Minggu, 09 Juli 2023

RUKUN ISLAM DAN IMAN

 

 

 

BAGIAN KETIGA

MELAKSANAKAN RUKUN ISLAM DAN RUKUN IMAN

 

 

III.1. RUKUN ISLAM

III.1.a.Mengenal Agama Islam

Agama islam adalah salah satu agama yang dianut semua umat yang mengakui ALLAH S.W.T, Dialah Tuhan yang patuh disembah firmanNYA dalam Al-Qur’an surah Al Ikhlas قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚqul huwallāhu aḥadKatakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.dalam  Surah Al-Baqarah dimuat:إِذا قَضى‏ أَمْراً فَإِنَّما يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ "Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia".  Maha Besar dengan segalah firmanNya.dan MUHAMMAD S.A.W., adalah Rasul ALLAH S.W.T.,sebagaimana Firman ALLAH S.W.T., dalam  Al-Quran :          

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia(Q.S. Al Anbiya: 107) diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalahrahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.

Nama islam berasal dari wahyu Al quran yang menyatakan :

“Pada hari ini telah Ku sempurnakan agamamu dan telah Ku cukupkan nikmatKu dan telah Ku ridhoi islam sebagai agama bagimu”(Q.S Al-maidah :3)

Islam berasal dari bahasa Arab “aslama” dari kata dasar “salima” yang artinya sejahtera, tidak tercela, tidak bercacat, dan selanjutnnya di Indonesia menjadi kata “selamat” atau “salm:” dan silm yang berarti kedamaian, kepatuhan, penyerahan diri kepada Tuhan. Maka pengertian Islammenjadi  ”agama sejahtera”, “agama perdamaian” dan “keselamatan”

 

III.1.b.Pokok-Pokok Ajaran Islam

 

Aturan Hukum (Syari’ah)

 

Untuk melaksanakan pokok-pokok kepercayaan, maka agama Islam ditegakkan dan dilaksanakan menurut aturan-aturan hukum syari’ah (tata cara) yang mengandung kaidah-kaidah hukum yang bersifat ibadah yang merupakan rukun islam, dan kaidah-kaidah hukum yang sifatnya mu’amalah dalam arti luas.

Aturan-aturan hukum syari’ah tersebut dapat dibedakan dalam lima sifat hukum, yang disebut ‘Al-Ahkam Al-Hamzah’ (hukum yang lima) yang tidak saja mengandung sifat hukum tetapi juga kesusilaan. Kelima sifat itu adalah :

 

Fardhu atau wajib (perintah, suruhan) yang harus dilakukan.

Haram atau larangan, yang dilarang melakukannya.

Sunnah atau mandub (dianjurkan), yang sebaiknya dilakukan.

Makruh atau celaan, yang tercela melakukannya.

Mubah atau halal, yang boleh dilakukan tanpa ganjaran.

 

Rukun dan Hukum Ibadah Dalam Islam ada 5 :

 

Hukum ibadah adalah aturan-aturan hukum yang mengatur huungan manusia dengan Tuhan, yang juga disebut ‘Rukun Islam’ dan terdiri dari lima unsur yaitu :

 

III.2.Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat di Saksikan Pengislamannya :

أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمد رسول الله                      

Asyhadu an laa ilaaha illallāh wa asyhadu anna Muhammad Rasuulullāh.’

Setiap manusia yang Islam wajib mengucapkan syahadatain atau dua kalimat syahadat (persaksian), terutama bagi orang yang akan masuk islam. Kewajiban amalan (perbuatan)syahadat itu harus terus disempurnakan dengan melakukan rukun islam berikutnya yaitu salat.

 

III.3. Mendirikan Salat Wajib

 

            Salat atau sembahyang dalamislam berartimembersihkan hati manusia

untukberhubungan dengan Allah. Salat yang harus dilakukan setiap hari itu adalah

limakali yaitu pada waktu-waktu sebagai berikut :

 

-  Salat Subuh, pada waktu fajar sampai terbit matahari pagi.

-  Salat Zhuhur, pada waktu matahari tergelincir sampai bayangan sepanjang badan.

-  Salat ‘Ashar, pada waktu bayangan sepanjang badan sampai terbenam matahari.

-  Salat Magrib, pada waktu terbenam matahari sampai cahaya kemerahan matahari

menghilang sama sekali.

            -  Salat ‘Isya, pada waktu sejka hilangnya cahaya merah matahari terbenam sampai

waktu fajar.

 

            Keutamaan salat wajib bagi setiap muslim sebagaimana Allah S.W.T, berfirman dalam

            Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 45-46 :

 

 

             waista'iinuu bialshshabri waalshshalaati wa-innahaa lakabiiratun 

illaa 'alaa alkhaasyi'iina

 

 

Artinya : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang

demikian itu sungguhberat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',

 

 

 

alladziina yazhunnuuna annahum mulaaquu rabbihim wa-annahum ilayhi

raaji'uuna

 

            Artinya : (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya,

dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Selain salat wajib lima waktu tersebut terdapat pula salat wajib bersama pada setiap hari jum’at di masjid, salat jenazah, disamping salat-salat yang dianjurkan (sunnah).

 

3.a.Ada gangguan ketika melakukan salat seperti :

 

      a. Berasa was-was ketika melakukan takbiratul ihram

      b. Tidak memberi tumpuan ketika membaca bacaan dalam solat.

      c. Lupa jumlah rakaat yang dikerjakan

      d. Hadirnya fikiran yang memalingkan tumpuan

      e. Tergesa-gesa menyelesaikan solat

      f. Melakukan gerakan yang tidak perlu

      g. Melihat ke kiri atau ke kanan ketika solat.

      h. Menguap dan mengantuk.

      i. Bersin berulang kali ketika solat

j.Terasa ingin buang angin atau buang air

 

Berbahagialah seorang muslim yang selama ini terbebas daripada pelbagai macam gangguan syaitan dalam salat mereka. Semoga kita semua dibebaskan Allah daripada gangguan berkenaan.

 

Bagi yang merasakan gangguan itu, sebahagian atau keseluruhannya, janganlah putus asa untuk berjihad melawan syaitan terkutuk.

 

3.b. Adab Mengerjakan Salat

 

a.  Bentangkansejadah , kemudian naik atasnya dimulai dengan kaki

kanan lalu azan dan iqamat.

b.  Berdiribetul..tangan kanandan kiri disilangkan …..kanandiatas….

pejamkan mata…...pandang DIRI BATIN........apabila jelas…….....ucapkan

 KALIMAH SYAHADAH 3 xdan bedoa seperti berikut : .... DOA….. Aku

berdiri dengan HURUF ALIF, aku  duduk dengan hurufBA ….... diatas

HAMPARAN RASULLULLAH .Akumenghadapke BAITULLAH

KIBLATDADA, KIBLAT RUH ke BAITULMAKMUR– ALLAH

KHALIQUL ALAM.Ruhku yang MENYEMBAH ALLAHDZAT

WAJIBUL WUJUD –WUJUDUL MUKHDO Maha Suci, yang
BERDIRI PADA SIFAT “LAISA KAMISLIHISYAIUN” Mengucap 2

 KalimahSyahadah.

c.  Melafazkan NIAT mengikut sholat yang hendak didirikan itu.

d. Luruskankedua tangan danTARIK NAFAS dari ujung kaki hingga

sampaiubunubun,kemudian lafazkanTAKBIR Allah Hu Akbar lalu

angkat kedua tangan.

e. Sewaktu kita berdiri QIAM..…tangan kanan diatastangan kiri lalu

kita bacaKalimah ini didalam hati...Aa Uu Zubillah Minash Syaitanurrajim

– Bismillah HirRahmanirrahim YaMuhammad RahasiaKU kepadamu.

Ya Muhammad Aku yang mengadakan,AkuDzat Allah Taala menjadi  diri.

 

f. Baca DOA IFTITAH, Fatihah dan seterusnya sampai akhir.

g. Selama membacaTAHIYYAT maka hendaklah kita ingat akan MAKSUD

Kalam Allahitu seperti berikut : Attahiyya …....hingga …..assalamualaika

wabarakatuhAKU yang BERHAYAT sebenar-benarnya.

 

AKU Yang Esa yang mengadakan engkau Muhammad.

AKU Yang Memeberi RAHMAT engkau dan Yang Memberi Rahmat Assalamua ALAI NA…. AKU yang sebenar-benarnya Tuhanmu Wa ala ibadillah….sholihin Dan yang ibadatullah itu yang amat baik itu AKU Ash hadu Ila ha illalallah AKU Tuhan Yang ESA..Tiada Tuhan Yang Disembah Melainkan AKU Wa..ash hadu….rasullullah AKU bersaksi Nabi Muhammad itu Pesuruh Allah Allahuma….wa ala alihi Muhammad.. Ya Tuhanku juga yang memberi ANUGERAH itu ..Yang memberi kepada hambanya dan sekalian umat Salam Inni ana ZATUL HAQ kekanan  Inni ana SIFATUL HAQ kekiri.

 

Penghikmatan sewaktu kita melangkah keatas sejadah dengan KAKI KANAN hendaklah Dimulai bacaan BISMILLAH Sewaktu takbir ALLAH HU AKBAR..maka niat dalam hati...…AKULAH YANG MAHA BESAR Sewaktu membaca FATIHAHmaka hendaklahkita ingat akan SIFAT KITA dalam Fatihah. Sewaktu RUKUKsetelah baca subhana rabbial adzim…......wabihamdihi3 x ..maka baca pula AKU mempunyai KEBESARAN dan YANG AMATMENGETAHUISewaktuITTIDAL setelahbacasami allahu liman hamidah 3 x ....lalu kita bacapula …....AKUlah YANG AMAT MENDENGAR dan AKU-lah YANG MEMBERI SEGALA KURNIAAN 1x didalam hati.Sewaktu SUJUD setelah membaca subhanarabbial a’alawabihamdihi 3 x lalu kitabaca ..pula…AKU juaYANG DISEMBAH dan AKU jua YANG MENYEMBAH pada diriku sendiri 1x didalam hati. Sewaktu DUDUK ANTARA 2 SUJUD setelah membaca rabbigh firgli Warhamniwa jeburni warzukniwahdini wa’afni wa’fu anni 3x lalukitabaca AKU-lah YANGMENGAMPUNKANDOSA dan MENGURNIAKANRAHMAT danKESEJAHTERAANkepadamu1 xdidalamhati.PAHAMI DULU TENTANG SALAT .

 

Sebelum kita memulai salat terlebih dahulu kita fahami akan ETIKAPEGANGAN dalam salat itu karena ini amat PENTING bagi kita.

 

 

3.c. Lafadz Niat salat dalam Hakikat.

DUHUR : Sengaja aku sholat fardhu ZOHOR 4 rakaat dihadapan KAABAH di Mekah tunai karena Allah Ta’ala. Ya Muhammad aku TAJALLI ini wajib adanya, sebabnya AKU mengadakan 4 rakaat ini ialah UJUD-ILMU–NUR–SUHUD, AKU mengadap kepada Aku ada Allah Ta’ala.

ASHAR : Sengaja aku sholat fardhu ASHAR 4 rakaat dihadapan KAABAH di Mekah tunai karena Allah Ta’ala Ya Muhammad AKU tajalli wajib BERANASIR dengan 4 perkara yakni API-ANGIN-AIR–TANAH.

Aku menghadap kepada AKU ada Allah Ta’ala.

 

MAGHRIB : Sengaja aku sholat fardhu MAGRIB 3 rakaat dihadapan KAABAH di Mekah tunai karena Allah Ta’ala Ya Muhammad aku tajalli wajib AKU gaib kehendak mengadakan 3 rakaat yakni ALLAH-MUHAMMAD–ADAM. aku menghadap kepada AKU ada Allah Ta’ala.

 

ISYA’ : Sengaja aku sholat fardhu ISYA 4 rakaat dihadapan KAABAH di Mekah tunai karena Allah Ta’ala Ya Muhammad aku tajalli wajib AKU INSAN itu AKU mengadakan 4 rakaat yakni WADZI-MADZI–MANI-MAKNIKAM aku menghadap kepada AKU ada Allah Ta’ala.

 

SUBUH Sengaja aku sholat fardhu SUBUH 2 rakaat dihadapan KAABAH di Mekah tunai karena Allah Taala Ya Muhammad aku yang WUJUD tajalli itu wajib BERTUBUH yang mengadakan 2 rakaat yakni DZAT – SI FAT aku mengadap kepada AKU ada dengan yaitu sebenar benarnya Allah Ta’ala.

 

            3.d. Asal usul Salat

 

SUBUH:

Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Subuh ialah Nabi Adam a.s., yaitu tatkala baginda keluar dari syurga lalu dihantar ke bumi. Perkara pertama yang dilihatnya ialah kegelapan Dan baginda berasa takut yang amat sangat. Apabila fajar Subuh telah keluar Nabi Adam a.s. Pun bersembahyang dua rakaat.
Rakaat pertama :- Bersyukur baginda karena terlepas dari kegelapan malam.
Rakaat kedua :- Bersyukur baginda karena siang telah menjelma.


DUHUR:

Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Duhur ialah Nabi Ibrahim A.S.,yaitu tatkala Allah S.W.T., Telah memerintahkan padanya agar menyembelih anaknya Nabi Ismail A.S., Sedang seruan itu datangnya pada waktu tergelincir matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim empat rakaat.

 

Rakaat pertama : Bersyukur bagi penebusan .

Rakaat kedua : Bersyukur karena dibukakan dukacitanya Dan juga anaknya .

Rakaat ketiga : Bersyukur Dan bermohon akan keredhaan Allah.

Rakaat keempat : Bersyukur karena korbannya digantikan dengan tebusan kibas.

ASAR:

Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Asar ialah Nabi Yunus A.S.,tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah dari perut ikan nun. Ikan nun telah memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai sedang ketika itu telah masuk waktu Asar. Maka bersyukurlah Nabi Yunus lalu bersembahyang empat rakaat karena baginda telah diselamatkan oleh Allah daripada 4 kegelapan yaitu:

Rakaat pertama : Kelam dengan kesalahan.

Rakaat kedua :-Kelam dengan air laut .

Rakaat ketiga : Kelam dengan malam.

Rakaat keempat : Kelam dengan perut ikan Nun .

 

MAGHRIB:

Orang yang pertamamengerjakan sembahyang Maghrib ialah Nabi Isa a.s.,tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah dari kejahilan Dan kebodohan kaumnya, sedang waktu itu telah terbenamnya matahari. Bersyukurlah Nabi Isa lalu bersembahyang tiga rakaat karena diselamatkan dari kejahilan tersebut, yaitu:


Rakaat pertama : Untuk menafikan ketuhanan selain daripada Allah yang Maha Esa.
Rakaat kedua : Untuk menafikan tuduhan Dan juga tohmahan ke atas ibunya Siti Mariam yang telah dituduh melakukan perbuatan sumbang.

Rakaat ketiga : Untuk meyakinkan kaumnya bahwa Tuhan itu hanya satu iaitu Allah jua, tiada dua atau tiga.

 

ISYA:

Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Isyak ialah Nabi Musa a.s. Pada ketika itu Nabi Musa telah tersesat mencari jalan keluar dari negeri Madyan, sedang dalam dadanya penuh dengan perasaan dukacita. Allah lalu menghilangkan semua perasaan dukacitanya itu pada waktu Isyak yang akhir.Lalu sembahyanglah Nabi Musa empat rakaat sebagai tanda bersyukur.

Rakaat pertama : Dukacita terhadap isterinya.

Rakaat kedua :Dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun.

Rakaat ketiga : Dukacita terhadap Firaun.

Rakaat keempat : Dukacita terhadap anak Firaun .

Terbitkan makna dalam Kita mengerjakan salat

Semoga dengan memahami bacaan

Akan membuat Kita lebih khusuk dalam solat.

Allah Maha Besar

( Takbiratulihram)

Doa Iftitah

Allah Maha Besar Dan segala puji bagi Allah dengan banyaknya.

Maha suci Allah sepanjang pagi Dan petang.

Aku hadapkan wajahku bagi Tuhan yang mencipta langit Dan bumi, dengan suasana lurus Dan berserah diri Dan aku bukan dari golongan orang musyrik…
Sesungguhnya solatku,Ibadatku,Hidupku,MatikuAdalah untuk Allah Tuhan sekalian alam.

Tidak Ada sekutu bagiNya Dan kepadaku diperintahkan untuk tidak
Menyekutukan bagiNya Dan aku dari golongan orang Islam.

Al-Fatihah
Dengan nama Allah yang maha Pemurah lagi maha Mengasihani.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Yang maha pemurah lagi maha mengasihani.

Yang menguasai Hari pembalasan.

Hanya Engkaulah yang kami sembah Dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Iaitu jalan orang-orang yang Engkau kurniakan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang Engkau murkai Dan bukan jalan mereka yang sesat.

Bacaan ketika rukuk

Maha Suci TuhanKu Yang Maha Mulia Dan dengan segala puji-pujiannya.

Bacaan ketika bangun dari rukuk

Allah mendengar pujian orang yang memujinya.

Bacaan ketika iktidal

Wahai Tuhan kami, bagi Engkaulah segala pujian.

Bacaan ketika sujud

Maha suci TuhanKu yang Maha Tinggi Dan dengan segala puji-pujiannya.

Bacaan ketika duduk di antara dua sujud

Ya Allah, ampunilah daku,

Rahmatilah daku,

Kayakan daku,

Angkatlah darjatku,

Rezekikan daku,

Berilah aku hidayah,

Sihatkanlah daku Dan

Maafkanlah akan daku.

Bacaan ketika Tahiyat Awal

Segala penghormatan yang berkat solat yang baik adalah untuk Allah.

Sejahtera atas engkau wahai Nabi Dan rahmat Allah serta

Keberkatannya.
Sejahtera ke atas kami Dan atas hamba-hamba Allah yang soleh.

Aku naik saksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah Dan aku naik saksi bahwasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah.

Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad.

Bacaan ketika Tahiyat AkhirSegala penghormatan yang berkat solat yang baik adalah untuk Allah.

Sejahtera atas engkau wahai Nabi Dan rahmat Allah serta keberkatannya.

Sejahtera ke atas kami Dan atas hamba-hamba Allah yang soleh.

Aku naik saksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah Dan aku naik saksi

bahwasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah.

Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad Dan ke atas keluarganya.

Sebagaimana Engkau selawatkan ke atas Ibrahim Dan atas keluarga Ibrahim.

Berkatilah ke atas Muhammad Dan atas keluarganya sebagaimana Engkau berkati

ke atas Ibrahim Dan atas keluarga Ibrahim di dalam alam ini.

Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

Doa Qunut

Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau tunjuki.

 

Sejahterakanlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau sejahterakan.

Pimpinlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pimpin.

Berkatilah hendaknya untukku apa-pa yang telah Engkau berikan padaku.

Jauhkanlah aku daripada segala kejahatan yang telah Engkau tetapkan.

Sesungguhnya hanya Engkau sahajalah yang menetapkan, dan tidak sesiapapun yang berkuasa menetapkan sesuatu selain daripada Engkau.

Sesungguhnya tidak terhina orang yang memperolehi pimpinanMu.

Dan tidak mulia orang-orang yang Engkau musuhi.

Telah memberi berkat Engkau, ya Tuhan kami dan maha tinggi Engkau.

Hanya untuk Engkau sahajalah segala macam puji terhadap apa-apa yang telah Engkau tetapkan.

 

Dan aku minta ampun dan bertaubat kepada Engkau.

Dan Allah rahmatilah Muhammad, Nabi yang ummi dan sejahtera keatas

keluarganya dan sahabat-sahabatnya .

 

“Wahai Tuhan, aku tak layak ke syurgaMu …namun tak pula aku sanggup

ke NerakaMu…. kami lah hamba yang mengharap belas darimu .”ya Allah

jadikan lah kami hamba2 Mu yang bertaqwa..ampunkan dosa2 kami .kedua

ibubapa kami, dosa semua umat2 Islam yang masih hidup mahupun yang telah

meninggaldunia”

 

Inilah pemahaman dalam pelaksanaan ibadah salat yang sangat penting diketahui tanpa pengertian ini, salat kita HAMBAR tidak akan diterima oleh Allah dan tidak diakui oleh Nabi Muhammad S.A.W., Sabda Nabi : “Sallu kama roai tumuni usholli” Salat-lah kamu sebagaimana kamu lihat aku salat.

 

Adapun Perkara perkara dibawah ini amatlah penting juga diketahui agar seluruh perkara dalam salat terpenuhi kesempunaannya dalam melaksanakan yaitu :

 

a. AHDAH Kita hendaklah mengerti bahwa DZAT YANG QODIM itulah DIRI

BAGI MUHAMMAD (ruh) karena AHDAH itulah MARTABAT DZAT atau

 MUHAMMAD AWAL (Ta’ain Awal).

 

b. WAHDAH Sesungguhnya SEGALA PERBUATAN dan KEJADIAN itu DARI

NUR MUHAMMAD DIRI bagi ADAM (Tubuh) karenaia adalah MARTABAT

TA’AIN TSANI .. SIFAT bagi DZAT.

 

c. WAHDIAHPENGAKUAN kita pada Allah karena MENERIMA JASAD,

hakekatnya ialahQUDRAT & IRADAT Allah jua didalam salat itu atau dengan

kata lain YANG SEMBAHYANG ITU adalah RUH atau DZATUL BUKTI.

Hilangkan perasaankita pada pebuatan kita. YANG ADA HANYA DIRINYA

semata-mata. “La failun filsalati bihakikatiillallah” Tidak ada perbuatan dalam

salat itu melainkan Allah.

 

d. MI’RAJ Sewaktu kita takbiratulihram ALLAH HU AKBAR maka yang naik atau

MI’RAJ ialah QUDRAT & IRADAT Allah jua beserta naiknya NAFAS kita.

 Maka hilanglah UJUD kita pada UJUDNYA dibawa WAHDATUL AF’AL.

 

e. IHRAM – TERCENGANG Hilang perasaan kita ketika mengatakan ALLAH HU

 AKBAR,fana’kan perasaan kita sampai kepada LA HAULAWALA QUWWATA

 ILLA BILLAHI ALIYYU ADZIM.

 

f. TUBADIL – TERGANTI Gantikan pakaian dzahir atau perbuatan dzahir dengan

perbuatanNYA. Jadi yang sholat itu adalah DIA juga pada hakekatnya.

 

g. MUNAJAT – PERMOHONAN Yang meminta itu adalah sebenarnya QUDRAT

 IRADATNYA jua…maknanya diri kita bermunajat dengan HAKEKATNYA.

SALAT YANG HAKIKI Orang lain SEMBAHYANG. Aku tidak. Aku SALAT.

 

Orang lain sembahyang MENYEMBAH TUHAN yang entah dimana untuk mendapatkan pahala dan surga, menjauhkan dosa dan neraka. Aku tidak. Aku sholat untuk meng-usul Diriku.

Aku salat untuk menyaksikan dan me-nyata-kan DIRI HAKIKIku yaitu Allah yang meliputi seluruh diriku sebagai manusia.

 

Perkara dosa, pahala, surga dan neraka adalah Hak Allah bagiku, bukannya hak aku. Orang lain sembahyang Rukunnya 13. Aku sholat Rukunku 14. Aku sholat dengan Wudhu Sempurna. Orang lain berwudhu untuk bersihkan diri. Aku wudhu’ untuk Me-nafi-kan diri dan Meng-iya-kan (Isbatkan) Diri Hakikiku yaitu Allah Tuhanku.

 

Orang lain QIAM dengan coba mematikan diri mereka yaitu mematikan hawa nafsu. Aku pun QIAM dengan :

 

a. Mengucap DuaKalimah SyahadahDIDALAM HATIbukan dengan suara

mulutku dengan mentasdiqkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Nabi Muhammad

itu Pesuruh Allah.

 

 

b. Kemudian akumengucap Kalimah itu buat kali keduanya dengan cara yang sama

dengan mentasdiqkan: Bahwa tiada apa yang NYATA didalam diriku melainkan

DIRI HAKIKI KUyaitu Allah semata-matadan AkulahMuhammad

penyampaiHAQ ALLAH kepada seluruh Jasadku.

 

c. Akubersyahadah buat kaliketiga dengan mentasdiqkan : Bahwa Yang Wujud

dialamku dan Alam maya ini hanyalah Allah semata-mata.

 

d. Aku teruskan Qiamkudengan BERSALAWAT kepada Baginda Rasullullah

dengan bertasdiq bahwa Dialah asal usulku , bapak kepada Nyawaku dan beliaulah

sebenar-benarnya Diri Hakikiku itu yaitu yang menamakan Dirinya Allah. Dialah

Sifat AgungAllah Yang Rahasia yaitu Diri Rahasiaku. Didalam Qiam aku

BERHAUQALAH dan aku nyatakan penyerahanaku kepada Diri Hakikiku yaitu

Allah :Ya Allah masukkanlah wujudJasadkukedalamWujudBatinku dan

masukkanlah Wujud Batinku kedalam DzatMu semata-mata Ya Allah setiap detik

dan ketika dalam hidupku dunia akhirat. Aku serahkanapa yang adapadaku

kepadaMu dan engkau serahkan pula apa yang ada padaMu kepadaku. Aku adalah

kepunyaan Engkau sepenuhnya.

 

e.Aku memang berniat untuk Salat. Namun aku nyatakan Niatkuitu dengan

melafazkan didalamhati : Ya Allah, aku salat ……. zohor ….. empat rakaatuntuk

MENG-USUL, ME-NYAKSI-KAN dan ME-NYATA-KAN DIRI HAKIKIku

YAITU ENGKAU karena Engkau juga Ya Allah. Jadi oranglain menyatakan

niatnyadengan lafaz yang disuarakan mulutnya.Aku tidak, karena hatiku yang

berkata aku salat.

 

f. Orang lainsembahyang dengan menyuarakan TAKBIRATUL IHRAM, Allah

Hu Akbar. Aku tidak. Aku hanyamenyuarakan Allah.Didalam HU, aku

MI’RAJkealamasalkuyaituALAM LAHUT dengan menyerahkanwujudku

kedalam WujudAllah semata-mata. Kemudian aku turun dari Mi’rajku menuju

keseluruh Alam tubuhku dengan Kebesaran AKBAR. Aku simpanAllah Hu

Akbar dibaitullah Mukminku didalam Jantungku.

 

g. Orang lainsembahyang BERKIBLATKAN BAITULLAH di Mekah. Aku

tidak,aku cuma menghadapkan wajahku kearah Kaabah.Aku berkiblatkan Diri

Hakikiku yaitu Allah yang meliputi diriku. Aku memandang wajahku sendiri.

 

h.Orang lainsembahyang dengan membaca apa apa yang perlu dibaca dengan

mulutdan lidahnya yaitu dengansuara dzahir. Akutidak. Diri Hakikiku

membaca  didalam hatiku. Aku hanya mendengar dan memperhatikan saja.

 

i.Didalam sembahyang, orang lain memberi salam kepada entah siapa.tapi aku

tidak,Aku tahu kepada siapa aku tujukan salamku. Aku tujukan kepada Diri Batinku

 yaituDZATULHAQ yaitu Aku yaitu Dzat Allah dan aku juga tujukan salam itu

kepadaSIFATUL HAQ yaitu Diri Dzahirku yaitu aku yaitu Sifat Allah.

 

j. Aku mengakhiriMUNAJATku dengan Kalimah Syahadah dan Salawat Nabi. Aku

sadar wudhu’ itu pemisahan sementara antara Diri Dzahirku dengan Diri Batinku

 sementara Salat itu Penyatuan semula kedua-duanya menjadi Esa dengan Dzat,

Sifat, Asma dan Af’al Allah Tuhanku. Aku sudah TIADA, senantiasa TIDAK

ADAkarenaYANG ADA HANYA DIRI HAKIKIKU yaitu ALLAH Tuhanku,

Tuhan diriku dan Tuhan Rabbul Alamin. ITULAH SALATHAKIKI…..… dan

orangakanmengatakan Islam macam apakah aku ini ….……...? karena tidak

sembahyang…….., Ya..! memangaku sudah berhenti sembahyang sebab aku

SALAT. Biarlahorangmengatakan aku asalkan jangan aku mengatakan orang.

 

            3.e.  Hakikat Salat

 

 

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

 

“ Salatdalam pandangan Ilmu Hakikat “

 

Pandangan Hakikat : Salat bukan menyembah namun Salat adalah berdiri menyaksikan diri sendiri yaitu bersaksi diri kita sendiri bahwa Tiada Nyata pada Diri Kita Hanya Allah yaitu Diri Batin ( Muhammad Mustaffa ) dan Diri Dzahir kita itu menanggung Rahasia Allah.

Pengertian Salat dalam Hakikat ter-urai dalam kalimah :ALHAMDU (alif–lam–ha–mim-dal) yang bermaksud SEGALA PUJI MILIK ALLAH.

 

Inilah perkataan awal mula dilafazkan oleh manusia yaitu Nabi Allah Adam A.S :Artinya berdiri menyaksikan diri sendiri, kita bersaksi dengan diri kita sendiri bahwa tiada yang nyata pada diri kita.. Hanya diri batin (Allah) dan diri dzahir kita (Muhammad) yang membawa dan menanggung rahasia Allah S.W.T., Hal ini terkandung dalam surat Al-Fatihah yaitu : Alhamdu (Alif, Lam, Ha, Mim, Dal)

 

Mengambil pengertian akan hakekat manusia pertama yang diciptakan Allah S.W.T.,yaitu Adam as. Takkala Roh (diri batin) Adam as. sampai ketahapdada, Adam as pun bersin dan berkata Alhamdulillah = Segala puji bagi Allah Apa yang dipuji adalah : Dzat (Allah), Sifat (Muhammad), Asma’(Adam) dan Afa’al (Manusia) Jadi salat itu bukan berarti : Menyembah tapi suatu “cara” penyaksian diri sendiri dan sesungguhnya tiada diri kita melainkan diri Allah semata. Kita menyaksikan bahwa diri kitalah yang membawa dan menanggung rahasia Allah S.W.T., Dan tiada sesuatu pada diri kita hanya rahasia Allah semata serta..tiada sesuatu yang kita punya kecuali

Hak Allah semata.

 

Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzab (72), :

 

“Inna ‘aradnal amanata ‘alas samawati wal ardi wal jibal. Fa abaina anyah milnaha wa’asfakna minha wahamalahal insanu”

 

Artinya : “Sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung tapi mereka enggan menerimannya (memikulnya) karena merasa tidak akan sanggup, hanya manusia yang sanggup menerimanya” sesuai firman Allah kita mengucap :

 

“Asyhaduanlla Ilaaha Illallah Wa Asyahadu Anna Muhammadar Rasulullah”.

 

“Aku bersaksi dengan diri kita sendiri bahwa tiada yang nyata pada diri kita sendiri hanya Allah semata-mata dengan tubuh dzahir kita sebagai tempat menanggung rahasia Allah dan akan menjaganya sampai pada masa yang telah ditentukan.”

 

Manusia akan berguna disisi Allah jika dapat menjaga amanah Rahasia Allah dan berusaha mengenal dirinya sendiri. Bila manusia dapat mengenal dirinya maka dengan sendirinya ia dapat mengenal Allah.

Sebagaimana yang tertuang dalam Hadits Qudsi dibacakan :

 

“MAN ARAFA NAFSAHU FAKAD ARAFA RABBAHU”

 

“Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Allah Tuhannya”.

Perkataan pertama dalam sembahyang itu adalah : Allahu Akbar (Allah Maha Besar) Perkataan ini diambil dari asal ketika Roh diri Rahasia Allah itu dimasukkan kedalam tubuh Adam as. Kemudian Adam berusaha berdiri sambil menyaksikan keindahan tubuhnya dan berkata : Allahu Akbar (Allah Maha Besar).

 

Maka dalam pelaksanaan salat harus memenuhi 3 syarat :

 

a. Fiqli (perbuatan),b. Qauli (bacaan),c. Qalbi (Hati atau roh atau qalbu).

Mengapa kita Salat sehari-semalam 17 rakaat…?, Pengertiannya sebagai berikut :

Hawa, Adam, Muhammad, Allah dan Ah.

~  AH itu menandakan salat subuh,”2”= Dzat dan Sifat.

~  ALLAH itu menandakan salat Zohor, “4” = Wujud, Alam, Nur dan Syahadah.

~  MUHAMMAD itu menandakan salat Ashar “4” = Tanah, Air, Api dan Angin.

~  ADAM itu menandakan salat Magrib, “3” = Ahda, Wahda, dan Wahdiah.

~ HAWA itu menandakan salat Isya ,“4” = Mani, Manikam, Madi, dan Di. 

 

Mengapa kita mengucapkan 2 kalimah Syahadat 9X dalam 5 waktu Salat .. ?  Sebab diri batin manusia mempunyai 9 wajah.

 

Dua kalimah syahadat pada :

 

Salat SUBUH 1X itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR USIR (Rahasia di dalam Rahasia) .

Salat DHUHUR 2X memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR dan AHDAH Salat ASHAR 2X memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat WAHDA dan WAHDIAH

Salat MAGHRIB 2X memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat AHAD dan MUHAMMAD.

Salat ISYA 2X memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat MUSTAFA dan MUHAMMAD .

 

Mengapa kita harus berniat dalam Salat… ? . Karena= Niat itu merupakan kepala sembahyang. Hakekat niat letaknya pada martabat “Alif” dan kalbu manusia di dalam sholat itu kita lafazkan di dalam hati : Niat Sholat : “Aku hendak Sholat menyaksikan diriku karena Allah semata-mata.” Dalilnya :

 

“LA SALATAN ILLA BI HUDURIL QALBI” Artinya : Tidak Sah Salat-Nya Kalau Tidak Hadir Hatinya (Qalbunya).

 

“LAYASUL SALAT ILLA BIN MA’RIFATULLAH”

Artinya : Tidak sah Sholat Tanpa Mengenal Allah.

 

“WAKALBUL MU’MININ BAITULLAH” Artinya : Jiwa Orang Mu’min Itu Rumahnya Allah “WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ”

 

Artinya : Aku (Allah) Lebih Dekat Dari Urat Nadi Lehermu.

 

“IN NAMAS SALATU TAMAS KUNU TAWADU’U”  Artinya : Hubungan Antara Manusia Dengan Tuhannya Adalah Cinta. Cintailah Allah Karena Allah Engkau Hidup Dan Kepada Allah Engkau Kembali.

 

“AQIMIS SALATA LI ZIKRI” Artinya :Dirikan Salat Untuk Mengingat Allah

(QS. Taha : 145) . Sedangkan : Al-Fatihah ialah merupakan tubuh sembahyang Tahayat ialah merupakan hati sembahyang Salam ialah merupakan kaki tangan sembahyang. 

“ALIF” Melambangkan NIAT karena niat itu ialah mendzahirkan DIRI BATIN.

Diri inilah IMAM  kita ikuti yaitu ULIL AMRI atau pemerintah = pemimpin. “LAM”

Bila telah nyata Diri Batin, maka kita lafazkan TAKBIR RATUL IHRAM.

Maka berawal dari sini bukanlah manusia yang berkehendak tetapi segala-galanya adalah digerakkan oleh Allah. “HA”

Apabila telah nyata Allah menguasai diri kita, maka kita pun rukuk menandakan kita tunduk patuh atas Kebesaran Allah dan siap menerima segala PerintahNya.

“MIM” diri kita mengakui Dzat Allah Dialah Tuhan Seluruh Alam yang meliputi seluruh diri kita mengwujudkan dan menghidupkan kita.

Kita pun sujud menandakan rasa syukur kita. “DAL” Satelah kita tahu Dzat telah meng-karunia-kan kepada diri kita menjadi KhalifahNya dibumi ini, maka kita pun merendah diri atas Karuniah itu (yang tidak dikaruniahkan Allah kepada makhluk lain selain manusia ) .

 

Kandungan Isi Alhamdu

Kalimah Alhamdu ini diterima ketika Rasulullah isra’ dan mi’raj.

ALIF = Niat, LAM = Berdiri Betul HA = Ruku’ MIM = Sujud DAL = Duduk Antara Dua Sujud . URAIAN TENTANG NIAT Usalli, Fardhu, Rakaat, Lillah Hi Ta’ala.

 

Usul Diri Rangka Nyata Allah Usalli = Kita berniat untuk mengusul asal diri kita Fardhu = Fardhu ialah Diri Yang Di-usul Rakaat = Rangka kita ialah Jasad yang di dzahirkan Lillah Hi Taala = Nyata Allah melalui jasad yang dzahir.

Barulah dapat diusul akan Asal Usul Diri. Maka setelah diusul nyatalah Allah itu Meliputi Diri Dzahir dan Diri Batin. Diri Dzahir tiada mempunyai daya dan upaya melainkan melakukan Af’al Allah semata-mata.

 

Dengan KESADARAN itu maka Nyatalah Kebesaran Allah dan kita-pun TAKBIR untuk meng-ESA-kan Dzat Tuhan itu meliputi sekalian diri.

 

Uraian Takbiratul Ihram

 

Allah = Sifat Napsiah = 1 Hu = Sifat Salbiah = 5 Akbar = Sifat Maani & Maknuyah = 14 Maka nyatalah ke 20 Sifat-sifat Kebesaran Allah didalam ucapan “ALLAH HU AKBAR”. CARA - CARA SHOLAT HAKIKI.

 

Hakikat Al-Fatihah dalam Salat

 

Untuk membersihkan hati dari pada syirik kepada Allah S.W.T., Mengingat kita bahwa tubuh manusia itu mempunyai  lapis7 susunan jasad yaitu :

 

 1. Bulu,   2. Kulit,   3. Daging,   4. Darah,   5. Tulang,  6. Lemak, 7. Lendir. 

 

7 ayat dalam Al-Fatihah merupakan tawaf 7 kali keliling Ka’abah.

 

 

Hakikat Allahu Akbar dalam Salat

 

“Mengambil makna ucapan Nabi Adam as.

 

Ketika berdiri menyaksikan dirinya sendiri dan Nabi Adam A.S, mengucap kalimah Allahu Akbar” Peristiwa ini merupakan tajjali (perpindahan) diri,  Rahasia Allah S.W.T., kepada manusia dirahmati dengan 4 perkara yaitu :

 

1. Wujud 2. Ilmu 3. Nur 4. Syahadah, Perkataan Allah pada Allahu Akbar

mengandung makna atau martabat dzat sedangkan perkataan “Akbar” pada Allahu Akbar mengandungi makna atau martabat sifat. Jadi Dzat dan Sifat itu tidak boleh berpisah. Dzat dan Sifat sama-sama saling puji memuji.

 

Makna Hakikat Zakat dalam Salat

 

Hakekat zakat dalam sholat ialah : Mengandungi makna“Pembersih hati“ daripada syirik kepada Allah S.W.T.

“iiya Kanak Budu Wa iiya Kanasta’in” Hanya kepada Allah lah aku menyembah dan hanya kepada Allah lah aku mohon pertolongan.

 

Makna Hakikat Puasa dalam Salat

 

a. Tidak Boleh Makan Dan Minum

b. Mata Berpuasa

c. Telinga Berpuasa

d. Kulit Berpuasa

e. Hati Berpuasa.

 

Maka jelaslah hakikat dalam salat sesungguhnya itu ada 4 jenis yaitu :

 

1.      Salat Syariat,  2. Salat Tarikat,  3. Salat Hakikat, 4. Salat Makrifat

 

4 jenis Salat diatas berkaitan antara satu dengan lainya. Firman Allah S.W.T., :

 

            “Inna salati kaanat ala mukminina kitabin mauquta”

 

Artinya :Sesungguhnya salat itu adalah WAJIB bagi orang orang yang beriman.

 

Hadist Nabi : “Assholatu imanuddin” Salat itu tiang agama .

 

Makna Hakikat (qiblat) diibaratkan bagaikan berhaji menujuh baitullah

dalam Salat.

 

Dalam melaksanakan salat setiap muslim terlebih dahulu mengetahui di mana arah kiblat, supaya dalam melafadzkan niat menghadap ke arah qiblat tertujuh dengan benar karena ALLAH S.W.T., Semata

 

Bacaan – wirid – tasbih- tasmid dan doa sesudah salat

 

Bacaan-bacaan Sesudah Salat

Perlu diketahui bahwa semua bacaan (dzikir dan do’a) sesudah solat, hukumnya adalah sunat yang dianjurkan (sunnat muakkad), bukan wajib.

Bacaan dzikir dan doa tersebut antara lain:

 

a. Astaghfirullaahal ‘azhiim (3x), Saya mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung

b. Allaahumma antassalaam, wa minkas salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal

IkraamYaAllah, Engkau Maha Sejahtera, dan dari-Mu lah kesejahteraan, Maha

 Berkat Engkau ya Allah, yang memiliki kemegahan dan kemuliaan.

c. Laa ilaahaillallaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu,

 wahuwa ‘alaa kulli syain qadiirTidak ada Tuhan selain Allah saja, Dia Sendiri-

Nya, tiadasekutu bagi-Nya, bagi-Nya lah kerajaan dan pujian dan Dia berkuasa

atas segala-Nya.

d. Allaahumma laamaani’a limaa a’thaita walaa mu’thiya limaa mana ‘ta walaa

yanfa’u dzal jaddi minkal jadduYa Allah, tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi

pemberian-Mu, dan tak adapula sesuatu yang dapat memberi apa-apa yang Engkau

larang, dan tak adamanfaat kekayaan bagi yang mempunyai, kebesaran bagi yang

dimilikinya,kecuali kekayaan dan kebesaran yang datang bersama ridha-Mu.

e. Membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil, yaitu:

Subhaanalaah (33x) “Maha Suci Allah”

Alhamdulillaah (33x) “Maha terpuji Allah”

Allaahu Akbar (33x) “Allah Maha Besar”

La ilaaha illallaahuwahdaahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu

wahuwa ‘alaa kulli syain qadiir (1x)

Tidak adaTuhan selain Allah, sendiri-Nya; tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya

lah kerajaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala-galanya.

f. Surah Al Ikhlas dan surah Al Mu’awwidzatain  (yaitusurah Al Falaq dan An-Nas)

~Surah Al Ikhlash:

Qul huwallaahu ahad (“Katakanlah : Allah itu Esa!”)

Allaahush shamad (“Allah tempat meminta”)

Lam yalid walam yualad (“Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan”)

Wa lam yakun lahu kufuwan ahad (“Dan tidak ada sesuatu pun yang setara

dengan-Nya”)

~Surat Al Falaq                                                                      

~Surah An Nas

 

g. Ayatul Kursiy (Surah Al Baqarah 255) :

 

 

   “Allaahu lailaaha illa huwal hayyul Qayyum, la ta ‘khudzuhu sinatun walaa

naumun lahu maa fissamaawaati wama fil ardhi, man dzal ladziiyasy fa ‘u ‘indahu

illaa biidznih, ya ‘lamu maa baina aydiihim wa maa khalfahum, walaayuhiithuuna

bisyai-in min’ilhimi illaa bimaa syaa-a, wasi’a kursiyuhus samaawaati wal ardhi,

walaa yauuduhu hifzuhumaa wa huwal’aliyuul ‘azhiim”.

 

Artinya :Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus

menerusmengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tertidur.

Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yangdapat

memberi syafaatdi sisiAllah tanpa izin-Nya? Allah mengetahuiapa-

apayang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka

tidakmengetahui apa-apa dari ilmu Allahmelainkan apa yang

dikehendaki-Nya. Kerajaan Allah meliputi langit dan bumi.

 

Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Dzikir-dzikir tersebut di atas boleh biasa digunakan setelah melakukan salat fardhu, atau dipilih beberapa diantaranya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Atau, boleh juga dzikir-dzikir yang lain, asalkan sesuai dengan malan Rasulullah S.A.W.

 

Do’a-do’a Sesudah Salat :

 

a. Allaahumma innii as-alukal jannah, Allahumma ajirnii minannaar (7x)

(Ya Allah, sesungguhnya akumemohon surga kepada-Mu, ya Allah, bebaskan aku

dari siksa neraka.)

b. Allaahumma ashlihlii diiniyallati huwa ‘ishamatu amrii, wa ashlih liidunyayallatii

ja’alta fiihaama’assyii(Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang menjadi

pegangan urusanku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang padanya Engkau jadikan

penghidupanku.)

c. Allaahumma‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafinii fii sam’ii, Allaahumma

‘aafinii fiibasharii, Allaahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal faqri,

Allaahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qabri, laa ilaaha illaa anta.

(Ya Allah, afiatkanlahbadanku. Ya Allah, ‘afiatkanlah pendengaranku. Ya Allah,

‘afiatkanlahpenglihatanku. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindungkepada

Engkau darikekafiran dan kefakiran. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung

kepada Engkau dari siksa kubur, tidak ada Tuhan selain Engkau.)

d. Allaahumma innia’uudzu bika minal bukhli, wa a’uudzu bika minal jubni, wa

a’uudzu bika min an uradda ilaa ardzalil ‘umur, wa a’uudzu bika min fitnatid

dunya, wa a’uudzu bika min ‘adzaa bil qabri.

(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan. Aku

berlindung kepada-Mu dari seburuk-buruk usia. Aku berlindungkepada-Mu dari

bencana dunia. Dan aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur.)

e. Allaahummaghfirli dzunuubii wakhathaayaayaa kullaahaa. Allaahumma ‘isynii,

wajburnii, wahdinii liahsanil a’maali wal akhlaaqi, innahu laa yahdi li ahsanihaa

illa anta, washrif ‘annii sayyi-ahaa innahu laa yashrifu sayyiahaa illa anta.

(Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kesalahanku. Ya Allah, segarkanlah

badanku, cukupilah aku, dan tuntunlah aku sebaik-baik amal dan akhlak,

sesungguhnya tidakada yang dapat menuntun kepada yang terbaik melainkan

hanyaEngkau, dan hindarkanlah aku dari seburuk-buruk amal, karena

sesungguhnyatidak ada yang dapat menghindarkanku dari seburuk-buruknya

melainkan hanya Engkau.)

f.Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika(Ya Allah yang membolak-

balikkanhati, mantapkanlah hatiku dalam memelukagama-Mu.)

 

Doa-doa di atas boleh dibaca semuanya sesudah salat, atau dipilih di antara doayangdisukai dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Boleh juga membacadoa-doa yanglain, tentunya doa terbaik yaitu berasal dari NabiMuhammad  S.A.W.,atau dari  paraNabi Allah S.W.T., yang lain.

 

Bila ada keperluan dengan suatu hajat kepada Allah S.W.T., dan anda tidak mengerti doa aslinya, maka tidak ada salahnya berdoa dengan bahasa yang difahami sendiri.

Sebaiknya setiap berdoa jangan meninggalkan kesempatan buat mendoakan ibu dan bapa kita sebagai orang tua yang patut dihormati:

 

“Rabbighfirlii waliwaalidayyaa warhamnii warhamhumaakamaa rabbayaanii shaghiira”.

 

Artinya : “Oh Tuhan, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, kasihanilah aku dan sayangilah keduanya sebagaimana mereka mengasihiku diwaktu kecil”.

 

Dianjurkan pula memintakan ampun bagi para sahabat, kaum keluarga serta kaum muslimin dan muslimat, khususnya orang-orang yang pernah berbuat baik kepada kita.Lebih lanjut, Nabi Muhammad S.A.W., menganjurkan supaya kita membaca doa sesudah tahiyyat, sebelum salam, yang berbunyi:

 

“Allaahummaghfirlii maa qaddamtu wama akhkharartu wa anta’alamu bihi minnii, antal muqaadimu wa antal muakhkhiru, laa ilaaha illaa anta”.

 

Artinya :Ya Allah, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, dan apa-apa yang aku rahsiakan dan yang aku nyatakan. Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkaulah yangterdahulu dan Engkaulah yang terakhir, tiada Tuhan selain Engkau.)

Dianjurkan sebagaimana diajarkan Rasulullah S.A.W., kepada Abdullah bin Mas’ud, supaya sesudah tahiyyat dan sebelum salam meminta kebajikan dunia dan akhirat.

 

III.3.Melaksanakan Puasa

 

Umat islam wajib melaksanakan puasa atau saum dalam bulan Ramadhan  sekali dalamsetahun. Puasa dilakukan denganmenghentikan makan dan minum dan menjauhkan diridari perbuatan buruk. Selain sebagai usaha untuk memenuhi perintah agama dlam rangkamembersihkan diri, tujuanpuasa dalam bulan Ramadhan selama 29 atau30 hari, adalahuntuk menyadarkan diri terhadap rasa penderitaan lapar, dahaga bagi kehidupan manusiayang miskin dan melatih diri dalam mengekang hawa nafsu duniawi. Setiap orang yang mengerjakan puasa perlu mematuhi beberapa peraturan dan adab yang boleh menyempurnakan ibadah tersebut. Antara yang terpenting adalah:

 

            III.3.1. Menjaga Puasa

 

a. Menjaga lidahdaripada berdusta, mengumpat dan mencampuri urusan orang lain

yang tiada kena-mengena dengannya;

 

b. Memelihara matadan telinga daripada melihat dan mendengar perkara yang

dilarang oleh syarak dan yang sia-sia;

 

c. Mengawal perutdaripada merasai makanan dan minuman yang haram atau yang

mengandungiunsur syubhat terutama ketika berbuka dan berusaha sedaya

mungkin untukmenghasilkan pemakanan yang halal lagi bersih.

Ulama silampernah berpesan: “Apabila kamu berpuasa maka perhatikanlah apa

yang akan dijadikan makanan berbukamu dan di manakah kamu akan berbuka?”

Ia adalah panduanyang terbaik bagi mengawasi diri daripada terjebak dengan

unsur-unsur makanan yang tidak halal;

 

d. Berusaha menjaga kesemua pancaindera dan anggota tubuh badan daripada

mendekati atau melakukan maksiat dan perkara yang sia-sia. Dengan demikian

ibadah puasanyaakan suci dan sempurna. Terdapat ramai yang memenatkan diri

dengan berlapar dan berdahaga, membiarkan diri terdorong kepada perlakuan dosa

dan noda, karena itu puasanya rusak binasa dan keletihannya tidaklah berbalu

sebagaimanamaksud sabda Rasulullah S.A.W.: Ramai yang berpuasa tidak

mendapat ganjaran daripada puasanya melainkan lapar dan dahaga. (Riwayat an-

Nasaei)Meninggalkan maksiatmenjadi kewajipan kepada seluruh orang Islam

sama ada mereka sedang berpuasa atau tidak. Apatah lagi bagi yang berpuasa, ia

lebihdituntut dan diwajibkan.Sabda Rasulullah, Puasa itu adalah ‘perisai’,

sekiranya seseorangdaripada kalangan kamu sedang berpuasa janganlah dia

bercakap kotor, melakukan keburukan dan berbuat bodoh.Jika ada orang lain

yang mengejeknya atau coba memeranginya maka hendaklahdiakatakana  kepada

orang itu: “Saya sedang berpuasa.” (Riwayat Bukhari dan Muslim);

 

e. Jangan membanyakkan tidur pada siang harinya dan makan pada malamnya,

bahkan bersederhanalahpada kedua-duanya bagi menyelami kejerihan lapar dan

dahaga. Dengan demikiansanubarinya terkawal, keinginan nafsunya kurang dan

hatinya ceria. Itulah rahsia dan intipati puasa yang perlu dicapai;

 

f. Jauhkan diri daripada mengikut dorongan nafsu ketika berbuka dengan beraneka

jenis makananyang lazat-lazat. Sebaik-baiknya adat makannya sama sahaja pada

bulanpuasa dan bulan-bulan yang lain. Penggemblengan diri dalam

mengurangkan tuntutanjasmani dan keinginan perasaan memberikan kesan yang

positif terhadap kecerahan hati nurani yang amat dituntut terutama pada bulan

Ramadan.Mereka yang menjadikan keinginan nafsu perutsebagai tunggangan

akalketika berbuka yang menyalahi kebiasaan pada bulan-bulan lain sebenarnya

terpedaya dengan pujukan iblis.

 

Rayuannya bertujuan menghilangkan barakah (berkat)ibadah puasa mereka,

nikmat limpahanketenangan daripada Allah S.W.T., kekhusyukan diri ketika

bermunajat dan berzikir kepada-Nya.

KenyangSepatutnyaorang yang berpuasa mengurangkan kadar pemakanannya

sehingga terserlahkesan puasa itu kepada dirinya. Kekenyangan adalahpuncak

kelalaian,kealpaan, keras hatidan malas untuktaatkepada Allah  S.W.T. Sabdanya

Takungan jelek yang dipenuhkan oleh manusia adalahkantongperutnya,memdai-

lah baginya beberapa suapan yang dapat meneguhkan tulang belakangnya.

Jika dia engganmaka berikanlahsepertiga (bahagian perutnya) untuk makanan,

sepertigakedua untuk minuman dan sepertiga terakhir bagipernafasannya.

(Riwayat Ahmad dan at-Tarmizi)Terdapat ulamayang mengungkapkan kata-kata

berikut: “Sekiranya perutmu kenyang anggota-anggotalain akan lapar (akan

menurut turutan nafsu) tetapi sekiranya perutmu lapar kesemua anggotamu akan

kenyang.”  As-Salaf as – Soleh(mereka yang terdahulu) mengurangkan perkara

kebiasaandan dorongan diri serta memperbanyakkan amal ibadat pada bulan

 Ramadan secarakhusus bahkan itulah adat mereka sepanjang masa;

 

g. Tidak menyibukkan diri dengan urusan duniawi pada bulanRamadan, bahkan

mengambil kesempatanbagi beribadat kepada Allah dan mengingati-Nya sebaik

mungkin.

    Maka, dia tidak melakukan perkara duniawi melainkan sekadar keperluan

hariannya atau kepada mereka yang berada di bawah tanggungannya.

Demikian yangselayaknya dilakukan pada bulan Ramadhan yang mulia ini sama

seperti padahari Jumaat yang sepatutnya dikhususkan bagi amalan akhirat;

 

i. Mempraktikkanamalan sunah seperti segera berbuka apabila masuk waktunya,

berbuka dengan buah tamar (kurma) dan jika ia tiada memadailah dengan segelas

air serta melambatkan makan sahur.

    Nabi S.A.W.,berbukadahulu sebelum Baginda mengerjakan salat Maghrib. Sabda

Baginda:Umatku sentiasa berada dalam keadaan baik (berkat) selama dimana

merekamempercepatkan berbuka (apabila masuk waktunya) dan melambatkan

makan sahur. (Riwayat Bukhari dan Muslim);

 

j. Menyediakanmakanan berbuka kepada orang yang berpuasa sekalipun dengan

beberapa biji tamar atau segelas air. Sabda bagindaRasulullah S.A.W., Siapa yang

menyediakanmakanan berbuka bagi orang yang berpuasa baginya ganjaran

seumpamapahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya

(orang yang berpuasa). (Riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah).

 

k. Memenuhimalamnya dengan amalan sunat seperti salat terawih, witir dan

sebagainya.Adalah dinasihatkan kepada paraimam supaya tidakmempercepat

salat terawihnyaseperti mana amalan kebiasaan di masjid dan surau.Perbuatan

tersebutmenjejaskan mutu ibadat salat tersebut karenameninggalkan ‘wajib-

wajib’ salat seperti meninggalkan tomakninah semasa   rukuk dan sujud,

mencacatkan bacaanal-Fatihah sebagaimana sepatutnya lantaran ingin kecepatan

dalam mengejarwaktu sehingga menyebabkan makmum di belakang tertinggal

rukun-rukun penting dalam salatnya. Amalan terawih seperti ituadalah tidak

sempurna dan berkurangan pahalanya.

 

Oleh itu berwaspadalah terhadap cara demikian dengan kembali mengamalkan ibadah salat seperti waktu-waktu lain, menyempurnakan kiam, bacaan al-Fatihah, rukuk, sujud, khusyuk, hadir hati dan semua peradaban salat dan rukunnya.

 

Bagi makmum pula disyorkan supaya sentiasa bersama imamnya sepanjang salat terawih itu sehinggalah selesai . Sabda Rasulullah S.A.W., Apabila seseorang menunaikan salat bersama imamnya sehinggalah imam itu (selesai dan) beredar, dikirakan untuknya (makmum) pahala kiam semalaman. (Riwayat an-Nasaei)

 

Puasa Mengikut Cara Rasulullah s.a.w, Sahabat yang dihormati Allah, Ramadhan yang kita nanti-nantikan telah tiba untuk sekali lagi kita berada di dalamnya.

 

Ini tanda Allah masih sayang kepada hamba-hambanya dengan memberi sekali lagi peluang untuk kita bertemu dengan bulan yang penuh keberkatan ini. Berpuasa adalah aktiviti terpenting dalam bulan ini. Persoalannya bagaimana tips-tips yang diajar oleh Rasulullah s.a.w untuk puasa kita dinilai tinggi oleh Allah? Mari kita telusuri satu persatu. Rasulullah s.a.w Bersahur Rasulullah menganjurkan kita untuk bersahur sebelum aktiviti menahan diri dari makan dan minum di siang hari dimulakan. Bagaimana Rasulullah s.a.w bersahur? Bersahur bukanlah dilakukan ditengah malam, tetapi ia dilakukan di awal pagi, iaitu waktu yang sangat hampir dengan waktu salat subuh. Bersahur juga memberi kesegaran untuk kita menghabiskan hari siang kita dengan berpuasa. Rasulullah s.a.w bersabda: Dari Anas Bin Malik r.a: Rasulullah s.a.w bersabda: Bersahurlah karena pada sahur itu terdapat keberkatan. (HR: al-Bukhari) Rasulullah s.a.w juga menekankan kepada kita untuk bangun bersahur karena ia adalah salah satu dari cirri-ciri bersahur orang Islam.

 

Sabdanya: Perbezaan antara puasa kami dengan puasa ahlu al-Kitab adalah makan sahur (HR: Muslim) Rasulullah Menyegerakan Berbuka Tidak melewat-lewatkan berbuka puasa adalah salah satu tips berpuasa yang di ajar oleh Rasulullah.

Ini karena, perbuatan itu sangat mendatangkan kebaikan untuk mereka yang menahan diri dari makan dan minum. Rasulullah s.a.w di dalam hadithnya menerangkan kepada kita seperti mana yang dilaporkan oleh al-Bukhari & Muslim: عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ " Manusia itu akan terus berada dalam kebaikan selagi mana dia menyegerakan berbuka puasa.

 

Perbuatan melambat-lambatkan berpuasa puasa adalah salah satu perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah S.A.W, Masyarakat kita sering melihat perkara ini sebagai satu isu remeh. Apa yang terjadi dalam rata-rata masyarakat kita, ketika masuknya waktu salat maghrib (waktu untuk berbuka puasa), mereka masih lagi berada di bazaar-bazar ramadhan untuk membeli juadah mereka.

 

Penjual juga masih lagi melayan pelanggan tanpa terus berbuka walaupun azan maghrib telah berkumandang. Ibu-ibu di rumah pula masih berada di dapur menyiapkan juadah berbuka puasa ketika azan maghrib bergema. Ini karena melewat-lewatkan berbuka puasa adalah amalan Yahudi dan Kristian.

 

Persiapan seharusnya dilakukan dengan segera agar seruan Rasulullah S.A.W., untuk kebaikan umatnya dapat diamalkan sebaiknya.

 

Rasulullah telah bersabda di dalam satu hadithnya yang dilaporkan oleh Abu Daud & Ibn Majah yang sanadnya berstatus hasan seperti yang dinilai oleh al-Albani

 

r.h: قال النبي صلى الله عليه وسلم : " لا يزال الدين ظاهراً ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون

 

" Agama ini akan sentiasa zahir (jelas) selagi mana umatnya menyegerakan berbuka puasa, ini karena orang-orang Yahudi dan Kristian, mereka melewat-lewatkannya. Dikeluarkan dari Musannaf Abdul Razzak dan Fathul Bari (kitab syarah sahih al-Bukhari) ‘Amr Bin Maimun r.h berkata: وقال عمرو بن ميمون الأودي رحمه الله : " كان أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أسرع الناس إفطارا ًوأبطأهم سحوراً " Sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w adalah manusia yang paling cepat (ketika) berbuka puasa dan yang paling lewat (ketika) bersahur.

 

 وعَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ : دَخَلْتُ أَنَا وَمَسْرُوقٌ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْنَا يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ : رَجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلاةَ ، وَالآخَرُ يُؤَخِّرُ الإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ الصَّلاةَ .. قَالَتْ : أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ الإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلاةَ ؟ قَالَ قُلْنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ . قَالَتْ كَذَلِكَ كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

 

Dari Abi ‘Artinya : Aku dan Masruq telah bertemu Ummu al-Mu’minin r.anha dan kami berkata kepadanya: “Dua orang lelaki dari sahabat Muhammad s.a.w, salah seorang darinya mempercepatkan berbuka dan mempercepatkan salat, manakala seorang lagi melewatkan berbuka dan melewatkan bersalat...” Ummu al-Mu’minin berkata: “Siapakah diantara mereka berdua yang mempercepatkan berbuka dan menyegerakan bersalat?” Kami berkata: “Abullah iaitu Ibn Mas’ud.” Kata (Ummu al-Mu’minin): “Perbuatan (menyegerakan berbuka) Itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah S.A.W.”.

 

Berbuka Dengan Beberapa Biji Kurma Antara kaedah yang diajarkan oleh Rasulullah S.A.W., adalah memulakan memakan beberapa biji kurma basah ketika berbuka puasa. Ini untuk memudahkan dirinya bersalat dalam keadaan tidak terlalu kenyang. Pernah diriwayatkan dari Anas Bin Malik, seperti yang dilaporkan oleh Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi katanya: Rasulullah S.A.W., apabila baginda berbuka puasa, baginda berbuka dengan beberapa biji kurma basah sebelum salat. Jika tiada kurma basah, baginda berbuka dgn kurma kering. Jika tiada kurma kering, baginda berbuka dengan beberapa teguk air. Ini adalah sunnah Rasulullah S.A.W.

 

Ramai diantara kita yang sering meninggalkan sunnah ini. Mereka menyegerakan berbuka puasa serta makan dan minum sehingga kekenyangan lalu melewatkan bersalat maghrib. Rasulullah makan dengan beberapa biji kurma, kemudian bersalat. Apabila Rasulullah S.A.W. terasa lapar, Rasulullah S.A.W. makan selepas baginda salat. Tidur Qailulah Nabi S.A.W. mengajarkan kepada kita agar sentiasa cergas ketika berpuasa di siang hari dan bersemangat melakukan amal ibadat di malamnya. Antara kaedah yang diajar oleh Rasulullah S.A.W.adalah dengan tidur sebentar sebelum salat zohor, perbuatan itu dinamakan dengan Qailulah. Ini untuk memudahkan kita bangun di waktu malam mengerjakan amal ibadat. Rasulullah s.a.w bersabda dalam sebuah hadith yang dilaporkan oleh Ibn Majah: عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ” اسْتَعِينُوا بِطَعَامِ السَّحَرِ عَلَى صِيَامِ النَّهَارِ وَبِالْقَيْلُولَةِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ “ Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Nabi S.A.W. telah bersabda; Carilah kekuatan melalui sahur untuk puasa keesokan hari dan melalui Qailulah (tidur sekejap sebelum Zohor) untuk mendirikan ibadah malam. Apa yang terjadi hari ini pada sesetengah masyarakat kita, mereka tidak menerapkan sunnah ini bahkan perbuatan mereka menyalahi sunnah ini. Mereka terutama anak-anak muda menghabiskan waktu siangnya dengan tidur sepanjang hari dan hanya bangun untuk berbuka puasa sahaja. Berpuasa bukanlah bulan tidur karena keletihan. Puasa adalah bulan untuk melakukan seberapa banyak amalan sunnah karena padanya pahala dilipatgandakan.

 

Menjaga Lidah Terlalu rugi jika kita berpuasa, tetapi tidak mendapat sedikitpun pahala dari amalan tersebut. Akibatnya, kita hanya mendapat lapar dan dahaga. Antara faktor berlaku kerugian rohani tersebut adalah karena tidak menjaga lidah. Mengumpat, mencaci, mengeluarkan kata-kata kesat dan lucah, mengadu domba, banyak bercakap, berbohong, menyanyi lagu-lagu yang lagha juga dilakukan ketika berpuasa. Umumnya perbuatan ini adalah perbuatan haram untuk dilakukan walaupun bukan pada bulan Ramadhan. Rasulullah S.A.W. bersabda dalam sepotong hadith yang dilaporkan oleh Ahmad dan al-Tabarani: رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ , وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ Ramai orang puasa, tetapi balasannya hanya lapar dan dahaga (tiada pahala) dan ramai orang berjaga malam (beribadah) balasannya hanyalah mengantuk (tiada pahala) Rasulullah s.a.w bersabda lagi dalam sebuah hadith yang dilaporkan oleh Imam al-Bukhari: وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ Apabila seseorang daripada kamu berada dalam hari puasa, maka janganlah ia memaki dan mengherdik orang lain.

 

Andainya ia dicela oleh seseorang atau dimusuhi, hendaklah ia berkata "Saya berpuasa". Kemudian Rasulullah S.A.W. bersabda lagi sepertimana yang dilaporkan oleh al-Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Nasaie dan Ibn Majah:

 

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

 

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah S.A.W.,bersabda : Siapa yang tidak menghentikan percakapan dusta dan terus melakukannya, Maka Allah s.w.t tidak mempunyai hajat pada orang tersebut untuk dia meninggalkan makan minumnya. Memberi Makan Orang Yang Berpuasa Antara amalan dan tips yang ditinggalkan oleh Rasulullah S.A.W. untuk meningkat neraca kita adalah dengan cara menginfaqkan sedikit harta dengan menyediakan juadah berbuka puasa untuk mereka-mereka yang berpuasa. Terlalu besar ganjarannya seperti yang diberitahu Rasulullah di dalam hadith-hadith baginda yang mulia. Antaranya ialah seperti yang dilaporkan oleh Tirmidzi dan Ibn Majah: Sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka puasa), dia akan mendapat balasan pahala yang sama seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa dikurangkan sedikitpun daripadanya Bagi mereka yang dijemput untuk berbuka puasa bersama, wajib baginya untuk memenuhi undangan tersebut.

 

Ini karena, berpuatan membelakangi undangan tersebut dicela oleh Rasulullah dan ianya seoalah-olah telah menentang Rasulullah S.A.W. Adalah sunnah mereka yang dijemput untuk berbuka puasa mendoakan orang yang menjemput dengan doa-doa yang baik setelah selesai berbuka puasa. Antara doa yang telah diajar oleh Rasulullah S.A.W. adalah seperti berikut: Ya Allah, berilah makan orang yang memberiku makan, dan berilah minum orang yang memberiku minum (riwayat Muslim).

 

Ya Allah, Ampunkanlah mereka, rahmatilah mereka dan berkatilah apa yang telah kau rezekikan kepada mereka (riwayat Muslim).

 

Doa Ketika Berbuka Puasa Nabi S.A.W. memberitahu kepada kita bahwa berdoa ketika berbuka puasa adalah mustajab berdasarkan hadith-hadith sahih yang warid dari baginda S.A.W. Kita disyorkan untuk berdoa apa sahaja yang kita ingini ketika menunggu waktu tersebut. Rasulullah S.A.W. bersabda seperti yang dilaporkan Tirmidzi, Ibn Majah dan Ibn Hibban:

 

 إبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :ثلاثه لاترد دعوتهم : الأمام العادل , والصائم حتى يفطر , ودعوة المظلوم...

 

Tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka: Pemimpin yang adil, Orang yang berpuasa sehingga dia berbuka, dan doa mereka yang dizalimi... Rasulullah S.A.W. juga mengajarkan cara berdoa ketika berbuka puasa. Berikut adalah doa yang baik untuk dibacakan oleh kita sebagai memenuhi tuntutan ittiba’ al-Sunnah. Imam al-Darulqutni menilai sanad hadith ini sebagai hasan. Doa tersebut adalah:

 

 ذهب الظماء وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله تعالى

 

Telah hilang kehausan, telah basah urat-urat dan telah ditetapkan pahala-pahala insyaAllah. Marilah sama-sama kita berpuasa sepertimana puasanya Rasulullah S.A.W., dan para sahabat yang mulia. Semoga puasa kita pada tahun ini mampu mengubah dimensi hidup kita yang bercerminkan sunnah Rasulullah dalam beribadat. Perbanyakkanlah membaca al-Quran dan berzikir, nasihat menasihati serta berdakwah kepada Islam. Jadikan ramadhan kali ini penuh makna untuk diri kita dan masyarakat. Wallahu A’lam.

 

III.4.. MENUNAIKAN ZAKAT

 

            4.1. Pengertian Zakat

 

Zakat menurut bahasa berarti membersihkan dan berkembang. Sedangkan menurut agama Islam zakat berarti kadar harta yang tertentu yang diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan beberapa syarat. Adapun pengertian zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap orang muslim pada hari raya idul fitri yang berupa makanan pokok.

 

Disebut dengan zakat fitrah sebab diwajibkan setelah berbuka puasa. Zakat tersebut difardukan sebagaimana difardukan puasa ramadhan. Menurut Imam Waqi’ dalam kitab Fathul Mu’in beliau mengatakan bahwa zakat fitrah terhadap puasa ramadhan adalah bagaikan sujud sahwi terhadap solat. Artinya dia bisa menambal kekurangan puasa sebagaimana kekurangan solat.

 

Perkataan ini dikuatkan oleh hadis sahih yang mengatakan bahwa zakat fitrah dapat membersihkan orang yang berpuasa dari lelehan (perbuatan sia-sia) dan perkataan keji.

Sebagaimana hadis Nabi S.A.W. :

 

و عن ابن عباس رضيا لله قال : فرّض رسول الله صلى الله عليه وسلّم, زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين, فمن ادا ها  قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة ومن ادا ها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات ( رواه ابو داود وابن مجّه وصححه الحاكم )

 

Artinya :“Dari Ibnu Abbas dia berkata telah diwajibkan oleh Rasulullah zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji serta memberi makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikan sebelum solat hari raya, maka zakat itu diterima dan barang siapa yang membayarnya sesudah solat, maka zakat itu sebagai sodaqah biasa” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majjah).

 

            4.2. Dasar Hukum di Isyaratkannya Zakat Fitrah

 

Dalil quran dan hadis yang menguatkan disyaratkannya zakat fitrah adalah :

 

Artinya : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. Al-Taubah : 103).

 

Adapun hadis Nabi S.A.W sebagai dasar hukum zakat fitrah yaitu:

 

عن ابن عمر قال فرّض رسول الله صلى الله عليه وسلّم : زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعا من تمر او صاعا من شعير على الحرّ او عبد ذكر او أنثى من المسلمين (رواه البخاري و مسلم) و في البخاري : وكان يعطون قبل الفطر بيوم او يومين

 

Artinya :“Dari Ibnu Umar Ra ia berkata, Rasulullah S.A.W., mewajibkan zakat fitrah (terbuka) bulan Ramadan sebanyak 1 sa’ (3,1 liter) kurma atau gandum atas tiap-tiap orang muslim merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan (Muttafaqun ‘alaih)” .Dalam hadits Bukhari disebutkan : Mereka membayar fitrah itu sehari atau dua hari sebelum hari raya” .

 

            4.3. Syarat-syarat Wajib Zakat Fitrah

 

- Islam. orang yang tidak beragama islam tidak wajib menunaikan zakat fitrah.

Apabila dia menunaikan zakat fitrah,tidak sah.

 

- Lahir sebelum terbenam matahari pada hari penghabisan bulanramadhan atau

masih hidup saat terbenamnya matahari pada akhir bulan ramadahan.

 

- Mempunyai kelebihan harta dari keperluan makanan untuk dirinya sendiri dan

untuk orang yang wajib dinafkahi baik manusia maupun hewan pada malam

hariraya dan siang harinya.

 

            4.4. Rukun Zakat Fitrah

 

Rukun zakat fitrah adalah segala sesuatu yang harus ada dalam pelaksanaan

zakat fitrah. Rukun zakat fitrah adalah sebagai berikut :

a. Niat menunaikan zakat fitrah dengan ikhlaskarena Allah S.W.T.

b. Ada orang yang menunaikan zakat fitrah

c. Ada orang yangmenerima zakat fitrah

d. Ada barang atau makanan pokok yang dizakatkan

 

            4.5. Waktu Pembayaran Zakat Fitrah

 

Sebagaimana telah diketahui bahwa waktu wajib membayar zakat ialah sewaktu terbenam matahari pada malam hari raya. Walaupun begitu, tidak ada halangan bila dibayar pada bulan puasa. Adapun waktu dan hukum membayar zakat pada waktu itu adalah:

 

a. Waktu yang diperbolehkan, yaitu awal ramadhan sampai terbenam matahari

penghabisan ramadhan

b. Waktu wajib, yaitu mulai terbenam matahari penghabisan ramadhan

c. Waktu sunah, yaitu dibayar sesudah shalat subuh sebelum pergi shalat hari

raya.

 

            4.6.  Cara Membayar Zakat

           

Cara membayar zakat fitrah yaitu dengan menyerahkan zakat kita kepada ‘amil zakat dan lebih afdhalnya diberikan oleh diri sendiri bersamaan mengucapkan/melafalkan niat kita zakat fitrah dan untuk siapa kita zakat fitrah, sehingga ‘amil mengetahui zakat itu diperuntukan siapa.

Niat zakat fitrah sebagai berikut :

a. Niat zakat Fitrah untuk diri sendiriنَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ نَفْسِىْ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Artinya :”Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas diri saya sendiri,

 Fardhu karena Allah Ta’ala”

b. Niat zakat Fitrah untuk Istri

 

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجَتِيْ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

 

Artinya : Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas istri saya, Fardhu

KarenaAllah Ta’ala

 

c. Niat zakat Fitrah untuk anak laki-laki atau perempuan :

 

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ وَلَدِيْ… / بِنْتِيْ… فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Artinya :“Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas anak laki-laki saya (sebut namanya)/anak perempuan saya (sebut namanya), Fardhu karena Allah Ta’ala”

 

d.Niat zakat Fitrah untuk orang yang ia wakili

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ (…..) فَرْضًا ِللهِ تَعَالَ

Artinya : ”Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas…. (sebut nama orangnya), Fardhu karena Allah Ta’ala

 

e. Niat zakat Fitrah untuk diri sendiri dan untuk semua orang yang ia tanggung nafkahnya :

 

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنِّىْ وَعَنْ جَمِيْعِ مَا يَلْزَمُنِىْ نَفَقَاتُهُمْ شَرْعًا فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

 

Artinya : ”Sengaja saya mengeluarkan zakat atas diri saya dan atas sekalian yang saya dilazimkan (diwajibkan) memberi nafkah pada mereka secara syari’at, fardhu karena Allah Ta’aala

 

Sedangkan do’a menerima zakat sebagai berikut :

 

ءَاجَرَكَ اللهُ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارَكَ فِيْمَا اَبْقَيْتَ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ طَهُوْرًا

 

Artinya : “Semoga Allah melimpahkan ganjaran pahala terhadap harta yang telah Engkau berikan dan semoga Allah memberkahi harta yang masih tersisa padamu, serta semoga Allah menjadikan dirimu suci bersih

 

4.7. Orang –orang Yang Berhak Menerima Zakat.

 

Mustahik adalahorang atau badan yang berhak menerima zakat. Menurut

hukum syara’ mustahik terdiri dari 8 asnaf (golongan), yaitu :

 

a. Fakir yaitu orang yang tidak mempunyai harta dan usaha, atau

mempunyai harta atau usaha yang kurang dari seperdua kecukupannya,

dan tidak ada orang yang berkewajiban memberi belanjanya.

b. Miskin yaitu orang yang mempunyai harta atau usaha sebanyakseperdua

kecukupannya atau lebih, tetapi tidak sampai mencukupi.

 

c.Amil yaitusemua orang yang bekerja mengurus zakat, sedangkan dia

tidak mendapat upah selain dari zakat itu.

 

d. Muallaf, ada tiga macam :

Orang yang baru masuk Islam, sedangkan imannyabelum teguh.

~Orang Islam yang berpengaruh dalam kaumnya, dan kita berpenghara-

pan kalau dia diberi zakat, maka orang lain dari kaumnya akan masuk

 Islam..

     ~ Orang Islam yang berpengaruh terhadap kafir, kalau dia diberi zakat,

kita akan terpelihara dari kejahatan kafir yang dibawah pengaruhnya.

 

e. Hamba yaitu yang dijanjikan oleh tuannya bahwa dia boleh menebus

dirinya. Hamba itu diberi zakat sekedar untuk menebus dirinya.

 

fBerutang, ada tiga macam :

~ Orang yangberhutang karena mendamaikan dua orang yang sedang

berselisih.

~ Orang yang berhutang untuk kepentingan dirinya sendiri pada keperluan

yang mubah atau tidak mubah, tetapi dia sudah taubat.

~ Orang yangberhutang karena menjamin utang orang lain, sedangkan

diadan orang yang dijaminnya itu tidak dapat membayar hutangnya.

 Tetapiyang pertama diberi, sekalipun dia kaya.

 

 g.Sabilillah, ada beberapa pendapat :

Ulama Fikih, yang dimaksud sabbilillahialah bala tentara yaitu bala

tentara yangmembantu perang dengan kehendaknya sendiri dan dia

tidak digaji.

~  Ibnu ‘Asir, yang dimaksud sabilillah adalah semua amal kebaikan yang

dimaksudkan mendekatkandiri kepada Allah S.W.T. Bukan hanya

peperangan.

~ UlamaMuhammad Rasyid Ridha, yang dimaksud sabilillahadalah

beberapa kemaslahatan muslimin umumnya yang menambah kekuatan

agama Islam dan negaranya, bukan untuk perseorangan.

hMusafiryaitu orang yang mengadakan perjalanan jauh dari negeri

zakatataumelalui negeri zakat. Dalam perjalanannya itu diberi

zakatuntuk sekedar ongkos sampai pada tempat yang dimaksudnya.

 

4.8.  Hikmah Zakat

 

aMenolong orang yang lemah dan susah

bMembersihkan diri dari sifat kikir dan akhlak tercela

cSebagai ucapan syukur atas nikmat dari Allah

dMenjaga kejahatan-kejahatan yang tumbuh dari si miskin

eMendekatkan hubungan kasih sayang dan cinta mencintai antara si

miskin dan si kaya.

 

                        Umat islamyang memiliki harta kekayaan seperti ternak, emasdan perak,

            bahan makanan, buah-buahan, harta perdagangan, yang jumlahnya mencapai kadar

            (nisab) 2 ½ % wajib  membayar zakat kepada orang – orang yang telah   ditentukan

(8 golongan) antara lain :

 

a.       Fakir, yaitu orang yang amat sengasara hidupnya.

 

b.      Miskin, yaitu orang yang hidupnya serba kekurangan,

 

c.   Amil, yaitu orang yang bertugas mengumpulkan dan membagikan zakat.

 

d.Mu’allaf, yaitu orangyang baru islam yang imannya masih lemah atau orang

kafir yang diharapkan masuk islam.

e.   Untuk memerdekakan budak, termasuk untukkebebasan kaum muslimin yang

dalam perangkap orang kafir.

 

f.  Orang – orangyang berhutang, yang bukan karena maksiat dan tidak sanggup

membayar hutangnya atau untuk membantu dan memelihara pesatuan islam.

g.  Sabilillah, yaitu untuk keperluan perjuangan islam.

 

h.  Orangdalam perjalananyangmembutuhkanbantuan dalam perjalanannya yang

bukan maksiat, termasuk karena bencana alam.

 

 

Demikianlahtuntunan dalammenunaikan kewajiban ibadah, seorang muslim untuk memenuhi pembayaran zakat dan infaq agar rterhindar dari siksaan api neraka.

 

 

 

 

III.5. MENUNAIKAN IBADAH HAJI, YANG MEMENUHI PANGGILAN 

 

            Setiap  orang  islam  wajib  menunaikan  ibadah  haji ketanah suci Mekah

paling tidak sekali selama  hidupnya  pada  bulan  Dzulhijah,  jika  ia mampu, dalam

keadaan  sehat, Perjalanan aman, mampu membiayai perjalanannya maupun untuk

kehidupan keluarga yang ditinggalkan.

 

Mengerjakan haji merupakan salah satu daripada Rukun Islam yang lima. Setiap orang Islam yang mempunyai kemampuan, diwajibkan mengerjakan haji sekali seumur hidup. Firman Allah Taala :

 

(ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ومن كفر فإن الله غني عن العالمين)

 

Artinya: “Menjadi suatu kewajipan ke atas setiap manusia (orang-orang mukmin) pergi mengerjakan haji ke Baitullah, iaitu bagi mereka yang mempunyai kemampuan. Barangsiapa yang kufur (ingkar), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) daripada pihak lain (alam).”

 

 

III.5.1. Pengertian Haji dan Umrah pada syarat :

 

Haji pada syarat ialah mengunjungi Baitullah Al-Haram dalam bulan-bulan haji karena mengerjakan tawaf, sai’e dan wukuf di Arafah dengan menurut syarat-syaratnya serta menunaikan segala wajib-wajibnya.

Umrah pada syarak ialah menziarahi Baitullah Al-Haram karena mengerjakan tawaf, sai’e dengan menurut syarat-syaratnya serta menunaikan segala wajib-wajibnya.

 

5.2. Syarat-syarat Haji mengikut Mazhab Syafie

 

a. Islam: Orang kafir tidak wajib mengerjakan Haji malah tidak sah ibadat Haji

yangmereka kerjakan.

b. Merdeka: Hamba tidak wajib mengerjakan Haji.

c. Mukallaf.

d. Berkemampuan dengan syarat:

 

- Berkuasa membayar segala perbelanjaan bagi mengerjakan ibadat Haji

sehingga selesai dan kembali ke tanah air.

     - Ada kenderaan pergi dan balik.

     - Disyaratkan mempunyai bekalan yang cukup untuk saraan nafkah orang

Yangdi bawah tanggungannya.

     - Tidak mengalami kesulitan teruk semasa berada di dalam kenderaan.

     - Aman perjalanan.

 

Manakala bagi perempuan pula ditambah: Terdapat kawan perempuan berserta wanita Islam yang boleh dipercayai.

 

5.3. Jenis-jenis Haji Ibadat Haji terbahagi kepada beberapa jenis seperti

Yangdipersetujui oleh ulamak, yaitu:

 

1. Haji Tamattuk

2. Haji Qiran

3. Haji Ifrad

4. Umrah

 

5.4. Rukun-rukun Haji :

 

a. Ihram, berniat bulat mengerjakan ibadah haji. Ibadah ini dimulai sesampai

Miqat(batas-batas yang telah ditetapkan).

b. Wukuf di Arafah, ialah berhenti di padang Arafah sejak tergelincirnya

Mataharitanggal 9 Zulhijah sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijah.

c. TawafIfadhah, ialah mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali, syaratnya :

Suci,menutup aurat, Ka’bah berada disebelah kiri orang yang mengelilingi,

Memulaitawaf dari arah Hajar Aswat.

d. Sa’i, ialah lari-lari kecil atau jalan cepat antara bukit Shafa dan Marwah.

e. Mencukur/menggunting rambut. Sedikitnya memotong tiga helai rambut.

f. Tertib, ialah menjalankan rukun haji secara berurutan.


5.5. Dam Haji

 

Pengertian dam dari segi bahasa ialah darah. Ia merupakan ibadah gantian yang berbentuk binatang ternakan yang disembelih atau digantikan dengan makanan atau puasa.

Sebab-sebab diwajibkan dam:

 

* Melanggar pantang larang dalam Ihram

* Meninggalkan perkara-perkara yang wajib dalam ibadat haji atau umrah

* Mengerjakan Haji Tamattu’ atau Haji Qiran, menurut syarat-syaratnya

* Berlaku Ihsar bagi orang yang berniat ihram

* Melanggar Nazar semasa mengerjakan haji

* Luput Wuquf di Arafah

* Meninggalkan Tawaf Wada’

 

Dam yang dikenakan ialah menyembelih binatang ternakan seperti seekor kibasy, kambing atau satu pertujuh daripada lembu, unta atau kerbau. Jika tidak berkuasa, dikehendaki berpuasa selama 3 hari pada bulan haji & 7 hari apabila ia balik ke tempatnya.

 

 

5.6. Haji Mabrur

 

Haji mabrur bermaksud haji yang diterima. Ibn Kholawaih mentakrifkan alMabrur sebagai alMaqbul iaitu diterima. Dan ada yang mengatakan sesuatu yang tidak bercampur dengan dosa. Kemudian, diabsahkan oleh Imam Nawawi dengan pendapat tersebut (tidak bercampur dosa)

Apabila merujuk kitab hadith yang muktabar seperti Sahih Bukhari, Imam Bukhari meletakkan bab yang khusus bertajuk ”Kelebihan Haji Mabrur”.

Manakala, Imam Muslim meletakkan perbincangan haji yang diterima di dalam bab “Iman kepada Allah Taala seafdal-afdal amalan”.

Cara mencapai haji mabrur

 

5.6. Secaraumumnya, untuk mencapai haji yang diterima disisi Allah hendaklah memenuhi kriteria berikut;

 

a.  Hajinya hendaklah ikhlas semata-mata karena Allah dan tidak riyak

(menunjuk-menunjuk). Imam Nawawi ketika menafsirkan hadith diatas

dengan berkata “mabrur (diterima) adalah baik hajinya. Dikatakan almabrur juga ialah haji yang tidak bercampur dengan dosa. Ada yang mengatakan tidak ria’ pada hajinya”

Niat menunaikan haji hendaklah ikhlas bermula dari keluar rumah dan tidak boleh berniat selain daripada Allah seperti perasaan riya’ iaitu menunjuk-nunjuk atau sebagainya yang membawa kepada kemurkaan ALlah

Di dalam Musnad Ahmad, ada sebuah hadith:

“Sesiapa yang keluar dari rumahnya, pada tangannya ada dua bendera, satu bendera pada malaikat dan satu bendera pada syaitan, jikalau dia keluar dengan niat karena Allah, malaikat akan mengekorinya bersama bendera tadi, maka bendera tadi masih bersamanya sehingga dia kembali ke rumahnya, dan jikalau dia keluar dari rumahnya melakukan kemurkaan kepada Allah, maka syaitan akan mengekorinya bersama benderanya, dan bendera tersebut masih bersamanya sehingga dia kembali ke rumahnya”

b.  Kesemua perbelanjaan haji adalah berpunca daripada yang halal.

Di dalam Sahih Muslim ada hadith menyebut:

“Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima kecuali yang baik-baik dan sesungguhnya Allah menyuruh orang mukmin megikut apa yang diperintahkan oleh para utusan Allah. Kemudian baginda membacakan ayat alQuran

“Wahai sekalian Rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik (halal) dan beramal soleh. Sesungguhnya aku tahu apa yang kamu lakukan [Surah alMukminun : 51]”

Kemudian Rasulullah membacakan lagi :

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari (makanan) yang baik-baik (halal) dari apa yang kami rezekikan” [Surah alBaqarah 172]

Kemudian disebut, seorang lelaki bermusafir menadah tangan ke langit seraya berkata “Ya Tuhanku” sedangnya punca makanan dari yang haram, minuman punca yang haram, pakaiannya punca yang haram. Bagaimana ia boleh diterima??”

Oleh itu, sewajarnya sebagai seorang yang akan menunaikan haji meneliti dan bermuhasabah kembali sumber-sumber pendapatan, perbelanjaannya dan bekalannya disana dari sumber-sumber yang halal.

 

        c.Melakukan fardhuhaji sesuai dengan ditunjukkan oleh sunnah yang

sahih.Bermula dengan niat sehinggalah haji wada’ ditunjukkan oleh Baginda Rasulullah didalam sunnahnya. Sebagai seorang muslim yang sejati, kita wajar meneladani Baginda tanpa menambah-nambah ibadat yang tidak pernah dilakukan Baginda.Ini sesuai dengan sabda Baginda;

“Siapa yang memperbaharui urusan agama (menokok tambah), maka mereka bukan dari kalangan kami (umat Muhammad)”

 

Syeikh Mustafa azZarqa’ ketika ditanya makna haji yang mabrur, beliau menyatakan diantara ciri-ciri hajinya diterima ialah “hendaklah bagi tuan empunya yang menunaikan haji tidak melampau-lampau didalam mengerjakan kewajipan haji, tidak mengabaikan adab-adab haji dan sunnah-sunnahnya, memperbanyakkan taat, ibadat, sedekah, menjadi teladan (kepada orang lain) dengan memiliki budi pekerti yang baik, memberi makan sekadar kemampuannya, berkata-kata dengan lembut, dapat mengawal setiap cabaran yang ditempuh, bersikap berlapang dada dan pemaaf, kembalinya dari haji dengan memandang tinggi kehidupan akhirat dan berniat untuk kekal (seperti keadaan tersebut) dan istiqomah”

 

d.Melakukan ibadathaji sepenuhnya taat tanpa mempertikaikannyaAli

 Radiyallahu’anh ketika ditanya perbuatannyamencium hajarul aswad,

maka beliaumenjawab “Kau hanya sebuah batu yang tidak mempu

memberifaedah dan mudarah, kalau bukanlah karena Rasulullah

mengucupnya, sudah aku aku tidak aku mengucupnya”Ini jelas

menunjukkan kita melakukan ibadat mengikut teladan yang ditunjukkan

oleh Rasulullah tanpa menokok tambah berdasarkan akal semata-mata.

 

e. Setelah menunaikan haji, berusaha pula melakukan badal (ganti) haji

Ayahdan ibu yang tidak berkemampuan menunaikan Haji:

Ini sesuai dengan hadist :

“Ya Rasulullah, sesungguhnya emakku telah bernazar untuk menunaikan haji, tetapi tidak ditunaikan sehingga dia meninggal dunia, adakah aku perlu menunaikan hajinya? Sabda Rasulullah : Ya, tunaikanlah haji untuknya. Adakah kau lihat jika emakmu berhutang engkau akan membayarnya? Jawab wanita tersebut : Ya. Sabda Nabi :Begitu juga (hutang) kepada Allah. Malah kepada Allah lebih layak dilunaskan (hutangnya)”.

Didalam hadist yang lain:

“Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan ke atas hamba-hambanya menunaikan haji. Bapaku seorang yang tua tidak mampu pergi bermusafir (ke Mekah), adakah aku perlu menunaikan haji untuknya? Sabda Rasulullah : Ya” Bumi Mekah

Menurut riwayatnya, ramai para sahabat menyatakan, bahwa bumi Makkah adalah yang pertama sekali muncul dari air selepas penciptaannya dan daripadanya bumi- bumi lain terbentang dan terhampar. Keistimewaan yang terdapat di Makkah ialah Masjidil Haram.

Keistimewaan Masjidil Haram pula ialah karena Kaabah atau Baitullah, yang menjadi kiblat bagi umat Islam.

Baitullah adalah sebuah bangunan yang hampir-hampir empat persegi. Tingginya 15 meter dan luasnya lebih kurang 120 meter persegi. Bangunan ini terletak di tengah-tengah Masjidil Haram. Di salah satu penjuru Kaabah ini terdapat Hajarul Aswad yang menjadi tempat permulaan untuk mengerjakan tawaf.

 

5.7.Makam Ibrahim

 

Makam Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat sebahagian orang-orang kebanyakan. Ia adalah merupakan bangunan kecil yang terletak lebih kurang 20 hasta di sebelah timur Kaabah. Di dalam bangunan kecil ini terdapat sebiji batu yang diturunkan oleh Allah dari Syurga bersama-sama dengan Hajarul Aswad. Di atas batu itu Nabi Ibrahim berdiri di waktu baginda membangunkan Kaabah dan puteranya Nabi Ismail memberikan batu kepadanya.

Batu itu dipelihara Allah, sekarang ini sudah ditutup dengan perak. Sedangkan bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim panjangnya 27 cm, lintangnya 14 cm dan dalamnya 10 cm masih nampak dan jelas dilihat.

Atas perintah Khalifah Al Mahdi Al Abbasi di sekeliling batu makam Ibrahim itu telah diikat dengan perak dan dibuat kandang besi berbentuk sangkar burung.

 

5.8.  Hajarul Aswad

 

Menurut sejarahnya, Hajarul Aswad diturunkan oleh Allah dari langit ke atas Jabal Qubais. Ia merupakan sebiji permata putih, lebih putih dari salji, tetapi lama – kelamaan menjadi hitam sebab disentuh oleh orang – orang musyrik.

Kalau tidak karena sentuhan tersebut nescaya cahayanya menerangi antara timur dan barat. Ini diterangkan dari hadis Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang bermaksud: Dari Ibnu Abbas r.a. katanya, Rasulullah s.a.w bersabda :” Hajarul Aswad diturunkan dari syurga dan berwarna lebih putih dari susu. Dosa-dosa manusia (anak Adam ) menyebabkannya menjadi hitam ” . Riwayat Ahmad dan TurmiziTelaga Zam ZamTelaga Zam-Zam adalah sebagaimana telaga biasa, tetapi mempunyai riwayat yang tersendiri.

 

Sejarahnya adalah berhubung kait dengan sejarah Nabi Ismail dan ibunya Siti Hajar (isteri Nabi Ibrahim ) yang datang ke Makkah. Mengikut asal mula riwayat telaga ini adalah seperti berikut; Nabi Ibrahim a.s. mempunyai dua orang isteri; Siti Sarah dan Siti Hajar (ibu Nabi Ismail).

Pada satu ketika terjadi pertelingkahan antara kedua isteri tersebut sehingga Siti Sarah bersumpah tidak akan tinggal bersama-sama ibu Ismail dalam satu negeri.

 

Kemudian turunlah wahyu kepada Nabi Ibrahim supaya baginda bersama-sama anak dan isterinya (Ismail dan Hajar) pergi ke Makkah. Di waktu itu Makkah belum didiami manusia, hanya merupakan lembah pasir dan bukit-bukit yang tandus dan tidak ada air.

Apabila mereka tiba di Makkah, mereka tinggal di bawah sepohon pokok yang kering. Di tempat inilah bangunan Kaabah yang ada sekarang. Tidak berapa lama, kemudian Nabi Ibrahim meninggalkan mereka dengan dibekalkan sekantong kurma dan sekibah air.Siti Hajar memerhatikan sikap suaminya yang menghairankan itu lalu bertanya ;“Hendak kemanakah engkau Ibrahim ?”

“Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua ditempat yang sunyi dan tandus ini ? “.Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata jua pun.

Siti Hajar bertanya lagi;“Adakah ini memang perintah dari Allah ?”

Barulah Nabi Ibrahim menjawab, “ya”.Mendengar jawapan suaminya yang ringkas itu, Siti Hajar gembira dan hatinya tenteram.

 

Ia percaya hidupnya tentu terjamin walaupun di tempat yang sunyi, tidak ada manusia dan tidak ada segala kemudahan. Sedangkan waktu itu, Nabi Ismail masih menyusu.

Selang beberapa hari, air yang dibekalkan Nabi Ibrahim habis. Siti Hajar berusaha mencari air di sekeliling sampai mendaki Bukit sofa dan Marwah berulang kali sehingga kali ketujuh (kali terakhir ) ketika sampai di Marwah, tiba-tiba terdengar oleh Siti Hajar suara yang mengejutkan, lalu ia menuju ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya, bahwa suara itu ialah suara air memancar dari dalam tanah dengan derasnya. Air itu adalah air zam-zam.

Di sini Siti Hajar bertemu dengan Malaikat Jibril dan Jibril mengatakan kepadanya, ” Jangan khuatir, di sini Baitullah ( rumah Allah ) dan anak ini (Ismail ) serta ayahnya akan mendirikan rumah itu nanti. Allah tidak akan mensia-siakan hambaNya”.

Air zam-zam mempunyai keistimewaan dan keberkatan, ia boleh menyembuhkan penyakit, menghilangkan dahaga serta mengenyangkan perut yang lapar. Keistimewaan dan keberkatan itu di sebut dalam sepotong hadith Nabi yang bermaksud:, ” Dari Ibnu Abbas r.a. katanya, Rasulullah s.a.w bersabda: “sebaik-baik air di muka bumi ialah air zam-zam, ia merupakan makanan yang mengenyangkan dan penawar bagi penyakit “. Riwayat – At Tabrani dan Ibnu Hibban.

 

            5.9.  HAKIKAT HAJI

 

Haji itu wajib bagi setiap Muslim yang berakal sehat yang mampu melaksanakannya dan telah mencapai kedewasaan. Haji itu adalah memakai pakaian haji (ihram) pada tempat yang ditentukan, singgal di A’rafah, mengelilingi Ka’bah, dan berlari antara Shafa dan Marawah. Tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci tanpa berpakaian ihram. Kawasan suci (haram) disebut demikian karena di situ terdapat Makam Ibrahim. Ibrahim as mempunyai dua makam: makam badannya, yakni, Mekkah dan makam ruhaninya, yakni, persahabatan (dengan Tuhan).

Barangsiapa mencari makam badaniahnya, dia harus menafikan semua hawa nafsu dan kesenangan, memakai pakaian ihram, mencegah dari perbuatan yang dihalalkan, mengendalikan sepenuhnya semua indra, hadir di Arafah dan dari sana menuju Muzdalifah dan Masy’ar Al-Haram, mengambil batu-batu dan mengelilingi Ka’bah, mengunjungi Mina dan tinggal di sana tiga hari, melemparkan batu-batu dengan cara yang sudah ditentukan, memotong rambutnya, melaksanakan kurban dan memakai pakaian biasa (sehari-hari).

Tetapi barang siapa mencari makam ruhaniahnya, harus menafikan pergaulan dengan sesamanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesenangan-kesenangan, dan tidak berpikir lain selain tentang Tuhan. Kemudian dia harus singgah di “Arafatnya makrifat dan dari sana pergi ke Muzdalifahnya persahabatan, dan dari sini menyuruh hatinya untuk mengelilingi Ka’bahnya penyucian Ilahi, dan melemparkan batu-batu hawa nafsu dan pikiran-pikiran kotor di Mina keimanan, dan mengorbankan jiwa rendahnya di altar musyahadat dan sampai pada makam persahabatan. Memasuki makam badaniah berarti aman dari musuh-musuh dan pedang-pedang mereka, tetapi memasuki makam ruhaniah berarti aman dari keterpisahan (dari Tuhan) dan akibat-akibatnya.

Muhammad bin Al-Fadhl mengatakan, “Aku heran pada orang-orang yang mencari Ka’bah-Nya di dunia ini. Mengapa meraka tidak berupaya melakukan musyahadat tentang-NYa di dalam hati mereka? Tempat suci kadangkala mereka capai dan kadangkala mereka tinggalkan, tetapi musyahadat bisa mereka nikmati selalu. Jika mereka harus mengunjungi batu (Ka’bah), yang dilihat hanya setahun sekali, sesungguhnya meraka lebih harus mengunjungi Ka’bah hati, di mana Dia bisa dilihat tiga ratus enam puluh kali sehari semalam. Tetapi setiap langkah mistikus adalah simbol perjalanan menuju Mekkah, dan bilamana ia mencapai tempat suci ia menerima jubah kehormatan, bagi setiap langkah.”

Dan Abu Yazid mengatakan, “Pada hajiku yang pertama aku hanya melihat Ka’bah, kedua kalinya, aku melihat Ka’bah dan Tuhannya Ka’bah, dan ketiga kalinya, aku hanya melihat Tuhan saja.” Pendeknya, tempat suci ada di mana musyahadat ada.

Karena itu, yang sebenarnya bernilai bukalah Ka’bah, melainkan kontemplasi (musyahadat) dan pelenyapan (fana’) di dalam istana persabatan, dan melihat Ka’bah merupakan sebab tidak langsung. Tetapi, kita harus tahu bahwa setiap sebab bergantung pada pencipta sebab-sebab, dari tempat tersembunyi mana pun kuasa ilahi tampak, dan dari mana pun keinginan si pencari bisa dipenuhi. Tujuan mistikus dengan melintas belantara dan padang pasir bukanlah tempat suci itu sendiri.

Tujuan mereka adalah mujahadat dalam suatu kerinduan yang membuat mereka tak bisa tenang, dan kelenyapan dalam cinta yang tak pernah berakhir. Seseorang datang kepada Junayd. Junayd bertanya kepadanya dari mana ia datang, Ia menjawab, ” Aku baru saja melakukan ibadah haji.”

“Dari saat engkau permata kali berjalan dari rumahmu, apakah engakau juga telah meninggalkan semua dosa?” tanya Junayd.

“Tidak,” jawab orang itu.

“Berarti,” kata Junayd, “engkau tidak mengadakan perjalanan. Di setiap tahap dimana engkau beristirahat di malam hari, apakah engkau telah melintas sebuah makam di jalan menuju Allah?”

“Tidak”.

“Berarti engkau tidak menempuh perjalanan tahap demi tahap. Ketika engkau mengenakan pakaian ihram di tempat yang ditentukan, apakah engkau membuang sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaskan pakaian-pakaian sehari-harimu?”

“Tidak.”

“Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji. Ketika engkau singgah di Arafah, apakah telah singgah barang sebentar dalam musyahadat kepada Tuhan?”

“Tidak.”

“Berarti engkau tidak singgah di Arafat. Ketika engkau pergi ke Muzdalifah dan mencapai keinginanmu, apakah engkau sudah meniadakan semua hawa nafsu?”

“Tidak.”

“Berarti engkau tidak pergi ke Muzdalifah. Ketika engkau mengelilingi Ka’bah, apakah engkau sudah memandang keindahan non material Tuhan di tempat suci?”

“Tidak”

“Berarti engaku tidak mengelilingi Ka’bah. Ketika engkau lari antar Shafa dan Marwah, apakah engkau telah mencapai peringkat kesucian dan kebajikan?”

“Tidak.”

“Berarti engakau tidak lari. Ketika engkau datang ke Mina, apakah semua keinginanmu sirna?”

“Tidak.”

“Berarti engkau belum mengunjungi Mina. Ketika engkau sampai di tempat penyembelihan dan melakukan kurban, apakah engkau telah mengurbankan segala hawa nafsu?”

“Tidak.”

“Berarti engkau tidak berkurban. Ketika engkau melemparkan batu-batu, apakah engkau telah melemparkan pikiran-pikiran hawa nafsu yang menyertaimu?”

“Tidak.”

“Berarti engkau belum melemparkan batu-batu, dan engkau belum melaksanakan ibadah haji. Kembalilah dan lakukan ibadah haji seperti yang telah kugambarkan supaya engkau bisa sampai pada makam ibrahim.”

 

Selanjutnya, haji ada dua macam :

1. dalam ketidakhadiran (dari Tuhan) dan

2. dalam kehadiran (bersama Tuhan).

 

Sesesorang yang tidak hadir dari Tuhan di Mekkah, maka ia dalam kedudukan yang seolah-olah ia tidak hadir dari Tuhan di rumahnya sendiri, dan seseorang yang hadir bersama Tuhan di rumahnya sendiri, maka ia berada dalam kedudukan yang seolah-olah ia hadir bersama Tuhan di Mekkah.

 

Haji adalah suatu tindakan mujahadat untuk memperoleh musyahadat, dan mujahadat tidak menjadi sebab langsung musyahadat melainkan hanya sarana untuk mencapai musyahadat. Maka dari itu, karena sarana tidak mempunyai pengaruh lebih jauh atas realitas segala hal, tujuan haji yang sebenarnya bukanlah mengunjungi Ka’bah, melainkan untuk memperoleh musyahadat tentang Tuhan. Mawan Suganda

 

Islam merupakan salah satu dari agama samawi, yaitu agama yang berasal langsung dari Allah sang pencipta. Al-qur”an yang menjadi kitab agama islam merupakan wujud nyata jika islam berasal dari sang Maha besar. Melalui perantara manusia yang dimuliakan Allah yaitu nabi Muhammad S.A.W., sebagai Rasulullah, agama islam bisa menjadi agama yang ada di bumi. Dengan berbagai usaha dari Rasul, beliau telah mampu melaksanakan tugasnya yaitu menyampaikan islam ke dunia hingga bertahan hingga saat ini.

 

Al-qur’an adalah pedoman hidup penganut agama islam, di situlah segala aspek kehidupan di alam jagat raya ini telah dituliskan Allah sebagai pegangan hidup manusia hidup di dunia. Maka al-qur’an memuat apa yang menjadi perintah dan larangan dari Allah WT.

 

Demikianlah dari segala aspek aktivitasmuslim dalam melaksanakan kewajiban  berdasarkan 5 Rukun Islam yang merupakan syariat wajib ditunaikan bagi setiap muslim.

 

Sebab setiap amalan wajib yang tidak dilaksanakan merupakan dosa besar, dan Islam ditegakkan atas dasar keimanan,  yang semuanya telah diatur di dalam al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta al-hadist yang juga mengatur kehidupan sehari-hari manusia.

 

Ajaran lslam pada umurnnya dapat dibagi dalam tiga bidang,yaitu ajaran tentang kepercayaan atau iman (Aqidah), ajaran tentang hukum atau tata cara (Syari'ah) dan ajaran tentang budi pekerti (Akhlak). Ketiga bidang itu rnerupakan suatu sistem yang saling bertautan satu sama lain. Namun yang penting adalahsejauh rnana umal lslam itu bersikap dan berperilaku mengamalkannya.

 

 

IV.1.RUKUN IMAN

 

Dasar pokok dalam agama lslam ialah yang biasa disebut'Rukun lman' yang terdiri dari enam masalah (objek), sebagai berikut:

 

1). Percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, yaitu Allah S.W.T.

2). Percaya kepada Malaikat-malaikat dan Makhluk ghaib.

3). Percaya kepada Kitab-kitab yang diwahyukan Allah.

4). Percaya kepada Rasul-rasul Allah.

5). Percaya kepada Hari Akhir (kiamat).

6). Percaya kepada Takdir (Qadar, ketentuan) Allah.

 

Dasar hukum dan kepercayaan itu tercantum di dalam Al-Qur'an dan Hadits, yang antara lain diwahyukan yang artinyasebagai berikut: 'Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah' dan Rasul-rasul-Nya dan kepada Kitab yang Ailah turunkan sebelumya. Barangsiapa kafir (tidak percaya) kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya,'Rasul - rasul-Nya dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah jauh sesatnya' (QS. 4-136).

 

4.1.1. Percaya kepada Allah S.W.T.

 

Umat lslam wajib percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, yaitu Tuhan Yang Maha pencipta dari zaman nabi lbrahim, lsrnail,lshaq, Ya'kub,Musa dan Isa (Yesus) dan para nabi lainnya,sebagaimana dinyatakan ddam Al-qur'an yang artinya sebagai berikut:

 

'Katakanlah, Kami percaya kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada lbrahim, lsmail, lshaq, ya’kub, dandan anak cucunya,dam apa yang disampaikan kepada Musa dan lsadan para Nabi yang lain,serta apa yang disampaikan kepada para Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membedakan seorangpun di antara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (QS. 2-136).

 

Maka seorang muslim atas kepercayaan terhadap ke Esa-an ALLAH S.W.T sungguh merupakan keimanan sebagaiman dalam kalimat tauhid Laa ilaaha illallah yang membedakan kita kepada orang kafir dan orang yang musrik.

 

Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah berkata, “Tidak ada kebaikan bagi seseorang, yang mana orang kafir jahiliyyah lebih berilmu daripada dirinya tentang makna Laa ilaaha illallah“ (Kasyfu Syubuhaaat). Sungguh kaum muslimin telah menghafal dan sering membaca kalimat Laa ilaaha illallah dengan lisan-lisan mereka. Namun demikian tidak sedikit yang belum mengetahui maknanya secara benar, padahal kaum musyrikin jahiliiyyah memahami makna kalimat ini.

Kalimat tauhid adalah kalimat yang sangat agung, kalimat yang juga membedakan antara muslim dan kafir. Seorang muslim harus memahami makna kalimat ini dengan benar. Kesalahan dalam memahami kalimat ini bisa menjadi pintu pembuka terjerumus ke dalam berbagai perbuatan syirik yang membatalkan tauhid. Semoga tulisan ringkas ini bisa memberikan pemahaman bagi kita tentang makna kalimat tauhid yang benar.

 

Makna Laa Ilaaha Illallah yang Benar

Makna Laa ilaaha illallah [ لآإِلَهَ إِلاَّ الله ] yang benar adalah [ لآ معبود حق إِلاَّ اللهُ ] ) ( Laa ma’buuda bi haqqin illallah ), artinya tidak ada sesembahan yang benar dan berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja. Semua sesembahan yang disembah oleh manusia berupa malaikat, jin, matahari, bulan, bintang, kuburan, berhala, dan sesembahan lainnya dalah sesembahan yang batil, tidak bisa memberikan manfaat dan tidak pula bisa menolak bahaya.

 

Pada kalimat [ لآإِلَهَ إِلاَّ الله ] terdapat empat kata yaitu:

Kata Laa ( لآُ) berarti menafikan, yakni meniadakan semua jenis sesembahan.

Kata ilaah ( إِلَهَ) berarti sesuatu yang disembah.

Kata illa (إِلاَّ ) berarti pengecualian.

Kata Allah (الله ) maksudnya bahwa Allah adalah ilaah/sesembahan yang benar.

 

Dengan demikian makna [لآإِلَهَ إِلاَّ الله ] adalah menafikan segala sesembahan selain Allah dan hanya menetapkan Allah saja sebagai sesembahan yang benar.1

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Hajj: 62).

Allah juga berfirman :وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim“. (Yunus : 106)

Dalam kalimat syahadat لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ terdapat dua rukun, yaitu nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan).

Rukun pertama terdapat pada kalimat لآإِلَهَ. Maksudnya adalah membatalkan seluruh sesembahan selain Allah dalam segala jenisnya dan wajib kufur terhadapnya.

Rukun kedua terdapat pada kalimat إِلاَّ اللهُ . Maksudnya menetapkan bahwa hanya Allah saja satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam peribadatan.

Dalilnya adalah firman Allah:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ

“Barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.“ (Al Baqarah: 256)

Pada penggalan ayat (فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ) merupakan rukun yang pertama yaitu لآإِلَهَ , sedangkan pada kalimat (وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ) merupakan rukun yang kedua yaitu إِلاَّ اللهُ.

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“ Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut ” (An Nahl : 36).

Kesalahan Memaknai Kalimat [ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ ]

Masih banyak yang keliru dalam memahami makna kalimat tauhid. Terdapat beberapa makna yang batil dan tertolak dalam memaknai لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ , di antaranya adalah:

(1). Memaknai dengan لآمعبود إِلاَّ اللهُ (tidak ada sesembahan kecuali Allah).

Pemaknaan seperti ini salah, karena konsekuensi dari makna ini berarti setiap sesembahan baik yang disembah dengan cara yang benar maupun cara yang batil adalah Allah. Hal ini juga bertentangan dengan realita yang ada, karena dapat kita saksikan bahwa sesembahan selain Allah sangat banyak ragamnya. Ada manusia yang menyembah jin, malaikat, matahari, bintang, batu, berhala, pohon, dan lain sebagainya. Konsekuensi dari pemaknaan seperti ini berarti segala sesembahan yang ada tersebut adalah Allah?! Ini jelas suatu pemaknaan yang batil.

(2). Memaknai dengan لآخالق إِلاَّ اللهُ (tidak ada pencipta selain Allah).

 

Pemaknaan seperti ini juga salah. Pemaknaan seperti ini hanya merupakan sebagian saja dari makna kalimat لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Namun bukan ini yang dimaksud, karena makna ini hanya menetapkan tauhid rububiyyah saja. Hanya sekedar pengakuan rububiyyah saja tidak cukup, bahkan ini juga merupakan keyakinan musyrikin jahiliyyah. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“ Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? “(Az Zukhruf : 87)

Keyakinan kaum musyrikin tentang rububiyyah Allah tidak memasukkan mereka sebagai muslim dan tetap diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Jadi sekedar memaknai rububiyyah Allah saja tidaklah cukup dan ini merupakan kesalahan.

 

(3). Memaknai dengan لآحاكميةَ إِلاَّ اللهُ (tidak ada yang menetapkan hukum selain Allah).

Pemaknaan seperti ini juga salah, karena hanya merupakan sebagian saja dari makna لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Pengakuan seperti ini saja tidak cukup dan bukan ini maksud لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Seandainya mengesakan Allah dalam hakimiyyah (penetapan hukum) namun masih menyembah selain Allah maka belum dikatakan bertauhid.

3 Dampak Kesalahan Memaknai لآإِلَهَإِلاَّاللهُ  Seseorang harus memahami makna kalimat لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan benar. Kesalahan dalam memahami makna kalimat ini dapat mengantarkan seseorang terjerumus dalam beragam perbuatan syirik.

 

Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan, “ Apa yang mereka katakan tentang makna kalimat Laa ilaaha ilallah dengan makna rububiyyah saja akan menyebabkan terbukanya pintu-pintu kesyirikan di tengah kaum muslimin. Kaum muslimin akan menyangka bahwa bahwa tauhid hanyalah sekadar mentauhidkan Allah dalam perkara rububiyyah saja. Jika seseorang sudah meyakini bahwa pengatur segala sesuatu adalah Allah saja maka sudah dianggap bertauhid. Demikian pula jika ada yang meyakini bahwa Zat yang tidak membutuhkan sesuatu dan segala sesutau membutuhkan kepad Zat tersebut adalah Allah, maka sudah dianggap bertauhid. Keyakinan seperti ini jelas merupakan kebatilan. Kalau hanya sekadar rububiyyah, kaum musyrikin dahulu juga memahami dan meyakini rububiyyah, sebagaimana Allah terangkan dalam Al Qur’an :

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

 

“ Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) ” (Al Ankabut : 61)

 

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui “. (Az Zukhruf : 9).

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” ( Yunus : 31).

 

4Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa kaum musyrikin dahulu tidak mengingkari makna rububiyyah.

 

Kita bisa amati masih banyak praktek kesyirikan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin seperti berdoa, menyembelih, dan memberika sesaji kepada selain Allah. Mereka beranggapan sudah bertauhid kepada Allah dengan cukup meyakini rububiyyah Allah, meskipun mereka menujukan sebagian ibadah mereka kepada selain Allah. Ini terjadi karena mereka tidak memahami makna tauhid dengan benar.

 

Demikianlah penjelasan yang ringkas tentang makna لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ yang benar dan beberapa kesalahan dalam memaknainya. Semoga menambah ilmu dan iman kita.

 

Jadi Tuhan yang wajib diyakini umal lslam adalah juga Tuhannya umat agama lain, yang sudah ada sebelum lslam. Namun yang dimaksud dengan Tuhan didalam lslam adalah sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an yang artinya: 'Katakanlah: Dia Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada Nya segala sesuatu, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia' (QS.112:114) Dengan demikian yang dimaksud dengan Tuhan Yang Maha Tunggal (Esa) atau Maha Pencipta atau Maha Kuasa itu tidak sama dengan makhluk yang diciptakannya.Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

 

4.1.2.Percaya kepada Malaikat atau makhluk ghaib

 

Umat lslam percaya kepada adanya malaikat-malaikat, terutama para malaikat sebagai petugas yang ditentukan Allah,sebagaimana disebutkan ddam Al-Qur'an, atau keterangan dari Nabi.

 

Tuhan mengingatkan bahwa manusia dengan akalnya tidakakan mampu mengetahui hakikat para makhluk ghaib ini. Di antaraberbagai malaikat yang bertugas membantu Tuhan adalah sebagaiberikut:

a.Jibril, yang bertugas menyampaikan wahyu Allah kepadaRasul,

b.Mikail, yang bertugas mengatur rezeki bagi para makhluk,

c.Israfil, yang bertugas menjaga batas alam dan meniup sangkakala,

d.lzrail, yang bertugas mengurus masalah pencabut nyawa,

e.Ridwan, yang bertugas menjaga surga,

f.Malik, yang bertugas menjaga neraka,

g.Raqiebdan Atied,yang bertugas menjaga manusia,

h.Munkar dan Nakir, yang bertugas merneriksa orang yang wafat didalam

kubur.

 

4.1.3.  Percaya kepada kitab-kitab Allah

 

Umat lslarn percaya kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para Nabi, baik kitab Al-Qur'an yang turunkepada Nabi Muhammad S.A.W., maupun kepada para nabi sebelumnyaseperti kitab :

 

a. Taurat, diwahyukan kepada Nabiyullah MUSA a.s.,

b. Zabur, diwahyukan kepada Nabiyullah DAUD a.s.,

c. Injil, diwahyukan kepada Nabi ISA a.s.

d. Al - Quran di wahyukan ALLAH S.W.T., kepada Baginda Rasulullah

Muhammad Shallahu alaihi wassalam sebagai Rasul terakhir. 

e. Dan adapun  :  1.  Syits - 60 shuhuf, (pendapat lain mengatakan 50 shuhuf)

                            2.  Khanukh - 30 shuhuf

                            3.  Ibrahim - 30 shuhuf (10 shuhuf)

 

Dengan demikian bagi umat lslam bukan saja percaya danberpegang padawahyu Allah yang dimuat dalam Al-Qur'an, tetapijuga pada kitab-kitab agama lain yang telah ada sebelum turunnyaAl-Qur'an, sepanjang isinya tidak bertenlangan dengan Al-Qur'an, terutama yang menyangkut aqidah.

 

4.1.4.  Percaya kepada Rasul Allah

 

Umat lslam percaya kepada Rasul-rasul Allah, yaitu di antaramanusia yang ditunjuk Allah sebagai wakil-Nya atau Utusan-Nya kepada setiap umat.Dengan demikian umat lslam bukan saja percaya kepada Nabi Muhammad S.A.W., sebagai Rasul Allah, melainkan juga paraNabi lainnya yang telah datang kepada umat yang lain, yangmengajarkan kebenaran berdasarkan wahyu Ailah S.W.T.

 

            Adapun keutamaan umat Islam atas bukti kecintaan Rasulullah  S.A.W,

            Dianjurkandengan senantiasa bersalawat kepadanya :

ALLAH S.W.T., berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya ALLAH dan malaikatNya berselawat ke atas Nabi. Wahai orang yang beriman, berselawatlah kamu ke atas Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Surah Al-Ahzab: 56)

 

Selawat berasal daripada perkataan Arab, yaitu salat. Salat dari segi bahasa bererti doa, iaitu menyeru atau meminta. Apabila kita berdoa kepada ALLAH, bererti kita menyeru dan meminta kepada ALLAH. Itu juga yang dimaksudkan dengan selawat.

 

Apakah makna ALLAH berselawat ke atas Nabi? Selawat ALLAH ke atas Nabi bermakna pujian ALLAH serta ALLAH menyebut-nyebut nama Rasulullah di sisi malaikat di langit tujuh. Disebut-sebut nama Rasulullah S.A.W., di sisi malaikat yang paling hampir kedudukannya dengan Arasy ALLAH.

 

Apabila bersalawat, sebenarnya kita berdoa kepada ALLAH agar ALLAH memperbanyakkan puji-pujian ke atas Nabi Muhammad S.A.W., dan menyebut nama Baginda di sisi malaikat-Nya. Ia sebagaimana disebut disebut dalam ayat al-Quran di atas.Lafaz yang diucapkan “Allahumma Salli ‘ala Muhammad (Ya ALLAH, selawatlah ke atas Muhammad)” atau “Sallallahu ‘ala Muhammad (ALLAH berselawat ke atas Muhammad)”, adalah ayat permohonan supaya ALLAH berselawat ke atas Nabi Muhammad S.A.W.

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mentafsirkan ayat, “ALLAH dan golongan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi” berkata, dalam ayat ini ALLAH mengkhabarkan kedudukan Nabi Muhammad S.A.W., yang tinggi, ALLAH memuji-mujinya serta disebut-sebut namanya di sisi malaikat muqarrabin, lalu malaikat pun berselawat kepadanya.Seterusnya ALLAH memerintahkan penduduk bumi agar mengucapkan selawat dan salam kepada Nabi dan menghimpunkannya bersama selawat penduduk langit agar selawat itu lengkap dan sempurna, dan dimuliakan Nabi Muhammad dengan semulia-mulianya.Imam Al-Qurthubi rahimahullah ketika mentafsirkan ayat ini berkata ia secara langsung menunjukkan ALLAH memuliakan Rasulullah semasa hidupnya (ayat ini turun ketika Rasulullah hidup) dan juga setelah kewafatannya.

 

4.1.5. Ucapan salam ke atas Nabi

 

ALLAH hanya memerintahkan hamba-Nya berselawat ke atas Nabi Muhammad S.A.W., tidak ada perintah (kewajipan) selawat ke atas Nabi lain. Di situ jelas Nabi Muhammad S.A.W., telah dikhaskan dengan satu doa, dan itu menunjukkan kedudukan Baginda S.A.W., yang lebih tinggi berbanding golongan Nabi dan Rasul yang lain.

Antara faedah diambil daripada ayat ini adalah kemuliaan dan kedudukan Rasulullah S.A.W., di sisi ALLAH, dan perintah wajib mengamalkan satu ibadah khusus iaitu berselawat ke atas Nabi di samping ibadah lain yang disyariatkan.Golongan ulama menjelaskan interaksi antara kita dengan Nabi Muhammad setelah kewafatan Baginda adalah sekadar kita berdoa kepada ALLAH untuk berselawat ke atas Baginda. Maka tidak dibolehkan sama sekali kita menyeru, meminta, atau berdoa kepada Nabi S.A.W.

Walaupun ayat ini menjelaskan kedudukan Baginda yang tinggi, tetapi tidaklah sampai kita melebihkan kedudukan Baginda daripada kedudukan yang sepatutnya, dan tidaklah sehingga kita menujukan doa dan seruan kepada Baginda. Dalam urusan meminta hajat, kita hanya meminta daripada ALLAH S.W.T., semata-mata.

Ayat ini secara langsung menjelaskan penyimpangan golongan yang berinteraksi dengan Rasulullah, antaranya dengan menyeru Baginda, dan menyedekahkan al-Fatihah kepada Baginda.

Ini adalah amalan baru yang diada-adakan. Kita tidak diperintahkan untuk melakukannya, bahkan golongan sahabat yang paling tinggi cintanya kepada Nabi pun tidak pernah melakukannya.

Dalam ayat yang sama, ALLAH S.W.T., turut memerintahkan supaya mengucapkan salam kepada Nabi S.A.W., Ini menunjukkan ada dua ibadah wajib dalam interaksi dengan Nabi iaitu berselawat dan mengucapkan salam.

 

Apa yang dimaksudkan dengan salam? Salam bererti keselamatan. Bagaimanakah ALLAH S.W.T., memberi keselamatan ke atas Nabi? Semasa hidup Rasulullah, telah dipelihara dan diberi keselamatan.

ALLAH S.W.T., berfirman: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepada mu daripada Tuhan mu. Jika tidak kamu lakukan maka kamu tidak menyampaikan risalahNya. ALLAH S.W.T., akan memelihara (menjaga) kamu daripada manusia.” (Surah al-Maidah: 67)Ayat ini menunjukkan jaminan ALLAH S.W.T.,kepada Rasulullah. ALLAH S.W.T., memerintahkan Baginda supaya menyampaikan apa yang telah diturunkan. Ini adalah amanah dan tanggungjawab Baginda.

 

Lalu ALLAH S.W.T., menjamin akan menjaga keselamatan Rasulullah daripada manusia. Ini adalah keselamatan ketika Baginda masih hidup.

 

Adapun selepas kewafatan Baginda, keselamatan dan jagaan ALLAH S.W.T., berterusan ke atas Baginda S.A.W., Pernah berlaku dalam sejarah di mana ada usaha dilakukan untuk mencuri jasad Baginda di kuburnya, namun usaha itu dapat digagalkan.

Sebab itu pada hari ini kita lihat di sekeliling kubur Baginda dipagari dengan dinding logam yang tebal, supaya tidak berulang kejadian seperti ini.

 

4.1.6. Lafaz selawat dan salam

 

Lafaz selawat ke atas Nabi disebutkan dalam hadis di mana seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan duduk di depan Baginda dan berkata, “Wahai Rasulullah, adapun tentang memberi salam ke atas mu telah kami ketahui, lalu bagaimana cara berselawat ke atas mu?

Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah: Allaahumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala Aali Muhammad, kama sallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala Aali Ibrahim, innaka Hamidun Majid. Wabaarik ‘ala Muhammad wa ‘ala Aali Muhammad kama baarakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala Aali Ibrahim innaka Hamiidun Majiid.” (Riwayat Bukhari & Muslim)Dalam riwayat lain, lafaz “Wabaarik” diganti dengan “Allahumma baarik”. Ini adalah lafaz selawat yang paling sempurna dan tidak ada yang lebih sempurna dari itu. Kalau kita inginkan pahala selawat yang paling sempurna, inilah yang perlu kita baca, iaitu seperti yang kita baca dalam tahiyat ketika salat.

 

Adapun lafaz salam, juga seperti yang kita baca dalam tasyahhud, “At-Tahiyatu lillahi wassalawatu watthayyibaat. Assalaamu ‘alaika ayyuha An-Nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh.” (Riwayat Bukhari & Muslim). Ini adalah lafaz yang diajar Rasulullah.

 

Bagaimanapun, Ibnu ‘Umar RA yang merupakan sahabat yang faqih, sesudah kewafatan Rasulullah, membaca, “Assalaamu‘alan-Nabiyyi warahmatullaahi wabarakaatuh”.

 

Syaikh Al-Albani RH dalam kitab Sifat Salat Nabi menjelaskan bahwa inilah yang sepatutnya dibaca, karena lafaz Assalaamu‘alaika (Salam ke atasmu) diucap jika Nabi bersama kita (masih hidup). Berbeza dengan Assalamu‘alan-Nabiy (Salam ke atas Nabi) diucap karena kita tidak lagi berinteraksi secara langsung dengan Nabi setelah Baginda wafat.

 

Syaikh Albani menyatakan mustahil Ibnu Umar RA mencipta sesuatu yang baharu daripada dirinya, karena Ibnu Umar terkenal sebagai orang yang sangat mengikuti dan berpegang teguh sunnah Nabi S.A.W.,Perbuatan Ibnu Umar membaca dengan lafaz ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena perintah daripada Nabi S.A.W., atau apa yang dia pelajari daripada Baginda.Selawat dan salam ini kita ucapkan kedua-duanya di dalam salat.

 

Di samping itu kita disunnahkan untuk berselawat pada tempat yang disyariatkan seperti dalam salat jenazah, selepas azan, dalam doa, dalam majlis, apabila disebut nama Rasulullah S.A.W, juga pada Jumaat di mana kita disuruh memperbanyakkan selawat.Dengan itu terjelas kepada kita, tidak ada istilah kirim salam kepada Nabi, dan ini termasuk bidaah yang mungkar, karena tidak ada beza selawat dan salam dari tempat yang dekat atau jauh. Kita tidak disuruh pergi ke kubur Baginda untuk melakukan ibadah ini.Sabda Nabi Muhammad S.A.W. : “Sesungguhnya antara hari kamu yang paling utama adalah hari Jumaat, maka banyakkanlah selawat ke atas ku pada hari itu.

 

Sesungguhnya selawat kamu dihadapkan kepada ku.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana selawat kami dihadapkan ke atasmu sedang engkau telah hancur menjadi tanah?” Baginda menjawab, “Sesungguhnya ALLAH S.W.T.,mengharamkan atas bumi jasad-jasad golongan Nabi.” (Sahih, Abu Daud)

Sabda Baginda lagi, “Janganlah kamu jadikan kuburku tempat perayaan (pusat kunjungan). Selawatlah kepadaku, sesungguhnya selawat mu sampai kepada ku di mana pun kamu berada.” (Sahih, Abu Daud)

3.2.7.Percaya kepada qadar (Taqdir)

 

Umat lslam percaya kepada Qadar atau takdir, yaitu ukuran dan ketetapan Allah S.W.T., Kepercayaan kepada takdir tersebut tidak berarti menghilangkan kewajiban berikhtiar dan berusaha sedemikian rupa danmenyerahkan hasil usahanya kepada takdir lllahi.

 

4.1.7. Percaya kepada hari akhir

 

Umat lslam percaya akan datangnya hari akhir atau hari kiamat. Jadi yang dimaksud hari kiamat adalah hari setelah berakhirnyasemua kehidupan makhluk, yang mana pada hari itu Tuhan mernbangkitkan rnanusia hidup kembali dan dikumpulkan dipadang yang sangat luas yang disebut padang mahsyar.

 

Padasaat itu Tuhan akan meraksanakan peradilannya lerhadap sernuaperbuatan manusia selama hidupnya di atas dunia. Atas perbuatan manusia itu Tuhan akan menelapkan keputusannya yang adir, bagimereka yang banyak berbuat baik akan masuk surga (Darun Naim) yaitu tempat yang penuh kebahagiaan, dan bagi merekayang banyak berbuat buruk akan masuk neraka (Darun Nar) yaitutempat yang penuh duka nestapa.

 

Orang-orang yg beriman harus senantiasa beramal sebagai persiapan akhirat dan jangan terpengaruh orang-orang kafir yg selalu memikirkan dunia.

 

Manusia terbagi menjadi tiga bagian besar;

Beriman/percaya dan yakin akan adanya hidup sesudah mati.

Orang kafir yg tidak percaya akan hidup sesudah mati.

Orang munafiq yang mengaku percaya tapi tidak percaya.

 

Dalil golongan pertama “Dan mereka yg beriman kepada kitab yg telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yg telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.” .

 

Dalil golongan kedua “Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian apabila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-tulang kamu akan dikeluarkan dari kuburmu? Jauh! Jauh sekali apa yg diancamkan kepada kamu.”

 

Dalil golongan ketiga “Dan di antara manusia ada yg mengatakan ‘Kami beriman kepada Allah S.W.T., dan hari Kemudian’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yg beriman.” .

Sedangkan Allah S.W.T., menyangkal golongan kedua dan ketiga dengan firmanNya “Bagaimana kamu kufur kepada Allah S.W.T., padahal kamu asalnya mati lalu Allah menghidupkan kamu kemudian kamu dimatikan dan dihidupkanNya kembali kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan?” . Ayat ini menunjukkan bahwa manusia mengalami dua kematian dan dua kehidupan; janin kehidupan dunia kubur dan hidup sesudah mati. Dan ini baru diakui orang-orang kafir nanti apabila mereka sudah dihidupkan di akhirat tapi pengakuan tersebut tidak berguna. Allah S.W.T., berfirman “Mereka menjawab ‘Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan utk keluar ?’” . Dan akan dijawab kepada mereka “Yang demikian itu adil karena kamu kafir apabila Allah S.W.T., saja disembah dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan adil pada Allah S.W.T., Mahabesar.” .

Bagi orang-orang yg beriman sudah barang tentu yakin akan adanya hari akhirat tapi sayang disayang kebanyakan orang yg mengaku beriman kurang memikirkan tentang hidup sesudah mati. Yang paling banyak difikirkan adl masalah duniawi. Bukti-bukti menyatakan jika sekarang ini ada perang kebanyakan mereka sekedar ingin merdeka dari penjajahan atau menuntut hak tidak ada tendensi akhiratnya. Terbukti masih banyak terjadi peperangan antara umat Islam bahkan keduanya mengumandangkan kalimat takbir dalam perang mereka namun sekedar utk memperebutkan tanah air.

 

Percaturan politik juga biasanya hanya merebutkan jabatan kursi dan kepentingan pribadi sehingga umat Islam sulit menyatukan suara utk kepentingan akhirat. Dalam seni dan budaya akhirat sudah dilupakan sama sekali bahkan ada yg beralasan melestarikan budaya namun dgn mengambil resiko kemusyrikan.

 

Dalam dunia pendidikan juga begitu ilmu duniawi dikejar setinggi langit dipikirkan secara nasional namun urusan ilmu agama dan pengamalannya diserahkan kepada masing-masing pribadi.

 

Sebagai pedoman pada umumnya mereka menggunakan hadits dha’if “Kerjakanlah urusan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya dan kerjakan urusan akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” .

 

Kedha’ifan hadits tersebut -sehingga tidak bisa dijadikan dalil- semakin kita yakini dgn mengkaji ayat-ayat berikut “Tapi kamu memilih kehidupan dunia padahal akhirat itu lbh baik dan lebih kekal.” .

 

“Dijadikan indah pada manusia kecintaan pada apa-apa yg diingini yaitu wanita-wanita anak-anak harta yg banyak dari jenis emas perak kuda pilihan binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yg baik .” .“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yg melalaikan perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yg tanam-tanamannya mengagumkan petani kemudian tanam-tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yg keras dan ampunan dari Allah S.W.T., serta keridhaanNya. Dan kehidup-an ini tidak lain hanyalah kesenangan yg menipu.” .

 

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yg sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui.” .

Allah telah mengingatkan orang-orang yg beriman supaya selalu memperhatikan dan mengingat akhirat.

Allah berfirman “Hai orang-orang yg beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah tiap orang memperhatikan apa yg dia kerjakan utk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yg lupa kepada Allah lalu Allah menjadi-kan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yg fasik.” .Ali bin Abi Thalib menjelaskan ‘Dunia ini berjalan mundur ditinggalkan sedang akhirat berjalan maju . Masing-masing memiliki anak. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguh-nya hari ini adl tempat beramal belum ada hisab sedangkan esok adl tempat hisab tidak ada lagi amal.‘

Maka dari itu orang-orang yg beriman harus senantiasa beramal sebagai persiapan akhirat dan jangan terpengaruh orang-orang kafir yg selalu memikirkan dunia. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu ia berkata “Rasulullah S.A.W., memegang pundakku seraya bersabda “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pelintas jalan.” Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu berkata “Apabila engkau ada di waktu sore janganlah menunggu waktu pagi dan apabila engkau di waktu pagi janganlah menunggu waktu sore gunakanlah kesehatanmu utk sakitmu dan hidupmu utk matimu.” .Rasulullah S.A.W., bersabda “Orang yg cerdik adl orang yg selalu meneliti dirinya dan beramal utk persiapan sesudah mati sedangkan orang yg lemah akal ialah orang yg mengikuti hawa nafsunya serta mengangan-angankan atas Allah dgn bermacam-macam angan-angan.” .

Maksudnya -menurut penjelasan ahli ilmu- orang tersebut tidak ta’at kepada Allah bahkan berbuat maksiat kepadaNya namun selalu mengangankan ampunan Allah dan dia tidak mau bertobat.Marilah kita jauhi kebiasaan orang kafir yg hanya memikirkan dunia saja atau bahkan hanya isi perutnya saja. Mereka punya slogan ‘Mengapa memikirkan hari esok yg sekarang saja belum beres. Urusan akhirat itu urusan nanti.‘

 Mereka akan menyesal dgn perkataan mereka tersebut pada hari Kiamat.

Firman Allah “Orang-orang kafir itu seringkali menginginkan kiranya mereka dahulu menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka ini makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan maka kelak mereka akan mengetahui .” .

 

Demikianlah pemahaman tuntunan Rukun Islam, Rukun Iman, dalam menjalankan syariat Agama Islam.

 

Semoga dapat kita pahami sebagai bentuk pengabdian diri kepada sang Pencipta DiaLah ALLAH S.W.T., yang menciptakan segalanNya dan tiada sia-sia atas segala yang diciptakan.

 

Semoga Allah Subhana wa Ta’ala senantiasa kita petunjuk menuju kemaslahatan hidup didunia dan kelak di akhir hayat kita berakhir dalam Chusnul Chatimah, Amin ya Rabbul Alamin.

 

WABILLAHI TAUFIK WAL HIDAYAH, WASSALAMU’ALAIKUM

WARHMATULLAHI WA BARKATUH

 

                                                MANGKASSARAQ

Posted on, 26 Dzulhijah 1440 H,

 

byzhaponk

 

Tumbuh melata sipokok tebu, Ditepi pasar jualan daging,

Banyak harta tidak berilmu, Bagai rumah tidak berdinding.

           

 

Tidak ada komentar:

MENUJU INSAN KAMIL

  BA GIAN KE-LIMA MENUJU INSAN KAMIL     Insan Kamil adalah pada waktu tanazul berada paling akhir, sedang pada waktu taraki nantiny...