Kendati telah
wafat sejak sekitar 77 tahun silam, keberadaannya terasa di Kampung Babussalam,
Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara. Peziarah mengalir ke makamnya di kampung
yang didirikannya. Syekh Abdul Wahab Rokan memang dikenal sebagai ulama ternama
di Sumaera.
Lahir pada 19
Rabiul Akhir 1230 H (28 September 1811) di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang
Sakti, Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kab. Rokan hulu, Riau, Wahab tumbuh di
lingkungan keluarga yang menjunjung agamanya. Nenek buyutnya, H Abdullah
Tembusai, dikenal sebagai alim ulama besar yang disegani.
Salah seorang
putra Abdullah Tembusai, bernama M Yasin menikah dengan Intan. Buah perkawinan
itu melahirkan di antaranya Abdul Manap. Putra tertuanya ini, kemudian menikah
dan melahirkan Syekh Wahab Rokan.
Dengan titisan
darah demikian, Wahab sejak kecil terdidik, terutama untuk pelajaran agama.
Demi menghapal AlQuran, Wahab kecil tak jarang bermalam, di rumah gurunya. Ia
pun patuh pada guru, bahkan kerap mencucikan pakaian orang yang mendidiknya
itu.
Keistimewaan
telah tampak sejak Wahab masih bocah. Suatu ketika, saat orang terlelap pada
dinihari, Wahab masih menekuni AlQuran. Mendadak muncul seorang tua
mengajarinya membaca aLQuran. Setelah rampung satu khatam, orang tua itu
menghilang.
Kesalihannya ini
tak jarang mengalami godaan. Saat ia melanjutkan pendidikan di Tembusai,
seorang wanita menggodanya, bahkan mengunci pintu tempat Wahab berada. Wahab
terus melantunkan doa sehingga terlepas dari jebakan wanita yang tergila-gila padanya.
Begitu pun, suatu ketika saat mandi di sungai, seorang gadis melarikan
sarungnya.
Godaan itu tak
membuat imannya meleleh. Bahkan, ia kian kukuh mendalami ilmu agama. Setelah
dari Tambusai, ia pun ke Malaysia, untuk mendalami ilmu agama kepada Syekh H M
Yusuf asal Minangkabau. Wahab yang tumbuh menjadi pemuda berdagang untuk
menopang kehidupannya. Menariknya, berkat kesalihannya, ia menyuruh pembeli
menimbang sendiri barang yang dibeli. Ini demi menghindarkan kecurangan.
Melanjutkan
pendidikan ke MAkkah, ia belajar kepada beberapa guru, di antaranya Zaini
Dahlan (mufti mazhab Syafii), Syekh Zainuddin Rawa. Terakhir, ia mendalami ilmu
tarEkat kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di puncak Jabal Abi Kubis. Sulaiman Zuhdi
dikenal sebagai penganut tarEkat Naqsyabandiah.
Menyimak
ketekunan muridnya, suatu ketika Sulaiman Zuhdi, resmi mengangkat Wahab sebagai
khalifah besar. Penabalan itu diiringi dengan bai’ah dan pemberian silsilah
tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Nabi Muhammad SAW hingga kepada
Sulaiman Zuhdi yang kemudian diteruskan kepada Wahab. Ijazahnya ditandai dengan
dua cap. Ia pun mendapat gelar Al Khalidi Naqsyabandi.
Setelah kurang
lebih enam tahun di MAkkah, ia kembali ke Riau. Di sana, ia yang saat itu
berusia 58, mendirikan Kampung Mesjid. Dari sana, ia mengembangkan syiar agama
dan tarEkat yang dianutnya, hingga Sumatra Utara dan Malaysia. Namanya pun
semerbak. Raja di berbagai kerajaan di Riau dan Sumatra Utara mengundangnya.
Suatu ketika,
Sultan Musa Al-Muazzamsyah dari Kerajaan Langkat, gundah. Putranya sakit parah
dan akhirnya wafat. Rasa kehilangan ini tak terperikan. Syekh HM Nur yang —
sahabat karib Wahab saat di MAkkah — menjadi pemuka agama di kerajaan,
menyarankan agar Sultan bersuluk di bawah bimbingan Wahab. Sultan menyetujui
dan mengundang Wahab.
Wahab pun datang
ke Langkat. Ia mengajarkan tarEkat Naqsyahbandi dan bersuluk kepada Sultan.
Setelah berulang bersuluk, Sultan Musa — yang belakangan melepaskan tahtanya
dan memilih menekuni agama — memenuhi saran Wahab, menunaikan ibadah haji,
sekaligus bersuluk kepada Sulaiman Zuhdi di Jabal Kubis.
Berkat kekariban
hubungan guru-murid, Sultan Musa menyerahkan sebidang tanah di tepi Sungai
Batang Serangan, sekitar 1 km dari Tanjung Pura. Sultan berharap gurunya dapat
mengembangkan syiar agama dari tanah pemberiannya. Wahab menyetujui dan
menamakan kampung itu Babussalam (pintu keselamatan). Maka pada 15 Syawal 1300
H, ia bersama ratusan pengikutnya, menetap di sana.
Babussalam
berkembang menjadi kampung dengan otonomi khusus. Menjadi basis pengembangan
tarEkat Naqsyahbandiyah di Sumatra Utara, Wahab membentuk ‘pemerintahan’
sendiri di kampung itu. Perangkatnya antara lain dengan membuat Lembaga
Permusyawaratan Rakyat (Babul Funun).
Hingga kini,
kampung itu terjaga sebagai pusat pengembangan tarekat Naqsyahbandiyah. Tetap
mendapatkan perlakuan khusus dari Pemda setempat, aktivitas sehari-hari —
ditandai dengan kegiatan suluk setiap hari — dipimpin khalifah. Saat ini
khalifah kesepuluh Syekh H Hasyim yang memimpin.
Kendati terjalin
erat, hubungan Wahab dan Sultan, tak berarti selalu harmonis. Bahkan antara
keduanya sempat renggang, saat Wahab difitnah membuat uang palsu. Akibatnya,
Sultan memerintahkan penggeledahan ke rumah Wahab. Kendati tak terbukti, bahkan
saling memaafkan, Wahab seusai peristiwa itu pindah ke Malaysia. Kepindahannya
ini kabarnya menyebabkan sumur minyak di Pangkalan Brandan surut
penghasilannya.
Begitu pun,
suatu kali penjajah Belanda ‘menekan’ Sultan. Dalihnya, berbekal potret Wahab,
ditengarai Tuan Guru Babussalam — demikian panggilan kehormatannya — turut
bertempur membantu pejuang Aceh melawan Belanda. Padahal, pada saat bersamaan,
pengikutnya menegaskan Tuan Guru berdzikir di kamarnya.
Kembali ke
Babussalam, setelah terharu menyaksikan kampung yang dibangunnya menyepi, Tuan
Guru menetap di Babussalam. Bersama pengikutnya, ia kembali membangun
Babussalam. Tak sekadar berkembang pesat, Tuan Guru bersama Babussalam tumbuh
disegani. Tak ayal, Belanda berusaha menjinakkannya.
Maka pada 1
Jumadil Akhir 1241 H, Asisten Residen Van Aken, menyematkan bintang kehormatan
kepadanya. Kendati demikian, tak berarti Tuan Guru, terpedaya. Bahkan, di saat
prosesi penyematan, Tuan Guru dalam sambutan meminta Van Aken menyampaikan
kepada Raja Belanda untuk masuk Islam. Menilai pemberian bintang itu sindiran,
ia meminta pengikutnya lebih giat. Bintang kehormatan itu pun kemudian
diserahkan kepada Sultan Langkat.
Kendati dikenal
sebagai pemuka agama, tak berarti Tuan Guru tak memiliki kepedulian pada
politik. Ia mengutus anaknya untuk menemui HOS Cokroaminoto pada 1913.
Tujuannya untuk membicarakan pembukaan cabang Sarekat Islam di Babussalam. Tak
lama kemudian, SI pun berdiri di kampung yang dipimpinnya.
Tuan Guru wafat
di usia 115, pada 21 Jumadil Awal 1345 H (27 Desember 1926), meninggalkan 4
istri, 26 anak, dan puluhan cucu. Hingga kini, setiap peringatan hari wafat
(haul), dirayakan besar-besaran. Ratusan pengikutnya yang memegang tarekat
Naqsyahbandiah dari berbagai kota di Sumatra hingga Malaysia, dan Thailand
hadir.
Silaturahmi di
Negeri Seribuk Suluk
Para zurriyat,
khalifah dan jamaah Babussalam terserak di dalam maupun luar negeri. Akibatnya
silaturahmi menjadi longgar. Demi mengikat silahturahmi Ikatan Keluarga
Babussalam Langkat menyelenggarakan silaturrahmi nasional (silatnas).
Berlangsung
mulai 18 hingga 20 Oktober mendatang, silatnas diadakan di kampung kelahiran
Syekh Abd Wahab Rokan, di Rantau Binuang Sakti yang dijuluki ‘Negeri Seribu
Suluk’. Acaranya selain tabliqh akbar, haflah Alquran, juga istighasah Tareqat
Naqsyabandiyah. Di hari terakhir (20/10), silatnas ditutup dengan ziarah ke
makam ibu dan Syekh Abd Wahad dan ke makan Syekh Zainuddin. Kemudian diikuti
ramah
Nama lengkapnya
adalah Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari. Ia
lahir di Qasrel Arifan, sebuah desa di kawasan Bukhara, Asia Tengah, pada bulan
Muharram tahun 717 H/1317 M. Nasabnya bersambung kepada Rasulullah SAW melalui
Sayyidina Al-Husain RA. Semua keturunan Al-Husain di Asia Tengah dan anak benua
India lazim diberi gelar shah, sedangkan keturunan Al-Hasan biasa dikenal
dengan gelar zadah dari kata bahasa Arab saadah (bentuk plural dari kata sayyid)
sesuai dengan sabda Rasulullah SAW tentang Al-Hasan RA, ”Sesungguhnya anakku
ini adalah seorang sayyid.” Shah Naqshaband diberi gelar Bahauddin karena
berhasil menonjolkan sikap beragama yang lurus, tetapi tidak kering. Kemudian,
sikap beragama yang benar, tetapi penuh penghayatan yang indah.
Pada masanya,
tradisi keagamaan Islam di Asia Tengah berada di bawah bimbingan para guru
besar sufi yang dikenal sebagai khwajakan (bentuk plural dari ‘khwaja’ atau
‘khoja’ dalam bahasa Persia berarti para kiai agung). Dan, pembesar mereka
adalah Khoja Baba Sammasi yang ketika Muhammad Bahauddin lahir, ia melihat
cahaya menyemburat dari arah Qasrel Arifan, yaitu saat Sammasi mengunjungi desa
sebelah.
Sammasi lalu
memberitahukan bahwa dari desa itu akan muncul seorang wali agung. Sekitar 18
tahun kemudian, Khoja Baba Sammasi memanggil kakek Bahauddin agar membawanya ke
hadapan dirinya dan langsung dibaiat. Ia lalu mengangkat Bahauddin sebagai
putranya.
Sebelum
meninggal dunia, Baba Sammasi memberi wasiat kepada penggantinya, Sayyid Amir
Kulali, agar mendidik Bahauddin meniti suluk sufi sampai ke puncaknya seraya
menegaskan, “Semua ilmu dan pencerahan spiritual yang telah kuberikan menjadi
tidak halal bagimu kalau kamu lalai melaksanakan wasiat ini!”
Meniti jalan
spiritual
Bahauddin pun berangkat ke kediaman Sayyid Amir Kulali di Nasaf dengan membawa bekal dasar yang telah diberikan oleh Baba Sammasi. Sammasi menyatakan jalan tasawuf dimulai dengan menjaga kesopanan tindak-tanduk dan perasaan hati agar tidak lancang kepada Allah, Rasulullah, dan guru.
Bahauddin pun berangkat ke kediaman Sayyid Amir Kulali di Nasaf dengan membawa bekal dasar yang telah diberikan oleh Baba Sammasi. Sammasi menyatakan jalan tasawuf dimulai dengan menjaga kesopanan tindak-tanduk dan perasaan hati agar tidak lancang kepada Allah, Rasulullah, dan guru.
Bahauddin juga
percaya bahwa sebuah jalan spiritual hanya bisa mengantarkan tujuan kalau
dilalui dengan sikap rendah hati dan penuh konsistensi. Karena itu, melakukan
makna eksplisit dari sebuah perintah barangkali harus diundurkan demi menjaga
kesantunan.
Inilah yang
dilakukan oleh Bahauddin ketika dihentikan oleh seorang lelaki berkuda yang
memerintahkan dirinya agar berguru pada orang tersebut. Dengan tegas, tetapi
sopan; ia menolak seraya menyatakan bahwa dia tahu siapa lelaki itu. Masalah
berguru kepada seorang tokoh adalah persoalan jodoh; meskipun lelaki berkuda
tadi sangat mumpuni, ia tidak berjodoh dengan Bahauddin.
Setelah tiba di
hadapan Sayyid Amir Kulali, Bahauddin langsung ditanya mengapa menolak perintah
lelaki berkuda yang sebenarnya adalah Nabi Khidir AS? Beliau menjawab, “Karena,
hamba diperintahkan untuk berguru kepada Anda semata!”
Di bawah asuhan
Amir Kulali, Bahauddin mengalami berbagai peristiwa yang mencengangkan. Di
antaranya, beliau pernah ditangkap oleh dua orang tak dikenal dan dikirimkan ke
makam seorang wali. Di sana, dia mendapatkan lentera yang minyaknya masih
banyak dan sumbunya juga masih panjang, tetapi apinya hampir padam.
Bahauddin
mendapat ilham untuk menggerakkan sedikit sumbu itu agar aliran bahan bakar
menjadi lancar. Dengan khusyuk, ia melakukannya, tahu-tahu sekat pembatas
antara dunia nyata dan alam barzakh terbuka di hadapan beliau. Di balik tabir
ruang dan waktu itu, Bahauddin mendapatkan semua mahaguru khawajakan yang sudah
meninggal dunia, termasuk guru pertamanya, Khoja Baba Sammasi.
Oleh salah
seorang guru mereka, Bahauddin dihadapkan kepada kepala aliran khawajakan,
yaitu Khoja Abdul Khaliq Gujdawani. Dari mahaguru yang agung ini, Bahauddin
mendapatkan bimbingan langsung dalam meniti suluk sufi. Sejak saat itu,
Bahauddin dikenal dengan gelar Al-Uwaysi karena mendapatkan pelajaran spiritual
langsung dari seorang guru yang sudah meninggal dan tidak pernah ditemuinya di
dunia. Hal ini sama dengan Uways Al-Qarny, seorang tabiin yang mendapatkan
pelajaran spiritual langsung dari roh Sayyidina Rasulillah SAW.
Di bawah
bimbingan Amir Kulali pula, Bahauddin terus mempraktikkan semua ajaran Abdul
Khaliq Gujdawani, sebagaimana beliau juga mempelajari dengan tekun ilmu-ilmu
Islam lainnya, khususnya akidah, fikih, hadis, dan sirah Nabi SAW.
Dan, karena
wasiat dari Baba Sammasi, tidak heran kalau Amir Kulali memberikan perhatian
khusus kepada Bahauddin. Setelah semua ilmu dan pencerahan spiritual yang ada
pada gurunya diserap habis, Sayyid Amir Kulali memerintahkan Bahauddin untuk
mengembara seraya menunjuk ke puting dadanya dan berkata, “Semua yang ada di
sumber ini sudah habis kamu sedot, maka mengembaralah!”
Bahauddin
kemudian belajar kepada beberapa mahaguru lain, seperti Khoja Arif Dikkarani dan
Hakim Ata, hingga beliau menjadi mahaguru sufi terbesar yang pernah muncul dari
kawasan Asia Tengah (sekarang adalah negara-negara persemakmuran bekas USSR),
Persia, Turki, dan Eropa Timur. Beliau meninggal pada malam Senin, 3 Rabiul
Awwal 791 H/1391 M.
Karena di
dadanya terukir Lafdzul Jalalah (Allah) yang bercahaya, ia dikenal juga sebagai
“Naqshaband” (bahasa Persia yang berarti: gambar yang berbuhul). Dan, kepada
beliau, dinisbahkan Tarekat Naqshabandiyah yang merupakan salah satu tarekat
terbesar di dunia. Tarekat ini tersebar luas di Turki, Hejaz, kawasan Persia,
Asia Tengah, serta anak benua India dan Indonesia.
Adanya Tarekat
Naqshabandiyah ternyata mampu mempertahankan identitas keislaman di Asia Tengah
dan Eropa Timur, di tengah prahara komunisme yang menerpa selama lebih dari
setengah abad. Para pemimpin kebangkitan Islam di Turki, seperti Erbakan dan
Erdogan, juga berafiliasi kepada tarekat ini. Bahkan, akhir-akhir ini, Tarekat
Naqshabandiyah memainkan peranan sangat penting dalam penyebaran Islam di
Eropah dan Amerika.
Sementara itu,
di Indonesia, ada beberapa cabang Tarekat Naqshabandiyah, seperti Khalidiyah,
Mujaddidiyah, dan Muzhariyah. Yang terbesar adalah Tarekat
Qadiriyah-Naqshabandiyah yang–sesuai namanya–merupakan hasil simbiosis dua tarekat
terbesar di dunia.
Mengembalikan
Esensi Tasawuf
Shah Naqshaband muncul untuk merevitalisasi perilaku beragama dengan mengajak kembali kepada tradisi yang hidup pada zaman Nabi SAW. Bagi Shah Naqshaband, hakikat sebuah tarekat adalah penerapan ajaran syariat dalam wujud yang paling sempurna dan konsisten. Sementara itu, hakikat adalah terealisasikannya “maqam kehambaan” seorang anak manusia di hadapan Allah semata.
Shah Naqshaband muncul untuk merevitalisasi perilaku beragama dengan mengajak kembali kepada tradisi yang hidup pada zaman Nabi SAW. Bagi Shah Naqshaband, hakikat sebuah tarekat adalah penerapan ajaran syariat dalam wujud yang paling sempurna dan konsisten. Sementara itu, hakikat adalah terealisasikannya “maqam kehambaan” seorang anak manusia di hadapan Allah semata.
Shah Naqshaband
menyatakan bahwa tasawuf adalah inti agama dan inti terdalam dari tasawuf itu
sendiri adalah muraqabah, musyahadah, dan muhasabah. Muraqabah adalah melupakan
segala sesuatu yang selain Allah dengan hanya memfokuskan hati dan perbuatan
hanya kepada-Nya.
Musyahadah
adalah menyaksikan keagungan dan keindahan Allah dalam seluruh eksistensi.
Sementara itu, muhasabah adalah instropeksi diri yang terus-menerus agar tidak
lalai dari jalan yang mulia ini. Dengan ketiga inti tasawuf itu, hati seorang
saleh terus hidup dan dihidupkan oleh zikir dan kebersamaan bersama Allah dalam
setiap detak jantung dan embusan napasnya sampai dia tertidur sekalipun!
Agar mencapai
maqam tersebut, seorang saleh harus menjalani pelatihan di bawah bimbingan
seorang mahaguru spiritual. Dialah yang akan mengajarkannya prosesi berzikir
dalam hati sesuai dengan firman Allah, “Dan, sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu
dengan penuh kesungguhan dan rasa takut (akan tidak diterima amal perbuatanmu),
tanpa mengangkat suara pada siang dan sore hari dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lengah” (QS Al-A`raaf: 205).
Zikir dalam hati
dipilih karena silsilah utama tarekat ini bersambung melalui Abu Bakar
Ash-Shiddiq. Metode zikir ini diajari oleh Rasulullah dan berbeda dengan
tarekat lain yang semuanya bersambung melalui Ali bin Abi Thalib yang diajari
berzikir dengan menggunakan suara jelas. Zikir dalam hati adalah ibadah yang
terbesar (sesuai dengan bunyi tekstual QS Al-`Ankabuut: 45) dan bisa
dilaksanakan dalam keadaan apa pun.
Zikir dalam hati
yang dilakukan oleh seorang Naqsyabandi menggunakan Lafdzul Jalalah (Allah) dan
Laa Ilaaha illalLaah yang dilafalkan dengan cara tertentu sebagaimana diajarkan
langsung oleh seorang mahaguru sufi (syekh). Dengan prosesi zikir ini, seorang
Naqshabandi meniti tangga-tangga makrifat.
Shah Naqshaband
pernah menyatakan bahwa shalat adalah titian spiritual yang paling efektif bagi
seorang saleh asalkan shalatnya khusyuk. Untuk mewujudkannya, seorang saleh
diharuskan mengonsumsi makanan yang halal baginya dan tidak pernah lalai
mengingat atau “bersama” dengan Allah dalam kesehariannya, lebih khusus lagi
saat berwudhu serta bertakbiratul ihram.
Di sisi lain,
bertasawuf bagi Shah Naqshaband adalah sebuah perilaku sosial yang positif.
Bukan sekadar berbudi pekerti yang luhur, melainkan juga berbuat kebajikan
kepada sesama makhluk Allah. Seorang saleh tidak boleh merasa dirinya lebih
mulia dari seekor anjing sekalipun. Dia juga selalu siap mengulurkan tangan
kepada siapa pun yang membutuhkan bantuan. Bahkan, bantuan tersebut bukan
sekadar diberikan dalam bentuk material semata, tetapi juga rohaniah dan
spiritual.
Selain itu,
bertasawuf juga berarti menghormati waktu. Shah Naqshaband pernah menegaskannya
dalam bahasa Persia, “Orang yang berakal pasti tidak suka berkawan dengan
seorang yang suka menunda-nunda pekerjaan jika mampu dilakukannya hari ini.”
Waktu harus digunakan untuk ibadah dalam pengertiannya yang paling
komprehensif: berbuat kebajikan, baik yang ritual maupun yang sosial. Dan,
tidak boleh ada waktu yang berlalu sedetik pun tanpa yakin bahwa kita selalu
“mengingat” dan “bersama” Allah.
Dengan demikian,
bertasawuf bagi Shah Naqshaband adalah mewujudkan ketundukan penuh kepada Nabi
Muhammad SAW secara paripurna: menjalankan perintahnya, menghindari
larangannya, meneladani perbuatannya, dan menghayati spiritualitasnya, sesuai
dengan ajaran Islam menurut mazhab ahlussunnah wal jamaah.
Tidak heran
kalau banyak ulama yang mengakui bahwa Tarekat Naqshabandiyah adalah saripati
semua tarekat sufi. Dan, barang siapa yang suluknya tidak sesuai dengan ajaran
Shah Naqshaband di atas berarti sudah keluar dari jalur yang benar meskipun
mengaku sebagai pengikut beliau. Shah Naqshaband pernah menegaskan, “Tasawuf
adalah syariat. Dan, barang siapa yang mengaku sebagai pengikut tasawuf, tetapi
tidak menerapkan syariat, berarti dia telah tersesat!” aunul abied shah/taq
KH. A
Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di
Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah
bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj
Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg
School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah
semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai
perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu
fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar
ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren
Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa,
beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh
Ajengan Syatibi.
Dua tahun kemudian
(1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati
Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan
Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak
memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan
memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh
karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil
Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi
persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang.
Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di
Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal
sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah.
Setelah
menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti
Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari
Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah
Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam.
Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang
merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih
berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa
Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam. Beliau
juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli
bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh
Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam
bahasa Jawa dengan baik.
Ketika Abah
Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin
pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan
ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil
sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi
untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga
listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap
konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat
kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap
mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.
Di samping
melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah
Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan
dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti
dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP
Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah
kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah
Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah
sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa
musibah. Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah, di antaranya menjadi
jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan,
pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa
agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu
merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui
pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah
Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga
orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan
H. Dudun Nursaiduddin.
Syaikh Abdullah
Mubarok bin Nur Muhammad atau yang biasa di panggil Abah Sepuh, lahir tahun
1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang (sekarang, Kp
Cicalung Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya) dari
pasangan Rd Nura Pradja (Eyang Upas, yang kemudian bernama Nur Muhammad) dengan
Ibu Emah. Beliau dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kyai Jangkung.
Sejak kecil, beliau sudah gemar mengaji/mesantren dan membantu orang tua dan
keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Setelah
menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di
tempat orang tuanya. Di Pesantren Sukamiskin Bandung beliau mendalami fiqih,
nahwu, dan sorof. Beliau kemudian mendarmabaktikan ilmunya di tengah-tengah
masyarakat dengan mendirikan pengajian di daerahnya dan mendirikan pengajian di
daerah Tundagan Tasikmalaya. Beliau kemudian menunaikan ibadah Haji yang
pertama.
Walaupun Syaikh
Abdullah Mubarok telah menjadi pimpinan dan mengasuh sebuah pengajian pada
tahun 1890 di Tundagan Tasikmalaya, beliau masih terus belajar dan mendalami
ilmu Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Mama Guru Agung Syaikh Tolhah bin
Talabudin di daerah Trusmi dan Kalisapu Cirebon. Setelah sekian lamanya
pulang-pergi antara Tasikmalaya-Cirebon untuk memperdalam ilmu tarekat,
akhirnya beliau memperoleh kepercayaan dan diangkat menjadi Wakil Talqin.
Sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun, beliau diangkat secara resmi (khirqoh)
sebagai guru dan pemimpin pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah oleh
Syaikh Tolhah. Beliau juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk)
kepada Syaikh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus
Shalawat Bani Hasyim.
Karena situasi
dan kondisi di daerah Tundagan kurang menguntungkan dalam penyebaran Thariqah
Qadiriyah Naqsabandiyah, beliau beserta keluarga pindah ke Rancameong Gedebage
dan tinggal di rumah H. Tirta untuk sementara. Selanjutnya beliau pindah ke
Kampung Cisero (sekarang Cisirna) jarak 2,5 km dari Dusun Godebag dan tinggal
di rumah ayahnya. Pada tahun 1904 dari Cisero Abah Sepuh beserta keluarganya
pindah ke Dusun Godebag.
Syaikh Abdullah
Mubarok bin Nur Muhammad kemudian dan bermukim dan memimpin Pondok Pesantren
Suryalaya sampai akhir hayatnya. Beliau memperoleh gelar Syaikh Mursyid. Dalam
perjalanan sejarahnya, pada tahun 1950, Abah Sepuh hijrah dan bermukim di Gg
Jaksa No 13 Bandung. Sekembalinya dari Bandung, beliau bermukim di rumah H
Sobari Jl Cihideung No 39 Tasikmlaya dari tahun 1950-1956 sampai beliau wafat.
Setelah
menjalani masa yang cukup panjang, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad-sebagai
Guru Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dengan segala keberhasilan yang
dicapainya melalui perjuangan yang tidak ringan, dipanggil Al Khaliq kembali ke
Rahmatullah pada tangal 25 Januari 1956, dalam usia 120 tahun. Beliau
meniggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi
pembinaan umat manusia, agar senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya
dan menjauhi segala larangan-Nya serta mewariskan sebuah wasiat berupa “TANBIH”
yang sampai saat sekarang dijadikan pedoman bagi seluruh Ikhwan Thariqah
Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya dalam hidup dan
kehidupannya.
Posted in Uncategorized
| Leave a
Comment »
Posted by zhaponk
20 Mei 2019
Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah
adalah thoreqat yang mutabar antara ratusan thoreqat yang dianuti oleh umat
islam di seluruh dunia. Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah adalah gabungan 2
thoreqat terbesar iaitu Thoreqat Qodiriah yang dibawa oleh Syeikh Abdul Qodir
Jailani dan Thoreqat Naqsyabandiah yang dibawa oleh Syeikh Mohd Nuruddin
Bahauddin An-Naqsyabandi.
Thoreqat-thoreqat tersebut telah
digabungkan oleh Syeikh Ahmad Khatib As-Syambasi Ibn Abdul Gaffar, seorang
Ulama Nusantara yang terkenal pada zamannya yang bermukim di Mekah dan menjadi
Mursyid kepada Thoreqat Qodiriah di Mekah pada awal abad ke 13 hijrah jadilah
Namanya Thoreqat Qidiriah wa Naqsyabandiah dan berkembang di negeri-negeri
nusantara. Syeikh Thalhah kalisapu cerebon adalah salah seorang murid kepada
Syeikh Ahmad Khatib As-Syambas dan dikenali sebagai tokoh thoreqat yang
prominen dengan karamah beliau selain Syeikh Abdul Karim Banten dan Syeikh
Khalil madura, semasa belajar di Mekah dan Syeikh Thalhah telah diangkat
sebagai Mursyid dan mengembangkan ajaran daripada thoreqat anutannya di
Cerebon, Jawa Barat Indonesia. Syeikh Abdullah Mubarak Bin Nur Muhammad (Abah
Sepuh) telah mengambil talqin Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah daripada Syeikh
Thalhah dan menjadi murid beliau dan kemudian diangkat sebagai Mursyid Thoreqat
Qodiriah Naqsyabandiah yang kemudiannya mengembangkan ajaran ini di Pondok
Pesantren Suryalaya, Jawa Barat, Indonesia yang ada sekarang.
Syeikh Abdullah Mubarak
Pondok Pesantren Suryalaya telah
didirikan oleh pengasasnya Syeikh Abdullah Mubarak Bin Nur Muhammad (Abah
Sepuh) pada tanggal 5 September 1905 masehi dengan restu Gurunya Syeikh Thalhah
menjadikannya sebagai Pusat Pegembangan Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah di
nusantara sehinggalah beliau wafat pada tahun 1956 dan disemayamkan di
Kejambaran Rahmaniah Puncak Suryalaya. KH Ahmad Sohibulwafa Tajul Arifin (Abah
Anom) adalah anak kepada Abah Sepuh dan penerus kepada pimpinan Pondok
Pesantren Suryalaya juga berkapasiti sebagai Mursyid Thoreqat Qodiriah
Naqsyabandiah satelah wafatnya Ayah beliau Abah Sepuh. Dan di bawah pimpinan
Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya telah berkembang maju merentasi seluruh
pelusuk Jawa dan Indonesia saterusnya Malaysia (termasuk Sabah dan Sarawak),
Singapura, Brunei bah ke seluruh dunia.
Dalam rangka pengembangan dan
penyebarluasan ajaran Thoreqat Qodiriah Maqsyabandiah, Abah Anom sebagai Syeikh
Mursyidnya melantik Wakil-Wakil Talqin yang berperanan sebagai wakil mursyid
memberikan tunjuk ajar dan bimbingan amaliah kepada ikhwan-ikhwan yang
mengambil dan mengamalkan ajaran thoreqat ini. Di Malaysia wakil-wakil talqin
yang telah ditauliahkan oleh Syeikh Mursyid Abah Anom antaranya ialah Yabhg.
Tun Haji Sakaran Dandai yang juga dalam kesepakatan para ikhwan telah melantik
beliau sebagai Penasihat Agung TQN Pondok Pesantren Suryalaya di Malaysia,
selain beliau Ym. Ustaz Haji Mohd Zuki As-Sujak bin Shafie di Kedah, Ym. Prof.
Dr. Haji Abdul Manan Al-Marbawi Bin Haji Muhammad di Terengganu, Ym. Ustaz Haji
Saifuddin Al-Hafiz Bin Haji Maulup di Negeri Sembilan, Ym. Ustaz Haji Mansor Salleh
di Semporna, Sabah dan Ym. Ustaz Haji Abdul Manaf Bin Abidallah di Tawau,
Sabah.
KHA Sohibulwafa Tajul Arifin
Inabah adalah dampak daripada
karamahnya Syeikh Mursyid KHA Sohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom). Inabah
ialah institusi rohani pusat rehibilitasi para korban penagihan zat-zat adiktif
seperti dadah dan sejenisnya, melalui Institusi Inabah ini puluhun ribu remaja
yang menjadi korban narkoba telah dipulihkan dalam ertikata lain Institusi
Inabah telah berhasil dalam misinya ” memanusiakan manusia “ melalui kaedah
sufi dengan pengamalan dzikirullah, dzikir jahar dan dzikir khofi sebagai ubat
kepada kawalahan manusia menurut methode atau kaedah dari ajaran Thoreqat
Qodiriah Naqsyabandiah. Di Malaysia terdapat 3 buah Inabah yang lebih dikenali
sebagai Pondok Remaja inabah. Pondok Remaja Inabah Malaysia 1 di Jabal Suf,
Kuala Nerang, Kedah dipimpin dan dikendalikan oleh Ym. Ustaz Haji Mohd Zuki
As-Sujak Bin Shafie, Wakil Talqin TQN di Malaysia, Pondok Remaja Inabah
Malaysia 2 di Kuala terengganu yang dikendalikan Ustaz Haji Osman Abdul Jalil
(allahyarham) dan Pondok Remaja 3 Inabah Kamal Semporna yang dikendalikan oleh
Yayasan Sabdi (Yayasan Tun Haji Sakaran Dandai) dan diawasi sepenuh masa oleh
Ym. Ustaz Haji Ady Borhansyah Bin Mokhtar disamping bantuan Wakil-Wakil Talqin
TQN di Malaysia dari semasa ke semasa.
Ustaz Hj Mohd Said al-attas
Thoreqat Qodiriah Naqsyabandiah
mula dikenali dan diikuti di Daerah Semporna sejak awal tahun 1978, satelah
kunjungan Yabhg. Tun Sakaran Dandai bersama Ustaz Haji Mohd Said Al-Attas
(allahyarham) ke Suryalaya bersilaturahmi dan berguru dengan KHA Sohibulwafa
Tajul Arifin dan setahun kemudiannya Ustaz Haji Mohd Said Al-Attas telah
ditauliahkan sebagai Wakil Talqin bersama-sama Ustaz Haji Mohd Trang Isa dari
Sarawak dan Ustaz Haji Osman Abdul Jalil (allahyarham) dari Terengganu. Ustaz
Haji Mohd Said adalah seorang Guru Agama yang berasal dari Nilai Negeri
Sembilan dan Guru Agama yang membuka Madrasah Islamiah pertama di Semporna pada
tahun 1963 dengan ihsan Yabhg. Tun Sakaran Dandai ketika itu menjawat Ketua
Daerah dan semenjak itu karib kepada Tun Sakaran. Dakwah Ustaz Tua sebagaimana
masyarakat di Daerah Semporna mengenali beliau, tidak terhad di daerah Semporna
bahkan sampai ke daerah-daerah lain di Negeri Sabah seperti Labuan, Kunak,
Tawau. Sandakan dan Tambunan. Pada masa beliau menjadi Wakil Talqin sering
berkunjung ke Inabah Kedah dan membantu Ustaz Haji Mohd Zuki sebelum beliau
diangkat menjadi Wakil Talqin dan kesempatan ini telah memboleh Ustaz Haji Mohd
Said berdakwah ke seluruh semenanjung Malaysia bahkan sampai ke daerah-daerah
Wilayah Pattani di Negera Thailand.
Ikhwan TQN Semporna bergambar di
Makam Abah Sepuh (Syeikh Abdullah Mubarak) di Puncak Suryalaya. Ketua Rombongan
Haji Abdul Rahman Tun Sakaran (paling kiri). Datuk Hj Abdul Fattah (paling
kanan)
sumber: ahmad b. haji anjau
NOTA MURSYID
Asas dan tujuan Thoriqah Qodiriah
wa Naqsyabandiah
إِلَـهِيْ اَنْتَ مَقْصًودِيْ وَرِضَاكَ
مَطْلًـوبِيْ اَعْـطِنِي مَحَبَّتـَكَ وَمَعْرِفَتَـكَ
maksud dari doa itu tadi:
” Ya Tuhanku hanya engkaulah yang
ku maksud, dan keredhaanMu yang ku cari, berikan kepada ku kemampuan untuk
mencintaiMu dan Maakrifat kepadaMu “.
Doa tersebut mengandungi 3
elemen:
1. Taqarrub terhadap Allah SWT:
ialah mendekatkan diri kepada
Allah dengan jalan ubudiyah, yang mana dalam hal ini dapat dikatakan tidak ada
sesuatunya pun yang menjadi tirai penghalang antara abid dan ma bud , antara
khaliq dan mahluk.
2. Menuju Jalan Mardhaatillah:
ialah menuju jalan yang diredhai
Allah SWT baik dalam ubudiyah mahupu luar ubudiyah alhasil dalam segala gerak
geri manusia, diwajibkan mengikuti dan mentaati perintah-perintah Tuhan dan
menjauhi serta meninggalkan larangan-laranganNya.
3. Kemahabbahan dan Kemakrifatan
terhadap Allah SWT:
artinya: Rasa cinta dengan terang
makrifat terhadap Allah ” Dzat Laisaka mithlihi syai`un ” , yang mana dalam
mahabbah itu terkandung keteguhan jiwa dan kejujuran hati. Kalau telah tumbuh
mahabbah timbullah rupa-rupa hikmah, di antaranya membiasakan diri dengan
selurus-lurusnya dalam hak dzohir bathin, dan dapat pula mewujudkan ” keadilan
“, yakni dapat menetapkan sesuatu dalam haknya dengan sebenar-benarnya.
Pancaran daripada mahabbah datang pula belas kasihan kepada sesama makhluk,
diantaranya cinta pada nusa kesegala bangsa berserta agamanya.
Thoreqah Qodiriyah Naqsyabandiyah
ini adalah salah satu jalan yang ditempuh buat membukakan diri agar tercapai
arah tujuan yang tersebut di atas tadi.
– KHA Sohibulwafa Tajul Arifin.
TANBIH
Bismillaahir rahmaanir rahiim.
Tanbih ini dari Syeikhuna
Almarhum Syeikh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan
Suryalaya Kejembaran Rahmaniah.
Sabda beliau kepada khususnya
segenap murid-murid pria mahupun wanita, tua mahupun muda,
“ Semoga ada dalam kebahagiaan,
dikurniai Allah Subhanahu Wa Ta`ala kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga
tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian.
Pun pula semoga Pimpinan Negara
bertembah kemuliaan dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing
seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil dan makmur dzohir mahupun bathin.
Pun kami tempat orang bertanya
tentang THORIQAT QODIRIAH NAQSYABANDIAH, mengatur dengan tulus ikhlas Wasiat
kepada segenap murid-murid :
Berhati-hatilah dalam segala hal,
jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan Peraturan AGAMA mahupun NEGARA.
Taatilah kedua-duanya tadi
sepantasnya demikianlah sikap manusia yang beriman, tegasnya dapat mewujudkan
kerelaan terhadap hadirat Ilahi Rabbi yang membuktikan perintah dalam AGAMA
mahupun NEGARA.
Insafilah hai murid-murid
sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan
Syaitan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap perintah Agama mahupun
Negara, agar dapat meneliti diri, kalau-kalau tertarik oleh bisikan Iblis yang
selalu menyelinap dalam hati sanubari kita semua.
Lebih baik buktikanlah kebajikan
yang timbul dari kesucian:
i. Terhadap orang-orang yang
lebih tinggi daripada kita, baik dzohir mahupun bathin, harus kita hormati,
begitulah seharusnya hidup rukun, saling harga menghargai.
ii. Terhadap sesama sederajat
dengan kita dalam segala-galanya, jangan dampai terjadi persengketaan,
sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan
perintah Agama mahupun Negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan
persengketaan, kalau-kalau kita terkena firmanNya ” adzabun Alim “, yang
bererti duka nestapa untuk selama-lamanya dari Dunia sampai Akhirat (Badan
payah hati susah).
iii. Terhadap orang-orang yang
keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinanya atau berbuat tidak senonoh,
bersikap angkuh. Sebaliknya harus belas kasihan dengan kesedaran, agar mereka
merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar,
bagaikan tersayat hatinya. Sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasihat
yang lemah lembut yang akan memberikan keinsafan dalam menginjak jalan
kebajikan.
iv. Terhadap fakir miskin, harus
kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan
menceminkan bahawa hati kita sedar. Cuba rasakan diri kita peribadi, betapa
pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh kerana itu janganlah acuh tak
acuh, hanya diri sendiri yang senang, kerana mereka jadi fakir miskin itu
bukanlah kehendak sendiri, namun itulah kudrat Tuhan.
Demikianlah sesungguhnya sikap
manusia yang penuh kesedaran, meskipun terhadap orang-orang asing kerana mereka
itu masih keturunan Nabi Adam a.s. , mengingat ayat 70 surah al-isra yang
artinya :
” Sangat kami muliakan keturunan
Adam dan Kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga kami
mengutamakan mereka lebih utama dari makhluk lainnya “
Kesimpulan dari ayat ini, bahawa
kita sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan,
mengingat surah al-maidah yang ertinya :
” Hendaklah tolong menolong
dengan sesama dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh
terhadap Agama mahupun Negara, sebaliknya janganlah tolong menolong dalam
berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah Agama mahupun Negara “.
Adapun soal keagamaan, itu
terserah agamanya masing-masing, mengingat Surah al-Kafirun ayat 6 : “ Agamamu
untuk kamu, Agamaku untuk Aku “. maksudnya janganlah terjadi perselisihan,
wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga menghargai, tetapi janganlah
sekali-kali ikut campur.
Cubalah renungkan pepatah leluhur
kita : Hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai, andaikan tidak
demikian, pasti : ” Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna “
kerana yang menyebabkan penderitaan diri peribadi itu adalah akibat dari amal
perbuatan diri sendiri.
Dalam Surah an-Nahli ayat 112
diterangkan bahawa : ” Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan beberapa contoh,
yakni tempat mahupun kampung, desa mahupun negara yang dahulunya aman tenteram
(gemah rimpah loh jinawi), namun penduduknya/penghuninya mengengkari
nikmat-nikmat Allah, maka lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan
ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka sendiri “.
Oleh kerana demikian, hendaklah
segenap murid-murud bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna
kebaikan dzohir-bathin, dunia mahupun akhirat, supaya hati tenteram, jasad
nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya ” Budi
Utama_Jasmani Sempurna “ (Cageur-baguer).
Tiada lain amalan kita, Thoriqat
Qodiriah Naqsyabandiah, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebajikan,
menjauhi segala kejahatan dzohir-bathin yang bertalian dengan jasmani mahupun
rohani yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya Syaitan.
Wasiat ini harus dilaksanakan
dengan saksama oleh segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan Dunia
dan Akhirat.
Amin.
Patapan Suryalaya, 13 Februari
1956,
Wasiat ini disampaikan kepada
sekalian Ikhwan.
( KHA Sohibul wafa Tajul Arifin )
UNTAIAN MUTIARA :
Jangan benci kepada Ulama yang
sezaman.
Jangan menyalahkan kepada pengajaran
orang lain.
Jangan memeriksa murid orang
lain.
Jangan berubah sikap meskipun
disakiti orang.
Harus menyayangi orang yang
membenci kepadamu.
Wasalam
ABAH ANOM
Tokoh pertama
adalah Abah Anom. Kedudukannya sebagai seorang mursyid Thariqah Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah sekaligus ulama sepuh membuatnya menjadi tempat berteduh bagi
jiwa-jiwa yang dahaga. Sebagai orang tua yang telah kenyang dengan asam garam
kehidupan Abah Anom dengan arif menerima kunjungan tamu-tamunya, siapapun
adanya dan apapun kepentingannya. Hidupnya dengan ikhlas dipersembahkan untuk
melayani umat manusia.
Belum lagi
kemasyhuran pesantren Suryalaya sebagai tempat penyembuhan penagih dadah dan
penyakit psikis dengan metode Islamic Hidrotherapy, dimana kaedahnya disusun
oleh Abah Anom. Metode ini menggabungkan konsep cold turkey system yang
diislamkan melalui mandi taubat, serangkaian shalat dengan dzikir ala Thariqah
Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Program ini bertujuan untuk membantu program
pemerintah Indonesia pada tahun 1971, ianya masih diteruskan dan dilembagakan
dalam pesantren remaja Inabah.
Abah Anom yang
sejak muda tidak makan daging dan selalu minum air putih itu adalah putra
kelima KH. Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) dari istri keduanya
Hj. Juhriyah. Ia memang disiapkan ayahnya untuk meneruskan kepemimpinan
thariqah di Suryalaya. Selepas pendidikan dasar(rendah) di sekolah dan
pesantren orangtuanya, pada tahun 1930 Abah Anom memulai pengembaraan menuntut
ilmu agama Islam secara lebih mendalam.
Diawali dengan
mengaji ilmu fiqih di pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu alat
dan balaghah di pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah dua tahun di Jambudipa ia
melanjutkan mengaji pada ajengan Syatibi di Gentur Cianjur dan ajengan Aceng
Mumu di pesantren Cireungas Sukabumi yang terkenal dengan penguasaan ilmu
hikmahnya pada 2 tahun berikutnya. Kegemaran akan ilmu silat dan hikmah
kemudian diperdalam di pesantren Citengah Panjalu yang diasuh oleh Ajengan
Junaidi, seorang ulama ahli ilmu alat dan hikmah.
Kematangan ilmu
Abah Anom di usia 19 tahun diuji dengan kepercayaan yang diberikan oleh Abah
Sepuh untuk membantu mengasuh pesantren Suryalaya sampai beliau wafat pada
tahun 1956 dalam usia 120 tahun. Dua tahun sebelum wafat Abah Sepuh mengangkat
Abah Anom menjadi wakil talqinnya, kemudian menjadi mursyid penuh Thariqah
Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sekaligus pengasuh pesantren menggantikan Abahnya
yang sering tidak sihat.
Manajer Handal
Beban tanggung
jawab yang begitu berat tertumpu dibahunya di usianya yang baru mengjangkau 41
tahun, menenggelamkan Abah Anom ke dalam samudera riyadhah. Kecintaannya kepada
pesantren, thariqah dan umat melarutkan hari-harinya dalam ibadah, tarbiyah dan
doa.
Sepanjang sisa
hidupnya Abah Anom hampir tidak pernah tidur, demikian cerita salah satu
keponakan Abah Anom yang pernah mengabdi di rumahnya. Di luar kegiatan ibadah
mahdlah, mengajar dan kunjungan, Abah Anom menghabiskan seluruh waktunya dengan
melakukan dzikir khafi. Setiap kali datang rasa mengantuk, Abah Anom segera
berwudhu dan shalat sunah lalu melanjutkan dzikirnya.
Selain
berdzikir, Abah Anom juga seorang manajer yang handal. Di tangannya Suryalaya,
yang dulunya pesantren kecil di tengah hutan, berkembang pesat menjadi salah
satu pesantren yang sangat disegani di negeri ini. Santri (murid) dan
pengikutnya yang mencapai angka jutaan tersebar di seluruh Indonesia bahkan
negeri-negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan lain sebagainya.
Jumlah ini mencakup sekitar 3000 santri yang bermukim untuk belajar dan kuliah
di lingkungan pesantren Suryalaya, alumni, puluhan santri remaja Inabah serta
jutaan ikhwan-akhwat Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN).
Kini di usianya
yang semakin senja, Abah Anom tidak lagi secara intens mendampingi santrinya.
Tubuhnya yang semakin lemah tak lagi mampu mensejajari semangat dan
kecintaannya kepada sesama. Karena itu beberapa tahun belakangan semua urusan
pesantren dan thariqah diserahkan kepada 3 orang yang ditunjuk sebagai pemegang
amanat, yang terdiri dari KH. Zainal Abidin Anwar, KH. Dudun Nur Syaidudin dan
KH. Nur Anom Mubarok.
Namun demikian
dengan sisa-sisa tenaga yang semakin lemah Abah Anom tetap menggagahi menerima
semua tamu yang mengunjunginya dari berbagai pelosok tanah air, walau hanya
sekedar dengan berjabat tangan. Juga diyakini, secara ruhaniah Abah Anom masih
akan terus mengasuh jiwa-jiwa yang membutuhkan tetes demi tetes embun hikmah
yang mengalir dari kejernihan telaga hatinya.
A. PENDAHULUAN
Tasawuf,
bukanlah sesuatu yang dengannya manusia dapat melakukan sebuah pelarian,
bukanlah sesuatu yang dengannya manusia dapat berpangku tangan terhadap hidup.
Melainkan, tasawuf adalah suatu metode penyucian jiwa dan pembening hati, yang
menjadi bekal utama manusia dalam menggeluti ranah kehidupannya yang, pada
dasarnya tidak pernah terlepas dari berbagia macam persoalan. Tasawuf
membimbing manusia dalam pengembangan kinerja ukhrawi dan sekaligus juga
duniawi.
Seorang sufi,
bukanlah seseorang yang melepaskan dirinya dari dunia. Melainkan, mereka adalah
pribadi-pribadi yang mampu mengguncang dunia. Tidak pernah melarikan diri dari
masalah, namun menyongsongnya. Dengan berbekal nurani yang tercerahkan, para
sufi tampil ke depan dan menghadapi semua bentuk tirani bumi, serta membangun
pondasi-pondasi peradaban dunia baru.
Pada kesempatan
kali ini, kami akan mencoba mengulas mengenai tasawuf dalam perkembangannya di
belahan Benua India, tokoh-tokohnya, tarekat-tarekatnya, serta beberpa hal
lainnya yang berhubungan dengannya.
Makalah ini
terbagi dalam beberapa bagian dengan sistematika sebagai berikut: Bagian
pertama, yaitu pendahuluan. Bagian kedua, mengetengahkan tentang sejarah
perkembangan tasawuf di Benua India, serta latar belakang yang mempengaruhinya.
Bagian ketiga, menampilkan beberapa tarekat-tarekat yang berpengaruh, serta
sekiranya memberikan kontribusinya terhadap perjalan tasawuf di India. Bagian
keempat, mengulas mengenai beberapa kecenderungan tasawuf yang terjadi di
India. Bagian kelima, menyuguhkan tentang beberapa karya atau buah-buah tasawuf
dalam kehidupan dan perjalanannya di India. Bagian terakhir, yaitu penutup,
yang sekaligus sedikit mencoba untuk menarik sebuah kesimpulan dari sekilas
pembahasan yang telah disampaikan sebelumnya.
B. LATAR
BELAKANG MASUKNYA TASAWUF DI INDIA
Penyerangan oleh Mongol Terhadap Dunia Islam (Persia).
Tahun 907 H/1502
M, naiklah Kerajaan Safawi di Persia. Kerajaan ini telah berjasa mempersatukan
kebangsaan Persia di bawah suatu kerajaan besar yang berhak memakai gelar
“Syahin Syah” (Sri Maharaja di Raja), setelah sekian lama dalam rebutan Bangsa
Mongol Islam, Turki dan Arab. Rajanya yang cukup memiliki nama, ialah Syah
Ismail.
Ia menyatakan
bahwasanya mazhab resmi di Persia adalah Syi’ah, dan ia amat tidak menyukai
bahkan membenci tasawuf. Di kala itu, syair-syair yang berkenaan dengan tasawu
mendapat tantangan yang sangat keras, bahkan para sufi pun tak jarang
mendapatkan perlakuan yang keras dan kasar. Sehingga, lunturlah keistimewaan
tasawuf, yang telah sekian lama tumbuh subur di persia.
Dengan adanya
desakan terhadap tasawuf di Persia, akhirnya tasawuf (Hafiz Shirazi) pun
bergerak menuju belahan dunia India. Di sanalah, muncul para ahli tasawuf
ternama. Masa-masa pemerintahan Mongol di India, terutama pada masa Akbar Khan
di Agra (Delhi), telah memperkuat akar tasawuf Islam di India, serta adanya
perjuangan kepercayaan dengan para penganut Hindu, yang juga mendukung
bangkitnya tasawuf dan filsafat Islam di belahan bumi Hindustan tersebut.
Pengaruh
kesusastraan dan tasawuf Persia sangatlah besar terhadap kalangan muslim
Hindustan. Sebelum Akbar Khan, raja Mongol di India menciptakan Bahasa Urdu,
bahasa Persia-lah yang menjadi bahasa resmi istana.
Kearifan Lokal dan Spiritualitas
Tradisi
spiritual Islam di India telah mengembangkan coraknya tersendiri yang khas. Hal
ini tidak terlepas dari keadaan awal Bangsa India yang begitu memegang kearifan
lokal, spiritualitas lama, seperti halnya spiritualitas dalam Agama Hindu.
Meskipun demikian, mereka masih tetap mengakar terhadap al-Qur’an, hadist serta
ajaran-ajaran para khalifah.
Kemudian dilihat
dari bahasa setempat, beberapa mistikus di Bengal, Deccan, dan India Utara,
menyatakan bahwa bahasa-bahasa setempat adalah alat penting untuk menyampaikan
kebenaran. Dari abad 7 H/13 M, kalimat-kalimat dalam bahasa-bahasa India telah
terpelihara dalam boografi-boigrafi para wali sufi.
Tokoh-Tokoh dari Tanah Persia yang Berpengaruh di India
Al-Hallaj (w.
309 H/922 M)
Nama pertama
yang dikaikan dengan spiritualitas, paling tidak di sebagian Sind, adalah
al-Husain ibn Manshur al-Hallaj, yang telah menjelajah ke berbagai daerah,
untuk menyeru masyarakat kepada Tuhan. Pengalaman mistik al-Hallaj yang
melibatkan hubungan sangat personal dengan Tuhan dapat dianggap sebagai Klimaks
pertama kehidupan mistik Islam awal. Dan, untuk itu, ia harus membayarnya
dengan nyawanya sendiri, terhadap hasil dari interpretasinya tentang cinta
hakiki antar manusia dan Tuhan. Maka dari itu, tidaklah terlalu berlebihan jika
sekiranya dia disebut-sebut sebagai Syahid-Agung dalam tradisi mistik Islam.
Pada abad-abad
kemudian, nama Manshur al-Hallaj menjelma menjadi simbol mistik favorit di
bagian Barat India dan beberapa wilayah lainnya. Beberapa orang berpendapat
bahwasanya hal tersebut dimungkinkan karena banyaknya gelombang konstan
puisi-puisi mistik Persia yang seringkali disebut-sebut, yang di dalamnya,
al-Hallaj menyebutkan ana al-haqq.
Abu Yazid
al-Bustami, (w. 904 H), mungkin tokoh ini adalah salah satu yang juga
berpengaruh lewat ajaran-ajarannya yang begitu mengena dan petuah-petuahnya
yang banyak dikenal dan berkembang di tanah Persia, India, dan lain-lainnya.
Namun, selain
dari beberapa tokoh Persia yang telah disebutkan di atas, tentunya Benua India
itu tersendiri, tidaklah berpangku tangan, untuk tidak menyumbangkan
tokoh-tokohnya dalam ranah tasawuf. Diantara mereka tersebut, adalah Muhammad
Iqbal, yang filsafat-tasawufnya adalah merupakan permulaan perkembangan
filsafat-tasawuf Islami. Pusaka kemegahan kebesaran di India dan Persia telah
dijalin kembali dengan berpedoman kepada al-Qur’an dan berbahan kemajuan
pikiran dan pengetahuan cara Barat oleh Iqbal
Selain dari pada
tokoh tersebut, tentunya masih banyak tokoh-tokoh lain yang pada dasarnya
sangat berpengaruh dan memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perjalanan
tasawuf di India, diantaranya adalah, Ahmad al-Faruqi al-Sahrandi (1624 M),
yang telah berhasil menanamkan nilai-nilai ke-Islaman kepada pemerintah
Mongolia yang mengusai wilayah India, serta telah berjasa dalam proses
peleburan nilai-nilai ajaran Buddha dan penyembahan terhadap berhala. Dan
banyak tokoh-tokoh lainnya, yang belum dapat kami sebutkan pada keempatan ini.
C.
TAREKAT-TAREKAT
Tarekat Chistiyyah (Image Orang Suci atau Wali Islam)
Tarekat
Chistiyyah, adalah tarekat yang namanya di ambil dari suatu wilayah di Afganistan,
asal usulnya dapat dilacak hingga abad ke-3 H/9 M. Namun, meskipun nama tarekat
ini diambil dari nama suatu wilayah di Afganistan, tarekat ini hanya terkenal
di India. Chistiyyah memiliki silsilah spiritual yang jejaknya dapat ditelusuri
sampai kepada Hasan al-Bashri (21-110 H/ 642-728 M). Mereka meyakini bahwasanya
hasan al-bashri adalah merupakan murid dari Ali bin Abi Thalib, sebuah klaim
yang validitasnya mereka temukan secara spiritual.
Pendiri Tarekat
Chistiyyah di India adalah Khawajah Mu’in al-Din Hasan. Selain itu, Syaikh
Nizham al-Din Auliya yang menetap di Delhi, mengkristalisasikan ajaran
Chistiyyah di Utara India, serta di wilayah Deccan. Murid-muridnya, mendirikan
perguruan-perguruan Chistiyyah di Jawnpur, Malwa, Gujarat, dan Deccan.
Ada begitu
banyak karya Chistiyyah yang tersedia, dan sebagian besar di tulis dalam Bahasa
persia. Para Sufi Chistiyyah pun menulis karya dalam dialek-dialek lokal, juga
dalam Bahasa Arab. Diantara beberapa karya Chistiyyah adalah, Malfuzhat (karya
yang keasliannya diragukan, atau tidak dapat dilacak autentisitasnya),
Literatur biografis dari para pembimbing spiritual, Maktubat (Surat-Surat),
puisi-puisi berbahasa Hindi, dan lain sebagainya.
Para anggota
tarekat ini, hidup berbaur dengan masyarakat, mereka tidaklah membangun
khaneqah dengan “empat dinding dan pintu gerbangnya”. Tapi, mereka membangun
sebuah jama’at-khanah, dengan dinding lumpur dan atap jerami. Tempat tersebut,
terbuka bagi umum, dan sebagai tempat berdiskusi dari berbagai macam ide. Para
syaikh dan anggota-anggotangya menjalani hidup dalam konsep futuh, yaitu tidak
pernah meminta-minta pemberian orang.
Tarekat
Chistiyyah berakar pada Sunni. Mereka menganut mazhab fiqh Hanafi. Namun
demikian, pandangan mereka tidaklah terikat pada hukum secara skriptural,
melainkan lebih mementingkan makna terdalamnya. Aspek mereka yang paling
dominan adalah adanya kesetiaan untuk memegang tradisi hidup berdampingan
secara damai.
Kaum Chistiyyah
awal meyakini bahwa kontak dengan orang-orang suci dan para wali adalah satu
satunya sarana yang dapat membuat manusia memeluk Islam. Mereka percaya
bahwasanya hanya kelompok muslim yang saleh sajalah yang dapat menarik orang
lain untuk menerima Islam. Misi utama mereka adalah berupaya mempersatukan
orang-orang Hindu yang memeluk Islam untuk menjadikan mereka sebagai
orang-orang muslim yang benar-benar saleh.
Kaziruniyah
Sejak abad ke-4
H/10 M, para sufi telah memulai pembentukan berbagai tarekat dan kelompok.
Salah satu dari tarekat-tarekat tersebut adalah tarekat Kaziruniyah, yang
didirikan oleh Syaikh Abu Ishaq Ibrahim ibn Syahriyar (w. 426 H/1035 M), ia
wafat di Kazirun, antara Syiraz dan Pesisir Teluk Persia.
Suhrawardiyah.
Syaikh Syihab
al-Din Abu Hafs Umar (539-632 H/1145-1234 M), adalah pendiri dari tarekat
Suhrawardiyyah. Dia menempuh pendidikan di bawah bimbingan pamannya, Syaikh
Dhiya al-Din Abu al-Najib Suhrawardi (490-622 H/1097-1225 M), yang membangun
sebuah pondok di Tigris, Baghdad. Khalifah al-Nashir li-Dinillah (575-622
H/1180-1225 M) mengangkat Syaikh Syihab al-Din sebagai duta besarnya keberbagai
istana para penguasa penting dan membangun sebuah khaneqah luas untuknya di
Baghdad. Kaum sufi dari berbagai penjuru dunia berkumpul di khaneqahnya untuk
mendapatkn bai’at darinya. Salah satunya adalah Syaikh Baha al-Din Zakariyya
(578 H/1182 M).
Di Multan, para
sufi serta ulama terkemuka, banyak yang menentang Syaikh Baha al-Din, tetapi,
tingkat keilmuan serta posisi istimewanya diantara murid-murid Syaikh Syihab
al-Din Suhrawardi, dapat dengan segera membuatnya menjadi seorang tokoh
terkemuka di Multan. Ia sangat tidak menganjurkan kaum sufi mencari bimbingan
dari sejumlah pir yang berbeda, melainkan dari satu pir saja. Ia juga sangat
menekankan pentingnya sholat-sholat wajib dan menomor duakan sholat-sholat sunnah
dan dzikir.
Syaikh Baha
al-Din meninggal di Multan, 661 H/1262 M. Ia digantikan oleh anaknya sendiri,
yaitu Syaikh Shadr al-Din ‘Arif (w. 684 H/1286 M). Putra dan penerus Syaikh
Shadr al-Din, Syaikh Rukn al-Din Abu al-Fath (w. 735 H/1334 M), telah berhasil
menghidupkan kembali kejayaan politik dan spiritual kakeknya. Ia sangatlah
dihormati oleh raja-raja yang memerintah di kesultanan Delhi, sejak masa
pemerintahan Sultan Ala al-Din Khalji (695-715 H/1296-1316 M) hingga
kematiannya, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Muhammad ibn Tughluq (725
H/1325 M).
Murid Syaikh
Syihab al-Din Suhrawardi yang mempopulerkan Islam di Bengal, adalah Syaikh
Jalal al-Din Tabrizi. Setelah pindah ke Bengal, ia mendirikan sebuah khaneqah
di Deva Mahal, bagian utara Bengal. Ia telah berhasil mengislamkan banyak orang
Hindu dan Buddha. Pada abad ke-8 H/14 M, Kashmir dijadikan sebagai pusat dari
para sufi Suhrawardiyyah.
Kubrawiyah
Pendiri tarekat
Kubrawi, yaitu Syaikh Najm al-Din Kubra (540-618 H/1145-1221 M). Sekelompok
sufi terkemuka berkumpul di Kubra sebagai murid, dan beberapa cabang tarekatnya
menyebar ke baghdad, Khurasan dan India. Salah seorang pengikut Kubrawi yang
cukup ternama, yaitu Syaikh Saif al-Din Bakhrazi (w. 658 H/1260 M),
memerintahkan muridnya, yaitu Khawajah Badr al-Din Samarqandi Firdausi, untuk
menetap di Delhi.
Meskipun para
Syaikh dari kalangan ini sangatlah menganjurkan kepada para muridnya untuk
selalu berpegang teguh terhadap syari’at, namun, ia tidaklah mengunggulkan para
ulama di atas para sufi. Ia berusaha untuk tidak mengungkapkan pengalaman
spiritualnya, serta menyarankan pada para murid, untuk tetap menyimpan
pengetahuan mereka tentang pengalaman-pengalaman spiritual mereka.
Di Kashmir,
tarekat Kubrawiyyah diperkenalkan oleh Mir Sayyid Ali Hamadani. Muhammad Asyraf
Jahangir Simnani, yaitu sekalangan dengan Mir Sayyid Ali Hamadani, adalah
sorang Kubrawi yang setelah menetap di kesultanan Syiraqi, Jaunpur, India,
mendirikan cabang dari tarekat Kubrawi, yaitu Asyrafi.
Syaththariyyah
Di India,
tarekat yang didirikan oleh Syah Abd Allah ini, menyebut dirinya sbagai Tarekat
Syaththariyyah. Namun, pada masa Turki Utsmani, tarekat ini dikenal dengan
sebutan Tarekat Basthamiyyah, dan, di Persia dan Turki, tarekat ini dikenal
dengan sebutan tarekat Isyqiyyah.
Syaththariyyah
mendapatkan ispirasi mereka dari karya-karya tafsir mistis tentang ke-Tuhan-an,
yang dinisbahkan kepada Imam Ja’far al-Shadiq, yaitu Imam Syi’ah yang keenam.
Selain itu, tarekat ini juga banyak terpengaruh oleh kisah-kisah mistis dari
kehidupan Abu Yazid al-Basthami.
Syaikh Abdullah,
sang pendiri tarekat ini, pindah ke India pada awal abad ke-9 H/15 M, setelah
menyelesaikan latihan mistisnya. Nama tarekat ini, yang artinya adalah mereka
yang bergerak cepat, diambil karena kecepatan tarekat ini dalam memecahkan
paradoks ke-Esa-an dalam kemajemukan.
Dalam karyanya,
Latha’if-i Ghaibiyyah, ia membagi hamba-hamba spiritual musim yang tekun ke
dalam tiga kategori, yaitu, Akhyar (orang-orang yang terpilih), abrar
(orang-orang yang patuh), dan syaththay (orang-orang yang bergerak cepat). Dan,
dari ketiga kategori tersebut, menurutnya, syththariyyah-lah yang paling
unggul, karena mereka memproleh latihan langsung dari arwah para wali besar
masa lalu, serta mampu menempuh perjalanan kenaikan sufi dengan cepat.
Selain dari
tareka-tarekat yang telah disebutkan di atas, pada dasarnya, masih banyak
terdapat tarekat-tarekat lainnya, yang juga berkembang dan berpengaruh di
India, salah satunya adalah tarekat yang berkembang pesat di wilayah india
yaitu tarekat Naqsabandiyah, dan dalam revolusi kaum muslim di Turkistan dan
Cina, tarekat ini sangat berperan, sebagaimana terjadi di wilayah India Timur
ketika melawan para penjajah. Selain itu, juga terdapat Tarekat Qalandariyyah,
Tarekat Junaidiyyah, dan lain sebagainya.
D. KECENDERUNGAN
TASAWUF DI INDIA
Kaum Majdzub vs Sufi Palsu (Dukun)
Dalam lingkungan
tasawuf, terdapat suatu kaum yang dikenal dengan sebutan Kaum Majdzub, atau
kaum sufi yang berperilaku aneh. Menurut beberapa pendapat, kaum Majdzub adalah
makhluk-makhluk super yang mampu melakukan hal-hal luar biasa, dan, baik
orang-orang Hindu maupun Muslim, mereka saling berlumba – lumba dalam
menunjukkan ketaatan kepada para kaum ini.
Namun demikian,
sebagaimana sulitnya membedakan antara sufi sejati dan sufi palsu, demikian
jugalah sulitnya, untuk membedakan antara kaum Majdzub dengan orang yang tidak
waras alias gila.
Dalam setiap
waktu, selalu saja terdapat kaum yang disebut dengan kaum Majdzub ini. Dari
sekian banyak individu yang termasuk dari kaum majdzub, namun, ada satu nama
yang dianggap lebih unggul dibandingkan nama-nama yang lainnya, yaitu Muhammad
Sa’id Sarmad dalam sumbangannya terhadap kehidupan mistis. Ia bekerja sebagai
pedagang, dan mengukpulkan banyak kekayaan dari hasil perdagangannya tersebut.
Ancaman serius
terhadap keberlangsungan hidup tasawuf, bersumber pada pernyataan-pernyataan
sombong para dukun dan sufi palsu. Mereka memanfaatkan pengaruh para sufi demi
kepentingan serta keuntungan tersendiri. Syair-syair mereka menjadi ancaman besar
bagi pandangan spiritual para sufi sejati. Namun demikian, tasawuf sejati tidak
akan demikian mudah terkalahkan, bahkan masih mampu bertahan hidup hingga detik
ini.
Kaum Malamatiyyah
Kaum ini,
setingkali disebut dengan sebutan Malamatiyyah, Malamiyyah atau terkadang juga
disebut sebagai Ahl al-Malamah, yang pada dasarnya, memiliki pengaruh yang
cukup besar dalam dunia tasawuf.
Nama kaum ini,
diambil dari kata malamah, yang secara bahasa berarti “celaan”, malamah
mengandung arti bahwa mereka tidaklah menganggap pendapat orang dalam tingkah
peribadatan mereka terhadap Tuhan. Kaum Malamati adalah orang-orang suci yang
dengan sengaja menjalani kehidupan hina, dengan tujuan untuk menyembunyikan
hakikat pencapaian spiritual mereka.
Pendiri kaum
Malamatiyyah ini, adalah Hamdun al-Qashshar, sufi abad ke-3 H/9 M, yang berasal
dari Naisyapur di Khurasan. Kaum Malamatiyyah mengikuti teladan dirinya, yaitu
hidup secara batiniah dalam kebersatuannya dengan Allah, sementara secara
lahiriah, mereka bertindak seolah-olah terpisah dari Tuhan.
Dalam tasawuf,
sikap pembawaan kaum Malamati ini merupakan sebuah watak permanen dalam
spiritualitas Islam, meskipun, banyak penyalahgunaan yang dinisbatkan terhadap
namanya, misalnya untuk mencampakkan syariat dan etika atau adab tradisional.
Kaum
Malamatiyyah adalah guru serta pembimbing dan pemimpin manusia di jalan Tuhan.
Meskipun, tidak ada tindakan dari mereka yang tampak berbeda dari orang-orang
awam. Satu di antara mereka, adalah Muhammad, Rasul Allah, orang bijak yang
menempatkan segala sesuatunya di tempat yang seharusnya.
E. BUAH-BUAH
TASAWUF
Puisi-Puisi dan Syair-Syair Sufi
Umumnya, para
sufi mengungkapkan gagasan-gagasan mereka dalam syair-syair dan prosa-prosa
yang berbahasa Persia. Namun, syair-syair dalam bahasa daerahlah, yang membuat
tasawuf menjadi sebuah gerakan massal di kalangan masyarakat India.
Kaum Chisti,
adalah beberapa yang dapat disebut sebagai pelopor dari gerakan-gerakan
tersebut, yang telah banyak menyumbangkan karya-karya mereka dalam bahasa
Hindawi (Hindi). Misalnya ditemukannya, Malfuzhat (karya yang keasliannya
diragukan, atau tidak dapat dilacak autentisitasnya), kemudian juga adanya
Literatur biografis dari para pembimbing spiritual; seperti; Syiar Auliya’,
Fawaid al-Fuad, Manaqib Fakhriyah, Ma’arij al-Wilayah.dll. , Kemudian juga
ditemukan Maktubat (Surat-Surat), puisi-puisi berbahasa Hindi, dan lain
sebagainya.
Sedangkan, kaum
Syaththariyyah, seperti halnya juga kaum Chisti, meminjam simbol-simbol dan
kisah-kisah mitologis dari lingkungan-lingkungan Hindu lokal, namun, dengan
sedikit memberinya tambahan akan nuansa Islami.
Di Bengal,
Sultan Husain Syahi (897-945 H/1494-1538 M) memberikan dorongan kuat terhadap
kesusastraan Bengali. Namun demikian, pertumbuhan nyata syair sufi terjadi
terutama sejak abad ke-10 H/ke-16 M, di wilayah Cittagong dan istana Arakanese.
Seperti halnya
di wilayah-wilayah India lainnya, majelis-majelis pertemuan sama’ di Sind juga
mengumandangkan musik sufi dalam bahasa Sindhi. Penyair sufi paling terkemuka
dari Sind adalah Syah ‘Abd al-Latif. Karya puitisnya yang berjudul Risalo
(Kitab), yang juga membahas mengenai balada raktyat Sind, sarat dengan emosi
dan penggerak prasaan.
Umumnya, para
penyair sufi mampu mengekspresikan rahasia-rahasia terdalam hati dengan
ungkapan-ungkapan dari kehidupan sehari-hari, yang bahkan, seorang anak kecil
pun, dimungkinkan dapat memahaminya. Selain itu, sebagai dasar terhadap
ajarannya, mereka juga mengadopsi dongeng-dongeng tradisional setempat. Para
pahlawan dalam cerita-cerita Sindh dan Punjab ditransformasikan sedemikian rupa
sebagai simbol-simbol jiwa yang menempuh banyak cobaan hingga akhirnya
mempersatukan dirinya dengan kekasihnya dalam kematian.
Syair sufi bukan
hanya sekadar ungkapan cinta mistis tentang jiwa kehausan yang tengah mencari
pemahaman intuitif tentang Tuhan, tapi juga sebagai saluran atau jalan keluar
berbagai emosi dan perasaan spiritual. Syair sufi dalam bahasa Hindi maupun
bahasa-bahasa lainnya, telah mampu membuka cakrawala baru bagi jalan hidup
spiritual di benua India.
Baik para
penyair sufi, maupu pelopor gerakan kebaktian Hindu, melakukan pendobrakan terhadap
segala bentuk formalisme keagamaan, kepalsuan, serta kebodohan, dan berupaya
menciptakan sebuah dunia yang semua orang di dalamnya, mendambakan kebahagiaan
spiritual.
E. KESIMPULAN
Dari sedikit
pembahasan yang telah kami sajikan sebelumnya, berkaitan dengan penyebaran
serta perjalanan tasawuf di Benua India tersebut, tidaklah terlepas dari
jasa-jasa para sufi Persia, yang jelas-jelas telah memberikan kontribusi mereka
terhadap tumbuhnya tasawuf di India tersebut.
Namun, juga
berkenaan dengan perjalanan tasawuf di India tersebut, tidaklah terlepas dari
jasa-jasa para tokoh-tokoh lokal, yang telah berperan dalam penyebaran tasawuf,
serta mendirikan tarekat-tarekat tersendiri, yang kurang lebihnya, cukup
memberikan warna tersendiri bagi Tasawuf dan kehidupannya.
Bagaimanapun
juga, banyaknya pengaruh sains-sains modern serta pemikiran politik, tidaklah
mampu melenyapkan tasawuf dari Benua India. Kekayaan dan pengaruh karya-karya
sufistik terus hidup menuntun kepribadian hidup menuju jalan yang lebih menjanjikan.
DAFTAR PUSTAKA
As’ad al-Khatib.
Kala Nurani Terusik Tirani (Jejak-Jejak Kearifan dan Kepahlawanan
Kaum Sufi).
Jakarta. Serambi. 2005.
Hamka. Tasawuf
(Perkembangan dan Pemurniannya). Jakarta: Pustaka Panjimas. 1993.
Hossein Nasr,
Seyyed. Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam (Manifestasi).
Bandung: Mizan
Media Utama. 2003.
Trimingham,
Spencer. Mazhab Sufi. Penrej: Luqman Hakim. Bandung: Penerbit Pustaka. 1999.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar