MENGENAL
IMAN
Sabda Nabi saw., “Islam itu didirikan atas lima perkara.”[1] Iman itu
adalah ucapan dan perbuatan. Ia dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Allah
Ta’ala berfirman yang artinya, “Supaya keimanan mereka bertambah di samping
keimanan mereka (yang telah ada)” (al-Fath: 4), “Kami tambahkan kepada mereka
petunjuk.”(al-Kahfi: 13), “Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang
telah mendapat petunjuk.” (Maryam: 76), “Orang-orang yang mendapat petunjuk,
Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan)
ketakwaannya” (Muhammad: 17), “Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya”
(al-Muddatstsir: 31), “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan
(turunnya) surah ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah
imannya.” (at-Taubah: 124), “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan
untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu
menambah keimanan mereka.” (Ali Imran: 173), dan “Yang demikian itu tidaklah
menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (kepada Allah).” (al-Ahzab:
22) Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah adalah sebagian dari
keimanan.
1.[2] Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Adi bin Adi
sebagai berikut, “Sesungguhnya keimanan itu mempunyai beberapa kefardhuan
(kewajiban), syariat, had (yakni batas/hukum), dan sunnah. Barangsiapa
mengikuti semuanya itu maka keimanannya telah sempurna. Dan barangsiapa tidak
mengikutinya secara sempurna, maka keimanannya tidak sempurna. Jika saya masih
hidup, maka hal-hal itu akan kuberikan kepadamu semua, sehingga kamu dapat
mengamalkan secara sepenuhnya. Tetapi, jika saya mati, maka tidak terlampau
berkeinginan untuk menjadi sahabatmu.” Nabi Ibrahim a.s. pernah berkata dengan
mengutip firman Allah, “Walakin liyathma-inna qalbii” ‘Agar hatiku tetap mantap
[dengan imanku]’. (al-Baqarah: 260)
2.[3] Mu’adz pernah berkata kepada kawan-kawannya, “Duduklah di
sini bersama kami sesaat untuk menambah keimanan kita.”
3.[4] Ibnu Mas’ud berkata, “Yakin adalah keimanan yang
menyeluruh.”
4.[5] Ibnu Umar berkata, “Seorang hamba tidak akan mencapai
hakikat takwa yang sebenarnya kecuali ia dapat meninggalkan apa saja yang
dirasa tidak enak dalam hati.”
5.[6] Mujahid berkata, “Syara’a lakum” (Dia telah mensyariatkan
bagi kamu) (asy-Syuura: 13), berarti, “Kami telah mewasiatkan kepadamu wahai
Muhammad, juga kepadanya[7] untuk memeluk satu macam agama.”
6.[8] Ibnu Abbas berkata dalam menafsiri lafaz “Syir’atan wa
minhaajan”, yaitu jalan yang lempang (lurus) dan sunnah.
7.[9] “Doamu adalah keimananmu sebagaimana firman Allah Ta’ala
yang artinya, “Katakanlah, Tuhanku tidak mengindahkan (memperdulikan) kamu,
melainkan kalau ada imanmu.” (al-Furqan: 77). Arti doa menurut bahasa adalah
iman.
5. Ibnu Umar berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Islam dibangun
di atas lima dasar: 1) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi
kecuali Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah; 2) menegakkan
shalat; 3) membayar zakat; 4) haji; dan 5) puasa pada bulan Ramadhan.'”
Bab Ke-2: Perkara-Perkara Iman dan firman Allah, “Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Tetapi,
sesungguhnya kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari
kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir
(yang memerlukan pertolongan), dan orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan)
hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati
janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan,
penderitaan, dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya);
dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. “(al-Baqarah: 177) Dan firman
Allah, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (al-Mu’miniin: 1)
6. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Iman
itu ada enam puluh lebih cabangnya, dan malu adalah salah satu cabang
iman.”[10]
Bab Ke-3: Orang Islam Itu Ialah Seseorang yang Orang-Orang Islam
Lain Selamat dari Ucapan lisannya dan Perbuatan Tangannya
7. Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda,
“Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah
dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang
meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”
Bab Ke-4: Islam Manakah yang Lebih Utama?
8. Abu Musa r.a. berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai
Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang
orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya. “‘
Bab Ke-5: Memberikan Makanan Itu Termasuk Ajaran Islam
9. Abdullah bin Amr r.a. mengatakan bahwa seorang laki-laki
bertanya kepada Rasulullah saw., “Islam manakah yang lebih baik?” Beliau
bersabda, “Kamu memberikan makanan dan mengucapkan salam atas orang yang kamu
kenal dan tidak kamu kenal.”
Bab Ke-6: Termasuk Iman Ialah Apabila Seseorang Itu Mencintai
Saudaranya (Sesama Muslim) Sebagaimana Dia Mencintai Dirinya Sendiri
10. Anas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak
beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia
mencintai dirinya sendiri.”
Bab Ke-7: Mencintai Rasulullah saw. Termasuk Keimanan
11. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Demi
Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya (kekuasaan-Nya), salah seorang di
antara kamu tidak beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang
tua dan anaknya.”
12. Anas r.a. berkata, “Nabi saw. bersabda, ‘Salah seorang di
antaramu tidak beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang
tuanya, anaknya, dan semua manusia.'”
Bab Ke-8: Manisnya Iman
13. Dari Anas r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Tiga hal yang
apabila terdapat pada diri seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah
dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai
seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran
(1/11) sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka.”
Bab Ke-9: Tanda Keimanan Ialah Mencintai Kaum Anshar
14. Dari Anas r.a. bahwa Nabi saw bersabda, “Tanda iman adalah
mencintai orang-orang Anshar dan tanda munafik adalah membenci orang-orang
Anshar”
Bab Ke-10:
15. Dari Ubadah bin Shamit r.a – Ia adalah orang yang
menyaksikan yakni ikut bertempur dalam Perang Badar (bersama Rasulullah saw.
4/251). Ia adalah salah seorang yang menjadi kepala rombongan pada malam baiat
Aqabah – (dan dari jalan lain: Sesungguhnya aku adalah salah satu kepala
rombongan yang dibaiat oleh Rasulullah saw.) bahwa Rasulullah saw. bersabda dan
di sekeliling beliau ada beberapa orang sahabatnya (Dalam riwayat lain : ketika
itu kami berada di sisi Nabi saw dalam suatu majelis 8/15) [dalam suatu
rombongan, lalu beliau bersabda 8/18, “Kemarilah kalian”], “Berbaiatlah kamu
kepadaku (dalam riwayat lain: Kubaiat kamu sekalian) untuk tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, dan tidak membunuh
anak-anakmu (dan kamu tidak akan merampas). Jangan kamu bawa kebohongan yang
kamu buat-buat antara kaki dan tanganmu, dan janganlah kamu mendurhakai(ku)
dalam kebaikan. Barangsiapa di antara kamu yang menepatinya, maka pahalanya
atas Allah. Barang siapa yang melanggar sesuatu dari itu dan dia dihukum
(karenanya) di dunia, maka hukuman itu sebagai tebusannya (dan penyuci dirinya).
Dan, barangsiapa yang melanggar sesuatu dari semua itu kemudian ditutupi oleh
Allah (tidak terkena hukuman), maka hal itu terserah Allah. Jika Dia
menghendaki, maka Dia memaafkannya. Dan, jika Dia menghendaki, maka Dia akan
menghukumnya.” (Ubadah berkata ), “Maka kami berbaiat atas hal itu.”
Bab Ke- 11: Lari dari Berbagai Macam Fitnah adalah Sebagian dan
Agama
(Imam Bukhari mengisnadkan dalam bab ini hadits Abu Sa’id
al-Khudri yang akan datang kalau ada izin Allah dalam Al Manaqib 61/25 – Bab”)
Bab Ke-12: Sabda Nabi Saw., “Aku lebih tahu di antara kamu semua
tentang Allah”[11], dan bahwa pengetahuan (ma’rifah ) ialah perbuatan hati
sebagaimana firman Allah, “Walaakin yuaakhidzukum bimaa kasabat quluubukum
‘Tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk
bersumpah) dalam hatimu’.” (al-Baqarah: 225)
16. Aisyah r.a. berkata, “Apabila Rasulullah saw. menyuruh
mereka, maka beliau menyuruh untuk beramal sesuai dengan kemampuan. Mereka
berkata, ‘Sesungguhnya kami tidak seperti keadaan engkau wahai Rasulullah,
karena Allah telah mengampuni engkau terhadap dosa yang terdahulu dan
terkemudian.’ Lalu beliau marah hingga kemarahan itu diketahui (tampak) di
wajah beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang paling takwa
dan paling kenal tentang Allah dari kamu sekalian adalah saya.'”
Bab Ke-13: Barangsiapa yang Benci untuk Kembali kepada Kekufuran
Sebagaimana Kebenciannya jika Dilemparkan ke dalam Neraka adalah Termasuk
Keimanan
(Imam Bukhari mengisnadkan dalam bab ini hadits Anas yang telah
disebutkan pada nomor 13).
Bab Ke-14: Kelebihan Ahli Iman dalam Amal Perbuatan
17. Abu Said al-Khudri berkata, “Rasulullah saw. bersabda,
‘Ketika aku tidur, aku bermimpi manusia. Diperlihatkan kepadaku mereka memakai
bermacam-macam baju, ada yang sampai susu, dan ada yang (sampai 4/201) di bawah
itu. Umar ibnul Khaththab diperlihatkan juga kepadaku dan ia memakai baju yang
ditariknya.’ Mereka berkata, ‘Apakah takwilnya, wahai Rasulullah?’ Nabi
bersabda, ‘Agama.'”
Bab Ke-15: Malu Termasuk Bagian dari Iman
18. Salim bin Abdullah dari ayahnya, mengatakan bahwa Rasulullah
saw lewat pada seorang Anshar yang sedang memberi nasihat (dalam riwayat lain:
menyalahkan 7/100) saudaranya perihal malu. (Ia berkata, “Sesungguhnya engkau
selalu merasa malu”, seakan-akan ia berkata, “Sesungguhnya malu itu
membahayakanmu.”) Lalu, Rasulullah saw. bersabda, “Biarkan dia, karena malu itu
sebagian dari iman.”
Bab Ke-16: Firman Allah “Jika mereka bertobat dan mendirikan
shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk
berjalan.” (at-Taubah: 5)
19. Ibnu Umar ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Saya diperintah untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak
ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah,
mendirikan shalat, dan memberikan zakat. Apabila mereka telah melakukan itu,
maka terpelihara daripadaku darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam,
dan hisab mereka atas Allah.”
Bab Ke-17: Orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya keimanan itu
adalah amal perbuatan, berdasarkan pada firman Allah Ta’ala, “Dan itulah surga
yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan
(dalam kehidupan).” (az-Zukhruf: 72)
8.[12] Ada beberapa orang dari golongan ahli ilmu agama mengatakan
bahwa apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam surah al-Hijr ayat 92-93,
“Fawarabbika lanas-alannahum ajma’iina ‘ammaa kaanuu ya’maluuna” ‘Maka demi
Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka
kerjakan dahulu’, adalah tentang kalimat “laa ilaaha illallaah” ‘Tiada Tuhan
selain Allah’. Dan firman Allah, “Limitsli haadzaa falya’malil ‘aamiluun”
‘Untuk kemenangan semacam ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja’.”
(ash-Shaaffat: 61)
20. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. ditanya,
“Apakah amal yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan
Rasul-Nya.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad (berjuang)
di jalan Allah.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji yang
mabrur.”
Bab Ke-18: Jika masuk Islam tidak dengan sebenar-benarnya tetapi
karena ingin selamat atau karena takut dibunuh. Hal tersebut dapat terjadi,
karena Allah telah berfirman, “Orang-orang Badui itu berkata, ‘Kami telah
beriman.’ Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah,
‘Kami telah tunduk.” (al-Hujuurat: 14). Dan, jika masuk Islam dengan
sebenar-benarnya, maka hal itu didasarkan pada firman Allah, “Sesungguhnya
agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (Ali Imran: 19), “Dan
barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan
diterima (agama itu) daripadanya.”(Ali-Imran: 85)
21. Dari Sa’ad r.a. bahwa Rasulullah saw. memberikan kepada
sekelompok orang, dan Sa’ad sedang duduk, lalu Rasulullah saw meninggalkan
seorang laki-laki (Beliau tidak memberinya, dan 2/131). Lelaki itu adalah orang
yang paling menarik bagi saya (lalu saya berjalan menuju Rasulullah saw. dan
saya membisikkan kepadanya) lantas saya berkata, “wahai Rasulullah, ada apakah
engkau terhadap Fulan? Demi Allah saya melihat dia seorang mukmin.” Beliau
berkata, “Atau seorang muslim.” Saya diam sebentar, kemudian apa yang saya
ketahui dari Beliau itu mengalahkan saya, lalu saya ulangi perkataan saya. Saya
katakan, “Ada apakah engkau terhadap Fulan? Demi Allah saya melihatnya sebagai
sebagai seorang mukmin.” Beliau berkata, “Atau seorang muslim”. Saya diam
sebentar, kemudian apa yang saya ketahui dari Beliau mengalahkan saya, dan
Rasulullah saw. mengulang kembali perkataannya. (Dan dalam satu riwayat
disebutkan: kemudian Rasulullah saw. menepukkan tangannya di antara leher dan
pundakku). Kemudian beliau bersabda, “(Kemarilah) wahai Sa’ad! Sesungguhnya
saya memberikan kepada seorang laki-laki sedang orang lain lebih saya cintai
daripada dia, karena saya takut ia dicampakkan oleh Allah ke dalam neraka.”
Abu Abdillah berkata, “Fakubkibuu ‘dibolak-balik’. Mukibban,
seseorang itu akabba apabila tindakannya tidak sampai menjadi kenyataan
terhadap seseorang lainnya. Apabila tindakan itu terjadi dalam kenyataan, maka
saya katakan, “Kabbahul-Laahu bi wajhihi ‘Allah mencampakkan wajahnya’, wa
kababtuhu ana ‘dan saya mencampakkannya’.” [Abu Abdillah berkata, “Shalih bin
Kaisan[13] lebih tua daripada az-Zuhri, dan dia telah mendapati Ibnu Umar” 2/132].
Bab ke-19: Salam Termasuk Bagian Dari Islam
9.[14] Ammar berkata, “Ada tiga perkara yang barangsiapa yang
dapat mengumpulkan ketiga hal itu dalam dirinya, maka ia telah dapat
mengumpulkan keimanan secara sempurna. Yaitu, memperlakukan orang lain sebagaimana
engkau suka dirimu diperlakukan oleh orang lain, memberi salam terhadap setiap
orang (yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal), dan mengeluarkan
infak di jalan Allah, meskipun hanya sedikit.”
(Saya [Al-Albani] mengisnadkan dalam bab ini hadits yang telah
disebutkan di muka pada nomor 9 [bab 5]).
Bab Ke-20: Mengkufuri Suami, dan Kekufuran di Bawah Kekufuran
Dalam bab ini terdapat riwayat Abu Said dari Nabi saw. (Saya
katakan, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya sepotong dari
hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan pada [16 – al-Kusuf / 8 – Bab]).”
Bab Ke-21: Kemaksiatan Termasuk Perbuatan Jahiliah, dan
Pelakunya tidak Dianggap Kafir Kecuali Jika Disertai dengan Kemusyrikan,
mengingat sabda Nabi saw., “‘Sesungguhnya kamu adalah orang yang ada sifat
kejahiliahan dalam dirimu’.” Dan firman Allah Ta’ala, ‘Sesungguhnya Allah tidak
akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya’.” (an-Nisaa’: 48)
Bab Ke-22: “Apabila Dua Golongan Kaum Mukminin Saling Berperang,
Maka Damaikanlah Antara Keduanya Itu” (al-Hujuraat : 9), dan Mereka Itu Tetap
Dinamakan Kaum Mukminin.
22. Ahnaf bin Qais berkata, “Aku pergi (dengan membawa senjataku
pada malam-malam fitnah 8/92) hendak memberi pertolongan kepada orang lain,
(dalam riwayat lain: anak paman Rasulullah saw.) kernudian aku bertemu Abu
Bakrah, lalu ia bertanya, ‘Hendak ke manakah kamu?’ Aku menjawab, ‘Aku hendak
memberi pertolongan kepada orang ini.’ Abu Bakrah berkata, ‘Kembali sajalah.’
Karena saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila dua orang Islam
bertemu dengan pedangnya (berkelahi), maka orang yang membunuh dan orang yang
dibunuh sama-sama di neraka.’ Lalu kami bertanya, ‘Ini yang membunuh, lalu
bagaimanakah orang yang dibunuh?’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ia (orang yang
terbunuh) berkeinginan keras untuk membunuh temannya.'”
Bab Ke-23: Kezaliman yang Tingkatnya di Bawah Kezaliman
23. Abdullah (bin Mas’ud) berkata, “Ketika turun [ayat ini
8/481, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan
kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu
adalah orang-orang yang mendapat petunjuk’ (al-An’aam: 82), maka hal itu dirasa
sangat berat oleh sahabat-sahabat Rasulullah saw. (Maka mereka berkata,
‘Siapakah gerangan di antara kita yang tidak pernah menganiaya dirinya?’ Lalu
Allah menurunkan ayat, ‘Sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kezaliman
yang besar.’ (Luqman: 13) (Dan dalam riwayat lain : Rasulullah saw. bersabda,
Tidak seperti yang kamu katakan itu. (Mereka tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kezaliman). Itu ialah kemusyrikan. Apakah kamu tidak mendengar perkataan
Luqman kepada anaknya bahwa sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kezaliman
yang besar?)
Bab Ke-24: Tanda-Tanda Orang Munafik
24. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, ‘Tanda
tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu apabila berbicara dia berdusta, apabila
berjanji dia ingkar, dan apabila dipercaya dia berkhianat.”
25. Abdullah bin Amr mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Empat
(sikap 4/69) yang barangsiapa terdapat pada dirinya keempat sikap itu, maka dia
adalah seorang munafik yang tulen. Barangsiapa yang pada dirinya terdapat salah
satu dari sifat sifat itu, maka pada dirinya terdapat salah satu sikap munafik
itu, sehingga dia meninggalkannya. Yaitu, apabila dipercaya dia berkhianat (dan
dalam satu riwayat: apabila berjanji dia ingkar), apabila berbicara dia
berdusta, apabila berjanji dia menipu, dan apabila bertengkar dia curang.”
Bab Ke-25: Mendirikan Shalat Pada Malam Lailatul Qadar Termasuk
Keimanan
26. Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah saw, bersabda,
‘Barangsiapa yang menegakkan (shalat) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan
mencari keridhaan Allah, maka diampunilah dosanya yang telah lalu.'”
Bab Ke-26: Melakukan Jihad Termasuk Keimanan
27. Abu Hurairah mengatakan bahwa (dan dalam jalan lain
disebutkan: Dia berkata, “Saya mendengar 3/203) Nabi saw. bersabda, ‘Allah
menjamin orang yang keluar di jalan Nya, yang tidak ada yang mengeluarkannya
kecuali karena iman kepada Nya dan membenarkan rasul-rasul Nya, bahwa Dia akan
memulangkannya dengan mendapatkan pahala atau rampasan (perang), atau Dia
memasukkannya ke dalam surga. Kalau bukan karena akan memberatkan umatku,
niscaya saya tidak duduk-duduk di belakang. (Dari jalan lain disebutkan: Demi
Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, kalau bukan karena khawatir bahwa
banyak orang dari kaum mukminin tidak senang hatinya ketinggalan dari saya, dan
saya tidak dapat mengangkut mereka, niscaya saya tidak akan tertinggal dari 3/
203) pasukan [yang berperang di jalan Allah]. [Tetapi, saya tidak mendapatkan
kendaraan dan tidak mendapatkan sesuatu untuk mengangkut mereka, dan berat bagi
saya kalau mereka tertinggal dari saya 8/11]. [Dan demi Zat yang diriku berada
dalam genggaman Nya 8/ 128] sesungguhnya saya ingin terbunuh di jalan Allah,
kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi,
kemudian terbunuh lagi.”
Bab Ke-27: Melakukan Sunnah Shalat Malam Bulan Ramadhan Termasuk
Keimanan
28. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa menunaikan shalat malam Ramadhan (tarawih) karena iman dan
mengharap keridhaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”
Bab Ke-28: Melakukan Puasa Ramadhan Karena Mengharap Keridhaan
Allah Termasuk Keimanan
29. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah saw. bersabda,
‘Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari keridhaan
Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”
Bab Ke-29: Agama Itu Mudah,[15] dan Sabda Nabi saw., “Agama yang
Paling Dicintai Allah Ialah yang Lurus dan Lapang.”
30. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda,
“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak akan seseorang memberat-beratkan diri
dalam beragama melainkan akan mengalahkannya. Maka, berlaku luruslah, berlaku
sedanglah, bergembiralah, dan mintalah pertolongan pada waktu pagi, sore, dan
sedikit pada akhir malam.”
Bab Ke-30: Shalat Termasuk Iman, dan Firman Allah, “Allah tidak
akan menyia-nyiakan keimananmu”, yakni Shalatmu di Sisi Baitullah
31. Al-Barra’ mengatakan bahwa ketika Nabi saw. pertama kali
tiba di Madinah, beliau singgah pada kakek-kakeknya atau paman-pamannya dari
kaum Anshar. Beliau melakukan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama
enam belas bulan atau tujuh belas bulan. Tetapi, beliau senang kalau kiblatnya
menghadap ke Baitullah. (Dan dalam satu riwayat disebutkan: dan beliau ingin
menghadap ke Ka’bah 1/104). Shalat yang pertama kali beliau lakukan ialah
shalat ashar, dan orang-orang pun mengikuti shalat beliau. Maka, keluarlah
seorang laki-laki yang telah selesai shalat bersama beliau, lalu melewati
orang-orang di masjid [dari kalangan Anshar masih shalat ashar dengan menghadap
Baitul Maqdis] dan ketika itu mereka sedang ruku. Lalu laki-laki itu berkata,
“Aku bersaksi demi Allah, sesungguhnya aku telah selesai melakukan shalat
bersama Rasulullah saw dengan menghadap ke Mekah.” Maka, berputarlah mereka
sebagaimana adanya itu menghadap ke arah Baitullah [sambil ruku 8/134],
[sehingga mereka semua menghadap ke arah Baitullah].
Orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab suka kalau Rasulullah saw. shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Maka, ketika beliau menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, mereka mengingkari hal itu, [lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat 144 surat al-Baqarah, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit.” Lalu, beliau menghadap ke arah Ka’bah. Maka, berkatalah orang-orang yang bodoh, yaitu orang-orang Yahudi, “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah, “Kepunyaan Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” 7/104]. [Dan orang-orang yang telah meninggal dunia dan terbunuh dengan masih menghadap kiblat sebelum dipindahkannya kiblat itu, maka kami tidak tahu apa yang harus kami katakan tentang mereka, lalu Allah menurunkan ayat, “Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Surat al-Baqarah – 143)].
Orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab suka kalau Rasulullah saw. shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Maka, ketika beliau menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, mereka mengingkari hal itu, [lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat 144 surat al-Baqarah, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit.” Lalu, beliau menghadap ke arah Ka’bah. Maka, berkatalah orang-orang yang bodoh, yaitu orang-orang Yahudi, “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah, “Kepunyaan Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” 7/104]. [Dan orang-orang yang telah meninggal dunia dan terbunuh dengan masih menghadap kiblat sebelum dipindahkannya kiblat itu, maka kami tidak tahu apa yang harus kami katakan tentang mereka, lalu Allah menurunkan ayat, “Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Surat al-Baqarah – 143)].
Bab Ke-31: Baiknya Keislaman Seseorang
6.[16] Abu Sa’id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar
Rasulullah saw bersabda, “Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus
keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang
dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu
kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan
kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah
memaafkannya.”
32. Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah saw bersabda, Apabila
seseorang di antara kamu memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang
dilakukannya ditulis untuknya sepuluh kebaikan yang seperti itu hingga tujuh
ratus kali lipat. Dan setiap kejelekan yang dilakukannya ditulis untuknya
balasan yang sepadan dengan kejelekan itu.”
Bab Ke-32: Amalan dalam Agama yang Paling Dicintai Allah Azza wa
Jalla Ialah yang Dilakukan Secara Konstan (Terus Menerus / Berkesinambungan)
33. Aisyah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw: masuk ke tempatnya
dan di sisinya ada seorang wanita [dari Bani Asad 2/48], lalu Nabi bertanya,
“Siapakah ini?” Aisyah menjawab, “Si Fulanah [ia tidak pernah tidur malam], ia
menceritakan shalatnya.” Nabi bersabda, “Lakukanlah [amalan] menurut
kemampuanmu. Karena demi Allah, Allah tidak merasa bosan (dan dalam satu
riwayat: karena sesungguhnya Allah tidak merasa bosan) sehingga kamu sendiri
yang bosan. Amalan agama yang paling disukai-Nya ialah apa yang dilakukan oleh
pelakunya secara kontinu (terus menerus / berkesinambungan).”
Bab Ke-33: Keimanan Bertambah dan Berkurang. Firman Allah, “Dan
Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (al-Muddatstsir: 31) dan “Hari ini telah
Aku sempurnakan agamamu untukmu” (al-Maa’idah: 3). Apabila seseorang
meninggalkan sebagian dari kesempurnaan agamanya, maka agamanya tidaklah
sempurna.
34. Anas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Akan keluar
dari neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah’ dan di dalam
hatinya ada kebaikan (7 – di dalam riwayat yang mu’alaaq: iman [17]) seberat
biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan
melainkan Allah’, sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan,
akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan melainkan
Allah’, sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom.”
35. Umar ibnul-Khaththab r.a. mengatakan bahwa seorang Yahudi
berkata (dan dalam suatu riwayat: beberapa orang Yahudi berkata 5/127)
kepadanya, “Wahai Amirul Mu’minin, suatu ayat di dalam kitabmu yang kamu baca
seandainya ayat itu turun atas golongan kami golongan Yahudi, niscaya kami
jadikan hari raya.” Umar bertanya, “Ayat mana itu?” Ia menjawab, “Al-yauma
akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii waradhiitu lakumul
islaamadiinan” ‘Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku
sempurnakan atasmu nikmat-Ku dan Aku rela Islam sebagai agamamu’.” Lalu Umar
berkata, “Kami telah mengetahui hari itu dan tempat turunnya atas Nabi saw., yaitu
beliau sedang berdiri di Arafah pada hari Jumat. [Demi Allah, saya pada waktu
itu berada di Arafah].”
Bab Ke-34: Membayar Zakat adalah Sebagian dari Islam. Firman
Allah, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang
lurus.”
36. Thalhah bin Ubaidillah r.a. berkata, “Seorang laki-laki
(dalam satu riwayat disebutkan: seorang Arab dusun 2/225) penduduk Najd datang
kepada Rasulullah saw. dengan morat-marit (rambut) kepalanya. Kami mendengar
suaranya tetapi kami tidak memahami apa yang dikatakannya sehingga dekat.
Tiba-tiba ia bertanya tentang Islam (di dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ia
berkata, ‘Wahai Rasulullah, beri tahukanlah kepadaku, apa sajakah shalat yang
diwajibkan Allah atas diriku?). Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Shalat lima
kali dalam sehari semalam.” Lalu ia bertanya lagi, “Apakah. ada kewajiban
atasku selainnya?” Beliau bersabda, “Tidak, kecuali kalau engkau melakukan yang
sunnah.” Rasulullah saw. bersabda, “Dan puasa (dan di dalam satu riwayat
disebutkan: “Beri tahukanlah kepadaku, apa sajakah puasa yang diwajibkan Allah
atasku?” Lalu beliau menjawab, “Puasa pada bulan”) Ramadhan.” Ia bertanya lagi,
“Apakah ada kewajiban atasku selainnya?” Beliau bersabda, “Tidak, kecuali
sunnah.” [Lalu dia berkata, “Beri tahukanlah kepadaku, apakah zakat yang
diwajibkan Allah atasku?” 2/225]. Thalhah berkata, “Rasulullah saw. menyebutkan
kepadanya zakat” (Dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw
memberitahukan kepadanya tentang syariat-syariat Islam). Lalu dia bertanya,
“Apakah ada kewajiban selainnya atas saya?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali
jika engkau mau melakukan yang sunnah.” Kemudian laki-laki itu berpaling seraya
berkata, “Demi Allah, saya tidak menambah dan tidak pula mengurangi [sedikit
pun dari apa yang telah diwajibkan Allah atas diri saya] ini.” Rasulullah saw
bersabda, “Berbahagialah dia, jika (dia) benar.”
Bab Ke-35: Mengantarkan Jenazah adalah Sebagian dari Keimanan
37. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa yang mengiringkan jenazah orang Islam karena iman dan mengharapkan
pahala dari Allah, dan ia bersamanya sehingga jenazah itu dishalati dan selesai
dikuburkan, maka ia kembali mendapat pahala dua qirath yang masing-masing
qirath seperti Gunung Uhud. Barangsiapa yang menyalatinya kemudian ia kembali
sebelum dikuburkan, maka ia kembali dengan (pahala) satu qirath.”
Bab Ke-36: Kekhawatiran Orang yang Beriman jika Sampai Terhapus
Amalnya Tanpa Disadarinya
9.[18] Ibrahim at Taimi berkata, ‘Tidak pernah perkataanku
sebelum aku melakukan (atau) aku menunjukkan amal perbuatanku, melainkan aku
takut kalau-kalau aku nanti akan disudutkan oleh amalan yang tidak jadi aku
lakukan.”
10.[19] Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku mengunjungi tiga puluh
sahabat Nabi saw. dan masing-masing khawatir dengan munafik dan tak seorang pun
di antara mereka yang mengatakan bahwa keimanannya sama kuatnya seperti yang
ada pada Jibril dan Mikail.”
11.[20] Al-Hasan al-Bashri berkata, ‘Tiada seorang pun yang
takut akan hal itu (yakni kemunafikan) melainkan ia adalah orang mukmin yang
sebenar-benarnya dan tiada seorang pun yang merasa aman akan hal itu melainkan
ia pasti seorang yang munafik.”
38. Ziad berkata, “Aku bertanya kepada Wa-il tentang golongan
Murji-ah,[21] lalu dia berkata, ‘Aku diberi tahu oleh Abdullah bahwa Nabi saw
bersabda’, “Mencaci maki orang muslim adalah fasik dan memeranginya adalah
kafir.”
Bab Ke-37: Pertanyaan Malaikat Jibril kepada Nabi saw tentang
iman, Islam, ihsan, pengetahuan tentang hari kiamat, dan keterangan yang
diberikan Nabi saw. kepadanya, lalu beliau bersabda, “Malaikat Jibril as.
datang untuk mengajarkan kepada kalian agama kalian.” Maka, Nabi saw.
menganggap bahwa semuanya itu sebagai agama.[22] Semua yang diterangkan Nabi
saw. kepada tamu Abdul Qais (tersebut) termasuk keimanan. Dan firman Allah,
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan
diterima agama itu daripadanya. ” (Ali Imran : 85)
(Saya berkata, “Dalam hal ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits
Jibril yang diisyaratkan itu dari hadits Abu Hurairah yang akan datang
[65-at-Tajsir/21-asSurah 2-Bab]”).
Abu Abdillah berkata, “Beliau menjadikan semua itu termasuk
keimanan.”
Bab Ke-38: (Saya berkata, “Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya sebagian dan hadits Abu Sufyan yang panjang dalam dialognya dengan
Heraklius sebagaimana yang akan disebutkan pada “56 – al-Jihad/102 – BAB…..”)”
Bab Ke-39: Keutamaan Orang yang Membersihkan Agamanya
39. An-Nu’man bin Basyir berkata, “Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda, “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara
keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (dan dalam satu riwayat: perkara-perkara
musytabihat / samar, tidak jelas halal-haramnya, 3/ 4), yang tidak diketahui
oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia
telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus
dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan,
hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. (Dalam satu riwayat disebutkan bahwa
barangsiapa yang meninggalkan apa yang samar atasnya dari dosa, maka terhadap
yang sudah jelas ia pasti lebih menjauhinya; dan barangsiapa yang berani
melakukan dosa yang masih diragukan, maka hampir-hampir ia terjerumus kepada
dosa yang sudah jelas). Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan,
dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang
diharamkan-Nya (dan dalam satu riwayat: kemaksiatan-kemaksiatan itu adalah
tanah larangan Allah). Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging.
Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat
daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah
hati.”
Bab Ke-40: Memberikan Seperlima dari Harta Rampasan Perang Termasuk Keimanan
Bab Ke-40: Memberikan Seperlima dari Harta Rampasan Perang Termasuk Keimanan
40. Abi Jamrah berkata, “Aku duduk dengan Ibnu Abbas dan
ia mendudukkan aku di tempat duduknya. Dia berkata, Tinggallah bersamaku
sehingga aku berikan untukmu satu bagian dari hartaku.’ Maka, aku pun tinggal
bersamanya selam dua bulan. (Dan dalam satu riwayat: ‘Aku menjadi juru bicara
antara Ibnu Abbas dan masyarakat 1/ 30). (Kemudian pada suatu saat dia berkata
kepadaku). (Dan dalam satu riwayat: Aku berkata kepada Ibnu Abbas,
‘Sesungguhnya aku mempunyai guci untuk membuat nabidz ‘minuman keras’, lalu aku
meminumnya dengan terasa manis di dalam guci itu jika aku habis banyak.
Kemudian aku duduk bersama orang banyak dalam waktu yang lama karena aku takut
aku akan mengatakan sesuatu yang memalukan.’ (Lalu Ibnu Abbas berkata 5/116),
‘Sesungguhnya utusan Abdul Qais ketika datang kepada Nabi saw., beliau
bertanya, ‘Siapakah kaum itu atau siapakah utusan itu?’ Mereka menjawab, ‘[Kami
adalah satu suku dari 7/114] Rabi’ah.’ (Dan dalam satu riwayat: ‘Maka kami
tidak dapat datang kepadamu kecuali pada setiap bulan Haram’ 4/157). Beliau
bersabda, ‘Selamat datang kaum atau utusan (yang datang) tanpa tidak kesedihan
dan penyesalan.” Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak
dapat datang kepada engkau kecuali pada bulan Haram, karena antara kita ada
perkampungan ini yang (berpenghuni) kafir mudhar. [Kami datang kepadamu dari
tempat yang jauh], maka perintahkanlah kami dengan perintah yang terperinci
(dan dalam satu riwayat: dengan sejumlah perintah). [Kami ambil dari engkau dan
1/133] kami beri tahukan kepada orang-orang yang di belakang kami dan karenanya
kami masuk surga [jika kami mengamalkannya’ 8/217]. Mereka bertanya kepada
beliau tantang minuman. Lalu beliau menyuruh mereka dengan empat perkara dan
melarang mereka (dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau bersabda, ‘Aku
perintahkan kamu dengan empat perkara dan aku larang kamu) dari empat perkara,
yaitu aku perintahkan kamu beriman kepada Allah (Azza wa Jalla) saja.’ Beliau
bertanya, ‘Tahukah kalian apakah iman kepada Allah sendiri itu? Mereka berkata,
‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Bersaksi tidak ada
Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah [dan beliau
menghitung dengan jarinya 4/44], mendirikan shalat, memberikan zakat, puasa
Ramadhan, dan kalian memberikan harta seperlima harta rampasan perang. Lalu,
beliau melarang mereka dari empat hal yaitu (dan dalam satu riwayat: Janganlah
kamu minum dalam) guci hijau, labu kering, pohon korma yang diukir, dan sesuatu
yang dilumuri fir (empat hal ini adalah alat untuk membuat minuman keras).’
Barangkali beliau bersabda (juga), ‘Barang yang dicat.’ Dan beliau bersabda,
‘Peliharalah semua itu dan beri tahukanlah kepada orang yang di belakang
kalian!”
Bab Ke-41: Keterangan tentang apa yang terdapat dalam
hadits bahwa sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung pada niat dan
harapan memperoleh pahala dari Allah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Bab
ini meliputi keimanan, wudhu, shalat, zakat, haji, puasa, dan hukum-hukum.
Allah berfirman, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. ”
(al-Israa’: 84)
10.[23] Nafkah yang dikeluarkan seorang laki-laki untuk
keluarganya dengan niat untuk memperoleh suatu pahala dari Allah adalah
sedekah.
11.[24] Nabi saw bersabda, “Tetapi jihad dan niat.”
Bab Ke-42: Sabda Nabi saw., “Agama adalah nasihat
(kesetiaan) kepada Allah, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan umat
nya.”[25] Dan firman Allah Ta’ala, “Apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah
dan Rasul Nya.”(at-Taubah: 91)
41. Jarir bin Abdullah berkata, “Saya berbaiat kepada
Rasulullah saw. untuk [bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah, dan 3/27] mendirikan shalat, memberikan zakat,
[mendengar dan patuh, lalu beliau mengajarkan kepadaku apa yang mampu kulakukan
8/122], dan memberi nasihat kepada setiap muslim.” Dan, menurut riwayat lain
dari Ziyad bin Ilaqah, ia berkata, “Saya mendengar Jarir bin Abdullah berkata
pada hari meninggalnya Mughirah bin Syu’bah. Ia (Jarir) berdiri, lalu memuji
dan menyanjung Allah, lalu berkata, ‘Hendaklah kamu semua bertakwa kapada Allah
Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Juga hendaklah kamu semua bersikap tenang
dan tenteram sehingga amir, penguasa daerah, datang padamu, sebab ia nanti akan
datang ke sini.’ Kemudian ia berkata lagi, ‘Berilah maaf pada amirmu
(pemimpinmu), sebab pemimpin (kalian) senang memberi maaf orang lain.
Seterusnya Jarir berkata, ‘Amma ba’du, (kemudian) aku datang kepada Nabi saw.
dan aku berkata, ‘Aku berbaiat kepadamu atas Islam.’ Lalu beliau mensyaratkan
atasku agar menasihati setiap muslim. Maka, saya berbaiat kepada beliau atas
yang demikian ini. Demi Tuhan Yang Menguasai masjid ini, sesungguhnya aku ini
benar-benar memberikan nasihat kepada kamu sekalian.’ Sehabis itu ia
mengucapkan istighfar (mohon pengampunan kepada Allah), lalu turun (yakni
duduk).”
Catatan Kaki:
[1] Ini adalah potongan dari hadits Ibnu Umar, yang
di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dalam bab ini.
[2] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab
al-Iman nomor 135 dengan pentahkikan saya, dan sanadnya adalah sahih. Ini juga
diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Iman sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh.
[3] Di-maushul-kan juga oleh Ibnu Abi Syaibah nomor 105
dan 107, dan oleh Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dalam Al-Iman juga nomor 30
dengan pentahkikan saya dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan pula oleh Imam
Ahmad.
[4] Di-maushul-kan oleh Thabrani dengan sanad sahih dari
Ibnu Mas’ud secara mauquf, dan diriwayatkan secara marfu’ tetapi tidak sah,
sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh.
[5] Al-Hafizh tidak memandangnya maushul. Akan tetapi,
hadits yang semakna dengan ini terdapat di dalam Shahih Muslim dan lainnya dari
hadits an-Nawwas secara marfu. Silakan Anda periksa kalau mau di dalam kitab
saya Shahih al-Jami’ ash-Shaghir (2877).
[6] Di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid darinya.
[7] Yakni Nuh a.s. sebagaimana disebutkan dalam konteks
ayat, “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang
kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama-Nya) orang yang kembali
(kepada-Nya). ” (asy-Syuura: 13)
[8] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq di dalam Tafsirnya
dengan sanad sahih darinya (Ibnu Abbas).
[9] Di-maushul-kan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas juga.
[10] Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya dengan lafal
Sab’uuna ‘tujuh puluh’, dan inilah yang kuat menurut pendapat saya, mengikuti
pendapat Al-Qadhi Iyadh dan lainnya, sebagaimana telah saya jelaskan dalam
Silsilatul Ahaditsish Shahihah (17).
[11] Ini adalah potongan dari hadits Aisyah yang akan
datang dalam bab ini secara maushul.
[12] Al-Hafizh berkata, “Di antaranya adalah Anas, yang
diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lain-lainnya, tetapi di dalam isnadnya terdapat
kelemahan. Dan di antaranya lagi Ibnu Umar sebagaimana disebutkan dalam Tafsir
ath-Thabari dan kitab Ad-Du’a karya ath-Thabrani. Dan di antaranya lagi adalah
Mujahid sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Abdur Razzaq, dan lain-lainnya.”
[13] Saya katakan, “Yakni yang disebutkan pada salah satu
jalan periwayatan hadits ini.”
[14] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman
(131) dengan sanad sahih dari Ammar secara mauquf. Lihat takhrijnya di dalam
catatan kaki saya terhadap kitab Al-Kalimuth Thayyib nomor 142, terbitan
Al-Maktabul-Islami.
[15] Di-maushul-kan oleh penyusun di dalarn Al-Adabul
Mufrad dan oleh Ahmad dan lain-lainnya dari hadits Ibnu Abbas recara marfu’,
sedangkan dia adalah hadits hasan sebagaimana sudah saya jelaskan dalam
Al-Ahaadiitsush Shahihah (879).
[16] Hadits Ini menurut penyusun (Imam Bukhari)
rahimahullah adalah mu’allaq, dan dia di-maushul-kan oleh Nasaa’i denqan sanad
sahih, sebagaimana telah ditakhrij dalam Al-Ahaadiitsush Shahihah (247).
[17] Di-maushul-kan oleh Hakim dalam Kitab Al-Arba’in dan
di situ Qatadah menyampaikan dengan jelas dengan menggunakan kata tahdits
‘diinformasikan’ dari Anas. Saya (Al-Albani) katakan, “Dan di-maushul-kan oleh
penyusun (Imam Bukhari) dari jalan lain dari Anas di dalam hadits safa’at yang
panjang, dan akan disebutkan pada “(7 -At-Tauhid / 36)”.
[18] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam At-Tarikh dan
Ahmad dalam Az-Zuhd dengan sanad sahih darinya.
[19] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Khaitsamah di dalam
Tarikh-nya, tetapi dia tidak menyebutkan jumlahnya. Demikian pula Ibnu Nashr di
dalam Al-Iman, dan Abu Zur’ah ad-Dimasyqi di dalam Tarikh-nya dari jalan lain
darinya sebagaimana disebutkan di sini.
[20] Di-maushul-kan oleh Ja’far al-Faryabi di dalam
Shifatul Munafiq dari beberapa jalan dengan lafal yang berbeda-beda. Hal ini
menunjukkan sahihnya riwayat ini darinya. Maka, bagaimana bisa terjadi penyusun
meriwayatkannya dengan menggunakan kata-kata “wa yudzkaru” ‘dan disebutkan’
yang mengesankan bahwa ini adalah hadits dhaif? Al-Hafizh menjawab hal itu yang
ringkasnya bahwa penyusun (Imam Bukhari) tidak mengkhususkan redaksi tamridh
‘melemahkan’ ini sebagai melemahkan isnadnya, bahkan dia juga menyebutkan matan
dengan maknanya saja atau meringkasnya juga. Hal ini perlu dipahami karena
sangat penting.
[21] Mereka adalah salah satu dari kelompok-kelompok
sesat. Mereka berkata, “Maksiat itu tidak membahayakan iman.”
[22] Menunjuk hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan secara
maushul sesudah dua bab lagi.
[23] Ini adalah bagian dari hadits Abu Mas’ud al-Badri
yang di-maushul-kan oleh penyusun pada (69 – an-Nafaqat / 1- BAB).
[24] Ini adalah bagian dari hadits Ibnu Abbas yang akan
disebutkan secara maushul pada (56 al-Jihad / 27-BAB).
[25] Di-maushul-kan oleh Muslim dan lainnya dari hadits Tamim ad-Dari,
dan hadits ini telah ditakhrij dalam Takhrij al-Halal (328) dan Irwa-ul Ghalil
(25).
Bab Ilmu
Bab Ke-1: Keutamaan Ilmu. Firman Allah, “Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(al-Mujaadilah: 11), dan, “Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan.”(‘Thaahaa: 114)
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari tidak membawakan satu
hadits pun.”)
Bab Ke-2: Seseorang yang ditanya mengenai ilmu pengetahuan,
sedangkan ia masih sibuk berbicara. Kemudian ia menyelesaikan pembicaraannya,
lalu menjawab orang yang bertanya.
42. Abu Hurairah r.a. berkata, “Ketika Rasulullah saw. di suatu
majelis sedang berbicara dengan suatu kaum, datanglah seorang kampung dan
berkata, ‘Kapankah kiamat itu?’ Rasulullah terus berbicara, lalu sebagian kaum
berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakan olehnya, namun beliau benci apa yang
dikatakannya itu.’ Dan sebagian dari mereka berkata, ‘Beliau tidak
mendengarnya.’ Sehingga, ketika beliau selesai berbicara, maka beliau bersabda,
‘Di manakah gerangan orang yang bertanya tentang kiamat?’ Ia berkata, ‘Inilah
saya, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Apabila amanat itu telah
disia-siakan, maka nantikanlah kiamat.’ Ia berkata, ‘Bagaimana
menyia-nyiakannya?’ Beliau bersabda, ‘Apabila perkara (urusan) diserahkan (pada
satu riwayat disebutkan dengan: disandarkan 7/188) kepada selain ahlinya, maka
nantikanlah kiamat.”
Bab Ke-3: Orang yang Mengeraskan Suaranya mengenai Ilmu
Pengetahuan
43. Abdullah bin Amr r.a. berkata, “Nabi saw. tertinggal (dari
kami 4/91) dalam suatu perjalanan yang kami tempuh lalu beliau menyusul kami,
dan kami telah terdesak oleh shalat (pada satu riwayat disebutkan: shalat
ashar). Kami berwudhu, dan ketika kami sampai membasuh kaki, lalu beliau
menyeru dengan suara yang keras, ‘Celakalah bagi tumit-tumit karena api
neraka!’ (Beliau mengucapkannya dua atau tiga kali).”
Bab Ke-4: Perkataan perawi hadits dengan haddatsanaa ‘telah
berbicara kepada kami … ‘ atau akhbaranaa ‘telah memberitahukan kepada kami … ‘
atau anba-anaa ‘telah menginformasikan kepada kami … ‘.
44. Al-Humaidi[1] berkata, “Menurut Ibnu Uyainah, perkataan haddatsanaa,
akhbaranaa, anba-anaa, dan sami’tuu adalah sama (saja).”
13. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Telah berbicara kepada kami Rasulullah
saw., sedang beliau adalah orang yang benar lagi dibenarkan.”[2]
14. Syaqiq berkata, “Dari Abdullah, ia berkata, ‘Saya mendengarkan
Nabi saw. suatu perkataan …'”[3]
15. Hudzaifah berkata, “Rasulullah saw. telah berbicara kepada
kami dengan dua hadits.”[4]
16. Abul Aliyah berkata, “Dari Ibnu Abbas dari Nabi saw mengenai
apa yang beliau riwayatkan (adalah) dari Tuhannya Azza wa Jalla.”[5]
17. Anas berkata, “Dari Nabi saw., beliau meriwayatkannya dari
Tuhanmu Azza wa Jalla.”[6]
18. Abu Hurairah r.a. berkata, “Dari Nabi saw., beliau
mcriwayatkannya dari Tuhannya Azza wa Jalla.”[7]
(Saya berkata, “Dalam hal ini dia [Imam Bukhari] meriwayatkan
dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang akan disebutkan pada [65 -At-Tafsir / 14
Surah / 2 – BAB]).”
Bab Ke-5: Imam Melontarkan Pertanyaan kepada Para Sahabatnya
untuk Menguji Pengetahuan Mereka
(Saya berkata, “Mengenai hal ini Imam Bukhari meriwayatkan
dengan sanadnya hadits Ibnu Umar yang diisyaratkan di atas.”)
Bab Ke-6: Keterangan tentang Ilmu dan Firman Allah, “Katakanlah,
Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu. ” (Thaahaa: 114)
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari tidak menyebutkan
sebuah hadits pun.”)
Bab Ke-7: Membacakan dan Mengkonfirmasikan kepada Orang yang
Menyampaikan Berita
Al-Hasan, Sufyan, dan Malik berpendapat boleh membacakan.[8]
45. Dari Sufyan ats-Tsauri dan Malik, disebutkan bahwa mereka
berpendapat boleh membacakan dan mendengarkan.
46. Sufyan berkata, “Apabila dibacakan kepada orang yang
menyampaikan suatu berita, maka tidak mengapa dia berkata, ‘Ceritakanlah
kepadaku’, dan “Saya dengar’. Sebagian mereka[9] memperbolehkan membacakan
kepada orang alim dengan alasan hadits Dhimam bin Tsa’labah[10] yang berkata
kepada Nabi saw., “Apakah Allah memerintahkanmu melakukan shalat?” Beliau
menjawab, “Ya.” Sufyan berkata, “Maka, ini adalah pembacaan kepada Nabi saw..
Dhimam memberitahukan hal itu kepada kaumnya, lalu mereka menerimanya.”
Malik berargumentasi dengan dokumen yang dibacakan kepada suatu
kaum, lalu mereka berkata, “Si Fulan telah bersaksi kepada kami”, dan hal itu
dibacakan kepada mereka. Dibacakan kepada orang yang menyuruh membaca, lalu
orang yang membaca berkata, “Si Fulan menyuruhku membaca.”
47. Al-Hasan berkata, ‘Tidak mengapa membacakan kepada orang
alim.”
48. Sufyan berkata, “Apabila dibacakan (dikonfirmasikan) kepada
ahli hadits (perawi, orang yang menyampaikan hadits / berita), maka tidak
mengapa dia berkata, ‘Ceritakanlah kepadaku.'”
49. Malik dan Sufyan berkata, “Membacakan (mengkonfirmasikan)
kepada orang yang alim dan bacaan orang alim itu sama saja.”
50. Anas bin Malik r.a. berkata, “Ketika kami duduk dengan Nabi
saw di masjid, masuklah seorang laki-laki yang mengendarai unta, lalu
mendekamkan untanya di dalam masjid, dan mengikatnya. Kemudian ia berkata,
‘Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?’ Nabi saw. bertelekan di
antara mereka, lalu kami katakan, ‘Laki-laki putih yang bertelekan ini.’
Laki-laki itu bertanya, ‘Putra Abdul Muthalib?’ Nabi bersabda kepadanya, ‘Saya
telah menjawabmu.’ Ia berkata, ‘Sesungguhnya saya bertanya kepadamu, berat
atasmu namun janganlah diambil hati olehmu terhadap saya.’ Beliau bersabda,
‘Tanyakan apa-apa yang timbul dalam dirimu.’ Ia berkata, ‘Saya bertanya
kepadamu tentang Tuhanmu, dan Tuhan orang-orang yang sebelummu. Apakah Allah
mengutusmu kepada seluruh manusia?’ Nabi bersabda, ‘Ya Allah, benar.’ Ia
berkata, ‘Saya menyumpahmu dengan nama Allah, apakah Allah menyuruhmu untuk
shalat lima waktu dalam sehari semalam?’ Beliau bersabda, ‘Ya Allah, benar.’ Ia
berkata, ‘Saya menyumpahmu dengan nama Allah, apakah Allah menyuruhmu untuk
puasa bulan ini (Ramadhan) dalam satu tahun?’ Beliau bersabda, ‘Ya Allah,
benar.’ Ia berkata, ‘Saya menyumpahmu dengan nama Allah, apakah Allah
menyuruhmu untuk mengambil zakat ini dari orang-orang kaya kita, lalu kamu
bagikan kepada orang-orang fakir kita?’ Beliau bersabda, ‘Ya Allah, benar.’
Lalu laki-laki itu berkata, ‘Saya percaya pada apa yang kamu bawa dan saya
adalah utusan dari orang yang di belakang saya dari kalangan kaum saya. Saya
Dhimam bin Tsa’labah, saudara bani Sa’ad bin Bakr.'”
Bab Ke-8: Keterangan tentang Perpindahan (Buku-Buku Ilmu
Pengetahuan) dari Tangan ke Tangan, dan Penulisan Ilmu Pengetahuan oleh
Ahli-Ahli Ilmu Pengetahuan dari Berbagai Negeri
Anas berkata, “Utsman menyalin beberapa mushhaf, lalu
mengirimkannya ke berbagai wilayah.”[11]
Abdullah bin Umar, Yahya bin Said, dan Malik berpendapat bahwa yang demikian itu diperbolehkan.[12]
Beberapa Ulama Hijaz mendukung pendapat itu berdasarkan hadits Nabi saw. ketika beliau mengirimkan surat dengan perantaraan komandan pasukan dan beliau berkata, “Janganlah kamu bacakan surat ini sebelum kamu sampai di tempat ini dan ini.” Setelah sampai di tempat itu, komandan itu membacakannya kepada orang banyak, dan dia memberitahukan kepada mereka apa yang diperintahkan oleh Nabi saw.[13]
Abdullah bin Umar, Yahya bin Said, dan Malik berpendapat bahwa yang demikian itu diperbolehkan.[12]
Beberapa Ulama Hijaz mendukung pendapat itu berdasarkan hadits Nabi saw. ketika beliau mengirimkan surat dengan perantaraan komandan pasukan dan beliau berkata, “Janganlah kamu bacakan surat ini sebelum kamu sampai di tempat ini dan ini.” Setelah sampai di tempat itu, komandan itu membacakannya kepada orang banyak, dan dia memberitahukan kepada mereka apa yang diperintahkan oleh Nabi saw.[13]
51. Abdullah bin Abbas mengatakan bahwa Rasulullah saw. mengutus
seorang laki-laki (dalam satu riwayat disebutkan: Abdullah bin Hudzafah
as-Sahmi 5/136) untuk membawa surat beliau, dan laki-laki itu disuruh
memberikannya kepada pembesar Bahrain, lalu pembesar Bahrain merobek-robeknya.
Ia berkata, “Lalu Rasulullah saw. mendoakan agar mereka benar-benar dirobek-robek.”
Bab Ke-9: Orang yang Duduk di Tempat Terakhir Paling Jauh dari
Suatu Pertemuan dan Orang yang Menemukan Suatu Tempat Pertemuan atau Duduk di
Sana
52. Abu Waqid al-Laitsi mengatakan bahwa ketika Rasulullah saw.
duduk di masjid bersama orang-orang, tiba-tiba datang tiga orang. Dua orang
menghadap kepada Nabi saw. dan seorang (lagi) pergi. Dua orang itu berhenti
pada Rasulullah saw., yang seorang duduk di belakang mereka, dan yang ketiga
berpaling, pergi. Ketika Rasulullah saw. selesai, beliau bersabda, “Maukah saya
beritakan tentang tiga orang. Yaitu, salah seorang di antara mereka berlindung
kepada Allah, maka Allah melindunginya; yang seorang lagi malu, maka Allah malu
terhadapnya; dan yang lain lagi berpaling, maka Allah berpaling darinya.”
Bab Ke-10: Sabda Nabi saw., “Seringkali orang yang diberi tahu
suatu keterangan lebih dapat mengingatnya daripada yang mendengarkannya
sendiri.”
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya hadits Abu Bakrah pada [64 – Al-Maghazi / 79 – BAB].”)
Bab Ke-11: Ilmu Wajib Dituntut Sebelum Mengucapkan dan Sebelum
Beramal
Hal tersebut didasarkan firman Allah Ta’ala dalam surah Muhammad
ayat 19, “Maka ketahuilah (wahai Muhammad), bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan
(Yang Hak) melainkan Allah.” Maka, dalam ayat ini Allah memulai dengan menyebut
ilmu. Selain itu, disebutkan bahwa ulama adalah pewaris-pewaris Nabi. Mereka
mewarisi ilmu pengetahuan. Barangsiapa yang mendapatkannya, maka dia beruntung
dan memperoleh sesuatu yang besar.[14]
“Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan
(agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”[15]
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di
antara hamba-hambaNya hanyalah ulama.” (Faathir: 28); “Tiada yang memahaminya
kecuali bagi orang-orang yang berilmu” (al-Ankabuut: 43); “Dan mereka berkata,
‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan) itu, niscaya tidaklah
kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala” (al-Mulk: 10); dan
“Adakah sama orang-orang yang tahu dengan orang-orang yang tidak mengetahui.”
(az-Zumar: 9)
Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah,
maka ia dikaruniai kepahaman agama.”[16]
Dan beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar.”[17]
Abu Dzar berkata, “Andaikan kamu semua meletakkan sebilah pedang di atas ini (sambil menunjuk ke arah lehernya). Kemudian aku memperkirakan masih ada waktu untuk melangsungkan atau menyampaikan sepatah kata saja yang kudengar dari Nabi saw. sebelum kamu semua melaksanakannya, yakni memotong leherku, niscaya kusampaikan sepatah kata dari Nabi saw. itu.”[18]
Dan beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar.”[17]
Abu Dzar berkata, “Andaikan kamu semua meletakkan sebilah pedang di atas ini (sambil menunjuk ke arah lehernya). Kemudian aku memperkirakan masih ada waktu untuk melangsungkan atau menyampaikan sepatah kata saja yang kudengar dari Nabi saw. sebelum kamu semua melaksanakannya, yakni memotong leherku, niscaya kusampaikan sepatah kata dari Nabi saw. itu.”[18]
Ibnu Abbas berkata, “Jadilah kamu semua itu golongan Rabbani,
yaitu (golongan yang) penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan hukum hukum agama), dan mengerti.”[19] Ada
yang mengatakan bahwa yang dimaksud “Rabbani”‘ ialah orang yang mendidik
manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan
ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar).
Bab Ke-12: Apa yang Dilakukan oleh Nabi saw. tentang Memberi
Sela-Sela Waktu (Yakni Tidak Setiap Hari) dalam Menasihati dan Mengajarkan Ilmu
agar Mereka Tidak Lari (Berpaling) Karena Bosan
53. Anas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Mudahkanlah
dan jangan mempersulit, gembirakanlah (dalam satu riwayat disebutkan:
jadikanlah tenang 7/ 101) dan jangan membuat orang lari.”
Bab Ke-13: Orang yang Memberikan Hari-Hari Tertentu untuk Para
Ahli Ilmu Pengetahuan
54. Abu Wa-il berkata, “Abdullah pada setiap hari Kamis
memberikan peringatan (yakni mengajar ilmu-ilmu keagamaan kepada orang banyak).
Kemudian ada seseorang berkata, “Wahai ayah Abdur Rahman, aku sebenarnya lebih
senang andaikata kamu memberikan peringatan kepada kami setiap hari.” Abdullah
menjawab, “Ketahuilah, sesungguhnya ada satu hal yang menghalangiku untuk
berbuat begitu, yaitu aku tidak senang membuatmu bosan, dan sesungguhnya aku
akan memberikan nasihat (pelajaran) kepada kamu sebagaimana Nabi saw. (dalam
satu riwayat dari Abu Wa-il, ia berkata, “Kami menantikan Abdullah, tiba tiba
datanglah Zaid bin Muawiyah,[20] lalu kami berkata kepadanya, “Apakah Anda
tidak duduk?” Ia menjawab, “Tidak, tetapi saya akan masuk dan meminta sahabatmu
itu keluar kepadamu. Kalau tidak, maka saya akan duduk.” Lalu Abdullah keluar
sambil menggandeng tangannya, lalu ia berdiri menghadap kami seraya berkata,
“Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi tahu tentang keberadaanmu
(kedatanganmu), tetapi yang menghalangiku untuk keluar kepadamu ialah karena
Rasulullah saw. 7/169) biasa memberi kami nasihat pada beberapa hari tertentu
dalam seminggu karena khawatir (dan dalam satu riwayat: tidak suka) membuat
kami bosan.”
Bab Ke-14: Barangsiapa yang Dikehendaki Allah dalam kebaikan,
maka Allah Menjadikannya Pandai Agama
55. Humaid bin Abdur Rahman berkata, “Saya mendengar Mu’awiyah
sewaktu ia berkhotbah mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,
‘Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya
pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah
Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia memberi (pemahaman). Dan akan senantiasa ada
[dari 4/187] umat ini [suatu umat] yang menegakkan urusan Allah. Tidaklah
membahayakan mereka [orang yang meremehkan mereka (dan dalam satu riwayat:
orang yang mendustakan mereka 8/189) dan tidak pula] orang yang menentang
mereka (dan dalam satu riwayat: Dan urusan umat ini akan senantiasa lurus
sehingga datang hari kiamat atau 8/149) sehingga datang [kepada mereka] perintah
Allah [sedang mereka tetap pada yang demikian itu.’ Lalu Malik bin Tukhamir
berkata, ‘Mu’adz berkata, ‘Sedang mereka berada di negeri Syam.’ Kemudian
Mua’wiyah berkata, ‘Malik ini mengaku bahwa dia mendengar Mu’adz berkata,
‘Sedang mereka berada di negeri Syam.'”].
Bab Ke-15: Pemahaman dalam Hal Ilmu
(Saya berkata, “Dalam hal ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya hadits Ibnu Umar yang telah disebutkan di muka [4 – BAB].’)
Bab Ke-16: Berkeinginan Besar untuk Menjadi Orang yang Mempunyai
Ilmu dan Hikmah
Umar berkata, “Belajarlah ilmu agama yang mendalam sebelum kamu
dijadikan pemimpin”.[21]
Sahabat-sahabat Nabi saw. masih terus belajar pada waktu usia
mereka sudah lanjut
56. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Nabi saw bersabda, Tidak boleh
iri hati kecuali pada dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberi harta oleh
Allah lalu harta itu dikuasakan penggunaannya dalam kebenaran, dan seorang
laki-laki diberi hikmah oleh Allah di mana ia memutuskan perkara dan mengajar
dengannya.
Bab Ke-17: Mengenai apa yang disebutkan perihal kepergian Nabi
Musa a.s. di lautan untuk menemui Khidhir dan firman Allah, “Bolehkah aku
mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara
ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (al-Kahfi: 66)
57. Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, bahwa ia,
berselisih pendapat dengan Hurr bin Qais bin Hishin Al-Fazari perihal kawan
Nabi Musa yakni orang yang dicari Nabi Musa a.s.. Ibnu Abbas mengatakan bahwa
kawan yang dimaksud itu ialah Khidhir, sedangkan Hurr mengatakan bukan.
Kemudian lewatlah Ubay bin Ka’ab [al-Anshari 8/ 193] di depan mereka. Ibnu
Abbas lalu memanggilnya kemudian berkata, “Sesungguhnya aku berselisih pendapat
dengan sahabatku ini siapa kawan Musa yang olehnya ditanyakan mengenai jalan
untuk menuju tempatnya itu, agar dapat bertemu dengannya. Apakah kamu pernah
mendengar hal-ihwalnya yang kamu dengar sendiri dari Nabi saw?” Ubay bin Ka’ab
menjawab, “Ya, saya mendengar Rasulullah saw. [menyebut-nyebut hal-ihwalnya
1/27]. Beliau bersabda, ‘Ketika Musa duduk bersama beberapa orang Bani Israel,
[tiba-tiba seorang laki-laki datang dan bertanya kepadanya (Musa), ‘Adakah
seseorang yang lebih pandai daripada kamu?’ Musa menjawab, ‘Tidak.” Maka, Allah
menurunkan wahyu kepada Musa, “Ada, yaitu hamba Kami Khidhir.” Musa bertanya
kepada (Allah) bagaimana jalan ke sana (pada suatu riwayat : bagaimana cara
bertemu dengannya 1/8). Maka, Allah menjadikan ikan sebagai sebuah tanda
baginya dan dikatakan kepadanya, ‘Apabila ikan itu hilang darimu, maka
kembalilah (ke tempat di mana ikan itu hilang) karena engkau akan bertemu
dengannya (Khidhir). ‘Maka, Musa pun mengikuti jejak ikan laut. Murid Musa
berkata kepadanya, ‘Adakah kamu melihat kita berdiam yakni ketika beristirahat
di batu besar. Sesungguhnya aku terlupa kepada ikan hiu itu dan tiada yang
membuat aku lupa tentang hal itu, melainkan setan.’ Musa berkata, ‘Kalau
demikian, memang itulah tempat yang kita cari.’ Lalu keduanya kembali,
mengikuti jejak mereka semula. Kemudian mereka bertemu dengan Khidhir. Maka,
apa yang terjadi pada mereka selanjutnya telah diceritakan Allah Azza wa Jalla
di dalam Kitab-Nya.”
Bab Ke-18: Sabda Nabi saw., “Ya Allah, Ajarkanlah Al-Qur an
kepadanya.”
58. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. memelukku [ke
dadanya 4/ 217] dan bersabda, “Ya Allah, ajarkanlah Al-Qur’an kepadanya.” (Dan
dalam satu riwayat: al-hikmah. Al-hikmah ialah kebenaran di luar nubuwwah).
Bab Ke- 19: Kapankah Anak Kecil Boleh Mendengarkan Pengajian?
59. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Saya datang kepada orang yang
datang dengan naik keledai, pada saat itu saya hampir dewasa dan Rasulullah
saw. sedang [berdiri] shalat di Mina [pada waktu haji wada’ [22]] tanpa
dinding.[23] Saya melewati depan shaf [kemudian saya turun], dan saya
melepaskan keledai itu makan dan minum lalu saya masuk ke shaf. (Dan dalam satu
riwayat: Lalu saya berbaris bersama orang-orang di belakang Rasulullah saw.),
dan tidak ada seorang pun yang mengingkari hal itu atasku.”
Bab Ke-20: Pergi Menuntut Ilmu
Jabir bin Abdullah pergi selama sebulan kepada Abdullah bin Anis
mengenai sebuah hadits.[24]
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan pada dua bab sebelumnya.”)
Bab Ke-21: Keutamaan Orang yang Berilmu dan Mengajarkannya
60. Abu Musa mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Perumpamaan
apa yang diutuskan Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan
lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gembur yang dapat menerima
air (dan dalam riwayat yang mu’allaq disebutkan bahwa di antaranya ada bagian
yang dapat menerima air[25] ), lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak.
Daripadanya ada yang keras dapat menahan air dan dengannya Allah memberi
kemanfaatan kepada manusia lalu mereka minum, menyiram, dan bertani. Air hujan
itu mengenai kelompok lain yaitu tanah licin, tidak dapat menahan air dan tidak
dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang pandai tentang
agama Allah dan apa yang diutuskan kepadaku bermanfaat baginya. Ia pandai dan
mengajar. Juga perumpamaan orang yang tidak menghiraukan hal itu, dan ia tidak
mau menerima petunjuk Allah yang saya diutus dengannya.”
Bab Ke-22: Diangkatnya (Hilangnya) Ilmu dan Munculnya Kebodohan
Rabi’ah berkata, ‘Tidak boleh bagi seseorang yang memiliki
sesuatu lantas menyia-nyiakan dirinya.”[26]
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya hadits Anas yang akan disebutkan pada [67 – an-Nikah/111- BAB].”)
Bab Ke-23: Keutamaan Ilmu
61. Ibnu Umar berkala, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,
‘Ketika saya tidur didatangkan kepada saya segelas susu, lalu saya minum
[sebagiannya 8/79], sehingga saya melihat cairan [mengalir], keluar pada
kuku-kuku saya, (dan dalam satu riwayat: ujung-ujung jari saya 7/74). Kemudian
kelebihannya saya berikan kepada Umar ibnul Khaththab.’ Mereka berkata, ‘Engkau
takwilkan apakah, wahai Rasulullah? Beliau bersabda, ‘Ilmu.'”
Bab Ke-24: Memberikan Fatwa-Fatwa Agama ketika Menaiki Seekor
Binatang atau Berdiri di Atas Apa Saja
62. Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan bahwa Nabi saw. wukuf pada
haji Wada’ di Mina [beliau berkhotbah pada hari Nahar di atas untanya 2/191]
[pada saat melempar jumrah] kepada orang-orang. Mereka bertanya kepada beliau,
kemudian datanglah seorang laki-laki dan berkata, “[Wahai Rasulullah], saya
tidak mengetahui, lalu saya bercukur sebelum menyembelih.” Beliau bersabda,
“Sembelihlah dan tidak berdosa.” Orang lain datang dan berkata, “Saya tidak
tahu, saya menyembelih sebelum melempar (jumrah).” Beliau bersabda,
“Lemparkanlah (jumrah) dan tidak berdosa.” Nabi saw tidaklah ditanya [pada hari
itu 2/190] tentang sesuatu yang diajukan dan dikemudiankan kecuali beliau
bersabda, “Lakukanlah dan tidak berdosa.”
Bab Ke-25: Orang yang Menjawab fatwa dengan Isyarat Tangan dan
Kepala
63. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Ilmu
(tentang agama) akan dicabut, kebodohan dan fitnah-fitnah itu akan tampak, dan
banyak kegemparan.” Ditanyakan, “Apakah kegemparan itu, wahai Rasulullah?” Lalu
beliau berbuat (berisyarat) demikianlah dengan tangan beliau, lalu beliau merobohkannya,
seolah-olah beliau menghendaki pembunuhan.[27]
Bab Ke-26: Anjuran Nabi saw. kepada Tamu Abdul Qais agar
Memelihara Keimanan dan Ilmu, dan Memberitahukan kepada Orang-Orang yang di
Belakang Mereka
Malik bin al-Huwairits berkata, “Rasulullah saw bersabda kepada
kami, ‘Kembalilah kepada keluargamu, kemudian ajarilah mereka.'”[28]
(Saya berkata, “Dalam hal ini Imam Bukhari telah membawakan
hadits Ibnu Abbas dengan isnadnya sebagaimana yang disebutkan pada hadits nomor
40.”)
Bab Ke-27: Mengadakan Perjalanan untuk Mencari Jawaban terhadap
Masalah yang Benar-Benar Terjadi dan Mengajarkan kepada Keluarganya
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya hadits Uqbah bin al-Harits yang akan disebutkan pada [67-
anNikah/24-BAB].”)
Bab Ke-28: Saling Bergantian dalam Menuntut Ilmu
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya beberapa jalan dari hadits Umar yang akan disebutkan pada [46
al-Mazhalim/ 25 – BAB].”)
Bab Ke-29: Marah dalam Memberi Nasihat atau Mengajar, Ketika
Melihat Sesuatu yang Dibencinya
64. Abu Musa berkata, “Nabi saw. ditanya tentang sesuatu yang
tidak disukai oleh beliau. Ketika mereka banyak bertanya kepada beliau, maka
beliau marah. Kemudian beliau bersabda kepada orang-orang, “Tanyakanlah kepada
saya tentang sesuatu yang kamu kehendaki.” Seorang laki-laki berkata, “Siapakah
ayahku?” Beliau bersabda, “Ayahmu Hudzafah.” Orang lain berdiri dan bertanya,
“Siapakah ayahku, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ayahmu Salim, maula
‘mantan budak’ Syaibah.” Ketika Umar melihat apa yang terdapat pada wajah
beliau (yang berupa kemarahan), ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
kami bertobat kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.”
Bab Ke-30: Orang yang Berjongkok di Atas Kedua Lututnya di Depan
Imam atau Orang yang Memberi Keterangan
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya bagian dari hadits Anas yang akan disebutkan pada [97
At-Tauhid/4-BAB]”).
Bab Ke-31: Pengulangan Pembicaraan Seseorang Sebanyak Tiga Kali
dengan Maksud agar Orang Lain Mengerti
Ibnu Umar berkata, “Nabi saw. bersabda, ‘Apakah aku sudah
menyampaikan?’ (beliau ulangi tiga kali).”
65. Anas r.a. mengatakan bahwa apabila Nabi saw. mengatakan
suatu perkataan beliau mengulanginya tiga kali sehingga dimengerti. Apabila
beliau datang pada suatu kaum, maka beliau memberi salam kepada mereka tiga
kali.
Bab Ke-32: Seorang Lelaki Mengajar Hamba Sahayanya yang Wanita
dan Keluarganya
66. Abu Musa berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tiga
(golongan) mendapat dua pahala yaitu seorang Ahli Kitab yang beriman kepada
Nabinya kemudian beriman kepada Muhammad saw.; hamba sahaya apabila menunaikan
hak Allah Ta’ala dan hak tuannya (dan dalam suatu riwayat: hamba sahaya yang
beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan menunaikan kewajibannya terhadap
tuannya yang berupa hak, kesetiaan, dan ketaatan 3/142); dan seorang laki-laki
yang mempunyai budak wanita yang dididiknya secara baik serta diajarnya secara
baik (dan dalam satu riwayat: lalu dipenuhinya kebutuhan-kebutuhannya dan
diperlakukannya dengan baik 3/123), kemudian dimerdekakannya [kemudian
menentukan mas kawinnya 6/121][29] , lalu dikawininya, maka ia mendapat dua
pahala.”
Kemudian Amir[30] berkata, “Kami memberikannya kepadamu tanpa imbalan sesuatu pun. Sesungguhnya ia biasa dinaiki ke Madinah untuk keperluan lain.”
Kemudian Amir[30] berkata, “Kami memberikannya kepadamu tanpa imbalan sesuatu pun. Sesungguhnya ia biasa dinaiki ke Madinah untuk keperluan lain.”
Bab Ke-33: Imam Menasihati dan Mengajarkan Kaum Wanita
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan pada [12-Al-Idain / 19-BAB].”)
Bab Ke-34: Antusiasme terhadap Hadits
67. Abu Hurairah r.a. berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah
saw., ‘Wahai Rasullullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaat
engkau pada hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya saya telah
menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorang pun yang bertanya kepadaku
tentang hal ini terlebih dahulu daripada engkau, karena saya mengetahui
antusiasmu (keinginanmu yang keras) terhadap hadits. Orang yang paling bahagia
dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan, “LAA ILAAHA
ILLALLAH” ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah’, dengan tulus dari hati atau
jiwanya (dan dalam satu riwayat: dari arah jiwanya 7/204).”
Bab Ke-35: Bagaimana Dicabutnya Ilmu Agama
Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Abu Bakar Ibnu Hazm
sebagai berikut, “Perhatikanlah, apa yang berupa hadits Rasulullah saw. maka
tulislah, karena sesungguhnya aku khawatir ilmu agama tidak dipelajari lagi,
dan ulama akan wafat. Janganlah engkau terima sesuatu selain hadits Nabi saw..
Sebarluaskanlah ilmu dan ajarilah orang yang tidak mengerti sehingga dia
mengerti. Karena, ilmu itu tidak akan binasa (lenyap) kecuali kalau ia
dibiarkan rahasia (tersembunyi) pada seseorang.”
68. Dari Urwah, [dia berkata, “Kami diberi keterangan 8/148] Abdullah
bin Amr bin Ash, [maka saya mendengar dia] berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah
saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (agama) dengan
serta-merta dari hamba-hamba Nya. Tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan
(mematikan) ulama, sehingga Allah tidak menyisakan orang pandai. Maka, manusia
mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu, mereka ditanya, dan mereka
memberi fatwa tanpa ilmu. (Dan dalam satu riwayat: maka mereka memberi fatwa
dengan pikirannya sendiri). Maka, mereka sesat dan menyesatkan.”
Kemudian aku (Urwah) berkata kepada Aisyah istri Nabi saw., lalu Abdullah bin Amr memberi keterangan sesudah itu. Aisyah berkata, ‘Wahai anak saudara wanitaku! Pergilah kepada Abdullah, kemudian konfirmasikanlah kepadanya apa yang engkau ceritakan kepadaku itu.’ Lalu aku datang kepada Abdullah dan menanyakan kepadanya. Maka, dia menceritakan kepadaku apa yang sudah diceritakan kepadaku itu. Kemudian aku datang kepada Aisyah, lalu kuberitahukan kepadanya. maka dia merasa kagum. Ia berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya Abdullah bin Amr telah hafal.'” (8/148).
Kemudian aku (Urwah) berkata kepada Aisyah istri Nabi saw., lalu Abdullah bin Amr memberi keterangan sesudah itu. Aisyah berkata, ‘Wahai anak saudara wanitaku! Pergilah kepada Abdullah, kemudian konfirmasikanlah kepadanya apa yang engkau ceritakan kepadaku itu.’ Lalu aku datang kepada Abdullah dan menanyakan kepadanya. Maka, dia menceritakan kepadaku apa yang sudah diceritakan kepadaku itu. Kemudian aku datang kepada Aisyah, lalu kuberitahukan kepadanya. maka dia merasa kagum. Ia berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya Abdullah bin Amr telah hafal.'” (8/148).
Bab Ke-36: Apakah untuk Kaum Wanita Perlu Diberikan Giliran Hari
yang Tersendiri dalam Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Agama
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya hadits Abu Said al-Khudri yang akan disebutkan pada [96 –
Al-I’tisham/9 – BAB].”)
Bab Ke-37: Orang yang Mendengarkan Sesuatu Lalu Mengulanginya
Hingga Mengetahui Secara Sempurna
69. Ibnu Abi Mulaikah mengatakan bahwa Aisyah istri Nabi saw.
tidak pernah mendengar sesuatu yang tidak diketahuinya melainkan ia mengulangi
lagi sehingga ia mengetahuinya benar-benar (secara pasti). Nabi saw. bersabda,
“Barangsiapa yang dihisab, maka dia telah disiksa.” (Dalam satu riwayat: binasa
6/81). Aisyah berkata, “Lalu aku berkata, [“Biarlah Allah menjadikan aku
sebagai penebusmu, bukankah Allah Azza Wa Jalla berfirman, ‘[Adapun orang yang
diberikan kitabnya pada tangan kanannya], maka ia akan dihisab (diperhitungkan)
dengan perhitungan yang mudah?'” Lalu beliau bersabda, “Hal itu hanyalah suatu
kelapangan. Tetapi, barangsiapa yang diteliti betul perhitungannya, maka ia
akan binasa.” (Dan dalam satu riwayat: “Dan tidak ada seorang pun yang diteliti
betul hisabnya pada hari kiamat melainkan ia telah disiksa.” 7/198).
Bab Ke-38: Hendaklah Orang yang Hadir Menyampaikan Ilmu kepada
yang Tidak Hadir
Hal itu dikatakan oleh Ibnu Abbas dari Nabi saw.[31]
70. Abu Syuraih [al-Adawi 5/94] berkata kepada Amr bin Said
ketika ia mengirim pasukan ke Mekah, “Izinkanlah saya wahai Amir untuk
menyampaikan kepadamu suatu perkataan yang disabdakan Nabi saw. pada pagi hari
pembebasan (Mekah). Sabda beliau itu terdengar oleh kedua telinga saya, dan
hati saya memeliharanya, serta dua mata saya melihat ketika beliau
menyabdakannya. Beliau memuja Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau
bersabda, ‘Sesungguhnya Mekah itu dimuliakan oleh Allah Ta’ala dan manusia
tidak memuliakannya, maka tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah
dan hari akhir menumpahkan darah di Mekah, dan tidak halal menebang pepohonan
di sana. Jika seseorang memandang ada kemurahan (untuk berperang) berdasarkan
peperangan Rasulullah saw. di sana, maka katakanlah [kepadanya 2/213],
‘Sesungguhnya Allah telah mengizinkan bagi Rasul-Nya, tetapi tidak mengizinkan
bagimu, dan Allah hanya mengizinkan bagiku sesaat di suatu siang hari, kemudian
kembali kemuliaannya (diharamkannya) pada hari itu seperti haramnya kemarin.’
Orang yang hadir hendaklah menyampaikan kepada orang yang tidak hadir (gaib).’
Kemudian ditanyakan kepada Abu Syuraih, ‘Apakah yang dikatakan [kepadamu] oleh
Amr?” Dia menjawab, “Aku lebih mengetahui [tentang hal itu] daripada engkau,
wahai Abu Syuraih! Sesungguhnya Mekah (dalam satu riwayat: Tanah Haram) tidak
melindungi orang yang durhaka, orang yang lari karena kasus darah (membunuh),
dan orang yang lari karena merusak agama.”
Abu Abdillah berkata, “Al-khurbah ialah merusak agama.” (5/95)
Abu Abdillah berkata, “Al-khurbah ialah merusak agama.” (5/95)
Bab Ke-39: Dosa Orang yang Berdusta Atas Nama Nabi saw.
71. Ali r.a berkata, “Rasulullah saw bersabda, janganlah kamu
berdusta atas namaku. Karena, orang yang berdusta atas namaku, maka hendaklah
ia memasuki neraka.”
72, Dari Amir bin Abdullah ibnuz Zubair dari ayahnya, ia
berkata, “Saya berkata kepada az-Zubair, ‘Saya tidak pernah mendengar engkau
menceritakan suatu hadits yang engkau terima dari Rasulullah saw. sebagaimana
si Anu dan si Anu menceritakannya.’ Zubair berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya
saya ini tidak pernah berpisah dari beliau saw., tetapi saya pernah mendengar
beliau saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah ia
bersedia menempati tempat duduknya di neraka.'”
73. Anas berkata, “Sesungguhnya ada hal yang menghalang-halangi
aku untuk memberitakan hadits kepada kamu sekalian, yaitu karena Nabi saw.
bersabda, ‘Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersedia
menempati tempat duduknya di neraka.'”
74. Salamah bin Akwa’ r.a. berkata, “Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang berkata atas namaku akan sesuatu yang tidak
saya katakan, maka hendaklah ia bersedia menempati tempat duduknya di neraka.”
75. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda,
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia
bersedia menempati tempat duduknya di neraka.”
Bab Ke-40: Menulis Ilmu
76. Abu Hurairah mengatakan bahwa kabilah Khuza’ah membunuh
seorang laki-laki dari kabilah Laits pada tahun pembebasan Mekah. Karena,
adanya orang yang terbunuh yang dibunuh orang kabilah Khuza’ah [pada zaman
jahiliah 8/38]. Hal itu diberitahukan kepada Nabi saw., lalu beliau menaiki
kendaraannya dan berkhotbah [kepada orang banyak. Lalu beliau memuji Allah dan
menyanjung-Nya 3/94], kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah
menahan Mekah dari (serangan pasukan) gajah, dan Dia memberikan kekuasaan kepada
Rasulullah saw. serta orang-orang yang beriman atas mereka. Ketahuilah
sesungguhnya Mekah tidak halal bagi orang yang sebelumku dan tidak halal bagi
orang yang sesudahku. Ketahuilah sesungguhnya Mekah itu halal bagiku, sesaat
dari siang hari. Ketahuilah bahwa Mekah pada saatku itu haram, duri-durinya
tidak boleh dipotong, pohon-pohonnya tidak boleh ditebang, barang temuannya
tidak boleh diambil kecuali bagi orang yang mencari (pemiliknya). Barangsiapa
yang keluarganya terbunuh, maka menurut pandangan yang terbaik, adakalanya
pembunuhnya diikat dan adakalanya dibalas bunuh oleh keluarga si terbunuh.”
Seorang laki-laki dari penduduk Yaman [yang bernama Abu Syah] berkata, ‘Tuliskan untuk saya wahai Rasulullah!” Lalu beliau bersabda, ‘Tulislah untuk ayah Fulan.’ (Dan dalam satu riwayat: ‘Untuk Abu Syah.’) Seorang laki-laki dari suku Quraisy berkata, “Kecuali idzkhir ‘tumbuh-tumbuhan yang harum baunya’, wahai Rasulullah, karena idzkhir itu ditempatkan di rumah dan kuburan kami.” Lalu Nabi saw. bersabda, “Kecuali idzkhir.” [Saya bertanya kepada Al-Auza’i, “Apa yang dimaksud dengan perkataannya, ‘Tulislah untukku wahai Rasulullah’ itu?’ Al-Auza’i menjawab, ‘Khotbah yang didengarnya dari Rasulullah saw ini.'”].
Seorang laki-laki dari penduduk Yaman [yang bernama Abu Syah] berkata, ‘Tuliskan untuk saya wahai Rasulullah!” Lalu beliau bersabda, ‘Tulislah untuk ayah Fulan.’ (Dan dalam satu riwayat: ‘Untuk Abu Syah.’) Seorang laki-laki dari suku Quraisy berkata, “Kecuali idzkhir ‘tumbuh-tumbuhan yang harum baunya’, wahai Rasulullah, karena idzkhir itu ditempatkan di rumah dan kuburan kami.” Lalu Nabi saw. bersabda, “Kecuali idzkhir.” [Saya bertanya kepada Al-Auza’i, “Apa yang dimaksud dengan perkataannya, ‘Tulislah untukku wahai Rasulullah’ itu?’ Al-Auza’i menjawab, ‘Khotbah yang didengarnya dari Rasulullah saw ini.'”].
77. Abu Hurairah r .a. berkata, ‘Tiada seorang pun dari sahabat
Nabi saw yang lebih banyak dalam meriwayatkan hadits yang diterima dari beliau
saw daripada saya, melainkan apa yang didapat dari Abdullah bin Amr, sebab ia
mencatat hadits sedang saya tidak mencatatnya.”
Bab Ke-41: Ilmu dan Memberi Peringatan (Pengajian) pada Waktu
Malam
78. Ummu Salamah r.a. berkata, “Nabi saw pada suatu malam bangun
tidur (dengan terkejut 8/90), lalu beliau berkata, ‘Mahasuci Allah! (Dan pada
satu riwayat disebutkan: Dan beliau mengucapkan LAAILAAHAILLALLAAH 7/47) Fitnah
apakah yang diturunkan [Allah] pada malam ini? Dan, perbendaharaan (rahmat)
apakah yang dibuka? Bangunkanlah (dalam satu riwayat: Siapakah yang mau
membangunkan) para penghuni kamar [maksudnya istri-istrinya sehingga mereka
menunaikan shalat 7/ 123]. Banyak (dalam satu riwayat: wahai, banyaknya) orang
berpakaian di dunia namun telanjang di akhirat.'”
[Az-Zuhri berkata, “Hindun[32] mempunyai pakaian sejenis jubah yang kedua lengannya di antara jari jarinya.”]
[Az-Zuhri berkata, “Hindun[32] mempunyai pakaian sejenis jubah yang kedua lengannya di antara jari jarinya.”]
Bab Ke-42: Berbicara pada Waktu Malam Mengenai Ilmu
79. Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Rasulullah saw shalat isya
bersama kami pada akhir hidup beliau [yaitu pada waktu malam yang orang-orang
menyebutnya ‘atamah 1/141]. Setelah mengucapkan salam, maka beliau berdiri
[lalu menghadap kepada kami], lalu bersabda, ‘Bagaimana pendapatmu tentang
malammu ini? Sesungguhnya pada awal seratus tahun (yang akan datang) tidak ada
yang masih tinggal seorang pun dari orang yang [pada hari ini 1/149] ada di
atas permukaan bumi.” [Maka orang-orang pun ribut membicarakan sabda Rasulullah
saw itu. Mereka ramai membicarakan hadits-hadits tentang seratus tahun ini.
Sebenarnya Nabi saw. hanya bersabda, “Tidak akan tinggal (masih hidup) orang
yang pada hari ini (saat beliau bersabda itu) hidup di muka bumi.” Maksudnya
bahwa satu generasi itu akan berlalu (habis)].
Bab Ke-43: Menghapalkan Ilmu
80. Abu Hurairah r.a. berkata, “Saya hafal dari Nabi saw. dua
tempat. Adapun salah satu dari keduanya, maka saya siarkan (hadits itu) .
Seandainya yang lain saya siarkan, niscaya terputuslah tenggorokan ini.”[33]
Bab Ke-44: Memperhatikan Keterangan Ulama
81. Jarir bin Abdillah mengatakan bahwa Nabi saw bersabda
kepadanya pada waktu mengerjakan haji Wada’, “Diamkanlah manusia!” Lalu beliau
bersabda, “Sesudahku nanti janganlah kamu menjadi kafir, di mana sebagian kamu
memotong leher sebagian yang lain.”
Bab Ke-45: Apa yang Disunnahkan bagi Seorang Alim jika Ditanya,
“Manakah Manusia yang Terpandai”, agar Menyerahkan Perihal Ilmu Kepandaian Itu
kepada Allah
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
isnadnya hadits Ibnu Abbas yang panjang mengenai kisah Khidhir bersama Musa
yang tersebut pada [65 – At-Tafsir/ 18 – AsSurah/2 – BAB].”)
Bab Ke-46: Orang yang Bertanya Sambil Berdiri kepada Seorang
Alim yang Sedang Duduk
82. Abu Musa r.a. berkata, “Seorang laki-laki (dalam satu
riwayat: seorang Arab kampung 3/51) datang kepada Nabi saw., lalu bertanya,
‘Wahai Rasulullah, apakah berperang di jalan Allah itu? Karena salah seorang di
antara kami berperang karena marah dan ada yang berperang karena menjaga
gengsi. [Ada yang berperang karena hendak menunjukkan keberanian, dan ada yang
berperang karena ingin dipuji orang]. (Dan dalam satu riwayat disebutkan:
Seseorang berperang karena ingin mendapatkan harta rampasan, seseorang
berperang karena ingin mendapatkan popularitas, dan seseorang berperang karena
ingin diketahui kedudukannya, maka siapakah gerangan yang termasuk kategori fi
sabilillah?’ 3/206). Kemudian beliau bersabda sambil mengangkat kepalanya dan
tentunya beliau tidak perlu mengangkat kepala, melainkan karena orang yang
bertanya itu berdiri sedang beliau duduk. Lalu beliau menjawab, ‘Barangsiapa
yang berperang agar kalimah Allah menjadi yang tertinggi (menjunjung tinggi
agama Allah), maka dia di jalan Allah Azza wa Jalla.'”
Bab Ke-47: Bertanya dan Memberi Fatwa ketika Melontar Jumrah
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
sanadnya hadits Abdullah bin Amr yang sudah disebutkan pada nomor 62.”)
Bab Ke-48: Firman Allah Ta’ala, “Tidaklah Kamu Diberi
Pengetahuan Melainkan Sedikit.” (al-Israa’: 85)
83. Abdullah (bin Mas’ud) r.a. berkata, “Ketika saya berjalan
bersama Rasulullah saw. di [sebagian 8/198] reruntuhan (dalam satu riwayat:
kebun 5/228)[34] Madinah, sedang beliau bertelekan pada tongkat dari pelepah
kurma yang lurus dan halus yang beliau bawa, lewatlah sekelompok Yahudi. Lalu,
sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Tanyakanlah kepadanya
tentang ruh.’ [Lalu yang sebagian itu berkata, ‘Apa kepentingan kalian
kepadanya?’ 5/228], dan sebagian lagi dari mereka berkata, ‘Janganlah kamu
menanyakannya, agar ia tidak membawa sesuatu (dan dalam satu riwayat: Agar ia
tidak memperdengarkan kepadamu sesuatu 8/144) yang kamu benci.’ Sebagian dari
mereka berkata, ‘Sungguh kami akan bertanya kepadanya.’ [Lalu mereka berkata,
Tanyakanlah kepadanya!’] Kemudian seorang laki-laki dari mereka berdiri [kepada
beliau] dan berkata, ‘Wahai Abu Qasim, apakah ruh itu?’ Maka, [Nabi saw. diam,
tiada menjawab sama sekali]. Dan dalam satu riwayat: Maka beliau berdiri sesaat
memperhatikan), [sambil bertelekan atas pelepah kurma, sedang saya di belakang
beliau 8/188]. Maka, saya berkata, ‘Sesungguhnya beliau sedang diberi wahyu.’
[Saya mundur dari beliau sehingga wahyu selesai turun], lalu saya berdiri di
tempat saya. Ketika jelas hal itu, beliau membaca, “Yas-aluunaka’anir-ruuhi,
qulir-ruuhu min amri rabbii, wamaa uutuu minal-‘ilmi illaa qaliilaa” ‘Mereka
bertanya kapadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu adalah urusan Tuhanku.’ Dan
mereka tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit’. Al-A’masy berkata,
‘Demikianlah bacaan kami.'[35] [Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian
yang lain, Tadi sudah kami katakan, jangan tanyakan kepadanya!’].
Bab Ke-49: Orang yang Meninggalkan Sebagian Ikhtiar karena
Khawatir Sebagian Orang Tidak Memahaminya, Lalu Mereka Terjatuh ke Dalam
Sesuatu yang Lebih Berat
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan
sanadnya hadits Aisyah yang akan disebutkan pada [25 -Al Hajj/42 – BAB].”)
Bab Ke-50: Orang yang Mengkhususkan untuk Memberi Ilmu kepada
Suatu Kaum dan Tidak kepada Kaum Lain karena Khawatir Kaum Kedua Itu Tidak
Dapat Memahaminya
84. Ali r.a. berkata, “Hendaklah kamu menasihati orang lain
sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Adakah kamu semua senang sekiranya
Allah dan Rasul-Nya itu didustakan sebab kurangnya pengertian yang ada pada
mereka itu?”[36]
85. Qatadah mengatakan bahwa Anas bin Malik bercerita bahwa
Rasulullah saw. -dan Mu’adz sedang membonceng di atas kendaraan beliau-
bersabda, “Hai Muadz”. Ia menjawab, “Ya, wahai Rasulullah, kebahagiaan bagi
engkau.” Beliau bersabda, “Hai Mu’adz!” Ia menjawab, “Ya, wahai Rasulullah,
kebahagiaan bagi engkau.” (Ia mengucapkannya tiga kali) . Beliau bersabda,
‘Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan
Muhammad adalah utusan Allah dengan betul-betul dari hatinya kecuali orang
tersebut diharamkan oleh Allah dari neraka. “Mu’adz bertanya, “Wahai
Rasulullah, apakah saya tidak memberitahukan kepada manusia, agar mereka
bergembira?” Beliau bersabda, “Kalau begitu, mereka akan menyerah (tidak
berusaha apa-apa).” Mu’adz memberitahukannya ketika meninggal agar tidak
berdosa.
(Dan diriwayatkan dari jalan lain dari Anas, ia berkata, “Diceritakan kepadaku[37] bahwa Nabi saw. bersabda kepada Mu’adz, ‘Barangsiapa yang menghadap kepada Allah (meninggal dunia) sedang dia tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya, niscaya dia akan masuk surga.” Mu’adz bertanya, “Apakah tidak boleh saya sampaikan kabar gembira ini kepada orang banyak?” Beliau menjawab, “Jangan, saya khawatir mereka akan menyerah (tanpa berusaha [karena salah Paham])”[38]
(Dan diriwayatkan dari jalan lain dari Anas, ia berkata, “Diceritakan kepadaku[37] bahwa Nabi saw. bersabda kepada Mu’adz, ‘Barangsiapa yang menghadap kepada Allah (meninggal dunia) sedang dia tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya, niscaya dia akan masuk surga.” Mu’adz bertanya, “Apakah tidak boleh saya sampaikan kabar gembira ini kepada orang banyak?” Beliau menjawab, “Jangan, saya khawatir mereka akan menyerah (tanpa berusaha [karena salah Paham])”[38]
Bab Ke-51: Malu dalam Menuntut Ilmu
Mujahid berkata, “Pemalu dan orang sombong tidak akan dapat
mempelajari pengetahuan agama.”[39]
Aisyah berkata, “Sebaik-baik kaum wanita adalah kaum wanita sahabat Anshar. Mereka tidak dihalang-halangi rasa malu untuk mempelajari pengetahuan yang mendalam tentang agama.”[40]
Aisyah berkata, “Sebaik-baik kaum wanita adalah kaum wanita sahabat Anshar. Mereka tidak dihalang-halangi rasa malu untuk mempelajari pengetahuan yang mendalam tentang agama.”[40]
86. Ummu Salamah r.a. berkata, “Ummu Sulaim [istri Abu Thalhah
1/74] datang kepada Nabi saw lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya
Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi apabila mimpi
(bersetubuh)?’ Nabi saw. bersabda, ‘Ya, apabila wanita itu melihat air (mani).’
Lalu Ummu Sulaim menutup wajahnya (dan dalam satu riwayat: Maka Ummu Salamah
tertawa 4/102) dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah wanita itu mimpi
(bersetubuh)?’ Beliau bersabda, ‘Ya, berdebulah tanganmu (sial nian kamu),
dengan apakah anaknya dapat menyerupainya?”)
Bab Ke-52: Orang yang Malu Bertanya Lalu Menyuruh Orang Lain Menanyakannya
87. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Saya adalah seorang
laki-laki yang sering mengeluarkan madzi [tetapi aku malu untuk bertanya kepada
Rasulullah saw. 1/52]. Lalu saya menyuruh Miqdad bin Aswad untuk menanyakan
kepada Nabi saw. [karena kedudukan putri beliau 1/71]. Lalu ia bertanya, lantas
Nabi bersabda, ‘Padanya wajib wudhu.'” (Dan dalam satu riwayat: “Berwudhulah
dan cucilah kemaluanmu” 1/71).
Bab Ke-53: Menyebutkan Ilmu dan Fatwa di Dalam Masjid
88. Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa seorang laki-laki
berdiri di masjid lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, dari manakah engkau
menyuruh kami untuk mengeraskan suara talbiah ketika ihram?” Rasulullah saw
bersabda, “Penduduk Madinah mengeraskan suara talbiah dari Dzull Hulaifah,
penduduk Syam mengeraskan suara talbiah dari [Mahya’ah, yaitu 2/142] Juhfah,
dan penduduk Najd mengeraskan suara talbiah dari Qarn.” (Dan dari jalan Zaid
bin Jubair, bahwa ia datang kepada Abdullah bin Umar, sedang Abdullah mempunyai
kemah dan tenda. Lalu aku bertanya kepadanya, “Dari manakah saya boleh memulai
umrah?” Dia menjawab, “Rasulullah saw. menentukannya bagi penduduk Najd di
Qarn.” Dan dia menyebutkan hadits yang serupa itu 2/141). Ibnu Umar berkata,
“Manusia menduga bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Penduduk Yaman mengeraskan
suara talbiah dari Yalamlam.”‘ Ibnu Umar berkata, “Dan saya tidak tahu (dan
pada satu riwayat saya tidak mendengar 2/143) ini dari Rasulullah saw.” [Dan
disebutkan tentang Irak, lalu dia menjawab, “Pada waktu itu Irak belum menjadi
miqat.” 8/155][41]
Bab Ke-54: Orang yang Menjawab Si Penanya Lebih dari yang
Ditanyakan
89. Ibnu Umar dari Nabi saw. mengatakan bahwa seseorang bertanya
kepada beliau, “Apakah [pakaian 7/36] yang dipakai oleh orang ihram?” Beliau
bersabda, “Ia tidak boleh mengenakan (dan dalam satu riwayat: Janganlah kamu
memakai 2/214) baju kurung, serban, jubah berpeci, dan kain yang dicelup wenter
atau zafaran. [Dan jangan memakai khuf ‘sepatu tinggi penutup kakinya’],
[kecuali jika ia tidak mendapatkan sandal 2/145]. Jika ia tidak mendapatkan
sandal, maka hendaklah menggunakan khuf dan agar dipotong sampai di bawah mata
kaki. [Dan janganlah wanita yang sedang ihram memakai penutup wajah dan jangan
pula memakai kaos tangan].”
Ubaidullah berkata, “Jangan memakai pakaian yang dicelup waras
(wenter). Dan dia pernah berkata, ‘Wanita yang sedang ihram tidak boleh memakai
cadar (penutup wajah), dan tidak boleh memakai kaos tangan.'”[42]
Malik berkata dari Nafi’ dari Ibnu Umar, “Wanita yang sedang
ihram tidak boleh memakai cadar.”[43]
Catatan Kaki:
[1] Di dalam riwayat Karimah dan al-Ashili disebutkan,
“Al-Humaidi berkata, ‘Demikian pula yang disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam
Al-Mustakhraj. Maka riwayat ini muttashil.'”
[2] Ini adalah bagian dari hadits yang populer mengenai
penciptaan janin, dan akan disebutkan secara maushul pada (60 -Ahaadiistul
Anbiyaa’ / 2 – BAB).
[3] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam Al-Janaiz (2/69) dan
At-Tafsir (5/153), tetapi tidak disebutkan secara eksplisit dari Abdullah Ibnu
Mas’ud bahwa ia mendengar dari Nabi saw., berbeda dengan kesan yang diperoleh
dari perkataan al-Hafizh di sini. Sesungguhnya yang me-maushul-kannya dengan
menyebutkan ia mendengar itu adalah Imam Muslim dalam Al-Iman di dalam
riwayatnya, dan akan disebutkan hadits ini pada (23 – Al-Janaiz / 1 – BAB)
dengan izin Allah Ta’ala.
[4] Ini adalah bagian dari hadits yang diamushulkan oleh
penyusun dalam (81 – Ar-Riqaq / l4 – BAB).
[5] Ini adalah potongan dari sebuah hadits yang di-maushul-kan
oleh penyusun pada (60-Ahaadiistul Anbiya’ / 25 – BAB ).
[6] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam (17 – At-Tauhid / 50- BAB
).
[7] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam (30 – Ash-Shaum / 9 – BAB
).
[8] Di-maushul-kan oleh penyusun dari mereka dalam bab ini.
[9] Yaitu Abu Sa’id al-Haddad.
[10] Hadits ini di-maushul-kan oleh penyusun dalam bab ini dari
hadits Anas, tetapi di situ tidak disebutkan bahwa Dhimam memberitahukan hal
itu kepada kaumnya. Pemberitahuan Dhimam kepada kaumnya itu hanya disebutkan
dalam hadits dari riwayat Ibnu Abbas, yang diriwayatkan secara lengkap oleh
ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/165 – 167) dan Ahmad (1/264), dan sanadnya
hasan.
[11] Ini adalah bagian dari hadits panjang yang diriwayatkan
secara maushul dengan lengkap pada (66 – Fahaailul Qur’an / 1- BAB).
[12] Atsar Ibnu Umar di-maushul-kan oleh Ibnu Mandah di dalam
Kitab al-Washiyyah dengan sanad sahih dari Abu Abdur Rahman al-Habli, dari
Abdullah yang hampir sama dengan itu. Maka, boleh jadi (yang dimaksud) Abdullah
ini adalah Abdullah bin Umar, karena al-Habli mendengar darinya; dan boleh jadi
(yang dimaksud) dia adalah Abdullah bin Amr, karena al-Habli terkenal
meriwayatkan darinya. Sedangkan atsar Yahya bin Said dan Malik Ibnu Anas
di-maushul-kan oleh al-Hakim di dalam ‘Ulumul Hadits (hlm. 259) dengan isnad
yang bagus.
[13] Riwayat ini dimaushulkan oleh Ibnu Ishaq dari Urwah bin
Zubeir secara mursal, dan ath-Thabari dalam Tafsirnya dari hadits Jundub
al-Bajali dengan sanad hasan sebagaimana disebutkan dalam Al-Fath, dan dia
berkata, “Maka, dengan jalan sebanyak ini jadilah riwayat ini shahih.”
[14] Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Dawud dan lainnya dari Abud Darda’ secara marju’. Hadits ini memiliki beberapa
syahid (pendukung) yang menjadikannya kuat sebagaimana dikatakan oleh
al-Hafizh. Dan, hadits ini ditakhrij dalam At-Ta’liqur Raghib 1/53.
[15] Ini juga bagian dari hadits tersebut, dan bagian ini
diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah, juga
diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Al-Ilm 25 dengan tahqiq saya.
[16] Imam Bukhari me-maushul-kan hadits ini pada dua bab lagi
dari hadits Muawiyah.
[17] Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Khaitsamah (114) dengan sanad sahih dari Abud Darda’ secara marfu’, dan
diriwayatkan oleh lainnya secara marfu’. Ia memiliki dua syahid dari hadits
Muawiyah. Saya telah mentakhrij hadits ini dalam Al-Ahaditsush Shahihah 342.
[18] Di-maushul-kan oleh ad-Darimi dan Abu Nu’aim dalam
Al-Hilyah.
[19] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Ashim dengan sanad hasan, dan
al-Khathib dengan sanad lain yang sahih.
[20] Yaitu an-Nakha’i sebagaimana dalam riwayat Muslim.
[21] Di-maushul-kan oleh Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu (9) dengan
sanad shahih. Demikian pula Ibnu Abi Syaibah.
[22] Tambahan ini disebutkan secara mu’allaq oleh Imam Bukhari,
tetapi diriwayatkan secara maushul oleh Imam Muslim. Mudah-mudahan Allah Ta’ala
merahmati mereka.
[23] Yakni tanpa penutup, dan makna ini dikuatkan oleh riwayat
al-Bazzar dengan lafal, “Dan Nabi saw. melakukan shalat wajib tanpa ada sesuatu
pun yang menutupnya (menabirinya).” Demikian disebutkan dalam Al-Fath.
[24] Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh
penyusun (Imam Bukhari) dalam Al-Adabul Mufrad, Imam Ahmad, dan Abu Ya’la
dengan sanad hasan. Ia meriwayatkan sebagian yang lain secara mu’allaq pada (97
– At-Tauhid/32 – BAB).
[25] Al-Hafizh tidak mentakhrijnya, dan tampaknya lafal ini
mengalami perubahan, dan yang benar adalah yang pertama, yaitu qabilat.
[26] Di-maushul-kan oleh al-Jhathib dalam Al-Jami’ dan
al-Baihaqi dalarn Al-Madkhal.
[27] Saya katakan, “Di dalam kitab asal, sesudah ini terdapat
hadits Asma’ yang menyatakan isyarat dengan kepala di dalam shalat, dan akan
disebutkan pada (4 -Al-Wudhu/38-BAB)”.
[28] Imam Bukhari me-maushul-kannya dalam beberapa tempat, dan
akan disebutkan pada (95-Khabarul Wahid/ 1-BAB).
[29] Tambahan ini diriwayatkan secara mu’allaq oleh penyusun
(Imam Bukhari), dan di-maushul-kan oleh Ahmad dan lainnya. Tambahan ini adalah
ganjil dan tidak sah menurut penelitian saya, sebagaimana saya jelaskan dalam
Adh-Dha’ifah nomor 3364.
[30] Saya katakan bahwa Amir ini adalah asy-Sya’bi yang
meriwayatkan hadits ini dari Abi Burdah dari ayahnya, yakni Abu Musa
al-Asy’ari. Ia mengucapkan perkataan ini kepada orang yang meriwayatkan
darinya, yaitu Shalih bin Hayyan.
[31] Ini adalah bagian dari hadits Ibnu Abbas, Insya Allah akan
disebutkan aecara maushul pada (25 – Al-Hajj / 132 – BAB).
[32] Yaitu Hindun binti al-Harits al-Farasiyah yang meriwayatkan
hadits ini dari Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha.
[33] Al-Hafizh berkata, “Para ulama menafsirkan tempat (bejana)
yang tidak disebarkan oleh Abu Hurairah hadits-hadits yang di dalamnya itu
berisi tentang pemerintahan yang buruk, perihal mereka, dan zaman mereka. Abu
Hurairah menyindir sebagiannya dan tidak menjelaskannya secara transparan karena
takut atas keselamatan dirinya dari tindakan mereka, seperti perkataannya, “Aku
berlindung kepada Allah dari permulaan tahun enam puluh dan dari pemerintahan
anak-anak.” Ucapannya ini mengisyaratkan kepada pemerintahan Yazid bin Muawiyah
yang memerintahkan pada permulaan tahun enam puluhan hijriyah, dan Allah telah
mengabulkan doa Abu Hurairah ini dengan mewafatkannya satu tahun sebelum masa
pemerintahan Yazid. Kemudian dia menolak pandangan golongan tasawuf ekstrem
yang menjadikan hadits ini sebagai jalan untuk membenarkan perkataan mereka
yang batil, “Sesungguhnya syariat itu ada yang lahir dan ada yang bathin.”
Silakan periksa, jika Anda menghendaki!
[34] Al-Hafizh berkata, “Inilah yang lebih tepat, karena lafal
ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari jalan lain dari Ibnu Mas’ud dengan lafal
khana fi nakhal.”
[35] Saya katakan, “Bacaan ini tidak bertentangan dengan bacaan
yang sudah populer dan mutawatir yaitu “Wa maa uutiitum”, sebagaimana sudah
tidak samar lagi.”
[36] Saya katakan, “Bentuk riwayat ini seperti riwayat mu’allaq.
Akan tetapi, sesudahnya dibawakannya isnadnya hingga kepada Ali radhiyallahu
‘anhu, sehingga dengan demikian riwayat ini maushul.”
[37] Al-Hafizh berkata, “Anas tidak menyebutkan siapa yang
bercerita kepadanya tentang hal itu pada semua jalan yang saya teliti.” Saya
(Al-Albani) berkata, “Ini adalah suatu hal yang mengherankan dari beliau
(al-Hafizh), karena hadits ini diriwayatkan oleh Qatadah dari Anas, padahal ia
mengatakan pada riwayat Ahmad (5/242) dari Qatadah dari Anas bahwa Mu’adz bin
Jabal menceritakan kepadanya. Dan diikuti oleh Abu Sufyan dari Anas, ia
berkata, “Mu’adz datang kepada kami, lalu kami berkata, ‘Ceritakanlah kepada
kami sebagian dari hadits-hadits yang unik dari Rasulullah saw..’ Mu’adz
menjawab, ‘Ya, saya pernah membonceng Rasulullah saw. di atas keledai, lalu
beliau bersabda, “Wahai Mu’adz …. dst” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5/228 dan
236), dan isnadnya sahih. Lebih mengherankan lagi bahwa al-Hafizh tidak
membawakannya di sini padahal penyusun (Imam Bukhari) sendiri meriwayatkannya
pada [81-Ar-Riqaq/ 36 – BAB] dari jalan pertama dari Qatadah: Anas bin Malik
menceritakan kepada kami dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata …. Lalu Anas
menyebutkannya. Oleh karena itu, saya menganggap boleh saya mengulangnya di sana
karena di sini dari Musnad Anas, dan di sana dari Musnad Mu’adz. Memang, kalau
al-Hafizh membuat komentar ini pada akhir hadits dari jalan yang pertama,
niscaya tidak ada kesamaran. Karena, Anas berada di Madinah ketika Mu’adz
meninggal di Syam, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh sendiri, tetapi beliau
menempatkannya bukan pada tempatnya.”
[38] Diriwayatkan oleh Muslim (1/45). Dan dia (Imam Muslim)
meriwayatkannya pula dari Abu Hurairah dan Ubadah bin Shamit (1/43)
[39] Di-maushul-kan oleh Abu Nua’im dalam Al-Hilyah dengan sanad
sahih.
[40] Di-maushul-kan oleh Muslim (1/180) dengan sanad hasan.
[41] Terdapat riwayat yang sah mengenai penetapan Dzatu Irqin
sebagai miqat bagi penduduk Irak dari riwayat Ibnu Umar dari sahabat-sahabat
Nabi saw. Silakan Anda periksa buku saya Hajjatun Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi
wasallam halaman 52, terbitan al-Maktabul-Islami.
[42] Di-maushul-kan oleh Ishaq Ibnu Rahawaih dan Ibnu Khuzaimah
dari beberapa jalan dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Lalu ia
bawakan hadits itu hingga perkataan, “Dan waras atau zafaran.” Dia berkata,
“Dan Abdullah yakni Ibnu Umar berkata ….” Lalu disebutkannya secara mauquf pada
Ibnu Umar.
[43] Riwayat ini terdapat di dalam Al-Muwaththa’
1/305. Penyusun bermaksud bahwa Imam Malik membatasi hadits pada kalimat ini
saja secara mauquf pada Ibnu Umar. Hal itu untuk menguatkan riwayat Ubaidullah
yang mu’allaq, yang menerangkan bahwa kalimat ini adalah disisipkan di dalam
hadits tersebut, dan kalimat itu darl perkataan Ibnu Umar. Inilah yang
dikuatkan oleh al-Hafizh dalam Al-Fath yang berbeda dengan penyusun (Imam
Bukhari), karena al-Hafizh menguatkan ke-marfu’-an hadits ini sebagaimana saya
jelaskan dalam Al-Irwa’ (1011).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar