuhannafsul muttmainnah irjie..irjie..ila rabbikiriroodhiatammardhiah’.

 

Hati itu tempat simpannya iman, wadah berbagai rahsia ghaib dan juga punca
terpancarnya berbagai nur.Hati itu perlu digilap,perlu dihidupkan agar tidak ia menjadi seperti ais ; gelap dan tidak telus.Cara mengasuhnya adalah dengan berzikrullah secara khusus,istiqamah dan terpimpin.

 

6.1.1.PENGENALAN DIRI MENUJU PENGENALAN TUHAN

 

6.1.2. BERMULA DARI BEBERAPA PERISTIWA :

 

Asal kata mahluk diambil dari kata-kata halq.

Dan kata-kata halq itu diambil dari kata khalik.

Dan kata-kata khalik itu adalah khalik.

Jadi asal dari khalik kembali lagi kepada khalik.

 

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN, DATANG DARI ALLAH KEMBALI KEPADA ALLAH.

 

Awalnya Allah,dan ahirnya Allah.

Awalnya Tuhan,dan ahirnya Tuhan.

Awalnya tidak ada permulaannya,dan ahirnyapun tidak ada penghabisannya.

 

Kalau ma’rifat kita sudah ta’zmullah,yaitu : tilik seorang arif itu akan kebesaran dan kemuliaan,keagungan sesuatu itu melainkan itu semata-mata kebesaran,kemuliaan,dan keagungan Tuhan Allah aza wazallah jua adanya.

 

Maka intisari daripada itu adalah :  Segala mahluk itu adalah khalik,dan khalik itu sebaliknya.

Dalilnya : SYUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH dan SYUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH,ahirnya SYUHUDUL WAHDAH FIL WAHDAH. Demikianlah pandangan seorang arifibillah.

 

Jadi kesimpulannya adalah : SEMUA ITU ALLAH,dan ALLAH ITU SEMUANYA. Inilah yang disebut WAHDAH AL UJUD : atau kesatuan UJUD. Demikianlah yang dapat hamba menyimpulkan bahwa :

 

6.1.3. ALLAH ADALAH HAKIKAT ALAM.

RUKUN – AGAMA – ADA – EMPAT – PASAL

 

Agama islam adalah agama yang murni.Kemurniaan agama itu dibarengi oleh 4 rukun.

 

Pertama : SARIAT, Kedua : THARIKAT, Ketiga : HAKIKAT, Keempat : ialah MA’RIFAT. Tanpa yang empat macam ini bukan dinamakan agama.Pokok yang empat ini ialah : MA’RIFAT.

 

Dan MA’RIFAT ialah : kumpulan daripada syariat,tharikat,hakikat.Itulah yang disebut MA’RIFAT.

 

Syariat artinya : kenyataan

Tarikat artinya : jalan yang menuju/menyempurnakan syariat

Hakikat artinya : kebenaran yang sejati dan mutlak

 

Jadi kumpulan ilmu pengetahuan tentang syariat dan kesediaannya dengan tharikat,ahirnya akan bertemu dengan hakikat. Itulah yang disebut ma’rifat.

 

Maka nyatalah kepada kita bahwa ma’rifat itu adalah gabungan dari ilmu fiqih,usulludin dan ilmu tasawuf. Kumpulan dari mantik,keindahan dan cinta.

 

Dengan demikian hanya empat pasal inilah yang menyempurnakan agama Allah didalam dunia ini. Jadi tanpa yang empat ini,semua amal ibadah,baik lahir maupun bathin akan membaa masuk neraka. Sebab dalam amal ibadah pasti ada syariatnya, tharikatnya,hakikatnya dan ma’rifatnya.

 

Pertama Syahadat.

Syariat syahadat itu ialah : mengucap dengan lidah.

Tarikat syahadat itu ialah : pada sholat sejatinya,sedang melakukan tajli kepada Tuhan.

Hakikat syahadat itu ialah : hidup/hayat yang sesungguhnya.

Ma’rifat syahadat itu ialah : agar supaya merasa dan melingkupi yang mencorong itu dengan zat dan sifat Allah.

 

Kedua Salat.

Syariat sholat ialah : saat-saat berdiri,ruku,sujud,dan lain-lain.

Tarikat sholat ialah : tetap saja dalam kita sedang sholat sejatinya ialah tajli mutlak.

Hakikat sholat ialah : telah jelas adanya,alif,lam awal,lam ahir,ha.Katakanlah Allah tak salah lagi.

Ma’rifat sholat ialah : harus sampai bertemu dengan Nur Muhammad itu.

Inilah sholat sejatinya,sebelum kita ini tahu dia sudah ada.

 

Ketiga Puasa.

Syariat puasa ialah : kita sudah maklum adanya.

Tarikat puasa ialah : menyatu dengan tajli.

Hakikat puasa ialah : puasa yang bergelimang dengan nafsu angkara murka,dan supaya kita berdiri dengan nafsu zat hak ta’ala. ( nafsu yang diridhoi ).

Ma’rifat puasa ialah : harus bertemu dngan bulan purnama sidi. Yaitu terang benderangnya,Tuhan telah Bertazalli kepadanya.  

 

Keempat Zakat.

Syariat zakat ialah : kita sudah maklum adanya.

Tarikat zakat ialah : harus berdirinya/fananya mahluk dari ingatannya,dan harus tajli mutlak.

Hakikat zakat ialah : jangan sampai kita lupa atau salah dalam akidah.

Ma’rifat zakat ialah : harus bisa atau harus sanggup merasakan hilangnya ujud seluruhnya lahir dan Bathin dan menunggal dengan Tuhan ( dalam rahasia ).

 

Kelima Haji.

Syariat haji ialah : kita sudah maklum adanya.

Tarikat haji ialah : sedang kita salat atau waktu kita ada dibaitullah ( rumah Tuhan ).

Hakikat haji ialah : meleburkan dosa dengan jalan ma’rifat,mengenal Tuhan Allah.

Ma’rifat haji ialah : rohani dan jasmani telah menyatu dalam kesatuan yang utuh/mutlak.

 

Demikianlah yang dapat hamba sampaikan. Jadi rukun islam itu tadi tiap-tiap satu rukun mempunyai empat pasal. Maka kalau demikian,lima rukun itu menjadi lima kali empat adalah duapuluh pasal. Inilah siempunya sifat dua puluh itu. Sebab dua puluh itu pasal ini menghimpunkan segala sifat-sifat Allah didalam alam ini. Dan manakah sifat istimewah bagi Tuhan ?

 

Segala-galanya harus bagi Tuhan,tidak ada yang tertegah bagi Tuhan/tidak ada dinding-dindingnya lagi. Hanya nafsumu sendiri yang tertegah,karena masih terdinding. Bagi Tuhan tidak ada lagi wajib,yang ajib hanya bagimu dan bagi orang yang belum faham dan belum mengerti.

 

Jadi siapa yang faham,itulah yang beroleh petunjuk dari Tuhan Allah. Kesimpulan rukun agama itu tadi ialah ESA SEGALANYA dan tidak ada lagi DUANYA.

 

6.1.4. BERTEMUNYA MANUSIA KEPADA TUHAN

 

Bertemunya manusia kepada Tuhan dan sampainya kepadanya, itulah puncak harapan, dan dengan itulah dia mencapai kebahagiaan dan kerajaan besar ; bahwa dengan itulah dia akan lupa dan terhibur dari sesuatu selain Allah Ta’ala. Hilangkan pandangan makhluk kepadamu, karena pua dengan penglihatan Allah kepadamu.

 

Dan lupakan perhatian/menghadapnya mahluk kepadamu.

Nikmat itu meskipun beraneka ragam bentuknya ; hanya disebabkan karena melihat Allah dan dekatnya kepada Allah. Demikian pula siksa itu walau bagaimana pun aneka ragamnya,karena terhijab, dan sempurna nikmat itu, karena melihat kepada ZAT Tuhan yang maha mulia.

 

BISMILLAHIRRACHMANIRRACHIM

 

ADAPUN YANG DINAMAKAN ‘DINDING ASAL DIRI’ ITU ADALAH SEPERTI DISEBUT DIBAWAH INI :

 

AKU ALIF ALLAH.MASUKKU KEPADA LAM DJALALLAH. LENYAPKU DI GHOIRULLAH. HILANGKU KEPADA LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADARRASULULLAH.

 

PERPINDAHAN KEDUDUKAN NYAWA DITIAP-TIAP WAKTU

SUBUH berada di SULBI Nabinya ADAM Warnanya PUTIH.

ZOHOR berada di PUSAT Nabinya IBRAHIM warnanya KUNING.

ASHAR berada di JANTUNG Nabinya YUSUF warna MERAH.

MAGRIB berada di DADA Nabinya ISA warnanya BIRU.

ISYA berada di OTAK Nabinya MUSA Warnanya HITAM.

 

UNTUK DIBACA SEBELUM TAKBIRATUL IHRAM SEBELUM MEMBACA DOA PERTAMA

 

6.1.5. BAITULLAH,HU ALLAH, HU BAINA ALLAH, RAHASIA ALLAH.

 

Caranya kita hendak mengangkat TAKBIRATULIHRAM, Yaitu kita tarik napas dengan HU, hakikat kita AKU masuk kedalam.

 

--- Tatkala kita mengangkat TAKBIR ingat ZAT – ALIF

--- Tatkala kita RUKU ingat SIFAT – SIFAT

--- Tatkala kita I’TIDAL ingat akan ASMA – LAM

--- Tatkala kita SUJUD ingat akan AF’AL – HA

Yaitu sampai salam jangan lupa ;

 

ZAT – ALIF   SIFAT – LAM            ASMA – LAM           AF’AL - HA

      LA                  ILAHA                     ILLA                 ALLAH

Adapun ALIF itu ibarat SIFAT ALLAH, menjadi Rahasia kepada MUHAMMAD, menjadi CAHAYA kepada kita.

Adapun LAM AWAL itu ibarat SIFAT ALLAH, menjadi RUPA kepada MUHAMMAD, menjadi CAHAYANYA kepada kita.

Adapun LAM ACHIR itu ibarat ASMA ALLAH, menjadi ILMU kepada MUHAMMAD, menjadi IMAN kepada kita.

Adapun HA itu ibarat AF’AL ALLAH, menjadi KELAKUAN kepada MUHAMMAD, menjadi HATI kepada kita. Maka HU itu AKULAH ALLAH.

Leburnya MUHAMMAD kepada ALLAH. LA itu AKULAH Raja Dunia dan Akhirat.

 

6.1.6. ZAT – MA’RIFATSIFAT – HAKIKATASMA – THARIKATAF’AL –

SYARIAT :

 

Adapun ZATnya   Adapun SIFATnyaAdapun ASMAnyaAdapun AF’ALnya

              nyata kepada             nyata kepada               nyata kepada               nyata kepada

MA’RIFAT.                HAKIKAT.                THARIKAT.              SYARIAT.

 

--- Adapun SYARIAT nyata kepada kelakuan TUBUH INSAN.

--- Adapun THARIKAT nyata kepada kelakuan HATI INSAN.

--- Adapun HAKIKAT nyata kepada kelakuan NYAWA INSAN.

--- Adapun MA’RIFAAT nyata kepada kelakuan FUAD INSAN.

 

Inilah rupa yang 4 perkara ini, jangan tidak diketahui risalah tersebut dibawah ini.

ZAT                            SIFAT                         ASMA                                    AF’AL

MA’RIFAT                 HAKIKAT                 THARIKAT               SYARIAT

RAHASIA                  NYAWA                    HATI                          TUBUH

MIM                            HA                              MIM                            DAL

 

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

 

Adapun asal tubuh ( lembaga ) terdiri dari 4 ( empat ) nasar ialah :

1). TANAH     2). AIR                    3). ANGIN                 4). API

 

Kesemuanya ini daripada NUR MUHAMMAD ( Muhammad Al – qur’an ).

Adapun asal kejadian diri terdiri dari 3 perkara  ialah :

BAPAK                                              2. IBU                                     3. TUHAN

Urat besar                                            - Rambut                                 - Penglihatan

Urat kecil                                            - Kulit                                      - Pendengar

Tulang                                                 - Daging                                  - Pengerasa

Otak                                                    - Darah                                    - Pencium

                                                             -Nyawa

 

Ketiga perkara ini jumlahnya 13 ( tigabelas ) dan ini terhimpun dalam rukun 13 ( tigabelas – Rukun Sembahyang ( Hadist).

 

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Bismillah                                             1. Kepala kita.

Arrachman                                          2. Mata kita.

Arrachim                                             3. Antara kedua mata kita.

Alhamdulillah                                     4. Muka kita.

Rabbil’alamin                                      5. Telinga kanan kita.

Arrachman                                          6. Telinga kiri kita.

Arrachim                                             7. Tangan kanan dan kiri.

Malikiyyaumiddin                               8. Belakang kita.

Iyyakana’budu                                                9. Kulipak ( kulit ) kita.

Waiyyakanasta’in                                10. Dada kita.

Ihdinasyirotol mustaqim                     11. Urat lidah kita.

Syirotollazina an’amtaalaihim 12. Pusat kita.

Ghoirilmagdhubi alaihim                    13. Empedu kita, Hati kita.

Waladdollin                                        14. Hati kura ( paru – paru ) kita.

Amin                                                   15. Jantung kita.

 

BISMILLAHIRRACHMANIRRACHIM

 

A.  SYARIAT            B. THARIKAT           C. HAKIKAT             D. MA’RIFAT

 

Syariat tubuh               Af’al Allah                  (diri terperiksa - Syariat Ilmu yaqin).

Tharikat hati                Asma Allah                 (diri terperi - Tharikat Ainul yaqin).

Hakikat roh                 Sifat Allah                   (diri tadjali - Hakikat Hakkul yaqin).

Ma’rifat                       Rahasia Zat Allah       (diri tadjali - Ma’rifat malul yaqin).

 

LA – ILAHA – ILLA – ALLAH – LAILAHAILLALLAH

 

LA                   : Jasmani yakni syariat tubuh ( Syariat itu perbuatan – Djalla ).

ILAHA           : Rochani yakni tharikat hati ( Tharikat itu kataku – Jamal ).

ILLA               : Hakikat nyawa ( Hakikat itu kediamanku – Qahar ).

ALLAH          : Ma’rifat atau rahasia ( Ma’rifat itu rahasiaku – Kamal ).

LA                   : Menjadi ALCHAMDU atau ZAT Hayat.

 

Apabila kita hendak mancari/mengenal diri,maka hendaknya terlebih dahulu kita ketahui/kita kenal akan RAHASIA NUR MUHAMMAD karena rahasia Nur Muhammad itulah sebenar-benar diri.

“ RAHASIA NUR MUHAMMAD “ : Adapun yang bernama diri itu terbagi 2(dua) bagian, pertama diri yang lahir, kedua diri yang bathin. Adapun yang lahir berasal daripada ANAMIR ADAM dapat dibagi menjadi 4(empat) perkara yaitu :

 

1.      API                       2. ANGIN                   3.AIR              4.BUMI

 

Adapun API itu terbit daripada yang bathin berhuruf ALIF, bernama ZAT, menjadi RAHASIA, hurufnya DARAH pada kita.

 

Adapun ANGIN itu terbit daripada yang bathin berhuruf LAM AWAL, bernama SIFAT menjadi NYAWA, hurufnya NAFAS pada kita.

 

Adapun AIR itu terbit daripada yang bathin berhuruf LAM ACHIR, bernama ASMA menjadi HATI, hurufnya MANI pada kita.

 

Adapun BUMI itu terbit daripada yang bathin berhuruf HA, bernama AF’AL menjadi KELAKUAN, hurufnya TUBUH pada kita.

 

Jadi jika demikian Diri kita yang lahir itu terbit daripada bayang-bayang diri kita yang bathin jua,yang berhuruf atau berkalimah ALLAH,dan jangan kiranya kita syak dan waham lagi.Kemudian daripada itu hendaklah kita fikirkan pula diri kita yang sudah berhuruf atau berkalimat ALLAH itu,bagaimana hendaknya supaya jangan sampai tersalah sangka.

 

Kemudian sesudah kita ketahui diri yang lahir itu,hendaknya kita ketahui pula diri yang bathin,siapa dan yang mana. Karena diri yang bathin itulah yang mengenal Tuhannya,seperti sabda Nabi Muhammad MAN ARAFA NAFSAHU FAQOD ARAFA RABBAHU : Artinya, barang siapa yang mengenal akan dirinya, maka dikenalnya akan Tuhannya.

 

Tetapi sebelum kita mengenal diri yang bathin,maka hendaknya lebih dahulu diri kita yang lahir itu,yang berwujud nama ALLAH itu. Kita matikan sebelum daripada mati,seperti firman Allah didalam Qur’an ; ANTAL MAUTU QOBBAL MAUTU, Artinya engkau matikan dirimu sebelum kamu mati.

Maka jikalau sudah kita matikan diri kita yang lahir,barulah nyata diri kita yang bathin,yang bernama sebenar-benarnya diri.

 

Adapun mematikan diri yang berhuruf atau berkalimah nama Allah itu demikian caranya : pertama manafikan hurufnya ALIF-LAM-LAM-HA.

ALIF  - ALLAHUSSAMAWATUWAL ARD.

LAM  - LILLAHISSAMAWATIWAL ARD.

LAM  - LAHULMULQUSSAMAWATIWAL ARD.

HA     - HUWAL AWALU WAL ACHIRU WAL ZAHIRU WAL BATHINU.

 

Jadi kalau diri kita yang lahir itu nyata sudah FANA,artinya berkali-kali tiada mempunyai apa lagi,seperti kata lafat :

 

“ MIN ADAMIN ILLA UJUDIN WAMIN UJUDINILLA ADAMIN “

Artinya : Daripada tiada menjadi ada dan daripada ada kembali kepada tiada.

Jadi maksudnya kita ini ( diri kita yang lahir ini ) sudah fana kepada diri yang bathin,artinya yang lahir ini sehelai rambutpun tiada mempunyai apa lagi,dan tiada boleh dikatakan ada lagi. Pada ILMUnya hanya diri yang bathin jua,ialah yang bernama MUHAMMAD. Seperti firman Allah didalam hadist qudsyi : CHALAQAL ASYIA LIAZLIKA WAHA OTUHALILAZLI, Artinya ; kujadikan engkau karenaku ya Muhammad.

 

Jadi jelaslah bahwa yang bernama MUHAMMAD itulah sebenar-benarnya diri yang bathin,dan hendaknya janganlah kita syak dan waham lagi,karena MUHAMMAD itulah yang ada mempunyai :

 

TUBUH, HATI, NYAWA, dan RAHASIA.

Adapun TUBUH MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM IHSAN yakni SYARIAT.

 

Adapun HATI MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM DJITSIH yakni THARIKAT.

Adapun NYAWA MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM MISAL yakni HAKIKAT.

Adapun RAHASIA MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM ROH yakni MA’RIFAT.

 

Maka sesudah demikian itu hendaklah MUHAMMAD itu pula yang mengenal TUHANNYA,tetapi belum lagi MUHAMMAD bisa mengenal Tuhannya,jika belum lagi fana TUBUHNYA, HATINYA, NYAWANYA, RAHASIANYA, ZATNYA, SIFATNYA, ASMANYA dan AF’ALNYA. Seperti firman Allah didalam Qur’an : QUL HUALLAHU AHAD,Artinya ; Katakan olehmu Ya Muhammad,bahwasanya Allah Ta’ala ESA. ESA pada ZATNYA, ESA pada SIFATNYA, ESA pada ASMANYA, dan ESA pada AF’ALNYA.

 

Dan lagi firman Allah didalam Al – Qur’an :

 

“ WATAWAKKAL ALAL HAYYIL LAZILA YAMUTU “ Artinya,serahkan dirimu Ya Muhammad kepada Tuhanmu yang hidup dan tiada mati.

 

Maka keterangan MUHAMMAD meng – Esakan dan menyerahkan diri kepada Allah seperti tersebut dibawah ini,dan jangan syak dan waham lagi pada perkataan ini.

 

 

Adapun BATHIN MUHAMMAD,ZAT kepada Allah, RAHASIA kepada hamba.

Adapun AWAL MUHAMMAD, SIFAT kepada Allah, NYAWA kepada hamba.

Adapun ACHIR MUHAMMAD, ASMA kepada Allah, HATI kepada hamba.

Adapun ZAHIR MUHAMMAD, AF’AL kepada Allah, TUBUH kepada hamba.

Adapun yang disebut / dinamakan HAMBA itu tiada lain ialah MUHAMMAD jua dan jangan disangka bahwa yang disebut HAMBA itu KITA, itu salah karena kita ini pada ilmunya sudah tidak ada lagi.

 

Jadi RAHASIA, NYAWA, HATI dan TUBUH MUHAMMAD itupun tiada jua karena tubuh fana kepada Zatnya, Sifatnya, Asmanya, Af’alnya, yakni Allah jua,seperti firman Allah  :

 

“HUWALAWWALUWALAHIRU,WALZAHIRUWALBATHINU”

 

 Artinya ia jua Tuhan yang awal,tiada baginya berpermulaan dan ia jua akhir yang tiada baginya berkesudahan dan ia jua yang Zahir serta ia jua yang Bathin.

 

Jadi Muhammad itu hanya sekedar nama jua. Adapun keterangan yang lebih jelas lagi yang lebih menentukan bahwasanya itu tiada mempunyai sesuatu melainkan hanya sekedar nama jua,adalah seperti tersebut dibawah ini :

 

Seperti yang dikatakan RAHASIA MUHAMMAD itu,yang sebenar-benarnya tiada lain daripada kezahiran Lima SIFAT ALLAH jua yang dinamakan kalimah “ Qala ” yaitu ; WUJUD, QIDAM, BAQA, MUCHALAFATUHULILHAWADDIS, QIYAMUHU TA’ALA BINAFSIH.

 

Adapun yang dikatakan NYAWA MUHAMMAD itu,yang sebenar-benarnya tiada lain daripada kezahiran Enam SIFAT ALLAH jua yang dinamakan kalimah “ ILAHA “ yaitu ; SAMA, BASAR, QALAM, SA’MIUN, BASHIRUN, MUTAKALLIMUN.

Adapun yang dikatakan HATI MUHAMMAD itu,yang sebenar-benarnya tiada lain daripada kezahiran Empat SIFAT ALLAH jua dinamakan kalimah “ILLA“ yaitu ; QODRAT, IRADAT, ILMU, HAYAT.

 

Adapun yang dikatakan TUBUH MUHAMMAD itu,ang sebenar-benarnya tiada lain daripada kezahiran Lima SIFAT ALLAH jua yang dinamakan kalimah “ ALLAH “ yaitu ; QADIRUN, MURIDUN, ALIMUN, RAJAUN, WAHDANIAT.

 

Jadi yang bernama MUHAMMAD itu sebenar-benarnya adalah SIFAT TUHAN jua,yaitu SIFAT KEBESARAN, KEELOKAN dan KESEMPURNAAN, ialah yang dinamakan KALIMAH TAUHID yang mulia yaitu LAILAHAILLALLAH artinya tiada yang terdahulu hai MUHAMMAD dan tiada yang terkemudian Ya MUHAMMAD.

 

Kemudian daripada itu hendaklah diketahui pula maksudnya Kalimah yang mulia itu supaya jangan syak dan waham lagi pada pengetahuan TAUHID dan MA’RIFAT.

Adapun kalimah LA ILAHA ILLA ALLAH itu terbagi dua bagian :

Pertama, LA ILAHA. Dan yang Kedua, ILLA ALLAH. Adapun LA ILAHA ialah SIFAT KEKAYAAN yang tiada ada kekurangannya,yaitu Allah Ta’ala. Dan ILLA ALLAH itu ialah SIFAT KEKURANGAN yang masih  berkahendak,yaitu Muhammad.

Kemudian hendaklah diketahui pula yang bernama MUHAMMAD itu apa oleh ALLAH TA’ALA dan yang bernama ALLAH TA’ALA itu apa oleh MUHAMMAD supaya benar-benar bisa menjai TAUHID pada Kalimah yang mulia ini. Adapun MUHAMMAD ITU HAMBA. Artinya, Rahasianya oleh Allah Ta’ala,karena Allah itu adalah nama bagi ZAT yang wajibul wujud dan mutlak,yakni BATHIN MUHAMMAD.

 

TA’ALA itu adalah nama bagi SIFAT,yakni ZAHIR MUHAMMAD. Jadi ZAHIR dan BATHIN MUHAMMAD itulah yang bernama ALLAH TA’ALA. Dengan demikian maka patutlah kalimah yang mulia itu dinamakan Kalimah Tauhid artinya Kalimah ESA. Yaitu :

LAILAHAILLALLAH.

 

Maka pada kalimah yang mulia inilah pertemuan HAMBA dengan TUHANNYA.

 

Lagi pula kalimah yang mulia ini diumpamakan sebesar-besar gedung perhimpunan segala RAHASIA,segala ROH,segala NYAWA, segala ILMU dan segala ISINYA,segala ISLAM, segala IMAN,segala TAUHID dan MA’RIFAT,yang kesemuanya terhimpun didalam kalimah yang mulia ini.

Dan hendaklah diamalkan supaya mahir,seperti :

 

6.1.7. JAUMUN RASA, JAUMUL MESRA.

 

Artinya, Mesrakan pada siang dan malam yang terutama sekali didalam atau diwaktu sembahyang Lima Waktu. Karena diwaktu itulah Tuhan menurunkan petunjuk yang dinamakan WAHYU ( bagi para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasulnya atau yang dinamakan ILHAM untuk manusia biasa seperti kita ).

 

Dan jikalau kita sudah faham betul maksud bicaranya tentulah kita gemar dan rajin mengamalkannya Kalimah yang mulia ini.Karena sudah tahu betul dan terang betul bahwasanya kita ini tiada ada mempunyai sesuatu.

 

Jadi tiada boleh lagi dikatakan yang berkata-kata ini kita,karena apabila dikatakan yang berkata-kata ini adalah kita,berarti Tuhan fana kepada kita bukan kita fana kepada Tuhan. Maka yang demikian ini mustahil dan yang sebenar-benarnya kita jua yang fana kepada Tuhan ALLAH Rupa niat Kanitah itu ialah niat dalam hati serta selamanya daripada takbirnya menyusun lafadz serta maknanya dan niat Tawasijah itu membagikan niat itu daripada suku-suku takbir daripada asal hingga Allahu akbar. Itulah niat yang batal keduanya.

 

Adapun niat Arifiyah itu ialah bahwa menghadirkan. Ialah yang pertama-tama sembahyang dengan Qasat, tha’arat, tha’ain. Terdahulu sedikit daripada Takbir,maka dimulai niat itu daripada Allahu dan disudahi dengan Akbar. Jangan terdahulu dan terkemudian.

 

Adapun niat Kamaliyah itu ialah masuk ia pada niat Arifiyah jua,karena niat Arifiyah itu 3(tiga) derajat didalamnya ialah :

 

DUNI,artinya segala yang wajib pada syara’ dikerjakan memadai akan dia.

WASTA’I,artinya yang sempurna.

QAAWI,artinya terlebih sempurna daripada yang amat sempurna,yaitu niat Nabi-Nabi dan Wali-Wali yang memakainya.

 

Bermula mematikan diri itu seperti ; WALA QADIRUN, WALA MUDIRUN WALA ALIMUN, WALA HAYUN, WALA SAMI’UN WALA BASHIRUN, WALA MUTAKALIMUN, artinya ; tiada hambanya kuasa, tiada berkehendak, tiada tahu, tiada hidup, tiada mendengar, tiada melihat, tiada berkata-kata. Yang kuasa hanya Allah, yang tahu hanya Allah, yang hidup Allah, yang mendengar Allah, yang melihat Allah, berkata-kata Allah serta Maujud dan Esa Allah jua. Maka falah sekalian DIRI itu di dalam DIRI Ahdiat Allah yakni ; fanalah di dalam ILMUNYA ALLAH yang Qadim adanya.

 

Kemudian daripada itu maka hendaklah diketahui akan SYIR ALLAH didalam UJUD IHSAN ini, niscaya senantiasa di dalam dosa, seperti Sabda Nabi MUHAMMAD S.A.W, yang artinya ; Bermula ADAM itu di dosa yang amat besar dan dosa itu sebagiannya yakni tiada sempurna mengenal Allah Ta’ala  jikalau diri di dalam kebaktian, karena kebaktian itu adalah umpama JASAD dan ROH, demikian pula kebaktian tiada sempurna jika tiada dengan ILMU, demikianlah adanya.

Adapun SYIR ALLAH DIDALAM UJUD INSAN itu seperti Firman Allah di dalam Hadist Qudsyi yang artinya ; bermula INSAN itu RAHASIAKU dan AKUPUN RAHASIANYA. Dan lagi Firman Allah di dalam Hadist Qudsyi yang artinya ; INSAN itu RAHASIAKU dan AKU RAHASIANYA, atau RAHASIAKU itu SIFATKU dan sifatku itu tiada lain daripada AKU. Maka kata GHAUSYALU AZIM yang artinya ;  TUBUH MANUSIA, NAFSUNYA, HATINYA, NYAWANYA, PENDENGARANNYA, PENGLIHATANNYA, TANGANNYA, KAKINYA, dan sekalaiannya itu AKU nyatakan dengan azzaku dirinya bagi diriku itu tiada lain daripada AKU, dan aku tiada lain DARIPADANYA. Dan ketahui olehmu bahwasannya HAK ALLAH SUBHANAHU TA’ALA  itu tiada ia berdengan segala AF’ALNYA seperti Firman Allah “WAHUWA MA’AKUM AINAM KUNTUM” artinya Tiada ada kamu, Allah Ta’ala beserta kamu, dan lagi Firman Allah. Artinya di dalam DIRI KAMU jua AKU, maka tiadalah KAMU melihat akan DAKU, karena aku terlehampir daripada HATI MATAMU YANG HITAM DENGAN YANG PUTIH.

 

Maka hendaklah engkau tilik tiap-tiap sesuatu daripada ala mini ALLAH TA’ALA serta di dalamnya, seperti sabda Nabi MUHAMMAD S.A.W yang artinya, barang siapa menilik kepada sesuatu, jika tiada dilihatnya Allah Ta’ala didalamnya, maka tiliknya itu bathal yakni sia-sia. Maka kata Syaiyidina ABU BAKAR artinya ; tiada aku lihat akan sesuatu melainkan padahal aku lihat Allah Ta’ala dahulunya. Jadi yang mengata kalimah LAILAHA ILLA ALLAH itu tiada lain IA jua memuji DIRI-NYA, seperti Firman Allah di dalam Qur’an :

ABABARALLAH ILLALIAH artinya ; Tiada yang menyebut Allah hanya Allah

LAYA’JAHARALIAH ILLALLAH artinya ; Tiada yang menyembah Allah  hanya Allah

LAYU’RIFULLAH ILLALLAH artinya ; Tiada yang melihat Allah hanya Allah

LAYA’BUDULLAH ILLALIAH artinya ; Tiada yang mngenal Allah hanya Allah

ZAT bagi ALLAH, NAFSIAH pada MUHAMMAD, NAFAS pada ADAM

SIFAT bagi ALLAH, SALBIAH pada Muhammad, TUBUH pada ADAM

ASMA bagi ALLAH, MA’ANI pada MUHAMMAD, HATI pada ADAM

AF’AL bagi ALLAH, MA’NAWIYAH pada MUHAMMAD, RAHASIA pada ADAM

 

Kemudian yang empat sifat itu dibagi dua :

 

Pertama           ; SIFAT mengadakan SURGA dan NERAKA

Kedua                         ; SIFAT mengadakan DOSA dan PAHALA, jahat dan baik

ISTIGNA bagi Allah, SIFAT KETUHANAN pada MUHAMMAD,

ILMU pada ADAMISTIGFAR bagi Allah, SIFAT BERCAHAYA

(NUR) pada MUHAMMAD ADA pada ADAM

 

Adapun yang terkandung didalam yang empat sifat ini ;

 

SIFAT NAFSIAH                  = ialah NYAWA, pada kita

SIFAT SALBIAH                  = ialah KULIT, URAT, TULANG, DAGING, DAN 

DARAH

SIFAT MA’ANI                     = ialah HATI, JANTUNG, SIMIT, RABU, EMPEDU,

DAN RAMBUT

SIFAT MA’NAWIYAH        = ialah OTAK, SUMSUM, MENDENGAR, MELIHAT,  MENCIUM, BERKATA.

 

Inilah yang dinamakan asal tubuh kita daripada sifat (empat sifat adanya).

ASYHADU ALLA ILAHA ILLA ALLAH = Zat Wajibul wujud, qadim yang kusembahWAASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH = harap kurnia ampun, Rahmat dari pada Allah.

 

Adapun SEMBAHYANG LIMA WAKTU terhimpun didalam ALHAMDU, keluar daripada CAHAYA MANIKAM yang PUTIH yaitu HATI pada kita.

 

ALIF   : SUBUH dua raka’at ROH / JASAD.Keluar daripada CAHAYA MANIKAM

yang HIJAU yaitu EMPEDU pada kita.

LAM   : ZUHUR empat raka’at DUA KAKI (empat potong/ruas) keluar daripada

              CAHAYA MANIKAM yang MERAH  yaitu PARU-PARU pada kita.

HA      : ASHAR empat raka’at DUA TANGAN (empat potong/ruas) keluar daripada 

              CAHAYA MANIKAM yang KUNING yaitu JANTUNG pada kita.

MIM    : MAGHRIB tiga raka’at DUA LOBANG HIDUNG + SATU LOBANG

KULIT. Keluar daripada CAHAYA MANIKAM yang HITAM, LIMPA

pada kita.

DAL    : ISYA empat raka’at DUA BIJI MATA + DUA LOBANG KUPING, Amal

ROH  Ialah NYAWA, Amal HATIialah PENGETAHUAN, Amal TUBUH

Ialah BADAN.

 

HUKUM SYAHADAT:        Pertama= Mengesakan Zat Allah Ta’ala :

                                                            ADA. DIA KEKAL BERSALAHAN dan

BERDIRI SATU.

                                                            Kedua =  Mengesakan Sifat Allah Ta’ala HIDUP,

TAHU,KUASA,BERKEHENDAK,

MENDENGAR,MELIHAT dan

BERKATA-KATA.

            Ketiga = Mengesakan Af’al Allah Ta’ala ; yang

HIDUP, YANG TAHU, YANG KUASA,

YANG BERKEHENDAK, YANG

MENDENGAR, dan YANG BERKATA-

Meng-esakan kebenaran Rasulullah S.A.W.

PERCAKAPAN YG BENAR,

PERJALANAN YANG BENAR, DAN

PENGETAHUAN YANG BENAR.

 

LA ILAHA ILLA ALLAH, ialah nama bagi ROHUL HAYAT

MUHAMMADAR RASULULLAH, ialah nama bagi TUBUH INSAN KAMIL.

LA ILAHA ILLA ALLAH   = LA ; Sifat Mafsiah. ILAHA ; Sifat salbiah, ILLA :

Sifat Ma’ani, dan ALLAH Sifat Ma’nawiyah.

LA                                           = Kalimah IMAN, artinya IMAN itu percaya didalam

Hati kepada Allah.

ILAHA                                   = Kalimah ISLAM, artinya ISLAM itu mengerjakan

segala Perintah ALLAH, dan menjunjungnya

serta menjauhi segalayang dlarang oleh ALLAH.

ILLA                                       =Kalimah TAUHID, artinya itu mengesakan

ALLAH daripada segala SIFAT yang bersekutu

dengan ALLAH.

ALLAH                                  = Kalimah MA’RIFAT, artinya MA’RIFAT itu

pengenalan kepada Allah dengan jalan MA”RIFAT

yang putus.

 

Kemudian diketahui olehmu hai Thalib, adapun yang dinamakan ISLAM itu daripada Kalimah LAILAHAILLALLAHI. Maka wajib diketahui dahulu Kalimah itu barulah dinamakan ISLAM, yang asalnya demikian Firman Allah ; WA’TASHINU BIHABILLAHI SAMI’AN WALA WALA TAPARRAQU, artinya ; berpeganglah kamu kepada tali Allah dan janganlah engkau bercerai. Adapun berpegang kepada tali Allah itu adalah seperti yang tersebut dibawah ini.

 

 

HU                              = Puji NYAWA, zikir waktu naik, nyawa keluar.

ALLAH                      = Puji ROH, zikir waktu turun, nyawa masuk.

ZIKIR ALLAH          = Sama dengan Zikir LA ILLAHA ILLA ALLAH.

 

Maka kata Syaiyidina UMAR ; WAMA RAAITU SYAI’AN ILLA WARRAITUL LAHI BA’DAH, artinya Tiada aku lihat akan sesuatu melainkan aku lihat Allah Ta’ala sertanya. Dan berkata SYAIYIDINA ALI ; WAMA RAAITU SYAI’AN ILLA WARRAITULLAHI FIHI ; artinya Tiada aku lihatakan sesuatu melainkan aku lihat Allah Ta’ala di dalamnya.

 

Maka sekalian dalil dan hadist serta sekalian kata sahabat-sahabat ini adalah perhimpunan WAHDAH Seperti Firman Allah ; ALLAHU BIKULLI SYA’IN MUHITH, artinya Allah Ta’ala itu meliputi ia bagi tiap-tiap sesuatu, seperti BESI diliputi oleh API. Begitulah pandang kita kepada Allah Ta’ala tempat perhimpunan daripada LAILAHA ILALLAH didalam TAKBIRATUL IHRAM, dan segala niat dan I’tikad inilah jalannya, maka berhimpunlah 4 (empat) huruf itu pada kalimah ALLAH. Huruf Allah itu apabila dihilangkan huruf ALIF maka terbacalah LILLAH, apabila dihilangkan huruf LAM AWAL maka terbacalah oleh kita LAHU, apabila dihilangkan huruf LAM ACHIRNYA, maka terbacalah oleh kita HU, dan apabila fana huruf LAM itu, maka tiadalah dapat terbaca lagi ALLAH tersebut. Untuk mengetahui dengan sesungguhnya atas kefanaan atau setelah fananya huruf HA ini, maka bicarakanlah olehmu baik-baik. Hai salah seorang yang meuntut ilmu jalan kepada Allah Ta’ala. Bicarakanlah olehmu baik-baik huruf atau perkataan itu (perkataan Allah itu) dengan seorang Guru yang boleh atau berhak mengeluarkannya perkataan yang sedikit ini,karena perkataan ini terlebih keras daripada DUNIA ini, terlebih  keras daripada BATU, terlebih keras daripada BESI dan terlebih keras daripada Segala yang keras dan jikalau tiada ilmunya, sekalian amalnya dan Itikadnya, maka jauhilah daripada makam Nabi MUHAMMAD S.A.W., Inilah jalannya SYUFI, ARIBILLAH dan ALIMBILLAH namanya.

 

Inilah jalan bagi segala AULIA dan AMBIA, segala jalan ARIBILLAH itu tiada ia menilik DIRINYA itu ada baginya UJUD lain selain UJUD ALLAH Ta’ala semata-mata. Bagi Allah Ta’ala jua yang ada baginya UJUD dan baginya ZAT dan baginya SIFAT BAQA seperti firman Allah ; MAN ARAFA NAFSAHU BIL FANA’I, FAQAD ARAFA RABBAHU BIL BAQA’I, artinya ; Barang siapa mengenal DIRINYA dengan FANA, bahwasannya dikenalnya TUHANNYA DENGAN BAQA. Bermula inilah jalan NABI MUHAMMAD mengenal kepada Allah Ta’ala yaitu HADAP YG TIADA BERPUTUS, tiada BERKETIKA, tiada LALAI, tiada LUPA, tiada berkeputusan, atau BERKESUDAHAN siang dan malam, senantiasa CINTA dan KASIH kepada ALLAH TA’ALA, baik pada waktu Tidur maupun jaganya. Inilah yang sebenar-benarnya jalan MA’RIFAT kepada ALLAH TA’ALA, yaitu menghilangkan segala pekerjaan dunia, mengerjakan akan ilmunya dan menghancurkan akan segala pandangannya, maka berhimpunlah kesemuanya ini daripada huruf HA seperti disebutkan terdahulu.

Maka disanalah kita MEMATIKAN UJUD DIRI KITA, SIFAT KITA, ASMA KITA, DAN AF’AL KITA.   Demikianlah kita mencari yang dinamakan RAHASIA ALLAH dengan MUHAMMAD.

 

Adapun orang AHLI SHUFI mengucapkan ZIKIR ALLAH itu ada empat perkara kesempurnaannya :

LA ILAHA ILLA ALLAH pada Syari’at     : Tiada ada Tuhan yang lain hanya Allah.

LA ILAHA ILLA ALLAH pada Tharikat    : Tiada aku kasih yang lain hanya Allah.

LA ILAHA ILLA ALLAH pada Hakikat     : Tiada aku kasih yang lain hanya Allah.

LA ILAHA ILLA ALLAH pada Ma’rifat    : Tiada ujud sesuatu hanya ujud Allah.

 

Barang siapa menyebut LAILAHAILLALLAH dengan katanya tiada lidahnya, maka kafirlah orang itu pada zahirnya dan selamanya pada bathinnya.

Barang siapa menyebut LAILAHAILLALLAH dengan lidahnya dan tiada tasdik hatinya, maka kafirlah ia.

Barang siapa menyebut LAILAHAILALLAH dengan lidahnya dan tasdik hatinya, maka orang mu’miniah ia dengan se-benarnya mu’min.

 

Barang siapa mengekalkan ia akan ujud itu, maka fanalah ia di dalam menyebut LA ILAHAILALLAH, maka orang itu WALI ALLAH, karena kita ini ke ESAAN ujud ALLAh jua, sebab ujud Allah itu ujud HAKIKI dan ujud kita ini hanya ujud MUJAJI.

Adapun tandil tergangi tiada mempunyai Ujud hanya Allah Ta’ala. Adapun kita ini hamba-nya artinya MUNAJAT itu berkata-kata, adapun yang berkata ALLAHU AKBAR itu Allah jua, bukannya kita, karena kita ini hamba-nya. Adapun MI’RADJ itu LAIP, adapun LAIP itu tiada mempunyai DIRI, melainkan hanya Allah Ta’ala bukannya kita, karena kita ini hambanya,adapun IHRAM itu artinya ter-cegang adapun ter-cengeng itu tiada tahu akan dirinya dan dia tahu maka apabila hapuslah/fanalah dan tiada kelihatan ujud lagi ujud diri kita, maka disanalah tempat kita menanamkan diri dengan Tuhan kita AZZA WAZALLA, dan barulah kita bertemu GAIB dalam GAIB, Ujud didalam Ujud, Zat didalam Zat, Sifat didalam Sifat, asma didalam Asma, Af’al didalam Af’al, Syir didalam Syir, Rahasia didalam Rahasia dan Rasa didalam Rasa, maka disanalah kita menerima ZAUK WADJDAN dan ASYIK menghasiki, inilah dalil yang menunjukkan diri kepada ALLAH TA’ALA.

 

Kedua martabat WAHDAH : artinya ESA karena Tunasah dan Tasbih ialah perhimpunan SHALIK dan seperti laut dengan ombak maka tiadalah bercerai keduanya, maka dinamai TA’IM AWAL artinya CINTA PERTAMA, yang bernama ALLAH dan MUHAMMAD, bernama ZAT dengan ZAT, maka yaitu Sifat Allah Ta’ala : WAHUWA MA AKUM AINAMA KUNTUK, artinya ; dimana saja kamu berada Allah Ta’ala beserta kamu. Dan mula serta itu tiada bercerai ZAT dengan SIFAT, tiada bercerai TUHAN dengan MAKHLUK, adapun menurut kelakuan disini ZAT UJUD ILMU NUR SYUHUD itu dinamai yaitu HAKIKAT ASYIA, artinya ada yang se-benarnya, perkara yang maklum bukan perkara ilmu (segala ilmu) Allah Ta’ala kemudiannya dan lagi seperti kata para sahabat-sahabat Nabi terdahulu.

Inilah pandangan orang aribillah yang sebenar-benarnya jalan MA’RIFAT kepada ALLAH TA’ALA. Begitu pula pandang kita.

Adapun yang terhimpun didalam tubuh kita ada DUA ROH, yang hendak diketahui ; Pertama. ROH yang dinamakan ROH QUDUSKedua, ROH yang dinamakan ROHANI, zikir sebutan ROHANI itu ucapannya - ALLAH-ALLAH

 

6.1.7.ROH QUDUS itu ucapannya – HU – HU

Tiada tahu akan Tuhannya, hanya bertemu GAIB didalam GAIB, SYEKH MUHAMMAD USMAN pernah berwasiat kepada anaknya, yang artinya ; Hai anakku tiada dapat tidak atau jangan tidak, wajib engkau ketahui serta engkau I’tikadkan didalam hatimu ilmu yang 5 (lima) perkara ini, inilah yang dinamakan ILMU HAKIKAT.

Artinya ilmu Hakikat itu mengetahui dengan yakin hati, bukannya dengan bacaan atau dengan perkataan lidah tetapi dengan diberi ESANYA ditetapkan didalam hati jua.Maka tiada berfaedah bacaan dengan lidah dan kalimat perkara tersebut adalah sebagai berikut :

 

PERTAMA               : TAUHIDUL AF’AL

KEDUA                     : TAUHIDUL SIFAT

KETIGA                    : TAUHIDUL ASMA

KEEMPAT               : TAUHIDUL ZAT

 

Dan suatu riwayat mengatakan sebagai berikut : FANA’IL AF’AL FANA’IL SIFAT dan FANA’IL ZAT. Adapun Tauhidul Af’al itu seperti engkau kata ; LAFA’LUN ILLA FI’LULLAH, artinya tiada mempunyai perbuatan melainkan se-mata perbuatan Allah Ta’ala jua didalamnya (Hakikatnya). Dan Tauhidul Sifat itu yakni seperti engkau kata, dan engkau i’tikatkan didalam hatimu : IA QUDRAT, IRADAT, ILMU, HAYAT, SAMA, BASHAR, KALAM, artinya ; Tiadamempunyai KUASA, BERKEHENDAK, TAHU, HIDUP, MENDENGAR, MELIHAT DAN BER-KATA-KATA. Melainkan kesemuanya itu daripada Allah Ta’ala jua pada hakikatnya.

Adapun Tauhidul ZAT itu seperti engkau kata engkau I’tikatkan didalam hatimu ; LA MAUJUDA ILLALLAH, artinya tiada yang ujud didalam alam ini melainkan Allah Ta’ala semata-mata pada Hakikatnya,karena sekalian alam (Ujud alam) ini tiada maujud sendirinya, tetapi berdiri ujud kepada ujud Allah aza wazalla.

 

Keempat dalil Shuhudul Kasyrah, seperti telah diuraikan terdahulu, yaitu pandang yang banyak didalam satu dan pandang yang satu didalam yang banyak. Maka pandang itu olehmu dengan bahwasannya ujud sekalian alam ini berdiri kepada Ujud Allah Ta’ala, tiada maujud sendirinya dan pandang olehmu bahwasannya Allah Ta’ala  itu maujud didalam sesuatu yang maujud maka disertakan pandangmu itu dengan pandang PANDANG RAHASIA DIDALAM HATI. Gukan pandang yang dibangsakan dengan perkataan dan lafad itu tiada memberi faedah.

Artinya pandang olehmu bahwasannya Allah Ta’ala itu maujud ia didalam tiap-tiap sesuatu ujud, yaitu pandang HAWIYAHNYA QIYAUMAHNYA dan Qudratnya serta kebesarannya dan tiada diambil tempat dan Allah Ta’ala itu tiada menjadi rupa sesuatu, karena Allah Ta’ala LAISAKAMISLIHI SYAI’UN WAHUWASSAMI’UL BASHIR artinya ; Tiada menyamai Allah Ta’ala itu sesuatu juapun dan ia amat mendengar lagi amat melihat akan segala pekerjaan baik yang zahir maupun yang bathin.

 

Dan lagi ketahui olehmu bahwasannya sesungguhnya keadaan kita itu tetap selama-lamanya didalam ILMU ALLAH TA’ALA jua, demikianlah se-benar-benarnya I’tikad kita, maka itulah I’tikad sekalian para Nabi-Nabi Allah, sekalian wali Allah dan I’tikada sekalian yang Sholih-Sholih maka janganlah kita ubah daripada i’tikad ini, supaya sampai kepada jalan FANAFILLAH dan BAQABILLAH,Artinya ; LAIP KITA DIDALAM ALLAH TA’ALA dan KEKAL ADANYA DENGAN ALLAH TA’ALA. Adapun artinya LAIP itu ialah HAPUS, hapus itu tiada lagi kelihatan ZAT kita, kecuali ZAT Allah Ta’ala se-mata. Begitulah hendaknya I’tikad dan pandang kita, umpamanya seperti ombak ia bernama ombak atau laut sebab ia bernama laut, tetapi pada hakikatnya adalah daripada AIR jua. Maka itu namanya tiga hakikat tetapi berasal daripada satu jua. Umpamanya seperti besi didalam Api, maka hilanglah besi itu oleh api, tiada kelihatan lagi ujud besinya, hanya keadaan api itulah yang kelihatan se-mata, zatnya, sifatnya dan Af’alnya.

 

Maka apabila ditetapkan keadaan itu dan dikeraskan didalam keadaan kita, niscaya hilanglah keadaan kita itu, maka tiada lagi dan sampailah kita kepada jalan fanafillah dan baqabillah, maka apabila kita tidur terlihatlah oleh kita dalalahnya pada bertemu.

 

TUDIBBUL BADANI HAJJA ALA QALBI, hancurlah badan jadilah HATI. TUDIBUL QALBI SHARARROHI, artinya, hancurkan hati jadikan ROH. TUDIBURROHI SHARANNURU, artinya, hancurkan roh jadikan CAHAYA, ialah AKU ALLAH (dalam Diam). Aku yang se-benarnya RAHASIA MARKUM MANUSIA didalam hatimu itu. Adapun hati manusia itu umpama cermin, maka apabila ditilik didalamnya, maka kelihatanlah itu TUHANNYA, daripada RAHASIANYA, karena rupa kita yang bathin itulah yang diakui Allah RUPA DARIPADA RAHASIANYA, karena dalil menyatakan yang artinya ; INSAN ITU RAHASIAKU, RAHASIAKU ITU SIFATNYA, SIFATNYA ITU TIADA LAIN DARIPADA UJUDKU yang WAJIB UJUD adanya. ALQALBUHAYATI SYIRRI ANA ILLA ANA, artinya ; Didalam Akal itu Hati, didalam Hati itu Roh, didalam Roh itu Syir, didalam Syir itu AKU. AKU RAHASIA SEGALA MANUSIA

AKU RAHASIA SEGALA MANUSIA DIDALAM HATI. Ketahui olehmu hai Shaleh. Inilah orang yang sebenar-benarnya mengenal ALLAH TA’ALA seperti ; MAN ARAFALLAHU FAHUWA ALLAH, yakni barang siapa mengenal ALLAH yaitu bernama Allah dan Muhammad.

 

6.1.8.ALAM MINKUM

 

Adapun HAYAT artinya dihidupkan, adapun MINKUM itu keTuhanan namanya. Maka inilah sifat Allah Ta’ala yang dizahirkan kepada manusia, maka manusia itu disertai sifat-sifat Tuhan, ialah ; HAYAT, QUDRAT, IRADAT, ASMA, BASHAR DAN KALAM. Inilah kejadian segala manusia, maka inilah yang dikatakan TAJLI ZAT namanya. Adapun yang jadi NYAWA itu terdiri dari (empat) perkara ; Pertama MANI, KEDUA WALI, KETIGA WADI, KEEMPAT MADI. Maka itulah yang disertai ia dengan sifat 7 (tujuh) tersebut diatas, tempat TAJLI ZAT MUHAMMAD dan ZAT INSAN. Bahwa daripada menyatakan sesuatu Qaidah perhimpunan marabat ABDIATUL JALAL, AHDIATUL QAHAR, ABDIATUL KAMAL, namanya. Kemudian daripada itu martabat AHDIAT itu ESA ia, itulah yang dinamai martabat, artinya tiada nyata-nyatanya. Adapun ZAT ALLAH TA’ALA itu sangat nyata ia pada insane maka jadi terlindung oleh UJUD ….sebenarnya-benarnya yang tiada dengan sifat sesuatu, yakni belum ada UJUD ALAM SYUHUD dan dinamai akan dia UJUD MUHDAR, artinya Ujud se-mata-mata.

 

Maka dinamai akan dia KUN AZALA artinya dahulu dan pertama sekali, dan dinamai akan dia KUNHI ZAT yang tiada dapat diketahui dan tiada boleh dipikirkan oleh akal dan tiada sampai kepadanya ILMU. Melainkan sedikit jua dan dinamai TUNAZZAH MAHAHI. Artinyasuci semata-mata. Mula suci belum Sifat dengan segala kelakuan dan belum dapat NUR itu, dan kedua.

 

Alam MINKUM itu adalah alam ketuhanan atau LAHUD. Ini sangat sekali , dan jarang hmbanya sampai kepada alam MINKUM ini  tidak seorangpun sampai kepadanya, kecuali apa-apa yang dikehendaki ALLAH buat hambanya. Orang yang telah sampai kepadanya itu ialah ; Hamba Allah yang sudah bulat tawakalnya kepada TUHANNYA. Dan tidak ada lagi yang patut diragukan lagi dan tidak ada lagi baginya rasayang ada. Kecuali ADA sendirinya dan berdiri dengan sendirinya . Dan orang yang demikian itu telah berasda dalam kedudukan KHIB didalam KHIB.

Dialah bernama KHIB itu dalam keseluruhanNYA.

Orang yang seperti itu, apa saja yang dikehendakinya, pasti jadi. MINKUM ; siapakah dan apakah yang disebut KUM itu didalam alam KUM itu ZAT TUHAN berdiri dengan sendirinya, dialah rahja kuasa, langit dan bumi dan alam seluruhnya.

Dan disini berdiri JALALULLAH, JANALLULLAH, KAHARULLAH, DAN KAMALULLAH. DAN DISINI DIA SENDIRI SEBAGAI HAKIM, DAN MEHAKIMI.

Memang dahsyat daripada DUSTA, lebih keras daripada baja, ebih hebat daripada segala yang hebat.

Alam KUM ini tiada beda dengan KUN

Singkatannya ialah KAFMIM dan KAFNUN

Samalah ia dengan ; MAHJUN dan MAKNUN

TANYAKANLAH KEPADA YANG LEBIH TAHU

 

6.1.9.MAKAM AHLUL AHIRAT

 

Makam ini disebut juga dengan makam ahlul ahirat, atau makam HAKIKAT SEMATA. Makam ini sangat dahsyat sekali. Ia diluar dari akal orang banyak. Dan ia tidak berpegang kepada kulit lahir daripada Nas dan dalil lagi. Ia telah menyeberang daripadaNas dan dalil yang ada ini, ia tidak berpegang dengan kata- kata yang ada ini lagi, dan tidak bersandar kepada hukum-hukum lahir lagi. Ia berdirisendiri menurut kata SIR-nyaInilah yang menjadi hokum baginya Jadi yang beginilah yang hamba katakan sangat dahsyat sekali, dan sangat hebat sekali

TIDAK AdA TUHAN, MELAINKAN TUHAN

TIDAK ADA ENGKAU, MELAINKAN AKU

TIDAK ADA AKU, MELAINKAN ENGKAU

ENGKAU DAN AKU ADALAH ESA

ENGKAU LENYAP, AKU BERNYATA

AKU LENYAP ENGKAUPUN NYATA

 

ENGAKU DAN AKU telah lenyap didalam kefanaannya,

kefanaan lenyap didalam ke-esaannya Tuhan.

Keesaan lenyap didalam kekidaman.

Kekidaman lenyap didalam kebaqaan.

Akhirnya fana dan baqa dalam keagungan.

Kini tiada kelihatan lagi makhluknya.

HAMBA dan TUHAN hanyalah asma.

HAMBA itu berarti ; AKU

TUHAN itu berarti ALLAH

HAMBA dan TUHAN adalah Satu

AKU dan ALLAH juga Satu

Kalau dihimpunkan menjadi : AKU ALLAH

Lenyap AKU, tinggallah ALLAH

FANA HURUF ALLAH, timbullah kosong

Kosong huruf, kosong asma, kosong suara, kosong segala-galanya, dan tidak apa-apa, tiada hingga. Ahirnya didalam kekosongan, Nampak jelas ujud membayang. Bayangan Allah adalah alam.

Terpandang kepada Allah Nampak jelas ujud yang sebenarnya. Karena ia tiada boleh pisah walau ……….Jadi bagi orang yang berada pada makam penelanjangan TUHAN, berkata dengan sembarang kata, tapi jadi. Apa yang dikehendaki pasti jadi.

Hanya orang banyak tidak mengerti dan tidak paham dengan apa yang dimaksudkan. Contoh banyak sekali kepada wali-wali Allah yang terdahulu. Hamba pribadi telah banyak membuktikan apa-apa. Yang terjadi, diluar kemampuan orang umum/awam.

Siapa percaya boleh percaya, dan siapa yang tidak percaya boleh tinggalkan ajaran ini.

AKULAH YANG ERNAMA CINTA, AKULAH YANG BERNAMA si HAK, AKULAH YANG BERNAMA SORGA DAN NERAKA ITU. AKULAH YANG BERNAMA ZATULHAQQ, SIFATULHAQQ, ASMAULHAQQ, DAN AF’ALLUNHAQQ, HAQUQULHAQ adalah ; HAQQ, HAQQ TA’ALA itulah AKU.TA’ALA itu namaku yang rahasia didalam ala mini.

 

RUHULHAQ RAHASIA HAMBA, NAMAKU DISEBUT SETIAP SAAT.

Apabila orang menyebut TA’ALA didalam bacaannya, atau dalam hatinya atau dalam DIAMnya. Maka tersebut samaku didalamnya.

AKULAH TA’ALA ITU, DAN AKULAH RAHASIA ITU.

BERARTI HAMBA ALLAH. Yang member nama yang empunya nama.

HAMBA ALLAH berarti : AKU ALLAH

NAMA YANG DIHANTARKAN KEPADAKU NYATA DARI ALLAH

 

Tiap-tiap nama seseorang itu mengandung hikmah. Hikmah itu bertepatan dengan pemberian nama itu. AKULAH YANG HAMBA DAN AKULAH YANG TUHAN.

 

AKULAH YANG BERNAMA siHAQ ITU

DAN AKULAH YANG NYATA DAN YANG GOIB ITU

AKU JUA YANG LAHIR DAN AKU JUA YANG BATHIN

AKU HIDUP YANG TIADA MATI-MATI, dan apabila AKU tiada lagi dalam dunia fana ini, janganlah mencari Aku lagi.

Aku tetap ada setiap orang yag beriaman kepada ALLAH. Bila engkau hendak bertemu AKU, pandanglah dirimu itu AKU. Tidak ada AKU, melainkan AKU. Dalam keseluruhannya.

 

AKULAH yang bernama ala mini, dan AKULAH YANG bernama akhirat itu

Tidak aku lihat didalam sesuatu itu, melainkan AKU melihat AKU

AKU itu telah lenyap dalam KE AKUANKu, sehingga tidaklah AKU melihat kehambaanku lagi. Dan Aku telah bernyata didalam AKU, beraku ku. Sehingga hapuslah mulutku dan hatiku

mengata AKU.

 

Kini Aku tidak berkata dengan lidah lagi, tidak dengan hati lagi, dan tidak dengan puad dan jantung lagi.

TA’ALA RIDHA KASIH SAYANGKU

TA’ALA RACHMAD ITU SELIMUTKU

TA’ALA NIKMAT ITU RASAKU

TA’ALA HIKMAH ITU RACHMAN RACHIMKU

TA’ALA SUNNAH ITU ATURANKU

TA’ALA SHOLEH ITU ILMUKU

TA’ALA ADIL ITU KEKUASAANKU

TA’ALA ISFIAH ITU KEMAUANKU

TA’ALA DHOIM ITU RAHASIA PRIBADIKU

TA’ALA ALAIH ITU KALAMKU PASTI

T ‘ALA JALAL ITU KEMESRAANKU

TA’ALA JAMAL ITU KEELOKKANKU

TA’ALA KOHAR ITU KEKERASANKU

TA’ALA KAMAL ITU KESEMPURNAAN DAN KEMULIAANKU

TA’ALA KHIB ITU KESATUANKU BAGI SELURUH ALAM

 

Demikialah sebagai penutup dari pembukaan

Rahasia yang terkandung pada kejadian DUNIA danAchirat, dan amalan akhir kalamku sebagai harta atau, Pembendaharaan GOIB yang kuwariskan kepada saudaraku

MUSLIMIN DAN MUSLIMAH dimanapun ia berada.

 

INILAH ASAL SEBENARNYA TUHAN

 

MENJADIKAN MANUSIA

KUN PAYAKUN                              : MENJADI OTAK PADA KITA YAITU ; ROH  IDOFIKUN HAQ                        : MATA TERANG HATI TERANG

KUN SABITAH                                : NAPSIAH NAFSU PADA KITA

KUN SAPUTIH                                 : NYAWA PADA KTA (GERAK PADA KITA)

KUN SADJATURRACHMAN        : KEHENDAK PADA KITA

KUN SUDJATULLAH                     : KELAKUAN PADA KITA

KUN RAHMAN                                : RUPA KITA

KUN ZAT HAYUN                          : TIADA MATI

KUN ILLA NUR                               : RASA SEGALA TUBUH KITA

 

NAMA DIRI HAMBA NUR HAYA QADIMTURNA ILALLAHI WAYARAKNA ILLALLAHI WAMA DAMA, ALA MA’PA’AL NAHU WALA ADJAM NAHU, MINGKULI DJAMIL AZIM WALA NAU WUDU BIHI ABADAN ABADA.

 

Kata Allah nyawa itu kekuasaanku dihati putih tempat bernyawadalam UKUP, dijadikan umat MUHAMMAD sekaliannya daripada ;

 

AIR KUM DUMULLAH. (yang bernama NUR MAYA QADIM).

LAILLAHAILLALLAH       : Hampir hamba kepada Tuhannya

LAILLAHAILLALLAH       : MAUJUD BIHAKQI

ILLALLAH                            : Aku maujud pa’hu (diri)

 

RAHASIA SYARIAT PD ANGGOTA TUBUH.

RAHASIATHARIKAT PD HATI.

RAHASIA HAKIKAT PD NYAWA.

RAHASIA MA’RIFAT PD DIRI. Kalau sudah mengenal diri nampaklah hakikat diri pencipta sekalian alam.

Itulah yang bernama               ; ALLAH : tiada berpermulaan tiada berkesudahan

LAILLAHAILLALLAH       ; zikir

ILLALLAH                            ; zikir

ALLAH                                  ; zikir, sunyi

MINALLAH                          ; HAMBA

BILLAH                                 ; MUHAMMAD

LILLAH                                 ; ALLAH

Dari pada ALLAH

Kepada ALLAH

Karena ALLAH

ROHANI                                : TUBUH SYARIAT

RAHMAN                              : HATI THARIKAT

IDOFI                                     : NYAWA HAKIKAT

BABBANI                             : RAHASIA MA’RIFAT

 

6.1.10. MAKAM SALIK

 

Ini jalan ringkas dimakam salik yaitu ambil jumlah, supaya lekas paham, asal mula ambil dari bawah naik keatas : Pertama ROHANI jasmani, arad basariyah segala tubuh yang kasar. Kedua ayan darajiah, roh idhofi atau roh maruhul qudus artinya roh yang halus tetapi masih kasar jua halusnya itu jirim-jisim artinya tubuh yang halus betul, halus masih kasar jua, halusnya ini seperti debu dijendela iruhul cahaya matahari, karena alam roh, alammitsal, alam ajasam dan alam insan, sifat ma’ani nur iman belum dapat mengenal allah, mesti berhancur atau jalan fana, hapus atau jalan baqa ulbaqa atau jalan kadim bagi kadim, baru bisa dapat makam ubudiyah dan mendapat makam uluhiyah serta didapatnya pula makam rububiyah.

Serta didapatnya akan salik karena nur mubassarah dengan nur mutalazimah, berlazim-laziman didapatnya ZAUK WADJIDAN IDRAK artinya dirasa dengan pengrasanya dan didapat dengan pendapatnya daripada yang lemah, karena kita tiada merasa, dan mendapat serta lemah, hanya ilmu saja yang tahu sampai kepada JUDBAH, dan makam laduniyah atau makam istiqomah artinya tetap.

 

6.1.11. ALAM NUR / NUR AKLI NUR

 

BISMILLAHIRRACHMANNIRRACHIM

 

Ambil ringkas saja jalan asal UJUD ADAM mesti mengambil amanah HALAKAL INSANA MINTIN. Artinya asal manusia itu dari pada ujud Adam. Adapun ujud Adam dari pada NUR MUHAMMAD. Jadi jasad dan roh oun jadi dari pada NUR MUHAMMAD jua. Sebenar-benarnya diri adalah Roh. Sebenar-benarnya Roh adalah manusia, sebenar-benarnya manusia adalah Muhammad, sebenar-benarnya Muhammada adalah NURULLAH, sebenarnya NURULLAH ialah NUR ZAT, sebenarnya NUR ZAT ialah ILMU ; mengetahui pandang SUHUD yaitu pandang SALIK.NAIK dan TURUN, tatkala naik pujinya “HU” dan tatkala turun pujinya “ALLAH” Naik senaiknya, turun seturunnya tiada di naik-naikan, tiadaa diturunkan. Ini hanya sendirinya, janagan berpegang kepada nafas keluar masuknya, kalau naik, nafas masuk, kalau turun nafas keluar.

 

Yang dikata dengan lidah dan hati. Yang dipakai puji naik HU dan turun ALLAH. Supaya jangan berpegang kenafas, tetapi naik-turun, tatkala naik pujinya HU melengkapi tujuh lapis langit ujudnya HUTASARPAH la hurufin wala sautin, tiada huruf dan suara, zat dirinya. Tatkala turun pujinya ALLAH melengkapi tujuh lapis bumi ujudnya huyasariyah ZAT dirinya.

Inilah dinamakan makam SALIK, (taraki dan tanazul) turun dan naiknya tetap berdiri sendirinya sampai pulang ke rahmattullah. Jika ada yang menyerupai tolak, semua was-was dari syaiton, tidak ada yang menyerupai lagi.

Itulah JIBU / UJUD MUHDAR.

 

 

 

BISMILLAHIRRACHMANIRRACHIM

 

Yang menjadikan dan yang memberi baik dan jahat dan yang lengkap tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi yaitu hanya ZAT ALLAH dan SIFAT ALLAH yang sebenar-benarnya.

 

Adapun akan JIBU itu yaitu yang tiada ber ujud dan tiada ia ZAT. Adapun ZAT dan SIFAT itu namanya jua, maka jikalau ada ujud, ZATlah namanya. Sungguhpun ada ujudnya, yaitu belum nama tetapi pada hakikatnya tiada lain daripada JIBU, tiada ujudnya dan tiada zatnya dan tiada sifatnya melainkan dirinya jua, yang sekalian ni JIBU jua. Adapun yang ber-ujud itu zatnya dan yang berzat itu ujudnya, dan yang ber pa-el itu sifat ilmunyadan yang berilmu itu Zatnya karena Tuhan itu yang tiada bersifat. Adapun Allah itu bukan karena ia karena nama, Allah itu namanya. Engkau pikirkan/ cari dengan pikiran yang sempurna. Maka barang siapa yang menyembah ZAT ALLAH maka orang itu sirik, barang siapa meninggalkan ZAT ALLAH dan UJUD ALLAH maka orang itu mukmin sebenar-benarnya MUKMIN.

Maka itu barang siapa menyembah ZAT atau SIFAT, maka orang itu BID’AH sesat menjadi kafir kepada Allah, Islam makhluknya. Adapun lenyap sekalian semesta alam ini maklum, lenyap maklum kepada hayun, lenyap hayun kepada ZAT, kepada hidup yang tiada berzat, karena zat dan sifat dan ujud kembali kepada JIBU, pada hari yang kemudian, kedua-keduanya itu karena tiada kembali kepada tiada.

 

6.2.1. UJUD MUHDAR

 

Alhamdulillahirabbil alamin wassalatu wassalam ‘ ala saidul mursalin, wa’ala alihi wasahbihi ajma’in. Asal-usul sebelum ada bumi dan langit, tiada ada apa-apa hanya kosong saja, melainkan ALLAH TA’ALA saja yang ada sendirinya tiada apa-apa. Allah pun belum ada namanya LA – TA – YIN, tiada senyata-nyatanya. Hanya UJUD MUHDAR yang ESA, hidup didalam ilmunya takluk kabdah namanya ESA sendirinya didalam genggamannya yang hidup tiada mati.

AHDIYAT, WAHDAH, WAHDIYAT

Tanzizi kadim suluhiyah kadim takluk kodrat iradat ; jalal, jamal, kabar dan kamal. artinya ; kebesaran, keelokkan, kekerasan dan kesempurnaan. Maka lengkaplah bumi dan langit dengan isinya semesta sekalian alam ini adanya. KUN katanya ALLAH PAYAKUN kata MUHAMMAD, ALLAH bernama ZAT MUHAMMAD bernama SUHUN ZAT, karena kita bernama tanzizi hadist, arad basariyah tubuh yang kasar sifat baharu alam, keterangan ringkas ini didabit oleh DATUK ABDURRAHMAN dan diperbanyak oleh DATUK SYAHRUDIN.

 

6.2.2. HADIST QUDSYI

 

Dan ini bermula hadist qudsyi, menerangkan sehingganya pada batang tubuh kita dan lenyap melainkan yang ada, Ujudnya Allah Ta’ala semata-mata, dan inilah keterangannya tersebut di bawah ini.

 

Hancurlah badan timbul hati, Hancurlah hati timbul akal, Hancurlah akal timbul fikir,Hancurlah fikir timbul faham, Hancurlah faham timbul ilmu, Hancurlah ilmu timbul rahasia, Hancurlah rahasia timbul cahaya, Hancurlah cahaya timbul nyawa, Hancurlah nyawa timbul AKU (rahasia) melainkan ujudku yang ada.

 

6.2.3. BERZIKIR HANYA KEPADA ALLAH S.W.T.

 

7.1.1. JALAN MENUJU TINGKATAN ZIKIR

 

Otak hanyalah aktiviti-aktiviti bio-elektrik yang melibatkan sekumpulan saraf yang dipertanggungjawabk an untuk melakukan tugas-tugas tertentu bagi membolehkan ia berfungsi dengan sempurna.

 

Setiap hari 14 juta saraf yang membentuk otak ini berinteraksi dengan 16 juta saraf tubuh yang lain. Sem ua aktiviti yang kita lakukan dan kefahaman atau ilmu yang kita peroleh adalah natijah daripada aliran interaksi bio-elektrik yang tidak terbatas.

 

Oleh itu, apabila seorang itu berzikir dengan mengulangi kalimat-kalimat Allah, seperti Subhanallah, beberapa kawasan otak yang terlibat menjadi aktif. Ini menyebabkan berlakunya satu aliran bio-elektrik di kawasan-kawasan saraf otak tersebut.

 

Apabila zikir disebut berulang-ulang kali, aktiviti saraf ini menjadi bertambah aktif dan turut menambah tenaga bio-elektrik. Lama-kelamaan kumpulan saraf yang sangat aktif ini mempengaruhi kumpulan saraf yang lain untuk turut sama aktif. Dengan itu, otak menjadi aktif secara keseluruhan.

Otak mula memahami perkara baru, melihat dari sudut perspektif berbeza dan semakin kreatif dan kritis, sedang sebelum berzikir otak tidak begini. Otak yang segar dan cergas secara tidak langsung mempengaruhi hati untuk melakukan kebaikan dan menerima kebenaran.

 

Hasil kajian makmal yang dilakukan terhadap subjek ini dimuatkan dalam majalah Scientific American, keluaran Disember 1993. satu kajian yang dilakukan di University Washington dan ujian ini dilakukan melalui ujian imbasan PET yang mengukur kadar aktivitas otak manusia secara tidak sadar.

 

Dalam kajian ini, sukarelawan diberikan satu senarai perkataan benda. Mereka dikehendaki membaca setiap perkataan tersebut satu persatu dan mengaitkan perkataan-perkataan dengan kata kerja yang berkaitan.

 

Apabila sukarelawan melakukan tugas mereka, beberapa bahagian berbeza otak mempamerkan peningkatan aktiviti saraf, termasuk di bahagian depan otak dan korteks.

Menariknya, apabila sukarelawan ini mengulangi senarai perkata an yang sama berulang-ulang kali, aktiviti saraf otak merebak pada kawasan lain dan mengaktifkan kawasan saraf lain.

Beberapa Bentuk Zikir

 

Dalam ajaran tasauf ada beberapa bentuk zikir walaupun umpamanya berlainan antara saufi ini dan saufi itu, atau guru ini, dan guru itu, semuanya disebut zikir jua. Bagi penelitian hamba yang daif lagi hina in, semua bentuk zikir itu baik hanya ada beda dalam sebutannya dan hurufnya. Tapi semua itu adalh zikir.

 

Tetapi yang penting disini bukan huruf dan suara akan tetapi isinya apakah zikirnya kosong, atau isi, itulah yang menjadi nasa allah. Dalilnya adalah : laya’ zikrullah ilallah, artinya : tiada menyebut Allah hanya Allah, inilah ainnya. Sekarang zikir yang hendak menangkap burung nuri seekor. Umpamanya kita berzikir mangata : hu allah, hu allah. Itu ibaratnya  menangkap burung tertangkap ekornya.

Mengata : allahu, allahu, baru tertangkap bulunya saja

Mengata : allah, allah, tertangkap kakinya saja

Mengata : la ilalaha ilallah zatullah tertangkap kepala

Mengata : la ilaha ilallah hak, tertangkap paruhnya

Mengata : la ilaha ilallah nurul hak, tertangkap dadanya.

Mengata : lahu, lahu, tertangkap lehernya

Mengata : la, la, la tertangkap sayapnya saja

Mengata : hu, hu, hu tertangkap suaranya saja

Mengata : ah, ah, ah tertangkap keindahannya saja.

Ahirnya : la hurupin wala sautin : baru tertangkap saikungan

Artinya : diam

 

Apabila senarai perkataan baru diberikan kepada mereka, aktiviti saraf kembali meningkat di kawasan pertama. Ini sekali gus membuktikan secara saintifik bahwa perkataan yang diulang-ulang seperti perbuatan berzikir, terbukti meningkatkan kecergasan otak dan menambah kemampuannya.

Oleh itu, saudara-saudara ku seIslam, ketika saintis Barat baru menemui mukjizat ini, kita umat terpilih ini telah lama mengamalkannya dan menerima manfaatnya. Malang bagi mereka yang masih memandang enteng kepentingan berzikir dan mengabaikannya.

 

Perlu di-ketahui berapa banyak ulama fuqaha’ yang kuat-kuat beribadat tetapi malang-nya di-hati mereka kosong dengan kesan-kesan warid atau nur iaitu warid seperti datang-nya sifat takwa,khauf, zahid dan tawakkal dengan sebenar-benar- nya.Mengapa? Jawab-nya karena ibadat mereka tidak ada persambungan wayar langsung dengan tarikat sufiah yang mendatangkan warid atau nur..Hendaklah kita faham bahwa ibadat fuqaha’ itu hanya untuk menuntut pahala akhirat jua bukan ibadat sebagai alat pembersihan hati.

Tetapi ibadat tarikat sufiah adalah sebagai alat pembersihan hati, bukan karena menuntut pahala akhirat..Jadi zikir sama sama berzikir terdapat satu macam sebutan, tetapi zikir tarikat lain tujuan-nya dan zikir fuqaha’ lain pula matlamatnya bahkan ia tidak ada langsung persambungan wayar dengan tarikat sufiah.

Bukan saja zikir, perkataan atau ayat yang sama jika diulang-ulang seperti dalam kaedah ‘self hypnosis’ akan menyebabkan pertambahan aktiviti sel2 neuron otak lalu diikuti tindakbalas2 spt yg dinyatakan. Kaedah ‘self hypnosis’ banyak dipakai oleh orang2 Barat untuk mengurangkan masalah psikologi, menahan diri dari terlebih makan ( berdiet ) dan berbagai-bagai lagi.. Kesan zikr yang tidak kelihatan yang lebih utama kemungkinan besar adalah kepada ROHANIAH manusia.

 

“Ketahuilah hanya dengan mengingati Allah, hati menjadi tenang” (Ar Raad : 28)“Orang Mukmin itu bila disebut nama Allah,gementar hati mereka”(Al-Anfaal: 2)

 

Maka segala amal dan segala Hal itu hanya sanya yang menetapkan(meneguhkan) dia di dalam hati oleh wujud Zikir pada Hati dan Lisan. Dan kesempurnaannya(zikir) itu ialah dengan Hudur(hadir hati) dalamnya (zikir).

 

Dan jangan ditinggalkan karena ketiadaan Hudur tetapi sebut oleh mu akan Tuhan mu atas tiap-tiap hal seperti yang dikata oleh Muallif (Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) dalam kalam hikmahnya;

 

Jangan engkau tinggalkan Zikir karena ketiadaan Hudur mu serta Allah di dalamnya(zikir) karena bahwasanya lalaimu daripada tidak berzikir akan Allah itu telebih sangat jahatmu daripada kelalaianmu dalam berzikir.

 

Jangan engkau tinggalkan Zikir karena ketiadaan Hudur mu serta Allah di dalamnya(zikir) karena bahaasanya lalaimu daripada ketiadaan wujud zikir akan Allah itu telebih sangat jahatmu daripada lalaimu dalam wujud zikir akan Dia.

(Ini adalah karena) karena bahwasanya lalai daripada zikir itu menjauhkan daripada Allah Taala dan berpaling pada KulliahNya(semua halmu kepada Allah) dan lalai

dalam zikir itu Hudur pada Juziyyahnya(sesetengah masa atau waktu) dan karena bahwasanya dalam zikirnya itu menghiasi anggotanya dengan ibadat dan lalai itu menghilangkan akan dia (anggota daripada berbuat ibadat)

 

Keterangan Suluk (Zikir secara umum)

Menurut guru suluk, Zikir secara umumnya ialah apa sahaja amalan dan perbuatan zhohir dan batin yang membawa seseorang itu kepada mengingati Allah. Amal ibadat dan perbuatan sama ada yang zhohir atau batin yang berlandaskan hukum syarak yang dikerjakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri dan mendapat keredhoan Allah dikatakan ianya sebagai zikir. Ini adalah karena zikir itu terbahagi kepada kepada beberapa bahagian dan martabat seperti Zikir Anggota, Zikir Lisan, Zikir Qalbi dan Zikir Sir serta Zikir yang tenggelam dalam Mazkurnya yang akan dinyatakan oleh  melalui keterangan selanjutnya nanti.

 

Melalui kalam hikmah dan keterangan di atas, seseorang hamba itu dianjurkan supaya sentiasa berzikir dan terus berzikir walaupun hatinya lalai daripada mengingati Allah atau tidak hadir pada hati akan makna-makna dan rahsia zikir(Hudur) semasa melaksanakannya. Inilah adalah karena perbuatan/amalan berzikir ini walaupun dikerjakan dalam keadaan lalai, ianya sudah dianggap sebagai satu ibadat atau amal kebaikan jika dibandingkan dengan hal-ahwal seorang yang langsung tidak berzikir di mana secara terang dan nyata menunjukkan penderhakaan dan kejahatannya terhadap Allah.

 

Orang yang langsung tidak berzikir adalah mereka yang jauh dari Allah dan kejahatan mereka itu menjauhkan lagi dari Allah karena dengan kesombongan mereka itu menyebabkan mereka berpaling dari hal-ahwal atau tindak-tanduk kewajipan yang perlu dilaksanakan sebagai seorang hamba kepada TuhanNya.

Berbeda dengan orang yang sentiasa mengerjakan ibadat seperti sholat, puasa, di samping berzikir serta lain-lainnya; walaupun mereka lalai sewaktu mengerjakannya, sekurang-kurangnya ada juga pada waktu atau ketika/saat-saat yang tertentu akan hudur hati mereka dengan Allah atau setidak-tidaknya terhias zhohir anggota dan perbuatannya dengan amal-ibadat yang dituntut oleh syarak. Bukankah boleh dikatakan satu kebaikan pada orang bersholat atau berpuasa berbanding dengan mereka yang langsung tidak sembahyang dan berpuasa?.

 

Demikain juga lidah yang sentiasa basah dengan zikir walaupun hatinya lalai itu terlebih baik dan mulia daripada lidah yang kosong hampa dengan kalimah-kalimah yang suci itu.Dari karena inilah, meneruskan lagi keterangannya yang seterusnya seperti berikut;

 

Keterangan oleh ;

Dan kata Wasthi r.a.;

Bermula lalai daripada menyebutnya(zikir) itu terlebih sangat (jahat) daripada lalai dalam zikirnya.

 

Dan dikata orang bagi Abi Osman An-Nahdi r.a.;

Kami zikir akan Allah dan tiada kami dapat akan manis dan Hudur.

Maka katanya (Abi Osman);

Puji jua oleh kamu akan Allah atas(karena) menghiasi anggota daripada segala anggota kamu dengan taatnya.

 

Dan kata setengah mereka itu (kaum sufiah);

Syukurlah engkau akan Allah atas barang yang dikurniakanNya daripada Zikir Lisan dan jikalau melakukan (lidah) kepada tempat mengumpat-ngumpat nescaya tiada ada engkau berbuat dia (zikir). Dan Allah Taala terlebih memuliakan daripada bahwa diHudurkannya hambanya dengan lisannya (walaupun) tiada mengurniai atasnya dengan Hudur hatinya. Dan sebut olehmu dengan lisanmu dan bersungguh-sungguh dirimu dalam Hudur hatimu.

Keterangan Suluk (Tingkatan Pertama; Zikir Lisan)

Ketiga-tiga petikan yang didatangkan oleh di atas seakan ingin menunjukkan kepada kita bahwa betapa perlunya seorang hamba itu membasahi lisannya dengan berzikir. Terlebih-lebih lagi bagi orang-orang Salik yang ingin berjalan kepada TuhanNya, tuntutan untuk melakukan Zikir ini adalah sangat-sangat ditekankan sebagai senjata dan alat pencuci jiwa semasa dan sepanjang perjalanannya menuju kehampiran. Walaupun lalai atau merasa pahit dan berat untuk berzikir, mereka digalakkan juga untuk mengistiqamahkan Zikir Lisan ini mengikut awarid dan bilangan-bilangan tertentu.

 

Pandangan di atas juga menegaskan agar para Salik sentiasa bersyukur dengan anugerah dan Kurnia Allah yang sedikit dimana Allah menghiasi anggota zhohir mereka dengan amal taat dan patuh kepada Allah. Lidah yang digunakan untuk berzikir sekurang-kurangnya dapat mengelakkannya daripada mengumpat-umpat dan mengeji orang lain atau ucapan yang sia-sia atau lagho. Inilah wajah-wajah kemuliaan yang dikurniakan Allah kepada mereka yang berzikir walaupun hatinya lalai. Kemampuan untuk berzikir secara lisan tanpa hudur hati ini hendaklah disyukuri agar nanti mendapat kurnia dan anugerah Allah yang lebih lagi sebagaimana firman Allah yang bermaksud; “Dan sekiranya kamu bersyukur, nescaya kami(Allah) akan tambah lagi”.

 

Dengan kemuliaan kurnia Allah yang sedikit dan kelebihan yang ada pada orang yang bersyukur inilah, maka Muallif (Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) mendatangkan kalam hikmahnya yang seterusnya sebagaimana berikut;

Maka mudah-mudahan bahwa diangkatkan oleh Allah akan dikau daripada Zikir(lisan) serta diperoleh lalai kepada Zikir serta diperoleh jaga

Keterangan oleh ;

Maka mudah-mudahan bahwa diangkatkan oleh Allah akan dikau daripada Zikir serta diperoleh lalai kepada Zikir serta diperoleh jaga(Yaqozhoh) dengan LathifNya dan InayahNya karena bahwasanya jaga itu ingat hati daripada mengantuk ghoflah dan tidur juhalah kepada Hadirat Al-Wafah(sempurna sebagai seorang hamba) dan Adab Al-Khidmat. Dia sanalah berpindah ia daripada zikir lisan daripada zikir qalbi yang Hudur daripada melazimkan dia (zikir lisan).

Keterangan Suluk (Tingkatan Kedua; Zikir Qalbi)

Apabila seorang hamba/Salik mengistiqamahkan dan sentiasa bersyukur dengan Zikir Lisan mereka, Insya Allah…. Allah Yang Maha Lemah Lembut dengan pertolongan dan limpah kurniaNya akan mengangkatkan martabat Zikir Lisan mereka kepada Zikir Yaqzhoh.Dengan Zikir Yaqzhoh ini, hati hamba yang sebelum ini lalai atau ghoflah dengan gangguan-gangguan keduniaan akan terjaga dan tersedar untuk mula melihat kepada hakikat Zikir Lisan serta segala suatu yang lain. Mata hati yang sebelum ini tertutup sewaktu berzikir akan terbuka untuk memandang Keesaan dan Keagungan Allah.

Zikir-zikir lisan yang diucapkan akan terlancar dan bergerak selari dengan gerakan hati di samping dapat merasai makna-makna dan rahsia zikir mengikut kadar yang dikurniakan Allah.

 

Hati yang sebelum ini, buta dan jahil dengan hakikat dan makrifat mula mengenali dan memahami makna-makna di Alam Malakut yang terpancar pada zhohir sesuatu. Mereka dapat melihat akan hikmah dan pengajaran di sebalik sesuatu yang zhohir yang mendatangi mereka. Hiduplah hati atau jiwa mereka menuju ke Hadirat Al-Wafah yang akan menyempurnakan kebersihan hati untuk layak dipanggil sebagai seorang hamba dengan tahu melaksanakan adab-adab kehambaan dan adab-adab Ketuhanan dengan pelbagai hal-ahwal hati yang merujuk kepada kepatuhan dan ketundukkan yang penuh dengan kesedaran batin.

Dengan sebab inilah Zikir serta jaga ini dinamakan juga sebagai Zikir Qalbi karena hidup hati itu dengan mengingati dan memandang Allah pada setiap kali memandang “ghair” atau sesuatu yang zhohir; sedar dan terjaga hati itu untuk mengenal dan memahami akan hakikat bagi segala sesuatu. Dengan Zikir Qalbi inilah, bermulalah satu perjalanan hati untuk meneroka dan memasuki alam-alam batin atau alam-alam rahsia atau Alam Ketuhanan Yang Maha Tinggi.

 

Dan dengan karena inilah diisyaratkan pula Muallif (Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) sebagai menyambung dalam kalam hikmahnya yang seterusnya sebagaimana beriknya;

Dan daripada zikir serta diperolehi jaga (Zikir Yaqozhoh) kepada zikir serta wujud Hudur serta Allah (Zikir Sir).

Keterangan oleh ;

 

Dan daripada zikir serta diperolehi jaga pada zikir serta oleh Hudur serta Allah. Dan adalah Hudur kepada mereka itu iaitu Hudur dengan Haq Taala tatkala ghaibnya daripada sekelian pancaindera dan daripada memandang agyar. Dan dalam Maqam ini berpindah ia daripada Zikir Qalbi kepada Zikir Sir. Zikir Sir itu ghaib ia daripada barang yang lain daripada Mazkor.

 

Keterangan Suluk (Tingkatan Ketiga; Zikir Sir)

Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan kasih-sayangNya Yang Maha Tinggi, Allah mengangkatkan Maqam Zikir Qalbi seorang hamba pilihanNya kepada tingkat yang seterusnya iaitu Zikir Sir. Zikir Sir ini sebagaimana keterangan di atas merupakan Zikir yang telah datang kehadiran hati serta Allah.

 

Dan Zikir ini juga merujuk kepada kehadiran Rahsia diri yang terpendam sebelum ini. Hidup Sirnya dengan TuhanNya di mana seluruh ingatan, seluruh pandangan(syuhud) dan seluruh “rasa” tertumpu kepada Yang Haq. Ingat dengan Yang Haq; Syuhud kepada Yang Haq dan “merasa” dengan Yang Haq. Dengan kata lain, seluruh anggota badan yang zhohir dan batin sentiasa dalam keadaan Zikir, inilah adalah karena, jiwa atau hati hamba telah hapus atau hilang atau qhaib daripada pengaruh pancaindera dan memandang kepada Agyar pada pihak tidak diiktibarkan apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasa, apa yang diucapkan; malah setiap hal-ahwal zhohir mereka adalah merupakan Zikir karana mereka tidak melihat sesuatu itu melainkan dilihatNya Allah dan tidaklah mereka dilakukan sesuatu perbuatan atau amalan melainkan dengan “perintah” yang datang dari Allah.

 

Sungguhpun demikiannya hal keadaan hati yang sentiasa ingat akan kehadiran Allah dalam tiap-tiap sesuatu itu berzikir dan berzikir dengan Sirnya, namun ianya belum sampai kepada puncak kesempurnaannya yang Hakiki. Hati ini masih melihat dan memandang kepada dirinya sendiri, hati ini masih terpesona dengan keajaiban rahsia dirinya di mana hal ini menunjukkan bahwa masih ada lagi wujud yang lain iaitu dirinya. Ini merupakan satu kecacatan pada Tauhid yang menjadi intipati dan rahsia Zikir itu.

 

Dan dengan karena inilah diisyaratkan pula Muallif (Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) sebagai menyambung dalam kalam hikmahnya yang seterusnya sebagaimana beriknya;

 

Dan daripada zikir serta diperoleh Hudur (Zikir Sir) kepada Zikir serta diperoleh ghaib daripada barang yang lain daripada Mazkor

 

Dan daripada zikir serta diperoleh Hudur kepada zikir serta diperoleh ghaib daripada barang yang lain daripada Mazkor ia hingga masuklah orang yang zikir itu ke dalam MazkorNya dan ghaib Sirnya takala ZuhurNya (nyata Allah). Maka adalah ghaib zikirnya dengan zikirnya.

 

Dan daripada Zikir serta Hudur kepada Zikir serta diperoleh ghaib daripada barang yang lain daripada Mazkur(TuhanNya yakni Allah) hingga masuklah orang yang Zikir Allah ke dalam MazkurNya dan ghaib Sirnya tatkala ZhuhurNya (Nyata Allah). Maka adalah ghaib Zikirnya dengan Zikirnya.

 

Keterangan Suluk (Tingkatan Zikir Keempat/Maqam Kesempurnaan)

 

Setelah melalui hal-ahwal atau Maqam Zikir serta Hudur atau disebut juga sebagai “Zikir Sir”, seorang hamba dengan limpah kurnia Allah akan diipndahkan pula kepada Zikir Yang Ghaib dalam MazkurNya atau disebutkan juga sebagai “Ghaib Zikirnya dalam Zikir” atau “Zikir dengan Mazkur” pada pihak hilang atau ghaib diri/hati yang berzikir dalam Hakikat Zikir iaitu Allah. Maqam ini adalah merupakan puncak atau tingkat tertinggi bagi mereka yang seakan mabuk dengan TuhanNya Yang Ampunya Zikir. Keadaan ini digelar juga Fana dalam Fana di mana hilang segala rusum dan isyarat. Apa yang wujud ialah Wujud Yang Hakiki yakni Allah semata-mata.

Dari keterangan dan perbincangan seperti yang telah disentuh sebelum ini, sekiranya kita dapat menangkapi kefahamannya, jelaslah bahwa bagi setiap tingkat Zikir itu menunjukkan hal-ahwal hati/diri atau yang menyatakan Maqam kedudukan hamba dengan TuhanNya. Sebagai merumuskannya, mendatangkan keterangannya yang seterusnya sebagaimana berikut;

Keterangan oleh Pengarang Kitab Hikam

 

Dan pada ketika itu

* dalam Zikir Lisan itu Maqam orang orang yang ahli Ghoflah daripada segala orang

 awam.

* Dan Maqam Zikir Lisan dengan jaga Qalbi itu Maqam orang yang Ahli Suluk.

* Dan Maqam Zikir Dalam Hadirat Mazkur itu Maqam Al-Khowas

* Dan Maqam Al-Ghaib Dalam Mazkur dari pada Zikir itu Maqam Khowasul-Khowas, orang yang alhi Fana ‘An Fana.

 

Maka adalah sentiasa Zikir itu atas kata “Laa ilahaillaLlah” serta ikhlas itu sebab bagi menjagakan anggota daripada wujud ghoflah serta Zikir.

Dan Zikir “Allah.. Allah” itu sebab bagi mengeluarkan engkau daripada jaga dalam Zikir kepada wujud Hudur serta Mazkur.

Dan Zikir “Hu Hu” itu sebab bagi mengeluarkan engkau daripada tiap-tiap barang yang lain daripada Mazkur.

Dan kata setengah mereka itu (Kaum Sufiah);

* bermula yang membukakan Qalbu itu (ialah) kata “Laa ilahaillaLlah”;

* dan yang membukakan Ruh itu (ialah) “Allah..Allah”

* dan yang membukakan Sir itu ialah “Hu Hu”.

* Dan “Laa ilahaillaLlah” itu makanan Qalbu dan

* “Allah..Allah” itu makanan Ruh dan

* “Hu Hu” itu makanan Sir.

Keterangan Suluk

Keterangan  di atas menunjukkan kepada akan Maqam orang-orang yang berzikir serta lafaz-lafaz Zikir mengikut tingkatan kedudukan mereka di samping menyatakan tujuan-tujuan lafaz zikir tersebut mengikut peringkat-peringkatnya.

 

Apa hal pun guru suluk memberi peringatan bahwa, tidaklah patut bagi mereka yang berada pada maqam-maqam yang terkebawah mengamalkan zikir-zikir Maqam yang di atasnya. Umpama seorang awam yang ahli ghoflah…karena terlalu ingin cepat sampai kepada Maqam tertinggi meninggalkan Zikir Lisan dan terus berzikir dengan Zikir Sir iaitu “Hu Hu”. Bandingannya seperti seorang yang memakai pakaian orang lain yang tidak sepadan/sepatutnya dengan saiz tubuhnya. Baju atau jubah yang saiznya besar jika dipakaikan pada tubuh yang kecil, maka akan tampaklah kejanggalannya. Bukankah ini satu amalan atau usaha perbuatan yang menunjukkan “kurang berakalnya” si pemakai. Menunjukkan amalan atas dorongan nafsu semata-mata dan biasanya ia tak akan bertahan lama(tidak istiqamah).

 

Apa yang perlu dan patut dilakukan ialah tetap pada halnya atau maqamnya dan melaksanakan hak dan adab-adab hal atau maqam tersebut di mana mereka menetap/duduk sehinggalah mereka diperintahkan untuk berpindah kepada maqam-maqam yang lain. Inilah sebahagian kecil daripada adab-adab bagi mereka yang berzikir.

Keterangan oleh Pengarang Kitab Hikam

Dan kata setengah mereka itu (Kaum Sufiah); bermula segala orang yang Zikir itu atas lima martabat.

 

* Pertama – Yang dizikir dengan lisan tiada dengan Qalbi.

* Kedua – Yang dizikir dengan Qalbi tiada dengan Lisan.

* Ketiga – Yang zikir dengan Aqal.

* Keempat – Yang zikir dengan Sir

* Kelima – Yang Zikir dengan Mazkur.

7.1.2.ZIKIR HARIAN NABI MUHAMMAD S.A.W

Zikir harian Nabi Muhammad SA.W., wajib dijadikan contoh dan suri tauladan bagi kehidupan sehari – hari. Dengan harapan akan menentramkan hati dan jiwa sehingga bisa tetap berfikir positif serta senantiasa berhuznudzon.

Isilah waktu luang anda untuk memperbanyak dzikir, bukan untuk melamun atau membicarakan keburukan orang lain.

 

Keutamaan Zikir Harian Nabi Muhammad S.A.W.

Berikut ini terdapat keutamaan melakukan dzikir yang dijelaskan melalui firman Allah di dalam Al Quran dan sabda Rasulullah S.A.W., di dalam hadits :

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al Ahzab : 41-42)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.” (QS. Al Baqarah : 152)

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah : 10)

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamumenyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. 201- Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.202- Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah : 200-202)

“Aku tergantung pada persangkaan hambaKu. Dan Aku bersamanya jika ia mengingat Aku. Jika dia mengingatKu dalam hatinya, Akupun mengingatnya dalam HatiKu. Jika ia mengingatKu dalam suatu majelis, Akupun mengingatnya dalam suatu majelis yang lebih baik dari mereka. Dan jika ia mendekatiKu sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta. Dan Jika ia mendekatiKu sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia mendekatiKu dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari.” (HR Bukhari, Muslim , Ahmad)

” Maukah kuberitahukan kepadamu suatu amalan yang paling baik dan paling suci disi Tuhanmu, dan paling menaikan derajatmu, dan lebih baik bagimu daripada menginfakan emas dan perak, serta lebih baik bagimu daripada berjuang melawan musuh, kamu membunuh musuh atau musuh membunuhmu,” para sahabat menjawab “ya” Sabda beliau S.A.W., “ Dzikrullah” (HR Ahmad, Tarmidzi, Ibnu Majah)

Dzikir Setelah Melaksanakan ShalatBerikut ini dzikir yang biasa dilafadzkan Rasulullah S.A.W., sesaat setelah melaksanakan shalat baik shalat sunnah maupun shalat fardhu, antara lain:

Istighfar (Astagfirullah) 3 Kali

Tasbih (Subhanallah) 33 Kali

Tahmid (Alhamdulillah) 33 Kali

Takbir (Allahu Akbar) 33 Kali

 

Laa Ilaaha Illallaahu Wahdahuu Laa Syariika Lah, Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Wa Huwa’Alaa Kulli Syai’in Qadhr. “Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang mempunyai kekuasaan dan kerajaan yang memerintahkan, bagi-Nya segala puji-pujian yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”

Allaahumma antas salaamu wa minkas salaamu wa ilaika ya’uduus salaamu fa hayyinaa rabbanaa bis salaami wa adkhinal- jannata daaras salaami tabaarakta rabbanaa wa ta’aalaita yaa dzal jalaali wal ikram. “Ya Allah Engkau adalah Dzat yang mempunyai kesejahteraan dan daripada- Mulah kesejahteraan itu dan kepada- Mulah akan kembali lagi segala kesejahteraan itu. Ya Tuhan kami, hidupkanlah kami dengan sejahtera. Dan masukkanlah kami ke dalam surga kampung kesejahteraan. Engkaulah yang kuasa memberiberkah yang banyak dan Engkaulah Yang Maha Tinggi, wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”

Wa ilaahukum ilaahuw waahidun laa ilaaha ilaa huwar rahmaanur rahiim. “Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Allaahumma laa maani’a limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa radda limaa qadhaita wa laa yanfa’u dzal-jaddi minkal-jaddu. “Ya Allah, tidak ada yang menghalangi segala apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang dapat memberikan segala yang Engkau larang. Dan tidak ada yang menolak segala apa yang Engkau putuskan. Dan tidak bermanfaat kepada orang yang kaya di sisi Engkau segala kekayaannya.”

Allaahu akbar kabiiraw wal-hamdu lillaahi katsiiraw wa subhaanallahi bukrataw wa ashiila. Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa’alaa kulli syai’in qadiir. “Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah dengan puji yang banyak. Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang mempunyai kekuasaan dan kerajaan yang memerintahkan, bagi-Nya segala puji- pujian yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”

Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil-‘aliyyil ‘azhiim.

Astagfirullaahal-‘azhiim. “Dan tidak ada daya upaya dan kekuataan melainkan dengan pertolongan Allah Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

Dzikir tambahan setelah selesai shalat :

Yaa rabbanaa lakal-hamdu kamaa yambagii li jalaali wajhika wa’azhiimi sulthaanik.

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammadin.

Allaahumma rabbanaa taqabbal- minnaa shalaatanaa wa shiyaamana wa rukuu’anaa wa sujuudanaa wa qu’uudanaa wa tadharru’anaa wa takhasysyu’anaa wa ta’abbudanaa wa tammim taqshiiranaa yaa Allaah yaa rabbal-‘aalamiin.

Allaahumma a’innaa ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatik.

Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal-khaasiriin.

Rabbanaa laa tu’aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa.

Rabbanaa wa laa tahmil-‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘alal- ladziina min qablinaa.

Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihii wa’fu ‘annaa wagfir lanaa warhamnaa anta maulana fanshurnaa ‘alal qaumil-kaafiriin.

Allaahumma innaa nas’aluka salaamatan fid-diin, wa ‘aafiyatan fil jasadi, wa ziyaadatan fil-‘ilmi, wa barakatan fir-rizqi, wa taubatan qablal-mauut, wa rahmatan ‘indal- mauut, wa magfiratam ba’dal- mauut, Allaahumma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil-mauut, wan- najaata minan-naar, wal ‘afwa ‘indal-hisaab.
Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahab lanaa min ladunka rahmatan innaka antal- wahhab.

Rabbanaghfir lanaa wa li waalidiinaa wa li jamii’il- muslimiina wal-muslimaati wal- mu’miniina wal mu’minaati al- ahyaa’i minhum wal-amwaat, innakaa’alaa kulli syai’in qadiir.

Rabbana hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa wa qurrata a’yuniw waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa.

Rabbanaa aatinaa fid-dun-yaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban- naar. Allaahummagfir lanaa dzunuubanaa wa kaffir ‘annaa sayyi’aatinaa wa tawaffana ma’al-abraar.

Rabbij’alnii muqiimash –shalaati wa min dzurriyatii rabbanaa wa taqabbal du’aa’.
Wa adkhilnal-jannata ma’al- abraar, yaa ‘aziizu yaa gaffaru yaa rabbbal-‘aalamin.

Subhaana rabbika rabbil-‘izzati ‘amma yashifuun, wa salaamun ‘alal-mursaliina wal-hamdu lillaahi rabbil-‘aalamiin.

Zikir pada Waktu Pagi dan Sore

Selain melakukan dzikir setelah selesai Shalat, Rasulullah juga sering melafadzkan dzikir di waktu siang dan sore. Berikut ini beberapa dzikir yang bisa dipanjatkan, antara lain:

Baca A’uudzu billahi mina syaitooni rrojim. ” Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”

Baca surat Al Fatihah. “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatehah : 1-7)

Baca surat An-Naas. “Katakanlah, Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Sembahan manusia, Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Naas : 1-6)

Baca surat Al-Falaq. “Katakanlah Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) shubuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq : 1-5)

Baca surat Al Ikhlas. “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Rabb) yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” (QS.Al-Ikhlas)

Dapat diambil kesimpulan bahwa artikel mengenai zikir harian Nabi Muhammad S.A.W.., di atas yang diulas secara detail dan dikemas dengan menarik, diharapkan bisa membantu memudahkan dalam mempelajari serta memahaminya lebih dalam lagi.

Sehingga nantinya mungkin bisa dijadikan sebagai bahan referensi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari –hari dan menambah wawasan bagi anda. Sampai disini dulu ya artikel kali yang membahas mengenai zikir harian Nabi Muhammad S.A.W., Semoga bisa bermanfaat bagi anda dan terima kasih sudah meluangkan sedikit waktu untuk membaca artikel saya ini.

Ilahi anta maqshudi wa ridhoka mathlubi

اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ Ilahi anta maqshudi wa ridhoka mathlubi
“Wahai Tuhanku,Engkaulah tujuanku dan Ridhamu yang kucari”

Islam yang telah Allah ta’ala redha kan untuk menjadi agama kita, dan disampaikan melalui utusan-Nya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam merupakan satu syariat yang mencakup persoalan hidup lahir dan batin.

Syariat lahir disebut syariat. Syariat batin disebut tasawuf yang meliputi tharikat, hakikat dan makrifat. Hal itu sangat sesuai dengan struktur kejadian manusia itu sendiri yang merupakan kombinasi antara jasad lahir dan jasad batin.

Jasad lahir adalah semua anggota tubuh kita yang nampak dengan mata. Sedangkan jasad batin adalah jasad gaib (tidak tampak dengan mata) yang menggerakkan seluruh anggota lahir.

Jasad batin dapat merasa, mengingat, memikirkan, mengetahui, memahami segala sesuatu yang terjadi di dalam diri kita masing-masing.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa syariat lahir untuk diamalkan oleh jasad lahir sedangkan syariat batin untuk diamalkan oleh jasad batin yaitu roh.

Sesuai dengan keadaan lahir batin kita yang saling berkaitan erat tanpa terpisah-pisah maka begitu pula amalan lahir dan batin wajib dilaksanakan secara serentak di setiap waktu dan keadaan. Kalau kita membeza-bezakan atau menolak salah satu dari amalan itu, maka kita tidak mungkin menjadi hamba Allah yang sebenarnya.

Kalau amalan lahir atau syariat diibaratkan sebagai kulit buah maka amalan batin atau tasawuf (tharikat, hakikat, makrifat) sebagai isi buah. Kedua-duanya sama-sama penting dan saling memerlukan, ibarat kulit dan isi pada buah-buahan. Keduanya mesti ada untuk kesempurnaan wujud buah itu sendiri. Tanpa kulit, isi tidak selamat malah isi tidak mungkin ada kalau kulit tidak ada. Sebaliknya tanpa isi, kulit jadi tidak berarti apa-apa. Sebab buah yang dimakan adalah isinya bukan kulitnya.

Begitu juga hubungan syariat dan tasawuf. Keduanya mesti diterima dan diamalkan serentak. Keduanya saling mengisi dan memerlukan. Kalau kita bersyariat sahaja (artinya berkulit saja tanpa isi), itu tidak membawa apa-apa erti di sisi Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.” (HR Muslim 4651)

Sebaliknya kalau kita bertasawuf saja (isi tanpa kulit), maka tidak ada jaminan keselamatan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Amalan tasawuf itu akan mudah rosak, dan kita sama sekali tidak akan memperoleh apa-apa.

Imam Malik Rahimahullah berkata yang artinya “Barangsiapa berfiqih (syariat) dan tidak bertasawuf maka ia jadi fasik. Barangsiapa yang bertasawuf tanpa fiqih (syariat) maka ia adalah kafir zindik.”

Imam Syafi’i Rahimahullah telah menasihatkan yang artinya, “Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalanan syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasihat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalankan syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kenikmatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih (menjalankan syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)“. [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

Imam Abu Yazid al Busthami berkata yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at (menjalankan syariat)”

Artinya kita mesti mengamalkan kedua² nya dengan serentak, iaitu syariat dan tasawuf. Kalau kita pilih salah satu, kita tidak akan selamat. Kalau kita bersyariat saja tanpa dilindungi oleh tasawuf, kita akan menjadi fasik. Dan kalau kita bertasawuf saja tanpa dikawal oleh syariat, maka amalan batin (amalan tasawuf) akan mudah rosak sehingga kita jatuh kafir zindik (kafir tanpa sadar).

Begitulah pentingnya syariat dan tasawuf. Tetapi bila kedua-duanya ada, maka amalan batin (amalan tasawuf) lah yang lebih utama. Seperti dalam sabda Rasulullah yang artinya “Allah tidak memandang rupa dan harta

kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu”. (HR Muslim 4651)

Hadis itu tidak bermaksud bahwa syariat tidak penting. Bahkan syariat juga adalah hukum-hukum fardhu yang wajib diamalkan oleh seluruh umat Islam. Hanya saja dalam keadaan keduanya (syariat dan tasawuf) itu sama-sama diamalkan, Allah memberi keutamaan pada amalan batin (amalan tasawuf). Perbandingannya seperti antara kulit dan isi buah. Kedua-duanya sama penting, tetapi manusia memberi keutamaan pada isi sebab bisa dimakan. Begitulah peranan tasawuf. Peranannya menentukan berakhlak atau tidaknya seorang manusia kepada Allah dan kepada sesama manusia.

Orang yang kuat amalan batinnya atau tinggi pencapaian tasawufnya adalah orang yang hatinya selalu dekat dengan Allah. Ia senantiasa merasakan kebesaran Allah, dibandingkan dirinya yang maha lemah dan senantiasa memerlukan pertolongan Allah. Ia sangat beradab dengan Allah dan dapat mengorbankan dunia untuk Tuhannya. Ia juga mampu mengasihi semua manusia, bersedia susah untuk manusia dan akan menyelamatkan manusia dari tipuan dunia, nafsu dan syaitan.

Sebaliknya orang yang lemah dalam amalan batin adalah orang yang hatinya jauh dan terpisah dari Allah. Ia tidak takut dengan Allah, tidak malu, tidak harap, dan tidak cinta kepada Allah. Ia tidak redha dan tidak sabar, kurang beradab dengan Allah, penuh hasad dengki, sombong, bakhil, dendam dan pemarah. Ia akan menjadi seorang pencinta dunia yang bekerja keras hanya untuk dunianya. Orang seperti itu selalu dibelenggu oleh kecintaan kepada dunia hingga takut berjuang dan berjihad untuk agama Allah serta untuk kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Orang yang tidak bertasawuf atau orang yang tidak memperhatikan amalan batin sekalipun melakukan ibadah solat, puasa, dan banyak membaca Al Quran serta gigih berjuang adalah orang yang kurang berakhlak dengan Allah dan kurang berakhlak dengan manusia.

Orang yang tidak memperhatikan amalan batinnya dikabarkan oleh Rasulullah S.A.W., dalam sabdanya yang artinya “akan muncul suatu firqah/kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula solat kalian daripada solat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Solat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya” (HR Muslim 1773)

“Soat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan” maknanya solat mereka sebatas zahirnya saja atau amalan lahirnya saja, tidak sampai kepada batin (qalbu) mereka atau tidak bermanfaat atau mempengaruhi kepada hati atau batin mereka yang mengatur jasad lahir sehingga solat mereka tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar, solat mereka tidak menjadikan mereka muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang soleh, muslim yang ihsan atau muslim yang bermakrifat, muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh)

Tidak memperhatikan atau kurangnya amalan batin dapat menyebabkan orang-orang yang tidak bertasawuf itu biasanya mati dalam dosa yang tidak sedar. Mungkin dosa karena buruk sangka dengan Allah, putus asa dengan ketentuan Allah, tidak redha dengan takdir Allah atau dosa karena merasa bahwa amalannyalah yang akan menyelamatkan dirinya dari neraka.

Rasa riya’, ujub atau merasa diri bersih itu pun adalah dosa batin. Dosa batin, tak seorang pun yang dapat melihatnya, bahkan diri sendiri pun tidak dapat merasakannya. Hanya orang yang mempunyai bashiroh (pandangan hati yang tembus) saja yang dapat mengetahuinya.

Nanti, bila Allah ta’ala bukakan segala kesalahan (dosa-dosa batin itu) di akhirat, barulah manusia akan terkejut dan tersentak.

Ulama tasawuf berkata: “Biarlah sedikit amalan beserta rasa takut pada Allah, karena itu lebih baik daripada banyak amalan tetapi tidak ada rasa takut dengan Allah. Lebih baik orang yang merasa berdosa dan bersalah dengan Allah daripada orang yang banyak amalan tetapi tidak rasa berdosa pada Allah bahkan dia merasa telah cukup dengan amalan itu.”

Firman Allah ta’ala dalam Q.S. Asy Syuara 26 ayat 88-89 :

yawma laa yanfa'u maalun walaa banuuna”

“illaa man ataa allaaha biqalbin saliimin”

artinya, “hari kiamat ialah hari dimana harta dan anak-anak tidak dapat memberi manfaat, kecuali mereka yang menghadap Allah membawa hati yang selamat sejahtera”. (QS Asy Syuara [26] : 88-89)

Hati yang selamat sejahtera ialah hati orang bertaqwa yang berisi iman, yakin, ikhlas, redha, sabar, syukur, tawakal, takut, harap dan lain-lain rasa hati dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati yang senantiasa merasa sihat dalam kesakitan, kaya dalam kemiskinan, ramai dalam kesendirian, lapang dalam kesempitan dan terhibur dalam kesusahan. Ia bersikap redha dengan apa saja pemberian Tuhan-Nya.

Untuk memperoleh hati yang seperti itu, kita mesti bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu untuk melakukan amalan lahir dan batin (syariat dan tasawuf). Kedua-duanya akan saling mengawal untuk mengangkat kita ke taraf taqwa.

Syariat dan tasawuf akan mendidik dan memimpin kita menjadi seorang insan kamil yang mampu memenuhi keinginan dan keperluan fitrah murni manusia secara suci lagi mulia. Orang seperti itulah yang Allah maksudkan sebagai golongan As Siddiqin atau golongan Al ‘Arifin. Sifat mereka Allah uraikan dalam Surah Al Furqaan [25] ayat 63-76: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” [25:63]

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka” [25:64]

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal” [25:65]

“Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman” [25:66]

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” [25:67]

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (diharamkan untuk membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)” [25:68]

“akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina” [25:69]

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal soleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [25:70]

“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal soleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” [25:71]

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” [25:72]

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta” [25:73]

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [25:74]

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya” [25:75]

“mereka kekal di dalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman” [25:76]

Merekalah orang-orang bertaqwa yang akan memperoleh ketenangan hidup di dunia dan di akhirat.Mereka adalah tempat untuk kita mempelajari dan mencontoh kehidupan yang aman dan bahagia.Mereka adalah yang telah berjalan (berthariqat) melalui terminal-terminal (maqom) hakikat hingga mencapai makrifat, menyaksikan Allah ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”

Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”

“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.

Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati , ain bashiroh (bermakrifat)”

Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman (bermakrifat)”

Rasulullah bersabda “Iman paling afdal ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)

Jika belum dapat melihat Allah ta’ala dengan hati (belum ma’rifat), Rasulullah bersabda “jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)

Muslim yang meyakini diawasi/dilihat oleh Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb dengan hati (ain bahiroh) atau muslim yang Ihsan atau muslim yang bermakrifat maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, mencegah dirinya dari perbuatan maksiat, mencegah dirinya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : wa maa arshallnaka Illah Rahmathan lil Alami “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Dari tulisan di atas dapat kita ketahui betapa pentingnya memperhatikan amalan batin yang tercakup dalam tasawuf.

Imam Nawawi Rahimahullah berkata : “ pekara utama dalam ajaran tasawuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawuf halaman : 20, Imam Nawawi)

Mereka yang terhasut atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi ada mempertanyakan seperti “Seandainya benar sedemikian penting tasawuf, nescaya Imam Mazhab yang empat akan banyak sekali menulis tentang tasawuf”.

Pada hakikatnya tasawuf tidak untuk dituliskan namun dicontohkan, disampaikan dan dibimbing langsung oleh guru kepada muridnya karena tasawuf adalah tentang akhlak atau tentang Ihsan.

Contoh ulama tasawuf yang tidak menuliskannya kedalam bentuk tulisan/kitab adalah Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili, bermazhab Hanafi, yang mempunyai nasab keturunan dari Hasan putra dari Ali bin Abi Tholib k.w. Sedangkan ulama Tasawuf yang menuliskan pengajaran-pengajaran Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili adalah Syaikh Ibnu Athoillah yang bermazhab Maliki. Para ulama tasawuf dalam menjalankan amalan lahir atau syariat, mereka bermazhab. Imam Mazhab yang empat memang menuliskan kitab fiqih agar umat Islam dikemudian hari yang tidak dapat melihat (mencontoh) langsung cara beribadah Salaf yang Soleh dapat melihatnya melalui kitab fiqih mereka. Imam Mazhab yang empat melihat langsung penerapan, perbuatan serta contoh nyata, jalan atau cara (manhaj) beribadah dari Salaf yang soleh dan membukukannya dalam kitab fiqih mereka.

Demikian juga dengan Zikir Aqal pada martabat ketiga.

 

Ianya amat dituntut sekali pada seorang hamba supaya melaksanakannya. Zikir Aqal bermaksud ialah menggunakan aqal kita untuk berfikir kepada perkara-perkara yang boleh menambahkan amal perbuatan, mendekatkan diri dengan Allah, membesarkan kejadian Allah yang dilihat, memikirkan keaiban dan kejahatan diri/amalan kita serta apa sahaja yang boleh membawa kesedaran kita untuk mengingati Allah. Di lain-lain tempat Zikir serta Aqal ini dikatakan sebagai Tafakur. Kiranya anda seorang yang mengetahui, sesungguhnya di sebalik Tafakur ini, tersimpan salah satu khazanah rahsia orang-orang Sufi yang menghimpunkan kedudukan Ilmu dan hal-ahwal mereka.

 

Berkaitan dengan “Zikir Sir” dan “Zikir dengan Mazkur” ianya adalah suatu hal yang merujuk kepada sifat hati yang hidup dengan limpahan Cahaya Ketuhanan; yang bebas tanpa kawalan pancaindera; tanpa usaha dan ikhtiarnya; yang hidup zikir itu dengan sendirinya sebagai satu anugerah kurnia dari Allah bagi hamba-hamba pilihannya. Semuanya ini adalah tidak sukar bagi Allah seperti mana keterangan yang berikutnya.

Keterangan oleh Pengarang Kitab Hikam.

Firman Allah yang bermaksud; “Dan tiada yang demikian itu atas Allah Taala sukar” dengan KuatNya dan KuasaNya yang tiada terhenti pekerjaanNya atas sesuatu karena Ia jua

* Yang Ghoni(Memiliki Kekayaan) lagi Karim(Pemurah);

* Yang Menganugerahi barang yang diKehendakiNya;

* dan tiada yang menegahkan dalam QudratNya

* dan tiada yang jauh daripada KaramNya.

Hanyasahnya atas hamba itu Asbab dan atas Allah Yang Membukakan “bab” (pintu kurniaNya).Dan yang demikian itu(Lima Martabat Zikir di atas) bagi mengisbatkan(menyabitkan) Hikmah dan Zhuhur(kenyataan) Ubudiyah(Kehambaan) dengan Ibadat.

* Dan tiada ibadat melainkan dengan Fadhol(limpah kurnia)Nya;

* dan tiada Zikir melainkan dengan RahmatNya;

* dan tiada Tawajjuh(berhadap hati) kepadaNya melainkan dengan KurniaNya.

Maka yaitu(Allah) Yang Mengurniai (orang) yang zikir dengan TaufiqNya; maka diTunjukiNya bagi JalanNya; maka diBukakan bagi(hamba)nya dengan anugerahNya.

 

Dengan itu, sebagai adab kehambaan(Ubdudiyah) seorang hamba itu perlu bersungguh-sungguh membiasakan lisan mereka dan hati mereka dengan beribadat, berzikir dan bertawajjuh kepadaNya. “Allah tiada memberati manusia melainkan sekadar tenaganya. Baginya (pahala) kebajikan yang diusahakannya dan di atasnya (dosa) kejahatan yang diperbuatnya”(Al-Baqarah: 286);

 

Dan apabila mereka dapat melaksanakannya dengan baik dan sempurna, maka wajib dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh pula Adab Ketuhanan iaitu dengan disyuhudkan(dipandang) bahwa amal ibadat dan semua perbuatan mereka adalah dengan taufiq, dan limpah kurnia Allah Taala. “Dan bermula Allah itulah yang menjadikan kamu dan apa-apa yang kamu perbuatkan” (Surah As-Shofat: 96). “Dan tiada engkau melempar ya Muhammad tatkala engkau melempar tetapi Allah Taala jua yg melempar” (Surah Al-Anfal: 17)

 

Dengan melaksanakan Hak Kehambaan dan Hak Ketuhanan ini, mudah-mudahan Allah akan membukakan/menghidupkan “Sir” mereka untuk memperoleh  lautan makrifatullah.

 

7.1.3.ZIKIR MELIPUTI PERKATAAN, PERBUATAN DAN PERASAAN

 

Firman ALLAH S.W.T. dalam Q.S. Taha ayat : 14 :

 

 

“innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau'budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii”

 

Artinya : Sesungguhnya Aku adalah Allah! Tidak ada Tuhan melainkan Aku! Dan dirikanlah sembahyang bagi mengingati Aku! ( Ayat 14 : Surah Taha )

 

Sembahyang mengandungi perbuatan anggota zahir, perkataan yang dilafazkan dan penyertaan hati yang benar menghadap kepada Allah s.w.t dengan sepenuh jiwa raga. Mengingati Allah s.w.t melalui sembahyang merupakan zikir yang paling sempurna. Perbuatan menjadi zikir, perkataan menjadi zikir dan perasaan menjadi zikir.

Sekalian maujud berada dalam suasana zikir. Zikir dalam sembahyang menggabungkan pengakuan bahwa yang diingatkan itu adalah Allah S.W.T.,bahwa Allah S.W.T., yang diingati itu adalah Tuhan; bahwa tiada Tuhan melainkan Dia; bahwa Allah adalah Tuhan yang disembah; bahwa menyembah Allah S.W.T., adalah dengan perkataan, perbuatan dan perasaan; bahwa apa sahaja yang dilakukan adalah karena mentaati-Nya dan karena ingat kepada-Nya.

 

Zikir yang di dalam sembahyang menjadi induk kepada zikir-zikir di luar sembahyang. Menyebut nama-nama Allah S.W.T., adalah zikir. Perkataan yang baik-baik diucapkan karena Allah s.w.t adalah zikir. Nasihat menasihati karena Allah S.W.T., adalah zikir. Menyeru manusia ke jalan Allah s.w.t adalah zikir. Semua itu merupakan zikir perkataan. Zikir perbuatan pula meliputi segala bentuk amalan dan kelakukan yang sesuai dengan syarak demi mencari keredaan Allah S.W.T., Berdiri, rukuk dan sujud dalam sembahyang adalah zikir. Melakukan pekerjaan yang halal karena Allah S.W.T., karena mematuhi peraturan yang Allah S.W.T., turunkan, adalah zikir. Mengalihkan duri dari jalan karena Allah S.W.T., adalah zikir. Apa juga perbuatan yang tidak menyalahi peraturan syariat jika dibuat karena Allah S.W.T., maka ia menjadi zikir. Tidak melakukan apa-apa pun boleh menjadi zikir. Orang yang menahan anggotanya, lidahnya dan hatinya daripada menyertai perbuatan maksiat sebenarnya melakukan zikir jika dia berbuat demikian karena Allah S.W.T., Semua itu menjadi zikir jika dibuat karena Allah S.W.T., karena mematuhi perintah-Nya, karena mencari keredaan-Nya dan karena ingat kepada-Nya. Jadi, perbuatan dan perkataan terikat dengan amalan hati untuk menjadikannya zikir. Ia hanya dikira sebagai zikir jika ada zikir hati iaitu hati ingat kepada Allah S.W.T., ikhlas dalam melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya Tanpa zikir hati tidak ada zikir-zikir yang lain, karena setiap amalan digantungkan kepada niat yang lahir dalam hati.

 

Zikir adalah mengingati Allah S.W.T., sebaik dan seikhlas mungkin. Mengingati nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah zikir. Melihat matahari, bulan dan bintang di langit sambil mengenang kebijaksanaan Allah s.w.t merupakan zikir. Melihat kilat memancar dan mendengar guruh berdentum sambil mengenangkan keperkasaan Allah S.W.T., adalah zikir. Melihat fajar subuh, melihat dan mencium bunga yang indah lagi harum sambil mengenang keelokan Allah S.W.T., adalah zikir juga namanya. Jadi, zikir adalah pekerjaan sepanjang masa, setiap ketika, semua suasana, pada setiap sedutan dan hembusan nafas dan pada setiap denyutan nadi.

 

Kehidupan ini merupakan zikir daim (zikir berkekalan) jika mata hati sentiasa memerhatikan sesuatu tentang Allah S.W.T.,.

Misalkan seorang sedang melakukan zikir hati dan perkataan; menyebut dan mengingati nama-nama dan sifat-sifat Allah S.W.T., Tiba-tiba datang seorang kanak-kanak di hadapannya. Anak kecil itu memegang sebotol racun. Anak kecil mahu meminum racun tersebut. Pada ketika itu ahli zikir tadi berkewajipan meninggalkan pekerjaan zikir yang sedang dilakukannya dan berpindah kepada zikir menyelamatkan anak kecil yang mahu meminum racun itu.

 

Perpindahan perbuatan tidak memutuskan zikir atau ingatannya kepada Allah S.W.T., Dia menyebut nama Tuhan karena ingat kepada Tuhan. Dia menyelamatkan anak kecil itu karena mentaati perintah Tuhan. Tuhan yang mentakdirkan anak kecil itu mahu meminum racun di hadapannya. Tuhan juga mengadakan syariat yang mewajibkan membuang kemudaratan. Taat kepada perintah Tuhan dan reda dengan takdir Tuhan yang datang serta bertindak menurut peraturan syariat Tuhan merupakan zikir yang sangat mulia pada sisi Tuhan. Zikir yang begini termasuk di dalam golongan zikir yang berkekalan atau zikir daim.Zikir daim sukar diperolehi.

 

Kebanyakan manusia melakukan pekerjaan yang baik-baik yang seharusnya menjadi zikir tetapi dilakukan tanpa ingatan kepada Allah S.W.T., dan bukan dengan penghayatan mematuhi syariat-Nya. Kekuatan dalaman perlu ditambah bagi memperolehi zikir daim. Bagi tujuan tersebut perlulah dilakukan zikir sebutan iaitu zikir nafi-isbat (ucapan kalimah “La ilaha illa Llah ”) dan zikir nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Zikir yang seperti ini memberi kesan kepada menguatkan rasa kecintaan dan ingatan kepada Allah S.W.T., Ia membuka kesedaran-kesedaran dalaman seperti yang telah dinyatakan pada tajuk yang membicarakan perjalanan Latifah Rabbaniah. Kekuatan kesedaran dalaman mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan ikhlas karena Allah s.w.t yang dicintainya, yang hampir dengannya. Zikir nafi-isbat dan sebutan nama-nama serta sifat-sifat-Nya menjadi jalan kepada zikir dalam bentuk mentaati peraturan-Nya tanpa lupa kepada-Nya. Jadi, perlu dilakukan zikir secara sebutan untuk memudahkan zikir secara amalan atau perbuatan dan kelakuan. Mudah-mudahan terhasillah zikir yang berkekalan.

 

Zikir atau mengingati Allah s.w.t haruslah dilakukan menurut kadar kemampuan masing-masing. Zikir yang paling baik diucapkan adalah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah S.A.W., dengan sabda baginda s.a.w yang bermaksud: “Ucapan zikir yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa. Itulah ucapan kalimah ‘La ilaha illa Llah ’ .”

Orang yang tidak pernah berzikir adalah orang yang sangat keras hatinya dan kuat dikuasai oleh syaitan, hawa nafsu dan dunia. Cahaya api syaitan, fatamorgana dunia dan karat hawa nafsu membaluti hatinya sehingga tidak ada ingatannya kepada Allah S.W.T., Seruan, peringatan dan ayat-ayat Tuhan tidak diterima oleh hatinya. Beginilah keadaan orang Islam yang dijajah oleh sifat munafik. Orang yang masih mempunyai kesedaran perlu memaksakan dirinya untuk berzikir, sekalipun hanya berzikir dengan lidah sedangkan hatinya masih lalai dengan berbagai-bagai ingatan yang selain Allah S.W.T., Pada tahap pemaksaan diri ini, lidah menyebut Nama Allah S.W.T., tetapi hati dan ingatan mungkin tertuju kepada pekerjaan, harta, perempuan, hiburan dan lain-lain. Beginilah tahap orang Islam biasa. Orang yang berada pada tahap ini perlu meneruskan zikirnya karena jika dia tidak berzikir dia kan lebih mudah dihanyutkan di dalam kelalaian.

 

Tanpa ucapan zikir syaitan akan lebih mudah memancarkan gambar-gambar tipuan kepada cermin hatinya dan dunia akan lebih kuat menutupinya. Zikir pada peringkat ini berperanan sebagai juru ingat. Sebutan lidah menjadi sahabat yang memperingatkan hati yang lalai. Berlakulah pertembungan di antara tenaga zikir dengan tenaga syaitan yang menutupi hati. Tenaga syaitan akan mencuba untuk menghalang tenaga zikir daripada memasuki hati. Tindakan syaitan itu membuatkan orang yang ingin berzikir itu menjadi malas dan mengantuk.

 

Oleh yang demikian perlulah dilakukan mujahadah, memerangi syaitan yang menghalang lidah daripada berzikir itu. Zikir yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan berjaya melepasi benteng yang didirikan oleh syaitan. Tenaga zikir yang berjaya memasuki hati akan bertindak sebagai pencuci, menyucikan karat-karat yang ada pada dinding hati. Pada peringkat permulaannya zikir masuk ke dalam hati sebagai Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan yang diucapkan. Apabila karat pada dinding hati sudah berkurangan ucapan zikir akan disertai oleh rasa kelazatan. Hati yang sudah merasai nikmat zikir itu tidak perlu kepada paksaan lagi. Lidah tidak perlu lagi berzikir. Zikir sudah hidup dalam hati secara diam, jelira dan melazatkan. Perhatian bukan sekadar kepada nama-nama dan sifat-sifat yang diingatkan malah ia lebih tertuju kepada Yang Empunya nama dan sifat. Inilah kedudukan orang yang beriman.

 

Zikir yang lebih mendalam membawa hati berhadap kepada Hadrat Tuhan, menyaksikan Tuhan pada setiap masa dan suasana. Apa sahaja yang dilihat dan dibuat memperingatkannya kepada Tuhan. Inilah peringkat zikir daim yang dikurniakan kepada mereka yang beriman dan bersungguh-sungguh mengabdikan diri kepada Allah S.W.T., Kehidupan mereka dipenuhi oleh zikir sepanjang masa. Tidur mereka juga menjadi zikir.

 

Zikir yang diucapkan dengan perkataan membantu hati mengingati Tuhan. Bagi sebahagian manusia berzikir secara kuat lebih memberi kesan daripada berzikir secara perlahan, terutamanya bagi mereka yang baharu memulakan amalan zikir. Zikir secara senyap di dalam hati adalah pergerakan perasaan. Hati menghayati apa yang dizikirkan dan terbentuklah alunan perasaan sesuai dengan apa yang dihayati. Pada tahap yang lebih mendalam zikir bukan lagi sebutan atau ingatan kepada Nama, tetapi hati menyaksikan Keperkasaan dan Keelokan Tuhan. Bila hati sudah boleh menyaksikan Keelokan dan Keperkasaan Tuhan, itu tandanya seseorang itu sudah ada hubungan semula dengan roh suci yang mengenal Tuhan. Pancaran cahaya makrifat daripada roh suci membuat hati dapat melihat kenyataan sifat-sifat Tuhan.

Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, ucapan serta ingatan dan perhatian yang berhubung dengan Tuhan menimbulkan keghairahan atau zauk. Zauk itu terjadi karena kuatnya tarikan Hadrat Tuhan kepada hati. Ingatan dan penyaksian terhadap Hadrat Tuhan akan memberi kesan yang sangat kuat kepada hati. Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Perkasa boleh menyebabkan seseorang itu menjadi pengsan karena takutnya hati kepada keperkasaan Allah S.W.T., Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Lemah-lembut akan mengalami rasa kenikmatan dan kebahagiaan yang amat sangat.

 

Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, hati diperkuatkan lagi supaya mampu menerima ‘sentuhan’ Hadrat Tuhan itu. Penyaksian terhadap Hadrat Tuhan tidak lagi melahirkan keghairahan atau zauk atau kegoncangan kepada hati. Hati mengalami suasana Hadrat Tuhan dalam keadaan damai dan sejahtera. Pada tahap ini hati akan mengenali Tuhan sebagai Raja Yang Maha Berkuasa. Berada pada sisi Raja tersebut membuat hati merasakan kesejahteraan dan keselamatan yang tidak terhingga, hilang rasa takut dan dukacita.Pada tahap kesedaran yang paling dalam hati berhadap kepada Hadrat Tuhan yang bernama Allah S.W.T., yang menguasai semua Hadrat, yang melampaui segala nama dan sifat, segala kenyataan dan ibarat. Hati sampai kepada tahap jahil setelah berpengetahuan. Ilmu gagal menghuraikan tentang Allah S.W.T.,

makrifat gagal memperkenalkan Allah S.W.T., Apa sahaja yang terbentuk, tergambar, terfikir, yang disaksikan dengan mata luar dan juga mata dalam dan segala-galanya tersungkur di hadapan Hadrat Allah S.W.T., yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Perkasa. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menyamai Allah S.W.T., Dia Maha Esa.

Hati yang berhadapan dengan Hadrat Allah S.W.T., benar-benar mengalami dan mengenali maksud keesaan Allah S.W.T.

 

Hati pun tunduk, menyerah sepenuhnya kepada Allah S.W.T., Tuhan Maha Mencipta. Baharulah sempurna penyerahannya, baharulah lengkap perjalanan Islamnya.

 

Setelah itu rohnya menjadi seakan-akan roh yang baharu, seumpama baharu lahir. Roh yang baharu itu adalah Roh Islam yang telah mengenal Allah S.W.T., yang melampaui segala sesuatu tetapi memiliki Hadrat-Nya, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya, menyata kepada Roh Islam, iaitu Roh yang lebih tulen dan seni daripada semua roh-roh yang lain. Itulah roh yang telah menemui Kebenaran Hakiki.

 

Pada roh tersebut bercantum tahu dengan tidak tahu, kenal dengan tidak kenal, nafi dengan isbat. Roh Islam itulah yang benar-benar mengerti maksud nafi dan isbat pada Kalimah Tauhid: “La ilaha illa Llah”.


Dia turunkan Roh dari urusan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki daripada hamba-hamba-Nya untuk memberi peringatan tentang hari pertemuan. ( Ayat 15 : Surah al-Mu’minRoh Islam yang mengenderai hati Islam dan memiliki nafsu Islam, akal Islam dan pancaindera Islam kembali kepada kehidupan dunia untuk mengajak dan membimbing orang lain kepada Yang Haq, Kebenaran Hakiki.

 

Roh Islam mengeluarkan yang Islam saja.

Jiwanya Islam, perkataannya Islam, perbuatannya Islam, diamnya Islam, tidurnya Islam dan segala-gala yang mengenainya adalah Islam. Roh Islam yang paling sempurna adalah roh Nabi Muhammad S.A.W. Baginda S.A.W., merupakan contoh tauladan Islam yang paling sempurna, paling baik.

 

Zikir memainkan peranan yang penting dalam melahirkan Roh Islam. Bagi orang yang inginkan kebenaran dan melihat kebenaran, menjadi kewajipan baginya mengingati Allah S.W.T., sebanyak mungkin.

 

Lantas apabila kamu telah selesaikan sembahyang (sembahyang di waktu perang ) itu, maka hendaklah kamu ingat kepada Allah S.W.T., sambil berdiri, dan sambil duduk, dan sambil (berbaring) atas rusuk-rusuk kamu.

 

Tetapi apabila kamu telah tenteram, maka hendaklah kamu dirikan sembahyang (seperti biasa), karena sesungguhnya itu adalah bagi Mukminin satu kewajipan yang ditentukan mwaktunya. ( Ayat 103 : Surah an-Nisaa’ )Yang mengingati Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit-langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! Engkau tidak jadikan (semua) ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau.

 

Lantaran itu peliharakanlah kami daripada siksa neraka”.

 

Firman ALLLAH S.W.T  Q.S. Al-Imran Ayat  191 :

 

 

“alladziina yadzkuruuna allaaha qiyaaman waqu'uudan wa'alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa'adzaaba alnnaari”

 

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

 

 

Zikir dan makamnya

 

Maka segala amal dan segala Hal itu hanya sanya yang menetapkan (meneguhkan) dia di dalam hati oleh wujud Zikir pada Hati dan Lisan. Dan kesempurnaannya (zikir) itu ialah dengan Hudur (hadir hati) dalamnya (zikir). Dan jangan ditinggalkan karena ketiadaan Hudur tetapi sebut oleh mu akan Tuhan mu atas tiap-tiap hal seperti yang dikata oleh Muallif (Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) dalam kalam hikmahnya;

 

Jangan engkau tinggalkan Zikir karena ketiadaan Hudur mu serta Allah di dalamnya(zikir) karena bahwasanya lalaimu daripada tidak berzikir akan Allah itu telebih sangat jahatmu daripada kelalaianmu dalam berzikir.

Keterangan ;

Jangan engkau tinggalkan Zikir karena ketiadaan Hudur mu serta Allah di dalamnya (zikir) karena bahwasanya lalaimu daripada ketiadaan wujud zikir akan Allah itu telebih sangat jahatmu daripada lalaimu dalam wujud zikir akan Dia. (Ini adalah karena) karena bahwasanya lalai daripada zikir itu menjauhkan daripada Allah Taala dan berpaling pada KulliahNya (semua halmu kepada Allah) dan lalai dalam zikir itu Hudur pada Juziyyahnya (sesetengah masa atau waktu) dan karena bahwasanya dalam zikirnya itu menghiasi anggotanya dengan ibadat dan lalai itu menghilangkan akan dia (anggota daripada berbuat ibadat)

 

Keterangan Suluk (Zikir secara umum)

Menurut guru suluk, Zikir secara umumnya ialah apa sahaja amalan dan perbuatan zhohir dan batin yang membawa seseorang itu kepada mengingati Allah. Amal ibadat dan perbuatan sama ada yang zhohir atau batin yang berlandaskan hukum syarak yang dikerjakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri dan mendapat keredhoan Allah dikatakan ianya sebagai zikir. Ini adalah karena zikir itu terbahagi kepada kepada beberapa bahagian dan martabat seperti Zikir Anggota, Zikir Lisan, Zikir Qalbi dan Zikir Sir serta Zikir yang tenggelam dalam Mazkurnya yang akan dinyatakan melalui keterangan selanjutnya nanti.

 

Melalui kalam hikmah dan keterangan di atas, seseorang hamba itu dianjurkan supaya sentiasa berzikir dan terus berzikir walaupun hatinya lalai daripada mengingati Allah atau tidak hadir pada hati akan makna-makna dan rahsia zikir(Hudur) semasa melaksanakannya. Inilah adalah karena perbuatan/amalan berzikir ini walaupun dikerjakan dalam keadaan lalai, ianya sudah dianggap sebagai satu ibadat atau amal kebaikan jika dibandingkan dengan hal-ahwal seorang yang langsung tidak berzikir di mana secara terang dan nyata menunjukkan penderhakaan dan kejahatannya terhadap Allah.

 

Orang yang langsung tidak berzikir adalah mereka yang jauh dari Allah dan kejahatan mereka itu menjauhkan lagi dari Allah karena dengan kesombongan mereka itu menyebabkan mereka berpaling dari hal-ahwal atau tindak-tanduk kewajipan yang perlu dilaksanakan sebagai seorang hamba kepada TuhanNya.

Berbeza dengan orang yang sentiasa mengerjakan ibadat seperti sholat, puasa, di samping berzikir serta lain-lainnya; walaupun mereka lalai sewaktu mengerjakannya, sekurang-kurangnya ada juga pada waktu atau ketika/saat-saat yang tertentu akan hudur hati mereka dengan Allah atau setidak-tidaknya terhias zhohir anggota dan perbuatannya dengan amal-ibadat yang dituntut oleh syarak. Bukankah boleh dikatakan satu kebaikan pada orang bersholat atau berpuasa berbanding dengan mereka yang langsung tidak sembahyang dan berpuasa?. Demikain juga lidah yang sentiasa basah dengan zikir walaupun hatinya lalai itu terlebih baik dan mulia daripada lidah yang kosong hampa dengan kalimah-kalimah yang suci itu.

 

Dari karena inilah,  meneruskan lagi keterangannya yang seterusnya seperti berikut;

Keterangan ;

Dan kata Wasthi r.a.;

Bermula lalai daripada menyebutnya(zikir) itu terlebih sangat (jahat) daripada lalai dalam zikirnya.

Dan dikata orang bagi Abi Osman An-Nahdi r.a.;

Kami zikir akan Allah dan tiada kami dapat akan manis dan Hudur.

Maka katanya (Abi Osman);

Puji jua oleh kamu akan Allah atas(karena) menghiasi anggota daripada segala anggota kamu dengan taatnya.

 

Dan kata setengah mereka itu (kaum sufiah);

Syukurlah engkau akan Allah atas barang yang dikurniakanNya daripada Zikir Lisan dan jikalau melakukan (lidah) kepada tempat mengumpat-ngumpat nescaya tiada ada engkau berbuat dia (zikir). Dan Allah Taala terlebih memuliakan daripada bahwa diHudurkannya hambanya dengan lisannya (walaupun) tiada mengurniai atasnya dengan Hudur hatinya. Dan sebut olehmu dengan lisanmu dan bersungguh-sungguh dirimu dalam Hudur hatimu.

 

Keterangan Suluk (Tingkatan Pertama; Zikir Lisan)

Ketiga-tiga petikan yang didatangkan oleh di atas seakan ingin menunjukkan kepada kita bahwa betapa perlunya seorang hamba itu membasahi lisannya dengan berzikir. Terlebih-lebih lagi bagi orang-orang Salik yang ingin berjalan kepada TuhanNya, tuntutan untuk melakukan Zikir ini adalah sangat-sangat ditekankan sebagai senjata dan alat pencuci jiwa semasa dan sepanjang perjalanannya menuju kehampiran. Walaupun lalai atau merasa pahit dan berat untuk berzikir, mereka digalakkan juga untuk mengistiqamahkan Zikir Lisan ini mengikut awarid dan bilangan-bilangan tertentu.

 

Pandangan di atas juga menegaskan agar para Salik sentiasa bersyukur dengan anugerah dan Kurnia Allah yang sedikit dimana Allah menghiasi anggota zhahir mereka dengan amal taat dan patuh kepada Allah. Lidah yang digunakan untuk berzikir sekurang-kurangnya dapat mengelakkannya daripada mengumpat-umpat dan mengeji orang lain atau ucapan yang sia-sia atau lagho. Inilah wajah-wajah kemuliaan yang dikurniakan Allah kepada mereka yang berzikir walaupun hatinya lalai.

 

Kemampuan untuk berzikir secara lisan tanpa hudur hati ini hendaklah disyukuri agar nanti mendapat kurnia dan anugerah Allah yang lebih lagi sebagaimana firman Allah yang bermaksud; “Dan sekiranya kamu bersyukur, niscaya kami(Allah) akan tambah lagi”.

Dengan kemuliaan kurnia Allah yang sedikit dan kelebihan yang ada pada orang yang bersyukur inilah, maka Muallif (Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) mendatangkan kalam hikmahnya yang seterusnya sebagaimana berikut;

Maka mudah-mudahan bahwa diangkatkan oleh Allah akan dikau daripada Zikir(lisan) serta diperoleh lalai kepada Zikir serta diperoleh jaga

Keterangan;

 

Maka mudah-mudahan bahwa diangkatkan oleh Allah akan dikau daripada Zikir serta diperoleh lalai kepada Zikir serta diperoleh jaga(Yaqozhoh) dengan LathifNya dan InayahNya karena bahwasanya jaga itu ingat hati daripada mengantuk ghoflah dan tidur juhalah kepada Hadirat Al-Wafah(sempurna sebagai seorang hamba) dan Adab Al-Khidmat. Dia sanalah berpindah ia daripada zikir lisan daripada zikir qalbi yang Hudur daripada melazimkan dia (zikir lisan).

Keterangan Suluk (Tingkatan Kedua; Zikir Qalbi)

Apabila seorang hamba/Salik mengistiqamahkan dan sentiasa bersyukur dengan Zikir Lisan mereka, Insya Allah…. Allah Yang Maha Lemah Lembut dengan pertolongan dan limpah kurniaNya akan mengangkatkan martabat Zikir Lisan mereka kepada Zikir Yaqzhoh.

Dengan Zikir Yaqzhoh ini, hati hamba yang sebelum ini lalai atau ghoflah dengan gangguan-gangguan keduniaan akan terjaga dan tersedar untuk mula melihat kepada hakikat Zikir Lisan serta segala suatu yang lain.

 

Mata hati yang sebelum ini tertutup sewaktu berzikir akan terbuka untuk memandang Keesaan dan Keagungan Allah. Zikir-zikir lisan yang diucapkan akan terlancar dan bergerak selari dengan gerakan hati di samping dapat merasai makna-makna dan rahsia zikir mengikut kadar yang dikurniakan Allah.

 

Hati yang sebelum ini, buta dan jahil dengan hakikat dan makrifat mula mengenali dan memahami makna-makna di Alam Malakut yang terpancar pada zhohir sesuatu. Mereka dapat melihat akan hikmah dan pengajaran di sebalik sesuatu yang zhohir yang mendatangi mereka. Hiduplah hati atau jiwa mereka menuju ke Hadirat Al-Wafah yang akan menyempurnakan kebersihan hati untuk layak dipanggil sebagai seorang hamba dengan tahu melaksanakan adab-adab kehambaan dan adab-adab Ketuhanan dengan pelbagai hal-ahwal hati yang merujuk kepada kepatuhan dan ketundukkan yang penuh dengan kesedaran batin.

Dengan sebab inilah Zikir serta jaga ini dinamakan juga sebagai Zikir Qalbi karena hidup hati itu dengan mengingati dan memandang Allah pada setiap kali memandang “ghair” atau sesuatu yang zhohir; sedar dan terjaga hati itu untuk mengenal dan memahami akan hakikat bagi segala sesuatu. Dengan Zikir Qalbi inilah, bermulalah satu perjalanan hati untuk meneroka dan memasuki alam-alam batin atau alam-alam rahsia atau Alam Ketuhanan Yang Maha Tinggi.

Dan dengan karena inilah diisyaratkan pula Muallif (Sheikh Ibni Athoillah AS-Kanddari) sebagai menyambung dalam kalam hikmahnya yang seterusnya sebagaimana beriknya;

 

Dan daripada zikir serta diperolehi jaga (Zikir Yaqozhoh) kepada zikir serta wujud Hudur serta Allah (Zikir Sir).

Keterangan oleh ;

Dan daripada zikir serta diperolehi jaga pada zikir serta oleh Hudur serta Allah. Dan adalah Hudur kepada mereka itu iaitu Hudur dengan Haq Taala tatkala ghaibnya daripada sekelian pancaindera dan daripada memandang agyar. Dan dalam Maqam ini berpindah ia daripada Zikir Qalbi kepada Zikir Sir. Zikir Sir itu ghaib ia daripada barang yang lain daripada Mazkor.

Keterangan Suluk (Tingkatan Ketiga; Zikir Sir)

Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan kasih-sayangNya Yang Maha Tinggi, Allah mengangkatkan Maqam Zikir Qalbi seorang hamba pilihanNya kepada tingkat yang seterusnya iaitu Zikir Sir. Zikir Sir ini sebagaimana keterangan di atas merupakan Zikir yang telah datang kehadiran hati serta Allah. Dan Zikir ini juga merujuk kepada kehadiran Rahasia diri yang terpendam sebelum ini. Hidup Sirnya dengan TuhanNya di mana seluruh ingatan, seluruh pandangan(syuhud) dan seluruh “rasa” tertumpu kepada Yang Haq.

Ingat dengan Yang Haq; Syuhud kepada Yang Haq dan “merasa” dengan Yang Haq. Dengan kata lain, seluruh anggota badan yang zhohir dan batin sentiasa dalam keadaan Zikir inilah adalah karena, jiwa atau hati hamba telah hapus atau hilang atau qhaib daripada pengaruh pancaindera dan memandang kepada Agyar pada pihak tidak diiktibarkan apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasa, apa yang diucapkan; malah setiap hal-ahwal zhohir mereka adalah merupakan Zikir karena mereka tidak melihat sesuatu itu melainkan dilihatNya Allah dan tidaklah mereka dilakukan sesuatu perbuatan atau amalan melainkan dengan “perintah” yang datang dari Allah.

 

Sungguhpun demikiannya hal keadaan hati yang sentiasa ingat akan kehadiran Allah dalam tiap-tiap sesuatu itu berzikir dan berzikir dengan Sirnya, namun ianya belum sampai kepada puncak kesempurnaannya yang Hakiki. Hati ini masih melihat dan memandang kepada dirinya sendiri, hati ini masih terpesona dengan keajaiban rahasia dirinya di mana hal ini menunjukkan bahwa masih ada lagi wujud yang lain iaitu dirinya. Ini merupakan satu kecacatan pada Tauhid yang menjadi intipati dan rahasia Zikir itu.

 

Dan dengan karena inilah diisyaratkan pula Muallif (Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari) sebagai menyambung dalam kalam hikmahnya yang seterusnya sebagaimana beriknya;

Dan daripada zikir serta diperoleh Hudur (Zikir Sir) kepada Zikir serta diperoleh ghaib daripada barang yang lain daripada Mazkor

Keterangan oleh ;

Dan daripada zikir serta diperoleh Hudur kepada zikir serta diperoleh ghaib daripada barang yang lain daripada Mazkor ia hingga masuklah orang yang zikir itu ke dalam MazkorNya dan ghaib Sirnya takala ZuhurNya (nyata Allah). Maka adalah ghaib zikirnya dengan zikirnya.

 

Dan karena inilah diisyaratkan Muallif dengan katanya;

Dan daripada Zikir serta Hudur kepada Zikir serta diperoleh ghaib daripada barang yang lain daripada Mazkur(TuhanNya yakni Allah) hingga masuklah orang yang Zikir Allah ke dalam MazkurNya dan ghaib Sirnya tatkala ZhuhurNya(Nyata Allah). Maka adalah ghaib Zikirnya dengan Zikirnya.

Keterangan Suluk (Tingkatan Zikir Keempat/Maqam Kesempurnaan)

Setelah melalui hal-ahwal atau Maqam Zikir serta Hudur atau disebut juga sebagai “Zikir Sir”, seorang hamba dengan limpah kurnia Allah akan diipndahkan pula kepada Zikir Yang Ghaib dalam MazkurNya atau disebutkan juga sebagai “Ghaib Zikirnya dalam Zikir” atau “Zikir dengan Mazkur” pada pihak hilang atau ghaib diri/hati yang berzikir dalam Hakikat Zikir iaitu Allah. Maqam ini adalah merupakan puncak atau tingkat tertinggi bagi mereka yang seakan mabuk dengan TuhanNya Yang Ampunya Zikir. Keadaan ini digelar juga Fana dalam Fana di mana hilang segala rusum dan isyarat. Apa yang wujud ialah Wujud Yang Hakiki yakni Allah semata-mata.

Dari keterangan dan perbincangan seperti yang telah disentuh sebelum ini, sekiranya kita dapat menangkapi kefahamannya, jelaslah bahwa bagi setiap tingkat Zikir itu menunjukkan hal-ahwal hati/diri atau yang menyatakan Maqam kedudukan hamba dengan TuhanNya. Sebagai merumuskannya, mendatangkan keterangannya yang seterusnya sebagaimana berikut;

Keterangan oleh Pengarang Kitab Hikam

Dan pada ketika itu

* dalam Zikir Lisan itu Maqam orang orang yang ahli Ghoflah daripada segala orang awam.

* Dan Maqam Zikir Lisan dengan jaga Qalbi itu Maqam orang yang Ahli Suluk.

* Dan Maqam Zikir Dalam Hadirat Mazkur itu Maqam Al-Khowas

* Dan Maqam Al-Ghaib Dalam Mazkur dari pada Zikir itu Maqam Khowasul-Khowas, orang yang alhi Fana ‘An Fana.

Maka adalah sentiasa Zikir itu atas kata “Laa ilahaillaLlah” serta ikhlas itu sebab bagi menjagakan anggota daripada wujud ghoflah serta Zikir.

 

Dan Zikir “Allah.. Allah” itu sebab bagi mengeluarkan engkau daripada jaga dalam Zikir kepada wujud Hudur serta Mazkur.

Dan Zikir “Hu Hu” itu sebab bagi mengeluarkan engkau daripada tiap-tiap barang yang lain daripada Mazkur.

 

Dan kata setengah mereka itu (Kaum Sufiah);

* bermula yang membukakan Qalbu itu (ialah) kata “Laa ilahaillaLlah”;

* dan yang membukakan Ruh itu (ialah) “Allah..Allah”

* dan yang membukakan Sir itu ialah “Hu Hu”.

* Dan “Laa ilahaillaLlah” itu makanan Qalbu dan

* “Allah..Allah” itu makanan Ruh dan

* “Hu Hu” itu makanan Sir.

 

Keterangan oleh Pengarang Kitab Hikam  dan kata setengah mereka itu (Kaum Sufiah); bermula segala orang yang Zikir itu atas lima martabat.

* Pertama – Yang dizikir dengan lisan tiada dengan Qalbi.

* Kedua – Yang dizikir dengan Qalbi tiada dengan Lisan.

* Ketiga – Yang zikirdengan Aqal.

* Keempat – Yang zikir dengan Sir

* Kelima – Yang Zikir dengan Mazkur.

 

Demikian juga dengan Zikir dengan Aqal pada martabat ketiga. Ianya amat dituntut sekali pada seorang hamba supaya melaksanakannya. Zikir Aqal bermaksud ialah menggunakan aqal kita untuk berfikir kepada perkara-perkara yang boleh menambahkan amal perbuatan, mendekatkan diri dengan Allah, membesarkan kejadian Allah yang dilihat, memikirkan keaiban dan kejahatan diri/amalan kita serta apa sahaja yang boleh membawa kesedaran kita untuk mengingati Allah. Di lain-lain tempat Zikir serta Aqal ini dikatakan sebagai Tafakur. Kiranya anda seorang yang mengetahui, sesungguhnya di sebalik Tafakur ini, tersimpan salah satu khazanah rahasia orang-orang Sufi yang menghimpunkan kedudukan Ilmu dan hal-ahwal mereka.

 

Berkaitan dengan “Zikir Sir” dan “Zikir dengan Mazkur” ianya adalah suatu hal yang merujuk kepada sifat hati yang hidup dengan limpahan Cahaya Ketuhanan; yang bebas tanpa kawalan pancaindera; tanpa usaha dan ikhtiarnya; yang hidup zikir itu dengan sendirinya sebagai satu anugerah kurnia dari Allah bagi hamba-hamba pilihannya. Semuanya ini adalah tidak sukar bagi Allah seperti mana keterangan  yang berikutnya.

 

Keterangan oleh Pengarang Kitab Hikam

Firman Allah yang bermaksud; “Dan tiada yang demikian itu atas Allah Taala sukar” dengan KuatNya dan KuasaNya yang tiada terhenti pekerjaanNya atas sesuatu karena Ia jua

* Yang Ghoni(Memiliki Kekayaan) lagi Karim(Pemurah);

* Yang Menganugerahi barang yang diKehendakiNya;

* dan tiada yang menegahkan dalam QudratNya

* dan tiada yang jauh daripada KaramNya.

Hanyasanya atas hamba itu Asbab dan atas Allah Yang Membukakan “bab” (pintu kurniaNya).

Dan yang demikian itu(Lima Martabat Zikir di atas) bagi mengisbatkan(menyabitkan) Hikmah dan Zhuhur(kenyataan) Ubudiyah(Kehambaan) dengan Ibadat.

* Dan tiada ibadat melainkan dengan Fadhol(limpah kurnia)Nya;

* dan tiada Zikir melainkan dengan RahmatNya;

* dan tiada Tawajjuh(berhadap hati) kepadaNya melainkan dengan KurniaNya.

Maka iaitu(Allah) Yang Mengurniai (orang) yang zikir dengan TaufiqNya; maka diTunjukiNya bagi JalanNya; maka diBukakan bagi(hamba)nya dengan anugerahNya.

Keterangan Suluk

Dari segi pandangan hakikat, seorang hamba yang dapat berzikir itu adalah karena adanya limpah kurnia dari Allah Taala dan tidak sepatutnya seorang itu mendakwa bahwa kemampuan ia boleh memanjat ke tingkat-tingkat Zikir yang tinggi adalah karena hasil usaha ikhtiar dari penat lelahnya bermujahadah. Namun begitu tingkat-tingkat yang tersusun itu dibeza-bezakan sebagai mensabitkan Hikmah Allah dan penyataan pembuktian seorang hamba dengan melaksanakan pelabagai ibadat terhadap TuhanNya.

Dengan itu, sebagai adab kehambaan(Ubdudiyah) seorang hamba itu perlu bersungguh-sungguh membiasakan lisan mereka dan hati mereka dengan beribadat, berzikir dan bertawajjuh kepadaNya. “Allah tiada memberati manusia melainkan sekadar tenaganya. Baginya (pahala) kebajikan yang diusahakannya dan di atasnya (dosa) kejahatan yang

diperbuatnya”(Al-Baqarah: 286);

 

Dan apabila mereka dapat melaksanakannya dengan baik dan sempurna, maka wajib dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh pula Adab Ketuhanan iaitu dengan disyuhudkan(dipandang) bahwa amal ibadat dan semua perbuatan mereka adalah dengan taufiq, dan limpah kurnia Allah Taala. “Dan bermula Allah itulah yang menjadikan kamu dan apa-apa yang kamu perbuatkan” (Surah As-Shofat: 96). “Dan tiada engkau melempar ya Muhammad tatkala engkau melempar tetapi Allah Taala jua yg melempar” (Surah Al-Anfal: 17)

Dengan melaksanakan Hak Kehambaan dan Hak Ketuhanan ini, mudah-mudahan Allah akan membukakan/menghidupkan “Sir” mereka untuk meneroka lautan makrifatullah yang tiada terhad.

Bersambung pada pengajian yang seterusnya….Tuntutan Berzikir

 

Dengan melaksanakan Hak Kehambaan dan Hak Ketuhanan ini, mudah-mudahan Allah akan membukakan/menghidupkan “Sir” mereka untuk meneroka lautan makrifatullah yang tiada terhad.

Keterangan selanjutnya oleh Pengarang Kitab Hikam

Dan kata mereka itu(Kaum Sufiah); dan setengah daripada Khoshoih Zikir itu tiada berwaktu dengan suatu waktu. Maka tiada jua daripada suatu waktu(setiap nafas) melainkan hamba itu dituntut padanya(berzikir). Ada kalanya Wajib dan ada kalanya Sunat; bersalahan dengan lainnya daripada segala Taat.

 

Keterangan Suluk

Pandangan Ahli-ahli Sufi di atas adalah sebagai ingin menegaskan bahwa sebahagian daripada ketentuan atau ketetapan (Khoshoih) Zikir itu ialah ianya dilakukan dengan tidak mengira waktu, masa dan tempat. Dengan kata lain amalan zikir di sisi mereka ialah satu amalan yang tetap dilakukan dalam apa jua situasi atau keadaan, di mana jua tempat malah pada setiap nafas yang dihembus dan disedut menjadi tuntutan pada mereka untuk tidak melupai zikir.

 

Berbanding dengan lain-lain ibadat seperti Salat, Puasa, Zakat, Haji dan lain-lain. Amalan-amalan ini hanya dituntut dan boleh dilaksanakan pada waktu-waktu dan tempat-tempat yang tertentu sahaja. Dan terdapat pada sesuatu waktu, sesuatu keadaan atau sesuatu tempat seseorang itu tidak dituntut malah ditegahkan untuk melaksanakannya walaupun ianya kebaikan. Ada tegah yang makruh dan ada tegah yang diharamkan.

 

Contohnya, Salat-salat sunat ditegah melaksanakannya pada waktu-waktu tahrim. Ada salat-salat Sunat itu pula hanya tertentu dan berkait dengan masa seperti Sunat Israk apabila sempurna matahari naik, Salat Dhuha apabila matahari tinggi segalah, Sholat Witir hanya boleh dikerjakan di waktu akhir malam dan tidak dituntut pada waktu-waktu yang lain. Qiyaslah sendiri dengan amal ibadat yang lain-lain seperti Haji, Puasa dan sebagainya; di mana kesimpulannya amal ibadat tersebut hanya dituntut pada masa atau tempat yang tertentu sahaja dan ditegah pada masa atau tempat yang lain.Berbeza dengan zikir, ianya boleh dilakukan bila-bila masa sahaja dan di mana-mana tempat sahaja.

 

Di waktu tahrim boleh, di dalam pasar

boleh, di tempat mencari rezeki boleh, di khalayak ramai boleh, bersunyi seorang diri boleh, di tengah-tengah laut atau bandar boleh malah di dalam bilik air dan tandas pun boleh yakni dengan Zikir Sir atau Zikir Aqal.

 

Firman Allah Q.S. Al-Ahzab : 41,42 :

 

 

“yaa ayyuhaa alladziina aamanuu udzkuruu allaaha dzikran katsiiraan”

 

Artinya : “Hai orang-orang yang berIman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.

 

“wasabbihuuhu bukratan wa-ashiilaan”

                        Artinya : “Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”

           

Orang-orang yang mengingati Allah sambil duduk atau berdiri atau dalam keadaan berbaring (semua keadaan) dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan kami, tiada Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka. (Surah Al-Imran:191)

Begitulah Rasulullah (S.A.W.) pun sentiasa ingat Allah seperti didalam sabdanya

 

“Kedua mataku menidurkan aku tetapi hati ku tidak tidur”

 

“Sebutlah nama Tuhanmu Allah dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan”.(Surah Muzzammil: 8)

 

Dengan karena tuntutan inilah, maka ramai di kalangan Penghulu Masyayeikh Tariqat-tariqat tertentu telah menyusun pelbagai zikir yang perlu(WAJIB) dilaksanakan oleh murid-murid bimbingan dengan kadar bilangan dan masa yang tertentu. Pun demikian ada juga di kalangan mereka yang tidak mewajibkan amalan-amalan zikir tertentu dengan hanya menjadikan zikir-zikir tersebut sebagai sesuatu amalan-amalan sunat yang sentiasa dikerjakan seperti membaca doa-doa pada setiap perbuatannya seperti doa pada waktu makan, pada waktu tidur dan sebagainya di samping mendawamkan zikir-zikir lidah atau Zikir Sir yang menjadi satu kebiasaan diri dan tabiat peribadinya sehingga tidak sunyi setiap nafas mereka melainkan dengan berzikir secara lisan atau berzikir Aqal atau berzikir Sir atau berzikir anggota lahir mereka dengan amal kebajikan yang sejalan dengan kemuliaan syarak Rasulullah S.A.W.

 

Keterangan selanjutnya oleh Pengarang Kitab Hikam

Dan ceritara daripada Rasulullah S.A.W; bahwasanya Sabdanya;

“Perbanyak oleh kamu akan Zikir hingga dikata kamu Majnun(Gila)”.

Maka sayugianya bagi hamba itu bahwa membanyakkan daripada Zikir dalam tiap-tiap Halnya dan jangan meninggalkan dia selagi ada Aqal dan jikalau serta lalai sekalipun. Maka meninggalkan itu terlebih sangat jahatnya daripada lalainya.

 

Keterangan Suluk

Istilah sayugia ini memberi dua pengertian yaitu;

* makna pertamanya, Sunat bagi orang-orang awam dan

* makna keduanya, Wajib bagi orang-orang Sufi.

 

Dengan ini jelaslah dari tuntutan wajib menghadirkan zikir dalam setiap hal bagi orang-orang sufi menunjukkan atau memberitahu satu isyarat yang penting, menyatakan satu makna yang besar yang menjadi dasar atau nadi perjalanan mereka. ZIKIR dan BERZIKIR, mendawamkan ZIKIR dan HIDUP DENGAN ZIKIR. Zikirnya terpancar pada setiap anggota zhohirnya, Zikirnya menjelma dalam tindak-tanduknya, Zikirnya menghiasi dalam Syuhudnya dan Zikirnya bersemadi pada rahasia ruhnya. Isyarat ini boleh kita perolehan dari keterangan yang seterusnya;

Keterangan selanjutnya oleh Pengarang Kitab Hikam

Dan terkadang ada Zikir Lisan itu sebab bagi Hudur iaitu sifat segala Ulama dan terkadang ada Hudur itu akan sebab bagi Zikir Ghaib daripada barang yang lain daripada Mazkur iaitu Martabat segala orang yang Arif dan Muhaqiqin daripada Aulia Allah.

Keterangan Suluk

Keterangan di atas menunjukkan kepada satu isyarat dengan menggunakan perkataan “terkadang”. Terkadang membawa kepada pengertian bahwa “tidak semestinya” atau “ianya bukan selalu begitu” atau lebih sesuai lagi sebagai “salah satu bahagian daripada suatu keseluruhan” dengan maksud ianya bukan meliputi keseluruhan atau yang terbaiknya sebagai “salah satu jalan/thoriq” daripada jalan-jalan/thoriq-thoriq lain yang membawa seseorang untuk sampai kepada Allah(Washil ilaLlah).

Kadang-kadang seseorang itu boleh memanjat kepada Maqam yang menyamai hal-ahwal atau Sifat para Ulama. Mereka ini ialah yang sentiasa mendawamkan Zikir Lisan sehingga akhirnya dengan tetap dan dawamnya tersebut menyebabkan datangnya Zikir serta Hudur(Zikir Qalbi atau Zikir Yaqzhoh).

 

Kadang-kadang pula dengan tetapnya hal Zikir Qalbi itu, akan menjadikan seseorang itu ghaib dalam zikirnya atau “tidak dingat atau tidak dilihat/musyahadah dalam zikirnya melainkan Allah Taala” jua yang Wujud. Inilah Zikir Dengan Mazkur(TuhanNya) yang menjadi Martabat segala orang yang Arif dan Muhaqiqin daripada Aulia Allah.

 

Ya Allah!!! Tuhan Yang Menzhohirkan Rahmat Kasih SayangNya pada hamba-hambanya terpilih. Masukkan kami ke dalam golongan mereka yang Engkau himpunkan keredhoaanMu pada jiwa mereka. Hamba ini terlalu Dhoif, Lemah, Jahil dan Papa. LAA HAULAWALA QUWWATAILLA BILLAH

Tanbih..Selesai sudah kalam hikmah yang berkaitan dengan hal-ahwal zikir yang terkandung dalam tiga bicara sebelum ini.Seterusnya sebagai mendatangkan Kalam Hikmahnya, maka kata Sheikh r.a (Muallif Sheikh Ibni Athoillah As-Kanddari dalam kalam hikmahnya yang berikutnya;

Sebahagian daripada tanda mati hati itu ialah jika tidak merasa dukacita karena tertinggal sesuatu amal perbuatan kebajikan juga tidak menyesal jika terjadi berbuat sesuatu pelanggaran dosa.

 

Rahasiah Zikir dan Kalimat ALLAH

“Diterangkan didalam Kitab Fathurrahman, berbahasa Arab, yaitu pada halaman 523. disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis didalam Al-Qur’an sebanyak 2.696 tempat.

 

Apa kiranya hikmah yang dapat kita ambil mengapa begitu banyak nama Allah, Zat yang maha Esa itu bagi kita…?

Allah, Zat yang maha esa, berpesan :

“ Wahai Hambaku janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku “

Maksudnya : Allah itu namaku dan Zatku, dan tidak akan pernah bercerai, Namaku dan Zatku itu satu.

Allah S.W.T., juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya, kemudian ditambah 4 kitab lagi sehingga jumlah keseluruhan kitab yang telah diturunkan-Nya berjumlah 104 buah kitab, dan yang 103 buah kitab itu rahasianya terhimpun didalam Al-Qur’annul karim, dan rahasia Al-Qur’annul karim itu pun rahasianya terletak pada kalimah “ALLAH”.

Begitu pula dengan kalimah La Ilaha Ilallah, jika ditulis dalam bahasa arab ada 12 huruf, dan jika digugurkan 8 huruf pada awal kalimah La Ilaha Ilallah, maka akan tertinggal 4 huruf saja, yaitu Allah.

Ma’na kalimah ALLAH itu adalah sebuah nama saja, sekalipun digugurkan satu persatu nilainya tidak akan pernah berkurang, bahkan akan mengandung ma’na dan arti yang mendalam, dan mengandung rahasia penting bagi kehidupan kita selaku umat manusia yang telah diciptakan oleh Allah S.W.T., dalam bentuk yang paling sempurna.

 

ALLAH jika diarabkan maka Ia akan berhuruf dasar Alif, Lam diawal, Lam diakhir dan Ha. Seandai kata ingin kita melihat kesempurnaannya maka gugurkanlah satu persatu atau huruf demi hurufnya.

• Gugurkan huruf pertamanya, yaitu huruf Alif (ا ), maka akan tersisa 3 huruf saja dan bunyinya tidak Allah lagi tetapi akan berbunyi Lillah, artinya bagi Allah, dari Allah, kepada Allahlah kembalinya segala makhluk.

• Gugurkan huruf keduanya, yaitu huruf Lam awal (ل ), maka akan tersisa 2 huruf saja dan bunyinya tidak lillah lagi tetapi akan berbunyi Lahu.

Lahu Mafissamawati wal Ardi, artinya Bagi Allah segala apa saja yang ada pada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.

• Gugurkan huruf ketiganya, yaitu huruf Lam akhir ( ل), maka akan tersisa 1 huruf saja dan bunyinya tidak lahu lagi tetapi Hu, Huwal haiyul qayum, artinya Zat Allah yang hidup dan berdiri sendirinya.

Kalimah HU ringkasnya dari kalimah Huwa, sebenarnya setiap kalimah Huwa, artinya Zat, misalnya :

 

Qul Huwallahu Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Yang dimaksud kalimah HU itu menjadi berbunyi AH, artinya Zat.

 

Bagi sufi, napas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi amal bathin, yaitu HU, kembali napas turun di isi dengan kalimah ALLAH, kebawah tiada berbatas dan keatas tiada terhingga.

Perhatikan beberapa pengguguran – pengguguran dibawah ini :

Ketahui pula olehmu, jika pada kalimah ALLAH itu kita gugurkan Lam (ل ) pertama dan Lam (ل ) keduanya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan huruf yang akhir (dipangkal dan diakhir), yaitu huruf Alif dan huruf Ha (dibaca AH).

Kalimah ini (AH) tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak dibaca lagi dengan nafas keatas atau kebawah tetapi hanya dibaca dengan titik.

Kalimah AH, jika dituliskan dengan huruf Arab, terdiri 2 huruf, artinya dalam bahasa disebutkan INTAHA (Kesudahan dan keakhiran), seandai saja kita berjalan mencari Allah tentu akan ada permulaannya dan tentunya juga akan ada kesudahannya, akan tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH, maka sampailah perjalanan itu ketujuan yang dimaksudkan. (Silahkan bertanya kepada akhlinya)

 

Selanjutnya gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf akhirnya, yaitu huruf HA, maka akan tersisa 2 buah huruf ditengahnya yaitu huruf LAM pertama (Lam Alif) dan huruf LAM kedua ( La Nafiah). Qaidah para sufi menyatakan tujuannya adalah Jika berkata LA (Tidak ada Tuhan), ILLA (Ada Tuhan), Nafi mengandung Isbat, Isbat mengandung Nafi tiada bercerai atau terpisah Nafi dan Isbat itu.

 

Selanjutnya gugurkan huruf LAM kedua dan huruf HU, maka yang tertinggal juga dua huruf, yaitu huruf Alif dan huruf Lam yang pertama, kedua huruf yang tertinggal itu dinamai Alif Lam La’tif dan kedua huruf itu menunjukkan Zat Allah, maksudnya Ma’rifat yang sema’rifatnya dalam artian yang mendalam, bahwa kalimah Allah bukan NAKIRAH, kalimah Allah adalah Ma’rifat, yakni Isyarat dari huruf Alif dan Lam yang pertama pada awal kalimah ALLAH.

 

Gugurkan tiga huruf sekaligus, yaitu huruf LAM pertama, LAM kedua, dan HU maka tinggallah huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf Alif (Alif tunggal yang berdiri sendirinya).

 

Berilah tanda pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah dan depan, maka akan berbunyi : A.I.U dan setiap berbunyi A maka dipahamhan Ada Zat Allah, begitu pula dengan bunyi I dan U, dipahamkan Ada Zat Allah dan jika semua bunyi itu (A.I.U) dipahamkan Ada Zat Allah, berarti segala bunyi/suara didalam alam, baik itu yang terbit atau datangnya dari alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin dan Api) maupun yang datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah.

Penegasannya bunyi atau suara yang datang dan terbit dari apa saja kesemuanya itu berbunyi ALLAH, nama dari Zat yang maha Esa sedangkan huruf Alif itulah dasar (asal) dari huruf Arab yang banyaknya ada 28 huruf.

 

Dengan demikian maka jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita telah melihat 28 huruf yang ada. Lihat dan perhatikan sebuah biji pada tumbuh-tumbuhan, dari biji itulah asal usul segala urat, batang, daun, ranting, dahan dan buahnya.

Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah.

Pandang yang satu kepada yang banyak dan pandang yang banyak kepada yang satu maka yang ada hanya satu saja yaitu satu Zat dan dari Zat itulah datangnya Alam beserta isinya.

Al-Qur’an yang jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun kedalam Suratul Fatekha, dan Suratul Fatekha itu akan terhimpun pada Basmallah, dan Basmallah itupun akan terhimpun pada huruf BA, dan huruf BA akan terhimpun pada titiknya (Nuktah).

 

Jika kita tilik dengan jeli maka titik itulah yang akan menjadi segala huruf, terlihat banyak padahal ia satu dan terlihat satu padahal ia banyak.

Selanjutnya Huruf-huruf lafald Allah yang telah digugurkan maka tinggallah empat huruf yang ada diatas lafald Allah tadi, yaitu huruf TASYDID (bergigi tiga, terdiri dari tiga huruf Alif) diatas Tasydid adalagi satu huruf Alif.

 

Keempat huruf Tasydid itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib bagi kita untuk mentauhidkan Asma Allah, Af’al Allah, Sifat Allah dan Zat Allah.

Langkah terakhir gugurkan keseluruhannya, maka yang akan tinggal adalah kosong.
LA SAUTUN WALA HARFUN, artinya tidak ada huruf dan tiada suara, inilah kalam Allah yang Qadim, tidak bercerai dan terpisah sifat dengan Zat.

Tarku Mayiwallah (meninggalkan selain Allah) Zat Allah saja yang ada.

 

“La Maujuda Illallah (tidak ada yang ada hanya Allah)”

 

7.1.4. HAKIKAT ZIKKRULLAH

 

Apakah yang disebut dengan ZIKKRULLAH itu ?

Menurut pengertian umum memuji dan menuju dengan hati yang tulus ikhlas. Tetapi tulus dan ikhlasnya itu berbeda dengan orang yang mengerti/ yang faham.Orang yang faham ialah,seperti dalil berbunyi :

 

 

 

 LA YA’ZIKKRULLAH ILLALLAH,artinya : tidak menyebut Allah hanya Allah.

Adapun yang mengatakan LA ILAHA ILLALLAH itu ialah : RAHASIA ALLAH ZAHIR DAN BATHIN,ATAU BATHIN DAN ZAHIR. Kesimpulannya ialah : tidak lagi kita ini yang mengatakan kalimat itu,melainkan SIRULLAH jua adanya.

 

Dengan demikian leburlah tubuh itu dan hati itu kepada Roh,dan Roh itu hancur pula menjadi NUR,dan NUR itu lenyap pula kepada RAHASIA ALLAH TA’ALA. Jadi yang berzikir itu adalah RAHASIA ALLAH jua.

 

Disini letaknya nialai,dan nilai itu terletak dalam diri pribadi masing-masing. Inilah yang disebut ISI daripada ZIKKRULLAH itu. Berzikirlah dengan Zikkrullah,dan ingatlah dengan ingatnya Allah dan pandanglah dengan pandangannya Allah.

 

Dan berbuatlah dengan perbuatan Allah,dan tinggalkanlah apa-apa yang ditinggalkan oleh Allah.

 

Kerjakanlah apa yang dikerjakan Allah,dan tinggalkanlah apa yang ditolak Allah.

 

INILAH KATA-KATA PAHIT TAPI MANIS.

BEBERAPA KESIMPULAN

TIADA MENGENAL ALLAH,HANYA ALLAH

TIADA MELIHAT ALLAH,HANYA ALLAH

TIADA MENYEMBAH ALLAH,HANYA ALLAH

TIADA MENYEBUT ALLAH,HANYA ALLAH

TIADA YANG MAUJUD,HANYA ALLAH

TIADA UJUD BAGIKU,HANYA UJUD ALLAH

TIDAK ADA DALAM DIRI,MELAINKAN ALLAH

TIADA UJUD BAGI KITA,HANYA UJUD ALLAH

TIADA HIDUP KITA,HANYA HAYATULLAH ZAT

TIADA PERBUATAN KITA,HANYA FI’IL ALLAH

TIADA NAMA BAGI KITA,HANYA ASMA ALLAH

TIADA PANDANGAN KITA,HANYA PANDANGAN ALLAH

TIADA PENGLIHATAN BAGI KITA,HANYA PENGLIHATAN ALLAH

TIADA PENGUCAP BAGI KITA,HANYA UCAPAN ALLAH

TIADA PENCIUMAN BAGI KITA,HANYA PENCIUMAN ALLAH

TIADA RASA BAGI KITA,HANYA RAHASIA ALLAH

TIADA KUASA BAGI KITA,HANYA KUDRAT ALLAH

TIADA HIDUP BAGI KITA,HANYA KEHIDUPAN ALLAH

 

 

TIADA BERKEHENDAK KITA,HANYA IRADAT ALLAH

TIADA TAHU KITA,HANYA ILMU ALLAH

TIADA MENDENGAR KITA,HANYA ALLAH

TIADA MELIHAT KITA,HANYA ALLAH

TIADA BERKATA-KATA KITA,HANYA RAHASIA ALLAH

TIADA UJUD BAGI KITA,HANYA UJUD ALLAH

TIADA LAGI KITA KITA INI,HANYA DALAM RAHASIA ALLAH

 

Zikirullah dan Khalwat Sunnah Nabi

 

Zikrullah dan khalwat ini adalah sunah Nabi yang paling awal,sejak di Gua Hira’ lagi.Nabi Muhammad S.A.W juga telah pergi berkhalwah di Jabal Thur bahkan Nabi
Musa a.s juga berkhalwah di Bukit Tursina seperti Firman Allah :

“ dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam,dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.. “. Surah al-A’raaf ayat 142. Sabda Nabi S.A.W :

“ Wajiblah atas engkau sentiasa berzikrullah di tempat-tempat yang sunyi “

Syeikh Abdul Kadir Isa, Haqaiq anittasawuf.

“ Orang yang ikhlas kepada Allah selama 40 hari akan timbul sumber hikmah dari
hatinya pada lisannya ”.“ Barangsiapa menambatkan akan dirinya satu malam pada
jalan Allah adalah satu malam itu baginya seperti seribu malam sembahyang dan
puasa “ HR Ibn Majah dan Usman.

“ Haqiqun bilmar’i inyyakuunalahu majaalisu yakhluu fiihaa wayazkuruu zunuubahu
fayastaqfirullaha minha – sebenar-benar bagi seseorang itu mempunyai tempat
duduk untuk ia berkhalwat di dalamnya dan mengingati dosa-dosanya dan ia meminta
ampun kepada Allah terhadap dosa-dosanya“

Derajat atau peringkat ehsan itu menurut Imam Ghazali tidak dapat dicapai dengan
cara ta’alim atau mendengar kecuali dengan cara merasa atau dzauq.Bagi mencapai
dzauq yang cepat perlulah mengikuti jalan bersuluk. ( Ihya’ Ulumuddin )

Dari ‘Aisyah r.h., dia berkata, “ Adalah Nabi S.A.W melaksanakan iktikaf dalam sepuluh hari akhir Ramadhan, lalu saya buatkan kelambu untuk beliau, lalu Rasulullah solat Subuh,kemudian memasukinya. (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

 

DEMIKIANLAH PEMAHAMAN MENGENAL DIRI MENUJU PENGENALAAN  ALLAH S.W.T., SEMOGA KITA SENANTIASA DIRAHMATI ALLAH S.W.T., DANDIBERIKAN PETUNJUK KEBENARAN MENUJU KEMASLAHATAN HIDUP DIDUNIA DAN KELAK AKHIR HIDUP KITA BERAKHIR DALAM CHUSNUL CHATIMAH, AMIN YA RABBUL ALAMIN.

 

WABILLAHI TAUFIK WAL HIDAYAH, WASSALAMU’ALAIKUM

WARHMATULLAHI WA BARKATUH

 

                                                MANGKASSARAQ

Posted on, 26 Dzulhijah 1440 H,

by zhaponk

 

 

 

 

Tumbuh melata sipokok tebu, Ditepi pasar jualan daging,

Banyak harta tidak berilmu, Bagai rumah tidak berdinding.

                       

 

Tidak ada komentar:

MENUJU INSAN KAMIL

  BA GIAN KE-LIMA MENUJU INSAN KAMIL     Insan Kamil adalah pada waktu tanazul berada paling akhir, sedang pada waktu taraki nantiny...