AWAL PENCIPTAAN
BISMILLAH
Sebutir debu serta
kesekejapan hidup diubah melalui tradisi menjadi sebuah bintang di cakrawala,
yang diberkahi dengan kemapanan dan merefleksikan keabadian Tuhan. Menurut
doktrin tradisional, realitas batin alam semesta mengungkapkan dirinya melalui
mata batin atau penglihatan intelektual, “karena mata batin merupakan alat
persepsi yang berdasarkan keselarasan, sekalipun diatas bidang korporeal”.
Dalam makrokosmos,
keselarasan alam semesta terwujud pada taraf realitas yang lebih tinggi dan
menjadi suram serta semakin samar dalam tingkat kosmos yang semakin rendah,
karena jauh sebelum Tuhan menciptakan manusia pertama, yakni Adam As (Abul
Basyar) Tuhan yang Maha Agung lebih dulu menciptakan suatu alam yang disebut
“Alam Jabbarut Malaakut”, dan dihuni oleh para malaikat-malaikat Allah yang tak
terbilang banyaknya.
Sebagian dari kelompok
para Malaikat-Malaikat Allah tersebut adalah kelompok Malaikat Muqarrabin, Malaikat
Kurubiyyin, Malaikat Kiraman Katibin, Malaikat Arsyi, Malaikat Hafadzah dan
Malaikat Aran Jabaniyyah, Malaikat Arsyi. Dan masih banyak lagi golongan
Malaikat-malaikat lainnya yang tidak dapat disebutkan disini.
Para malaikat-malaikat
ini masing-masingnya mempunyai sayap, yang sayapnya saja secara langsung
melambangkan “Hakikat realitas penerbangan dan pendakian melawan seluruh hal
yang merendahkan derajat serta menurunkan kekuatan atas dunia ini, yang
akhirnya mengantar pada kebebasan dari kungkungan duniawi yang serba terbatas”.
Seperti tersebut didalam Firman-Nya : “ Segala puji bagi Allah pencipta langit
dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus
berbagai urusan) yang mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga empat.
Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah
Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu”. (Q.S. 35 : 1).
Menurut doktrin
tradisional, “Alam Jabbarut Malakut” terdiri dari tujuh lembah pegunungan
kosmik “Qaf” yang pada puncaknya terdapat singgasana Tuhan (Al-Arsy). Tuhan
yang menciptakan singgasana (Al-Arsy) dari jambrud hijau dan keempat tiangnya
terbuat dari batu merah delima, yang dibawa oleh delapan Malaikatul Arsy, yang
selalu bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya. Ketujuh lembah
“Qaf” itu sendiri, adalah Lembah Thalab (pencarian), Lembah Isyq (cinta),
Lembah Istighna (kepuasan), Lembah Hayrat (kekaguman), Lembah Faqr
(kemiskinan), Lembah Ma’rifah (gnosis), dan Lembah Fana (lebur).
Dimasing-masing
ketujuh lembah pegunungan kosmik “Qaf” ini terdapat (tersimpan) tujuh buah
huruf Al-Hijaiyyah, yakni huruf-huruf yang ada pada kalimah suci “Bismillah”.
Pegunungan kosmik “Qaf” merupakan pesona spiritual dari keindahan dan keAgungan
Tuhan, yang selalu menjadi pintu gerbang untuk masuk kedalam lautan rahasia
Tuhan, yang dimulai dengan kerinduan kepada-Nya, dan bergerak secara perlahan
menuju penyingkapan “hakikat Bismillah” yang suci dan mensucikan, dan akhirnya
mencapai peleburan (Fana) dengan melintasi horizon esoterisme “Qaf” yang sangat
luas dan tanpa batas. “Qaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia” (Q.S. : 50 : 1)
Ekspresi universal
kehidupan “Alam Jabbarut Malaakut” dan jalan inisiatik, dimungkinkan oleh
tingginya tingkatan spiritual (maqam) yang sekaligus menjadi awal cikal bakal
penciptaan langit dan bumi yang pada waktu itu (di alam jabbarut malakut),
langit masih berupa asap, asap yang keluar dari ketujuh lembah “Qaf”, kemudian
Allah satukan dan dari asap tersebut dijadikannya tujuh lapis langit. Seperti
tersebut dalam firman-Nya: “ Yang menciptakan tujuh lapis langit “ (Q.S. : 67 :
3). Dan firman-Nya lagi : “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit yang
kala itu masih berupa asap” (Q.S. : 41 : 11). Setelah tujuh lapis langit
terbentuk, kemudian Allah Swt menciptakan tujuh lapis bumi yang diambil dari
pegunungan kosmik “Qaf” pula. “ Allah-lah yang mnciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi” (Q.S. : 65 : 12)
Catatan : Pengertian
mengenai penciptaan langit dan bumi ini adalah “langit akhirat dan bumi akhirat”,
karena setelah penciptaan langit dan bumi akhirat ini, Allah Swt menciptakan
tujuh surga dan tujuh neraka, barulah langit dan bumi dunia Allah ciptakan
dalam masa yang pada saat itu bumi masih dalam keadaan gelap gulita.
Seperti yang Allah Swt
firmankan didalam Al-Qur’an : “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan
bumi, dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan kami sedikitpun
tidak ditimpa kelelahan “ (Q.S. : 50 : 38)
Tuhan Yang Maha Esa
menciptakan dunia setelah DIA (Allah) menciptakan surga dan neraka berikut
wildan dan bidadari. Dunia saat itu masih dalam keadaan gelap gulita, dan
setelah Nabi Adam As dan Siti Hawa terusir dari surga, kemudian turun ke dunia,
barulah Allah Swt menciptakan cahaya yang menerangi dunia (matahari-bulan-dan
bintang), walau sebenarnya penciptaan cahaya (cahaya Muhammad) ini lebih dulu
dari pada penciptaan Alam Jabbarut Malaakut, yakni “Nur Muhammad”
Tuhan adalah “cahaya
langit dan bumi”. Demikian penegasan Al-Qur’an yang kemudian dimensi kosmogonis
dan kosmologisnya diperkuat oleh Rasul Saw. Dengan sabdanya : “Yang pertamakali
diciptakan oleh Tuhan adalah cahaya”.
“Cahaya bagaikan
kutub-kutub spiritual yang menyala, laksana norma dan teladan-teladan yang
hidup dan menjadi perhatian para pencari kebenaran dimana dan kapanpun yang
sekaligus merupakan realitas surgawi dibalik bentuk keduniawian”.
“Hakikat
Bismillah adalah gema panggilan Tuhan kepada manusia untuk kembali ke sumber
spiritualnya“ (Faridhal Attros Al’Kindhy)***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar